Saat karyawan baru memasuki suatu perusahaan, seringkali karyawan
belum memiliki pemahaman seutuhnya mengenai hubungan kerja yang ada.
Kontrak psikologis awal yang diyakini oleh karyawan bersumber dari
perjanjian-perjanjian yang dijanjikan oleh perusahaan (dalam bentuk
kesempatan berkarir, penghargaan financial, serta pekerjaan yang menarik)
maupun komitmen kerja yang telah dijanjikan oleh karyawan bagi perusahaan
seperti loyalitas, fleksibilitas, kinerja yang baik, dan penuntasan tugas di luar
tanggung jawab utamanya (Vos, Buyens & Schalk, 2003). Turnley dan
Feldman (1998) dalam Boes (2006) berasumsi bahwa karyawan membangun
harapan akan kontrak psikologisnya berdasarkan 3 sumber utama, yaitu janji
yang dibuat oleh representatif pihak perusahaan, persepsi akan kultur
perusahaan, serta penyesuaian antara harapan dengan bagaimana perusahaan
beroperasi. Kurangnya pemahaman ini mendorong karyawan baru untuk
secara aktif menginterpretasikan pengalaman pertamanya di lingkungan baru
untuk memprediksi apa yang akan terjadi kelak serta membangun harapanharapannya terhadap hubungan kerja yang dilakukan (Rousseau, 2001).
De Vos dan Buyens (dalam Phuong, 2013) memaparkan bahwa
kontrak psikologis terbentuk dari beberapa kategori dari janji dan tanggung
jawab dan untuk memahami pengembangan dari kontrak psikologis, penting
untuk memperhatikan setiap kategorinya dan tidak melihatnya sebagai satu
kesatuan yang utuh.
Rousseau (dalam Petersitzke, 2009) menggambarkan kontrak
psikologis sebagai hasil dari dua faktor utama, yaitu petunjuk sosial yang
diberikan oleh perusahaan serta kognisi dan karakter individu. Kontrak ini
juga merupakan hasil dari dua proses, yaitu encoding dan decoding.
Rousseau (dalam Petersitzke, 2009) mendefinisikan encoding sebagai
proses yang terjadi ketika karyawan mempercayai perjanjian dan komitmen
yang disampaikan oleh pihak perusahaan.
Pada umumnya, proses ini terjadi apabila informasi disampaikan oleh
pihak yang memiliki wewenang, disampaikan pada situasi yang tepat, dan
apabila perjanjian disampaikan secara berulang. Proses ini diikuti oleh proses
decoding, yaitu penyesuaian akan informasi yang dimiliki karyawan
mengenai janji dan komitmen yang disampaikan oleh pihak perusahaan
dengan karyawan. Proses ini dibangun berdasarkan informasi yang
disampaikan oleh pihak perusahaan sehingga karyawan dapat membentuk
kesimpulan mengenai standar perilaku yang harus ditampilkan. Berikut
diagram proses pembentukan kontrak psikologis
