Perspektif Kualitas


Perspektif kualitas merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengetahui
tingkat kualitas suatu produk terhadap kesesuaian yang diharapkan oleh konsumen.
Garvin dalam Sihombing (2022) menyatakan lima perspektif kualitas yang dapat
menjelaskan mengapa kualitas produk dapat didefinisikan beraneka ragam oleh
seseorang yang berbeda serta dalam situasi yang berlainan. Adapun kelima
perspektif kualitas tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pendekatan Transendental (Transcendental Approach)
    Melalui pendekatan transendental, kualitas dipandang sebagai innate excellence,
    yaitu sesuatu yang dapat dirasakan atau dikenali, tetapi sulit untuk didefinisikan
    dan dikomunikasikan. Perspektif ini biasanya diterapkan dalam musik, teater,
    tari, dan seni visual. Selain itu, perspektif ini dapat membantu perusahaan
    mempromosikan produknya melalui beberapa pertanyaan berdasarkan
    pengalaman yang didapatkan serta exposure yang berulang. Pertanyaan yang
    dimaksudkan seperti tempat belanja yang paling menyenangkan (supermarket),
    jenis kendaraan yang elegan (mobil), produk kecantikan wajah (kosmetik),
    kelembutan dan kehalusan kulit (sabun mandi), dan lain sebagainya. Oleh karena
    itu, sangat sulit bagi fungsi rekayasa, produksi, dan layanan perusahaan untuk
    menggunakan definisi ini sebagai dasar manajemen mutu.
  2. Pendekatan Berbasis Produk (Product-Based Approach)
    Pendekatan ini memandang kualitas sebagai atribut atau karakteristik yang dapat
    dikuantifikasi dan diukur. Perbedaan dalam hal kualitas mencerminkan
    perbedaan jumlah elemen atau fitur yang tersedia dalam suatu produk. Semakin
    banyak atribut yang dimiliki produk, maka semakin tinggi pula kualitas produk
    tersebut diasumsikan. Pandangan ini dinilai sangat objektif, tidak dapat
    menjelaskan perbedaan selera, kebutuhan, dan preferensi individu.
  3. Pendekatan Berbasis Pengguna (User-Based Approach)
    Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa kualitas bergantung pada orang
    yang melihatnya dan bahwa produk yang paling sesuai dengan preferensi
    seseorang (misalnya kualitas yang dirasakan) adalah produk dengan kualitas
    tertinggi. Perspektif yang bersifat subyektif dan berorientasi pada kebutuhan ini
    juga menyatakan bahwa setiap pelanggan memiliki kebutuhan dan keinginan
    yang berbeda, sehingga kualitas identik dengan persepsi kepuasan maksimal
    yang dirasakan masing-masing individu. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah
    produk yang dapat memenuhi keinginan dan kepuasan satu orang belum tentu
    dapat memenuhi rasa yang sama bagi orang lainnya.
  4. Pendekatan Berbasis Manufaktur (Manufacturing-Based Approach)
    Perspektif ini berbasis pada pasokan dan berfokus pada kebutuhan yang
    menyangkut desain dan praktik manufaktur. Dalam industri jasa dapat dikatakan
    bahwa kualitas berdasatkan perspektif ini berorientasi pada tindakan.
    Pendekatan berbasis manufaktur juga mendefinisikan kualitas sebagai
    kesesuaian atau kecocokan hasil akhir produk dengan kualifikasi yang
    disyaratkan. Pendekatan ini cenderung mengarah pada pemenuhan spesifikasi
    yang dikembangkan secara internal sehingga seringkali digunakan dengan
    tujuan meningkatkan produktivitas perusahaan dan mengurangi biaya
    operasional. Oleh karena itu kualitas ditentukan oleh standar perusahaan, bukan
    oleh konsumen yang menggunakannya.
  5. Pendekatan Berbasis Nilai (Value-Based Approach)
    Pendekatan ini melihat kualitas dalam kaitannya dengan nilai (value) dan harga
    (price) dengan mempertimbangkan pertukaran antara kinerja dan harga. Kualitas
    didefinisikan unggul apabila kinerja yang disajikan sepadan dengan harga yang
    dibayarkan. Kualitas dipandang sebagai nilai relatif dalam perspektif ini,
    sehingga produk dengan kualitas terbaik belum tentu merupakan produk yang
    paling berharga. Namun yang paling berharga adalah produk atau layanan yang
    paling cocok untuk dibeli.