Fred Luthans dalam Mangkunegara (2005: 119-122) mengemukakan tahapan
proses sosialisasi budaya organisasi adalah: “Selection of entery-level presonnel,
placement on the job, job mastery, measuring and rewarding performance, adherence to
important values, reinforcing the stories and folklove, recognition and promoton”.
Berdasarkan pendapat Fred Luthans tersebut dapat diuraikan proses sosialisasi
budaya organisasi kepada karyawan sebagai berikut.
- Seleksi terhadap Calon Karyawan
Pimpinan harus selektif menerima calon karyawan. Karyawan harus
memenuhi kualifikasi persyaratan yang telah ditentukan agar mereka mampu
berpedoman pada sistem nilai dan norma-norma yang terkandung dalam
budaya organisasi. - Penempatan Karyawan
Penempatan kerja karyawan haruslah sesuai dengan kemampuan dan bidang
keahliannya. Sebagaimana prinsip penempatan kerja “The right man in the
right place, the right man in the right job”. Begitu setiap karyawan perlu
ditempatkan pada pekerjaan dan posisi yang tepat sehingga tidak
menyebabkan masalah pada organisasi. Dengan penempatan karyawan sesuai
dengan kemampuan dan keahliannya diharapkan mereka mampu memegang
teguh budaya organisasi. - Pendalaman Bidang Pekerjaan
Pendalaman bidang pekerjaan karyawan dan pemahaman tugas, hak dan
kewajiban perlu dilakukan oleh pemimpin. Pendalaman bidang pekerjaan
karyawan dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan kerja sesuai
dengan analisis kebutuhan dan permasalahannya. Dengan pendalaman bidang
pekerjaan karyawan, tugas, hak dan kewajibannya diharapkan mereka mampu
mematuhi sistem nilai dan norma-norma yang berlaku dalam budaya
organisasi. - Pengukuran Kinerja dan Pemberian Penghargaan
Kinerja organisasi perlu diukur secara periodik enam bulan atau minimal
setiap tahun agar dapat dievaluasi perkembangannya dari tahun ke tahun
berikutnya. Perkembangan kinerja organisasi sangat ditentukan oleh efektif
tidaknya kepemimpinan pimpinan dan manajer dalam pengelolaan kegiatan
usaha, produktivitas karyawan, serta partisipasi aktif setiap individu
organisasi. Peningkatan kinerja organisasi harus diimbangi dengan pemberian
prnghargaan non materi dan materi secara adil dan layak kepada setiap
individu organisasi yang berpartisipasi. - Penanaman Kesetiaan kepada Nilai-nilai Utama Organisasi
Kesetiaan kepada nilai-nilai utama seperti mengutamakan memberikan
pelayanan yang terbaik kepada konsumen, bekerja di organisasi atau
perusahaan berarti berbakti kepada Tuhan yang Maha Esa untuk kepentingan
orang banyak. Penanaman kesetiaan kepada nilai-nilai utama organisasi
kepada seluruh individu organisasi agar mereka bekerja berlandaskan pada
moral, mencapai prestasi optimal dan bekerja untuk mendapatkan perkenaan
dari Tuhan yang Maha esa. Dengan demikian, budaya organisasi menjadi
budaya yang kuat. - Memperluas Informasi/Cerita/Berita tentang Budaya Organisasi
Pemimpin dan manajer perlu memperluas informasi atau menceritakan
peraturan-peraturan organisasi, kepegawaian dan sanksi-sanksi kerja kepada
karyawan agar mereka mampu memahami dan mematuhinya. Begitu pula
kepada karyawan perlu diberikan informasi tentang penghargaan bagi mereka
yang berpartisipasi aktif dan sanksi-sanksi yang diberikan kepada mereka
yang tidak berpartisipasi ataupun yang melanggar sistem nilai dan normanorma yang berlaku di organisasi. - Pengakuan dan Promosi Karyawan
Pemimpin perlu memberikan pengakuan dalam bentuk promosi jabatan bagi
karyawan yang berprestasi tinggi, memberikan predikat karyawan teladan
berdasarkan kondite dan prestasi mereka. Begitu pula promosi jabatan dan
predikat terbaik agar mereka dapat memegang teguh budaya organisasi.
Proses sosialisai budaya organisasi yang telah diuraikan tersebut akan efektif
jika memperhatikan keefektifan sosialisasi persiapan, sosialisasi akomodasi
dan sosialisasi manajemen peran. Di sini kita bisa melihat bahwa tahap
pertama dari sosialisasi persiapan harus efektif, yaitu mencakup program
perekrutan, seleksi dan penempatan. Artinya, calon karyawan harus benarbenar memahami fakta bahwa keadaan organisasi yang akan dimasukinya,
diseleksi berdasarkan kualifikasi persyaratan yang ditentukan dan penempatan
kerja karyawan didasarkan pada bidang keahlian dan kemampuannya. Tahap
kedua adalah sosialisasi akomodasi harus efektif yang mencakup merancang
program orientasi kerja sebaik-baiknya, menyusun program pelatihan kerja
dan penyuluhan kerja sesuai dengan kebutuhan pemberian informasi hasil
kerja, memberikan pekerjaan yang menantang sesuai dengan jabatannya dan
melaksanakan pengawasan kerja serta pembinaan karier secara continue.
Selanjutnya pada tahap ketiga, sisialisasi manajemen peran yang efektif yaitu
pemimpin dan manajer harus berperan aktif melakukan pencegahan,
pendektesian, pemecahan dan penanggulangan jika konflik kerja terjadi,
sekalipun konflik tersebut dapat bermanfaat positif jika beresifat fungsional
bagi organisasi. - Pelaksanaan Budaya Organisasi
Pelaksanaan budaya organisasi dapat dikaji dari kareakteristik budaya
organisasi yaitu:
a. Perilaku individu yang tampak.
b. Norma-norma yang berlaku dalam organisasi.
c. Nilai-nilai yang dominan dalam kehidupan organisasi.
d. Falsafah manajemen.
e. Peraturan-peraturan yang berlaku.
f. Iklim organisasi.
g. Inisiatif individu organisasi.
h. Toleransi terhadap risiko.
i. Pengarahan pimpinan (manajemen)
j. Integrasi kerja
k. Dukungan manajemen (pimpinan dan manajer).
l. Pengawasan kerja.
m. Identitas individu organisasi.
n. Sistem penghargaan terhadap prestasi kerja.
o. Toleransi terhadap konflik.
p. Pola komunikasi kerja.
