Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen (skripsi dan tesis)

Kebijakan dividen merupakan keputusan terkait dengan seberapa besar laba yang akan dibagikan kepada investor. Menurut Gumanti (2013) dalam hal ini manajer harus mampu menjelaskan alasan besarnya dividen yang dibagikan maupun laba ditahan, selain itu, manajer juga harus memperhatikan kapan keputusan tersebut diumumkan ke publik karena kebijakan dividen mengandung informasi penting yang akan mempengaruhi bagaimana investor menyikapi rencana jangka panjang dan jangka pendek perusahaan. Weston dan Copeland (1986) dalam Gumanti (2013) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan diantaranya: a. Undang-undang (Peraturan) Sejumlah peraturan sengaja ditetapkan untuk mengurangi kemungkinan tindakan dari manajemen untuk membagikan dividen secara berlebihan. Peraturan yang ada ditujukan guna mengurangi upaya manajemen untuk lebih mengedepankan investor dengan mensyaratkan rasio tertentu agar kepentingan kreditur tidak diabaikan. Peraturan atau perundang-undangan yang ditetapkan pemerintah dapat mempengaruhi keputusan manajemen dalam menetapkan besar kecilnya dividen. Jadi, dengan adanya peraturan yang mensyaratkan batasan-batasan tertentu atas kebijakan dividen dapat mempengaruhi besar kecilnya dividen yang diambil perusahaan. b. Posisi Likuiditas Jika perusahaan memerlukan likuiditas yang tinggi dalam hal ini dapat berbentuk sumber pendanaan internal yang berupa laba ditahan, maka dividen yang akan dibagikan seharusnya dikurangi karena membayar dividen berarti pengeluaran kas dan pengeluaran berarti pengurangan kemampuan likuiditas (memenuhi kewajiban lancarnya). Apalagi jika kebutuhan dana tersebut sangat mendesak yang memaksa manajemen untuk mengurangi atau bahkan menunda pembayaran dividen kepada investor. Artinya, kebutuhan akan likuiditas akan menentukan besar kecilnya dividen jika dibandingkan dengan posisi laba ditahan. c. Kebutuhan untuk pelunasan hutang Jika perusahaan memiliki kewajiban yang besar dan harus segera dibayar maka sangat mungkin kepentingan investor harus dikorbankan yaitu menunda atau mengurangi pembayaran dividen. Membayar hutang berarti harus menyisihkan sebagian arus kas perusahaan 33 33 dan konsekuensinya mengorbankan kebutuhan yang lain atas arus kas. Pemenuhan pembayaran hutang dapat dilakukan dengan beberapa cara salah satunya tidak membagi atau mengurangi dividen. Semakin tinggi beban hutang yang ditanggung perusahaan maka semakin besar pula laba ditahan yang berarti mengurangi dividen. d. Batasan-Batasan Dalam Perjanjian Hutang Perjanjian utang, khususnya utang jangka panjang seringkali dibarengi dengan persyaratan-persyaratan khusus. Pihak pemberi pinjaman akan menetapkan syarat utang – piutang yang mampu menjamin kelancaran pembayaran piutangnya. Hal yang seringkali dikedepankan adalah persyaratan untuk membatasi perusahaan dalam membayar dividen kas (tunai). Persyaratan diajukan oleh pemberi pinjaman tidak hanya dalam rangka menjamin, tetapi juga melindungi pemberi pinjaman dari kemungkinan diabaikannya kewajiban membayar utang oleh peminjam. e. Potensi Kehidupan Aktiva Kebutuhan dana yang tinggi khususnya pembiayaan untuk asset perusahaan, memaksa manajemen lebih memprioritaskan sumber dana internal. Seiring dengan semakin mapannya posisi perusahaan di industri dan persaingan serta tingkat kemampulabaan yang baik yang biasanya dicirikan dengan berkurangnya kebutuhan atas aktiva maka manajemen mulai memikirkan untuk memakmurkan investor dengan memberi dividen. Siklus kehidupan perusahaan akan menentukan kapasitas perusahaaan yang tercermin pada skala usahanya dan jika usaha menunjukkan tren semakin besar yang konsekuensinya membuat perusahaan semakin membutuhkan tambahan dana untuk ekspansi, maka dividen akan berpengaruh. f. Perolehan Laba Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan kestabilan tingkat laba yang diperoleh sangat menentukan berapa besarnya dividen yang dapat dibagikan kepada investor. Keyakinan manajemen akan prospek capaian laba ditahun depan juga menjadi faktor kunci atas berapa besarnya dividen yang akan dibayarkan pada tahun berjalan. Jika keyakinan manajemen bahwa prospek laba tahun depan dapat diraih dan dalam upaya untuk memberikan jaminan atas prospek usaha, dividen dapat dipastikan akan mengalami peningkatan. Perusahaan dengan capaian laba lebih tinggi akan memiliki motivasi lebih untuk membagi dividen karena 35 35 unsur kemampuan dan kepastian pencapaian laba (keuntungan). g. Stabilitas Laba Laba yang stabil dari waktu ke waktu sangat menentukan besar kecilnya dividen yang akan dibagikan kepada investor. Jika perusahaan memiliki tingkat kestabilan laba yang baik, ada kecenderungan untuk berusaha mempertahankan bahkan menaikkan dividen yang dibayarkan. h. Peluang Penerbitan Saham di Pasar Modal Menurut theory pecking order penerbitan saham baru dalam rangka pemenuhan dana merupakan alternative terakhir dan secara konsep alternatif tersebut kurang disukai oleh investor. Pertimbangan yang berbeda tentu akan muncul jika alternatif pemenuhan dana dengan penerbitan saham baru tersebut adalah alternatif yang baru pertama dilakukan, dalam kasus penawaran saham perdana (IPO). Jika kondisi internal perusahaan memang baik dan prospek masa depannya cukup menjanjikan, rencana penerbitan saham tentu akan menarik, karena investor akan mengapresiasi usaha tersebut. i. Kendali kepemilikan Adanya kendali dari pemilik yang memiliki insentif untuk mengoptimalkan penggunaan sumber dana internal daripada eksternal. Maka pembayaran akan dikurangi bahkan ditiadakan sama sekali. Artinya rasio pembayaran dividen akan menurun jika manajemen merasa yakin bahwa kebutuhan dana untuk investasi semakin tinggi. j. Posisi pemegang saham Pemegang saham institusi, dalam banyak hal tidak menyukai dividen tunai yang tinggi karena akan meningkatkan golongan pengenaan pajak, Jika komposisi investor di perusahaan didominasi oleh investor retail sangat besar kemungkinan bahwa manajemen akan membagikan dividen lebih tinggi karena beban pajak pemilik individu relatif rendah dibandingkan dengan pemilik institusi, k. Kesalahan Akumulasi Pajak atas Laba Dalam upaya untuk menekan upaya perusahaan sebagai penyimpan uang. pemerintah dapat menetapkan peraturan perpajakan yang menentukan pajak tambahan khusus terhadap penghasilan yang terakumulasi secara tidak benar. Perusahaan tidak boleh melakukan upaya pengakumulasian yang tidak benar dalam rangka  mendapatkan manfaat dalam bentuk sisa laba. Peraturan perpajakan dapat diarahkan untuk mensyaratkan adanya bukti yang sah bahwa kebijakan yang meningkatkan sisa laba tersebut memang diperlukan oleh perusahaan sebagai bagian dari rencana strategisnya. Menurut Sartono (2001) ada 5 faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen: a. Kebutuhan Dana Perusahaan Kebutuhan dana bagi perusahaan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan dividen yang diambil. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan aliran kas perusahaan, pengeluaran modal dimasa yang akan datang, kebutuhan tambahan persediaan, pola pengurangan hutang , dan posisi kas perusahaan b. Likuiditas Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam banyak hal tentang kebijakan dividen. Semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan maka semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. c. Kemampuan meminjam Kemampuan meminjam dalam jangka pendek akan meningkatkan fleksibiltas likuiditas perusahaan. Perusahaan yang semakin besar memiliki akses yang lebih baik masuk kepasar modal sehingga akan lebih mudah mendapatkan dana. Kemampuan meminjam yang semakin besar, fleksibilitas yang lebih besar akan memperbesar kemampuan membayar dividen d. Keadaan Pemegang saham Jika perusahaan dengan kepemilikan yang relatif tertutup manajemen biasanya mengetahui dividen yang diharapkan dan dapat bertindak lebih tepat. Jika hampir semua investor berada dalam golongan high tax dan lebih suka memperoleh capital gains maka perusahaan dapat menahan laba dalam bentuk laba ditahan. e. Stabilitas Dividen Bagi investor faktor stabilitas dividen lebih menarik daripada dividend payout ratio yang tinggi. Artinya tetap memperhatikan tingkat pertumbuhan perusahaan yang ditunjukkan oleh koefisien yang positif. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen antara lain peraturan, likuiditas, stabilitas dividen, kemampuan untuk meminjam, batasan-batasan dalam perjanjian hutang, keadaan pemegang saham, perolehan laba, potensi aktiva, stabilitas laba, peluang penerbitan saham dipasar modal,kendali kepemilikan, kebutuhan dana perusahaan, dan kesalahan pajak atas laba. Faktorfaktor tersebut penting untuk diperhatikan oleh manajemen sebelum memutuskan untuk membagikan dividen perusahaan. Karena dividen yang dibagi oleh perusahaan juga akan mempengaruhi aliran kas perusahaan dimasa yang akan datang