Menurut Scott (2015:448) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya
manajemen laba :
(1) Bonus Scheme
Manajer memiliki informasi mengenai laba perusahaan sebelum melakukan
manajemen laba. Manajer akan berusaha mengatur laba bersih agar dapat
memaksimalkan bonusnya. Dalam kontrak bonus dikenal dua istilah, yaitu bogey
dan cap. Bogey merupakan batas bawah untuk mendapatkan bonus. Jika laba berada
dibawah bogey, maka manajer tidak mendapat bonus sama sekali. Sedangkan jika
laba berada di atas cap, maka manajer tidak akan mendapat bonus tambahan. Jika
laba bersih berada di bawah bogey, maka manajer akan cenderung memperkecil
laba dengan cara banyak membebankan beban pada periode ini sehingga akan
mengurangi beban di periode berikutnya. Dengan melakukan hal ini, maka laba
periode berikutnya akan meningkat sehingga manajer dapat memperoleh bonus
yang lebih besar pada periode berikutnya. Jika laba berada di atas cap, maka
manajer tidak akan mendapatkan bonus lebih dari yang telah ditentukan pada titik
cap. Jadi pihak manajemen akan melakukan manajemen laba untuk mendapatkan
bonus sebesar-besarnya.
(2) Motivasi Kontrak Lain (Other Contractual Motivation)
Kontrak hutang muncul dari moral hazard yang terjadi antara manajer dengan
pemberi pinjaman, biasanya bergantung pada variabel-variabel akuntansi. Untuk
mengatasi masalah ini, komtak hutang jangka panjang selalu dibuat perjanjian agar
mencegah manajer bertindak berlawanan dengan kepentingan pemberi pinjaman,
seperti membagi dividen yang berlebihan, menambah pinjaman atau membiarkan
modal kerja perusahaan turun sampai kepada tingkat tertentu. Pelaksanaan
manajemen laba dari kepentingan perjanjian kontrak ini sejalan dengan debt
covenant hypothesis pada teori akuntansi positif. Jadi motivasi kontrak ini berkaitan
dengan hutang jangka panjang yaitu dengan cara menaikkan laba bersih untuk
mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami technical default.
(3) Untuk Memenuhi Laba yang diharapkan Investor dan Memelihara Reputasi (To
Meet Investor’s Earning Expectations and Maintain Reputation)
Perusahaan melaporkan laba yang besar dari yang diharapkan investor dapat
menikmati kenaikan harga saham perusahaan secara signifikan sehingga investor
menganggap adanya kemungkinan kinerja yang baik di masa depan. Sebaliknya,
perusahaan yang tidak dapat memenuhi harapan investor akan mengalami
penurunan harga saham yang signifikan. Jika tidak dapat mencapai laba yang
diharapkan investor, maka pasar menilai manajer perusahaan tidak mampu
mengelola perusahaan dengan baik. Oleh karena itu, manajer terdorong untuk
melakukan manajemen laba untuk memastikan bahwa laba telah sesuai dengan
harapan investor, terutama jika manajer dijanjikan untuk mendapatkan jumlah
bonus sebagai imbalannya.
(4) Penawaran Saham Perdana (Initial Public Offerings)
Manajer perusahaan yang go public melakukan manajemen laba untuk
memperoleh harga yang lebih tinggi atas saham dengan harapan mendapatkan
respon pasar yang positif terhadap peramalan laba sebagai sinyal dari nilai
perusahaan. Untuk menarik perhatian para investor, perusahaan akan
memaksimalkan laba perusahaan dan melakukan perataan laba.
Watts dan Zimmerman (1990) juga mengungkapkan tiga motivasi manajemen
dalam melakukan manajemen laba, yaitu:
(1) Bonus Plan Hypothesis
Hipotesis bonus plan adalah manajer perusahaan yang menggunakan
metode bonus plan biasanya akan cenderung untuk menggunakan metode
akuntansi yang akan meningkatkan laba saat ini untuk mendapatkan bonus atas
hasil kerja yang sudah dilakukannya, akibat dari motivasi yang diberikan oleh
perusahaan pada manajer yang menghasilkan keuntungan yang besar akan
mendapatkan bonus/kompensasi.
(2) Debt or Equity Hypothesis
Pada perusahaan yang mempunyai rasio debt or equity besar, maka manajer
perusahaan tersebut cenderung menggunakan metode akuntansi yang akan
meningkatkan pendapatan atau laba agar kewajiban hutangnya yang seharusnya
diselesaikan pada tahun tertentu dapat ditunda pada tahun berikutnya. Upaya
ini dilakukan agar perusahaan bisa menggunakan dana tersebut untuk keperluan
lain. Pada umumnya, pihak kreditor akan melakukan kontrak perjanjian dengan
manajer dan menekankan pada batas rasio debt or equity nya, karena itu
menunjukan kemampuan manajer dalam membayar utang.
(3) Political Cost Hypothesis
Pada perusahaan besar yang kegiatan operasinya menyentuh sebagian besar
masyarakat akan cenderung untuk mengurangi laba yang dilaporkan, agar pajak yang
dibayarkan ke pemerintah menjadi kecil dan tidak menarik perhatian pemerintah serta
masyarakat
