Dampak Kepuasan dan Ketidakpuasan Kerja


Dampak prilaku dari kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja telah banyak
diteliti dan dikaji. Banyak prilaku dan hasil kerja pegawai yang diduga merupakan
hasil dari kepuasan atau ketidakpuasan kerja. Hal-tersebut tidak hanya meliputi
variabel kerja seperti kesehatan dan kepuasan hidup. Berikut ini diuraikan
mengenai dampak kepuasan kerja pegawai :
1). Jacobs dan Solomon (dalam Priansa, 2016:294) menyatakan bahwa korelasi
antara kepuasan kerja dan kinerja akan lebih tinggi pada pekerjaan dimana kinerja
yang bagus dihargai di bandingkan pada pekerjaan yang tidak memberikan
penghargaan. Dalam kondisi seperti itu, pegawai yang memiliki kinerja baik
mendapatkan penghargaan, dan penghargaan itu menyebabkan kepuasan kerja.
Konsisten dengan prediksi mereka, Jacobs dan Solomon menemukan bahwa
kinerja dan kepuasan kerja sangat berhubungan kuat ketika organisasi
memberikan penghargaan terhadap kerja yang bagus.
2). Organizational Citizenship Behavior
Organizational Citizenship Behavior (OCB) atau yang lebih dikenal dengan
prilaku ekstra peran adalah prilaku pegawai untuk membantu rekan kerja atau
organisasi. OCB menurut Schnake dalam Spector (Priansa, 2016) adalah prilaku
di luar tuntunan pekerjaan. Prilaku ini meliputi tindakan sukarela pegawai untuk
membantu rekan kerja mereka dan organisasi.
3). Prilaku Menghindar (Withdrawal Behavior)
Ketidakhadiran atau kemangkiran dan pindah kerja adalah prilaku-prilaku
yang dilakukan pegawai untuk melarikan diri dari pekerjaan yang tidak
memuaskan. Banyak teori yang menduga bahwa pegawai yang tidak menyukai
pekerjaannya ada menghindarinya dengan cara yang bersifat permanan, yaitu
berhenti atau keluar dari organisasi, atau sementara dengan cara tidak masuk kerja
atau datang terlambat. Peneliti memandang absebteeism dan turnover merupakan
fenomena yang saling berhubungan yang didasari oleh motivasi yang sama, yaitu
melarikan diri dari pekerjaan yang sangat tidak memuaskan.
4). Burnout
Burnout adalah emosional distress atau keadaan psikologi yang dialami dalam
bekerja. Burnout lebih merupakan emosi terhadap pekerjaan. Teori burnout
mengatakan bahwa pegawai dalam keadaan burnout mengalami gejala-gejala
kelelahan emosi dan motivasi kerja yang rendah, tetapi bukan depresi. Biasanya
terjadi dalam pekerjaan yang langsung berhubungan dengan orang lain seperti
pekerja kesehatan dan pekerja sosial. Maslach dan Jacson dalam Spector (dalam
Priansa, 2016:294) menyatakan bahwa burnout terdiri dari tiga komponen yaitu:
dispersonalisasi, emotional exhaustion, berkurangnya personal accomplishment.
5). Kesehatan Mental dan Fisik
Terdapat beberapa bukti tentang adanya hubungan antara kepuasan kerja
dengan kesehatan fisik dan mental. Suatu kajian longlitudinal menyimpulkan
bahwa ukuran-ukuran dari kepuasan kerja merupakan peramal yang baik bagi
panjang umur (longevity) atau tentang kehidupan. Salah satu temuan yang penting
dari kajian yang dilakukan oleh Kornhauser tentang kesehatan mental dan
kepuasan kerja adalah pada level setiap jabatan, presepsi dari pegawai bahwa
pekerjaan mereka menuntut penggunaan efektif dari kecakapan-kecakapan mereka
berkaitan dengan skor kesehatan mental tinggi. Sekor-sekor ini juga berkaitan
dengan tingkat kepuasan kerja dari level dan jabatan.
6). Perilaku Kontraproduktif
Perilaku yang berlawanan dengan organizational citizenship adalah
counterproduvtive. Perilaku ini terdiri dari tindakan yang dilakukan pegawai baik
secara sengaja maupun yang tidak sengaja yang merugikan organisasi. Prilaku
tersebut meliputi rekan kerja, penyerangan terhadap organisasi, sabotase, dan
pencurian. Prilaku-prilaku tersebut mempunyai berbagai macam penyebab, tetapi
seringkali dihubungkan dengan ketidakpuasan dan frustasi di tempat kerja.
7). Kepuasan Hidup
Saling mempengaruhi antara pekerjaan dan kehidupan di luar pekerjaan
merupakan faktor penting untuk memahami reaksi pegawai terhadap
pekerjaannya. Kita cenderung untuk mempelajari kerja terutama di tempat kerja,
tetapi pegawai juga berpengaruh oleh kejadian dan situasi di luar tempat kerjanya.
Demikian juga sebaliknya, perilaku dan perasaan tentang sesuatu di luar pekerjaan
dipengaruhi oleh pengalaman kerja. Kepuasan hidup berhubungan dengan
perasaan seseorang tentang kehidupan secara keseluruhan. Hal itu dapat dinilai
berdasarkan dimensi tertentu seperti kepuasan dengan area khusus dalam
kehidupan, misalnya keluarga atau rekreasi. Dapat juga dinilai secara global
sebagai keseluruhan kepuasan terhadap kehidupan