Keterikatan merek adalah ikatan yang terjalin antara konsumen dengan
merek tertentu, karena adanya kepuasan yang dirasakan oleh konsumen terhadap
produk dan jasa yang diterima. Menurut (Park et al., 2010) dalam (Kumar &
Nayak, 2019) keterikatan merek adalah kekuatan ikatan penghubung merek
dengan diri sendiri. Pada penelitian (Kumar & Nayak, 2019), (Thomson et al.,
2005) menyatakan bahwa keterikatan merek bergantung pada hubungan jangka
panjang dengan merek, yang dapat dipimpin oleh interaksi berulang melalui
keterlibatan.
Keterikatan merek menunjukkan kedekatan hubungan antara pelanggan
dan merek (Hwang & Lee, 2019) dalam (Li et al., 2020). Menurut (Jahn, Gaus, &
Kiessling, 2012) dalam (Li et al., 2020) keterikatan merek berarti bahwa
pelanggan terikat pada suatu produk atau merek secara emosional. Keterikatan
merek termasuk koneksi merek-diri dan keunggulan merek (Park et al., 2010)
dalam (Li et al., 2020). Pada (Li et al., 2020) menyatakan bahwa keterikatan
merek berarti bahwa pembeli secara psikologis terikat dengan merek tertentu.
Menurut (Belaid & Behi, 2011) dalam (Li et al., 2020) Keterikatan merek
yang tinggi menghasilkan pengalaman konsumsi yang menyenangkan, yang
akibatnya mendorong evaluasi merek yang positif. Menurut (Park et al., 2010;
Rizvi et al., 2020) keterikatan merek menyajikan aspek motivasi dan keterikatan
merek mengacu pada karakteristik evaluatif. Keterikatan diwujudkan oleh
pengalaman dan ingatan pelanggan akan suatu merek; mereka melaporkan bahwa
keterikatan merek memainkan peran penting dalam pengembangan niat perilaku
positif (Hwang dan Lee, 2018) dalam (Hwang, J., Choe, J. Y. (Jacey), Kim, H.
M., & Kim, J. J., 2021)
