Dalam penelitian ini, empowering leadership akan diukur menggunakan
dimensi dan indikator yang diadopsi dari penelitian sebelumnya oleh Konczak,
Stelly dan Trusty (2007), ada pun dimensi yang dapat menjadi pengukuran bagi
empowering leadership adalah sebagai berikut :
- Delegetion of Authority
Dimensi delegation of authority merupakan suatu sifat dimana seorang
pemimpin memberikan kekuasaan atau mendeklarasikan kewenangannya. Yang
termasuk kedalam indikator dimensi ini adalah instrinsik motivation. - Accountability
Sikap ini berkaitan dengan penekanan yang dilakukan oleh seorang pemimpin
mengenai akuntabilitas untuk sebuah hasil yang lebih baik. Adapun indikator
yang termasuk kedalam dimensi ini adalah emphasis on accountability for
outcomes. - Self-directed Decision Making
Merupakan suatu sikap untuk dapat mengambil keputusan sendiri. Adapun
yang termasuk kedalam indikatornya adalah self manage teams, dan
encouragement. - Information Sharing & Skill Development
Suatu sikap yang menggambarkan peran manajer sebagai seorang fasilitator
yang dapat mengarahkan, mengendalikan dan memberikan informasi. Adapun
indikatornya adalah leader empowering behavior. - Coaching for Inovative
Merupakan sikap seorang pemimpin yang mencakup perhitungan dan
pengambilan ide baru serta inovasi. Adapun indikatornya adalah new idea, dan
provides performance feedback.
Selain pengukuran empowering leadership diatas, terdapat pengukuran
empowering leadership lainnya yang turut dikemukakan oleh peneliti lain sebagai
perbandingan. Salah satu contoh adalah pengukuran yang dikemukan oleh
Conides (2019). Pengukuran ini terdiri dari dua dimensi. Dimensi pertama yaitu
autonomy supportive. Dimensi ini hanya terdiri satu indikator, yaitu power
sharing. Dimensi kedua yaitu development supportive. Dimensi ini terdiri dari dua
indikator, yaitu development support dan motivational support. - Autonomy supportive
Autonomy supportive adalah dukungan atau power sharing yang dilakukan
oleh pemimpin dalam lingkungan interpersonal yang mana pemimpin mengakui
keberadaan bawahannya, memberikan informasi yang relevan, menawarkan
pilihan yang positif, mendorong inspirasi bawahannya, dan memberikan
pengendalian diri kepada bawahannya tanpa harus memaksa dengan berbagai
cara. - Development supportive
Proses dari development support yang terdapat dalam empowering leadership
adalah sebagai bentuk dan arahan kepada bawahan. Biasanya yang termasuk
kedalam development supporting adalah membangun dan memberikan motivasi
kepada para bawahan secara langsung.
Kemudian, pengukuran selanjutnya dikemukakan oleh Ahearnae, Mathieu, dan
Rapp (2005). Yang mana pengukuran tersebut terdiri dari empat dimensi, yaitu; - Meningkatkan kebermaknaan kerja
Kebermaknaan kerja atau the meaningfulness of work adalah bagaimana
sebuah pekerjaan memiliki makna yang berarti bagi seseorang, memberikan
perasaan senang dan bersemangat dalam menjalankan tugas (Hatice & Mine,
2016). Kebermaknaan kerja ini dapat juga timbul ketika seorang pegawai bisa
mencapai keseimbangan, harmoni dan sinergi antara tujuan, nilai, hubungan dan
aktifitas yang dikerjakan sehari-hari (Blanca & Ramona, 2017). - Mendorong partisipasi dalam mengambil keputusan
Partisipasi pegawai merupakan keadaan dimana pegawai ikut terlibat dalam
proses pengambilan keputusan suatu organisasi, bukan hanya sekedar sebagai
seorang yang menjalankan perintah ( Uma, 2015). - Menunjukkan kepercayaan diri dalam kinerja yang tinggi
Kepercayaan diri berhubungan erat dengan self-efficacy. Secara umum, self-
efficacy adalah kepercayaan seseorang terhadap dirinya sendiri dalam
menjalankan tugas yang diberikan (Bandura, 1994). Tetapi dalam pekerjaan
secara spesifik dikenal sebagai occupational self-efficacy. Menurut Rigotti,
Schyns, dan Mohr (2008), occupational self-efficacy adalah presepsi seseorang
terhadap kemampuan dirinya dalam mengerjakan tugas dalam pekerjaanya secara
efisien. - Memberikan otonomi dari kendala birokrasi
Job autonomy didefinisikan sebagai kebebasan seorang pegawai dalam
menyusun dan menetapkan cara kerjanya serta mengaplikasikannya dalam
penyelesain tugas (Belias et al., 2015). Otonomi yang diberikan kepada pegawai
dan didukung oleh pembekalan informasi dan pengetahuan yang cukup memebuat
pegawai dapat mengambil suatu keputusan yang baik diwaktu yang tempat tanpa
perlu menunggu perintah dari atasannya (Dennerlain, 2017).
Berbeda dengan yang dikemukan oleh Jones (2013), empowering leadership
dibagi menjadi menjadi 3 indikator sebagai berikut; - Menghargai (respect)
Rasa percaya yang ditunjukkan oleh pemimpin terhadap kemampuan
pegawainya sehingga bersedia mendengarkan pendapat yang disampaikan
pegawainya. - Mengembangkan karyawan (development)
Pemimpin yang dapat memberikan teladan terhadap pegawainya dan
memberikan kesempatan untuk terus belajar, sehingga dapat mengambil
keputusan. - Membangun komunitas (community)
Pemimpin memiliki kemampuan untuk menciptakan hubungan yang baik
dengan pegawainya diikuti dengan rasa peduli serta komunikasi antara satu
dengan yang lain. - Pendelegasian kekuasaan (Delegation)
Pemimpin dapat mendelegasikan tugas serta tanggung jawab dengan jelas
untuk mencapai tujaun yang telah ditetapkan.
Pengukuran empowering leadership lainya dikemukakan oleh Srivastava
(2006). Pada pengukuran tersebu, terdapat lima faktor yang menjadi dasar
pengukuran, yaitu; - Memimpin dengan contoh
Pemimpin yang menunjukkan sikap kerja keras, sehingga pemimpin tersebut
dapat menjadi contoh bagi pegawainya - Partisipasi dalam mengambil keputusan
Pemimpin menggunakan informasi yang didapatkan melalui pegawainya
sebagai dasar pengambilan keputusan - Melatih
Pemimpin membantu melatih pegawainya agar mampu menjadi mandiri. - Menginformasikan
Pemimpin mengkomunikasikan informasi tentang organisasi, objektif dan misi
kebijakan. - Menunjukkan kepedulian terhadap tim
Pemimpin dapat bergaul dengan timnya dan bekerja bersama dengan tim secara
menyeluruh
