Isitilah konstruksi sosial realitas (social construction of reality) didefinisikan sebagai
proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara
terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif.
Pada umumnya banyak sekali pandangan tentang konstruksi sosial seperti
yang dikatakan oleh Ritzer dalam bukunya Bungin yang berjudul Konstruksi Sosial
Media Massa bahwa : “Dalam paradigma definisi sosial sebenarnya
berpandangan bahwa manusia adalah actor yang kreatif dari realitas
sosialnya.”(2008:5)
Asal usul konstruksi sosial dari filsafat Kontrukvisme yang dimulai dari
gagasan-gagasan konstruktif kognitif, menurut VonGlasersfeld melalui Ritzer
dalam Bungin dengan bukunya yang berjudul Konstruksi Sosial Media Massa telah
mengatakan bahwa :
Konstrukstif kognitif muncul dalam tulisan Mark Baldwin yang
secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Plaget.
Namun apabila ditelusuri, sebenarnya gagasan-gagasan pokok
Konstruktivisme sebenarnya telah dimulai oleh Giambatissta
Vico, seorang epistemology dai Italia, ia adalah cikal bakal
Konstruktivisme. (2011:13)
Selain itu juga Ritzer mengemukakan kembali pandangannya dalam bukunya
Bungin yang berjudul Konstruksi Sosial Media Massa bahwa :
Ide dasar semua teori dalam paradigm sosial sebenarnya
berpandangan bahwa manusia adalah aktor yang kreatif dari
realitas sosialnya. Artinya, tindakan manusia tidak sepenuhnya
ditentukan oleh norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai
dan sebagainya, yang kesemua itu tercakup dalam fakta sosial
yaitu tindakan yang tergambarkan struktur dan pranata
sosial.(2011:11)
Dari hal tersebut Bungin menemukakkan pendapatnya mengenai hal diatas
dalam bukunya yang berjudul Konstruksi Sosial Media Massa bahwa :
Kajian ini memperkuat constructivism paradigm dimana
realitas sosial dilihat sebagai hasil konstruksi sosial, dimana
kebenaran suatu realitas bersifat relative, dalam penjelasan
ontologies, realitas sosial yang dikonstruksi itu berlaku sesuai
konteks spesifik yang dinilai relavan oleh pelaku sosial,
sedangkan dalam konteks epistimologi, pemahaman tentang
suatu realitas, merupakan produk interaksi antara peneliti
dengan objek yang diteliti, dalam konteks aksiologi, peneliti
sebagai passionateparticipation, fasilitator yang menjembatani
keragaman subjektivitas pelaku sosial.(2011:5)
Manusia dalam banyak hal ini memiliki kebebesan untuk bertindak di luar
batas control struktur dan pranata sosialnya di mana individu berasal. Karena itu,
paradigm definisi sosial lebih tertarik terhadap apa yang ada dalam pemikiran
manusia tentang proses sosial, terutama para pengikut interaksi simbolis.
Dalam proses sosial, individu manusia dipandang sebagai pencipta realitas
sosial yang relative bebas di dalam dunia sosialnya. Hidayat yang dikutip oleh
Bungin dalam bukunya yang berjudul Konstruksi Sosial Media Massa telah
menjelaskan bahwa :
Dalam penejelasan ontology paradigma konstruktifis, realitas
merupakan konstruksi sosial yang ditetapkan oleh individu.
Namun demikian, kebenaran suatu realitas sosial bersifat nisbi,
yang berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relavan oleh
pelaku sosial.(2011:11)
