Istilah kecerdasan emosional (EQ) pertama kali dilontarkan pada tahun
1990 oleh Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari
University of New Hampsire untuk menerangkan kualitas-kualitas itu antara
lain empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan
amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan
memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan
dan sikap hormat (dalam Shapiro 2003).
Salovey danMayer (dalam Shapiro 2003) mendefinisikan kecerdasan
emosional (EQ) sebagai salah satu bentuk inteligensi yang melibatkan
kemampuan untuk menangkap perasaan dan emosi diri sendiri dan orang
lain, untuk membedakannya dan menggunakan informasi ini dalam menuntun
pikiran dan tindakan seseorang.Kecerdasan emosional bukanlah lawan
kecerdasan intelektual (IQ), namun keduanya berinteraksi secara dinamis,
baik pada tingkatan konseptual maupun didunia nyata. Kecerdasan
emosional tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan, sehingga membuka
kesempatan bagi kita untuk melanjutkan apa yang sudah disediakan oleh
alam agar kita mempunyai peluang lebih besar untuk meraih keberhasilan.
Pada kenyataannya perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki
peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan disekolah, tempat
kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Menurut Salovey
dan Mayer kecerdasan emosional adalah salah satu bentuk intelegensi yang
melibatkan kemampuan untuk memahami perasaan diri sendiri dan orang
lain.
Berbeda sedikit dari penjelasan Salovey dan Mayer, menurut Cooper
dkk (1998) kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan
memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi
sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.
Menurut Cooper kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan
memahami, serta menerapkan kepekaan emosi.
Tidak jauh berbeda dengan dua ahli sebelumnya, menurut Goleman
(2002) kecerdasan emosional sebagai kemampuan mengelola perasaan
sedemikian rupa sehingga terekspresikan secara tepat dan efektif, yang
memungkinkan orang bekerjasama dengan lancar menuju sasaran
bersama.Tingkat kecerdasan emosi tidak terikat dengan faktor genetis, tidak
juga hanya dapat berkembang selama masa kanak-kanak. Tidak seperti IQ,
yang berubah hanya sedikit setelah melewati usia remaja, tampaknya
kecerdasan emosi lebih banyak diperoleh lewat belajar, dan terus
berkembang sepanjang hidup sambil belajar dari pengalaman sendiri.
Seseorang makin lama makin baik dalam kemampuan ini sejalan dengan
makin terampilnya mereka dalam menangani emosi dan impulsnya sendiri,
dalam memotivasi diri, dan dalam mengasah empati dan kecakapan sosial.
Menurut Goleman (2002) kecerdasaan emosional kemampuan seorang
individu mengelola perasaan yang dirasakan serta mengekspresikannya
secara tepat dan efektif, yang bertujuan agar orang lain dapat berkerjasama
mencapai hasil yang diinginkan.
Keterampilan kecerdasan emosi bekerja secara sinergis dengan
keterampilan kognitif. Tanpa kecerdasan emosi, orang tidak akan bisa
menggunakan kemampuan-kemampuan kognitif mereka sesuai dengan
potensi yang maksimum. Doug Lennick mengatakan bahwa yang diperlukan
untuk sukses dimulai dengan keterampilan intelektual, tetapi orang juga
memerlukan kecakapan emosi untuk memanfaatkan potensi bakat mereka
secara penuh (Goleman, 2002).
