Dimensi Leader Member Exchange


Pendekatan baru mengenai studi kepemimpinan di dalam perusahaan telah
dikembangkan dan diteliti oleh Graen dan koleganya sekitar tahun 1970.
Pendekatan yang pada awalnya disebut teori Vertical Dyad Linkage (VDL)
kemudian lebih dikenal sebagai Leader-Member Exchange (LMX) atau
pertukaran pemimpin-anggota (Dienech dan Liden, 1986). Dasar pemikiran teori
LMX adalah bahwa di dalam unit kerja, supervisor mengembangkan tipe
hubungan yang berbeda dengan bawahannya (Erdogan et al., 2002).
LMX menyediakan cara yang berguna untuk mengkonseptualisasikan
hubungan antara pemimpin dan persepsi bawahan terhadap keadilan. Tyler
mengatakan bahwa meningkatnya kesempatan untuk mengekspresikan opini
ditunjukkan dengan mempertinggi persepsi keadilan bawahan dan evaluasi
bawahan terhadap kemampuan kepemimpinan atasan, khususnya ketika bawahan
memiliki pengendalian keputusan yang rendah (Pillai et al., 1999).
Kualitas hubungan menentukan jumlah usaha fisik maupun mental,
sumberdaya material, informasi dan dukungan sosial yang dipertukarkan antara
supervisor dan bawahannya (Liden et al., 1993 dalam Erdogen et al., 2002).
Hubungan akan berkembang di dalam pertukaran kualitas tinggi yang diwujudkan
dengan tingkat saling percaya dan hormat yang tinggi, dan kualitas rendah
didasarkan pada kontrak kerja formal.
Truckenbrodt (2000) menyatakan bahwa leader member exchange
difokuskan pada penilaian terhadap hubungan dan interaksi antara supervisor
(atasan) dan bawahan. Tingkat kedekatan dari hubungan antara pimpinan dan
bawahan ini yang menunjukkan adanya indikasi dari leader member exchange di
perusahaan dalam sebuah organisasi, dimungkinkan terdapat hubungan yang
berbeda antara pimpinan dengan karyawan yang menjadi anak buahnya.
Menurut Robbins (2007: 368), akibat dari tekanan waktu, pemimpin
menetapkan bahwa adanya sebuah hubungan khusus dengan suatu group yang
terdiri dari beberapa pengikutnya. Group ini dibagi menjadi dua, pertama disebut
dengan in group, yang terdiri dari orang-orang yang dipercaya dan mendapat
ketidakseimbangan dalam hal ini perhatian dari seorang leader dan cenderung
mendapatkan hak-hak khusus. Yang kedua disebut dengan out group. Mereka
mendapat sedikit dari waktu yang diberikan oleh leadernya, sedikit kontrol yang
diberikan oleh leader dalam hal pemberian penghargaan, dan hubungan leader
dengan out group berdasarkan pada hubungan wewenang yang formal. Agar
hubungan leader member exchange tetap utuh, pemimpin dan pengikutnya harus
saling mengerti bagaimana cara membina hubungan yang baik.
Menurut Morrow, et al (2005: 682) bahwa leader member exchange
merupakan peningkatan kualitas hubungan antara supervisi dengan karyawan
akan mampu meningkatkan kerja keduanya. Namun realitasnya, hubungan antara
karyawan dan supervisi dapat dikelompokkan pada dua hubungan yaitu hubungan
yang baik dan hubungan yang buruk. Hubungan yang baik akan menciptakan
kepercayaan karyawan, sikap positif, dan loyalitas, namun hubungan yang buruk
berpengaruh sebaliknya.
Menurut Organ (1998) bahwa perilaku karyawan terhadap perusahaan
mempunyai peran penting terhadap keberhasilan sebuah organisasi. Perlakuan
yang baik terhadap karyawan akan mampu menciptakan perasaan suka rela pada
diri karyawan untuk bisa berkorban bagi perusahaan. Selain itu, melalui perlakuan
khusus yang positif akan mampu meningkatkan kontribusi karyawan pada
perusahaan dimana karyawan bekerja.
Graen and Scandura (1987) sebagaimana dikutip oleh Truckenbrodt (2000:
234) menyatakan bahwa dalam sebuah organisasi dilihat dari hubungan dan
interaksi antara atasan dan bawahan, dapat dikelompokkan menjadi dua
kelompok, yaitu in group dan out group. Perbedaan antara dua kelompok ini
adalah tingkat kedekatan hubungan dan interaksi antara pimpinan dan bawahan.
Karyawan yang memiliki hubungan dan interaksi yang tinggi antara pimpinan dan
bawahan masuk dalam kelompok in group dan di luar kelompok in group adalah
kelompok out group.
Menurut Truckenbrodt (2000: 234), tingkat interaksi antara pimpinan dan
bawahan dalam sebuah organisasi tidak bisa terstandarisasi untuk semua
karyawan karena keterbatasan waktu pimpinan bersama karyawan dan
keterbatasan sumberdaya perusahaan. Keterbatasan sumberdaya ini lebih
mengarah pada keterbatasan kapabilitas (kemampuan) setiap karyawan dalam
bekerja sehingga apresasi yang diberikan pimpinan kepada karyawan juga
dimungkinkan berbeda.
Menurut Leonard (2002: 1), bahwa pemahaman terhadap leader member
exchange tidak hanya pada ikatan fisik, dimana bawahan harus selalu mengikuti
instruksi atasan, namun lebih dalam lagi yaitu ikatan interaksi antara karyawan
dan pimpinan. Ikatan interaksi ini menyangkut pada ikatan emosional antara
karyawan dan pimpinan.
Dari beberapa pengertian di atas leader member exchange (LMX) dalam
penelitian ini didefinisikan sebagai sejauh mana hubungan kedekatan antara
atasan dan bawahannya yang mempunyai implikasi bagi efektivitas dan kemajuan
dalam organisasi.