Pecking Order Theory mengatakan bahwa perusahaan akan menerbitkan sekuritas berdasarkan urutan dari yang paling menguntungkan. Pecking Order Theory juga memberikan gambaran bahwa perusahaan akan lebih memilih untuk menggunakan pendanaan internalnya terlebih dahulu dibandingkan menggunakan pendanaan eksternal, sehingga perusahaan yang menggunakan pendanaan internal memiliki tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan pendanaan eksternal (Myers dan Majluf, 1984 dalam Sugiarto 2009; 123). Pemilihan pendanaan eksternal dilakukan berdasarkan tingkat risiko yang paling rendah terlebih dahulu yang akan dipilih. Pendanaan eksternal yang akan dipilih terlebih dahulu adalah laba ditahan (retained earnings), hutang (debt), kemudian risky debt, convertible securities, preffered stock, dan yang terakhir common stock.Pecking Order Theory didasari oleh asumsi manajer perusahaan memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai kondisi keuangan perusahaan yang sesungguhnya, asumsi kedua adalah manajer akan bertindak sesuai dengan tindakan yang sebaik-baik mungkin untuk kepentingan investornya. Pecking Order Theory memiliki dua bentuk, yaitu (1) strong form dan (2) semi strong atau
7weak form. Strong form, mengatakan bahwa perusahaan tidak akan menggunakan ekuitas pada struktur pendanaan jangka panjangnya,perusahaan akan menggunakan pendanaan internalnya dan atau menggunakanhutang untuk membiayai proyek yang akan dijalankan. Lain halnya dengansemi-strong, yang mensyaratkan bahwa perusahaan boleh menggunakanekuitas (saham) pada struktur pendanaan jangka panjangnya. Penggunaanekuitas (saham) pada struktur pendanaan jangka panjang dilakukan pada duakondisi, yaitu: (1) pada saat perusahaan membutuhkan pendanaan untuk masadepan yang belum bisa diramalkan; (2) pada saat tidak ada lagi asymmetricinformation untuk beberapa alasan yang muncul dan membiarkan perusahaanuntuk mengambil keuntungan dari ini dan menerbitkan saham baru pada fairprice adalah mungkin; dan (3) saat perusahaan yang kapasitas hutangnyaberkurang berarti tidak mungkin meminjam lagi sehingga pilihan lainnyaadalah mengeluarkan saham untuk membiayai proyeknya (karena debtcapacity merupakan batasan utama dalam berhutang).Kelemahan dari Pecking Order Theory adalah tidak mampumenjelaskan bagaimana pajak, bankruptcy cost, biaya penerbitan saham bisamempengaruhi keputusan perusahaan dalam menentukan besarnya hutang(leverage) yang akan digunakan oleh perusahaan. Selain itu Pecking OrderTheory juga mengesampingkan agency problem yang mungkin timbul ketikaperusahaan akan menggunakan besarnya hutang (leverage) dalam strukturmodal perusahaan.
