Diffusion of Innovation Theory atau teori difusi inovasi muncul pada tahun
1903, ketika seorang sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan kurva
difusi berbentuk S (S-shaped diffusion curve). Kurva tersebut menggambarkan
bagaimana suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekelompok orang dilihat dari
dimensi waktu. Pemikiran Tarde menjadi penting karena secara sederhana bisa
menggambarkan kecenderungan yang terkait dengan proses difusi inovasi (Rogers,
1995). Sejak saat itu tingkat difusi menjadi fokus kajian penting dalam penelitian-
penelitian sosiologi. Perkembangan teori difusi inovasi terjadi pada tahun 1960, di
mana studi difusi mulai dikaitkan dengan berbagai topik yang lebih kontemporer,
seperti dalam bidang pemasaran, budaya, dan sebagainya.
Teori difusi inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu
inovasi disampaikan melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada
sekelompok anggota dari sistem sosial. Empat elemen pokok dalam proses difusi
inovasi menurut Rogers (1995) yaitu:
- Inovasi, yaitu suatu pemikiran seseorang yang inovatif akan selalu berupaya
melakukan perbaikan, menyajikan sesuatu yang baru/unik yang berbeda
dengan yang sudah ada. Inovatif juga merupakan sikap penting bagi yang
hendaknya dimiliki oleh seorang wirausahawan. - Saluran komunikasi, adalah atau media yang dapat dimanfaatkan oleh
individu-individu atau kelompok serta organisasi yang berkomunikasi untuk
saling menyampaikan pesan. - Jangka waktu, yaitu waktu jatuh tempo yang ditunjukkan dalam bulan dan
biasanya jangka waktu pendek di bawah satu tahun, dan jangka waktu lama
sampai tiga puluh atau empat puluh tahun. - Sistem sosial, yaitu suatu keseluruhan dari unsur-unsur sosial yang berkaitan
dan berhubungan satu sama lain, dan saling mempengaruhi satu sama lain
dalam satu kesatuan.
