Tahap-Tahap Implementasi Six Sigma


Metode DMAIC merupakan dasar dari metode yang digunakan dalam
metode Six Sigma. Pande dan Holpp dalam Safrizal (2016) mengartikan metode
Six Sigma dalam lima tahap, yaitu metode DMAIC, yaitu:

  1. Define (identifikasi)
    Tahap identifikasi merupakan tahap penentuan dan akan menjadi sasaran
    kegiatan peningkatan kualitas. Pada tahap inilah untuk menentukan proses
    mana yang akan dievaluasi, yang akan sangat mempengaruhi untung rugi
    perusahaan. Namun menurut Sirine & Kurniawati (2017) akan banyak terjadi
    kegagalan produk dan cacat pada proses yang akan berdampak pada tahap
    selanjutnya. Pada tahap ini, tiga tujuan utama yang harus dicapai yaitu::
    a. Mengidentifikasi masalah mengenai standar kualitas produk yang sudah
    di tentkan oleh perushaan.
    b. Mengidentifikasi strategi yang akan diambil bersumber dari penelitian
    dan observasi langsung
    c. Memasang target yang dituju berdasarkan hasil observasi untuk
    meningkatkan kualitas dengan menggunakan six sigma
    Sasaran yang sesuai dengan tujuan akan memberikan dampak positif terhadap
    pengembalian investasi dan pangsa pasar, sehingga perusahaan mampu
    meningkatkan hasil produksi dan peningkatan produktifitas perusahaan serta
    dapat meminimalisir produk cacat serta penghematan biaya produksi.
  2. Measure (Pengukuran)
    Pengukuran merupakan langkah kedua untuk meningkatkan kualitas
    menggunakan metode Six Sigma. Menurut Muhaemin (2012) pada tahap
    pengukuran memiliki dua tujuan utama yaitu:
    a. Memperoleh data guna melakukan validasi dan memberikan kualifikasi
    terhadap peluang dan masalah, umumnya ini berupa informasi yang
    kritis guna memperbaki dan melengkpi saat proses budgeting.
    b. Mengawali berhadapan dengan realitas dan nominal yang
    menyampaikan keteraangan yang berkaitan dengan permasalahan yang
    terjadi.
    Menurut Sirine & Kurniawati (2017) “measure sebagai tahap kedua dalam
    program peningkatan kualitas six sigma, yang didalamnya terdapat tiga hal
    penting yang harus dilakukan yaitu” :
    a. Pemilihan dan penentuan karakteristik kualitas (Critical to Quality atau
    CTQ) merupakan karakteristik utama dan harus disertai dengan ukuran
    numerik. Tujuan dari ini adalah untuk menghindari membuat semua
    orang menyalahkan dan memahami proyek Six Sigma, dan membawa
    kesulitan pada pengukuran karakteristik kualitas. Dalam mengukur
    karakteristik kualitas, perlu memperhatikan aspek internal, termasuk
    tingkat cacat produk dan biaya produk gagal. Pada saat yang sama,
    aspek eksternal organisasi mencakup kepuasan pelanggan, pangsa
    pasar, dll..
    b. Mengembangkan rencana pengumpulan data
    Pengukuran karakteristik kualitas dapat dibagi menjadi beberapa
    tingkatan, yaitu:
  3. Ukur di tingkat proses
    Artinya, setiap langkah atau aktivitas dalam proses pengukuran,
    dan karakteristik kualitas input yang diajukan oleh pemasok yang
    mengontrol dan memengaruhi karakteristik kualitas output yang
    disyaratkan.
  4. Mengukur di tingkat keluaran
    Artinya, ciri-ciri mutu keluaran yang dihasilkan oleh pengolahan
    diukur dengan membandingkan dengan spesifikasi ciri mutu yang
    diharapkan konsumen.
  5. Ukur di tingkat hasil
    Yaitu untuk mengukur apakah produk berupa barang atau jasa
    baik untuk memenuhi kebutuhan spesifik dan ekspektasi rasional
    konsumen.
    c. Pengukuran baseline kinerja pada tingkat output
    Peningkatan kualitas six sigma yang teridentifikasi akan lebih fokus
    pada upaya peningkatan kualitas menuju zero defect untuk memuaskan
    konsumen. Sebelum melaksanakan proyek Six Sigma, perlu diketahui
    tingkat kinerja atau tolok ukur kinerja saat ini agar peningkatan
    kemajuan yang diperoleh setelah pelaksanaan proyek Six Sigma dapat
    diukur. Tingkat keluaran diukur untuk mengetahui sejauh mana
    keluaran akhir dapat memenuhi kebutuhan spesifik konsumen sebelum
    produk sampai ke konsumen.
  6. Analyze (Analisa)
    Analisis adalah langkah ketiga dari rencana peningkatan kualitas dalam
    proyek “Six Sigma”. Menurut Alkatiri dkk (2015), menganalisis dalam bentuk
    proses pemeriksaan, fakta dan data untuk memahami permasalahan yang
    terjadi dan dimana terdapat peluang untuk perbaikan. Masalah dapat
    ditentukan dengan metode berikut ini:
    a. Bagan Pareto
    Menurut Hendy Tannady (2015) diagram pareto merupakan alat yang
    digunakan untuk mencari akar atau penyebab suatu masalah atau kerusakan
    produk untuk menyelesaikan masalah tersebut. Diagram pareto adalah
    diagram batang yang disusun dalam urutan menurun, biasanya digunakan
    untuk melihat atau mengidentifikasi masalah, jenis cacat atau penyebab
    utamanya, yang dapat membantu menyelesaikan masalah.
    b. Diagram sebab dan akibat
    Diagram kausal adalah diagram yang menunjukkan kausalitas. Untuk
    mengetahui akar penyebab masalah kualitas, Hendy Tannady (2015)
    berpendapat bahwa alat analisis diagram sebab akibat atau diagram tulang
    ikan digunakan. Diagram tersebut mengidentifikasi berbagai penyebab
    masalah dan akan menganalisis masalah tersebut. Cara untuk membentuk
    produk yang lebih baik pada diagram sebab dan akibat dan mencapai hasil
    mereka.
  7. Improve (Perbaikan)
    Perbaikan merupakan langkah keempat untuk meningkatkan kualitas dengan
    menggunakan metode six sigma. Pada tahap ini, tim peningkatan kualitas Six
    Sigma akan mengusulkan perbaikan atau rencana aksi lebih lanjut berdasarkan
    sudut pandang Safrizal (2016) setelah memahami akar permasalahan dan akar
    penyebab masalah kualitas. Ini merupakan salah satu kegiatan penting untuk
    peningkatan kualitas melalui metode Six Sigma. Setiap action plan harus
    memberikan alasan mengapa action plan tersebut harus diimplementasikan, di
    mana akan mengimplementasikan rencana tersebut, siapa yang bertanggung
    jawab atas action plan tersebut (jika dilaksanakan), berapa biaya untuk
    mengimplementasikan action plan tersebut, dan apa saja dampak positifnya
    Menurut Muhaemin (2012), melalui penerapan action plan tersebut
    perusahaan dapat menerimanya..
  8. Control (Pengendalian)
    Control merupakan tahap terakhir dari peningkatan kualitas dengan
    memastikan bahwa tingkat kinerja yang baru berada di bawah kondisi standar
    dan mempertahankan nilai perbaikan serta pengendalian. Menurut Alkatiri et
    al. (2015), pengendalian merupakan tahap akhir dari operasi untuk
    meningkatkan kualitas berdasarkan six sigma. Pada tahap ini, peningkatan
    kualitas telah dicatat dan disebarluaskan, praktik terbaik yang berhasil telah
    diperbaiki dan disebarluaskan, proses telah dicatat dan digunakan sebagai
    panduan standar, dan tanggung jawab tim kepada pemilik atau penanggung
    jawab proses tersebut, yang akan berfungsi sebagai pemulihan langkah yang
    digunakan dalam proses eksekusi selanjutnya. Ada dua alasan standarisasi,
    yaitu::
    a. Jika tindakan peningkatan kualitas tidak distandarisasikan, ada
    kemungkinan di masa yang akan datang manajemen atau staff
    perusahaan akan kembali memakai sistem kerja lama yang mana hal itu
    akan menimbulkan permasalahan yang sama dimasa lalu.
    b. Jika tidakan peningkatan kualitas tidak diberikan parameter yang jelas
    dan tidak ditetapkan, maka jika dalam waktu tertentu terjadi
    perombakan manajemen perusahaan atau pergantian pegawai. Pegawai
    baru tersebut memiliki kemungkinan akan memakai sistem kerja lama
    yang mana akan menimbulkan permasalahan yang sama, yang telah
    diselesaikan oleh pihak yang sebelumnya