Memperkaya Modal Sosial


Persediaan modal sosial dapat ditingkatkan lewat pranata
negara, pendidikan, dan agama. Negara tidak memiliki banyak
sumber daya untuk membentuk modal sosial. Modal sosial
seringkali merupakan produk-samping agama, pendidikan, tradisi,
pengalaman sejarah yang berada di luar kendali negara. Namun,
negara bisa melakukan hal-hal positif untuk meningkatkan modal
sosial, dan mencegah upaya-upaya yang dapat mengurangi modal
sosial masyarakat.
Negara punya kemampuan terbesar untuk menghasilkan
modal sosial lewat pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan
tidak hanya memindah-kan modal sosial, tetapi juga meneruskan
modal sosial dalam bentuk pranata sosial dan norma-norma.
Negara juga bisa mendorong terciptanya modal sosial
secara tak langsung dengan cara menyediakan barang-barang
publik yang diperlukan, khususnya hak kekayaan dan keselamatan
publik. Tapi negara punya dampak negatif yang amat serius pada
modal sosial ketika negara mulai melakukan kegiatan yang
sebenarnya lebih baik diserahkan kepada sektor privat.
Dalam kehidupan agama, studi yang dilakukan Martin van
Bruinessen (2004) tentang modal sosial di Surabaya merupakan
contoh yang baik. Sekurang-kurangnya sejak awal 1980-an, kajian
Alkitab berskala kecil dan kelompok doa yang disebut
persekutuan doa menjadi semakin populer di kalangan orang
Kristen Protestan. Para penganut Katolik (pada akhir 1980-an)
kemudian melakukan hal yang sama dalam kelompok-kelompok
kecil yang disebut kelompok doa karismatik. Persekutuan doa
terdiri 10 sampai 25 orang, sebagian besar merupakan pasangan
suami-istri, yang menghadiri gereja yang sama, yang bertemu
secara rutin (biasanya sekali dalam seminggu) di rumah anggota
untuk membaca Alkitab dan berdoa bersama. Para anggota
kelompok pada umumnya tinggal di lingkungan yang sama dan
umumnya mempunyai status sosial-ekonomi yang kurang lebih
sama. Hal ini mempermudah berkembangnya ikatan emosional
yang lebih erat dan lebih akrab di antara para anggota. Masalah
pribadi anggota atau masalah keluarga sering kali didiskusikan di
dalam kelompok itu; para anggota saling membantu satu sama
lain dan berdoa bersama, meminta pertolongan Ilahi, untuk
memecahkan masalah mereka. Bagi sebagian orang, persekutuan
doa merupakan suatu jaringan yang menghubungkan para
anggota dengan orang lain; bagi banyak orang, persekutuan doa
itu merupakan jaringan terpenting dan satu-satunya jaringan yang
bermuatan emosionalitas (persekutuan doa lebih penting
daripada keluarga seseorang). Para anggota juga cenderung
melakukan kontak di luar pertemuan mingguan tersebut.
Modal sosial paling banyak dipandang sebagai sebuah
sistem jaringan interpersonal. Seperti halnya produktivitas modal
pabrikan bergantung pada penggunaan modal ini, demikian juga,
nilai dari modal sosial bergantung pada jenis-jenis aktivitas yang
dilakukan oleh para anggota jaringan. Itulah sebabnya mengapa
banyak tulisan tentang modal sosial sering kali berupa studi
institusi. Tapi menurut saya, mengidentifikasikan modal sosial
dengan institusi adalah keliru: institusi- institusi muncul dari
jaringan, tapi institusi bukanlah jaringan. Banyak contoh
menunjukkan bahwa sistem jaringan pada dasarnya menghasilkan
sederetan partisipasi warga. Karena itu, jaringan terdiri banyak
keseimbangan. Masing-masing keseimbangan (equilibrium)
dicirikan dengan struktur kelembagaan yang khas, yang
melibatkan banyak hubungan manusia. Institusi atau organisasi
dibedakan bukan oleh hak, kewajiban dan tanggung jawab para
anggotanya, tapi oleh vitalitas organisasi yang bergantung pada
sejauh mana para anggotanya saling percaya untuk mengemban
dan melaksanakan peran mereka dalam mendukung dan
menghidupkan organisasi secara bersama-sama. Sikap saling
percaya (mutual trust) adalah kunci bagi kerjasama, sementara
modal sosial hanyalah alat untuk menciptakan kepercayaan. Meski
demikian, dikatakan bahwa kepercayaan dapat diciptakan dengan
alat lain, misalnya, penegakan kesepakatan eksternal. Inilah
sebabnya mengapa tulisan ini sarat dengan konsep kepercayaan.
Karena kepercayaan (atau kurang adanya kepercayaan) didasarkan
pada kepercayaan seseorang terhadap orang lainnya, maka
organisasi dihubungkan dengan kepercayaan-kepercayaan yang
menopangnya. Dengan kata lain, organisasi dibentuk dan
disatukan oleh adanya sikap saling percaya di antara para
anggotanya dan lingkungan di sekitarnya.