- Kepuasan Pelanggan
Dalam TQM, konsep mengenai kualitas dan pelanggan diperluas. Kualitas
tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi-spesifikasi tertentu,
tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh pelanggan. Pelanggan itu sendiri
meliputi pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Kebutuhan
pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam segala aspek, termasuk di
dalam harga, keamanan dan ketepatan waktu. Oleh karena itu, segala
aktivitas perusahaan harus dikoordinasikan untuk memuaskan para
pelanggan. Kualitas yang dihasilkan suatu perusahaan sama dengan nilai
yang diberikan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup para pelanggan.
Semakin tinggi nilai diberika, maka semakin besar pula kepuasan
pelanggan. - Respek Terhadap Setiap Orang
Dalam perusahaan yang kualitasnya tergolong kelas dunia, setiap
karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan
kreativitas yang khas. Dengan demikian, karyawan merupakan sumber
daya organisasi yang paling bernilai. Oleh karena itu, setiap orang dalam
organisasi diperlakukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk terlibat
dan berpartisipasi dalam tim pengambilan keputusan. - Manajemen Berdasarkan Fakta
Perusahaan kelas dunia berorientasi pada fakta. Maksudnya, bahwa setiap
keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar pada perasaan
(feeling). Terdapat dua konsep pokok yang berkaitan dengan hal ini, yaitu:
pertama, prioritas (prioritization), yaitu suatu konsep bahwa perbaikan
tidak dapat dilakukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan,
mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Oleh karena itu, dengan
menggunakan data, maka manajemen dan tim dalam organisasi dapat
memfokuskan ushaanya pada situasi tertentu yang vital.
Konsep kedua, varias atau variabilitas kinerja manusia. Data statistik dapat
memberikan gambaran mengenai variabilitas yang merupakan bagian yang
wajar dari setiap sistem organisasi. Dengan demikian, manajemen dapat
memprediksikan hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan. - Perbaikan Berkesinambungan
Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses sistematis
dalam melaksakan perbaikan secara berkesinambungan. Konsep yang
berlaku di sini adalah siklus PDCAA (plan-do-check-act-analyze), yang
terdiri atas langkah-langkah perencanaan, dan melakukan tindakan
korektif terhadap hasil yang diperoleh.
Dale H. Besterfield (1995) dalam Yamit (2001:183), menyatakan bahwa untuk
dapat berhasil dengan baik penerapan sistem TQM harus berpedoman pada enam
prinsip dasar yang menjadi acuannya. Keenam prinsip dasar tersebut adalah: - Kesediaan manajemen dalam melibatkan seluruh pendukung organisasi.
- Fokus pada pelanggan internal dan eksternal.
- Melibatkan dan menggunakan secara efektif seluruh kekuatan organisasi.
- Perbaikan secara terus menerus atas bisnis dan proses produksi.
- Memperlakukan pemasok sebagai teman (patner).
- Menetapkan keberhasilan kinerja proses.
Joseph S. Martinich (1997) dalam Yamit (2001:183), menyatakan bahwa untuk
berhasil dengan baik TQM harus berdasarkan atas prinsip-prinsip sebagai berikut: - Tanggung jawab utama kualitas produk berada pada top manajemen.
- Fokus pada pelanggan dan melakukan evaluasi berdasarkan standar
pelanggan. - Proses produksi dan metode kerja didesain atas dasar kesadaran untuk
keberhasilan memenuhi kesesuaian kualitas. - Semua karyawan bertanggung jawab atas kualitas produk.
- Mengerjakan sekali benar.
- Mengidentifikasi masalah dengan cepat dan perbaiki kualitas dengan
segera. - Berusaha untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus.
- Bekerja atas dasar seluruh program TQM dan para pemasok menjamin
kualitas input.
