Hubungan Self-Efficacy dengan komitmen karyawan 

Setiap individu mempunyai prinsip dan tujuan hidupnya masing-masing,

tidak banyak karyawan yang memiliki komitmen dalam pekerjaan yang sudah

dijalaninya, bila komitmen karyawan rendah tidak dapat bekerja dengan baik dan

memenuhi target pekerjaannya. Hasilnya pun tidak sesuai dengan apa yang sudah

atasan harapkan. Menurut Mayer & Allen (dalam Ayu, 2012:107) menyatakan

bahwa pekerja yang mempunyai kewajiban terhadap kelompok akan merasakan

identic dengan organisasinya. Menurut Robbins (2015:70) komitmen karyawan

yakni sejauhmana orang menyesuaikan pada kelompok tertentu serta pertahankan

keanggotaan ddialam kelompok.

Berdasarkan Ratnasari & Yusnita, (2018:15) Semakin tingginya efikasi diri

pada karyawan maka semakin meningkatnya kinerja karyawan. Efikasi yang tinggi

dapat ditunjukan dengan adanya pekerjaan yang cepet terselesaikan, kehadiran dan

koloyalan karyawan pada perusahaan. Menurut Bandura (1997: 42) Self-Efficacy

merupakan tingkat keyakinan atau kepercayaan sesorang terhadap kekuatan diri

(percaya diri) dalam mengerjakan dan menjalankan tugas atau pekerjaannya. Self-

efficay dapat didefinisikan sebagai keyakinan sesorang tentang kemampuannya

untuk mengarahkan sumber daya kognitif serta tindakan yang diperlukan untuk

berhasil mengerjakan pekerjaannya.

Penelitian tentang interaksi self-efficacy serta komitmen karyawan sudah

diteliti. Penelitian Argawal & Misrha (2016), Alam (2016), Arya, Sharma & Singh

(2012), & Tsai dkk (2011) menandakan bahwa masih ada interaksi positif

signifikan antara self-efficacy menggunakan komitmen karyawan. Self-efficacy

merupakan keyakian seorang tentang kemampuannya buat mengerjakan suatu

pekerjaan. Keyakinan ini mendorong seorang buat bekerja lebih ulet & membarui

suatu halangan sebagai tantangan bagi dirinya. Self-efficacy jua menciptakan

pekerja lebih gampang buat menyesuaikan diri menggunakan lingkungan & lebih

bisa mengikuti keadaan menggunakan nilai-nilai yg terdapat pada perusahaan.

Yang lalu menciptakan pekerja mempunyai kinerja yg lebih baik & mengevaluasi

sebuah instansi menggunakan baik. Sehingga karyawan yang mempunyai self-

efficacy akan cenderung buat permanen bertahan pada sebuah instansi &

menyebarkan komitmen organisasinya terhadap instansi.

Tetapi penelitian yang dilakukan Sinha, Talwar & Rajpal (2002),

menerangkan masih ada interaksi positif tetapi nir sighnifikan antara self-efficacy

menggunakan komitmen karyawan. Self effikasi hanya menaruh kontibusi pada

komitmen organisasi sebanyak 3%. Hal ini bisa terjadi lantaran karyawan yang

mempunyai self-efficacy yang tinggi nir selalu berguna untuk instansi. Terdapat

beberapa pekerjaan yang dilakukan sang pekerja yang menguntungkan bagi pekerja

sendiri tetapi tidak mengunntungkan bagi instansi. Sehingga meskipun pekerja

mempunyai self-efficacy yg tinggi tetapi hal ini nir mendukung pekerja buat

mempunyai komitmen yang tinggi juga dikarenakan cuma pekerja yang menerima

manfaat berdasarkan self-efficacy yang dipunyai tetapi instansi belum

memperolehnya