Penggolongan Komunikasi Dalam Organisasi


Abdullah Masmuh dalam bukunya “Komunikasi Organisasi” Dalam
Prespektif Teori dan Praktek. Ada lima penggolongan komunikasi dalam organisasi
yang biasa dipakai (Masmuh, 2013: 8-22), diantaranya sebagai berikut:

  1. Komunikasi Lisan dan Tertulis
    Sebagian besar interaksi manusia terjadi dalam bentuk lisan dan tertulis.
    Biasanya gaya seperti ini digunakan ketika komunikasi antar personal.
    Komunikasi lisan banyak disukai karena dapat menimbulkan keakraban
    antar sesama. Banyak faktor yang menentukan pemilihan diantara kedua
    bentuk komunikasi itu untuk digunakan dalam situasi tertentu.
    Pertimbangan waktu, biaya, ketepatan, preferensi pribadi, keterampilan
    berkomunikasi individual, sumber-sumber daya yang tersedia, dan
    pertimbangan lain menjadi kriteria pengambilan keputusan dalam memilih
    apakah pesan-pesan akan disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis.
  2. Komunikasi Verbal dan NonVerbal
    Jika dua orang berinteraksi, maka informasi mengenai perasaan dan gagasan
    ide-ide yang timbul akan dikomunikasikan. Informasi dan ide-ide dapat
    dikemukakan secara lisan. Namun, arti dari kata atau kalimat dapat
    diperjelas melalui tinggi rendahnya suara, ekspresi wajah, pandangan mata
    dan lain-lain. Perasaan seseorang juga dapat dinyatakan melalui berbagai
    isyarat-isyarat atau signal-signal non-verbal dalam percakapan tatap muka
    langsung, perasaan, keadaan jiwa, atau suasana hati seseorang dinyatakan
    melalui gerakan isyarat (gesture), ekspresi wajah, posisi dan gerakan badan,
    postur, kontak fisik, kontak pandangan mata, dan stimulasi non-verbal lain
    yang sama pentingnya dengan kata-kata yang diucapkan.
  3. Komunikasi Ke Bawah, Ke Atas, Ke Samping
    a. Komunikasi Ke Bawah
    Komunikasi ke bawah mengalir dari tingkatan manajemen puncak ke
    manajemen menengah, manajemen yang lebih rendah, dan akhirnya
    sampai pada tingkat bawahan. Komunikasi ke bawah mempunyai
    fungsi pengarahan, perintah, indoktrinasi, inspirasi, dan evaluasi.
    b. Komunikasi Ke Atas
    Komunikasi ke atas adalah komunikasi yang mengalir dari bawahan
    kepada atasan. Fungsi utamanya adalah untuk memperoleh informasi
    mengenai kegiatan, keputusan, dan pelaksanaan pekerjaan karyawan
    pada tingkat yang lebih rendah. Komunikasi ke atas dapat berupa
    laporan prestasi kerja (performance report), saran-saran dan
    rekomendasi, usulan anggaran, pendapat atau opini, keluhan,
    permohonan bantuan, atau instruksi.
    c. Komunikasi Ke Samping
    Komunikasi ke samping terjadi antara dua pejabat atau pihak yang
    berada dalam tingkatan hirarki wewenang yang sama (komunikasi
    horizontal) atau antara orang atau pihak pada tingkatan yang berbeda
    yang tidak mempunyai wewenang langsung terhadap pihak lainnya
    (komunikasi diagonal). Komunikasi kesamping terjadi secara teratur
    diantara karyawan yang bekerja bersama dalam suatu tim, diantara para
    anggota kelompok karyawan yang berbeda para anggota departemen
    atau bagian yang secara fungsional terpisah, dan diantara karyawan lini
    dan staff. Jadi pola komunikasi ke samping sangat berkaitan erat dengan
    aliran kerja dalam suatu organisasi.
  4. Komunikasi Formal dan Informal
    Dasar dari penggolongan ini adalah gaya, tatakrama, dan pola aliran dalam
    suatu organisasi.
    a. Komunikasi Formal
    Komunikasi Formal merupakan proses komunikasi yang mengikuti
    jalur hubungan formal yang tergambar dalam susunan atau struktur
    organisasi. Komunikasi formal terjadi di antara karyawan melalui garis
    kewenangan yang telah ditetapkan oleh manajemen. Dari kewenangan
    ini merupakan sistem urat-syaraf yang menyediakan saluran-saluran
    dimana prosedur kerja, instruksi, dan gagasan, dan umpan balik
    mengenai pelaksanaan pekerjaan bawahan disampaikan ke bawah dari
    pimpinan yang lebih tinggi ke karyawan bawahannya. Komunikasi
    formal juga menetapkan saluran dimana komunikasi ke atas
    berlangsung, misalnya: bawahan dapat didorong untuk menyatakan ide-
    ide, sikap, dan perasaan mereka sendiri, pekerjaan mereka,
    kebijaksanaan perusahaan, dan masalah-masalah sejenis yang
    melibatkan mereka.
    b. Komunikasi Informal
    Komunikasi Informal adalah proses komunikasi yang terjadi tanpa
    mengikuti jalur struktural. Sehingga bisa saja terjadi seorang bawahan
    dapat berkomunikasi langsung dengan pimpinan secara terbuka.
    Komunikasi informal terjadi di antara karyawan dalam suatu organisasi
    yang dapat berinteraksi secara bebas satu sama lain terlepas dari
    kewenangan dan fungsi jabatan mereka. Biasanya komunikasi informal
    dilakukan melalui tatap muka langsung atau dengan pembicaraan lewat
    telepon. Komunikasi informal terjadi sebagai perwujudan dari
    keinginan manusia untuk bergaul (sosialisasi) dan keinginan untuk
    menyampaikan informasi yang dipunyai dan dianggap tidak dipunyai
    oleh rekan lainnya. Komunikasi informal bisa saja bersifat pribadi,
    gossip, desas-desus dan lain lain.
  5. Komunikasi Satu Arah dan Dua Arah
    a. Komunikasi Satu Arah
    Komunikasi Satu Arah hanya menekankan penyampaian pesan.
    Komunikasi ini tidak menghiraukan komunikasi yang lainnya.
    konfirmasi satu arah menghilangkan kesempatan untuk memperoleh
    penjelasan dan konfirmasi. Contoh yang paling baik adalah perintah
    dan instruksi lisan maupun tertulis di kalangan organisasi militer.
    b. Komunikasi Dua Arah
    Komunikasi Dua Arah mempunyai suatu sistem umpan balik di
    dalamnya. Komunikan bisa saja langsung menanggapi apa yang
    disampaikan oleh komunikator. Komunikasi dua arah menjalin
    hubungan antar sesama dan menjamin informasi dapat berjalan lebih
    lanjut