Pengaruh Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi terhadap Intensi Turnover.

Kepuasan kerja dan komitmen organisasi mempunyai peranan saling

mempengaruhi dengan intensi turnover. Terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi komitmen organisasi yang berdampak pada tinggi rendahnya

intensi turnover. Hubungan antara kepuasan kerja dan komitmen organisasi sangat

kuat. Penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa kepuasan kerja sebagai

pendahulu dari komitmen organisasi (Williams & Hazer dalam Barlett, 2001).

Turnover dan intensi turnover terbentuk dipicu oleh beberapa variabel

sikap yang menurut traditional turnover theory yaitu adalah kepuasan kerja dan

komitmen organisasi (Zhao dan Liu, 2010). Hal ini sejalan dengan pernyataan

DeMicco dan Raid (1988) yang menyatakan bahwa intensi turnover seseorang

terkait erat dengan kepuasan kerja dan komitmen organisasi. Ratnawati (2002)

juga mengemukakan bahwa pada umumnya variabel yang secara konsisten

ditemukan berhubungan dengan intensi turnover adalah kepuasan kerja dan

komitmen organisasi.

Anis dkk (2003) mengemukakan bahwa kepuasan kerja dan komitmen

organisasi berpengaruh signifikan secara simultan terhadap intensi turnover. Hal

ini sejalan dengan penelitian Siong dkk (2006) yang juga menemukan bahwa

kepuasan kerja dan komitmen organisasi berpengaruh signifikan secara simultan

terhadap intensi turnover 

Kepuasan kerja sangat penting untuk mengurangi lemahnya komitmen

organisasi (Ayeni dan Papoola, 2007). Robbins (2001) mendefinisikan kepuasan

kerja sebagai sikap umum seorang karyawan terhadap pekerjaannya. Seorang

dengan tingkat kepuasan tinggi menunjukkan sikap yang positif terhadap

pekerjaannya, sebaliknya seorang tidak puas dengan pekerjaannya akan

menunjukkan sikap negatif terhadap pekerjaannya. Jadi kepuasan kerja

merupakan perasaan gembira atau positif yang dimiliki oleh karyawan terhadap

pekerjaan itu sendiri, ganjaran yang diterima ataupun perasaan yang berhubungan

dengan dirinya. Semakin tinggi kepuasan kerja akan semakin meningkatkan

komitmen organisasi. Karyawan yang terpenuhi kepuasan kerjanya dapat

diartikan bahwa komitmen organisasinya juga tinggi dan cenderung untuk

bertahan dalam organisasi. Sementara karyawan yang tidak puas akan memilih

keluar dan mencari alternatif pekerjaan lain yang lebih memuaskan.

Kaswan (2012) menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara

kepuasan kerja dengan komitmen organisasi, artinya semakin tinggi kepuasan

kerja maka semakin tinggi juga komitmen organisasi. Begitu juga sebaliknya,

semakin tidak puas karyawan maka komitmen organisasi akan semakin rendah.

Kepuasan kerja memiliki arah hubungan negatif dengan pergantian karyawan atau

turnover dimana semakin tidak puas karyawan maka semakin tinggi tingkat

pergantian karyawan atau turnover dan begitu juga sebaliknya.

Menurut Robbins dalam Kaswan (2012), karyawan mengekspresikan

ketidakpuasan dengan empat cara sebagai berikut, pertama, keluar dari

pekerjaannya dan mencari pekerjaan di tempat lain. Kedua, bekerja denga 

seenaknya (misalnya terlambat datang, tidak masuk kerja, membuat kesalahan

yang disengaja). Ketiga, membicarakan ketidakpuasannya kepada atasan dengan

tujuan agar kondisi tersebut dapat berubah. Keempat, menunggu dengan optimis

dan percaya bahwa organisasi dan manajemennya dapat melakukan sesuatu yang

terbaik. Secara umum karyawan yang merasa tidak puas dan memiliki intensi

turnover akan meninggalkan pekerjaannya (Mobley, 2000