Menurut Robbins (2002) pada dasarnya teori ekspektasi menyatakan
bahwa kekuatan dari kecenderungan untuk bertindak dengan cara tertentu
tergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan
diikuti dengan hasil tertentu serta pada daya Tarik tersebut bagi individu.
Menurut Victor Vroom, dikenal sebagai Teori Nilai Pengharapan Vroom, yang
berbunyi orang termotivasi untuk bekerja apabila usaha yang di tingkatkan atau
yang di dikerjakan akan mengarah ke balas jasa tertentu dan menilai dari balas
jasa tersebut merupakan hasil dari usaha mereka dalam bekerja (Handoko, 2003)
Dalam istilah yang lebih praktis, teori pengharapan, mengatakan
seseorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi
bila ia meyakini upaya akan menghantar ke suatu penilaian kinerja yang baik
(Victor Vroom dalam Robbin, 2003). Teori ini di kemukakan oleh Victor
H.Vroom yang menyatakan bahwa kekuatan yang memotivasi seseorang untuk
bekerja giat dalam mengerjakan pengerjakaannya tergantung dari hubungan
timbal balik antara apa yang diinginkan dan di butuhkan dari hasil pekerjaan itu.
Teori harapan ini didasarkan atas :
a. Harapan (Expectancy), adalah suatu kesempatan yang di berikan akan
terjadi karena perilaku.
b. Nilai (Valence), adalah akibat dari perilaku tertentu mempunyai nilai /
martabat tertentu (daya/nilai motivasi) bagi setiap individu yang
bersangkutan.
c. Pertautan (Instrumentality) adalah perepsi dari individu bahwa hsil
tingkat pertama akan di hubungkan dengan hasil tingkat kedua.
Vroom mengemukakan bahwa pertautan dapat mempunyai nilai yang
berkisar antara (-1) yang menunjukan persepsi bahwa tercapainya tingkat ke dua
adalah pasti tanpa hasil tingkat pertama dan tidak mungkin timbul dengan
tercapainya hasil tingkat pertama dan positif satu (+1) yang menunjukan bahwa
hasil tingkat pertama perlu dan sudah cukup untuk menimbulkan hasil tingkat ke
dua.
Menurut Robbins dan Judge (2008) teori ini terbukti memberikan
sebuah penjelasan yang relative kuat mengenai produktivitas karyawan,
ketidakhadiran, dan perputaran karyawan. Tetapi, teori harapan mengasumsikan
bahwa karyawan memiliki sedikit batasan keleluasaan keputusan mereka. Teori
ini membuat banyak asumsi yang sama dengan yang dibuat oleh model rasional
tentang pembuatan keputusan individual.
Menurut Olson dan Dover dalam Kotler (2005), menyatakan harapan
pelanggan sebagai “kepercayaan sebelum mencoba suatu produk yang kemudian
hal itu dijadikan sebgai standart untuk mengevaluasi produk atau pengalaman-
pengalaman yang akan datang
