Implementasi Kelekatan pelanggan


Implementasi dari strategi Kelekatan pelanggan terdiri dari lima aspek,
yaitu (Richard Cross & Janet Smith dikutip Meyrina, 2018:36):

  1. Awareness Bonding
    Awareness Bonding merupakan tahapan awal dan paling dasar dari
    kelekatan pelanggan. Pada tahap ini, perusahaan berusaha mendapat bagian
    dalam benak konsumen dan perusahaan berusaha supaya produknya mendapat
    persepsi yang baik dalam benak konsumen. Menurut Cross dan Smith dikutip
    Meyrina (2018:37) Awareness Bonding adalah penciptaan suatu pesan secara
    monolog yang bergerak satu arah dari pemasang iklan ke konsumen.
    Awareness Bonding dapat menciptakan loyalitas, namun penekanannya
    hanya sebatas memastikan konsumen menyadari dan mengingat merek atau
    produk. Tujuannya adalah supaya merek, produk atau perusahaan menjadi bahan
    pertimbangan ketika konsumen ingin melakukan pembelian. Simamora
    (2016:127) mengatakan “Awareness Bonding diciptakan melalui pesan monolog
    atau satu arah dari pemasar atau produsen kepada konsumen. Tujuan pemasar
    adalah untuk mendapatkan perhatian konsumen. Pekerjaan ini ditujukan oleh
    citra iklan pada media massa, promosi penjualan, public relations bahkan
    kegiatan sponsor”. Tahap Awareness Bonding dapat dicapai melalui iklan, direct
    marketing maupun interactive marketing. Melalui tahap ini konsumen digiring
    untuk menyadari merek. Kalau diferensiasi produk kuat, iklan dapat
    menggerakkan konsumen untuk mencoba pertama kali atau menarik konsumen
    untuk melakukan pembelian ulang.
  2. Identity Bonding
    Identity bonding terbentuk melalui penghargaan konsumen terhadap
    tindakan positif perusahan. Tentang proses ini, Cross dan Smith dalam
    Simamora (2016:128) mengatakan “Identity bonding, seperti awareness
    bonding, diciptakan melalui komunikasi satu arah dari pemasar kepada
    konsumen. Hal ini bergantung pada hasil awareness bonding, iklan dan
    publisitas. Tidak ada interaksi atau hubungan antara pemasar dan konsumen atau
    pelanggan yang dibutuhkan, meskipun konsumen biasanya secara aktif terlibat
    dalam penggunaan produk”. Pada tahap ini konsumen diharapkan sudah mulai
    tertarik bahkan telah mencoba produk tersebut. Untuk mendorong Identity
    Bonding ini, pemasar harus menggugah nilai dan emosi konsumen dalam
    berkomunikasi.
    Innovative marketing dapat dilakukan dengan Green Marketing Concept
    dan Involve the Community, misalnya bahwa perusahaan berusaha menambah
    nilainya dengan melakukan gerakan sosial sebagai sikap peduli pada masyarakat
    sehingga pelanggan percaya pada perusahaan.
  3. Relationship Bonding
    Pada tahap ini, perusahaan mulai membentuk ikatan dan dialog antara
    pemasar dan konsumen. Pembentukan ikatan ini bertujuan untuk membangun
    pertukaran manfaat antara kedua belah pihak. Perusahaan memberikan satu
    manfaat atau lebih yang tidak nyata (seperti informasi dan penghargaan) dan
    manfaat yang terlihat (seperti diskon, hadiah, fasilitas kredit). Di sisi lain,
    pelanggan memberikan informasi tentang minat, permintaan dan pembelian
    ulang para pelanggan. Definisi Relationship Bonding menurut Cross & Smith
    dalam Simamora (2018:130) adalah “Relationship Bonding melibatkan interaksi
    yang lebih tinggi dengan konsumen dibandingkan awareness atau the identity
    bonding. Prospek dan konsumen tidak lagi dikenal. Ketika relationship bonding
    terbentuk, prospek dan konsumen secara aktif terlibat dalam hubungan dengan
    pemasar”.
    Pada tahap ini, keberadaan database pelanggan merupakan syarat mutlak
    dalam melakukan relationship bonding. Sistem informasi pemasaran dibutuhkan
    dalam relationship bonding. Untuk pelanggan terbatas, perusahaan bisa
    membentuk sistem informasi interaktif. Sistem demikian umumnya terjadi
    antara produsen atau agen dengan diler, grosir ataupun pengecer. Untuk
    pelanggan individu yang banyak jumlahnya, perusahaan dapat memanfaatkan
    perantara yang berhubungan langsung dengan pembeli akhir, seperti agen,
    pedagang grosiran, pengecer. Perusahaan bisa pula menggunakan guest
    comment (penyampaian keluhan dan saran dari konsumen terhadap perusahaan).
    Cara lainnya adalah melalui kunjungan langsung (sales visit) pada konsumen.
  4. Community Bonding
    Community bonding adalah proses atau tingkatan dimana interaksi tidak lagi
    terbatas antara perusahaan dan pelanggan, tetapi juga di antara pelanggan
    dengan pelanggan. Tentang ini, Cross & Smith dalam Simamora (2018:131)
    mengatakan Interaksi atau hubungan sekarang menjadi tatap muka atau face to
    face. Interaksi lebih dari sekedar dialog dasar antara pemasar dengan pelanggan
    atau konsumen. Sekarang interaksi menjadi multidialog, termasuk komunikasi
    antara pemasar dengan pelanggan, antara pelanggan dengan pelanggan lain”
  5. Advocacy Bonding
    Advocacy bonding merupakan tingkat tertinggi dalam proses pengikatan
    konsumen. Pada tahap ini, perusahaan tidak lagi terlibat secara langsung.
    Konsumen lah yang atas kemauan sendiri menjadi pemasar (marketer) untuk
    perusahaan, yaitu melalui pemasaran atau promosi mulut ke mulut (word-of-
    mouth-advertising). Menurut Aaker dalam (Meyrina (2018:41), hal tersebut
    hanya bisa terjadi pada konsumen yang memiliki loyalitas tertinggi sebagai
    commited buyer. Orang yang puas, suka dan bangga terhadap sebuah merek,
    otomatis menjadi pemasar untuk merek tersebut. Sebagai balasannya,
    perusahaan perlu menjadi ”perusahaan yang berkomitmen” (commited
    company) untuk menjamin kepuasan dan penghargaan terhadap pelanggan.
    Untuk mendukung pelaksanaan advocacy bonding, perusahaan dapat:
    a. Memberikan kesempatan kepada para pelanggan untuk mengetahui dan
    mengenal produk-produk baru yang akan atau telah diluncurkan
    b. Mendorong konsumen sebagai penganjur merek, namun jangan sampai
    membuat mereka tersinggung
    c. Menunjukan komitmen, perhatian, dan penghargaan secara
    sungguhsungguh pada konsumen.