Manajemen Laba


Manajemen laba dapat didefinisikan sebagai intervensi manajemen dengan
sengaja dalam menentukan laba dalam proses penyusunan pelaporan keuangan
eksternal, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi (Manurung dan
Isynuwardhana, 2017). Manajemen laba merupakan suatu proses yang disengaja,
menurut batasan standar akuntansi keuangan untuk mengarahkan pelaporan laba pada
tingkat tertentu (Santana dan Wirakusuma2016). Menurut Healy dan Wallen dalam Sri
Sulistyanto (2008:50), manajemen laba terjadi ketika menggunakan keputusan tertentu
dalam laporan keuangan dan transaksi untuk mengubah laporan keuangan sebagai
dasar penilaian kinerja perusahaan yang bertujuan menyesatkan pemilik atau
pemegang saham (shareholders) atau untuk mempengaruhi hasil kontraktual yang
mengandalkan angka-angka akuntansi yang di laporkan. Healy dan Wahlen
berpendapat bahwa manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan
pertimbangan (judgement) dalam pelaporan keuangan, dan menyusun transaksi untuk
mengubah laporan keuangan dengan tujuan untuk menyesatkan stakeholders mengenai
kinerja ekonomi perusahaan, atau untuk mempengaruhi contractual out comes yang
tergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan.
Menurut Scott beberapa motivasi manajemen laba yang mendorong manajer
perusahaan untuk melakukan manajemen laba, yaitu:

  1. Motivasi Bonus, yaitu manajer yang memiliki informasi atas laba bersih
    perusahaan akan bertindak secara oportunistik untuk melakukan manajemen
    laba dengan memaksimalkan laba saat ini.
  2. Motivasi Kontraktual Lainnya, yaitu manajer suatu perusahaan yang memiliki
    rasio debt/equity yang besar cenderung akan memilih prosedur-prosedur
    akuntansi yang dapat memindahkan periode mendatang ke periode berjalan.
    Manajer melakukan manajemen laba untuk memenuhi perjanjian hutangnya.
  3. Motivasi Politik, yaitu manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang
    dilaporkan pada perusahaan politik. Perusahaan cenderung mengurangi laba
    yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah
    menetapkan peraturan lebih ketat.
  4. Motivasi Pajak, menyatakan bahwa perpajakan merupakan salah satu motivasi
    mengapa perusahaan mengurangi labanya yang dilaporkan. Tujuannya adalah
    dapat meminimalkan jumlah pajak yang harus dibayarkan.
  5. Pergantian CEO, yaitu motivasi manajemen laba ada di sekitar waktu
    pergantian CEO. Biasanya CEO yang akan pensiun atau masa kontraknya
    menjelang berakhir akan melakukan strategi memaksimalkan jumlah pelaporan
    laba guna meningkatkan jumlah bonus yang akan mereka terima. Hal yang
    sama akan dilakukan oleh manajer dengan kinerja yang buruk. Tujuannya
    adalah menghindari diri dari pemecatan sehingga mereka cenderung untuk
    menaikan jumlah laba yang dilaporkan.
  6. Motivasi Pasar Modal, motivasi ini muncul karena informasi akuntansi
    digunakan secara luas oleh investor dan para analisis keuangan untuk menilai
    saham. Dengan demikian, kondisi ini memberikan kesempatan bagi manajer
    untuk memanipulasi laba dengan cara mempengaruhi performa harga saham
    jangka pendek.
    Ada tiga faktor yang bisa dikaitkan dengan munculnya praktek manajemen laba
    yaitu:
  7. Manajemen Akrual (Accruals Management) Faktor ini biasanya berkaitan
    dengan segala aktivitas yang dapat mempengaruhi aliran kas dan juga
    keuntungan yang secara pribadi merupakan wewenang dari para manajer
    (Managers discretion).
  8. Penerapan Suatu Kebijaksanaan Akuntansi yang Wajib Faktor ini berkaitan
    dengan keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijaksanaan akuntansi
    yang wajib diterapkan oleh perusahaan yaitu antara menerapkannya lebih awal
    dari waktu yang ditetapkan atau menundanya sampai saat berlakunya
    kebijaksanaan tersebut.
  9. Perubahan Aktiva Secara Sukarela Faktor ini biasanya berkaitan dengan upaya
    manajer untuk mengganti atau mengubah suatu metode akuntansi tertentu di
    antara sekian banyak metode yang dapat dipilih yang tersedia dan diakui oleh
    badan akuntansi yang ada (Generally Accepted Accounting Principles).
    Scott menyebutkan bahwa pola manajemen laba dapat dilakukan dengan cara:
  10. Taking a bath, pola ini terjadi pada saat reorganisasi, dimana manajemen harus
    melaporkan kerugian dalam jumlah besar agar dapat meningkatkan laba dimasa
    yang akan datang.
  11. Income minimization. Perusahaan yang tingkat profitabilitasnya tinggi akan
    melakukan pola ini, sehingga apabila laba pada periode mendatang
    diperkirakan akan turun drastis, maka dapat diatasi dengan mengambil laba dari
    periode sebelumnya.
  12. Income maximization, pola ini dilakukan pada saat laba perusahaan mengalami
    penurunan. Perusahaan yang melaporkan net income yang tinggi berharap akan
    memperoleh bonus yang lebih besar.
    Income smoothing, pola ini dilakukan dengan cara meratakan laba yang
    dilaporkan dengan tujuan untuk pelaporan eksternal, terutama bagi investor,
    karena investor lebih menyukai laba yang relatif stabil