Merek merupakan suatu hal yang dapat merepresentasikan dari sebuah produk.
Menurut Kotler & Keller (2016) mengemukakan bahwa merek (brand) adalah
sebuah nama, tanda, istilah, rancangan atau simbol, atau bauran dari hal-hal
tersebut, yang digunakan untuk mengidentifikasi barang atau jasa yang disediakan
secara baik oleh perseorangan maupun sekelompok penjual serta untuk dapat
membedakan dengan produk lainnya. Sedangkan cinta adalah perasaan positif yang
mencerminkan keterikatan emosional yang melampaui rasa menyukai merek
(Gracella et al., 2019). Suatu merek yang sukses bersaing di pasar merupakan merek
yang dicintai oleh konsumennya dan merek tersebut memiliki kapabilitas yang
dapat berkembang sehingga bisa menguntungkan perusahaan (Cagan, 2018).
Kecintaan merek dikonseptualisasikan sebagai tingkat keterikatan emosional yang
dimiliki konsumen yang puas pada sebuah merek tertentu (Cho & Hwang., 2020).
Cinta merek berbeda dari cinta antar pribadi. Cinta antar pribadi adalah cinta
yang saling mengevaluasi, sedangkan cinta merek adalah cinta yang searah.
Menurut pemahaman ini, konsumen tidak diharapkan memperlakukan merek
seperti cinta antar pribadi karena cinta merek dan cinta antar pribadi sangat berbeda.
Kecintaan terhadap merek dapat dicerminkan melalui emosi positif dan gairah yang
dimiliki konsumen terhadap merek yang menunjukkan keterikatan sikap konsumen
untuk merek yang mereka sukai dan menganggap merek tersebut lebih baik
dibandingkan dengan merek lain yang sejenis (Junaid et al., 2019). Kecintaan
terhadap merek merupakan hubungan emosional yang tercipta antara konsumen
dengan merek, hubungan emosional yang dimaksud mencakup mencakup gairah
terhadap merek, keterikatan terhadap merek, evaluasi positif terhadap merek, emosi
positif terhadap merek, dan pernyataan cinta terhadap merek (Kim et al., 2021).
Sementara itu, salah satu konsep terkait merek ditemukan sebagai faktor yang
mempengaruhi kecintaan terhadap merek yaitu kepercayaan merek (ÇELİK &
Yazar., 2022). Kecintaan terhadap merek juga dianggap mempunyai nilai
manajerial, karena dapat bersifat positif mempengaruhi loyalitas konsumen
terhadap merek (Fortes et al., 2019). Maka perilaku kecintaan konsumen terhadap
merek merupakan urgensi yang harus diperhatikan oleh perusahaan, karena dapat
membangun hubungan jangka panjang yang menguntungkan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan Brand Love merupakan respon subyektif
konsumen yang cinta terhadap merek dengan didasari kesukaan, gairah, evaluasi
positif sehingga menimbulkan keterikatan secara emosional yang positif terhadap
merek
