Teori-Teori Kebijakan Dividen (skripsi dan tesis)

Menurut Gumanti (2013) kajian literatur dan empiris setidaknya ada 5 teori tentang kebijakan dividen yang ada dalam manajemen keuangan, tetapi hal ini tidak berarti bahwa teori-teori yang mencoba menjelaskan fenomena dari dividen hanya terbatas pada teori-teori tersebut. Dikutip dari www,akuntansilengkap,com yang diakses pada Maret 2018 dan Atmaja (2008) ada 5 teori tentang kebijakan dividen yaitu: a. Dividen tidak relevan Dari Modigliani dan Miller (MM) Menurut Modgliani dan Miller (MM), nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya DPR, 40 40 tapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT) dan kelas risiko perusahaan. Jadi menurut MM, dividen adalah tidak relevan. Pernyataan MM ini bisa didasarkan pada beberapa asumsi penting yang lemah seperti pasar modal sempurna dimata semua investor adalah rasional, tidak ada biaya emisi saham baru jika perusahaan menerbitkan saham baru, tidak ada pajak, dan kebijakan investasi perusahaan tidak berubah. Tetapi pada praktiknya pasar modal yang sempurna sulit ditemui, biaya emisi saham baru pasti ada, pajak pasti ada, dan kebijakan investasi perusahaan tidak mungkin berubah. Beberapa ahli menentang pendapat MM tentang dividen adalah tidak relevan dengan menunjukkan bahwa adanya biaya emisi saham baru akan mempengaruhi nilai perusahaan. b. Teori The Bird in the Hand Gordon dan Lintner (1991) menyatakan bahwa biaya modal sendiri perusahaan akan naik jika DPR rendah, karena investor lebih suka menerima dividen daripada capital gains. Menurut mereka investor lebih memandang dividen yield lebih pasti daripada capital gains yield. Modgliani dan Miller menganggap bahwa argument Gordon dan Lintner ini merupakan suatuĀ  kesalahan (MM menggunakan istilah The Bird in the hand Fallacy). Menurut MM, pada akhirnya investor akan kembali menginvestasikan dividen yang diterima pada perusahaan yang sama atau perusahaan yang memiliki risiko yang hampir sama. c. Teori Perbedaan Pajak Teori ini diajukan oleh Litzbenberger dan Ramaswamy. Mereka menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan dividen dan capital gains, para investor lebih menyukai capital gains karena dapat menunda pembayaran pajak. Oleh karena itu investor mensyaratkan suatu tingkat keuntungan yang lebih tinggi pada saham yang memberikan dividen yield tinggi, capital gains yield rendah daripada saham dengan dividen yield rendah, capital gains yield tinggi. Jika pajak atas dividen lebih besar daripada pajak atas capital gains, perbedaan ini akan makin terasa. Jika manajemen percaya bahwa teori Dividen tidak relevan dari MM adalah benar, maka perusahaan tidak perlu memperdulikan berapa besar dividen yang harus dibagi. Jika mereka menganut The Bird in the Hand, mereka harus membagi seluruh EAT dalam bentuk dividen. Dan bila manajemen cenderung mempercayai teori 42 42 perbedaan pajak (Tax Differential Theory), mereka harus menahan seluruh EAT atau DPR=0%. d. Teori Signaling Hypothesis Teori signaling hyphothesis dicetuskan pertama kali oleh Bhattacharya (1979). Ada bukti empiris bahwa jika ada kenaikan dividen, sering diikuti dengan kenaikan harga saham. Sebaliknya penurunan dividen pada umumnya menyebabkan harga saham turun. Fenomena ini dapat dianggap sebagai bukti bahwa para investor lebih menyukai dividen daripada capital gains. Tapi MM berpendapat bahwa suatu kenaikan dividen yang diatas biasanya merupakan suatu sinyal kepada investor bahwa manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik di masa mendatang. Sebaliknya suatu penurunan dividen atau kenaikan dividen yang dibawah kenaikan normal (biasanya) diyakini investor sebagai sinyal bahwa perusahaan menghadapi masa sulit diwaktu mendatang. Secara teori dividen yang lain, teori Signaling hypothesis ini juga sulit dibuktikan secara empiris. Adalah nyata bahwa perubahan dividen mengandung beberapa informasi. Tetapi sulit dikatakan apakah kenaikan dan penurunan harga setelah adanya kenaikanĀ  dan penurunan dividen semata-mata disebabkan oleh efek sinyal atau disebabkan karena efek sinyal dan preferensi terhadap dividen. e. Teori Clientele effect Teori ini menyatakan bahwa kelompok (clientele) pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaan. Kelompok pemegang saham yang membutuhkan penghasilan pada saat ini lebih menyukai suatu DPR yang tinggi. Sebaliknya kelompok pemegang saham yang tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan. Jika ada perbedaaan pajak bagi individu (misalnya orang lanjut usia dikenai pajak lebih ringan) maka kelompok pemegang saham yang dikenai pajak tinggi lebih menyukai capital gains karena dapat menunda pembayaran pajak. Kelompok ini lebih senang jika perusahaan membagi dividen yang kecil. Sebaliknya kelompok pemegang saham yang dikenai pajak relatif rendah cenderung menyukai dividen yang besar. Bukti empiris menunjukkan bahwa efek dari clientele ini ada. Tapi menurut MM hal ini tidak menunjukkan bahwa dividen besar lebih baik dari dividen kecil, demikian sebaliknya. Efek Clientele ini hanya mengatakan bahwa bagi sekelompok pemegang saham, kebijakan dividen tertentu lebih menguntungkan mereka. Berdasarkan dua referensi yang sudah disampaikan diatas maka dapat disimpulkan ada 5 teori kebijakan dividen yaitu dividen tidak relevan dari Modigliani dan Miller (MM), teori the bird in the hand, teori perbedaan pajak, teori signaling hyphothesis, dan teori clientele effect. Menurut Modigliani dan Miller nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya DPR tetapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT). Teori The Bird in The Hand yang dikemukakan oleh Gordon dan Lintner berpendapat bahwa investor lebih menyukai pendapatan dari dividen dibandingkan dengan capital gains. Teori perbedaan pajak yang diajukan oleh Litzbenberger dan Ramaswamy berpendapat investor lebih menyukai dividen yang rendah karena dapat menunda pembayaran pajak. Teori signaling hyphotesis yang dicetuskan oleh Bhattacharya (1979) berpendapat jika ada kenaikan dividen akan diikuti dengan kenaikan harga saham begitu pula sebaliknya. Terakhir teori clientele effect menyatakan bahwa kelompok investor yang membutuhkan penghasilan lebih menyukai DPR yang tinggi sedangkan kelompok investor yang tidak begitu membutuhkan uang lebih menyukai jika perusahan menahan sebagian besar laba perusahaan.