Objek Manajemen Laba


Komponen laba yang seringkali menjadi objek rekayasa manajerial
adalah berbagai komponen pendapatan (revenues) dan biaya (expenses)
Sulistyanto (2008:183-205) diantaranya adalah:

  1. Aktiva Lancar
    Aktiva lancar (current assets) merupakan aktiva paling likuid
    yang dimiliki perusahaan. Aktiva diklasifikasikan sebagai aktiva lancar
    apabila berupa kas atau setara kas yang dapat diwujudkan dalam bentuk
    kas dan siap untuk digunakan kurang dari satu periode akuntansi atau
    operasi normal perusahaan. Sesuai dengan sifat fisiknya yang relative
    ringan, kecil, dan mudah dibawa, aktiva lancar merupakan harta
    perusahaan yang paling mudah diselewengkan.
    Aktiva lancar mudah menjadi objek manajemen laba. Selain itu
    upaya rekayasa terhadap komponen kas dapat dilakukan dengan
    mempermainkan transaksi-transaksi yang terkait dengan komponen ini.
    Untuk menutupi kecurangan ini pelaku akan memanfaatkan
    komponen-komponen akrual yang mempunyai hubungan dengan kas.
    Akrual yang diperoleh dari upaya merekayasa komponen-komponen
    aktiva lancar, diklasifikasikan sebagai komponen discretionary current
    accruals.
    Ada empat komponen utama aktiva lancar yang selama ini
    dikenal dan dipakai sebagai objek rekayasa manajerial secara umum.
    a. Kas dan komponen lain yang setara kas (cash) yang dicatat sesuai
    dengan nilai yang telah ditetapkan.
    b. Piutang usaha (account receivable) yang dicatat pada estimasi
    jumlah yang mungkin dapat ditagih atau direalisasi.
    c. Persediaan (inventory) yang dicatat pada nilai wajarnya.
    d. Komponen biaya dibayar dimuka (prepaid items) yang dicatat sesuai
    dengan biaya yang telah dikeluarkan secara tunai.
    Upaya rekayasa terhadap komponen-komponen ini dilakukan dengan
    mempermainkan besar kecilnya komponen bersangkutan. Untuk itu
    berbagai metode akuntansi yang selama ini diterima dapat dipilih
    dan digunakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai pelakunya,
    baik dengan melanggar maupun tanpa harus melanggar prinsip
    akuntansi berterima umum.
    a. Kas dan Setara Kas
    Kas adalah aktiva lancar yang paling mudah dan sering
    disalahgunakan, sesuai dengan sifatnya yang mudah untuk
    dipakai atau dibelanjakan.
    b. Piutang
    Piutang merupakan tagihan perusahaan kepada pihak lain
    karena perusahaan telah menjual produknya kepada pihak lain
    secara kredit (nontunai). Piutang dapat berupa pitang tanpa
    disertai dengan perjanjian secara formal dan piutang yang
    disertai dengan perjanjian secara formal (piutang wesel).
    Ada beberapa alasan mengapa piutang menjadi obyek
    rekayasa manajerial, yaitu piutang merupakan komponen
    laporan keuangan yang tidak mempunyai wujud fisik sehingga
    mudah untuk mengubah bukti pencatatan piutang, kebebasan
    dalam menentukan estimasi prosentase biaya kerugian piutang,
    dan kebebasan untuk memilih komponen yang dipakai sebagai
    dasar penghitungan biaya kerugian piutang.
    c. Persediaan
    Persediaan merupakan barang-barang fisik yang dimiliki
    perusahaan untuk dijual kembali dalam operasi normal
    perusahaan (persediaan barang dagangan) atau untuk diproses
    lebih lanjut sebelum dijual dalam operasi normal perusahaan
    (persediaan bahan baku). Sebagai komponen laporan keuangan
    maka persediaan mempunyai peran ganda yang harus
    dijalankan, yaitu sebagai unsur penentu harga pokok penjualan
    (cost of goods sold) dalam laporan laba-rugi (income statement)
    dan salah satu unsure penentu nilai aktiva lancar didalam neraca
    (balancing sheet).
    Oleh sebab itu, kesalahan dalam menentukan nilai satu unsur
    akan mempengaruhi unsur yang lain sehingga apabila terjadi
    kesalahan dalam menentukan nilai persediaan akhir akan
    berdampak terhadap laporan laba-rugi dan neraca sekaligus.
    Sebagai contoh, apabila nilai persediaan dicatat terlalu tinggi
    makan akan mengakibatkan harga pokok penjualan menjdadi
    terlalu rendah dan membuat laba yang dilaporkannya menjadi
    terlalu tinggi.
    Sebaliknya, apabila nilai persediaan dicatat terlalu rendah
    maka akan mengakibatkan harga pokok penjualan menjadi
    terlalu tinggi dan membuat laba yang dilaporkan menjadi terlalu
    rendah. Ada beberapa alasan mengapa persediaan menjadi salah
    satu komponen laporan keuangan yang seringkali dijadikan
    obyek rekayasa manajerial, yaitu kebebasan perusahaan untuk
    memilih dan menggunakan metode penentuan harga pokok, dan
    metode transaksi penjualan.
    d. Biaya dibayar di Muka
    Biaya dibayar dimuka (deffered charge) adalah biaya yang
    telah dikeluarkan perusahaan secara tunai untuk memperoleh
    barang atau jasa tertentu yang baru akan diterima dimasa depan.
    Hal ini terjadi karena saat ini perusahaan memesan atau
    membeli barang atau jasa kepda pihak lain yang baru bisa
    diserahkan atau dirasakan manfaatnya di masa depan. Ada
    berbagai macam bentuk biaya dibayar di dimuka yang selama
    ini dikenal, misalkan persekot pembelian barang atau aktiva
    tetap lain, asuransi dibayar dimuka, gaji dibayar dimuka, bunga
    dibayar di muka, dan lain-lain.
    Pada prinsipnya semua biaya yang akan dikeluarkan
    perusahaan dapat diperlakukan sebagai biaya dimuka asalkan
    pengeluaran kas secara tunai telah dilakukan namun barang atau
    jasa belum diterima perusahaan. Apabila barang atau jasa telah
    diterima maka perusahaan mempunyai kewajiban untuk
    mengakuinya sebagai biaya periode berjalan pada saat yang
    sama dengan periode diterimanya barang atau jasa
    bersangkutan.
    e. Aktiva Tetap
    Aktiva tetap (fixed assets) adalah harta perusahaan yang
    mempunyai wujud fisik, dipakai dalam operasi normal
    perusahaan, dimiliki perusahaan lebih dari satu periode
    akuntansi, dan tidak dimaksudkan untuk dijual. Aktiva tetap
    dapat diklasifikasikan menjadi aktiva tetap yang umurnya
    terbatas dan aktiva tetap yang umurnya tidak terbatas. Aktiva
    tetap yang umurnya terbatas adalah aktiva tetap tidak dapat terus
    menerus digunakan tetapi suatu saat akan rusak atau usang
    sehingga harus diganti dengan aktiva sejenis, misalkan gedung,
    kendaraan, mesin, dan lain-lain.
    f. Utang Lancar
    Utang (liabilities) merupakan pengorbanan ekonomis yang
    harus dilakukan perusahaan oleh perusahaan di masa depan
    dalam bentuk penyerahan barang atau jasa yang disebabkan
    transaksi atau peristiwa di masa lalu. Utang dapat
    diklasifikasikan menjadi utang jangka panjang dan jangka
    pendek. Utang jangka panjang adalah kewajiban perusahaan
    yang harus diselesaikan lebih dari satu periode akuntansi.
    Sedangkan hutang jangka pendek adalah kewajiban
    perusahaan yang harus diselesaikan kurang dari satu periode
    akuntansi. Utang jangka pendek seingkali disebut dengan utang
    lancar (current liabilities) sebab untuk menyelesaikannya pun
    dibutuhkan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan