Terdapat banyak merek yang ada dalam suatu usaha. Brand authenticity atau
keaslian merek dapat mempengaruhi keberhasilan kinerja dari suatu merek. Merek
merupakan suatu hal yang dapat merepresentasikan dari sebuah produk. Menurut
Kotler & Keller (2016) mengemukakan bahwa merek (brand) adalah sebuah nama,
tanda, istilah, rancangan atau simbol, atau bauran dari hal-hal tersebut, yang
digunakan untuk mengidentifikasi barang atau jasa yang disediakan secara baik
oleh perseorangan maupun sekelompok penjual serta untuk dapat membedakan
dengan produk lainnya. Sedangkan keaslian sering digunakan untuk menunjukkan
suatu produk atau benda lain yang merupakan barang asli dan bukan barang imitasi
(Chhabra & Kim, 2018).
Keaslian merek merupakan penilaian terhadap pandangan merek yang
dianggap unik, tanpa kepalsuan, dan memiliki integritas serta dapat bertahan
mengikuti perkembangan zaman dan tren (Campagna et al., 2023). Sedangkan
menurut Jepson (2019) mengemukakan bahwa keaslian merek merupakan
konsistensi yang dirasakan dari perilaku merek yang mencerminkan nilai-nilai inti
dan norma-norma, yang menurutnya dianggap jujur terhadap dirinya sendiri, dan
tidak merendahkan esensi mereknya. Keaslian merek bukan hanya sekadar janji-
janji yang diutarakan merek kepada konsumen, akan tetapi tindakan yang dilakukan
oleh suatu merek secara kredibel dalam merealisasikan janji-janji merek terhadap
konsumen (Gabay, 2015). Keaslian merek menurut Becker et al (2019) adalah
sejauh mana konsumen menganggap suatu merek bertindak tulus terhadap merek
itu sendiri dan konsumennya.
Maka dapat disimpulkan Brand Authenticity merupakan respon subyektif
konsumen terhadap keaslian suatu merek yang berdasarkan pada prinsip-
prinsipnya. Keaslian merek mengacu pada sejauh mana konsumen memandang
suatu merek yang unik, asli dan selaras antara tindakan suatu merek dengan nilai,
janji, dan identitasnya yang dapat dihasilkan dari komunikasi yang tulus dan
konsisten terhadap merek itu sendiri dan kepada konsumen
