Seligman (2002) menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi well-being,
yaitu:
- Usia (Age)
Studi kepada 60.000 subjek dengan usia dewasa membagi kebahagiaan
ke dalam tiga bagian, yaitu afek positif, afek negatif dan kepuasan
hidup. Kepuasan hidup dapat bertambah seiring dengan usia,
sedangkan afek positif menurun dan afek negatif tidak mengalami
perubahan. Diketahui bahwa individu yang memiliki usia muda tidak
berarti lebih bahagia dibandingkan dengan usia tua. - Kesehatan (Health)
Kesehatan dapat mempengaruhi kebahagiaan individu sesuai dengan
persepsi masing-masing (kesehatan subjektif). Ketika individu merasa
dirinya sehat, maka perasaan tersebut akan berkontribusi positif
terhadap kebahagiaannya dibandingkan dengan individu yang tidak
merasa sehat berdasarkan persepsi/kesehatan subjektifnya. Jika
individu mengalami penyakit yang berkepanjangan, maka
kebahagiaan bisa perlahan menurun meskipun tidak secara drastis. - Pernikahan (Marriage)
Pernikahan berhubungan erat dengan kebahagiaan. Individu yang
menikah cenderung akan merasa bahagia dibandingkan dengan
individu tidak menikah. Pernikahan juga dikaitkan dengan
kebahagiaan karena dengan menikah individu mendapatkan keintiman
secara fisik dan psikologis, pengafirmasian identitas, dan juga
memiliki tanggung jawab sebagai pasangan dan juga sebagai orang
tua. - Kehidupan Sosial (Social Life)
Individu yang merasa bahagia memilih untuk menghabiskan waktu
untuk bersosialisasi dibandingkan dengan individu yang tidak bahagia.
Sehingga, keterlibatan individu dalam berbagai kegiatan membuat
mereka bersosialisasi dengan orang lain akan berkontribusi positif
terhadap kebahagiaannya. - Keagamaan (Religion)
Data survei yang paling relevan yaitu fakta bahwa individu dengan
tingkat religiusitas yang tinggi dalam artian menjalankan ritual serta
perintah agamanya secara konsisten mendapatkan kontribusi yang
positif terhadap kebahagiaan dan kepuasan hidup yang tinggi.
Sebaliknya, jika individu tidak konsisten dalam menjalankan perintah
agamanya maka tidak mendapat kontribusi positif terhadap
kebahagiaan serta kesejahteraannya. Hal ini berkaitan dengan rasa
syukur yang dimiliki seorang individu karena ia percaya adanya
keberadaan dari Tuhan ataupun non human forces sehingga secara
konsisten memandang hidup sesuatu secara positif serta memiliki rasa
syukur (McCullough et al., 2002). - Jenis Kelamin (Gender)
Gender memiliki keterkaitan dengan suasana hati. Rata-rata tingkat
emosi perempuan dan laki-laki tidak berbeda, akan tetapi perempuan
cenderung lebih bahagia dibandingkan dengan laki-laki.
Ekonomi (Money)
Individu yang memiliki ekonomi cenderung tinggi akan memprediksi
kesejahteraan yang meningkat. Secara keseluruhan, hasil temuan
memberikan pengetahuan bahwa kemiskinan merupakan penyakit
sosial, oleh karena itu individu yang berada dalam taraf ekonomi
menengah ke bawah memiliki kesejahteraan yang rendah
