Teori Kepuasan Kerja


Sharma dan Chandra (2004) dalam Indrasari, (2017: 42) menyatakan
bahwa kepuasan kerja dapat diterangkan oleh teori need fulfilment, teori equity,
teori discrepancy, teori motivasi two factor, dan teori social reference group.
Kelima macam teori tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Teori Need Fulfilment
Teori ini menyatakan bahwa kepuasan kerja diukur melalui penghargaan yang
diterima pegawai atau tingkat kebutuhan yang terpuaskan. Pegawai akan puas
jika mereka mendapatkan sesuatu yang dibutuhkannya. Semakin besar
kebutuhan pegawai yang terpenuhi semakin puas pegawai tersebut atau
sebaiknya. Ada hubungan langsung yang positif antara kepuasan kerja dan
kepuasan aktual terhadap kebutuhan yang diharapkan.
2) Teori Equity
Prinsipnya teori ini mengemukakan bahwa orang akan merasa puas sepanjang
mereka merasa ada keadilan (equity), Perasaan equity dan inequity diperoleh
dengan membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor,
maupun di tempat lain. Teori ini mengidentifikasi equity dalam tiga bagian
yakni:
a) Input
Sesuatu yang berharga dirasakan oleh pegawai sebagai masukan untuk
menunjang pekerjaannya seperti pendidikan, pelatihan, alat kerja, dan Iainlain.
b) Outcomes
Segala sesuatu yang berharga dirasakan pegawai sebagai dari hasil
pekerjaannya seperti gaji, status, pengakuan atas prestasi, dan lain-lain.
c) Comparisons person
Perbandingan antara input dan outcomes yang diperolehnya. Menurut teori
ini puas atau tidak puasnya pegawai merupakan hasil dari perbandingan
input-output dirinya dan input-output pegawai lain (comparisons person).
Jika perbandingan tersebut adil maka pegawai puas demikian sebaliknya.
3) Teori Discrepancy
Teori ini menyatakan untuk mengukur kepuasan kerja seseorang dilakukan
dorongan menghitung selisih antara apa yang diharapkan dari pekerjaan
dengan kenyataan yang dirasakan. Kepuasan kerja tergantung pada
discrepancy antara expectation, needs, atau values dengan apa yang menurut
perasaannya atau persepsi nya telah diperoleh atau dicapai melalui pekerjaan.
Sikap pegawai terhadap pekerjaannya tergantung ketidak- sesuaian yang
dirasakan.
4) Teori motives; Two Factor Theory
Menurut teori ini terdapat dua faktor pengukur kepuasan dan ketidakpuasan
pegawai yakni:
a. Faktor maintenance atau dissatisfaction factors
Adalah faktor- faktor pemeliharaan yang berhubungan dengan hakekat
manusia yang ingin memperoleh ketentraman badaniah meliputi gaji,
kualitas supervisi, kebijakan organisasi, kualitas hubungan interpersonal
diantara rekan kerja, dengan atasan dan bawahan, keamanan bekerja,
status, dan kondisi kerja.
b. Faktor motivator atau satisfaction factors
Menyangkut kebutuhan psikologis pegawai. Faktor ini berhubungan
dengan penghargaan terhadap pribadi pegawai yang secara langsung
berkaitan dengan pekerjaan seperti prestasi, pengakuan, pekerjaan itu
sendiri.
5) Teori social reference-group
Teori ini hampir serupa dengan teori need fulfilment, namun perbedaannya
adalah bahwa dalam teori ini, harapan, keinginan, serta kepentingan adalah
milik individu dalam kelompok dan bukan sebagai individu yang independen.
Menurut teori ini, jika pekerjaan sesuai dengan kepentingan, harapan, dan
tuntutan individu dalam kelompok, maka seseorang akan merasa puas
terhadap pekerjaannya, dan sebaliknya. Pada kenyataannya individu tidak
selamanya mengikuti apa yang diputuskan kelompok, adakalanya bersikap
independen.