Faktor penentu komitmen karyawan pada organisasi dapat berasal dari
kondisi internal karyawan maupun kondisi eksternal yang berasal dari organisasi.
Kedua penentu ini berpengaruh besar dalam menciptakan komitmen pada
organisasi (Budiarto, 2004).
Menurut Luthans (dalam Budiarto, 2004), faktor penentu komitmen pada
organisasi adalah variabel-variabel (umur, masa jabatan dalam organisasi, dan
kecenderungan afeksifitas positif atau negatif, atau kontrol (internal dan eksternal)
dan organisasi (desain kerja dan gaya kepemimpinan supervisor). Selain itu,
komitmen karyawan terhadap organisasi juga ditandai dengan sikap-sikap
emosional yang timbul dengan adanya lokus internal dan eksternal. Lokus internal
berasal dari dalam diri seseorang dengan merasa bahwa mereka dapat
mengendalikan sendiri kondisi mereka, dan lokus eksternal menganggap adanya
hal di luar diri yang menentukan kondisi hidup mereka, seperti misalnya sesuatu
yang berasal dari organisasi, kebijakan organisasi, sikap kepemimpinan
organisasi, kontrol dari atasan.
Greenberg dan Baron (dalam Basalamah, 2004) berpendapat bahwa
komitmen terhadap organisasi ditimbulkan atau diakibatkan oleh beberapa faktor,
antara lain sebagai berikut :
a. Beberapa aspek dari pekerjaan itu sendiri. Menurut penelitian, tingkat
komitmen akan semakin tinggi apabila seorang karyawan merasakan hal – hal
sebagai berikut :
- Tanggung jawab dan otonomi yang berkaitan dengan suatu pekerjaan
tertentu yang dirasakan tinggi - Pekerjaan kurang repetitif
- Pekerjaannya lebih penting.
Sebaliknya, apabila kemungkinan promosi adalah sedikit serta apabila
pekerjaan tersebut meimbulkan kekhawatiran dan tidak jelas, maka komitmen
terhadap organisasi tersebut cenderung rendah.
b. Adanya kesempatan kerja lainnya, artinya apabila karyawan merasa ada
banyak kesempatan untuk bekerja di tempat lain dan alternatif tersebut
dianggap layak, maka komitmen karyawan terhadap organisasi cenderung
rendah.
c. Karakteristik individual dari karyawan yang bersangkutan. Karyawan yang
berusia lanjut, serta puas dengan tingkat kinerja mereka cenderung memiliki
komitmen yang tinggi terhadap organisasi mereka.
d. Beberapa faktor yang berkaitan dengan lingkungan kerja secara keseluruhan
seperti : penyelia, penilaian, kesejahteraan, kepemilikan terhadap saham
organisasi yang bersangkutan dan sebagainya.
Sedangkan Steven dkk (dalam Sunarto, 2010) menjelaskan ada tiga faktor
yang dapat mempengaruhi komitmen pada organisasi, yaitu :
a. Atribut-atribut personal (personal atributs), seperti usia individu, jenis
kelamin, pendidikan
b. Faktor organisasional (organizational factors), seperti besar kecilnya
organisasi dan sentralisasi otonomi.
c. Faktor-faktor yang berkaitan dengan peran (role-related factor), seperti beban
pekerjaan dan ketrampilan bawahan.
Steers dan Porter (dalam Sunarto, 2010) mengemukakan tentang empat
atribut personal komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:
a. Usia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa semakin lanjut usia
seseorang maka akan semakin memiliki komitmen terhadap organisasinya. Hal ini
tentu saja berkaitan dengan kehidupan individu itu sendiri, dengan bertambahnya
usia seseorang maka semakin banyak pula pengalaman yang diterimanya,
termasuk kegagalan-kegagalan dan keberhasilan-keberhasilan, juga berbagai
macam tantangan dapat lebih bijaksana dan hati-hati dalam mengambil suatu
keputusan termasuk pilihan terhadap pekerjaannya, bahwa organisasi tempatnya
bekerja saat ini adalah sesuatu yang terbaik bagi dirinya.
b. Masa kerja. Semakin lama masa kerja seseorang akan semakin tinggi
komitmen organisasinya. Karyawan yang sudah lama bekerja, sudah terbiasa
dengan kondisi dan iklim organisasinya, ia akan merasa menjadi bagian dari
organisasi tersebut setelah melalui bertahun-tahun bekerja di organisasinya.
Apabila mengalami hambatan atau tekanan-tekanan, maka karyawan dengan masa
kerja yang lebih lama akan lebih kuat bertahan dibandingkan karyawan baru yang
belum banyak terlibat dalam organisasinya.
c. Motif berprestasi. Semakin tinggi motif berprestasi seseorang akan
semakin terikat terhadap organisasi. Dijelaskan oleh Robinowitz dan Hall (dalam
Sunarto, 2010) bahwa salah satu faktor yang menentukan komitmen seseorang
adalah adanya harapan yang besar pada pekerjaannya, kebanggaan pada
organisasi dan adanya ambisi umum serta adanya keinginan untuk mobilitas ke
atas.
d. Tingkat pendidikan. Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan
yang tinggi akan lebih cepat menguasai bidangnya. Strauss dan Sayless (dalam
Sunarto, 2010) menyatakan bahwa pekerjaan yang mudah dan sederhana dapat
terselesaikan secara otomotis tanpa berpikir lagi yang berarti untuk berhasil
menyelesaikan tanpa membutuhkan perencanaan, analisis maupun penguasaan
teori sehingga karyawan yang berpendidikan tinggi biasanya lebih banyak
menuntut pada diri sendiri maupun pada pihak organisasi.
Berdasarkan uraian di atas diperoleh kesimpulan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi antara lain: atribut
personal (personal atributs), organisasional (organizational factors), peran (role-
related factor), usia, masa kerja, motif berprestasi dan tingkat pendidikan
