Tipe Loyalitas Konsumen


Dick dan Basu dalam Evangelos Grigoroudis dan Yannis Siskos (2010:86-87)
mengatakan, terdapat empat tipe loyalitas konsumen. Keempat tipe ini muncul
apabila ketertarikan rendah dan tinggi diklasifikasikan silang dengan polah
pembelian ulang yang rendah dan tinggi yaitu:
1) Tanpa Loyalitas (No Loyalty)
Karena alas an tertentu beberapa pelanggan tidak menembangkan loyalitas
terhadap produk atau layanan tertentu, karena keduanya repeat patronage dan
relative attitude relative rendah. Beberapa pedagangmenunjukkan bahwa
bisnis harus menghindari menargetkan pembeli tersebut karena mereka tidak
akan pernah menjadi pelanggan setia, sementara yang lain percaya bahwa jika
kebutuhan yang cukup sering untuk produk/jasa
2) Loyalitas Palsu (Spurious Loyalty)
Konsumen yang memiliki tingkat pembelian ulang yang tinggi tetapi dengan
sikap yang relative rendah atau bias dikatakan loyalitas palsu, yang berarti
bahwa pelanggan biasanya membeli Karena kebiasaan. Alas an utama untuk
membeli didasarkan pada non-sikap/situasional. Segalanya munkin untuk
mengubah loyalitas palsu menjadi bentuk loyalitas yang lebih tinggi dengan
cara membangun hubungan dengan pelanggan dan meningkatkan perbedaan
produk/jasa.
3) Loyalitas Tersembunyi (Latent Loyalty)
Tingkat preferensi yang relative tinggi digabungkan dengan tingkat pembelian
berulang yang rendah menunjukkan loyalitas tersembunyi. Dalam hal ini
situasional lebih memiliki efek daripada pengaruh sikap dalam menentukan
pembelian ulang (repurchase).
4) Loyalitas Premium (Premium Loyalty)
Loyalitas premium terjadi ketika tingkat ketertarikan yang tinggi dan tingkat
pembelian berulang yang juga tinggi. Ini adalah jenis loyalitas yang paling
disukai untuk semua pelanggan dan bisnis. Loyalitas premium didapat ketika
perusahaan telah mengembangkan dan mengkomunikasikan proposisi yang
jelas juga memiliki manfaat jangka panjang bagi pelanggan
e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Konsumen
Beberapa faktor yang mempengaruhi loyalitas konsumen menurut
Dharmamesta (1999) adalah kualitas produk dan promosi. Konsumen yang
memperoleh kepuasan atas produk yang dibelinya cenderung melakukan
pembelian ulang produk yang sama. Salah satu faktor penting yang dapat
membuat konsumen puas adalah kualitas. Ini dapat digunakan oleh pemasar untuk
mengembangkan loyalitas merek dari konsumennya. Pemasar yang kurang atau
tidak memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan akan menanggung risiko
tidak loyalnya konsumen. Jika pemasar sangat memperhatikan kualitas, bahkan
diperkuat dengan periklanan yang intensif, loyalitas konsumennya pada merek
yang ditawarkan akan lebih mudah diperoleh. Kualitas dan periklanan itu menjadi
faktor kunci untuk menciptakan loyalitas merek jangka panjang. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa konsumen akan menjadi loyal pada merekmerek
berkualitas tinggi jika produk-produk itu ditawarkan dengan harga yang wajar.
Kualitas produk adalah suatu nilai dari produk atau jasa, dimana nilai produk
atau jasa sesuai dengan apa yang diharapkan atau melebihi apa yang diharapkan
sehingga produk atau jasa tersebut dapat memenuhi kebutuhan pemakainya
(Kotler dan Amstrong, 2000). Kualitas yang baik dari suatu produk akan
menghasilkan kepuasan konsumen. Suatu produk dapat dikatakan berkualitas
apabila produk tersebut dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan sesuai dengan
yang diharapkan atau melebihi apa yang diinginkan konsumen. Menurut David
(dalam Umar, 2000) untuk menentukan kualitas barang dapat melalui 8 dimensi
yaitu : (a) performance; (b) features; (c) reliability; (d) conformance; (e)
durability; (f) service ability; (g) aesthetics; dan (h) fit and finish.