Fungsi Budaya Organisasi


Ada beberapa pendapat para ahli dalam Sembiring, (2012:64-66)
tentang fungsi budaya organisasi:

  1. Fungsi Budaya organisasi menurut Robbins. Pertama, menetapkan tapal batas; artinya budaya organisasi menciptakan
    perbedaan yang jelas antara satu organisasi dengan organisasi yang lain.
    Kedua, budaya memberikan rasa identitas ke aggota-anggota organisasi.
    Ketiga, budaya mempermudah komitmen pada sesuatu yang lebih luas
    daripada kepentingan diri pribadi seseorang
    Keempat, budaya itu meninggkatkan kemantapan sistem sosial
    (perekat/mempersatukan anggota organisasi). Budaya merupakan perekat
    sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan
    standar-standar yang tepat mengenai apa yang harus dikatakan dan
    dilakukan oleh para anggota organisasi dan
    Kelima, budaya organisasi berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna
    dan mekanisme pengendali yang memandu dan membentuk sikap dan
    perilaku para anggota organisasi.
  2. Fungsi budaya menurut Ndraha. 1. Sebagai identitas dan citra suatu masyarakat. Identitas terbentuk dari
    berbagai faktor yaitu: sejarah, politik, ekonomi, dan sistem sosial yang
    berlaku. 2. Sebagai pengikat suatu masyarakat. Kebersamaan adalah faktor yang
    kuat untuk mengikat seluruh anggota masyarakat.
  3. Sebagai sumber. Budaya merupakan sumber inspirasi, kebanggan dan
    sumber daya.
  4. Sebagai kekuatan penggerak. Budaya itu dinamis yang terbentuk
    melalui proses belajar mengajar.
  5. Sebagai kemampuan untuk membentuk nilai tambah. Budaya itu
    berhubungan dengan nilai tambah organisasi.
  6. Sebagai pola perilaku. Budaya berisi norma tingkah laku dan
    menggariskan batas-batas toleransi sosial.
  7. Sebagai warisan. Budaya diajarkan dan disosialisasikan kepada
    generasi berikutnya.
  8. Sebagai subtitusi (pengganti) formalisasi.
  9. Sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan.
  10. Sebagai proses yang menjadikan bangsa kongruen dengan negara,
    sehingga terbentuk nation state.
  11. Schein dalam Tika (2008:13) mengemukakan fungsi budaya organisasi
    dalam tiga fase yaitu :
    a. Fase awal merupakan tahap pertumbuhan suattu organisasi. Pada
    tahap ini, fungsi budaya organisasi terletak pada pembeda, baik
    terhadap lingkungan maupun terhadap kelompok atau organisasi lain.
    b. Fase pertengahan hidup organisasi. Pada fase ini budaya organisasi
    berfungsi sebagai integrator karena munculnya sub-sub budaya baru,
    sebagai penyelamat krisis identitas dan membuka kesempatan untuk
    mengarahkan perubahan budaya organisasi.
    c. Fase dewasa. Pada fase ini, budaya organisasi dapat berfungsi sebagai
    penghambat dalam berinovasi karena berorientasi pada kebesaran dan
    kemapanan masa lalu dan menjadi sumber nilai untuk berpuas diri.