Jenis – Jenis Loyalitas


Loyalitas merupakan sebuah pencapaian yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Mendapatkan loyalitas bukan merupakan pekerjaan yang mudah untuk dilakukan.
Berbanding terbalik dengan kesulitan dalam mendapatkannya, menghilangkan
loyaitas justru lebih mudah untuk dilakukan. Dick & Basu (2017:104) berusaha
mengintregrasikan tentang prespektif sikap dan behavioral ke dalam satu model
komprehensif. Untuk mengetahui seberapa loyalnya seorang pelanggan terhadap
perusahaan dalam merasakan produk atau jasanya, adapun cara mengetahui
tingkatan loyalitas pelanggan berdasarkan jenisnya. Empat jenis loyalitas berbeda
muncul bila keterikatan rendah dan tinggi diklasifikasikan dengan pola pembelian
ulang yang rendah dan tinggi, adapun empat jenis loyalitas. Berikut adalah tabel
yang menunjukkan empat jenis loyalitas tersebut.
Adapun penjelasan mengenai Tabel empat jenis loyalitas yang telah
dipaparkan menurut Dick & Basu dalam Andre Pranata (2020:49) yaitu:

  1. No Loyalty
    Bila sikap dan pembelian ulang pelanggan sama-sama lemah , maka loyalitas
    tidak terbentuk. kemungkinan penyebabnya. Pertama, sikap yang lemah bisa
    71
    terjadi jika suatu produk atau jasa baru diperkenalkan dan pemasarnya tidak
    mampu mengkomunikasikan keunggulan produknya. Kedua, berkaitan dengan
    dinamika pasar, dimana merek-merek yang berkompetisi dipersepsikan serupa
    atau sama, sehingga pemasar sukar untuk membentuk sikap yang positif.
  2. Spurious Loyality
    Bila sikap yang relative lemah dibarengi dengan pola pembelian ulang yang
    kuat, maka yang terjadi adalah supurious loyalty atau captive loyalty. Situasi
    semacam ini dita ndai dengan pengaruh faktor non-sikap terhadap perilaku.
    Situasi ini bisa pula disebut inertia, dimana pelanggan sulit membedakan
    berbagai merek dalam kategori produk dengan tingkat keterlibatan rendah,
    sehingga pembelian ulang dilakukan atas dasar situasional.
  3. Latent Loyality
    Situasi ini tercermin pada sikap kuat dibarengi dengan pola pembelian ulang
    yang lemah, hal ini disebabkan pengaruh faktor-faktor non sikap yang sama
    kuat atau bahkan cenderung lebih kuat. Latent loyalty terjadi ketika konsumen
    memiliki sikap relatif yang tinggi, tetapi tingkat pembelian ulangnya rendah.
    dipengaruhi keadaan lingkungan atau faktor situasional.
  4. Loyality
    Situasi ini merupakan situasi ideal yang paling diharapkan para pemasar,
    dimana pelanggan bersikap positif terhadap jasa atau penyedia jasa
    bersangkutan dan disertai pola pembelian ulang produk atau jasa yang
    konsisten oleh pelanggan pada situasi ini perusahaan merasa diuntungkan oleh
    pelanggan