Pengukuran Empowering Leadership


Dalam penelitian ini, empowering leadership akan diukur menggunakan
dimensi dan indikator yang diadopsi dari penelitian sebelumnya oleh Konczak,
Stelly dan Trusty (2007), ada pun dimensi yang dapat menjadi pengukuran bagi
empowering leadership adalah sebagai berikut :

  1. Delegetion of Authority
    Dimensi delegation of authority merupakan suatu sifat dimana seorang
    pemimpin memberikan kekuasaan atau mendeklarasikan kewenangannya. Yang
    termasuk kedalam indikator dimensi ini adalah instrinsik motivation.
  2. Accountability
    Sikap ini berkaitan dengan penekanan yang dilakukan oleh seorang pemimpin
    mengenai akuntabilitas untuk sebuah hasil yang lebih baik. Adapun indikator
    yang termasuk kedalam dimensi ini adalah emphasis on accountability for
    outcomes.
  3. Self-directed Decision Making
    Merupakan suatu sikap untuk dapat mengambil keputusan sendiri. Adapun
    yang termasuk kedalam indikatornya adalah self manage teams, dan
    encouragement.
  4. Information Sharing & Skill Development
    Suatu sikap yang menggambarkan peran manajer sebagai seorang fasilitator
    yang dapat mengarahkan, mengendalikan dan memberikan informasi. Adapun
    indikatornya adalah leader empowering behavior.
  5. Coaching for Inovative
    Merupakan sikap seorang pemimpin yang mencakup perhitungan dan
    pengambilan ide baru serta inovasi. Adapun indikatornya adalah new idea, dan
    provides performance feedback.
    Selain pengukuran empowering leadership diatas, terdapat pengukuran
    empowering leadership lainnya yang turut dikemukakan oleh peneliti lain sebagai
    perbandingan. Salah satu contoh adalah pengukuran yang dikemukan oleh
    Conides (2019). Pengukuran ini terdiri dari dua dimensi. Dimensi pertama yaitu
    autonomy supportive. Dimensi ini hanya terdiri satu indikator, yaitu power
    sharing. Dimensi kedua yaitu development supportive. Dimensi ini terdiri dari dua
    indikator, yaitu development support dan motivational support.
  6. Autonomy supportive
    Autonomy supportive adalah dukungan atau power sharing yang dilakukan
    oleh pemimpin dalam lingkungan interpersonal yang mana pemimpin mengakui
    keberadaan bawahannya, memberikan informasi yang relevan, menawarkan
    pilihan yang positif, mendorong inspirasi bawahannya, dan memberikan
    pengendalian diri kepada bawahannya tanpa harus memaksa dengan berbagai
    cara.
  7. Development supportive
    Proses dari development support yang terdapat dalam empowering leadership
    adalah sebagai bentuk dan arahan kepada bawahan. Biasanya yang termasuk
    kedalam development supporting adalah membangun dan memberikan motivasi
    kepada para bawahan secara langsung.
    Kemudian, pengukuran selanjutnya dikemukakan oleh Ahearnae, Mathieu, dan
    Rapp (2005). Yang mana pengukuran tersebut terdiri dari empat dimensi, yaitu;
  8. Meningkatkan kebermaknaan kerja
    Kebermaknaan kerja atau the meaningfulness of work adalah bagaimana
    sebuah pekerjaan memiliki makna yang berarti bagi seseorang, memberikan
    perasaan senang dan bersemangat dalam menjalankan tugas (Hatice & Mine,
    2016). Kebermaknaan kerja ini dapat juga timbul ketika seorang pegawai bisa
    mencapai keseimbangan, harmoni dan sinergi antara tujuan, nilai, hubungan dan
    aktifitas yang dikerjakan sehari-hari (Blanca & Ramona, 2017).
  9. Mendorong partisipasi dalam mengambil keputusan
    Partisipasi pegawai merupakan keadaan dimana pegawai ikut terlibat dalam
    proses pengambilan keputusan suatu organisasi, bukan hanya sekedar sebagai
    seorang yang menjalankan perintah ( Uma, 2015).
  10. Menunjukkan kepercayaan diri dalam kinerja yang tinggi
    Kepercayaan diri berhubungan erat dengan self-efficacy. Secara umum, self-
    efficacy adalah kepercayaan seseorang terhadap dirinya sendiri dalam
    menjalankan tugas yang diberikan (Bandura, 1994). Tetapi dalam pekerjaan
    secara spesifik dikenal sebagai occupational self-efficacy. Menurut Rigotti,
    Schyns, dan Mohr (2008), occupational self-efficacy adalah presepsi seseorang
    terhadap kemampuan dirinya dalam mengerjakan tugas dalam pekerjaanya secara
    efisien.
  11. Memberikan otonomi dari kendala birokrasi
    Job autonomy didefinisikan sebagai kebebasan seorang pegawai dalam
    menyusun dan menetapkan cara kerjanya serta mengaplikasikannya dalam
    penyelesain tugas (Belias et al., 2015). Otonomi yang diberikan kepada pegawai
    dan didukung oleh pembekalan informasi dan pengetahuan yang cukup memebuat
    pegawai dapat mengambil suatu keputusan yang baik diwaktu yang tempat tanpa
    perlu menunggu perintah dari atasannya (Dennerlain, 2017).
    Berbeda dengan yang dikemukan oleh Jones (2013), empowering leadership
    dibagi menjadi menjadi 3 indikator sebagai berikut;
  12. Menghargai (respect)
    Rasa percaya yang ditunjukkan oleh pemimpin terhadap kemampuan
    pegawainya sehingga bersedia mendengarkan pendapat yang disampaikan
    pegawainya.
  13. Mengembangkan karyawan (development)
    Pemimpin yang dapat memberikan teladan terhadap pegawainya dan
    memberikan kesempatan untuk terus belajar, sehingga dapat mengambil
    keputusan.
  14. Membangun komunitas (community)
    Pemimpin memiliki kemampuan untuk menciptakan hubungan yang baik
    dengan pegawainya diikuti dengan rasa peduli serta komunikasi antara satu
    dengan yang lain.
  15. Pendelegasian kekuasaan (Delegation)
    Pemimpin dapat mendelegasikan tugas serta tanggung jawab dengan jelas
    untuk mencapai tujaun yang telah ditetapkan.
    Pengukuran empowering leadership lainya dikemukakan oleh Srivastava
    (2006). Pada pengukuran tersebu, terdapat lima faktor yang menjadi dasar
    pengukuran, yaitu;
  16. Memimpin dengan contoh
    Pemimpin yang menunjukkan sikap kerja keras, sehingga pemimpin tersebut
    dapat menjadi contoh bagi pegawainya
  17. Partisipasi dalam mengambil keputusan
    Pemimpin menggunakan informasi yang didapatkan melalui pegawainya
    sebagai dasar pengambilan keputusan
  18. Melatih
    Pemimpin membantu melatih pegawainya agar mampu menjadi mandiri.
  19. Menginformasikan
    Pemimpin mengkomunikasikan informasi tentang organisasi, objektif dan misi
    kebijakan.
  20. Menunjukkan kepedulian terhadap tim
    Pemimpin dapat bergaul dengan timnya dan bekerja bersama dengan tim secara
    menyeluruh