Hubungan Antara Komitmen Organisasi dan Ketidakamanan Kerja Dengan Intensi Turnover

Persoalan yang seringkali terjadi di suatu perusahaan biasanya ditimbulkan karena

perilaku karyawan atau SDM itu sendiri. Salah satu bentuk perilaku karyawan tersebut adalah

intensi turnover. intensi turnovermerupakan sinyal awal terjadinya berganti pekerjaan pada

karyawan di dalam organisasi (Mobley, 1986).

Tingkat Turnover yang tinggi akan menimbulkan dampak negatif bagi organisasi,hal

ini seperti menciptakan ketidakstabilan dan ketidakpastian terhadap kondisi tenagakerja dan

peningkatan biaya sumber daya manusia yakni yang berupa biaya pelatihan yangsudah

diinvestasikan pada karyawan sampai biaya rekrutmen dan pelatihan kembali.Turnover yang

tinggi juga mengakibatkan organisasi tidak efektif karena perusahaankehilangan karyawan

yang berpengalaman dan perlu melatih kembali karyawan baru.Tingkat Turnover karyawan

yang tinggi merupakan ukuran yang sering digunakan sebagaiindikasi adanya masalah yang

mendasar pada organisasi.Tingginya turnover mengindikasikan rendahnya komitmen pada

karyawan (Yunanti & Prabowo, 2014).

Handaru (2012) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa intensi

turnoverdipengaruhi oleh komitmen organisasi.Setiap karyawan memiliki dasar dan perilaku

yang berbeda tergantung padakomitmen organisasi yang dimilikinya. Karyawan yang memiliki

komitmen organisasidengan dasar afektif memiliki tingkah laku yang berbeda dengan karyawan

yangmemiliki komitmen organisasi dengan dasar continuance. Karyawan yang ingin

menjadianggota akan memiliki keinginan untuk menggunakan usaha yang sesuai dengan

tujuanorganisasi. Sebaliknya karyawan yang terpaksa menjadi anggota akan menghindarikerugian

financial dan kerugian lain, sehingga karyawan tersebut hanya melakukanusaha yang tidak

maksimal. Sementara itu, komitmen normatif yang berkembang sebagai hasil daripengalaman

sosialisasi bergantung dari sejauh apa perasaan kewajiban yang dimilikikaryawan. Komitmen

normatif menimbulkan perasaan kewajiban pada karyawan untukmemberi balasan atas apa yang

telah diterima dari organisasi (Rohman, 2009).

Komitmen seseorang terhadap organisasi/perusahaan sering kali menjadi isu yang

sangat penting didalam dunia kerja.Begitu pentingnya hal tersebut, sampai-sampai beberapa

organisasi berani memasukkan unsur komitmen sebagai salah satu syarat untuk memegang

suatu jabatan/posisi yang ditawarkan dalam iklan-iklan lowongan pekerjaan. Meskipun hal

tersebut sudah sangat umum namun tidak jarang pengusaha maupun karyawan belum

memahami arti komitmen secara sungguh-sungguh. Komitmen karyawan terhadap

organisasiakan membuat karyawan setia pada organisasi dan bekerja dengan baik

untukkepentingan organisasi, jika komitmen karyawan rendah maka akan mengakibatkan

munculnya intensi turnover ( Hendrayani, 2013).

Intensi turnover karyawan juga dipengaruhi oleh ketidakamanan kerja.

Ketidakamanan kerjayang terus-menerus akan mempengaruhi kondisi psikologis karyawan

sehingga mendorong munculnya intensi turnover untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat

memberikan rasa aman.Ketidakamanan kerja ditunjukkan dengan ketakutan akan kehilangan

pekerjaan, ketakutan akan kehilangan status sosial, dan rasa tidak berdaya.Karena

ketidakamanan kerjamencerminkanserangkaian pandangan individu mengenai kemungkinan

terjadinya peristiwanegatif pada pekerjaan, maka sangat mungkin perasaan ini akan

membawa akibatnegatif pada kepuasan kerja sebagai respon emosional utama pada

pekerjaan.Timbulnya ketidakamanan kerjamencerminkan pandangan individu bahwa

organisasisudah melalaikan kontrak tersebut dalam hubungannya dengan aspek kerjatertentu,

akibatnya loyalitas akan terpengaruh secara negatif. Loyalitas yangmenurun memudahkan

individu atau karyawan mencari alternatif-alternatifpekerjaan di luar organisasi dimana ia

berada saat ini. Komponen yangdiasumsikan mendasari munculnyaketidakamanan kerja

diantaranya adalah ancamanterhadap hilangnya pekerjaandan ancaman terhadaphilangnya

dimensi-dimensi yang menyertai suatu pekerjaan.

Ketika bekerja, karyawan memiliki suatu harapan terpenuhinya semua kebutuhannya

melalui aktivitas bekerja. Apabila hal tersebut tercapai akan menimbulkan rasa puas dan

bahagia, sehingga niat turnover rendah karena karyawan akan takut kehilangan pekerjaan.

Harapan dari karyawan yang bekerja adalah terpenuhinya kebutuhan hidup dirinya dan

keluarga melalui upah atau gaji yang diperolehnya. Apabila upah atau gaji yang diperoleh

kurang mampu memenuhi kebutuhan hidup, maka hal tersebut akan menimbulkan kecemasan

dan ketakutan. Kondisi itulah yang mendorong karyawan untuk mencari pekerjaan lain yang

dianggapnya dapat memberikan upah atau gaji yang lebih tinggi.

Karyawanmembutuhkan tempat bekerja dimana dirinya bisa mengaktualisasikan

dirinya.Banyak juga karyawan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang

pendidikannya, karyawan juga mengharapkan lingkungan kerja yang kondusif, baik secara

fisik maupun psikis.Karyawan ketika bekerja mengharapkan pekerjaan yang dimilikinya

dapat berlangsung selamanya. Namun adanya sistem kontrak menurunkan keberlangsungan

hidup karyawan dalam bekerja sehingga menimbulkan rasa takut kehilangan pekerjaan, status

sosial turun, dan rasa tidak berdaya karena nasibnya ditentukan oleh orang lain. Kondisi

demikianlah yang mendorong karyawan akhirnya memiliki niat untuk mencari pekerjaan lain

yang dapat memberikan jaminan untuk menjadi karyawan tetap perusahaan.kondisi yang

demikian akan membuat karyawan berpikir ulang untuk mencari pekerjaan lain yang

dianggap lebih dapat memberikan rasa aman. Hal tersebutlah yang kemudian meningkatkan

munculnya intensi turnover(Agustian, 2011).

Dalam penelitiannya Hendrayani (2013) menunjukkan bahwa komitmen organisasi

dan ketidakamanan kerja secara bersana-sama berpengaruh signifikan terhadap intensi

turnover.