.
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan
organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi
(Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh
organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya
berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang
harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa
pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang
disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada
anggotanya secara individual.
Melalui komunikasi maka dapat memberikan keterangan tentang
pekerjaan yang membuat pegawai dapat bertindak dengan rasa tanggung jawab
pada diri sendiri dan pada waktu bersamaan dapat mengembangkan semangat
kerja organisasi (Wursanto 1992:60). Adanya kerjasama yang harmonis ini
diharapkan dapat meningkatkan semangat kerja para pegawai karena komunikasi
berhubungan dengan keseluruhan proses pembinaan perilakumanusia dalam
organisasi.
Semangat kerja dalam organisasi dapat mempengaruhi hasil kerja dan
pencapaian tujuan komunikasi dan hubungan kerja yang terjadi dalam suatu
instansi berkaitan dengan semangat melaksanakan pekerjaan. Komunikasi yang
efektif dapat mencapai saling pengertian antara pegawai dan pimpinan sehingga
terbentuk kondisi sosial yang dapat memotivasi pegawai untuk meningkatkan
produktivitas kerjanya. Semangat kerja disini adalah karyawan secara lebih giat
melaksanakantugas-tugasnya, sehingga pekerjaan akan dapat diselesaikan lebih
cepat dan lebih baik (Nitisemito 1992:24).
Komunikasi merupakan faktor utama untuk meningkatkan semangat kerja.
Dengan semangat kerja yang tinggi pegawai akan dapat bekerja dengan perasaaan
senang dan bergairah sehingga mereka dapat berprestasi kerja dengan baik,
sebaliknya apabila pihak pimpinan kurang memperhatikan bawahannya maka
semangatnya akan turun karena pegawai merasa kurang mendapat perhatian dari
pimpinan dan adanya rasa segan terhadap pimpinan. Dengan demikian diperlukan
hubungan timbal balik antara atasan dan bawahannya. Jadi komunikasi sangat
diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan dan pembinaan perilaku pegawai sebagai
motivasi untuk meningkatkan semangat kerja pegawai sebagai proses dalam suatu
pekerjaan akan terasa lebih mudah dan tujuan organisasi akan dapat
tercapai.Menurut Suranto Aw dalam, www.uny.ac.id, 9 Febuari 2007,
Komunikasi dikatakan efektif apabila dalam suatu proses komunikasi itu, pesan
yang disampaikan seorang komunikator dapat diterima dan dimengerti oleh
komu-nikan, persis seperti yang dikehen-daki oleh komunikator, dengan
demikian, dalam ko-munikasi itu komunikator berhasil menyampaikan pesan
yang dimak-sudkannya, sedang komunikan ber-hasil menerima dan
memahaminya. Efektifnya sebuah komunikasi adalah jika pesan yang dikirim
memberikan pengaruh terhadap komunikan, artinya bahwa informasi yang
disampaikan dapat diterima dengan baik sehingga menimbulkan respon atau
umpan balik dari penerimanya. Seperti contohnya; adanya tindakan, hubungan
yang makin baik dan pengaruh pada sikap.
Menurut Suranto AW, ada beberapa indikator komunikasi efektif, ialah:
c.Pemahaman
Ialah kemampuan memahami pesan secara cermat sebagaimana dimaksudkan oleh
komunikator. Tujuan dari komunikasi adalah terjadinya pengertian bersama, dan
untuk sampai pada tujuan itu, maka seorang komunikator maupun komunikan
harus sama-sama saling mengerti fungsinya masing-masing. Komunikator mampu
menyampaikan pesan sedangkan komunikan mampu menerima pesan yang
disampaikan oleh komunikator.
b. Kesenangan
Apabila proses komunikasi itu selain berhasil menyampaikan informasi, juga
dapat berlangsung dalam suasana yang menyenangkan ke dua belah pihak..
Suasana yang lebih rilex dan menyenangkan akan lebih enak untuk berinteraksi
bila dibandingkan dengan suasana yang tegang. Karena komunikasi bersifat
fleksibel. Dengan adanya suasana semacam itu, maka akan timbul kesan yang
menarik.
c. Pengaruh pada sikap
Tujuan berkomunikasi adalah untuk mempengaruhi sikap. Jika dengan
berkomunikasi dengan orang lain, kemudian terjadi perubahan pada perilakunya,
maka komunikasi yang terjadi adalah efektif, dan jika tidak ada perubahan pada
sikap seseorang, maka komunikasi tersebut tidaklah efektif.
d. Hubungan yang makin baik
Bahwa dalam proses komunikasi yang efektif secara tidak sengaja meningkatkan
kadar hubungan interpersonal. Seringkali jika orang telah memiliki persepsi yang
sama, kemiripan karakter, cocok, dengan sendirinya hubungan akan terjadi
dengan baik.
e. Tindakan
Komunikasi akan efektif jika kedua belah pihak setelah berkomunikasi terdapat
adanya sebuah tindakan. Alexis Tan mengemukakan bahwa .Perlu ada daya tarik
dengan similarity(kesamaan), familiarity (keakraban) dan proximity
(kesukaan)..13 Seseorang biasanya akan cenderung lebih tertarik dengan orang
lain karena memiliki faktor kesamaan ( sama hobi, sama sifat), keakraban (
keluarga, teman karib), dan kesukaan. Dengan kondisi seperti itu orang tidak
merasa sungkan untuk berbicara, yakni menceritakan masalah hidupnya secara
jujur tanpa adanya kecanggungan berkomunikasi dintara kedunya. Jika sudah
demikian, maka antara satu dengan yang lainnya akan saling mempengaruhi dan
dengan sendirinya komunikasi akan berlangsung secara efektif. Komunikasi
efektif menuntut kepekaan seseorang dalam situasi dan kondisi yang ada, bahkan
telah banyak kegagalan organisasi dikaitkan dengan komunikasi yang buruk.
Masalah yang paling sulit dalam komunikasi adalah bagaimana cara
mendapatkan perhatian dari para pendengar untuk memastikan bahwa mereka
mendengarkan. Menurut Suranto dalam (www.kapanlagi.com), 9 Febuari 2007.
Sebuah komunikasi yang efektif membutuhkan kontak mata, ekspresi wajah,
postur tubuh, dan penampilan fisik secara eksternal:
1) Kontak Mata
Kontak mata adalah hal yang harus dilakukan dalam berkomunikasi. Orang akan
merasa diperhatikan ketika orang yang berbicara saling bertatap mata. Ini dapat
diartikan bahwa mata bisa dijadikan sebagai media untk memperjelas informasi
yang disampaikan. Dengan melihat mata orang akan merasa bahwa dirinya tidak
diabaikan.
2) Ekspresi Wajah
Arti dari sebuah ekspresi adalah mencoba mengungkapkan atau ingin memberi
tahu sesuatu hal dengan tanpa berbicara, akan tetapi orang mengerti. Dalam
komunikasi ekspresi wajah sangat menentukan jelas tidaknya suatu pesan. Dengan
ekspresi mengangguk, ini menandakan bahwa orang tersebut mengerti. Dengan
tersenyum, ini berarti orang sedang bergembira. Dengan mengacungkan jari
telunjuk ke atas ini berarti ungkapan untuk mempertegas. Untuk itu dengan
adanya ekpresi wajah ini pesan yang disampaikan oleh komunikator akan mampu
meyakinkan komunikan untuk memahami isi pesan.
3) Postur Tubuh
Setiap gerak-gerik tubuh bisa menjadikan sebuah tambahan dalam berkomunikasi
secara efektif. Kondisi atau keadaan tubuh bisa menimbulkan penilaian seseorang
ketika pertama kali bertemu, seperti halnya ungkapan. Kesan pertama begitu
menggoda.. Misalkan, postur badan yang lebih besar dengan postur badan orang
yang lebih kecil, bila sama-sama dipandang postur yang lebih besar akan lebih
enak dipandang serta menimbulkan kesan perkasa, kuat dan lebih dihormati.
4) Selera Berbusana
Busana atau bisa dibilang penampilan mencerminkan kepribadian seseorang.
Contoh; orang berpenampilan menarik, bersih, rapi, seseorang akan mengambil
kesimpulan bahwa dia orang baik, padahal bisa jadi dia adalah seorang koruptor.
Akan tetapi beda dengan penampilan acak-acakan, apa-adanya, celana sobeksobek, maka orang akan memandang bahwa dia seorang preman, padahal bisa jadi
dia adalah anak teater. Dari contoh yang diuraikan tersebut, menandakan bahwa
begitu berartinya busana dalam menimbulkan sebuah kesan. Dengan berbusana
yang menarik orang akan lebih tertarik, sehingga pesan yang disampaikan akan
mudah untuk diterima
