Stringer (Wirawan,2008) mengemukakan faktor-faktor penyebab iklim
organisasi sebagai berikut, yaitu:
a. Lingkungan eksternal
Industri atau bisnis mempunyai iklim organisasi umum yang sama. Misalnya, iklim organisasi umum perusahaan asuransi umumnya
sama. Demikian juga iklim organisasi pemerintah, sekolah dasar
mempunyai iklim organisasi yang sama. Kesamaan faktor tersebut
disebabkan faktor lingkungan eksternal.
b. Strategi organisasi
Kinerja suatu perusahaan tergantung pada strategi, energy, yang
dimiiki oleh karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang
diperlukan oleh strategi (motivasi), dan faktor-faktor lingkungan
penentu dari level energi tersebut. Strategi memengaruhi iklim
organisasi secara tidak langsung.
1. Praktik kepemimpinan akan bervariasi, bergantung pada
strategi yang dilaksanakan.
2. Pengaturan organisasi akan dikembangkan untuk
memperkuat strategi-strategi yang berbeda.
3. Strategi jangka panjang akan mempunyai dampak terhadap
kekuatan sejarah yang menentukan iklim organisasi.
c. Pengaturan Organisasi
Pengaturan organisasi mempunyai pengaruh paling kuat terhadap
iklim organisasi.
d. Kekuatan Sejarah
Semakin tua umur suatu organisasi semakin kuat pengaruh
kekuatan sejarahnya. Pengaruh tersebut dalam bentuk tradisi dan
ingatan yang membentuk harapan anggota organisasi dan
mempunyai pengaruh terhadap iklim organisasinya.
e. Kepemimpinan
Perilaku pemimpin mempengaruhi iklim organisasi yang kemudian
mendorong motivasi karyawan. Motivasi karyawan merupakan
pendorong utama terjadinya kinerja
Pengukuran produktivitas kerja
Pengukuran produktivitas dapat dilakukan baik dengan menghitung
produktivitas secara keseluruhan (produktivitas total) maupun
produktivitas secara parsial. Secara umum, pengukuran produktivitas dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Produktivitas total, yaitu perbandingan antara total keluaran (output)
dengan total masukan (input) per satuan waktu. Dalam perhitungan
produktivitas total, semua faktor masukan (tenaga kerja, capital, bahan,
energy) terhadap total keluaran harus diperhitungkan.
b. Produktivitas parsial, yaitu perbandingan dari keluaran (output) dengan
satu jenis masukan (input) seperti upah tenaga kerja, capital, bahan,
energi, beban kerja dikali dengan waktu (time)
Dimensi Iklim Organisasi
Dimensi iklim organisasi Litwin dan Stringer (Hardjana,2006) adalah
sebagai berikut:
1. Struktur (Structure)
Dimensi ini berkaitan dengan tugas yang terorganisir dengan baik dan
tujuan dirumuskan secara jelas, struktur juga memberikan batasan- batasan melalui peraturan, prosedur, kebijaksanaan dan praktek yang
harus ditaati dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban mereka.
2. Tanggung jawab (Responsibility)
Dimensi ini berkaitan dengan rasa tanggung jawab yang harus dimiliki
setiap anggota dalam melaksanakan tugas-tugasnya serta adanya rasa
percaya adanya satu dengan lainnya maupun dengan atasan.
3. Penghargaan (Reward)
Dimensi ini berkaitan dengan penghargaan yang diperoleh anggota
karena pekerjaan yang tealh dilaksanakan dengan baik, tidak hanya
sekedar hukuman ketika terdapat kesalahan yang diperbuat oleh
anggota akan tetapi juga dorongan untuk maju atau kritik yang
membangun, termasuk juga kebijakan tentang promosi karir ataupun
hal yang lain.
4. Resiko (Risk)
Dimensi ini berkaitan dengan pengetahuan anggota tentang resiko
pekerjaannya dan anggotanya diberikan kesempatan untuk melakukan
atau mengambil resiko dalam menjalankan tugas sebagai sebuah
tantangan.
5. Kekeluargaan (Warmth)
Dimensi ini berkaitan dengan perlakuan atau perhatian yang baik dari
atasan maupun anggota pada saat melaksanakan pekerjaannya. Serta
adannya rasa kepedulian dari atasan maupun anggota lainnya dalam
mendapatkan perlindungan dan pengayoman.
6. Dukungan (Support)
Dimensi ini berkaitan dengan dukungan yang positif yang dirasa dari
atasan dan anggota didalam kelompoknya, penekanannya terhadap
dukungan timbale balik dari atas dan di bawah. Jadi dimensi ini
berbicara tentang adanya saling dukungan diantara sesame anggota
yang setingkat maupun dukungan timbale balik (saling mendukung)
antara anggota dan pimpinan sehingga terciptanya harmonisasi antar
anggota organisasi.
7. Standar (Standart)
Dimensi ini berkaitan dengan penekanan yang dilakukan oleh pihak
organisasi untuk melakukan yang terbaik agar memenuhi sasaran yang
dapat dicapai berdasarkan target yang ditetapkan. Sasaran ini
dibebankan pada individu maupun terhadap kelompok kerjanya.
8. Konflik (Conflict)
Dimensi ini menggambarkan bahwa atasan dan anggota lainnya mau
bekerjasama dalam menyelesaikan konflik. Penekanannya adalah pada
usaha penyelesaian masalah secara terbuka, daripada menutupi atau
menghindarinya.
9. Identitas (Identity)
Dimensi ini berkaitan dengan memberikan pengetahuan anggota
tentang tujuan serta misi organisasi, sehingga pada akhirnya ada rasa
ketertarikan yang kuat dan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi.
Serta adanya rasa bangga dan rasa memiliki organisasi tersebut baik
pada anggota maupun atasan
Indikator produktivitas kerja
Gilmore dalam (Sedarmayati 2013) menyatakan bahwa orang yang
produktif adalah orang yang memiliki kontribusi positif pada diri
seseorang terhadap lingkunganya dimana dia berada. Hal itu didasarkan
dengan adanya tindakan kontruktif, percaya diri, bertanggung jawab,
memiliki rasa cinta terhadap pekerjaan, mempuyai pandangan ke depan,
mampu mengatasi peroalan dengan lingkungan yang berubah-ubah,
mempuyai kontrobusi yang positif terhadap lingkunganya (kreatif,
imaginative, dan inivatif, memiliki kekuatan untuk mewujudkan
potensinya.
Produktivitas kerja merupakan hal yang sangat penting bagi para
karyawan yang ada diperusahaan, dengan adanya produktivitas kerja
diharapkan pekerjaan akan terlaksana secara efesien dan efektif, sehinggga
ini semua akhirnya sangat diperlukan dalam pencapaian tujuan yang sudah
ditetapkan, untuk mengukur produktivitas kerja, diperlukan suatu indikator
sebagai berikut : tindakan kontruktif, percaya diri, bertanggung jawab,
memiliki rasa cinta terhadap pekerjaan, mempuyai pandangan ke depan,
mampu mengatasi peroalan dengan lingkungan yang berubah-ubah,
mempuyai kontrobusi yang positif terhadap lingkunganya, memiliki
kekuatan untuk mewujudkan potensinya.
Peningkatan produktivitas kerja dan efisiensi merupakan sember
pertumbuhan utama untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Selanjutnya, pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan juga merupakan
unsure penting dalam menjaga kesinambungan peningkatan produktivatas
kerja jangka panjang, dengan demikian, pertumbuhan dan produktivitas
bukan dua hal terpisah atau memiliki hubungan satu arah, melainkan
keduanya adalah tergantung dengan pola hubungan yang dinamis.
Pengertian Iklim Organisasi
Menurut Tagiuri dan Litwin (Wirawan,2008), iklim organisasi adalah
kualitas lingkungan organisasi yang secara relative terus berlangsung, dialami
oleh anggota organisasi; mempengaruhi perilaku mereka dan dapat dilukiskan
dalam pengertian satu set karakteristik atau sifat organisasi. Wirawan (2008)
mengatakan bahwa iklim organisasi adalah persepsi anggota organisasi (secara
individual dan kelompok) dan mereka yang secara tetap berhubungan dengan
organisasi mengenai apa yang ada atau terjadi dilingkungan internal organisasi
secara rutin, yang mempengaruhi sikap dan perilaku organisasi dan kinerja
anggota organisasi yang kemudian menentukan kinerja organisasi.
Menurut Litwin dan Stringer (Hardjana,2006) iklim organisasi adalah
suatu yang dapat diukur pada lingkungan kerja baik secara langsung maupun tidak
langsung berpengaruh pada karyawan dan pekerjaannya dimana tempat mereka
bekerja dengan asumsi akan berpengaruh pada motivasi dan perilaku karyawan.
Menurut Davis dan Newstrom (1985) iklim organisasi adalah lingkungan didalam
mana para pegawai atau karyawan organisasi melakukan pekerjaan mereka. Iklim
organisasi dapat mempengaruhi motivasi, prestasi, dan kepuasan kerja. Iklim
mempengaruhi hal itu dengan membentuk harapan pegawai tentang konsekuensi
yang akan timbul dari berbagai tindakan. Para pegawai atau karyawan
mengharapkan imbalan, kepuasan, frustasi atas dasar persepsi mereka terhadap
iklim organisasi.
Bagi Umstot (Idrus,2006) iklim organisasi merupakan salah satu cara
untuk mengukur budaya organisasi, dan iklim organisasi itu sendiri dimaknai
sebagai cara karyawan memahami lingkungan organisasinya. Situasi ini
tampaknya yang menjadikan Umstot berpendapat bahwa faktor tertentu dapat
penting pada organisasi tertentu, namun tidak memiliki makna yang berarti pada
organisasi lain. Senada dengan Umstot, Steers (Idrus,2006) memandang iklim
organisasi sebagai suatu kepribadian organisasi seperti apa yang dilihat para
anggotanya. Menurut Steers, iklim organisasi tertentu adalah iklim yang dilihat
para pegawai dalam organisasi tersebut.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa iklim
organisasi adalah kualitas lingkungan organisasi tempat karyawan bekerja secara
rutin yang mempengaruhi sikap dan perilaku pekerja seperti hubungan antar rekan
kerja, partisipasi, serta penghargaan yang didapat karyawan. Iklim organisasi yang
kondusif akan menimbulkan kenyamanan dalam bekerja hasilnya karyawan dapat
mencapai tujuan organisasi. Jika iklim organisasi tidak kondusif, karyawan
merasa tidak nyaman dalam bekerja, bekerja menjadi beban dan berpengaruh
terhadap hasil pekerjaan dan pencapaian perusahaan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya
produktivitas kerja. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas
tenaga kerja yaitu umur, gizi seperti status gizi maupun asupan zat gizi,
kondisi fisik, ketrampilan dan psikologi pekerja; peralatan kerja yaitu alat
yang dipakai atau mesin-mesin; lingkungan kerja yaitu panas, debu,
bising, kondisi alat, keselamatan; cara kerja yaitu sikap dan posisi kerja;
organisasi kerja yaitu administrasi kerja, shift work, waktu kerja dan
waktu istirahat (Ariati, 2013).
Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya produktivitas kerja
pada tenanga kerja wanita salah satunya dipengaruhi oleh faktor status gizi
dari tenaga kerja wanita tersebut, dikarenakan pada tenaga kerja wanita
lebih rawan kekurangan gizi karena selain kegiatan sebagai ibu rumah
tangga di rumah dan ditempat kerja, wanita harus menghadapi masalah
menstruasi setiap bulan sehingga mempengaruhi keadaan tubuh. Status
gizi yang tidak baik dapat menurunkan produktivitas kerja dan beban
produksi menjadi tidak efisien (Hendrayati, Rowa, Mappeboki, 2016).
Menurut Balai Pengembangan Produktivitas Daerah (dalam
Sedarmayanti, 2013), terdapat enam faktor utama yang menentukan
produktivitas tenaga kerja, adalah:
a. Sikap kerja, seperti kesediaan untuk bekerja secara bergiliran (shift
work), dapat menerima tambahan tugas dan bekerja dalam satu tim.
b. Tingkat keterampilan, yang ditentukan oleh pendidikan, latihan dalam
manajemen dan supervise serta keterampilan dalam teknik industri.
c. Hubungan antara tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang tercermin
dala usaha bersama antara pimpinan organisasi dan tenaga kerja untuk
meningkatkan produktivitas melalui lingkaran pengawasan mutu
(quality control circles) dan panitia meneganai kerja unggul.
d. Manajemen produktivitas yaitu manajemen yang efisien mengenai
sumber dan sistem kerja untuk mencapai peningkatan produktivitas.
e. Efisiensi tenaga kerja seperti perencanaan tenaga kerja dan tambahan
tugas.
f. Kewirausahaan yang tercermin dalam pengambilan resiko, kreatifitas
dalam berusaha dan berada pada jalur yang benar dalam berusaha.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Kehidupan Kerja
Swammy, Nanjundeswaraswamy dan Rashmi (2015) mengemukakan 8
(Delapan) faktor yang mempengaruhi kualitas kehidupan kerja. Yaitu sebagai
berikut:
a. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja adalah tempat di mana seseorang bekerja. Lingkungan
ini adalah lingkungan sosial dan profesional di mana karyawan seharusnya
berinteraksi dengan sejumlah orang, dan harus bekerja sama dengan
koordinasi dengan satu atau sebaliknya. Kondisi kerja yang aman dan
sehat memastikan kesehatan yang baik, kelangsungan layanan,
menurunnya hubungan manajemen buruh yang buruk. Seorang pekerja
yang sehat mencatat produktivitas yang tinggi. Karyawan ceria, percaya
diri dan bisa membuktikan aset tak ternilai bagi organisasi jika lingkungan
kerja baik. Hal ini terdiri dari situasi kerja fisik dan mental yang aman dan
menentukan jam kerja yang masuk akal.
b. Budaya Organisasi dan Iklim
Budaya organisasi adalah seperangkat sifat dan iklim organisasi adalah
perilaku kolektif orang-orang yang merupakan bagian dari nilai, visi,
norma, dan lain-lain. Peluang promosi, promosi dan evaluasi penghargaan
yang digunakan keduanya berada di bawah kendali langsung dari sebuah
organisasi dan tunduk pada kebijakan organisasi.
c. Hubungan dan Kerjasama
Hubungan dan kerjasama adalah komunikasi antara manajemen dan
karyawan, mengenai keputusan di tempat kerja, konflik dan penyelesaian
masalah. Pekerjaan dan karir biasanya dikejar dalam kerangka organisasi
sosial dan sifat hubungan pribadi menjadi dimensi penting kualitas
kehidupan kerja. Penerimaan pekerja didasarkan pada keterampilan, sifat
terkait pekerjaan, kemampuan dan potensi tanpa mempertimbangkan ras,
jenis kelamin, penampilan fisik, dan lain-lain.
d. Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan dan pengembangan merupakan kegiatan organisasi yang
bertujuan untuk meningkatkan kinerja individu dan kelompok. Kualitas
kehidupan kerja dipastikan untuk pengembangan karyawan dan dorongan
yang diberikan oleh manajemen untuk melakukan pekerjaan, memiliki
kondisi yang baik untuk meningkatkan pemberdayaan dan keterampilan
pribadi.
e. Kompensasi dan Penghargaan
Kompensasi dan penghargaan adalah faktor motivasi. Pelaku terbaik diberi
penghargaan, dan ini membangun kompetisi di antara para karyawan
untuk bekerja keras dan mencapainya baik tujuan organisasi maupun
individu. Kepentingan ekonomi karyawan mendorong mereka untuk
bekerja dan kepuasan karyawan bergantung pada tingkat tertentu pada
kompensasi yang ditawarkan. pembayaran harus ditetapkan berdasarkan
pekerjaan yang dilakukan, keterampilan individu, tanggung jawab yang
dilakukan, kinerja dan prestasi.
f. Fasilitas
Fasilitas memainkan peran utama dalam aktualisasi tujuan dan sasaran
dengan memuaskan kebutuhan fisik dan emosional para karyawan.
Fasilitas termasuk layanan makanan, transportasi, keamanan, dan
sebagainya. Banyak pengusaha merasa beruntung dapat memberikan
alternatif pengaturan kerja bagi karyawan mereka. Inilah salah satu metode
untuk meningkatkan produktivitas dan semangat kerja karyawan.
Pengaturan kerja alternatif untuk karyawan termasuk jam kerja yang
fleksibel, lebih pendek atau tidak ada jalan buntu, dan lingkungan kerja
yang aman.
g. Kepuasan Kerja dan Jaminan Kerja
Kepuasan kerja dipengaruhi oleh desain pekerjaan. Pekerjaan yang kaya
akan elemen perilaku konstruktif seperti otonomi kerja, variasi tugas,
identitas, signifikansi kerja dan umpan balik turut berkontribusi pada
kepuasan karyawan. Jaminan kerja merupakan faktor lain yang menjadi
perhatian karyawan. Pekerjaan tetap memberikan keamanan kepada
karyawan dan meningkatkan kualitas kehidupan kerja mereka.
h. Otonomi Kerja
Karyawan diberi kebebasan pengambilan keputusan. Pekerja sendiri
merencanakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan terkait
pekerjaan. Ini juga mencakup berbagai kesempatan bagi personil seperti
kemandirian di tempat kerja dan memiliki wewenang untuk mengakses
informasi terkait untuk tugas mereka.
Luthans (2006) mengatakan bahwa untuk meningkatkan kualitas
kehidupan kerja dapat dilakukan dengan mengubah lingkungan kerja dan iklim
organisasi. Iklim organisasi yang kondusif, nyaman dapat memberikan efek
terhadap karyawan yaitu suasana dalam bekerja tidak lagi penuh tekanan,
pekerjaan yang dilakukan karyawan bukanlah beban namun sebagai tantangan
dalam bekerja. Hasilnya kualitas kehidupan kerja yang dimiliki karyawan dapat
tercapai
Dimensi Kualitas Kehidupan Kerja
Zin (2004) mengemukakan beberapa dimensi kualitas kehidupan kerja yaitu
sebagai berikut :
a. Pertumbuhan dan Pengembangan
Kesempatan untuk menggunakan berbagai keterampilan, melakukan
pekerjaan yang menantang.
b. Partisipasi
Kesempatan untuk terlibat dalam keputusan yang berkaitan dengan
pekerjaan.
c. Lingkungan Fisik
Adanya lingkungan kerja yang kondusif termasuk penjadwalan kerja.
d. Atasan
Hubungan dengan atasan dan saling pengertian.
e. Gaji dan tunjangan
Keadilan dan manfaat moneter yang memadai.
f. Relevansi sosial
Hubungan antara pekerjaan dan aspek kehidupan lainnya.
g. Integrasi tempat kerja
Sesama rekan kerja memiliki hubungan kekompakan dalam bekerja.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan dimensi yang menjadi
dasar untuk melihat kualitas kehidupan kerja adalah pertumbuhan dan
pengembangan, partisipasi, lingkungan fisik, atasan, gaji dan tunjangan, relevansi
sosial, integrasi tempat kerja
Pengertian Kualitas Kehidupan Kerja
Kualitas kehidupan kerja merupakan suatu tingkat dimana anggota mampu
memuaskan kebutuhan pribadi yang penting melalui pengalamannya dalam
melakukan pekerjaan pada organisasi tersebut (Jati,2013). Selain itu Cascio
(2010) menyatakan bahwa kualitas kehidupan kerja adalah persepsi karyawan
dimana mereka menginginkan rasa aman, kepuasan dan kesempatan sebagai
layaknya manusia.
Kualitas kehidupan kerja menurut Zin (2004) adalah suatu keadaan
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan karyawan, adanya kesempatan bagi karyawan
untuk turut berperan menentukan cara bekerja dan sumbangan yang dapat
diberikan karyawan pada organisasi. Rethinam dan Ismail (Permadi &
Utama,2016) mendefinisikan kualitas kehidupan kerja sebagai efektivitas
lingkungan kerja yang dapat memenuhi kebutuhan organisasi dan pribadi yang
lebih bermakna dalam membentuk nilai-nilai karyawan, dimana nilai-nilai
tersebudapat mendukung dan mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan kerja
yang lebih baik, keamanan kerja, kepuasan kerja, pengembangan kompetensi dan
keseimbangan antaran kehidupan kerja dan kehidupan non kerja.
Golkar (2013) mengatakan bahwa kualitas yang baik dari kehidupan kerja
dapat meningkatkan kepuasan kerja dan kinerja tugas, mengurangi absensi,
tingkat turn over, frekuensi keterlambataan lebih rendah, meningkatkan
efektivitas organisasi dan komitmen organisasi. Senada dengan pengertian
tersebut, Louis and Smith (Swammy, Nanjundeswaraswamy&Rashmi,2015)
menjelaskan bahwa kualitas kehidupan kerja dapat didefinisikan sebagai sejauh
mana seorang karyawan puas dengan kebutuhan pribadi dan pekerjaan melalui
partisipasi ditempat kerja sambil mencapai tujuan organisasi. Pentingnya kualitas
kehidupan kerja dalam mengurang turnover karyawan dan kesejahteraan
karyawan yang berdampak pada layanan yang ditawarkan.
Luthans (2006) mengatakan bahwa konsep kualitas kehidupan kerja
mengungkapkan pentingnya penghargaan terhadap manusia dalam lingkungan
kerjanya. Dengan demikian peran penting dari kualitas kehidupan kerja adalah
mengubah iklim kerja organisasi secara teknik dan manusiawi membawa kepada
kualitas kehidupan kerja yang lebih baik.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan definisi kualitas
kehidupan kerja adalah sejauh mana karyawan merasa kebutuhannya terpenuhi
oleh perusahaan seperti rasa aman, kesempatan sebagai layaknya manusia dalam
melakukan pekerjaannya. Karyawan yang dikatakan memiliki kualitas kehidupan
kerja tinggi adalah karyawan yang merasa kebutuhannya dalam bekerja terpenuhi.
Jika karyawan memiliki kualitas kehidupan kerja yang tinggi, maka karyawan
merasa diperhatikan serta dihargai yang mengakibatkan karyawan berkomitmen
tinggi dengan perusahaan dan bersedia mengerahkan segala potensi yang dimiliki
untuk mengabdikan dirinya untuk kemajuan organisasi. Sebaliknya, jika kualitas
kehidupan kerja karyawan rendah, maka karyawan tidak sepenuhnya
mendedikasikan dirinya untuk perusahaan karena kebutuhan yang dimiliki tidak
tercapai sehingga pekerjaan yang dilakukan tidak maksimal dan berdampak pada
tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan
Pengertian produktivitas kerja
Menurut Dewan Produktivitas Nasional dalam Sedarmayanti
(2016), dijelaskan bahwa produktivitas mengandung pengertian sikap
mental yang selalu mempunyai pandangan “mutu kehidupan hari ini harus
lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini”.
Produktivitas adalah perbandingan antara hasil yang dicapai (output)
dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (Sedarmayanti, 2016).
Produktivitas adalah suatu ukuran sejauh mana sumber-sumber
daya digabungkan dan dipergunakan dengan baik sehingga dapat
mewujudkan hasil-hasil tertentu yang diinginkan. Produktivitas
dibedakan menjadi beberapa tingkatan, yaitu produktivitas tingkat
individu (tenaga kerja), satuan (kelompok kerja) dan organisasi
perusahaan (produktivitas sub sistem, sistem dan supra sistem) (Ambar
Silastuti, Sri Rahayu Utami, 2013). Produktivitas bersumber dari
individu yang melakukan kegiatan,dimana individu tersebut sebagai
tenaga kerja yang memiliki kualitas kerja yang memadai (Sri Rahayu
Utami,2013).
Menurut (Kusriyanto, 2016), mengemukakan bahwa produktivitas
adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga
kerja per satuan waktu, peran serta tenaga kerja di sini adalah penggunaan
sumber daya produktivitas. Berdasarkan evaluasi ekonomi terhadap
kinerja yang dicapai dalam proses produksi, produktivitas, efisiensi, dan
efektivitas merupakan kriteria yang paling sering dipakai dalam bidang
ekonomi. Efisiensi dan efektivitas seringkali dianggap sebagai suatu yang
saling berhubungan tetapi secara konsep keduanya sebenarnya berbeda.
Dari berberapa uraian teori para tokoh diatas dapat ditegaskan
bahwa produktivitas kerja dalam bentuk penelitian ini adalah hasil atau
ukuran yang menjadi pembanding antara input seperti sumber daya, tenaga
kerja terhadap output yang dihasilkan oleh kinerja karyawan pada suatu
industri seperti tindakan kontruktif, percaya diri, bertanggung jawab,
memiliki rasa cinta terhadap pekerjaan, mempuyai pandangan ke depan,
mampu mengatasi peroalan dengan lingkungan yang berubahubah,
mempuyai kontrobusi yang positif terhadap lingkunganya, memiliki
kekuatan untuk mewujudkan potensinya.
Sumber Daya Manusia yang baik harus memiliki kinerja dan
produktivitas yang baik, ketika Sumber Daya Manusia tersebut semangat
dalam bekerja maka kontribusi yang diberikan kepada perusahaan dapat
maksimal. Namun sebaliknya jika Sumber Daya Manusia yang telah
diberdayakan dalam suatu perusahaan atau organisasi tidak mendapatkan
imbalan yang sesuai dengan harapan, maka output yang dihasilkan tidak
maksimal.
Indikator Kompensasi
Henry Simamora (2014:74) indikator untuk mengukur kompensasi karyawan
diantaranya sebagai berikut :
1. Upah dan gaji
Upah pada umumnya berhubungan dengan tarif gaji per jam dan gaji
biasanya berlaku untuk tarif bayaran tahunan, bulanan atau mingguan.
2. Insentif
Insentif tambahan kompensasi di luar gaji atau upah yang diberikan oleh
perusahaan.
3. Tunjangan
Tunjangan asuransi kesehatan dan jiwa, program pensiun, yang
berkaitan dengan hubungan kepegawaian.
4. Fasilitas
Pada umumnya berhubungan dengan kenikmatan seperti mobil
perusahaan, akses ke pesawat perusahaan, dan tempat parkir khusus.
Dessler (2012:46) menjelaskan terdapat tiga indikator utama yang dapat
digunakan untuk mengukur kompensasi, yaitu :
1. Kompensasi Finansial Langsung
Kompensasi ini terdiri dari bayaran yang diterima seseorang dalam
bentuk upah, gaji, komisi, dan bonus.
2. Kompensasi Finansial Tidak Langsung
Kompensasi ini meliputi beragam imbalan atau tunjangan yang biasanya
diterima secara tidak langsung oleh karyawan. Kompensasi finansial
tidak langsung terdiri dari jaminan sosial, tunjangan pengangguran, cuti
keluarga, asuransi jiwa dan bayaran premium.
3. Kompensasi Non-Finansial
Kompensasi non-finansial meliputi kepuasan yang diterima seseorang
dari pekerjaan itu sendiri atau lingkungan psikologis dan tempat orang
tersebut bekerja.
Jenis-Jenis Kompensasi
Sofyandi (2013:160) berpendapat bahwa kompensasi tidak selalu berbentuk
uang tetapi dapat juga berupa uang. Kompensasi dapat dikategorikan menjadi
dua, yaitu :
1. Kompenasasi langsung (direct compensation)
Kompensasi langsung adalah balas jasa yang diberikan perusahaan
kepada karyawan karena telah memberikan prestasinya demi
kepentingan perusahaan. Contoh : upah/gaji, insentif/bonus.
2. Kompensasi tidak langsung (indirect compensation)
Kompensasi tidak langsung merupakan pemberian kompensasi kepada
karyawan sebagai tambahan yang didasarkan kepada kebijakan
pimpinan dalam rangka upaya meningkatkan kesejahteraan karyawan.
Contoh : fasilitas dan pelayanan yang diberikan perusahaan, tunjangan
hari raya, dan tunjangan kesehatan.
Tujuan Kompensasi
Sofyandi (2013:162) barpendapat bahwa terdapat tujuan diadakannya
pemberian kompensasi sebagai berikut :
1. Untuk menjalin ikatan kerjasama antara pemimpin dengan karyawan.
2. Memberikan kepuasan kepada karyawan.
3. Untuk memotivasi karyawan dalam bekerja.
4. Untuk menciptakan disiplin kerja bagi karyawan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kompensasi
Sofyandi (2013:162) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi
kompensasi adalah :
1. Adanya permintaan dan penawaran tenaga kerja.
Apabila permintaan tenaga kerja datang dari pihak perusahaan maka
secara otomatis kompensasi relatif tinggi, sebaliknya apabila individu
yang membutuhkan pekerjaan maka kompensasi relatif lebih rendah.
2. Produktivitas kerja/ prestasi kerja karyawan.
Kemampuan karyawan dalam menghasilkan prestasi kerja akan sangat
mempengaruhi besarnya kompensasi yang akan diterima.
3. Posisi atau jabatan karyawan.
Tingkat jabatan karyawan akan mempengaruhi besarnya kompensasi,
selain itu berat ringannya bebas dan tanggung jawab suatu pekerjaan
pun mempengaruhi kompensasi.
4. Tingkat pendidikan dan pengalaman kerja
Semakin tinggi pendidikan karyawan dan semakin banyak pengalaman
kerja, maka semakin tinggi kompensasinya.
5. Organisasi karyawan
Eksistensi karyawan dalam perusahaan akan membuat karyawan
membentuk suatu ikatan dalam rangka proteksi atas kesemena-menaan
pimpinan, maka akan muncul rasa yang menyatakan bahwa perusahaan
tidak akan bisa mencapai tujuannya tanpa adanya karyawan. Hal ini
dapat mempengaruhi besarnya kompensasi.
Mangkunegara (2016:84) ada enam faktor yang mempengaruhi kebijakan
kompensasi, yaitu :
1. Faktor Pemerintah
Peraturan pemerintah yang berhubungan dengan penentu standar gaji
minimal, pajak penghasilan, penetapan harga, sangat mempengaruhi
perusahaan dalam menentukan kebijakan kompensasi pegawai.
2. Penawaran Bersama antara Perusahaan dan Pegawai
Kebijakan dalam menentukan kompensasi dapat dipengaruhi pada saat
terjadinya tawar menawar mengenai besarnya upah yang harus
diberikan oleh perusahaan dalam merekrut pegawai yang mempunyai
keahlian dalam bidang tertentu yang sangat dibutuhkan diperusahaan.
3. Standar Biaya Hidup Pegawai
Kebijakan kompensasi perlu dipertimbangkan standar biaya hidup
minimal pegawai. Hal ini karena kebutuhan dasar pegawai harus
terpenuhi. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar pegawai dan
keluarganya, maka pegawai akan merasa aman.
4. Ukuran Perbandingan Upah
Kebijakan dalam menentukan kompensasi dipengaruhi oleh ukuran
besar kecilnya perusahaan, tingkat pendidikan dan masa kerja pegawai.
Artinya, perbandingan tingkat upah pegawai perlu memperhatikan
tingkat pendidikan, masa kerja, dan ukuran perusahaan.
5. Permintaan dan Persediaan
Dalam menentukan kebijakan kompensasi pegawai perlu
mempertimbangkan tingkat persediaan dan permintaan pasar.
6. Kemampuan Membayar
Dalam menentukan kebijakan kompensasi pegawai perlu didasarkan
pada kemampuan perusahaan dalam membayar upah pegawai
Pengertian Kompensasi
Sofyandi (2013: 159) kompensasi adalah suatu bentuk biaya yang harus
dikeluarkan oleh perusahaan dengan harapan bahwa perusahaan akan
memperoleh imbalan dalam bentuk prestasi kerja dari karyawan. Dalam
pemberian kompensasi berhubungan dengan semua jenis pemberian
penghargaan sebagai pertukaran dalam melakukan tugas organisasi.
Hasibuan (2015:118) kompensasi adalah sebuah pendapatan berbentuk uang,
barang langung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan jasa
yang diberikan kepada perusahaan. Karyawan yang diberikan kompensasi oleh
perusahaan dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan karena kompensasi
inilah yang akan dipergunakan karyawan beserta keluarganya untuk memenuhi
kebutuhan- kebutuhannya.
Henry Simamora (2015:315) kompensasi adalah bentuk penghargaan atau
ganjaran yang diberikan oleh organisasi atau perusahaan kepada para pekerja
yang memikul kewajiban dan tanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan.
Kewajiban dan tanggung jawab itu muncul karena antara dua belah pihak
terdapat hubungan kerja dalam organisasi atau perusahaan.
Indikator Motivasi
Hasibuan (2016:4) indikator untuk mengukur motivasi karyawan diantaranya
sebagai berikut :
1. Kebutuhan Fisik
Ditunjukkan dengan pemberian gaji, pemberian bonus, uang makan,
uang transport, fasilitas perumahan, libur dan cuti dan sebagainya.
2. Kebutuhan Sosial
Ditunjukkan dengan melakukan interaksi dengan orang lain yang
diantaranya untuk diterima dalam kelompok dan kebutuhan untuk
dicintai dan mencintai.
3. Kebutuhan Akan Penghargaan
Ditunjukkan dengan pengakuan dan penghargaan berdasarkan
kemampuannya, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh
karyawan lain dan pimpinan terhadap prestasi kerja.
4. Kebutuhan Perwujudan Diri
Ditunjukkan dengan sifat pekerjaan yang menarik dan menantang,
dimana karyawan tersebut akan mengerahkan kecakapan, kemampuan
dan potensinya.
Prinsip-Prinsip Dalam Motivasi
Terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi kerja karyawan, menurut
Mangkunegara (2015:100) adalah :
1. Prinsip Partisipasi
Dalam upaya memotivasi karyawan perlu diberikan kesempatan ikut
berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh
pemimpin.
2. Prinsip Komunikasi
Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan
dengan usaha pencapaian tugas, dengan inforasi yang jelas, karyawan
lebih mudah dimotivasi kerjanya.
3. Prinsip Pendelegasian Wewenang
Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada karyawan
bawahan untuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap
pekerjaan yang dilakukannya, akan membuat mencapai tujuan yang
diharapkan oleh pemimpin.
4. Prinsip Memberi Perhatian
Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang diinginkan
karyawan bawahan, akan memotivasi karyawan bekerja apa yang
diharapkan oleh pemimpin
Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi
Sutrisno (2011:116-120) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi
motivasi adalah :
a. Faktor Internal (berasal dari dalam diri karyawan) yang dapat
mempengaruhi motivasi tersebut mencakup antara lain :
1. Keinginan untuk dapat hidup.
Memperoleh kompensasi yang memadai, pekerjaan yang tetap
walaupun penghasilan tidak begitu memadai.
2. Keinginan untuk dapat memiliki.
Keinginan karyawan untuk dapat memiliki suatu benda, contohnnya :
motor, dengan adanya motor tersebut dapat mendorong seseorang
untuk mau melakukan pekerjaan.
3. Keinginan untuk memperoleh penghargaan
Keinginan untuk diakui, dihormati, dan menjaga nama baik
karyawan.
b. Faktor Eksternal (barasal dari luar diri karyawan) yang mempengaruhi
pemberian motivasi pada diri seseorang, antara lain :
1. Lingkungan kerja yang menyenangkan.
Pemimpin perusahaan yang mempunyai kreatifitas yang tinggi
mampu menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan bagi para
karyawan.
2. Adanya jaminan pekerjaan.
Karyawan akan bekerja secara sungguh-sungguh mengorbankan apa
saja yang ada pada diri karyawan untuk perusahaan dengan menjamin
karier yang jelas terhadap karyawan.
3. Peraturan yang fleksibel.
Perusahaan yang fleksibel bagi perusahaan besar, biasanya sudah
ditetapkan sistem dan prosedur kerja yang harus dipatuhi oleh
seluruh karyawan. Sistem dan prosedur ini dapat disebut dengan
peraturan yang berlaku dan melindungi karyawan.
Pengertian Motivasi
Hartatik (2014:159) motivasi adalah sebagai kekuatan seseorang yang dapat
menimbulkan tingkat ketekunan dan antusias dalam melaksanakan suatu
kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri (motivasi internal) maupun
motivasi dari luar (motivasi eksternal). Karyawan sangat membutuhkan motivasi
baik dari dalam diri ataupun dari luar sebagai sumber kekuatan bagi karyawan.
Hasibuan (2011:141) motivasi adalah kemauan untuk berjuang atau berusaha
ketingkat yang lebih tinggi menuju tercapainya tujuan organisasi dengan syarat
tidak mengabaikan kemampuannya untuk memperoleh kepuasan dalam
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pribadi.
Wibowo (2013:81) berpendapat bahwa motivasi merupakan serangkaian
proses yang membangkitkan, mengarahkan, dan menjaga perilaku manusia
menuju pada pencapaian tujuan. Karyawan akan semakin semangat dalam
bekerja apabila mendapat motivasi dari atasan atau perusahaan.
Indikator Disiplin Kerja
Sutrisno (2016:94) mengatakan bahwa untuk dapat mengukur disiplin kerja
sangat diperlukan suatu indikator yaitu sebagai berikut:
1. Taat terhadap aturan waktu.
Tepat waktu sesuai dengan aturan yang berlaku diperusahaan. Seperti,
jam masuk kerja, jam pulang kerja dan jam istirahat.
2. Taat terhadap peraturan perusahaan.
Peraturan dasar tentang cara berpakaian dan bertingkah laku dalam
pekerjaan.
3. Taat terhadap aturan perilaku dalam pekerjaan.
Melakukan pekerjaan-pekerjaan sesuai dengan jabatan, tugas, dan
tanggung jawab dengan unit kerja lain.
4. Taat terhadap peraturan lainnya.
Aturan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh
para pegawai dalam perusahaan.
Sastrohadiwiryo (2013:291) mengatakan bahwa untuk dapat mengukur
disiplin kerja sangat diperlukan suatu indikator yaitu sebagai berikut :
1. Frekuensi kehadiran
2. Tingkat kewaspadaan
3. Ketaatan pada standar kerja
4. Ketaatan pada peraturan kerja
5. Etika kerja
Tujuan Disiplin Kerja
Kedisiplinan dapat diartikan bilamana karyawan dapat mematuhi,
menghormati dan menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial
yang berlaku. Bila kedisiplinan tersebut berjalan dengan baik maka efisiensi dan
efektifitas kerja karyawan dapat meningkat di perusahaan. Sutrisno (2016:126)
mengemukakan bahwa tujuan disiplin kerja, antara lain :
1. Tingginya rasa kepedulian karyawan terhadap pencapaian tujuan
perusahaan.
2. Tingginya semangat dan gairah kerja dan inisiatif para karyawan untuk
melaksanakan pekerjaan.
3. Besarnya rasa tanggung jawab pada karyawan untuk melaksanakan tugas
dengan sebaik-baiknya
Bentuk-Bentuk Disiplin Kerja
Ada dua bentuk disiplin kerja menurut Mangkunegara (2017:129) yaitu
disiplin preventif dan disiplin korektif :
1. Disiplin Preventif
Disiplin preventif adalah suatu upaya untuk menggerakkan pegawai
mengikuti dan memenuhi pedoman kerja, aturan-aturan yang telah
digariskan oleh perusahaan. Tujuan dasarnya adalah untuk menggerakkan
pegawai berdisiplin diri. Dengan cara preventif, pegawai dapat
memelihara dirinya terhadap peraturan-peraturan perusahaan. Disiplin
preventif merupakan suatu sistem yang berhubungan dengan kebutuhan
kerja untuk semua bagian sistem yang ada dalam organisasi. Jika sistem
organisasi baik, maka diharapkan akan lebih mudah menegakkan disiplin
kerja.
2. Disiplin Korektif
Disiplin korektif adalah suatu upaya menggerakkan pegawai dalam
menyatukan suatu peraturan dan mengarahkan untuk tetap mematuhi
peraturan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tujuan pemberian sanksi
adalah untuk memperbaiki pegawai pelanggar, memelihara peraturan
yang berlaku dan memberikan pelajaran kepada pelanggar
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Disiplin Kerja
Hasibuan (2017:194) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi
disiplin kerja adalah :
1. Tujuan dan Kemampuan
Tujuan dan kemampuan ikut memperhatikan tingkat kedisiplinan
pegawai. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara
ideal serta cukup menantang bagi kemampuan pegawai.
2. Teladan Pimpinan
Teladan pimpinan sangat berperan dalam menentukan kedisiplinan
pegawai karena pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para
bawahannya.
3. Balas jasa
Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi kedisiplinan
pegawai karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan
pegawai terhadap instansi/pekerjaannya. Jika kecintaan pegawai semakin
baik terhadap pekerjaan, disiplin mereka akan semakin baik pula.
4. Keadilan
Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan pegawai, karena ego
dan sikap manusia yang merasa dirinya penting dan minta diperlakukan
sama dengan manusia lainnya.
5. Sanksi Hukum
Sanksi hukum berperan penting dalam memelihara kedisiplinan pegawai.
Dengan sanksi hukuman yang semakin berat, pegawai akan semakin takut
untuk melanggar peraturan-peraturan instansi. Sikap dan perilaku
indisipliner pada pegawai akan berkurang
Pengertian Disiplin Kerja
Sutrisno (2014:86) disiplin kerja adalah sikap kesediaan dan kerelaan
seseorang untuk mematuhi dan menaati norma-norma peraturan yang berlaku
disekitarnya. Dengan adanya sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk
mematuhi dan menaati peraturan yang ada diperusahaan akan berpengaruh
terhadap semua karyawan sehingga dapat meningkatkan disiplin kerja karyawan.
Sastrohadiwiryo (2013:291) disiplin kerja adalah suatu sikap menghormati,
menghargai, patuh, dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku, baik
yang tertulis maupun tidak tertulis serta sangggup menjalankannya dan tidak
mengelak untuk menerima sanksi-sanksinya apabila ia melanggar tugas dan
wewenang yang diberikan kepadanya.
Hasibuan (2013:193) kedisiplinan merupakan fungsi operatif manajemen
sumber daya manusia yang sangat penting. Karena semakin baik disiplin kerja
seorang karyawan maka akan semakin tinggi pula prestasi kerja yang dapat
diraihnya.
Indikator Produktivitas Kerja
Sutrisno (2016:104), mengatakan bahwa untuk dapat mengukur
produktivitas kerja sangat diperlukan suatu indikator, yaitu sebagai berikut :
1. Kemampuan
Mempunyai kemampuan didalam melaksanakan tugas, disini seorang
karyawan sangat bergantung kepada keterampilan yang dimiliki serta
profesionalisme mereka dalam bekerja.
2. Meningkatkan Hasil Yang Dicapai
Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil merupakan salah
satu yang dapat dirasakan baik oleh yang mengerjakan maupun yang
menikmati hasil pekerjaan tersebut.
3. Semangat Kerja
Hal ini merupakan suatu usaha untuk lebih baik dari hari kemarin.
4. Pengembangan Diri
Pengembangan diri dapat dilakukan dengan melihat tantangan dan
harapan dengan apa yang dihadapi.
5. Efisiensi
Perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya
yang digunakan.
Sinungan (2011:15) mengatakan untuk dapat mengukur produktivitas kerja
sangat diperlukan suatu indikator, yaitu :
1. Jumlah karyawan
Yang dimaksud adalah jumlah tenaga kerja yang digunakan perusahaan
dalam produksi. Jumlah produksi yang diperoleh tenaga kerja untuk
menunjukkan produktivitas tenaga kerja.
2. Jumlah hasil produksi yang dicapai
Besarnya hasil produksi yang dicapai setiap penggunaan tenaga kerja
untuk mencapai hasil tersebut.
3. Jumlah jam kerja per tenaga kerja
Jumlah jam kerja yang dapat digunakan atau dilaksanakan oleh setiap
tenaga kerja.
4. Moral kerja karyawan
Moral kerja yang baik dari karyawan akan mengakibatkan semangat kerja
yang tinggi sehingga akan mempengaruhi produktivitas.
Manfaat Pengukuran Produktifitas Kerja Karyawan
Hasibuan (2013:102), menyatakan manfaat pengukuran produktivitas dalam
suatu organisasi perusahaan antara lain :
1. Perusahaan dapat menilai efisiensi konversi sumber dayanya, agar dapat
meningkatkan produktivitas melalui efisiensi penggunaan sumber-sumber
daya itu.
2. Perencanaan sumber-sumber daya akan lebih efektif dan efisien melalui
pengukuran produktivitas, baik dalam perencanaan jangka pendek
maupun jangka panjang.
3. Tujuan ekonomis dan non ekonomis dari perusahaan dapat
diorganisasikan kembali dengan cara memberikan prioritas tertentu yang
dipandang dari sudut produktivitas.
4. Perencanaa target tingkat produktivitas dimasa mendatang dapat
dimodifikasi kembali berdasarkan informasi pengukuran tingkat
produktivitas sekarang.
5. Nilai-nilai produktivitas yang dihasilkan dari suatu pengukuran dapat
menjadi informasi yang berguna untuk merencanakan tingkat keuntungan
dari perusahaan tersebut.
6. Pengukuran produktivitas akan memberikan motivasi kepada orang-orang
untuk bekerja lebih baik
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja
Sedarmayanti (2014:229) faktor – faktor yang mempengaruhi produktivitas
kerja adalah :
1. Motivasi
Orang yang mempunyai motivasi kerja yang tinggi akan bekerja dengan
rajin, giat sehingga ia dapat mencapai satu prestasi kerja yang tinggi.
2. Disiplin Kerja
Orang yang mempunyai disiplin kerja yang tinggi akan bertanggung
jawab terhadap tugas – tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini akan
mendorong semangat kerja dan mendukung terwujudnya tujuan
perusahaan.
3. Etos Kerja
Orang yang mempunyai etos kerja yang baik tampak dalam penampilan
kerja sehari-hari berupa kerjasama, kehadiran, tanggung jawab terhadap
pekerjaan, dan kreativitas. Wujud tersebut akan memberikan pengaruh
yang sangat besar terhadap pencapaian produktivitas kerja karyawan
yang optimal dan mampu memenuhi harapan atau bantuan pencapaian
tujuan perusahaan.
4. Kompensasi
Sesuatu yang diterima para karyawan sebagai balas jasa atau kerja yang
diberikannya kepada perusahaan.
5. Pendidikan
Orang yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan memiliki wawasan
yang lebih luas, terutama penghayatan akan pentingnya produktivitas.
6. Keterampilan
Pada aspek tertentu, pegawai yang semakin terampil akan lebih mampu
bekerja serta menggunakan fasilitas kerja dengan baik.
7. Gizi dan Kesehatan
Apabila karyawan dapat dipenuhi kebutuhan gizinya dan berbadan
sehat, ia akan lebih kuat bekerja.
8. Lingkungan dan Iklim Kerja
Lingkungan dan iklim kerja yang baik akan mendorong karyawan untuk
senang bekerja dan meningkatkan rasa tanggung jawab untuk
melakukan pekerjaan dengan baik sehingga terarah dalam peningkatan
produktivitas kerja.
9. Teknologi
Teknologi yang tepat akan meningkatkan jumlah produksi yang
dihasilkan dan bermutu serta memperkecil terjadinya pemborosan bahan
sisa.
10. Kesempatan Berprestasi
Apabila terbuka kesempatan dalam berprestasi akan menimbulkan
dorongan psikologis untuk meningkatkan potensi yang dimiliki untuk
meningkatkan produktivitas.
Pengertian Produktivitas Kerja
Sinungan (2014:12) produktivitas kerja adalah ukuran dari kualitas dan
kuantitas dari pekerjaan yang telah dikerjakan, dengan mempertimbangkan biaya
sumber daya yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan.
Sutrisno (2014:98), produktivitas kerja adalah suatu konsep yang
menunjukan adanya kaitan antara hasil kerja dengan satuan waktu yang
dibutuhkan untuk menghasilkan produk seorang tenaga kerja.
Sedarmayanti (2011:57) produktivitas kerja adalah meningkatkan hasil
barang dan jasa setinggi mungkin dengan memanfaatkan sumber daya secara
efisien.
Upaya peningkatan produktivitas
Menurut Siagian dalam Sutrisno (2009), upaya untuk
meningkatkan produktivitas, antara lain :
1. Perbaikan terus menerus
Dalam upaya peningkatan produktivitas kerja, salah satu
implikasinya adalah bahwa seluruh komponen organisasi
harus melakukan perbaikan secara terus menerus.
Pandangan ini bukan hanya merupakan salah satu etos kerja
yang penting sebagai bagian dari filsafat manajemen
mutakhir. Pentingnya etos kerja ini terlihat dengan lebih
jelas apalagi diingat bahwa suatu organisasi selalu
dihadapkan kepada tuntutan yang terus – menerus berubah,
baik secara internal maupun eksternal. Tambahan pula, ada
ungkapan yang mengatakan bahwa satu – satunya hal yang
konstan di dunia adalah perubahan. Secara internal,
perubahan yang terjadi adalah perubahan strategi
organisasi, perubahan pemanfaatan teknologi, perubahan
kebijaksanaan, dan perubahan dalam praktik – praktik SDM
sebagai akibat diterbitkan perundang – undangan baru oleh
pemerintah dan berbagai faktor lain yang tertuang dalam
berbagai keputusan manajemen. Adapun perubahan
eksternal adalah perubahan yang terjadi dengan cepat
karena dampak tindakan suatu organisasi yang dominan
peranannya di masyarakat.
2. Peningkatan mutu hasil pekerjaan
Berkaitan erat dengan upaya melakukan perbaikan secara
terus menerus ialah peningkatan mutu hasil pekerjaan oleh
semua orang dan segala komponen organisasi. Padahal,
mutu tidak hanya berkaitan dengan produk yang dihasilkan
dan dipasarkan, baik berupa barang maupun jasa, akan
tetapi menyangkut segala jenis kegiatan dimana organisasi
terlibat. Berarti mutu menyangkut semua jenis kegiatan
yang diselenggarakan oleh semua satuan kerja, baik
pelaksana tugas pokok maupun pelaksana tugas penunjang,
dalam organisasi. Peningkatan mutu tersebut tidak hanya
penting secara internal, akan tetapi juga secara eksternal
karena akan tercermin dalam interaksi organisasi dengan
lingkungannya yang pada gilirannya turut membentuk citra
organisasi di mata berbagai pihak di luar organisasi. Jika
ada organisasi yang mendapat penghargaan dalam bentuk
ISO 9000, misalnya penghargaan itu diberikan bukan hanya
karena keberhasilan organisasi meningkatkan mutu
produknya, akan tetapi karena dinilai berhasil
meningkatkan mutu semua jenis pekerjaan dan proses
manajerial dalam organisasi yang bersangkutan.
3. Pemberdayaan SDM
Bahwa SDM merupakan unsur yang paling strategis dalam
organisasi. Karena itu, memberdayakan SDM merupakan
etos kerja yang sangat mendasar yang harus dipegang teguh
oleh semua eselon manajemen dalam hierarki organisasi.
Memberdayakan SDM mengandung berbagai kiat seperti
mengikuti harkat dan martabat manusia, perkaryaan mutu
kekaryaan dan penerapan gaya manajemen yang partisipatif
melalui proses demokratisasi dalam kehidupan
berorganisasi.
Indikator produktivitas kerja karyawan
Produktivitas yang meningkat akan memudahkan perusahaan
mencapai tujuan yang inginkan. Oleh karena itu perusahaan harus
memperhatikan dengan baik produktivitas kerja karyawan.
Untuk mengetahui produktivitas kerja karyawan meningkat
atau tidak diperlukan penilaian produktivitas. Penilaian produktivitas
dapat dilakukan dengan melihat beberapa indikator.
Menurut Burhanuddin Yusuf (2015) produktivitas dapat diukur
melalui beberapa faktor yaitu sebagai berikut:
1. Pengetahuan, konsep pengetahuan lebih berorientasi pada
inteligensi, daya pikir dan penguasaan ilmu. Pengetahuan
merupakan akumulasi hasil proses pendidikan baik yang diperoleh
secara formal maupun non – formal yang memberikan kontribusi
pada seseorang didalam pemecahan masalah, termasuk dalam
melakukan atau menyelesaikan pekerjaan, sehingga seorang
karyawan diharapkan mampu melakukan pekerjaan secara
produktif.
2. Keterampilan, yaitu kemampuan dan penguasaan teknis
operasional mengenai bidang tertentu yang bersifat kekaryaan.
Keterampilan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
melakukan atau menyelesaikan pekerjaan yang bersifat teknis.
Dengan kemampuan yang dimiliki seorang karyawan diharapkan
mampu menyelesaikan pekerjaan secara produktif.
3. Kemampuan, konsep ini jauh lebih luas karena dapat mencakup
sejumlah kompetensi. Pengetahuan dan keterampilan termasuk
faktor pembentuk kemauan.
4. Sikap, merupakan suatu kebiasaan yang dimiliki pola. Pola tersebut
memiliki implikasi positif dalam hubungan dengan perilaku kerja
seseorang. Perilaku manusia ditentukan oleh sikap – sikap yang
telah tertanam dalam diri karyawan sehingga dapat mendukung
kerja yang efektif.
Menurut Edy Sutrisno (2017), indikator produktivitas antara lain :
1. Kemampuan
2. Meningkatkan hasil yang dicapai
3. Semangat kerja
4. Pengembangan diri
5. Mutu
6. Efisiensi
Faktor – Faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan
Untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan, maka
perusahaan perlu memperhatikan faktor – faktor yang dapat
mempengaruhi produktivitas kerja karyawan.
Terdapat banyak teori yang memuat tentang faktor – faktor
yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Oleh karena itu
peneliti akan mengutip beberapa teori mengenai faktor – faktor
yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan.
Menurut Simanjuntak dalam Sutrisno (2017:103), faktor –
faktor yang mempengaruhi produktivitas, yaitu :
1. Pelatihan
2. Mental dan kemampuan fisik karyawan
3. Hubungan antara atasan dan bawahan
Menurut Anoraga dalam Busro (2018:346-348), faktor – faktor
yang mempengaruhi produktivitas, antara lain :
1. Motivasi kerja karyawan
2. Pendidikan
3. Disiplin kerja
4. Keterampilan
5. Sikap etika kerja
6. Kemampuan kerja sama
7. Gizi dan kesehatan
8. Tingkat penghasilan
9. Lingkungan kerja dan iklim kerja
10. Kecanggihan teknologi yang digunakan
11. Faktor – faktor produksi yang memadai
12. Jaminan sosial
13. Manajemen dan kepemimpinan
14. Kesempatan berprestasi
Pengertian Produktivitas kerja karyawan
Produktivitas mengandung pengertian yang berbeda – beda
dikalangan para ahli. Untuk memperdalam pengertian mengenai
produktivitas, dibawah ini peneliti mengutip beberapa pengertian
produktivitas dari berbagai persepsi para ahli.
Menurut Tohardi dalam Sutrisno (2017:100), produktivitas kerja
merupakan sikap mental. Sikap mental yang selalu mencari perbaikan
terhadap apa yang telah ada. Suatu keyakinan bahwa seseorang dapat
melakukan pekerjaan lebih baik hari ini daripada hari kemarin dan hari
esok lebih baik daripada hari ini.
Sedangkan menurut Hasibuan dalam Busro (2018:340),
produktivitas adalah perbandingan antara output (hasil) dengan input
(masukan). Jika produktivitas naik akan meningkatkan efisiensi (waktubahan-tenaga) dan sistem kerja, teknik produksi dan adanya
peningkatan keterampilan dari tenaga kerjanya.
Menurut Kussrianto dalam Sutrisno (2017:102), mengemukakan
bahwa produktivitas adalah perbandingan antara hasil yang dicapai
dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu. Peran serta tenaga
kerja disini adalah penggunaan sumber daya serta efektif dan efisien.
Menurut Sinungan dalam Busro (2018:344), produktivitas kerja
merupakan kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk
menghasilkan barang dan jasa dalam waktu tertentu yang telah
ditentukan atau sesuai dengan rencana. Kemampuan disini menurut
peneliti bisa diartikan sebagai kemampuan fisik atau bisa juga disebut
kemampuan keterampilan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia
keterampilan diartikan sebagai kecakapan untuk menyelesaikan tugas.
Menurut Riyanto dalam Elbandiansyah (2019:250), secara
teknis produktivitas adalah suatu perbandingan antara hasil yang
dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang diperlukan
(input). Produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara
hasil yang dicapai dengan peran tenaga kerja persatuan waktu.
Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Mediasi
Herzberg menyatakan bahwa untuk menciptakan kepuasan kerja karyawan tidak
hanya sekedar dengan memberikan gaji yang baik dan kondisi kerja yang baik, tetapi
diperlukan adanya suatu pekerjaan yang beragam, yang menawarkan kesempatan
individu untuk berprestasi, adanya pengakuan, tanggung jawab, rangsangan dan
kemajuan. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 22-26 Juli
2019, ditemukan bahwa guru-guru Royal Kingdom Academy memiliki kepuasan
kerja dengan menunjukkan bahwa mereka bertanggung jawab penuh atas waktu,
pekerjaan dan memiliki hubungan baik dengan orang tua murid. Hal ini menunjukkan
bahwa guru dapat berkomitmen secara emosional. Berdasarkan hasil penelitian
Irawan dan Sudarma (2016) dapat disimpulkan bahwa variabel kepuasan kerja
terbukti mempunyai pengaruh mediasi hubungan keadilan distributif dan keadilan
prosedural pada komitmen afektif pada karyawan di PT Tanjung Kreasi Parquet
Industry (TKPI) Temanggung. Kristanti dkk (2019) dalam penelitiannya menyatakan
bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap komitmen afektif, dan
kepuasan kerja berperan sebagai mediasi terhadap komitmen afektif.
Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Komitmen Afektif
Allen & Meyer (1990) mengungkapkan bahwa setiap komponen memiliki dasar yang
berbeda. Individu yang memiliki komitmen afektif tinggi masih bergabung dengan
organisasi karena keinginan untuk tetap menjadi anggota. Dengan ini, dapat
diasumsikan bahwa jika seorang individu ingin tetap menjadi anggota, maka terdapat
kepuasan kerja yang terlibat dalam komitmen afektif individu tersebut. Tidak akan
mudah bagi seorang individu untuk bisa memiliki komitmen afektif jika dia tidak
memiliki kepuasan kerja pada organisasi tersebut. Hal ini dibuktikan dari penelitian
yang dilakukan oleh Masripah (2016) yang menyatakan bahwa kepuasan kerja
memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen afektif karyawan di
perusahaan swasta. Hartono dkk (2015) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa
Kepuasan Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Komitmen Afektif
Pengaruh Spiritualitas Tempat Kerja Terhadap Kepuasan Kerja
Robbins (2013) menyatakan bahwa workplace spirituality mengabungkan
keseluruhan pembahasan menganai etika, motivasi, nilai, keseimbangan kerja dan
kepemimpinan secara utuh dan holistik. Keseimbangan kerja dapat menimbulkan
kepuasan kerja karena seorang individu akan merasa nyaman jika terjadi
keseimbangan dalam pekerjaan. Jika etika, motivasi dan nilai utuh, maka dapat
memunculkan atmosfir kekeluargaan pada lingkungan organisasi sekolah. Robbins
(2015) juga menyatakan dalam teori evaluasi kognitif bahwa suatu versi dari teori
penentuan nasib sendiri yang berpegang teguh pada mengalokasikan imbalan secara
ekstrinsik atas perilaku yang sebelumnya telah memperoleh imbalan secara intrinsik
yang cendrung pada penurunan keseluruhan tingkat motivasi jika imbalan terlihat
sebagai pengendalian. Kekeluargaan dapat memunculkan kepuasan kerja pada guru.
Hal ini dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Mengko dan Sambeka (2018)
yang menyatakan bahwa spirituakitas kerja berpengaruh positif langsung terhadap
kepuasan kerja dosen. Wulandari (2017) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa
spiritualitas di tempat kerja pada kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan
Pengaruh Spiritualitas Tempat Kerja Terhadap Komitmen Afektif
Robbins (2013) menyatakan bahwa spiritualitas tempat kerja mengabungkan
keseluruhan pembahasan menganai etika, motivasi, nilai, keseimbangan kerja dan
kepemimpinan secara utuh dan holistik. Etika, nilai dan kepemimpinan dapat
mempengaruhi komitmen afektif seorang individu. Karena terjadinya komitmen
afektif disebabkan oleh kesamaan nilai, kecocokan dengan kepemimpinan, dan tujuan
– Uji Analisis
Jalur
– Uji t
yang sama. Tischler (2002) mengatakan bahwa spiritualitas mirip atau dengan suatu
cara, berhubungan dengan emosi atau perilaku dan sikap tertentu dari seorang
individu. Menjadi seorang yang spiritual berarti menjadi seorang yang terbuka,
memberi, dan penuh kasih. Kegiatan spiritualitas memicu hubungan emosional yang
lalu dapat memunculkan komitmen afektif pada guru. Hal ini dibuktikan dari
penelitian yang dilakukan oleh Prakoso, Susilo dan Aini (2018) yang menyatakan
bahwa spiritualitas ditempat kerja berpengaruh terhadap komitmen afektif melalui
dimensi Meaningful Work (Pekerjaan yang bermakna), Sense of Community (Rasa
memiliki komunitas), dan Alignment with Organizational Value (Kesederajatan
dengan nilai-nilai organisasional). Penelitian juga dilakukan oleh Nurmayanti (2018)
yang menyatakan bahwa spiritualitas di tempat kerja memiliki efek positif dan
signifikan pada komitmen afektif
Indikator Kepuasan Kerja
Menurut Handoko (1993) indikator kepuasan kerja adalah sebagai berikut:
1. Kondisi organisasi sekolah
Merupakan lingkungan, tujuan organisasi sekolah, visi, misi, kejelasan tugas
dan peran dalam organisasi sekolah.
2. Kondisi pekerjaan
Kelayakan fasilitas, kenyamanan ruang kerja, dan pekerjaan yang sesuai
Deskripsi.
3. Gaji/insentif
Kompensasi/ bentuk imbalan dari kinerja yang dilakukan oleh karyawan
4. Supervisi kepala sekolah
Bentuk pengawasan, bimbingan, dan arahan dari pimpinan sekolah kepada
guru/karyawan
5. Hubungan guru dengan rekan kerja
Kekompakan, keterikatan emosional, dan interaksi yang terjadi sehari-hari pada
lingkungan sekolah.
6. Serta promosi jabatan
Bentuk peningkatan karir pada output kinerja yang dilakukan guru/karyawan
Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kepuasan Kerja
1 Faktor-faktor Ekstrinsik
Faktor-faktor ekstrinsik adalah faktor yang berpengaruh terhadap kepuasan kerja
yang bersumber pada kondisi di luar pekerjaan. Faktor ekstrinsik atau extrinsic
factors menurut Mangkunegara (2006:122) hakekatnya adalah faktor yang
berpengaruh terhadap pekerjaan dan merupakan sumber ketidakpuasan kerja. Faktor
tersebut disebut juga faktor pemeliharaan (maintenance factors) atau disebut pula
dissatisfiers, hygiene factors, job contexts, yang meliputi kebijakan administrasi,
kualitas pengawasan, hubungan dengan pengawasan, hubungan antar
pribadi dengan rekan sejawat, gaji, keamanan kerja, kondisi kerja, dan kedudukan.
Faktor ekstrinsik hakekatnya adalah sumber ketidakpuasan yang berasal dari luar
pekerjaannya, yang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku seseorang terhadap
pekerjaannya. Jika tidak terpenuhi faktor ini, karyawan tidak akan puas. Jika besaran
faktor ini memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pekerja tidak akan kecewa,
meskipun belum terpuaskan. Terpenuhinya faktor ini akan lebih berperan dalam
mengeliminasi ketidak puasan kerja dan dapat mencegah lingkungan kerja yang
kurang menguntungkan bagi suatu institusi. Implikasi sumber-sumber ketidakpuasan
kerja adalah apabila persepsi seseorang tentang sumber-sumber ketidakpuasan kerja
yang diharapkan sama dengan persepsinya tentang sumber-sumber kepuasan kerja
yang aktual terjadi, maka orang yang bersangkutan memiliki ketidakpuasan kerja
yang rendah. Apabila persepsi seseorang tentang sumber-sumber ketidakpuasan kerja
yang diharapkan lebih besar dari pada persepsinya tentang sumber-sumber
ketidakpuasan kerja yang aktual terjadi, maka orang yang bersangkutan akan
memiliki kepuasan kerja yang tinggi. Apabila persepsi seseorang tentang sumbersumber ketidakpuasan kerja yang diharapkan lebih besar dari pada persepsinya
tentang sumber-sumber ketidakpuasan kerja yang aktual terjadi, maka ketidakadilan
dan kegelisahan yang dirasakan orang yang bersangkutan. Menurut Anoraga
(1993:45), tujuh sumber ketidakpuasan kerja, yaitu tingkat kesejahteraan/gaji, tingkat
supervisi teknis, tingkat kebijakan administrasi, tingkat hubungan antar pribadi/rekan
kerja, tingkat kondisi kerja, tingkat keamanan kerja, dan tingkat status.
Kenyataan di lapangan menunjukkan indikasi bahwa faktor penting yang perlu diteliti
adalah faktor gaji/kesejahteraan, faktor hubungan antar pribadi/rekan kerja dan
tingkat mutu supervisi. Faktor-faktor lain kurang mendapat perhatian karena tidak
memberikan indikasi pengaruh yang dominan, dan diduga berpengaruh kostan
terhadap kepuasan kerja. Penelitian ini hanya akan manganalisis faktor-faktor
gaji/kesejahteraan, faktor hubungan antar pribadi/rekan kerja, dan faktor mutu
supervisi.
2 Faktor Gaji/Kesejahteraan
Mulyasa (1994:133) menyatakan bahwa gaji adalah pendapatan langsung dalam
bentuk uang sebagai kompensasi atas jasa yang dibayarkan oleh institusi secara
periodik kepada Pegawai Negeri Sipil dan mempunyai jaminan yang pasti,
kesejahteraan disebut juga kompensasi pelengkap atau gaji tersembunyi. Gaji dan
kesejahteraan adalah penghasilan seseorang sebagai sarana pemenuhan kebutuhan
pokok hidup dalam bentuk uang, barang dan atau fasilitas lain yang diterimanya
akibat suatu tugas pekerjaan yang akan dilakukan atau telah dilakukan sebagai
prasyarat agar bekerja lebih bersemangat dan lebih produktif. Gaji adalah hak bagi
pegawai dan kewajiban bagi institusi untuk membayarnya. Gaji merupakan salah satu
kebutuhan pokok setiap karyawan. Apabila kebutuhan ini terpenuhi maka kepuasan
pribadi yang bersangkutan akan terpenuhi. Tidak terpenuhinya kebutuhan pokok
tersebut akan menimbulkan ketidak puasan kerja dan menurunkan motivasi kerja dan
semangat kerja. Mulyasa (1994:133)
Kesejahteraan adalah balas jasa pelengkap baik material maupun non material yang
diberikan berdasarkan kebijaksanaan, bertujuan untuk mempertahankan dan
memperbaiki kondisi fisik dan mental pekerja agar produktivitasnya meningkat.
Kesejahteraan atau kompensasi pelengkap bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan
fisik dan mental pekerja agar termotivasi untuk tetap bekerja sampai pensiun,
menciptakan ketenangan, semangat kerja, dedikasi, disiplin dan sikap loyal terhadap
institusi. Mulyasa (1994:134).
Kepuasan gaji/kesejahteraan terdiri dari beberapa unsur, unsur yang paling
jelas adalah jumlah gaji yang diterima oleh seseorang. Pada umumnya motivasi
orang bekerja adalah untuk bisa memperoleh kepuasan berupa uang, karena uang
bisa digunakan untuk memuaskan semua tipe kebutuhan (Ranupandoyo & Husna
1989 dalam Harnanik, 2004:157). Perbedaan besaran gaji antara seorang karyawan
dengan karyawan lainnya sangat ditentukan oleh skala gaji berdasarkan masa kerja
dan pangkat/golongan masing-masing. Kenaikan besaran gaji bagi seluruh Pegawai
Negeri Sipil akibat kenaikan pangkat menggunakan dasar dan aturan yang sama,
sehingga tingkat kepuasan kerja karyawan dari berbagai tingkat golongan dan masa
kerja yang diakibatkan oleh itu diduga mempunyai tingkat kepuasan kerja yang tidak
berbeda Yowono (2005:68). Tingkat kepuasan kerja karyawan Puskesmas akan
ditentukan oleh gaji/ kesejahteraan ditinjau dari a) besaran gaji yang diterima setiap
bulan, b) sistem penggajian yang layak, c) besaran kenaikan gaji berkala yang
diterimakan setiap dua tahun sekali, d) besaran tunjangan fungsional, e) ketepatan
waktu penerimaan gaji bulanan.
3 Hubungan antar Pribadi/Rekan Kerja
Hubungan antara karyawan dengan rekan sekerja sangatlah penting artinya dalam
meningkatkan produktivitas kerja. Dukungan rekan sekerja atau kelompok kerja
dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi karyawan, karena merasa diterima dan
dibantu dalam memperlancar penyelesaian tugasnya. Sifat kelompok kerja akan
memiliki efek terhadap kepuasan kerja. Kepuasan kerja karyawan dapat ditingkatkan
melalui adanya jalinan hubungan yang baik dari semua pihak yang ada dalam
organisasi seperti adanya perhatian dari rekan kerja. Bersama dengan rekan kerja
yang ramah dan mendukung dapat merupakan sumber kepuasan bagi karyawan
secara individu. Kelompok kerja yang bagus dapat membuat kerja lebih
menyenangkan, sehingga kelompok kerja dapat menjadikan support, kesenangan,
nasehat, dan bantuan bagi seorang karyawan. (Yasin, 2002:462)
Tingkat kepuasan kerja karyawan Puskesmas akan ditentukan hubungan antar
pribadi/rekan kerja akan ditinjau dari a) adanya kompetisi yang sehat di lingkungan
organisasi karyawan Puskesmas; b) sejauh mana karyawan lain yang bekerja sama
akan memberikan dukungan yang cukup; c) kondisi kerja yang baik membuat rasa
nyaman dalam bekerja; d) semua saling bekerja sama dalam menyelesaikan
pelayanan/pekerjaan ; e) karyawan dapat bekerja sama, dengan orang yang
bertanggung jawab.
4 Faktor-Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor kondisi dalam pekerjaan sebagai sumber kepuasan kerja
yang berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Faktor intrinsik atau intrinsic factors,
menurut Mangkunegara (2006:122), hakekatnya adalah faktor yang berpengaruh
terhadap motivasi kerja seseorang, dan menjadi sumber kepuasan kerja. Faktor ini
disebut pula satisfiers, motivators, job content, yang meliputi dorongan berprestasi,
penghargaan/pengakuan, pekerjaan itu sendiri, kemajuan dan kesempatan
berkembang, dan tanggung jawab. Bila faktor tersebut terpenuhi, maka dapat
meningkatkan motivasi kerja seseorang, dan apabila faktor tersebut tidak terpenuhi
maka hal tersebut akan menurunkan motivasi kerja seseorang, kepuasan keja yang
rendah dan dapat menimbulkan rasa ketidakpuasan kerja yang tinggi. Lima faktor
kepuasan kerja yaitu prestasi kerja, pengakuan, tanggung jawab, kemampuan,
karakteristik pekerjaan dan peluang untuk bekembang/ promosi. Kenyataan di
lapangan menunjukkan indikasi bahwa faktor penting yang perlu diteliti adalah faktor
karakteristik pekerjaani dan faktor peluang untuk berkembang/ promosi. Faktorfaktor lain kurang mendapat perhatian karena tidak memberikan indikasi pengaruh
yang dominan, dan diduga berpengaruh konstan terhadap kepuasan kerja. Penelitian
ini hanya akan menganalisis faktor-faktor karakteristik pekerjaan dan faktor peluang
untuk berkembang/promosi.
5 Faktor Karakteristik Pekerjaan
Pekerjaan merupakan bagian hidup setiap orang. Secara definitif pekerjaan adalah
rumpun tugas yang dilaksanakan oleh pekerja untuk mencapai beberapa tujuan
organisasi. Karakteristik pekerjaan berhubungan dengan rancangan yang akan
diberikan kepada karyawan apakah pekerjaan tersebut banyak atau sedikit
menyediakan kesempatan bagi tenaga kerja untuk memuaskan kebutuhan mereka
yang berhubungan dengan pekerjaan. Karakteristik pekerjaan merupakan faktor yang
akan menggerakkan tingkat motivasi yang kuat, yang dapat menghasilkan prestasi
yang baik. Faktor karakteristik pekerjaan sangat berperan dalam menentukan
kepuasan kerja (Arnold dan Felman 1986 dalam Yuwono,2005:78).
Pekerjaan yang sesuai dan menyediakan otonomi akan memberikan kepuasan, kontrol
menajemen atas metode dan langkah-langkah kerja yang berlebihan. Karakteristik
pekerjaan sebagai sumber kepuasan kerja akan ditentukan oleh : 1) Pekerjaan saat ini
menarik; 2) Kemampuan dalam melakukan pekerjaan karyawan diberikan otonomi;
3) Tugas sesuai dengan bakat dan kecakapan ; 4) Pekerjaan sesuai dengan tingkat
pendidikan; 5) Kreativitas dalam menyelesaikan pekerjaan. Yuwono (2005:79)
6 Fakor Peluang untuk Berkembang/Promosi
Dalam melakukan pekerjaan karyawan mempunyai keinginan untuk berkarir dengan
jalan mendapatkan promosi jabatan. Kesempatan promosi jabatan memiliki efek
terhadap kepuasan kerja. Hal demikian dikarenakan promosi menggunakan beraneka
cara dan memiliki penghargaan yang beragam, misalnya promosi berdasar tingkat
senioritas, dedikasi, petimbangan kinerja, dan lain-lain. Kebijakan promosi yang adil
dan transparan terhadap semua pegawai dapat memberi dampak pada mereka yang
memperoleh kesempatan dipromosikan seperti perasaan senang, bahagia dan
memperoleh kepuasan atas kerjanya. Mangkunegara (2006:124).
Uraian sumber-sumber kepuasan kerja dan sumber-sumber ketidakpuasan kerja
tersebut memberi gambaran secara menyeluruh tentang faktor-faktor yang
menentukan tingkat kepuasan kerja. Faktor-faktor tersebut tidak seluruhnya mendapat
perhatian karena keterbatasan kemampuan dan waktu, sehingga hanya beberapa
faktor saja yang perlu mendapat perhatian. Perhatian terhadap beberapa indikator
faktor-faktor tersebut juga muncul karena memang di lapangan menunjukkan gejala
yang lebih dominan dibanding dengan faktor-faktor yang lain. Beberapa faktor yang
menentukan tingkat kepuasan tersebut adalah faktor 1) gaji/kesejahteraan, 2) faktor
hubungan antar pribadi/rekan kerja, 3) faktor mutu supervisi, 4) faktor karakteristik
pekerjaan, 5) faktor peluang untuk berkembang/promosi. Yasin (2002:476).
Indikator Beban Kerja
(Koesomowidjojo, 2017) menyebutkan beban kerja memiliki beberapa indikator
antara lain:
1) Kondisi Pekerjaan
Kondisi pekerjaan yang dimaksud yaitu bagaimana seorang karyawan
memahami pekerjaan tersebut dengan baik. Misalnya,karywan yang
berada pada divisi produksi tentunya akan berhubungan dengan mesinmesinn produksi. Sejauh mana kemampuan dan pemahaman karyawan
dalam penguasaan mesin-mesin produksi untuk membantu mencapai
target produksi.
2) Penggunaan waktu kerja
Waktu kerja yang sesuai dengan SOP tentunya akan meminimalisir
beban kerja kayawan. Namun,ada kalanya suatu perusahaan tidak
memiliki SOP atau tidak konsisten dalam melaksanakan
SOP,penggunaan waktu kerja yang diberlakukan kepada karyawan
cenderung berlebihan atau sangat sempit. Misalnya,suatu perusahaan
konveksi memberikan target kepada karyawan untuk menyelesaikan 40
potong pakaina dalam sehari, sedangkan kemampuan karyawan rata-rata
20 potong perhari. Pada awalnya tidak masalah bagi karyawan untuk
melakukan hal ini. Namun,dalam menyelesaikan pekerjaan ini tentunya
akan membutuhkan energi,baik fisik maupun psikis jauh lebih berat
daripada perushaan konveksi yang memberi pekerjaan sesuai dengan
kemampuan fisik rata-rata pada umumnya.
3) Target yang harus dicapai
Target kerja yang ditetapkan oleh perusahaan tentunya secara langsung
akan mempengaruhi beban kerja yang diterima oleh karyawan. Semakin
semakin sempit waktu yang disediakan untuk melaksanakan pekerjaan
terntentu atau tidak seimbangnya antara waktu penyelesaian target
pelaksanaan dan volume kerja yang diberikan, akan semakin besar beban
kerja yang diterima dan dirasakan oleh karyawan.
Dampak Beban Kerja
(Irawati dan Carollina, 2017) mengatakan beban kerja dapat menimbulkan
dampak negatif bagi karyawan, yaitu :
1) Kualitas Kerja Karyawan Menurun
Beban kerja yang berat atau kurang sesuai tidak diimbangi kemampuan
tenaga kerja, berlebihnya beban kerja akan mengakibatkan turunnya
kualitas kerja yang disebabkan dari kesalahan fisik dan menurunya
konsentrasi, pengawasan diri,akurasi kerja tidak sesuai standar.
2) Keluhan Pelanggan
Keluhan pelanggan timbul disebabkan hasil kerja yaitu pelayanan atau
produk yang diterima tidak sesuai dengan harapan.
3) Kenaikan Tingkat Absensi Karyawan
Beban kerja yang terlalu banyak bisa juga menyebabkan karyawan terlalu
lelah atau sakit. Hal ini berdampak buruk bagi keberlangsungan keja
perusahaan karena tingkat absensi yang tinggi, sehingga dapat berpengaruh
pada kinerja organisi secara keseluruhan.
Pengertian Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja menurut Anoraga (1993:43) merupakan hal yang bersifat individu.
Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan
situasi, nilai-nilai yang berlaku pada dirinya. Semakin banyak aspek-aspek dalam
pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka semakin tinggi tingkat
kepuasan yang dirasakannya dan sebaliknya. Kepuasan kerja berhubungan erat
dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya, situasi kerja/kerja sama antara
pimpinan dan bawahan.
Definisi kepuasan kerja menurut Handoko (1993:193) adalah keadaan emosional
yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana karyawan memandang
pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya. Davis dan Newstrom (1996:105) menyatakan bahwa kepuasan kerja
adalah seperangkat perasaan pegawai yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
terhadap pekerjaan mereka. Kepuasan kerja adalah persepsi seseorang terhadap
pekerjaannya, perasaan seseorang yang menyukai pekerjaannya, yang mana hal ini
dapat diketahui dari sikap dan perilakunya. Apabila seseorang merasa senang
terhadap pekerjaannya, maka ia memiliki sikap positif dan bangga serta menilai
tinggi pekerjaannya, seperti jenis pekerjaan yang menarik dan menantang, beban
kerja yang memerlukan tanggung jawab berat, seseorang akan menilai tinggi
pekerjaannya, meningkat semangat kerjanya dan dapat menimbulkan kepuasan kerja.
Seseorang akan merasa puas apabila pekerjaan yang dilakukan tersebut sesuai dengan
karakteristik pekerjaan yang diinginkan. Mas’ud (2002:120) menyebutkan bila
kepuasan kerja tidak lepas dari hakekat kerja. Kerja di artikan oleh Ma’ud sebagai
usaha manusia untuk mencapai tujuan dan seringkali dengan mendapatkan
penghasilan atau kompensasi (upah, gaji, dll) dalam kerja setiap orang bisa merasa
puas dan tidak puas. Seseorang akan merasa puas apabila telah mendapatkan apa
yang diinginkannya. Secara khusus, kepuasan kerja diartikan oleh Mas’ud (2002:120)
sebagai penilaian, perasaan atau sikap umum karyawan terhadap pekerjaannya yang
meliputi antara lain gaji, hubungan sosial di tempat kerja, lingkungan kerja dan
pekerjaan itu sendiri. Dengan demikian kepuasan kerja merupakan hasil persepsi
karyawan terhadap seberapa baik pekerjaannya dapat memuaskan kebutuhankebutuhan karyawan.
Ada dua komponen kepuasan kerja yaitu (1) kepuasan instrinsik meliputi variasi
tugas, kesempatan berkembang, kesempatan menggunakan kemampuan dan
ketrampilan, otonomi, kepercayaan, pekerjaan yang menantang dan bermakna dan
sebagainya. (2) Kepuasan ekstrinsik, meliputi gaji (upah) yang diperoleh, supervisi,
jaminan kerja, status dan prestise (Mas’ud,2002:121). Robbins (1996:91) menyatakan
“job satisfaction as an individual’s general attitude toward his or her job” (kepuasan
kerja adalah sikap seseorang terhadap pekerjaannya). Seseorang akan menunjukkan
sikap yang positif dan menyenangkan terhadap pekerjaannya jika dirinya memiliki
keyakinan bahwa dengan pekerjaannya itu ia akan mendapatkan imbalan yang sesuai
dengan yang diharapkannya. Seseorang akan merasa tidak puas apabila pada
kenyataannya imbalan yang diterima tidak sesuai dengan imbalan yang diharapkan.
Kepuasan menurut Winardi (2004:137) merupakan sebuah kondisi akhir (an and
state) yang timbul karena dicapainya tujuan tertentu.
Kepuasan kerja merupakan perasaan seseorang pekerja tentang berbagai macam
aspek kerangka kerja.. Menurut Locke yang dikutip oleh Harnanik (2005:153)
kepuasan kerja merupakan suatu keadaan emosional yang menyenangkan atau positif
yang dihasilkan dari penilaian kerja atau pengalaman kerja seseorang. Faktor penting
bagi kepuasan kerja dapat dilihat dari tiga segi (1) kepuasan pekerjaan yang
merupakan respon emosional terhadap situasi kerja; (2) kepuasan pekerjaan yang
seringkali ditentukan oleh seberapa baik hasil yang diperoleh dan diharapkan; (3)
kepuasan pekerjaan merupakan beberapa sikap yang berhubungan dengan pekerjaan.
Menurut Gomes yang dikutip oleh Yuwono (2005:75), sering istilah kepuasan
(satisfaction) dan motivasi (motivation) digunakan secara bergantian. Kepuasan dan
ketidakpuasan seseorang dengan pekerjaan merupakan keadaan yang sifatnya
subyektif yang merupakan hasil kesimpulan yang didasarkan pada suatu
perbandingan mengenai apa yang secara nyata diterima oleh pegawai dan
pekerjaannya sebagai hal yang diharapkan dan diinginkan. Dari beberapa difinisi
yang dikemukakan para ahli tersebut di atas, umumnya dikatakan bahwa kepuasan
kerja merupakan tingkat perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dengan
mempertimbangkan dan menilai segala aspek yang ada di dalam pekerjaannya,
sehingga timbul dalam dirinya suatu perasaan senang atau tidak senang terhadap
situasi kerja dan rekan kerjanya. Apa yang dirasakan oleh individu tersebut bisa
positif atau negatif, tergantung dari persepsi terhadap pekerjaan yang digelutinya
tersebut.
Kepuasan kerja merupakan suatu keadaan yang penting yang harus dimiliki oleh
setiap karyawan yang bekerja , di mana manusia tersebut mampu berinteraksi dengan
lingkungan kerjanya, mereka akan bekerja dengan penuh gairah dan bersungguhsungguh, sehingga tujuan organisasi akan tercapai Mangkunegara (2006:120)
Dimensi Beban Kerja
Menurut Koesomowidjojo (2017:33), terdapat beberapa dimensi dan
indikator yang mampu mengetahui besarnya beban kerja pada suatu perusahaan
yang harus diterima oleh karyawan, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Kondisi Pekerjaan
Kondisi pekerjaan yang dimaksud adalah bagaimana seorang karyawan
memahami pekerjaan tersebut dengan baik. Kemudian pekerjaan yang dikerjakan
sesuai dengan standar pekerjaan yang ditetapkan perusahaan dimana karyawan
dapat mengerjakan pekerjaan yang sama setiap harinya sesuai dengan job desk
masing-masing jabatan.
b. Penggunaan Waktu Kerja
Waktu kerja yang sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedur) dapat
meminimalisir beban kerja karyawan. Namun, banyak organisasi tidak memiliki
SOP atau tidak konsisten dalam melaksanakan SOP, penggunaan waktu kerja yang
diberlakukan kepada karyawan cenderung berlebihan atau sangat sempit.
c. Target yang Harus Dicapai
Target kerja yang ditetapkan oleh perusahaan tentunya secara langsung akan
memengaruhi beban kerja yang diterima oleh karyawan. Semakin sempit waktu
yang disediakan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu atau tidak seimbangnya
antara waktu penyelesaian target pelaksanaan dan volume kerja yang diberikan,
akan semakin besar beban kerja yang diterima dan dirasakan oleh karyawan. Untuk
itu, dibutuhkan penetapan waktu baku/dasar dalam menyelesaikan volume
pekerjaan tertentu pada masing-masing organisasi yang jumlahnya tentu berbeda
satu sama lain.
Pengertian Beban Kerja
Menurut Aslian (2019), beban kerja merupakan tugas utama karakteristik
yang mempengaruhi kinerja manusia yang menentukan bagaimana orang
menyelesaikan pekerjaan yang diperlukan dan dengan cara apa seseorang
memahami tugasnya. Menurut Tarwaka (2017:128) pengertian beban kerja adalah
sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit
organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu.
Menurut Hafizi (2020), beban kerja adalah besaran pekerjaan yang harus
dipikul oleh suatu jabatan/unit organisasi dan merupakan hasil kali antara volume
kerja dan norma waktu. Jika kemampuan pekerja lebih tinggi daripada tuntutan
pekerjaan, akan muncul perasaan bosan. Namun sebaliknya jika kemampuan
pekerja lebih rendah daripada tuntutan pekerjaan, maka akan muncul kelelahan
yang lebih. Tingkat pembebanan yang terlalu tinggi memungkinkan pemakaian
energi yang berlebihan dan terjadi overstress, sebaliknya intensitas pembebanan
yang terlalu rendah memungkinkan rasa bosan dan kejenuuhan atau understress.
Beban kerja dapat dilihat dari selisih energi yang ada pada setiap pekerjaan
dengan energi yang diperlukan untuk mengerjakan suatu tugas dengan sukses.
Maka beban kerja dapat dinaikan atau diturunkan,dengan cara mengatur
penggunaan energi. Sehingga bisa disebut bahwa faktor tugas yang diberikan
termasuk faktor situasional. Tujuan pengubahan ini agar pegawai karyawan
memiliki perasaan bahwa telah terjadi kesesuaian antara tuntutan dan kemampuan.
Beban kerja yang dirasakan oleh karyawan dapat menjadi sumber stres. Sumber
stress itu sendiri adalah faktor penekan yang menghasilkan kondisi yang menuntut
manusia memberikan energi atau hasil yang lebih. Faktor penekan adalah beban
yang dirasakan karyawan atas pekerjaannya.
Menurut Munandar (2014) adanya beban kerja dalam tugas diharapkan akan
diseselasikan dalam waktu yang cepat secara tepat dan cermat. Dan pada saat
tertentu,dalam hal waktu akhir justru dapat meningkatkan motivasi dan
menghasilkan kinerja yang baik dan tinggi. Dengan demikian pengertian beban
kerja merupakan suatu proses yang dilaksanakan seseorangan atau suatu kelompok
untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang dilaksanakan dalam keadaan
normal atau dalam jangka waktu tertentu.
Dengan begitu beban kerja yang ada di dalam perusahaan mempengaruhi
kinerja karyawan,stress kerja yang tinggi juga merupakan pengaruh pada karyawan
yang memegang dua pekerjaan yang sebetulnya bukan dari pekerjaannya, karyawan
pun menjadi kurang efektif dalam melakukan tugasnya, sebagaimana beban kerja
dan stress kerja saling berkaitan dan mempengaruhi perusahaan
Indikator Komitmen Afektif
Menurut Meyer dan Allen (1991) indikator komitmen afektif adalah sebagai berikut:
1. Senang menghabiskan karir di perusahaan.
2. Senang membicarakan perusahaan besama rekan kerja saat tidak bekerja.
3. Masalah yang dihadapi perusahaan adalah masalah karyawan juga
4. Mudah beradaptasi saat bekerja di perusahaan
5. Perusahaan dan orang-orang di dalamnya seperti bagian dari keluarga karyawan
6. Sangat menyatu secara emosional dengan perusahaan
7. Memiliki makna mendalam bagi karyawan
8. Merasa menjadi bagian dari perusahaan
Aspek-Aspek Komitmen Afektif
Beberapa ahli memiliki penjelasan dan konsep tersendiri mengenai komitmen afektif.
Allen dan Meyer (1990) menjelaskan ada tiga aspek yang menggambarkan adanya
komitmen afektif individu terhadap organisasi, yaitu:
1. Keterikatan emosional
Merupakan perasaan kuat individu terhadap organisasi sehingga akan mudah
melekat secara emosional terhadap organisasi. Individu akan merasa bahwa ia
adalah bagian dari keluarga organisasi tersebut yang ditunjukan dengan afeksi
positif dan rasa memiliki (sense of belonging) yang tinggi terhadap organisasi.
Karena adanya perasaan terikat terhadap organisasi, maka individu hanya
mempunyai sedikit alasan untuk keluar dari organisasi dan tetap berkeinginan
untuk melanjutkan keanggotaannya pada organisasi.
2. Identifikasi
Merupakan keyakinan dan penerimaan individu terhadap tujuan dan nilai-nilai
organisasi. Adanya keyakinan dan penerimaan terhadap tujuan dan nilai-nilai
organisasi merupakan salah satu kunci terbentuknya rangkaian aspek komitmen
organisasi lainnya. Aspek tersebut dapat dilihat dari beberapa sikap, yaitu: adanya
kesamaan tujuan dan nilai yang dimiliki individu dengan organisasi, adanya
perasaan individu bahwa organisasi memberikan kebijakan untuk mendukung
kinerjanya, dan adanya kebanggan telah menjadi bagian dari organisasi.
3. Partisipasi
Merupakan keinginan individu untuk terlibat secara sungguh-sungguh dalam
kepentingan organisasi. Adanya keinginan untuk sungguh-sungguh terlibat dalam
setiap aktivitas atau kegiatan organisasi tercermin dalam penerimaan individu
untuk menerima dan melaksanakan berbagai macam tugas dan kewajiban yang
dibebankan. Individu akan selalu berusaha memberikan kinerja yang terbaik
melebihi standar minimal yang diharapkan organisasi. Selain itu, individu akan
bersedia untuk melaksanakan pekerjaan diluar tugas dan perannya apabila
bantuannya diperlukan oleh organisasi.
Menurut Gautam, Dick, & Wagner (2004) menjelaskan bahwa komitmen afektif
terdiri dari tiga komponen, yaitu:
1. Emotional attachment
Merupakan kelekatan emosional terhadap kelompok atau organisasi. Organisasi
memiliki makna tersendiri bagi individu sehingga individu merasa telah menjadi
bagian organisasi. Individu yang telah terikat secara emosional akan tetap setia dan
loyal terhadap organisasi.
2. Identification
Merupakan keyakinan dan penerimaan terhadap serangkaian nilai dan kebijakan
organisasi. Hal ini ditunjukan dengan kesamaan nilai dan tujuan individu dengan
nilai dan tujuan organisasi. Selain itu individu merasa bangga menjadi bagian dari
organisasi.
3. Involvement
Merupakan keinginan kuat individu untuk berusaha demi kepentingan organisasi.
Hal ini ditunjukan dari usaha individu untuk menerima dan melaksanakan setiap
tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya melebihi yang diharapkan
organisasi. Individu akan melakukan suatu pekerjaan diluar tanggung jawabnya
apabila dibutuhkan.
Berdasarkan pemaparan beberapa aspek-aspek komitmen afektif organisasi di atas,
yang akan digunakan sebagai landasan alat ukur komitmen afektif dalam penelitian
ini adalah aspek yang dirumuskan oleh Allen & Meyer yang terdiri dari keterikatan
emosional, identifikasi, dan partisipasi. Pemilihan ini dilakukan dengan pertimbangan
bahwa aspek-aspek tersebut telah digunakan untuk penyusunan alat ukur komitmen
afektif dengan nama ACS (Affective Commitment Scale) yang nantinya akan
digunakan sebagai alat ukur komitmen afektif pada penelitian ini.
Beban Kerja
Beban kerja adalah salah satu faktor yang menyebabkan stress yang paling
banyak dikeluhkan dan menjadi alasan para karyawan suatu perusahaan. Dalam
lingkungan kerja beban kerja yang sangat tinggi adalah masalah yang sering
ditemukan, selain itu dengan tekanan durasi waktu pengerjaan tugas yang banyak
menyebabkan para karyawan tertekan dan menjadi stres.
Faktor-Faktor Komitmen Afektif
Secara konseptual masing-masing dari tiga komponen komitmen organisasi memiliki
anteseden yang berbeda. Mowday et al, (dalam Allen & Meyer, 1990)
mengemukakan bahwa anteseden komitmen afektif individu terhadap organisasi
dipengaruhi oleh empat kategori, yaitu:
a. Karakteristik pribadi
Gender, usia, masa jabatan dalam organisasi, status pernikahan, tingkat
pendidikan, kebutuhan untuk berprestasi, etos kerja, dan persepsi individu
mengenai kompetensinya.
b. Karakteristik pekerjaan
c. Pengalaman kerja
Meyer dan Allen (dalam Allen dan Meyer, 1990) telah menunjukkan bahwa
penyebab terkuat dalam komitmen afektif adalah pengalaman kerja, terutama
pengalaman-pengalaman yang dapat memenuhi kebutuhan psikologis karyawan
untuk merasa nyaman dalam organisasi serta kompeten dalam melakukan
pekerjaan sesuai peranannya.
d. Karakteristik struktural
Meliputi besarnya organisasi, kehadiran serikat kerja, luasnya kontrol, dan
sentralisasi otoritas.
Dari keempat kategori diatas, Allen dan Meyer (1990) menunjukkan bukti terkuat
terletak pada faktor pengalaman kerja, terutama pengalaman atas kebutuhan
psikologis untuk membuat individu nyaman dalam organisasi dan kompeten dalam
peran kerjanya. Rhoades dkk (2001) mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor
munculnya komitmen afektif individu dalam organisasi yang diperkuat oleh persepsi
dukungan organisasi, antara lain penghargaan yang diberikan oleh organisasi
(reward), keadilan prosedural, dan dukungan penyelia.
Allen dan Meyer (1990) memiliki penjelasan tersendiri mengenai anteseden atau
penyebab dari komitmen afektif, yaitu :
1. Tantangan pekerjaan
Merupakan pekerjaan yang dilakukan individu dalam organisasi adalah menantang
dan menarik.
2. Kejelasan peran
Merupakan kejelasan harapan dari organisasi terhadap individu.
3. Kejelasan sasaran dalam tugas
Merupakan pemahaman individu mengenai apa yang seharusnya dilakukan
individu dalam pekerjaannya.
4. Kesulitan tujuan
Merupakan persyaratan pekerjaan dari organisasi yang tidak terlalu menuntut
5. Manajemen yang menerima
Merupakan kondisi orang-orang yang berada di manajemen puncak organisasi
menaruh perhatian terhadap ide yang diberikan oleh karyawan lain
6. Kedekatan dengan sesama anggota
Merupakan adanya hubungan dekat dengan beberapa orang-orang dalam
organisasi
7. Ketergantungan organisasi
Merupakan rasa kepercayaan terhadap organisasi karena apa yang dikatakan maka
akan dilakukan oleh pihak organisasi
8. Keadilan atau kewajaran
Pada organisasi terdapat orang-orang mendapatkan lebih dari layak dan ada juga
yang mendapatkan jauh lebih sedikit
9. Kepentingan pribadi
Pada organisasi, individu didorong untuk merasa bahwa pekerjaan yang dilakukan
membawa kontribusi penting terhadap tujuan besar organisasi
10. Tanggapan organisasi atas kinerja
Merupakan seberapa sering organisasi memberikan umpan balik terhadap kinerja
individu
11. Pastisipasi
Merupakan kesempatan individu untuk berpartisipasi dalam memutuskan
mengenai standar beban kerja dan kinerja.
Berdasarkan pemaparan beberapa faktor komitmen afektif diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa faktor-faktor komitmen afektif secara garis besar adalah
karakteristik pribadi, karakteristik pekerjaan, karakteristik struktural, dan pengalaman
kerja. Faktor karakteristik pribadi meliputi kepentingan pribadi dan kedekatan dengan
sesama anggota. Faktor karakteristik pekerjaan meliputi tantangan kerja, kejelasan
peran, kejelasan sasaran dan tugas, kesulitan tujuan. Faktor karakteristik struktural
meliputi keadilan prosedural, dukungan penyelia, penerimaan manajer, keadilan,
ketergantungan organisasi. Sedangkan yang terakhir adalah faktor pengalaman kerja
meliputi reward, partisipasi individu, dan feedback organisasi
Pengertian Kontrak Psikologis
Konsep kontrak psikologis dalam lingkungan organisasi pertama kali
dibahas secara lengkap dan mendalam oleh Schein (1980). Ia menguraikan bahwa
kontrak psikologis ialah:
“…. an inwritten set of expectations operating at all times between every
member of an organization and the various managers and others in that
organization.”
Pendapat lain dikemukakan oleh Rousseau (1989) dalam Addae et al.
(2006) yang mendefinisikan kontrak psikologis sebagai:
“… employees’ belief about the terms of reciprocal exchange agreement
that exists between themselves and their organizations.”
Kontrak Psikologis
Penelitian empiris mengenai kontrak psikologis sudah berkembang sejak
puluhan tahun yang lalu dan sudah mulai mengalami pergeseran dari kontrak
relasional menjadi kontrak transaksional. Awalnya hubungan antara perusahaan
dan karyawan adalah hubungan yang tidak berbatas waktu dimana karyawan
diwajibkan untuk bekerja dalam jangka waktu yang cukup panjang dengan setia
dan berkomitmen terhadap kepentingan perusahaan. Dilain pihak perusahaan juga
memberikan kompensasi yang stabil dan komitmen untuk memenuhi
kesejahteraan karyawan dan keluarga sampai jaminan pensiunnya. Saat ini
hubungan tersebut berubah menjadi hubungan yang hanya terbatas pada satu
waktu yang telah ditentukan dan karyawan diwajibkan hanya mengerjakan
pekerjaan sesuai kontrak dan imbal jasa yang diberikan. Sedangkan perusahaan
semakin kurang berkomitmen terhadap kesejahteraan kerja karyawan dan tidak
berkewajiban memberikan jaminan pensiun. Perubahan ini menyebabkan
kebingungan tentang apa yang karyawan dapat harapkan dari perusahaan dan
meningkatkan kemungkinan karyawan akan merasa bahwa perusahaan tidak
memenuhi janji dan kewajibannya (Suazo, 2009; Djlantik, 2005).
Pengertian Komitmen Afektif
Allen & Meyer (1990) mengungkapkan bahwa setiap komponen memiliki dasar yang
berbeda. Individu yang memiliki komitmen afektif tinggi masih bergabung dengan
organisasi karena keinginan untuk tetap menjadi anggota. Hal ini diperkuat oleh
Vandenberghe (2004), bahwa komitmen afektif memberikan efek kuat secara
langsung terhadap niat untuk keluar dari organisasi. Apabila komitmen afektif tinggi,
maka niat untuk keluar dari organisasi juga rendah. Individu yang memiliki dedikasi
dan loyalitas terhadap organisasi juga ditentukan oleh adanya komitmen afektif atau
keterikatan secara emosional terhadap organisasi (Rhoades dkk, 2001).
Hartmann dan Bambacas (2000) mendefinisikan bahwa komitmen afektif mengacu
kepada perasaan memiliki, merasa terikat kepada organisasi dan telah memiliki
hubungan dengan karakteristik pribadi, struktur organisasi, pengalaman bekerja
misalnya gaji, pengawasan, kejelasan peran, serta berbagai keterampilan. Buchanan
(dalam Allen dan Meyer, 1990) menjelaskan komitmen afektif sebagai keikutsertaan
suatu individu terhadap tujuan dan nilai organisasi dengan berdasarkan pada ikatan
psikologis antara individu dan organisasi tersebut.
Mowday dkk (dalam Allen dan Meyer, 1990) memiliki definisi tersendiri mengenai
komitmen afektif, yaitu suatu hubungan yang kuat antara individu dengan organisasi
atau perusahaan yang diidentifikasikan dengan keikutsertaannya dalam kegiatan
perusahaan atau organisasi. Lebih lanjut lagi Becker (dalam Allen dan Meyer, 1990)
menggambarkan komitmen afektif sebagai suatu kecenderungan untuk terikat dalam
aktivitas organisasi secara konsisten sebagai hasil dari akumulasi investasi yang
hilang jika aktivitasnya dihentikan.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komitmen
afektif merupakan salah satu komponen dalam komitmen organisasi yang berkaitan
dengan keterikatan emosional, identifikasi, dan merasa terlibat dalam seluruh
aktivitas, tujuan, nilai suatu organisasi. Komitmen afektif merupakan kesadaran
bahwa anggota organisasi memiliki tujuan dan nilai yang sama dan selaras dengan
organisasi tempatnya bergabung. Pada tahap ini tujuan dan nilai individu memiliki
keselarasan dan kesatuan sehingga akan mempengaruhi individu untuk berdedikasi
penuh dengan loyalitasnya dan ingin tetap bergabung dengan organisasi serta
rendahnya niat untuk keluar dari organisasi.
Dimensi Komitmen Organisasional
Menurut Meyer, Allen, dan Smith (dalam Fred Luthans, 2008) bahwa ada tiga aspek
komitmen yaitu :
a. Affective commitment, hal ini berkaitan dengan adanya ikatan emossional
karyawan, identifikasi, dan keterlibatan dalam organisasi karena keinginan dari
diri sendiri.
b. Continuance commitment, adalah komitmen yang didasarkan akan kebutuhan
rasional. Dengan kata lain komitmen ini terbentuk atas dasar untung dan rugi yang
didapatkan oleh karyawan. Sehingga menjadi bahan pertimbangan apa yang harus
dikorbankan bila menetap pada suatu organisasi.
c. Normative commitment, adalah komitment yang didasarkan pada norma yang ada
dalam diri karyawan. Yang berisi keyakinan individu akan tanggung jawab
terhadap organisasi. Jadi seorang karyawan bertahan karena adanya loyalitas.
Menurut Katner (dalam Sopiah, 2008) bahwa terdapat tiga bentuk komitmen
organisasional yaitu:
a. Komitmen berkesinambungan (continuance commitment), yaitu komitmen yang
berkaitan dengan dedikasi anggota dalam melanjutkan kelangsungan hidup
organisasi dan menghasilkan orang yang mau berkorban dan berinvestasi pada
organisasi.
b. Komitmen terpadu (cohesion commitment), yaitu komitmen anggota terhadap
organisasi sebagai akibat adanya hubungan sosial dengan anggota lain didalam
organisasi. Hal ini terjadi karena kepercayaan karyawan pada norma-norma yang
dianut organisasi merupakan norma-norma yang bermanfaat.
c. Komitmen terkontrol (control commitment), yaitu komitmen anggota pada norma
organisasi yang memberikan perilaku ke arah yang diinginkannya. Sebab normanorma tersebut mampu dan sesuai dalam memberikan sumbangan terhadap
perilaku yang diinginkannya.
Hubungan Job Insecurity dengan Kesejahteraan Psikologis
Era globalisasi yang semakin berkembang dari waktu ke waktu,
mengakibatkan terjadinya banyak perubahan di berbagai sektor industri hingga
saat ini. Seiring berkembangnya zaman banyak perusahaan atau badan usaha
yang menggunakan sistem kontrak pada karyawan untuk ditempatkan pada
bidang tertentu sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Rianti (2013)
mengemukakan bahwa penyebab adanya perjanjian kontrak kerja untuk pekerja
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain yaitu perkembangan perekonomian
yang semakin pesat sehingga perusahaan dituntut untuk memberikan pelayanan
yang lebih baik dengan biaya yang lebih sedikit untuk hasil keuntungan yang lebih
besar. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan mengubah struktur manajemen
perusahaan menjadi lebih efektif dan efisien, dengan biaya yang dikeluarkan
perusahaan lebih sedikit, maka diadakan sistem kontrak dengan memperkerjakan
buruh dengan sistem outsourcing maupun dengan sistem karyawan PKWT
(perjanjian kerja waktu tertentu).
Sistem outsourcing dan sistem kontrak PKWT telah banyak diminati oleh
perusahaan namun sistem kontrak kerja ini memiliki kekurangan yang berdampak
pada timbulnya permasalahan pada karyawan. Hal ini sesuai dengan yang
dikemukakan oleh Sutedi (2011) bahwa sistem kontrak kerja diakui banyak
merugikan karyawan, hal ini disebabkan oleh sistem kerja yang hanya bersifat
kontrak di mana adanya perjanjian waktu dalam bidang yang ditentukan, memiliki
upah yang lebih rendah, adanya batas minimal pada jaminan sosial, dan
rendahnya jaminan untuk mengembangkan karir. Andina (2013) mengemukakan
bahwa karyawan kontrak atau karyawan outsourcing mendapatkan perlakuan
yang berbeda dengan karyawan tetap, dapat dilihat dari rendahnya fringe benefit
yang didapatkan hingga rendahnya kesempatan untuk mengembangkan karir
dalam suatu perusahaan.
Permasalahan yang timbul akibat dari sistem kontrak kerja ini memiliki
dampak yang dapat mengakibatkan munculnya permasalahan pada
kesejahteraan fisik maupun psikologis karyawan (Hendrastomo, 2010).
Pemahaman terhadap kesehatan manusia tidak hanya meliputi kesejahteraan fisik
tetapi juga psikologis dan sosial. Individu yang memiliki kesejahteraan yang lebih
tinggi akan lebih produktif dan memiliki kesehatan mental dan fisik yang lebih baik
dibandingkan dengan yang kesejahteraannya rendah (Ryff & Synder, 2002).
Kesejahteraan psikologis merupakan kondisi tercapainya kebahagiaan
tanpa adanya gangguan psikologis yang ditandai dengan kemampuan individu
mengoptimalkan fungsi psikologisnya (Ryff & Synder, 2002). Kesejahteraan
psikologis di tempat kerja dibangun untuk menggambarkan pengalaman positif
secara subjektif oleh individu di tempat kerja, dan mampu merealisasikan potensi
diri yang positif dalam pekerjaan (Dagenais & Savoie, 2012). Veit & Ware dalam
Aziz (2015) mengemukakan bahwa kesejahteraan psikologis sebagai indikator
kesehatan mental mencakup dua aspek, yang pertama yaitu aspek terbebasnya
individu dari tekanan psikologis (psychological distres) yang dicirikan dengan
tingginya tingkat kecemasan, depresi dan kehilangan kontrol. Kedua, memiliki
kesejahteraan psikologis yang dicirikan dengan adanya perasaan positif secara
umum, mampu mengatur emosi dan memiliki kepuasan hidup.
Maslow dalam Notosoedirdjo & Latiput (2005) menyatakan bahwa mental
yang sehat ditandai dengan adanya rasa aman yang memadai. Aktualisasi diri
akan tercapai apabila semua dorongan kebutuhan telah terpenuhi dalam diri
individu seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan memiliki, serta
kebutuhan akan penghargaan. Rasa tidak aman akibat dari ketidakpastian kerja di
masa yang akan datang yang dialami oleh karyawan akan mempengaruhi
pencapaian tahap aktualisasi diri (Nopiando, 2012).
Permasalahan yang timbul akibat dari tekanan karena tidak adanya
jaminan pekerjaan di masa yang akan datang akan mengakibatkan timbulnya job
insecurity. Job insecurity merupakan suatu kondisi di mana adanya rasa tidak
berdaya untuk mempertahankan kesinambungan yang diinginkan dalam kondisi
kerja yang terancam (Greenhalgh & Rosenblat, 1984). Job insecurity diartikan
dengan kondisi psikologis karyawan yang merasa khawatir dan terancam akan
kelangsungan pekerjaan di masa yang akan datang (Nopiando, 2012). Pendapat
lainnya mengemukakan job insecurity sebagai suatu perasaan tidakberdaya yang
dirasakan karyawan akibat dari ancaman kehilangan pekerjaan dan aspek-aspek
penting yang berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri (Sverke & Hellgren, 2002).
Warr (1987) dalam teori model vitaminnya mengemukakan bahwa terdapat
9 komponen dalam situasi kerja yang dapat mempengaruhi kesejahteraan
psikologis. Salah satunya yaitu job insecurity, Warr menjelaskan bahwa sejauh
mana respon individu dalam menghadapi dugaan akibat dari kurangnya kejelasan
tentang masa depan dan kurangnya kejelasan tentang ekspektasi dan perilaku
yang harus diambil dalam situasi tersebut maka dapat mengurangi kesejahteraan
psikologis karyawan.
Pengertian Komitmen Organisasional
Kinicki (2003) dalam Robert Kreitner (2011) menjelaskan bahwa komitmen
organisasional adalah cerminan dimana seorang karyawan dalam mengenali
organisasi dan terikat kepada tujuan-tujuannya. Ini adalah sikap kerja yang penting
karena orang –orang memiliki komitmen diharapkan dapat menunjukkan
ketersediaannya untuk bekerja lebih keras demi mencapai tujuan organisasi dan
memiliki hasrat yang lebih besar untuk tetap bekerja di suatu perusahaan.
Mowday (dalam Sopiah, 2008) menyebut komitmen kerja sebagai istilah lain dari
komitmen organisasional. Selain itu juga komitmen organisasional merupakan
dimensi perilaku penting yang dapat digunakan untuk menilai kecenderungan
pegawai, mengidentifikasi dan keterlibatan seseorang yang relatif kuat terhadap
organisasi, dan mengetahui keinginan anggota organisasi untuk tetap
mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi serta bersedia berusaha keras
bagi pencapaian tujuan organisasi serta mampu menerima norma-norma yang ada
dalam perusahaan tersebut.
Sedangkan menurut Sopiah (2008) menyatakan bahwa komitmen organisasional
adalah suatu ikatan psikologis pada karyawan yang ditandai dengan adanya
Kepercayaan dan penerimaan yang kuat atas tujuan dan nilai-nilai organisasi,
kemauan untuk mengusahakan tercapainya kepentingan organsisasi dan keinginan
untuk mempertahankan kedudukan sebagai anggota organisasi.
Sedangkan komitmen organisasional menurut Fred (2005) adalah refleksi loyalitas
karyawan dan proses berkelanjutan di mana anggota organisasi mengekspresikan
perhatiannya terhadap organisasi serta keyakinan untuk menerima nilai dan tujuan
organisasi. Menurut Robbin dan Judge (2008) menyatakan bahwa komitmen
organisasional adalah suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak terhadap
tujuan-tujuan organisasi serta memiliki keinginan untuk mempertahankan
keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Meyer & Allen dalam Spector (dalam
Sopiah, 2008) menjelaskan bahwa komitmen organisasional dapat diartikan sebagai
sejauh mana seseorang karyawan mengalami rasa kesatuan dengan organisasi
mereka. Lebih lanjut lagi, komitmen organisasi juga merupakan suatu kemauan
individu untuk bersama organisasi yang memiliki tiga karakteristik utama yaitu antara
lain affective commitment, continuance commitment, dan normative commitment.
Berdasarkan dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komitmen
organisasional adalah suatu perilaku karyawan yang berkaitan dengan kepercayaan
dan penerimaan yang kuat atas tujuan dan nilai-nilai organisasi, adanya kemauan
untuk mengusahakan tercapainya kepentingan organsisasi, dan keinginan untuk
mempertahankan kedudukan sebagai anggota organisasi. Agar dapat menilai
organisasi tersebut sehingga mereka tetap loyal dan bersedia bekerja sebaik mungkin
demi tercapainya tujuan organisasi tersebut.
Indikator Spiritualitas Tempat Kerja
Menurut Milliman, Czaplewski, dan Ferguson (2003) berikut adalah indikator dari
spiritualitas tempat kerja berdasarkan dimensi-dimensi yang ada:
Meaningful Work (Pekerjaan yang bermakna)
1. Merasa nyaman sehingga dapat menggunakan bakat dan talenta pribadi.
2. Merasakan spirit yang dibangkitkan oleh pekerjaan.
3. Merasa bahwa pekerjaan berhubungan dengan hal yang penting dalam hidup.
4. Melihat hubungan antara pekerjaan dengan hal-hal yang baik secara sosial.
5. Memahami makna pribadi (belajar dan berkembang) yang diberikan oleh
pekerjaan.
6. Iklim membuat individu menyukai pekerjaan.
Sense of Community (Perasaan terhubung dengan komunitas)
1. Merasakan adanya masa depan yang lebih baik bersama dengan rekan kerja.
2. Merasa sebagai bagian dari komunitas.
3. Percaya bahwa rekan kerja saling mendukung.
4. Merasa bebas mengekspresikan pendapat.
5. Merasa bahwa karyawan terhubung dengan tujuan bersama dalam pekerjaan.
6. Percaya bahwa karyawan saling peduli.
7. Merasa sebagai satu keluarga.
Alignment with Organizational Values (Penyelarasan dengan nilai-nilai
organisasi)
1. Merasa sejalan dengan nilai-nilai organisasi.
2. Merasakan bahwa organisasinya peduli pada kaum yang kesusahan atau
tertindas.
3. Merasakan bahwa organisasinya memberi perhatian pada semua karyawan.
4. Merasakan bahwa organisasinya memiliki consciente / hati nurani yang tertuang
dalam tujuan dan pengelolaan organisasi.
5. Merasa tergerak dengan tujuan-tujuan organisasi.
6. Merasa bahwa organisasi peduli terhadap kesehatan karyawan.
7. Merasa terhubung dengan misi organisasi.
8. Merasa bahwa organisasi peduli pada kehidupan spiritual karyawan
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Job Insecurity
Ashford dalam Halungan (2015) mengungkapkan faktor-faktor yang
mempengaruhi job insecurity adalah sebagai berikut:
a. Konflik peran, berhubungan dengan dua rangkaian tuntutan pekerjaan
yang bertentangan pada individu.
b. Ketidakjelasan peran yaitu masalah yang timbul dalam pekerjaan karena
kurangnya struktur yang jelas
c. Locus of control, merupakan keyakinan individu tentang peristiwaperistiwa yang terjadi dalam hidup.
d. Perubahan organisasi yaitu perubahan lingkungan bisnis yang harus
diadaptasi oleh pihak perusahaan untuk mengikuti perubahan.
Greenhalgh & Rosenblatt dalam Halungan (2015) mengemukakan faktorfaktor yang mempengaruhi job insecurity berada pada tingkatan yang berbeda,
yaitu sebagai berikut:
a. Kondisi lingkungan dan organisasional, misalnya komunikasi dan
perubahan organisasional. Perubahan organisasional yang terjadi antara
lain dengan dilakukaknnya down-sizing, restrukturisasi, dan merger oleh
perusahaan.
b. Karakteristik individual dan jabatan, yaitu: umur, jenis kelamin, status
sosial ekonomi, pendidikan, posisi pada perusahaan, dan pengalaman
kerja sebelumnya.
c. Karakteristik personal karyawan, misalnya: locus of control, self-esteem,
dan rasa kebersamaan.
Dimensi spiritualitas tempat kerja
1 Meaningful Work (Pekerjaan yang bermakna)
Aspek fundamental spiritualitas di tempat kerja melibatkan memiliki rasa makna dan
tujuan yang dalam dalam pekerjaan seseorang. Dimensi ini dari Spiritualitas tempat
kerja mewakili bagaimana karyawan berinteraksi dengan mereka sehari-hari bekerja
di tingkat individu. Ekspresi spiritualitas di tempat kerja melibatkan asumsi bahwa
setiap orang memiliki motivasi dan kebenaran dalam dirinya sendiri dan ingin terlibat
dalam kegiatan yang memberi makna lebih besar bagi kehidupannya dan kehidupan
orang lain (Ashmos dan Duchon, 2000; Hawley, 1993). Pencarian untuk tujuan dalam
pekerjaan bukanlah ide baru. Namun, pandangan spiritualitas adalah itu pekerjaan
tidak hanya dimaksudkan untuk menjadi menarik atau menantang, tetapi itu tentang
hal-hal seperti mencari makna dan tujuan yang lebih dalam, menjalani mimpi
seseorang, mengekspresikan kebutuhan hidup batin seseorang dengan mencari
pekerjaan yang bermakna, dan berkontribusi kepada orang lain (Ashmos dan Duchon,
2000; Fox, 1994; Neal, 1998). Begitu pula dengan Moore (1992) mengamati bahwa
pekerjaan adalah panggilan dan panggilan sebagai cara untuk menciptakan yang lebih
besar makna dan identitas di tempat kerja.
2 Sense of Community (Perasaan terhubung dengan komunitas)
Dimensi kritis spiritualitas tempat kerja melibatkan memiliki hubungan yang dalam
dengan, atau hubungan dengan, orang lain, yang telah diartikulasikan sebagai: a sense
of community (Ashmos dan Duchon, 2000). Dimensi tempat kerja ini Spiritualitas
muncul pada tingkat kelompok dalam perilaku dan kepedulian manusia interaksi
antara karyawan dan rekan kerja mereka. Komunitas di tempat kerja adalah
didasarkan pada keyakinan bahwa orang melihat diri mereka terhubung satu sama
lain dan bahwa ada beberapa jenis hubungan antara diri batiniah dan batiniah diri
orang lain (Maynard, 1992; Miller, 1992). Neal dan Bennett (2000) mencatat bahwa
tingkat kerohanian ini melibatkan mental, emosional, dan spiritual (misalnya:
Koneksi “esprit de corps”) di antara karyawan dalam tim atau grup di organisasi. Inti
dari komunitas adalah bahwa ia melibatkan perasaan yang lebih dalam hubungan di
antara orang-orang, termasuk dukungan, kebebasan berekspresi, dan kepedulian yang
asli.
3 Alignment with Organizational Values (Penyelarasan dengan nilai-nilai
organisasi)
Aspek ketiga dari spiritualitas dalam tempat kerja adalah saat individu mengalami
rasa keterpaduan yang kuat di antara keduanya Penyelidikan empiris penilaian nilainilai pribadi mereka dan misi dan tujuan organisasi mereka. Ini komponen
spiritualitas tempat kerja meliputi interaksi karyawan dengan tujuan organisasi yang
lebih besar (Mitroff dan Denton, 1999). Penjajaran dengan nilai-nilai organisasi
terkait dengan premis bahwa individu tujuan lebih besar dari diri sendiri dan harus
memberikan kontribusi kepada orang lain atau masyarakat. Alignment juga berarti
bahwa individu percaya bahwa manajer dan karyawan dalam organisasinya memiliki
nilai yang sesuai, memiliki yang kuat hati nurani, dan memperhatikan kesejahteraan
karyawannya dan komunitas (Ashmos dan Duchon, 2000). Demikian pula, Hawley
(1993) mengamati bagian dari hidup dengan kebenaran batiniah seseorang melibatkan
bekerja dalam suatu organisasi dengan integritas dan tujuan yang bermanfaat bagi
orang lain di luar sekadar membuat sebuah keuntungan. Penyelarasan dengan nilainilai organisasi melibatkan konsep bahwa karyawan keinginan untuk bekerja di
organisasi yang tujuannya bukan hanya menjadi perusahaan yang baik warga negara,
tetapi organisasi yang berupaya memiliki rasa etika atau integritas yang tinggi dan
memberikan kontribusi yang lebih besar daripada perusahaan pada kesejahteraan
karyawan, pelanggan, dan masyarakat. Sebagai contoh, Malphurs (1996, p. 52)
menyatakan bahwa seseorang “tidak boleh bekerja untuk organisasi apa pun, sakral
atau sekuler, jika ia atau dia tidak banyak berbagi nilai kelembagaan yang sama ”
Sementara organisasi jelas mengalami banyak keterbatasan dan tetap lembaga tidak
sempurna, keselarasan dengan konsep nilai-nilai organisasi menunjukkan bahwa ada
beberapa perusahaan yang memiliki tingkat komitmen yang lebih tinggi daripada
pekerja mereka, pelanggan, dan masyarakat dari yang lain
Dimensi Job insecurity
De Witte (2005) mengemukakan dua aspek dari job insecurity, yaitu
sebagai berikut:
a. Cognitive Job Insecurity
Cognitive job insecurity mengacu pada persepsi kemungkinan perubahan negatif
yang akan terjadi pada pekerjaan. Cognitive job insecurity merupakan persepsi
individu akan adanya kemungkinan kehilangan pekerjaan yang dimiliki saat ini.
b. Affective Job Insecurity
Affective job insecurity mengacu pada pengalaman yang dirasakan terkait
kelangsungan pekerjaan, seperti perasaan khawatir, dan perasaan terancam akan
kehilangan pekerjaan.
Pengertian Spiritualitas Tempat Kerja (Workplace Spirituality)
Spiritualitas Tempat Kerja adalah konsep baru dalam model manajemen dan perilaku
organisasi, khususnya budaya organisasi. Konsep ini pun sebenarnya telah
digambarkan dalam konsep-konsep perilaku organisasi seperti values, ethics, dan
sebagainya. Hal ini dijelaskan oleh Robbins (2005) sebagai berikut: The concept of
workplace spirituality draws on topics such as values, ethics, motivation, leadership,
and work/life balance. Dalam Ashmos dan Duchon (2000) menyatakan bahwa untuk
memahami istilah spiritualitas di tempat kerja harus diawali dengan pengakuan
bahwa setiap orang memiliki suatu kehidupan pribadi (inner) dan kehidupan luaran
(outer) dan bahwa pengembangan kehidupan pribadi dapat mengakibatkan kehidupan
luar yang lebih bermakna dan lebih produktif. Pengakuan terhadap spiritualitas di
tempat kerja berarti memandang tempat kerja sebagai suatu tempat yang dihuni oleh
orang-orang yang mempunyai fikiran (akal) dan semangat, dan meyakini bahwa
pengembangan semangat adalah sama pentingnya dengan pengembangan fikiran.
Lingkungan di tempat kerja mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap
kelancaran operasional perusahaan, sehingga akhirnya dapat mempengaruhi
produktifitas perusahaan pada umumnya, oleh sebab itu manajemen perusahaan yang
menyusun lingkungan kerja hendaknya memperhatikan kenyamanan para karyawan,
karena pada umumnya karyawan menghendaki suatu kondisi ruangan kerja yang
aman dan nyaman sehingga suasana kerja menjadi sangat menyenangkan.
Secara universal spiritualitas tempat kerja dapat dikelompokkan menjadi dua dimensi,
yaitu: intrinsik-alamiah dan agama. Dimensi instrinsik-alamiah memandang
spiritualitas tempat kerja sebagai konsep dan prinsip internal individu. Artinya
spiritualitas yang muncul di tempat kerja bersumber dari dalam dan berasal dari nilai
dan keyakinan yang dimiliki individu. Hal ini lah yang diimplementasikan dalam cara
bekerja tiap individu. Sementara itu, dalam dimensi agama memandang spiritualitas
tempat kerja sebagai implimentasi atas nilai-nilai agama yang mana membawa
dampak positif di tempat kerja. Berdasarkan kedua dimensi diatas, spiritualitas
tempat kerja merupakan wujud dari disiplin kerja, ikhlas dalam bekerja, bekerja
mengikuti aturan dan bertanggung jawab, tidak mengedepankan kepentingan pribadi,
kreatif dan semangat dalam bekerja, jujur, dan peduli dengan rekan kerja. Selain itu,
terdapat tiga aspek yang mempengaruhi, yaitu: imbalan (materi dan non mater),
budaya organisasi (interaksi antar anggota organisasi, kebiasaan), dan fasilitas ibadah
(Rachman et al., 2014).
Definisi Job Insecurity
Job insecurity merupakan ketidakberdayaan untuk mempertahankan
kelangsungan yang diinginkan dalam situasi kerja yang terancam (Greenhalgh &
Rosenblatt, 1984). Ancaman yang timbul dalam organisasi membuat karyawan
sangat mungkin merasa terancam, gelisah dan tidak aman karena potensi
perubahan mempengaruhi kondisi kerja dan kelanjutan hubungan serta balas jasa
yang diterima karyawan dari organisasi (Greenhalgh & Rosenblatt, 1989). Job
insecurity merupakan suatu tingkat di mana para pekerja merasa pekerjaannya
terancam dan merasa tidak berdaya untuk melakukan apapun terhadap situasi
tersebut (Ashford, Lee & Bobko, 1989). Ancaman yang dirasakan umumnya
berasal dari lingkungan melalui proses persepsi subjektif dan kognitif individu
(Sverke et al, 2006).
Job insecurity merujuk pada karyawan yang merasa terancam akan
kehilangan pekerjaan dan perubahan status yang dimiliki menjadi pengangguran
(De Witte, 1999). Greenglass (2002) mengemukakan job insecurity merupakan
suatu kondisi yang berkaitan dengan rasa takut individu akan kehilangan
pekerjaan, prospek akan demosi, penurunan jabatan, dan ancaman lainnya
terhadap kondisi kerja yang berkaitan dengan kepuasan kerja.
Hartley et al., (1991) mengemukakan job insecurity sebagai kondisi di
mana adanya perbedaan antara tingkat keamanan yang dialami dengan tingkat
keamanan yang diinginkan atau diperoleh individu. Definisi lain dari job insecurity
yaitu dugaan yang dialami secara subjektif dari peristiwa mendasar dan tidak
disengaja (Sverke et al., 2006). Job insecurity mengacu pada adanya masalah
terhadap kelangsungan pekerjaan karyawan yang di mana kelangsungan
pekerjaan merupakan inti utama dari jaminan kerja yang dimiliki oleh karyawan
(Greenhalgh & Rosenblatt, 1984).
Job insecurity dipersepsikan dari dua sudut pandang yaitu pandangan
global dan pandangan multidimensi. Pandangan global mengemukakan job
insecurity sebagai suatu kondisi adanya ancaman kehilangan pekerjaan atau
ketidakpastian pekerjaan. Sedangkan dalam pandangan multidimensi
mengemukakan job insecurity tidak hanya mengacu pada ketidakpastian yang
dialami karyawan akan kelangsungan pekerjaan, namun juga mengenai
kelangsungan pekerjaan tertentu, seperti peluang untuk promosi, perkembangan
gaji yang menurun, penurunan pangkat, menurunnya kualitas kondisi kerja, dan
kekhawatiran adanya kesenjangan antara individu dan organisasi di masa depan,
serta berbagai aspek yang dianggap penting oleh individu tersebut (Mauno &
Kinnunen, 2002).
Vander Elst et al., (2014) mengemukakan pendapat para ahli mengenai
karakter yang perlu ada dalam job insecurity, yaitu sebagai berikut:
a. Job Insecurity merupakan pengalaman subjektif (subjective experience)
terkait hasil persepsi dan interpretasi individu terhadap lingkungan kerja
yang sebenarnya. Hal ini berarti bahwa situasi yang sama dapat
menimbulkan perasaan yang berbeda-beda bagi karyawan.
b. Job insecurity dipandang sebagai fenomena yang tidak disengaja
(involuntary phenomenon). Hal ini berarti tidak termasuk karyawan yang
memilih pekerjaan yang tidak pasti atau pekerjaan yang tidak tetap.
c. Ketidakamanan terhadap pekerjaan di masa depan (insecurity about
future) merupakan inti dari job insecurity. Hal ini mengacu ada
kekhawatiran dan ancaman kehilangan pekerjaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kesejahteraan Psikologis
Schutte (2014) mengemukakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kesejahteraan psikologis yaitu sebagai berikut:
a. Dukungan sosial
Dukungan sosial merupakan rasa nyaman, perhatian, penghargaan, atau
pertolongan yang dipersepsikan oleh individu yang didapat dari lingkungan sosial
(Ryff, 1995). Huppert (dalam Nattaya, 2017) mengemukakan dukungan sosial
yang positif akan menimbulkan kesejahteraan psikologis yang baik pula pada
karyawan begitu pula sebailnya.
b. Ketidakamanan kerja (Job insecurity)
Job insecurity merupakan kondisi psikologis karyawan yang merasa terancam
akan kelangsungan pekerjaan dimasa yang akan datang (Sverke, 2004). Tingkat
job insecurity yang tinggi akan diikuti dengan rendahnya tinggkat kesejahteraan
psikologis karyawan dan sebaliknya, tingkat job insecurity yang rendah akan diikuti
tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi.
c. Tuntutan pekerjaan
Tuntutan pekerjaan merupakan salah satu pemicu terjadinya kelelahan secara
psikologi, tuntutan ini seperti bekerja dalam waktu yang lama, beban pekerjaan
yang terlalu banya, terbatasnya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, dan
adanya konfil pada tuntutan pekerjaan yang harus diselesaikan.
d. Ketidakseimbangan kondisi kerja
Karyawan yang bekerja dalam ruangan yang sempit, panas, cahaya lampu yang
silau, dan kondisi kerja yang tidak mengenakkan akan memicu timbulnya
keengganan untuk bekerja.
e. Rendahnya kualitas kepemimpinan
Kelloway, dkk (2012) mengemukakan gaya kepemimpinan dalam sebuah
organisasi dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis karyawan,
menunjukkan adanya hubungan sikap pemimpin kepada karyawan berhubungan
dengan kesejahteraan psikologis.
f. Konflik antar peran
Spector (2000) mengemukakan konflik peran dalam diri individu dapat terjadi jika
adanya ketidaksesuaian perintah dala hal yang berhubungan dengan pekerjaan
dan hal di luar pekerjaan.
g. Rendahnya arti pekerjaan
Ashford (1989) mengemukakan seberapa penting karyawan menganggap bagianbagian pekerjaan seperti gaji, jabatan, promosi, dan lingkungan kerja yang
nyaman dapat mempengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan indvidu dalam
menjalankan pekerjaan.
h. Rendahnya kesempatan untuk berkembang
Sangenberger (dalam Marwei, 2016) dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk
memperoleh kesempatan peningkatan pengalaman dan kemampuan kerja selama
bekerja.
i. Rendahnya promosi jabatan
Rendahnya promosi jabatan merupakan faktor yang berhubungan dengan ada
tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karir selama bekerja
(Sangenberger, dalam Marwei. 2016).
j. Bullying
Bullying yang dimaksud di tempat kerja yaitu adanya perlakuan negatif yang
secara terus-menerus diberikan kepada individu atau kelompok sehingga
berakibat timbulnya rasa ridak berdaya dan tekanan psikologis pada korban yang
kemudian akan berpengaruh pada perilaku kerja (Rudi, 2010).
k. Rendahnya kesadaran terhadap masyarakat
Rendahnya kesadaran terhadap masyarakat yang dimaksud yaitu dorongan yang
muncul dalam diri untuk melakukan hal yang bertentangan yang dikendalikan dan
diorganisasikan ke arah yang baik.
l. Diksriminasi
Diksriminasi merupakan perilaku yang ditujukan untuk mencegah atau membatasi
kelompok lain yang berusaha memiliki atau mendapatkan sumber daya (Doob,
dalam Liliweri. 2015).
m. Tuntutan untuk menyembunyikan emosi
Hochshild, dkk. (2011) mengemukakan emosi karyawan pada dasarnya
merupakan proses pengelolaan emosi sesuai tuntutan pekerjaan, yang dapat
dilakukan dengan cara bertindak di permukaan dan akting yang dalam.
Permukaan merupakan kondisi individu meregulasi ekspresi emosinya dengan
cara menyembunyikan maupun memalsukan emosinya, sementara akting dalam
yaitu kondisi individu secara sadar mengatur emosinya untuk mengungkapkan
suatu emosi tertentu sehingga benar-benar hilang
Pengaruh Keteribatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan
Penting bagi organisasi mengetahui faktor-faktor
yang mendukung kinerja kerja karyawan agar kinerja
organisasi juga lebih baik. Keterlibatan kerja dinilai
memiliki hubungan yang mempengaruhi kinerja
karyawan. Mengutip Lawler III (1986), Kahn (1990) dan
Pfeffer (1995), perilaku kerja karyawan adalah
konsekuensi dari keterlibatan pekerjaan dan keterlibatan
pekerjaan berdampak pada motivasi dan upaya
karyawan, yang akhirnya menunjukkan kinerja. Tariq
Iqbal Khan (2014); Johari (2016) ; Adya Hermawati
(2016); Aslaug Mikkelsen, Espen Olsen, (2018) ,
mengemukakan bahwa keterlibatan karyawan terkait
dengan kinerja karyawan. Keterkaitan ini bisa terjadi
sebagai akibat langsung atau sebagai peran pemediasi.
Namun meta- analisis Brown (1996) justru
menunjukkan bahwa ada hubungan yang tidak signifikan
antara keterlibatan pekerjaan terhadap kinerja kerja
karyawan. Hasil ini juga kemudian didukung oleh
Habeeb Ur Rahiman (2017) yang didalam penelitian
tersebut membuktikan bahwa keterlibatan kerja (Job
Involvement) tidak signifikan mempengaruhi kinerja
karyawan.
Pengaruh Komitmen Organisasional terhadap Kinerja Karyawan
Kenneth R. Ferris (1981) telah mengaitkan
komitmen organisasional sebagai anteseden terhadap
kinerja karyawan. Karyawan dengan komitmen
organisasional tingkat tinggi lebih berorientasi kerja
daripada karyawan yang lain. karyawan mendapatkan
lebih banyak kepuasan dari pekerjaan dan melihat
pekerjaan sebagai hal yang lebih banyak memenuhi
pribadi mereka. Akibatnya, karyawan bersedia
mengerahkan upaya besar atas nama organisasi
(Mowday et al., 1982). Penelitian Williams & Hazer,
(1986) mendukung pandangan bahwa kepuasan kerja
merupakan anteseden dari komitmen organisasional
afektif. Model oleh Steers dan Porter (1983) juga
menunjukkan bahwa sebagai komitmen organisasioanl
mengarah ke kinerja kontekstual yang lebih efektif,
karyawan akan menerima tingkat penghargaan yang
lebih tinggi secara proporsional, yang akan mengarah
pada peningkatan kepuasan dan komitmen yang lebih
tinggi.
Van Scotter (2000) dalam penelitiannya
mengungkapkan bahwa komitmen afektif berhubungan
positif dengan kinerja , sedangkan hubungan antara
kinerja, komitmen normatif, dan komitmen
berkelanjutan sangat lemah Chen dan Francesco (2003)
mempelajari hubungan antara komitmen organisasional
dan kinerja di Cina. Mereka menemukan bahwa
komitmen afektif berkorelasi positif dengan kinerja
dalam peran dan perilaku warga organisasi. Komitmen
berkelanjutan tidak terkait dengan kinerja dalam peran
tetapi berhubungan negatif dengan perilaku warga
organisasi. Komitmen normatif memiliki efek
penyangga pada hubungan antara komitmen afektif dan
kinerja dalam peran dan perilaku warga organisasi.
Chen et al (2006); Muhammad Riaz Khan (2010);
Suliman A. (2012); Negin Memari (2013); Nele De
Cuyper (2011); Hafiz AZ (2017), juga telah
menghubungakan antara komitmen rganisasonal dan
kinerja karyawan dan telah dinyatakan terkait secara
empiris.
Dimensi Kesejahteraan Psikologis
Ryff & Keyes (1995) mengemukakan dimensi kesejahteraan psikologis
yaitu sebagai berikut:
a. Penerimaan Diri
Penerimaan diri yaitu bagaimana individu menerima diri sendiri apa adanya dari
segi positif dan segi negatif. Individu yang menerima diri secara apa adanya maka
dimungkinkan akan memiliki sifat positif pada diri sendiri. Dengan adanya
penerimaan diri secara positif, maka sikap toleransi terhadap frustasi dan
pengalaman tidak menyenangkan akan meningkat. Penerimaan diri juga
didefiniskan sebagai karakteristik aktualisasi diri, fungsi optimal dan kematangan
perjalanan hidup.
b. Hubungan positif dengan Orang Lain
Hubungan positif dengan orang lain yaitu tingkat kemampuan individu dalam
membangun hubungan hangat dengan orang lain, hubungan interpersonal yang
didasari kepercayaan, perasaan empati, mencintai dan kasih sayang yang kuat.
Hubungan yang dimaksud tidak hanya sekedar hubungan yang dijalan atas dasar
untuk memenuhi kebutuhan psikologis seperti keintiman, namun hubungan
tersebut sudah melibatkan pengalaman diri sebagai metafsik yang dihubungkan
dengan kemampuan menggabungkan identitas diri dengan orang lain serta
menghindarkan diri dari perasaan terisolasi dan sendiri.
c. Otonomi
Otonomi merupakan tingkat kemampuan individu untuk menjadi berbeda, mandiri
dalam menentukan pilihan untuk nasib sendiri, pengendalian dan pengaturan
perilaku berasal dari internal, mampu menghindari tekanan sosial. Dimensi ini
merupakan dasar keyakinan bahwa pikiran dan tindakan individu berasal dari
dirinya sendiri, tanpa ada kendali dari lingkungan.
d. Penguasaan Lingkungan
Penguasaan lingkungan yaitu kemampuan individu untuk memilih atau
membentuk lingkungan yang sesuai dengan kondisi dirinya. Memiliki rasa
penguasaan dan kompetensi dalam mengatur lingkungan, mengontrol aturan
kompleks dalam aktivitas-aktivitas eksternal, dan mampu menciptakan hal yng
sesuai dengan kebutuhan dan nilai pribadi individu.
e. Tujuan Hidup
Tujuan hidup yaitu individu memiliki tujuan spesifik dalam hidup dan memiliki
kontrol atas diri pribadi, merasa hidup terarah pada tujuan tertentu, dan memiliki
tujuan dan sudut pandang dalam hidup.
f. Pertumbuhan Pribadi
Pertumbuhan diri yaitu tingkat kemampuan individu dalam mengembangkan
potensi yang dimiliki secara terus-menerus, menyadari potensi-potensi diri,
terbuka pada pengalaman baru. Kemampuan ini adalah gagasan dari individu
untuk terus memperkuat kondisi internal dirinya
Pengaruh Spiritualitas Kerja tehadap Kinerja Karyawan
Biberman dan Whitty (1997) telah menyatakan
bahwa studi organisasi telah mengalami pergeseran
mendasar dari paradigma mekanistik yang menghargai
rasionalitas dan sains ke paradigma spiritual yang
menghargai kesadaran dan pemahaman. Pergeseran
semacam ini memungkinkan penekanan pada isu-isu
seperti kerja tim, kepercayaan, kreativitas, dan
keterbukaan untuk berubah sebagai pendekatan untuk
menangani gangguan yang disebabkan oleh dorongan ke
arah globalisasi (misalnya perampingan, outsourcing,
dll) dengan menjaga bisnis berkembang dalam
perubahan dunia.
Paradigma spiritual pada dasarnya mengakui
bahwa orang bekerja tidak hanya dengan tangan mereka,
tetapi juga hati atau roh mereka (Ashmos dan Duchon
2000). Ini adalah ketika orang bekerja dengan semangat
berkomitmen mereka dapat menemukan makna dan
tujuan didalam tugas dan pekerjaan. Pemenuhan yang
berarti di tempat kerja dapat menjadi wadah di mana
orang dapat mengekspresikan diri mereka secara total.
Dengan demikian, memungkinkan ekspresi pengalaman
manusia pada tingkat yang paling dalam tentang tugas
kerja mereka, yang tidak hanya mengurangi stres,
konflik, dan ketidakhadiran, tetapi juga meningkatkan
kinerja karyawan (Krahnke et al. 2003).
Spiritualitas kerja juga telah dikaitkan dengan
kinerja secara kolektif atau kelompok. Pemaknaan secara
mendalam tentang kinerja secara kelompok telah
dinyatakan terkait dengan kinerja kelompok tersebut
(Duchon and Plowman 2005).
Petchsawanga (2012) ; Rabindra Kumar Pradhan
(2015) menemukan keterkaitan antara spiritualitas kerja
terhadap kinerja karyawan dan hasil dari penelitian
tersebut secara empiris membuktikan bahwa spiritualitas
kerja secara positif berpengaruh terhadap kinerja
karyawan
Kesejahteraan Psikologis di Tempat Kerja
Kesejahteraan psikologis di tempat kerja dibangun untuk mengambarkan
pengalaman positif secara subjektif oleh individu di tempat kerja, terutama
menggunakan pandangan eudaimonuic, yaitu individu mampu merealisasikan
potensi diri yang positif dalam pekerjannya (Desmarais & Savoie, 2012). Berger
(2010) mengemukakan kesejahteraan psikoloigs di tempat kerja digambarkan
sebagai suatu kondisi di mana individu yang termotivasi, terlibat di tempat kerja,
memiliki energi positif, menikmati pekerjaan yang diberikan, dan memiliki
keinginan untuk bertahan dalam organisasi.
Kesejahteraan psikologis di tempat kerja merupakan bagian dalam
kesejahteraan psikologis namun dibahas lebih spesifik, yang memiliki kerangka
kesamaan dalam kerangka acuan namun kesejahteraan psikologis di tempat kerja
menggaris bawahi keunikan konstruk yang berkaitan dengan pekerjaan
(Desmarais & Savoie, 2012)
Pengaruh Spiritualitas Kerja tehadap Keterlibatan Kerja
Keterlibatan kerja adalah keadaan kognitif atau
keyakinan identifikasi psikologis dengan pekerjaan
(Kanungo, 1982). Potensi pekerjaan untuk memenuhi
kebutuhan karyawan telah ditetapkan sebagai anteseden
keterlibatan pekerjaan (Kanungo, 1982). Konsisten
dengan ini, penelitian keterlibatan kerja (Brown, 1996)
menunjukkan bahwa kebutuhan pemenuhan adalah hasil
dari keterlibatan pekerjaan. Berarti dalam pekerjaan,
komunitas di tempat kerja, dan aspek-aspek tujuan
organisasi yang positif dari spiritualitas tempat kerja
dapat dimasukkan ke dalam dua kategori dimensi
spiritual yang lebih luas – panggilan dan keanggotaan
yang merupakan dua dimensi penting dari kelangsungan
hidup spiritual (Fry 2003). Aspek spiritualitas tempat
kerja ini fokus pada pemenuhan kebutuhan spiritual
karyawan (Ashmos dan Duchon, 2000, Duchon dan
Ploughman, 2005; Fry, 2003, 2005; Fry et al., 2005).
Dengan demikian, dimensi spiritualitas kerja, melalui
efeknya pada pemenuhan kebutuhan karyawan, harus
dikaitkan secara positif dengan keterlibatan pekerjaan.
Kolodinsky et al. (2008) menemukan hubungan
langsung antara spiritualitas organisasi dan keterlibatan
kerja, meskipun bukti untuk hubungan antara
spiritualitas individu dan hasil yang terkait dengan
pekerjaan masih kurang. Selanjutnya, dimensi
spiritualitas kerja juga memberikan motivasi intrinsik
kepada karyawan dan kegiatan kerja menjadi motivasi
yang secara intrinsik menghasilkan keterlibatan yang
lebih besar dalam pekerjaan (Fry, 2003).
Secara akademis sepiritualitas kerja telah dikaitkan
pada keterlibatan kerja dan terbukti cecara ekademis
bahwa di temukan terkait (Milliman et al. 2003;
Crawford et al. 2009;Arjun Kumar Shrestha, 2017;
Manju Mahipalan et al, 2018)
Kesejahteraan Psikologis (Psychological Well-Being)
Kesejahteraan psikologis merupakan kondisi tercapainya kebahagiaan
tanpa adanya gangguan psikologis yang ditandai dengan kemampuan individu
mengoptimalkan fungsi psikologisnya. Kesejahteraan psikologis merupakan fungsi
optimal dari fungsi psikologis seseorang (Ryff, 1989). Ryff (1989) mendefinisikan
kesejahteraan psikologis sebagai sebuah keadaan di mana individu dapat
merealisasikan dan mencapai potensi dirinya secara penuh. Ryff mengemukakan
pandangan bahwa pribadi yang berfungsi optimal adalah pribadi yang dapat
mencapai karakter tertentu. Ryff meyakini bahwa setiap individu dapat menjadi
pribadi yang berfungsi optimal dalam aspek psikologis dengan mengembangkan
potensi diri dan mencapai aktualisasi diri.
Kesejahteraan psikologis dicerminkan dengan keadaan di mana indvidu
dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan dirinya, mandiri, mampu
membina hubungan positif dengan orang lain, dapat menguasai lingkungannya
dalam arti dapat memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan keinginannya,
memiliki tujuan dalam hidup, serta terus mengembangkan dirinya (Ryff, 1989).
Aspinwall (2002) mengemukakan kesejahteraan psikologis menggambarkan
bagaimana psikologis individu berfungsi dengan baik dan positif. Kesejahteraan
psikologis ditempat kerja merupakan tingkat perasaan dan tujuan psikologis yang
dirasakan seseorang ditempat kerja (Robertson & Cooper, 2011).
Kesejahteraan psikologis karyawan merupakan kondisi sejahtera yang
diperoleh karyawan dari suatu pekerjaan yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan
kerja karyawan tersebut (Juniper, 2010). Lakoy (2009) mengemukakan
kesejahteraan psikologis merupakan kondisi tertinggi yang dapat dicapai oleh
individu yang mencakup evaluasi dan penerimaan diri pada berbagai aspek
kehidupan tidak hanya berupa aspek positif namun juga aspek negatif.
Kesejahteraan psikologis merupakan kondisi individu yang sejahtera dengan
mengisi kehidupannya secara bermakna, bertujuan sehingga mampu berfungsi
secara optimal dan memiliki penilaian yang positif akan kehidupannya (Tanujaya,
2014).
Kesejahteraan psikologis sebagai fungsi positif individu yang merupakan
tujuan yang diusahakan untuk dicapai oleh individu yang sehat (Schultz, 2010).
Ryff (2002) mengemukakan bahwa kesejahteraan psikologis tidak hanya terdiri
dari efek positif, efek negatif, dan kepuasan hidup, namun juga dipahami sebagai
sebuah konstruk multidimensional yang terdiri dari sikap hidup yang terkait dengan
dimensi kesejahteraan psikologis itu sendiri yaitu mampu merealisasikan potensi
diri secara berkesinambungan, mampu membentuk hubungan yang hangat
dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, menerima diri
apa adanya, memiliki arti dalam hidup, dan mampu mengontrol lingkungan
eksternal.
Pengaruh Spiritualitas Kerja terhadap Komitmen Organisasional
Spiritualitas kerja telah diusulkan untuk
berhubungan positif dengan sikap kerja karyawan (Neck
dan Milliman, 1994) yang kemudian menjadi dasar
penelitian-penelitian selanjutnya. Penelitian terdahulu
mengemukakan ide bahwa Sense of Community terkait
dengan komitmen dan perputaran karyawan (yang sangat
terkait dengan niat untuk berhenti bekerja).
Trott (1996) mengemukakan bahwa kesejahteraan
spiritual, yang meliputi Sense of Community , akan
berhubungan positif dengan kerja sama dan berhubungan
negatif dengan perputaran dan ketidakhadiran. Milliman
et al. (1999) mengemukakan bahwa memiliki Sese of
Community yang kuat dan tujuan organisasi yang
memiliki tujuan yang kuat mempengaruhi komitmen
karyawan yang lebih besar dan tingkat retensi yang lebih
tinggi.
Milliman et al. (2003) dalam penelitiannya telah
menyusun hipotesis yang menghubungkan antara 3
dimensi spiritualitas kerja dengan lima variable perilaku
organisasi, dalam penelitian ini duiji kepada mahasiswa
sekolah bisnis, dan hasilnya 3 dimensi spiritualitas kerja
secara positif mempengaruhi komitmen organisasional.
Beberapa penelitian terdahulu juga telah
mengaitkan spiritualitas kerja pada komitmen
organisasional dan secara akademis menunjukkan bahwa
spiritualitas kerja mempengaruhi komitmen
organisasional Krishnakumar and Neck (2002),
Crawford et al. (2009), Rolland E.Fanggidae (2016).
Lebih spesifik spiritualitas kerja juga telah dikaitkan
dengan dimensi komitmen organisasional ( Afektif dan
normatif) dan telah terbukti secara empiris dan
dinyatakan terkait Pradhan et al. (2016), Arménio Rego
et al (2008).
Model person-organizational fit (P-O Fit)
Person-Organizational Fit (P-O Fit) dapat diartikan dalam empat konsep,
antara lain sebagai berikut (Astuti, 2010)
1. Kesesuaian nilai (value congruence) yaitu kesesuaian nilai intrinsik
individu dengan nilai organisasi.
2. Kesesuaian tujuan (goal congruence) yaitu kesesuaian tujuan individu
dengan tujuan organisasi dalam hal ini adalah pempinan dan rekan kerja.
3. Pemenuhan kebutuhan karyawan (employee need fulfillment) yaitu
kesesuaian antara kebutuhan karyawan dan kekuatan lingkungan kerja
dengan sistem dan struktur organisasi.
4. Kesesuaian karakteristik (culture personality congruence) yaitu
kesesuaian antara kepribadian (bukan nilai) individu dengan iklim atau
kultur organisasi
Kinerja Karyawan (Job Performance)
Kinerja dicirikan sebagai konstruk dinamis
(Motowidlo et al. 1997; Sonnentag dan Frese 2002),
multidimensional (Campbell et al. 1990a, b; Motowidlo
et al. 1997; Sonnentag dan Frese 2002 ; Cheng et al.
2007). Kinerja didefinisikan sebagai total nilai yang
diharapkan untuk organisasi dari episode perilaku diskrit
yang dilakukan oleh individu selama periode waktu
standar (Motowidlo et al. 1997). Koopmans et al. (2011)
mendefinisikan kinerja adalah perilaku atau tindakan
yang relevan dengan tujuan dari suatu organisasi.
Koopmans et al. (2011) menambahkan definisi yang
dikemukan oleh Campbell dengan tiga hal berikut, iaitu
pertama kinerja harus dijelaskan dalam perilaku
dibanding hasil, kedua kinerja hanya berisikan perilaku
yang relevan dengan tujuan organisasi, dan ketiga
kinerja adalah multidimensi.
Campbell (1990) merumuskan faktor model
kinerja menjadi delapan dimensi yaitu :
a. Keahlian Tugas Spesifik (Job specific task
proficiency)
Iaitu dimensi yang melukisakan perilaku seorang
individu yang berkaitan dengan tugas utama mereka
sesuai peran didalam organisasinya.
b. Keahlian pada Tugas Khusus diluar dari pekerjaan
(Non-job spesific task proficiency )
Iaitu dimensi yang menggambarkan kehalian yang
dimiliki oleh seorang individu secara umum yang
tidak terkait dengan tugas utamanya.
c. Kemahiran Komunikasi Tertulis dan Komunikasi
Lisan (Written and oral communication task
proficiency)
Iaitu dimensi yang menggambarkan kemampuan
individu berkomunikasi terhadap individu lain dalam
konteks komunitas atau organisasi baik verbal
maupun tertulis sebagai pendukung kinerja individu
dalam tugas kerjanya.
d. Menunjukkan Upaya (Demonstrating effort)
Iaitu dimensi yang menggambarkan komitmen dan
motivasi seorang individu terhadap pekerjaan mereka.
Dimensi ini melihat tentang seberapa dalam dorongan
dan keinginan individu tersebut untuk bekerja .
e. Memelihara Kedisiplinan Pribadi (Maintaining
personal discipline)
Iaitu dimensi perlakuan yang diberikan pada diri
sendiri pada saat melakukan perilaku negative yang
mengarah pada kontraproduktif yang dapat
merugikan individu atau organisasi.
f. Memfasilitasi Kinerja Rekan dan Tim (Facilitating
peer and team performance)
Iaitu dimensi yang menggambarkan kemampuan
memanfaatkan waktu dalam menjalankan tugas dan
peran kerjanya baik di level kelompok atau organisasi
seluruhnya.
g. Pengawasan dan Kepemimpinan (Supervision and
leadership)
Iaitu dimensi yang menggambarkan sejauhmana
pengawasan seorang individu terhadap penegakan
nilai nilai yang ada didalam organisasi dan penerapan
perilaku kepemimpinan oleh individu didalam
organisasi.
h. Manajemen dan Administrasi (Management and
administration)
Iaitu dimensi yang menggambarkan bagaimana
seorang individu menyatu dalam sistem keorganisasi
dimana individu tersebut bernanung.
Campbell (1990) mengemukakan tiga faktor utama
yang mempengaruhi kinerja Karyawan, iaitu
pengetahuan tentang pekerjaan, keahlian tentang
pekerjaan dan motivasi kerja. Pengetahuan tentang
pekerjaan adalah faktor yangberpengaruh dan
mempunyai peran besar terhadap kinerja seseorang
individu, faktor ini meliputi kemampuan, kepribadian,
pendidikan, pelatihan dan hubungan keterkaitan antara
bakat dan pelatihan. Pengetahuan adalah dasar individu
dalam mengambil keputusan dalam situasi yang
dihadapinya. Keahlian adalah kemampuan individu
untuk melakukan suatu prosedur kerja dengan tepat.
Ketika pengetahuan dan keahlian disatukan maka
pekerja tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan tetapi
pekerja juga tahu bagaimana melakukannya dengan
benar. Motivasi adalah dorongan yang timbul pada
individu secara sadar untuk berusaha melakukan
tindakan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
Keterlibatan Kerja (Job Involvement)
Keterlibatan pekerjaan merupakan faktor penting
dalam kehidupan individu karyawan. Individu
menghabiskan banyak waktu dan bakat mereka dalam
berbagai aspek kerja atau persiapan untuk bekerja.
Keterlibatan dalam pekerjaan menyiratkan keadaan
keterlibatan positif di mana individu dirangsang secara
mental dan emosional (Brown 1996). Kahn (1990)
mendeskripsikan keterlibatan pekerjaan sebagai
pemanfaatan diri penuh karyawan dalam hal energi fisik,
kognitif, dan emosional untuk kinerja kerja. Mirip
dengan penelitian yang memeriksa spiritualitas dalam
organisasi, penelitian mengenai keterlibatan pekerjaan
mencari cara untuk menciptakan hubungan antara
individu dan lingkungan kerja mereka (Rich et al. 2010).
Keterlibatan kerja telah didefinisikan sebagai
tingkat di mana seseorang secara psikologis
mengidentifikasi atau berkomitmen pada pekerjaannya
(Kanungo 1982). Hal ini juga dianggap sebagai
tingkatan yang secara kognitif sibuk, terlibat secara
penuh, dan peduli dengan pekerjaan seseorang saat ini.
Lebih lanjut (Kanungo. 1982) mengungkapkan bahwa
karyawan terlibat dalam pekerjaan mereka dan dari hal
tersebut pekerjaan memenuhi kebutuhan pribadinya dan
kebutuhan itu agak bersifat situasional dan bervariasi.
Saleh and Hosek (1976) mengungkapkan bahwa
karyawan terlibat dalam pekerjaan mereka ketika:
a. Pekerjaan merupakan minat utama dalam hidup
mereka
b. Karyawan secara aktif berpartisipasi dalam pekerjaan
mereka
c. Karyawan menganggap bekerja sebagai pusat harga
diri
d. Kinerja merupakan pusat konsep diri mereka
Keterlibatan pekerjaan adalah bentuk komitmen
organisasional yang berbeda, karena ini merujuk pada
perasaan individu tentang organisasi secara keseluruhan
daripada pekerjaan spesifik mereka. Misalnya, seorang
individu dapat berkomitmen pada cita-cita organisasi
tetapi konteks pekerjaan tertentu mereka dapat
meningkatkan atau mengurangi keterlibatan mereka
dalam pekerjaan tertentu.
Indikator person-organizational fit (P-O Fit)
Indikator dari Person-organizational fit (P-O Fit) menurut Santoso &
Irwantoro (2014) sebagai berikut :
1) Kesesuaian antara kebutuhan sebagai karyawan dengan nilai-nilai dalam
organisasi.
2) Bertanggungjawab dalam pelaksanaan ketentuan dan peraturan
3) Bekerja secara Profesional
4) Bekerja Dengan Penuh Integritas
5) Menjaga Kerukunan Dan Hubungan Kekeluargaan Antar Pegawai
Pengertian person-organizational fit (P-O Fit)
Person-organizational fit (P-O Fit) merupakan kesesuaian antara nilai-nilai
pada diri individu dengan nilai-nilai yang ada dalam organisasi (Kristof, 1996).
Apabila terdapat kesesuaian maka akan menimbulkan rasa nyaman baik itu dari
pihak individu maupun dari pihak organisasi.
Pemahaman terhadap Person-Organization Fit (P-O fit) dapat membantu
perusahaan untuk memilih para karyawan dengan nilai dan keyakinan yang sesuai
dengan organisasi dan membentuk pengalaman-pengalaman yang dapat
memperkuat kesesuaian tersebut. Pendapat-pendapat tentang memperkerjakan
karyawan yang sesuai, pengaruh dari karyawan yang sesuai dengan perusahaan
telah dikembangkan dalam banyak literatur (Astuti, 2010).
Komitmen organisasional (Organization Commitment)
Baron dan Greenberg (1990) menyatakan bahwa
komitmen memiliki arti penerimaan yang kuat individu
terhadap tujuan dan nilai-nilai perusahaan, di mana
individu akan berusaha dan berkarya serta memiliki
hasrat yang kuat untuk tetap bertahan di perusahaan
tersebut.
Allen dan Mayer (1991) Mendifinisikan komitmen
organisasional sebagai konstruk psikologis yang
menjelasakan tentang hubungan anggota organisasi
terhadap organisasinya yang kemudian memiliki
implikasi keputusan individu untuk melanjutkan
keanggotaannya dalam berorganisasi.
Allen dan Mayer (1993) mengklasifikasikan
komitmen organisasional kedalam tiga dimensi iaitu:
a. Komitmen Afektif (Affective Commitment) adalah
kuatnya keinginan seorang individu dalam bekerja
bagi organisasi atau perusahaan yang disebabkan
karena individu memiliki rasa cinta terhadap
organisasi.
b. Komitmen Kontinyu (Continuance Commitment)
adalah kuatnya keinginan seorang individu dalam
bekerja bagi organisasi atau perusahaan yang
disebabkan karena individu membutuhkan pekerjaan
tersebut dan tidak melakukan pekerjaan yang lain.
c. Komitmen Normatif (Normative Commitment) adalah
keiginan individu dalam bekerja bagi organisasi atau
perusahaan yang di sebabkan karena individu tersebut
memiliki rasa tanggungjawab pada organisasi atau
perusahaan yang mempekerjakannya.
Komitmen organisasional iaitu sikap individu yang
mencerminkan sejauh mana seorang individu mengenal
dan terikat pada organisasinya (Griffin 2004).individu
yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi
dimana ia bernaung memiliki kebiasaan-kebiasaan yang
baik untuk organisasinya, memilikir rencana untuk
menetap, bekerja didalam organisasi lebih lama dan
mengeluarkan tenaga mereka secara penuh dalam
pelaksanaan peran dan tugas-tugas kerjanya
Indikator Motivasi
Indikator-indikator motivasi kerja Can & Yasri (2013) antara lain yaitu :
a. Kebutuhan akan kekuasaan
b. Kebutuhan untuk berprestasi
c. Kebutuhan akan afiliasi
Faktor Motivasi
Motivasional menurut Hidayati & Ermiyanto (2017) mencakup beberapa
faktor yang mempengaruhi, antara lain :
(1) Prestasi (Achievement),
(2) Penghargaan (Recognition),
(3) Tanggung jawab (Responsibility),
(4) Kesempatan untuk maju (Possibility of growth),
(5) Pekerjaan itu sendiri (Work), dan
(6) Pertumbuhan dan perkembangan (Growth)
Spiritualitas Kerja (Workplace Spirituality)
Spiritualitas kerja pertamakali digagas dan
diangkat oleh Maslow (Maslow et al. 1998) mengenai
pentingnya makna hidup dalam dunia kerja. Ashmos dan
Duchon (2000) mendefinisikan spiritualitas kerja sebagai
pengakuan bahwa karyawan memiliki kehidupan batin
yang memelihara dan dipelihara oleh pekerjaan yang
berarti yang terjadi dalam konteks komunitas. Secara
umum Ashmos dan Duchon (2000) mengklasifikasikan
spiritualitas kerja menjadi tiga bagian yaitu kehidupan
batin, pekerjaan yang bermakna dan komunitas.
Milliman et al. (2003) mendiskripsikan komponenkomponen yang membentuk sepiritualitas kerja kedalam
3 bagian, iaitu:
a. Level personal (pekerjaan yang bermakna/meaningful
work)
Dimensi spiritualitas kerja ini didefinisikan
sebagai pekerjaan yang bermakna, iaitu suatu aspek
mendasar dari spiritualitas kerja yang berfokus pada
makna mendalam tentang tujuan pekerjaan
seseorang. Dimensi spiritualitas kerja ini
menggambarkan bagaimana seorang karyawan
berinteraksi dengan tugas kerja atau pekerjaan yang
dilakukan sehari-hari pada level individu. Dimensi ini
mengasumsikan bahwa setiap individu mempunyai
motivasi dan kebenaran yang di tanam didalam diri,
dan terlibat dalam kegiatan atau pekerjaan yang
memberikan arti yang lebih besar dan lebih
mendalam pada kehidupannya dan kehidupan orang
lain (Ashmos dan Duchon, 2000; Hawley, 1993).
b. Level komunitas (perasaan terhubung dengan
komunitas/sense of community)
Dimensi ini diartikan atau dipahami sebagai
perasaan terhubung secara mendalam dalam
hubungannya dengan individu lain atau
diartikulasikan sebagai rasa komunitas (Ashmos dan
Duchon, 2000). Dimensi ini terjadi pada level
kelompok individu yang menyangkut interaksi antar
individu tersebut, Rasa komunitas ditempat kerja ini
berdasar pada keyakinan bahwa setiap individu itu
terhubung satu sama lain (Maynard, 1992; Miller,
1992).
c. level organisasi (penegakkan serta pemeliharaan nilai
personal dan kesesuaiannya dengan nilai
organisasi/alignment of organization values).
Dimensi spiritualitas kerja ini memiliki definisi
iaitu ketika individu memiliki perasaan terhubung,
dan keterpaduan yang kuat antara nilai-nilai yang
diyakini secara pribadi dengan nilai yang dipakai oleh
sebuah organisasi. Dimensi ini mencakup interaksi
individu dengan tujuan organisasi yang lebih besar
(Mitroff dan Denton, 1999).
Spiritualitas kerja memiliki kesamaan dengan
munculnya bidang keilmuan organisasi yang positif
dalam memfokuskan secara lebih eksplisit pada aspek
kerja kemanusiaan (Lavine et al. 2014) dengan
berusaha untuk lebih memahami pengalaman
manusia, termasuk dorongan untuk diri sendiri.
aktualisasi (Joelle & Coelho, 2017), pengembangan
diri, dan ekspresi diri yang lebih lengkap di tempat
kerja (Pawar, 2009).
Spiritualitas kerja dipandang sebagai konstruksi
multi-faceted yang mempengaruhi motivasi intrinsik
individu (Sharma & Hussain, 2012) dan melibatkan
‘kesadaran batin’ seseorang dan mencari makna
(Houghton et al. 2016). Tema utama dari literatur
tentang spiritualitas kerja adalah bahwa orang-orang
berhasrat untuk tidak hanya berkompeten dalam
pekerjaan mereka, tetapi juga untuk memiliki
beberapa jenis pengalaman pribadi lain yang
bermakna kerja. Jenis pengalaman ini dapat
melibatkan berbagai aspek seperti rasa transendensi,
pekerjaan yang bermakna dan terarah, koneksi ke
orang lain atau kekuatan yang lebih tinggi,
pengalaman diri asli seseorang, melayani orang lain
atau kemanusiaan, dan memiliki organisasi yang baik
dan etis (Milliman et al. 2017).
Teori Motivasi
Dari Elmi et al., (2013) terdapat beberapa penelitian mengenai motivasi,
beberapa teori tentang manusia dan motivasi sebagai fenomena yang kompleks
yang membedakan dia dengan makhluk lain dapat dikembangkan. Stoner (1982)
mengelompokkan teori motivasi menjadi tiga jenis yaitu: a) teori penguatan b)
teori konten, dan c) teori proses.
a. Teori Konten: berfokus pada apa motivasi adalah, berfokus pada pentingnya
faktor dalam individu yang menyebabkan mereka untuk berperilaku. Upaya
teori ini untuk memenuhi apa kebutuhan dilakukan dan apa yang
mendorong dia untuk bertindak.
b. Teori Proses: berfokus pada bagaimana dan dengan apa tujuan individu
untuk termotivasi atau terdorong dirinya untuk melakukan suatu pekerjaan.
c. Teori Penguatan: berfokus pada cara berperilaku yang dapat dipelajari, apa
akibat dari perbuatan masa lalu yang mempengaruhi akta masa depan dalam
siklus proses pembelajaran.
Teori Dasar Spiritualitas
Spiritualitas kerja (Workplace Spirituality) telah di
konseptualisasikan sebagai pemahaman yang
menawarkan wawasan baru tentang bagaimana individu
mengalami tingkat motivasi kerja dan keterikatan
intrinsik yang lebih dalam. Pemahaman seorang tentang
makna sebuah pekerjaan menjadi penting untuk terus
digali sebagai dasar motivasi agar setiap karyawan
memiliki motivasi yang tidak hanya sekedar
menganggap sebuah pekerjaan adalah rutinitas, lebih
dari itu pekerjaan bisa menjadi hal yang menggairahkan
karena memiliki arti yang lebih dalam dan bermakna.
Secara umum spiritualitas kerja adalah pemahaman yang
lebih mendalam tentang makna pekerjaannya oleh
seorang individu dengan segala nilai yang ada didalam
diiri individu tersebut, mendapatkan tujuan dalam
pekerjaannya, dan memiliki perasaan terhubung dengan
individu lain dan organisasi dimana individu tersebut
bernaung dan bekerja (Ashmos dan Duchon 2000).
Spiritualitas telah dikaitkan dengan peningkatan
motivasi karyawan (Krishnakumar dan Neck 2002),
komitmen karyawan (Pfeffer dan Vega 1999, Milliman et
al. 2003). Secara lebih mendalam, penelitian Milliman et
al. (2003) menjadi yang pertama mengembangkan set
hipotesis mengenai spiritualitas kerja dan 5 variabel
sikap kerja (komitmen organisasional, kinginan keluar
kerja, kepuasan kerja intrinsik, keterlibatan kerja, dan
self-esteem. penelitian ini dilakukan terhadap karyawan
magang sebuah perusahaan, dan dalam penelitiannya
menemukan bahwa 3 komponen spiritualitas kerja
(pekerjaan yang bermakna, rasa terhubung dengan
organisasi atau komunitas dan penegakan nilai dalam
diri) berkontribusi dan mempengaruhi komponen pada
konstruk perilaku kerja individu. Dari penelitian
tersebut, ditemukan bahwa dimensi pekerjaan yang
bermakna dan rasa terhubung dengan komunitas pada
konstruk spiritualitas kerja mempengaruhi komitmen
individu pada o rganisasi dimana individu tersebut
berada, memperkecil intensi keinginan individu untuk
meninggalkan organisasi atau pekerjaan, memunculkan
kepuasan intrinsik didalam melakukan tugas kerjanya,
memunculkan keterlibatan pekerjaan (Job Involvement)
yang lebih terhadap tugas dan pekerjaan dan
meningkatkan Self-esteem dalam diri seorang individu
tersebut. Dan peningkatan sikap kerja ini pada akhirnya
meningkatkan kinerja karyawan
Pengertian Motivasi
Pentingnya peran SDM dalam menentukan keberhasilan perusahaan, maka
organisasi harus mampu mewujudkan keinginan dan kebutuhan karyawan melalui
pemberian motivasi sehingga dapat mencapai kinerja yang tinggi. Motivasi
merupakan keseluruhan proses pemberian motif bekerja para bawahan sedemikian
rupa, sehingga mereka mau bekerja dengan maksimal dan ikhlas demi tercapainya
tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis (Maulana, 2015). Peran motivasi
dalam pekerjaan cukup penting dimana motivasi bisa muncul dari dalam diri
sendiri atau dapat dibangun dari luar diri karyawan.
Motivasi adalah hal yang menjadi penyebabkan, penyalurkan dan
pendukung perilaku manusia atau individu agar mau bekerja dengan giat dan
antusias demi mencapai hasil kinerja yang optimal (Meisha, 2017). Pencapaian
kinerja yang optimal dapat dilakukan dengan memberi motivasi atau
menumbuhkan motivasi bagi para karyawan untuk dapat melakukan pekerjaan
mereka secara optimal.
Dengan cara yang sederhana, Hersey dan Blanchard (1995) menyebutkan
bahwa motivasi adalah niat untuk melakukan sesuatu sementara motif adalah
kebutuhan, niat, dorong atau dorongan. Robbins (2001) motivasi didefinisikan
sebagai “ Proses yang menjelaskan intensitas, arah individu, dan ketekunan usaha
ke arah mencapai tujuan” (Elmi, Nimran, & Al, 2013) motivasi sendiri merupakan
suatu dorongan dari masing-masing individu untuk melakukan kegiatan atau
pekerjan tertentu
Jenis-jenis Kontrak Psikologis
Menurut Rousseau (1989), kontrak psikologis dibagi menjadi dua bentuk yaitu :
a. Transactional Contract
Transactional contract atau kontrak transaktional adalah perjanjian bentuk
jangka pendek yang berfokus pada aspek pertukaran ekonomi dengan jenis
pekerjaan yang tidak luas serta karyawan semakin sedikit dalam organisasinya.
Oleh karena itu hubungan yang dibangun tidak berdasarkan jarak waktu yang
lama. Hubungan kerja dengan kontrak transaktional kinerja karyawan tersebut
dianggap buruk atau kontrak akan berakhir.
b. Ralational Contract
Relational contract atau kontrak rasional mempunyai jangka waktu yang
panjang serta tidak ditentukan waktu berakhirnya. Jenis kontrak ini
menghubungkan dengan faktor sosio-emosional seperti keamanan,
kepercayaan dan loyalitas.
c. Balanced
Balanced, yaitu bentuk perjanjian terbuka, yang dikondisikan pada
keberhasilan ekonomi perusahaan serta kesempatan untuk bekerja dalam
mengembangkan keuntungan karir. Timbal balik kepada pekerja berdasrkan
pada kinerja dan kontribusi untuk perusahaan, terutama dalam mengahadapi
tekanan pasar.
d. Transitional
Transitional adalah kontrak psikologis yang tidak terbentuk sendiri atau berdiri
sendiri, tetapi kognitif mengemukakan bahwa transisi yang bertentangan
dengan peraturan sebelum pekerjaannya ditetapkan.
Pengarub Spiritualitas Di Tempat Kerja Terhadap Kepuasan Kerja
Spiritualitas ditempat kerja ini adalah pemanfaatan, penumbuhan, dan
pengembangan nilai-nilai ditempat kerja sehingga menjadi spiritual bagi orangorang yang ada di organisasi. Dengan demikian, orang-orang yang ada dalam
organisasi tersebut “menikmati” segala kelebihan dan kekurangan yang ada dalam
pekerjaannya, membuatnya bahagia, membuatnya ingin mengaktualisasikan diri
sebaik mungkin, sampai pada akhirnya menjadi lebih produktif dalam menangani
berbagai pekerjaan. Namun, karena spiritualitas ini berkaitan dengan nilai-nilai
maka akan berkaitan dengan agama, karena agama selalu memberikan nilai-nilai
yang harus dianut oleh pemeluknya, (Zohar dan Marshall, 2005) lebih lanjut
mengemukakan hal tersebut sebagai berikut, dengan terbentuknya budaya
spiritualitas di tempat kerja, diharapkan akan terbentuk karyawan yang happy, tahu
dan mampu memenuhi tujuan hidup. Karyawan yang demikian umumnya memiliki
hidup yang seimbang antara kerja dan pribadi, antara tugas dan pelayanan. Pada
umumnya, mereka juga memiliki kinerja yang lebih tinggi. Hasil penelitian yang
dilakukan sebuah perusahaan konsultan besar, penerapan lingkungan kerja yang
spiritual meningkatkan produktivitas dan menurunkan turn over.
Menurut Artikel Manajemen SDM, saat ini banyak orang menemukan
inspirasi dan kepuasan dalam pekerjaan mereka dengan mengusung spiritualitas di
tempat kerja. Menurut Majalah Fortune, 78 persen orang Amerika merasa perlu
mengalami pertumbuhan spiritual dan setengah dari mereka mengatakan bahwa
mereka secara terbuka membicarakan masalah spiritual di tempat kerja. Jurnal
Business Intelligence (2009) melaporkan bahwa 85 persen peserta menjawab ya
sebagai jawaban atas pertanyaan apakah spiritualitas pemimpin mempengaruhi
organisasi mereka atau tidak.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Wastu Adi (2011) mengenai penerapan
spiritualitas di tempat kerja di RSI dan hubungannya dengan kepuasan kerja
perawat menemukan hasil bahwa spiritualitas di tempat kerja berpengaruh positif
terhadap kepuasan kerja perawat. Penelitian mengenai efek spiritualitas di tempat
kerja terhadap komitmen organisasi dan kepuasan kerja yang dilakukan oleh
Fanggida E, et al, (2016) menunjukkan hasil bahwa spiritualitas di tempat kerja
berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi dan kepuasan
kerja ini berarti bahwa semakin tinggi spiritualitas di tempat kerja maka semakin
tinggi juga komitmen organisasi dan kepuasan kerjanya.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Hoda Javanmard et al, (2014) mengenai
hubungan kepuasan kerja dan spiritualitas di tempat kerja pada pegawai
pemerintahan, hasil menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara
kepuasan kerja dan spiritualitas di tempat kerja. Penelitian lainnya dilakukan oleh
Gupta et al, (2013) di mana mereka melakukan survey efek spiritualitas di tempat
kerja. Dimensi pada spiritualitas di tempat kerja penting untuk pemenuhan
kebutuhan diri karyawan dan itu membantu banyak meyakinkan respon positif dari
karyawan. Oleh karena itu, ada dampak signifikan antara spiritualitas di tempat
kerja dan kepuasan kerja.
Piryaei dan Zare (2013) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa
pekerjaan yang bermakna memberikan dampak postif terhadap kepuasan kerja,
Komunitas di tempat kerja juga dikaitkan secara positif dengan kepuasan kerja.
Nilai organisasi akan memberikan hasil yang signifikan mengenai kepuasan kerja.
Dimana menurut Milliman , dkk (2003) ketiga hal tersebut merupakan aspek utama
dari spiritualitas di tempat kerja.
Aspek-Aspek Kontrak Psikologis
Menurut Rousseau (1989), mengemukakan bahwa aspek kontrak
psikologis terdapat pada harapan tentang janji organisasi kepada karyawan atas
kontribusi dalam perusahaan serta mempunyai kinerja yang baik. Seperti peluang
pengembangan karir, konten pekerjaan, atmosfer sosial, imbalan finansial, dan
keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Ketika organisasi memenuhi tugas kewajibannya maka karyawan
berkontribusi terhadap organisasi dalam menyeimbangkan masalah pribadi
dengan masalah di dalam organisasi seperti, loyalitas terhadap organisasi,
ketersediaan bekerja yang maksimal, mempunyai perilaku yang baik kepada
sesama karyawan ataupun kepada atasannya (Rousseau, 1989).
Pengaruh Stres kerja Terhadap Kepuasan Kerja
Penelitian yang dilakukan oleh Ismail (2009) yang bertujuan untuk
mengukur pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja karyawan menunjukan
hasil bahwa tingkat stres fisiologis memiliki pengaruh terhadap kepuasan
kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Edi (2009) pada Bank Internasional
Indonesia menyatakan bahwa Stres kerja mempunyai hubungan negatif dengan
kepuasan kerja. Dengan demikian semakin tinggi tingkat stres karyawan di tempat
kerja maka akan semakin menurun tingkat kepuasan yang dimilikinya.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Iqbal (2012) mengenai pengaruh
stres kerja terhadap kepuasan kerja karyawan menunjukan hasil bahwa terdapat
hubungan negatif antara variabel stres kerja dengan kepuasan kerja. Kerambut
(2012) juga menyatakan bahwa, stres kerja berpengaruh secara negatif dan
signifikan terhadap kepuasan kerja perawat. Semakin tinggi stres yang dirasakan,
kepuasan kerja akan semakin rendah dan sebaliknya apabila semakin rendah stres
kerja yang dirasakan, maka kepuasan kerja akan semakin tinggi.
Penelitian yang dilakukan oleh Styawahyuni (2014) yang bertujuan untuk
mengetahui bagaimana pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja karyawan
pada rumah makan Kampoeng seafood menemukan hasil bahwa stres kerja
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan, nilai
negatif menandakan semakin karyawan merasa stres terhadap pekerjaannya maka
kepuasan kerjanya akan menurun sedangkan bila stres kerja yang dialami oleh
karyawan rendah maka kepuasan kerjanya akan semakin meningkat. Leung et al,.
(2012) melakukan penelitian mengenai hubungan stres terhadap kepuasan kerja
karyawan pada Industri rekreasi di Hongkong, hasil dari penelitian menemukan
bahwa stres kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan.
Pengertian Kontrak Psikologis
Menurut Sofyanty (2018) Kontrak psikologis merupakan bentuk harapan
dari karyawan terhadap perusahaan mengenai aspek-aspek yang menjadi tanggung
jawab masing-masing pihak. Meskipun perjanjian ini tidak tertulis namun mampu
memotivasi karyawan untuk bekerja secara efektif.
Kontrak psikologis merupakan kumpulan dari keseluruhan ekspektasi yang
dimiliki seorang individu mengenai apa yang akan dikontribusikan untuk
organisasi serta apa yang diberikan oleh organisasi sebagai balas jasa (Griffin,
2013). Jadi, kontrak psikologis tidak tertulis diatas kertas dan syarat tersebut tidak
dinegoisasikan oleh individu secara eksplisit.
Dalam terpenuhinya kontrak psikologis tergantung dari dua dimensi yaitu :
(Sembiring, Danta, & Ginting, 2000)
1. Tingkat harapan dan persepsi karyawan bahwa perusahaan akan menyediakan
apa yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan karyawan.
2. Asumsi adanya kesamaan persepsi mengenai pertukaran; seperti pertukaran
uang dan waktu kerja, pertukaran kebutuhan kerja, pertukaran kebutuhan
sosial/rasa aman dengan kerja keras dan loyalitas, pertukaran kesempatan
untuk aktualisasi diri dengan usaha yang kreatif untuk mencapai tujuan
perusahaan atau kombinasi lainya.
Menurut Rousseau (1989), mengemukakan bahwa kontrak psikologis
menjelaskan suatu persepsi karyawan dalam perwujudan dan kewajiban timbal
balik dengan perusahaan serta saling menguntungkan antar organisasi perusahaan.
Menurut Ermawati (2017), dapat didefinisikan dalam keyakinan pekerja terhadap
obligasi kewajiban timbal balik antara pekerja dengan organisasi berdasarkan atas
janji yang dipersepsikan oleh pekerja dan tidak diketahui oleh agen–agen
organisasi seperti supervisor, manajer dan Lain-lain (Sembiring et al., 2000).
Schein (2010), mendefinisikan bahwa kontrak psikologis merupakan suatu
keyakinan yang dimiliki oleh karyawan dan perusahaan serta kewajiban yang
dimiliki oleh suatu pihak dengan pihak yang lain. Kontrak psikilogis biasanya
sering dipahami oleh sudut pandang karyawan bukan dari sudut pandang
perusahaan
Dampak Spiritualitas Di Tempat Kerja
Krishnakumar dan Neck (2002:156-159) menyatakan bahwa penerapan
spiritualitas tempat kerja memberi dampak positif pada kreativitas, kejujuran dan
kepercayaan, pemenuhan personal, dan komitmen. Lebih lanjut, hal ini juga akan
berpengaruh terhadap meningkatnya performansi organisasi.
a. Kreativitas. Menurut Freshman mengutarakan bahwa spiritualitas dapat
menimbulkan kesadaran, kesadaran menimbulkan intuisi, dan intuisi
menimbulkan kreativitas. Dan menurut Turner menyatakan bahwa
spiritualitas menimbulkan kegembiraan dan kepuasaan sehingga
karyawan dapat lebih kreatif. Lebih lanjut, hal ini dapat meningkatkan
performansi organisasi dan kesuksesan finansial (Krishnakumar & Neck,
2002:157).
b. Kejujuran dan kepercayaan. Kriger dan Hanson menyatakan bahwa
kejujuran dan kepercayaan tidak dapat diragukan ada di seluruh transaksi
bisnis. Kepercayaan antara organisasi dan karyawan memegang peran
vital dalam performansi perusahaan. Kepercayaan dapat menimbulkan
performansi organisasi yang lebih baik, memperlancar pengambilan
keputusan, komunikasi yag lebih baik, fokus pada pelanggan dan inovasi
yang lebih baik (Krishnakumar & Neck, 2002:157).
c. Pemenuhan personal. Menurut Turner mengatakan bahwa penerapan
spiritualitas akan menuntun karyawan merasa lengkap saat mereka
datang ke tempat kerja. Hal ini akan menghasilkan derajat pemenuhan
personal yang tinggi dan meningkatkan moral. Lebih lanjut, hal ini dapat
meningkatkan performansi organisasi dan kesuksesan finansial
(Krishnakumar & Neck, 2002;158)
d. Komitmen. Burack menyatakan bahwa spiritualitas meningkatkan
komitmen dengan menciptakan iklim penuh kepercayaan di tempat kerja.
Sedangkan menurut Ketchand & Strawser mengatakan bahwa komitmen
tampak dalam bentuk komitmen afektif, yaitu karyawan mampu
mengidentifikasi diri dengan tujuan organisasi dan karyawan mahu
membantu organisasi mencapai tujuan tersebut (Krishnakumar & Neck,
2002:158).
e. Performansi organisasi. Neck & Miliman mengutarakan bahwa
performansi organisasi dan kesuksesan finansial dapat meningkat seiring
penerapan spiritualitas di tempat kerja. Hal ini disebabkan organisasi
yang menerapkan spiritualitas secara nyata mendorong karyawan untuk
membawa diri secara keseluruhan ke pekerjaan (Krishnakumar & Neck,
2002;159).
Faktor-faktor organizational citizenship behavior (OCB)
Menurut D.W Organ & Ryan, (1995), mengemukakan beberapa faktor yang
mempengaruhi OCB sebagai berikut :
a. Budaya dan iklim organisasi
Faktor ini didukung oleh beberapa penelitian, salah satu penelitian yang
mendukung ialah yang dilakukan oleh Mohanty dan Rath (2012). Penelitian ini
dilakukan pada karyawan di 3 sektor berbeda yaitu perbankan, IT, dan
Manufaktur. Data yang digunakan dari 380 responden dengan menggunakan
analisis komprehensif. Hasil dari penelitian ini adalah adanya hubungan positif
signifikan budaya organisasi dan iklim terhadap OCB.
b. Kepribadian dan suasana hati
Faktor ini didukung oleh beberapa jurnal. Salah satunya yang telah
dilakukan oleh Leephaijaroen (2015). Metode penelitian ini menggunakan metode
campuran yaitu kualitatif dan kuantitatif di Ubun Ratchathani 17 Rajabhat
University, Thailand. Teknik analisis yang digunakan ialah regresi. Metode
penelitian kuantitatif dikumpulkan dari 144 staf dan metode penelitian kualitatif
dikumpulkan dari 11 staf yang telah di wawancarai. Hasil dari penelitian ini
mengungkapkan bahwa kepribadian dan suasana hati memiliki efek positif
signifikan terhadap OCB
Dimensi Spiritualitas Tempat Kerja
Spiritualitas tempat kerja mengandung tiga dimensi yang meliputi: inner life
(kehidupan batin), meaning work (pekerjaan yang bermakna) dan belonging to the
community (menjadi bagian dari komunitas).
a. Kehidupan batin, antara lain: a). Merasa kehidupan itu penuh harapan;
b). nilai spiritual mempengaruhi dalam membuat pilihan-pilihan; c).
menganggap diri sendiri sebagai pribadi yang spiritual; d).
Mengekspresikan identitas spiritual dalam praktek-praktek ibadah; e).
peduli terhadap kesehatan spiritual rekan kerja dan f). Pekerjaan
menciptakan perasaan bahagia.
b. Pekerjaan yang bermakna, antara lain: a). Pekerjaan menciptakan
kegembiraan pada orang lain, b). Pekerjaan membangkitkan semangat,
c). Pekerjaan berkaitan dengan sesuatu hal yang dianggap penting dalam
kehidupan, d). Berusaha untuk tidak absen (mangkir) dalam bekerja, e).
Melihat keterkaitan antara pekerjaan dengan kebaikan sosial yang lebih
besar pada komunitas, f). Pekerjaan memberi makna (arti) personal.
c. Menjadi bagian dari komunitas, antara lain: a). Merasa menjadi bagian
dari suatu komunitas di tempat kerja, b). Penyelia mendorong
pertumbuhan kepribadian, c). Pengalaman-pengalaman di dalam
pekerjaan mengakibatkan tertumbuhan pribadi (Abdurrahman dan
Agustini, 2011:536).
Ada banyak dimensi yang menjadi tolok ukur spiritualitas yang
dikemukakan oleh beberapa ahli. Dalam penelitian ini digunakan
pengukuran spiritualitas dengan dimensi-dimensi yang dikembangkan oleh
Gupta, Kumar & Singh (2013), yaitu:
a. Makna pekerjaan, melakukan suatu pekerjaan yang bermakna bisa
menambah kreativitas, dan mendorong kebahagiaan yang akan
secara pasti meningkatkan kepuasan karyawan
b. Interaksi dengan komunitas, suatu perasaaan tentang
keharmonisan yang berasal dari bekerja untuk suatu tujuan yang sama
dengan sekolompok orang. Pada jaman sekarang ini, karyawan
menghabiskan mayoritas dari waktunya di tempat kerja dan hanya
sedikit waktu untuk lingkungan sekitar ataupun teman. Oleh karena
itu, karyawan ingin memenuhi kebutuhan ini di tempat kerja melalui
dimensi tersebut
c. Nilai organisasi, perilaku yang sesuai dan diterima oleh
organisasi harus diikuti oleh seluruh anggota dalam organisasi
Sehubungan dengan berubahnya lingkungan kerja secara cepat,
nilai-nilai organisasi menjadi hal yang sangat penting. Miliman
et al (2003) dikutip oleh Gupta, Kumar & Singh (2013)
menyatakan bahwa nilai-nilai adalah faktor spiritual yang sangat
penting untuk memenuhi kepuasan karyawan
d. Kepeduliaan, sebuah perasaan simpati yang dalam kepada
siapapun yang sedang mengalami kesulitan dan juga mempunyai
kemauan yang besar untuk mengurangi beban kesulitan tersebut.
Delgado (2005) yang dikutip Gupta, Kumar & Singh (2013)
melihat bahwa dimensi ini sebagai sebuah hasrat untuk
salingpeduli dan bentuk dukungan satu sama lain, dan dengan
begitu manusia akan merasa puas.
Menurut Giacalone dan Jurkiewicz (2005) sebagaimana dikutip oleh
Nurtjahjanti (2010), spiritualitas dapat dipandang dari berbagai level, yaitu :
a. Level individu, mengacu pada kumpulan nilai individu yang
mendorong pengalaman transenden melalui proses kerja, dan
memfasilitasi perasaan terhubung dengan orang lain sekaligus
memberikan perasaan lengkap dan bahagia.
b. Level organisasi, mengacu kepada kerangka kerja dari nilai-nilai budaya
organisasi yang mendorong pengalaman transenden para karyawan
melalui proses bekerja, memfasilitasi perasaan terhubung dengan
orang lain sekaligus memberikan perasaan lengkap dan bahagia.
Spiritualitas dalam level ini berkaitan dengan visi dan nilai-nilai budaya
organisasi.
Indikator Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Dari penelitian Santoso & Irwantoro (2014) variabel organizational citizenship
behavior (OCB) dapat diukur dengan menggunakan dimensi menurut Organ 1988
yaitu Altruism, Conscientiousness, Civic Vertu, Cortesy, Sportman Ship sehingga
muncul beberapa indikator sebagai berikut :
1) Memberikan pelayanan yang terbaik
2) Membantu menyelesaikan pekerjaan rekan kerja dengan tulus dan ikhlas
3) Patuh terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku
4) Dapat bekerja dalam kondisi apapun
Karakteristik Organisasi Spiritualitas
Organisasi spiritual ingin meolong orang mengembangkan dan mencapai
potensi penuh mereka. Robbins (2005) mengidentifikasi lima karakteristik kultur
yang cenderung ada dalam organisasi spiritual, yaitu:
1) Kesadaran akan tujuan yang kuat. Organisasi spiritual mendasarkan
kultur mereka pada suatu tujuan yang bermakna. Meskipun
penting, laba bukanlah nilai utama organisasi. Orang dapat
terilhamioleh tujuan yang mereka yakini penting dan bermakna
2) Fokus terhadap pengembangan individual. Organisasi spiritual
menyadari makna dan nilai setiap manusia. Mereka tidak hanya
menyediakan pekerjaan. Mereka mencoba menciptakan kultur dimana
karyawan dapat terus belajar dan tumbuh.
3) Kepercayaan dan respek. Organisasi spiritual dicirikan oleh
tumbuhnya sikap saling percaya, jujur, dan terbuka. Para manajer
tidak takut mengakui kesalahan.
4) Praktek kerja yang manusiawi. Praktek-praktek yang dianut oleh
organisasi spiritual ini meliputi jadwal kerja yang fleksibel,
imbalan berbasis kelompok dan organisasi, penyempitan
kesenjangan gaji dan status, jaminan hak-hak pekerja, pemberdayaan
karyawan, dan keamanan kerja.
5) Toleransi dan ekspresi karyawan. Karakteristik terakhir yang
membedakan organisasi berbasis spiritual adalah bahwa mereka
tidak menekan sisi emosional kayawan. Perusahaan memberi ruang
bagi karyawan untuk menjadi diri mereka sendiri untuk
mengutarakan suasana hati dan perasaan mereka.
Dimensi Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Menurut D.W Organ & Ryan (1995) ada lima dimensi/komponen/aspek dari
Organizational Citizenship Behavior (OCB), yaitu:
1. Altruism, adalah perilaku membantu karyawan lain tanpa adanya paksaan
pada tugas-tugas yang berhubungan dengan operasi organisasi.
2. Conscientiousness, adalah perilaku karyawan yang mempunyai prasyarat
peran yang melebihi standar minimum.
3. Virtue, adalah partisipasi aktif karyawan dalam memikirkan kehidupan
organisasi, misalnya selalu mencari informasi terbaru yang mendukung
kemajuan organisasi.
4. Sportsmanship, adalah menekankan pada aspek-aspek positif organisasi
dari pada aspek negatifnya, seperti perilaku tidak senang, protes tidak
suka, mengeluh, dan membesar-besarkan persoalan sepele.
5. Courtesy, adalah berbuat baik kepada orang lain, mencegah terjadinya
suatu masalah, atau mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya atau
berkembangnya masalah.
Pengertian Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Organizational Citizenship Behavior (OCB) merupakan perilaku positif yang
berada di luar tanggung jawab formal karyawan dan tidak berkaitan secara
langsung dengan sistem reward yang diyakini dapat meningkatkan efektifitas
kelompok dan organisasi (Oktaviani & Fauziah, 2017). Terciptanya OCB dalam
suatu organisasi salah satunya berasal dari faktor budaya organisasi itu sendiri.
Bateman dan Organ (1983) memperkenalkan konstruk OCB dengan menarik
konsep perilaku super peran oleh Katz dan Kahn (1966). OCB didefinisikan
sebagai “perilaku individu yang discretionary, yang tidak secara langsung atau
eksplisit termasuk dalam sistim imbalan, dan secara keseluruhan akan
meningkatkan efektivitas fungsi organisasi (Hendrawan et al., 2017). OCB
dianggap penting karena perilaku ini sering dijadikan sebagai bahan pembicaraan
yang positif dan patut dicontoh.
OCB merupakan perilaku individu yang ekstra, yang tidak secara langsung
atau eksplisit dapat dikenali dalam suatu sistem kerja yang formal, namun mampu
meningkatkan efektivitas fungsi organisasi (Dennis W. Organ & Lingl, 1995).
Oleh karena itu munculnya OCB dipercaya akan meningkatkan efektivitas
karyawan dalam membantu secara sukarela untuk melaksanakan pekerjaan diluar
tanggung jawabnya.
Menurut Robbin dan Timothy (2008), menyatakan bahwa OCB juga sangat
penting untuk meningkatkan pelayanan suatu perusahaan serta dapat membentuk
kepribadian individu untuk bekerja secara ekstra, menghormati peraturan, serta
besar hati mampu menerima kerugian dan gangguan yang terkait dengan
pekerjaanya.
Pengertian Spiritualitas Di Tempat Kerja
Spiritualitas dalam pekerjaan sebagai kerangka kerja dari nilai-nilai budaya
organisasi yang mendorong pengalaman transenden para karyawan melalui proses
bekerja, memfasilitasi perasaan terhubung mereka dengan orang lain sekaligus
memberikan mereka perasaan lengkap dan bahagia (Nurtjahjanti, 2010:28).
Spiritualitas di tempat kerja didefinisikan sebagai tempat kerja yang mengakui
bahwa karyawan memiliki kehidupan batin dari pekerjaan (Angraini, 2017:3).
Ashmos dan Duchan (2000:137) menyatakan bahwa spiritualitas tempat
kerja dapat didefinisikan sebagai pengakuan bahwa karyawan memiliki pusat
kehidupan yang memelihara dan dipelihara dengan pekerjaan bermakna yang
mengambil tempat dalam konteks sebuah komunitas. Menurut Robbins (2005)
mengemukakan bahwa “Workplace spirituality recognizes that people have an
inner life that nourishes and is nourished by meaningful work that takes place in
the context of community. Organizations that promote a spiritual culture recognize
that people have both mind and a spirit, seek to find meaning and purpose in their
work, and desire to connect with other human being and be part of community”.
Spiritualitas tempat kerja yaitu kerangka dari nilai organisasi yang dibuktikan
dengan adanyan budaya organisasi yang mendorong pengalaman transenden
karyawan melalui proses pekerjaan dan perasaan terhubung dengan orang lain yang
menghasilkan perasaan lengkap dan bahagia (Jurkiewicz dan Giacalone, 2004:129).
Spiritualitas di tempat kerja terfokus pada toleransi, kesabaran, tujuan dan
pemikiran terkait norma-norma organisasi untuk membentuk nilai-nilai pribadi
sedangkan agama terkait dengan sebuah sistem kepercayaan tertentu yaitu iman dan
keyakinan (Angraini, 2007:3).
Spiritualitas di tempat kerja, sama sekali tidak terkait dengan praktekpraktek religius yang terorganisasi, bukan tentang Tuhan ataupun teologi.
Spiritualitas di tempat kerja menyadari bahwa manusia memiliki kehidupan batin
yang tumbuh dan ditumbuhkan oleh pekerjaan yang bermakna yang
berlangsung dalam konteks komunitas. Organisasi-organisasi yang mendukung
kultur spiritual mengakui bahwa manusia memiliki pikiran dan jiwa, berusaha
mencari makna dan tujuan dalam pekerjaan mereka, dan hasrat untuk
berhubungan dengan orang lain serta menjadi bagian dari komunitas (Robbins,
2005).
Berdasarkan pengertian-pengertian spiritualitas tempat kerja di atas, maka
spiritualitas tempat kerja dapat diartikan sebagai salah satu dari nilai intrinsik,
pembuktian akan konsep dan tujuan yang sifatnya kearifan batin, transformasi dan
kreativitas. Atau spiritualitas di tempat kerja dapat diartikan sebagai konsep yang
membahas tentang perilaku organisasi yang mengarah kepada budaya organisasi.
Dampak Psychological Contract Breach
Psychological contract breach yang terjadi di lingkungan kerja dapat
membawa dampak negatif, baik bagi karyawan maupun untuk pihak perusahaan.
Dalam teori pertukaran sosial yang dipaparkan oleh Bordia, Tang & Restubog
(2006: 156), hubungan tenaga kerja antara karyawan dan perusahaan dibangun
berdasarkan rumus pertukaran sosial. Ketika karyawan mempersepsikan adanya
pelanggaran perjanjian oleh pihak perusahaan, karyawan akan memberikan respon
dengan menimbulkan perilaku yang dapat memberikan kerugian pada perusahaan.
Dalam Bordia, Tang, dan Restubog (2006: 158), dipaparkan bahwa persepsi
karyawan terhadap adanya psychological contract breach akan memberikan
dampak, seperti hilangnya perasaan memiliki perusahaan, hilangnya kepercayaan
karyawan terhadap perusahaan, menurunkan kepuasan kerja, kinerja karyawan,
dan peningkatan tingkat absensi karyawan .
Psychological contract breach juga dapat mendorong kemarahan,
menurunkan loyalitas, perasaan bertanggung jawab, bahkan melakukan
penyelewengan dalam lingkungan kerja. Perilaku yang menyimpang dalam
lingkungan kerja dapat dilakukan dalam taraf minim seperti pulang lebih cepat
dan kurang menghargai rekan kerja, hingga pada taraf yang membawa kerugian
besar seperti melakukan tindak pencurian, membocorkan data perusahaaan pada
pihak lain, dan tidak bekerja dengan baik (Hussain, 2011: 7).
Lebih lanjut lagi dalam beberapa penelitian terdahulu, akibat yang timbul
dari terjadinya psychological contract breach seperti turunnya loyalitas karyawan,
meningkatnya tingkat absensi, serta menurunnya kinerja karyawan dapat memicu
terjadinya intensi turnover karyawan. Intensi turnover merupakan kecenderungan
atau niat karyawan untuk meninggalkan perusahaannya. Intensi turnover
umumnya terjadi ketika karyawan mendapati kondisi kerjanya sudah tidak lagi
sesuai dengan apa yang diharapkan. Intensi turnover sendiri telah menjadi
masalah bagi perusahaan selama bertahun-tahun karena dapat berakibat keluarnya
karyawan dari perusahaan. Akibat ini bertambah fatal apabila karyawan yang
keluar merupakan seorang talent bagi perusahaan. Perusahaan akan mengalami
kerugian, baik kerugian materi karena harus mengisi posisi yang ditinggalkan
tersebut, maupun kerugian lain seperti apabila talent tersebut bekerja di
perusahaan kompetitor.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Menurut Harold E. Burt berpendapat bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja, antara lain:
a. Faktor hubungan antar karyawan: hubungan antar manajer dengan
karyawan, faktor fisik dan kondisi kerja, hubungan sosial di antara
karyawan dan sugesti dari teman sekerja
b. Faktor individual, hubungan dengan sikap orang terhadap pekerjaan, usia
orang dengan pekerjaan, dan jenis kelamin
c. Faktor keadaan keluarga karyawan
d. Rekreasi, meliputi pendidikan (Sunyoto, 2012: 28).
Sedangkan menurut Ghiselli dan Brown yang dikutip oleh Sunyoto (2012:29)
mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, adalah:
a. Kedudukan. Orang yang beranggapan bahwa seseorang yang bekerja
pada pekerjaan yang lebih tinggi akan merasa lebih puas daripada yang
berkependudukan lebih rendah
b. Pangkat. Pada pekerjaan yang mendasar pada perbedaan tingkat
golongan, sehingga pekerjaan tersebut memberikan kedudukan tertentu
pada orang yang melakukannya. Jika ada kenaikan upah, maka ada yang
beranggapan sebagai kenaikan pangkat
c. Umur. Dinyatakan adanya hubungan antara kepuasan kerja dengan umur
karyawan. Umur 25 tahun sampai 34 tahun dan umur 40 sampai 45 tahun
adalah umur yang biasa menimbulkan perasaan kurang puas terhadap
pekerjaannya
d. Mutu pengawasan. Kepuasan karyawan dapat ditingkatkan melalui
perhatian dan hubungan yang baik dari pimpinan dan hubungan yang
lebih baik dari pimpinan dan bawahan sehingga karyawan akan merasa
bahwa dirinya merupakan bagian yang terpenting dari organisasi kerja
tersebut.
Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dapat digunakan
Job Descriptive Index (JDI) terdiri dari lima, yakni: 1). Pembayaran seperti gaji dan
upah; 2). Pekerjaan itu sendiri; 3). Promosi pekerjaan; 4). Kepenyaliaan (supervisi);
dan 5). Rekan sekerja (Umar, 2003:85). Selanjutnya Sutrisno (2015:80)
berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, adalah: 1).
Faktos psikologis merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan
yang meliputi: minat, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan
keterampilan, 2). Faktor sosial merupakan faktor yang berhubungan dengan
interaksi sosial antarkaryawan maupun karyawan dengan atasan, 3). Faktor fisik
merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik karyawan meliputi: jenis
pekerjaan, pengaturan waktu dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan
ruangan, suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan, umur
dan sebagainya, 4). Faktor finansial merupakan faktor yang berhubungan dengan
jaminan serta kesejahteraan karyawan, meliputi: sistem dan besarnya gaji, jaminan
sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi dan sebagainya
Faktor Penyebab Terjadinya Psychological Contract Breach
Robinson dan Morrison (2000: 526) memaparkan bahwa terjadinya
psychological contract breach disebabkan oleh dua penyebab dasar, yaitu
pengingkaran (reneging) dan ketidaksesuaian (incongruence). Pengingkaran
terjadi bilamana organisasi secara sengaja melanggar janji kepada pekerja, baik
karena tujuan tertentu ataupun karena situasi-situasi tak terduga. Sebaliknya,
ketidaksesuaian terjadi bilamana pekerja dan organisasi memiliki pemahaman
yang berbeda berkenaan dengan hal yang dijanjikan kepada pekerja.
Aspek Psychological Contract Breach
Menurut De Vos, Buyens, dan Schalk (2003: 559) mengemukakan lima
aspek dalam psychological contract breach. Kelima aspek tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Career development, merujuk pada peluang untuk mendapat promosi dan
pengembangan dalam organisasi atau lingkungan kerja. Aspek ini memiliki tiga
indikator yakni kesempatan untuk promosi, kesempatan untuk pengembangan
karir dalam organisasi, dan kesempatan untuk tumbuh (mengembangkan
kemampuan diri karyawan)
b. Job content, merujuk pada tersedianya pekerjaan yang menantang, menarik,
dan bervariasi. Aspek ini memiliki empat indikator yakni menentukan keputusan
sendiri dalam bekerja, kesempatan untuk menunjukkan kemampuan diri,
pekerjaan yang memiliki tanggung jawab, dan kesempatan untuk menggunakan
keterampilan dan kemampuan diri.
c. Social atmosphere, merujuk pada tersedianya lingkungan kerja yang
menyenangkan dan kooperatif. Aspek ini memiliki empat indikator yakni suasana
yang baik di lingkungan kerja, hubungan baik antar rekan kerja, kerjasama yang
saling menguntungkan, dan komunikasi baik antar rekan kerja.
d. Financial reward, merujuk pada tersedianya imbalan yang layak. Aspek ini
memiliki empat indikator yakni upah finansial untuk performa luar biasa,
peningkatan upah berdasar performa, paket gaji dan tunjangan yang menarik, dan
tunjangan lain-lain.
e. Work-life balance, merujuk pada rasa hormat dan adanya pengertian dari
pihak perusahaan untuk kehidupan pribadi karyawan. Aspek ini memiliki empat
indikator yakni respek terhadap situasi pribadi, kesempatan untuk mendapat
fleksibilitas jam kerja, kesempatan untuk menentukan hari libur, dan kesesuaian
kepribadian antara pribadi dan lingkungan kerja.
Definisi Psychological Contract Breach
Knights dan Kennedy (2005: 58) mengemukakan psychological contract
breach terjadi apabila salah satu pihak menilai bahwa pihak lain tidak memenuhi
kesepakatan atau perjanjian. Penilaian karyawan terhadap perusahaan yang gagal
salah satu atau lebih perjanjiannya mewakili sebuah aspek kognitif dalam
pelanggaran tersebut dimana terdapat sebuah perhitungan oleh karyawan
mengenai apa didapat terhadap apa yang perusahaan janjikan. Beberapa perjanjian
ini dicatat dalam sebuah kontrak kerja resmi, namun sebagian besar hanya tersirat
dan tidak dibicarakan secara terbuka oleh kedua belah pihak.
Robinson dan Rousseau (1994: 247) mendefinisikan psychological
contract breach sebagai kegagalan perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang
seharusnya diberikan kepada karyawan. Karena kontrak yang dibangun berdasar
asumsi niat baik dan keadilan serta melibatkan kepercayaan antar pihak dengan
janji yang dibuat, maka pelanggaran yang terjadi dapat menimbulkan akibat yang
serius pada pihak yang terlibat didalamnya. Karyawan yang mengetahui adanya
psychological contract breach terjadi di lingkungan perusahaannya, akan
cenderung mengalami penurunan kepuasan kerja, penurunan performa kerja, dan
ingin meninggalkan perusahaan.
Robinson dan Morrison (2000: 526) mendefinisikan psychological
contract breach terjadi ketika karyawan menilai bahwa perusahaan tidak menepati
komitmennya kepada karyawan. Penilaian ini bersifat subjektif yang artinya
dapat berbeda antar karyawan. Contohnya, seorang perekrut secara jelas
menjanjikan karyawan baru bahwa dia akan dipromosikan dalam waktu tiga tahun
dan hal ini tidak terjadi. Dalam contoh kasus lain, perekrut memberikan sebuah
pernyataan ambigu seperti ‘karyawan disini cenderung cepat mendapat promosi ,
seringnya dalam waktu tiga tahun’, lalu karyawan menginterpretasikan hal ini
sebagai sebuah janji. Disaat promosi ini tidak terjadi, maka karyawan menilai
bahwa terjadi psychological contract breach.
Komponen dan Pengukuran Kepuasan Kerja
Pengukuran kepuasan kerja karyawan dengan mengidentikasi lima dimensi
karakteristik pekerjaan yang paling penting di mana karyawan memiliki respon
afektif (Karambut, dkk,. 2012: 658:659):
a. Pekerjaan itu sendiri adalah terkait dengan karakteristik pekerjaan dan
kompleksitas pekerjaan yang dijalankan itu menyenangkan dan
memuaskan serta memberikan tantang kepada karyawan
b. Pendapatan/ gaji adalah sejumlah upah yang diterima di mana hal ini
dipandang sebagai hal yang dianggap pantas dibanding dengan orang lain
dalam organisasi.
c. Kesempatan promosi adalah proses perubahan dari suatu pekerjaan ke
pekerjaan lain dalam hierarki wewenang dan tanggung jawab yang lebih
tinggi daripada wewenang dan tanggung jawab yang telah diberikan pada
waktu sebelumnya dengan kata lain diberikan kesempatan untuk maju
dalam organisasi tersebut
d. Pengawasan adalah hubungan antara setiap karyawan dengan atasan
langsung
e. Rekan kerja adalah teman kerja dalam organisasi dan interaksinya yang
bersifat kerjasama dalam pekerjaan.
Kepuasan kerja mempunyai banyak dimensi, secara umum adalah kepuasan
dalam pekerjaan itu sendiri, gaji, pengakuan, hubungan antara supervisor dengan
tenaga kerja, dan kesempatan untuk maju. Setiap dimensi menghasilkan perasan
puas secara keseluruhan dengan pekerjaan itu sendiri. Tolak ukur tingkat kepuasan
yang mutlak tidak ada karena setiap individu pegawai berbeda standar
kepuasaannya. Indikator kepuasan kerja ini dapat diukur dengan kedisiplinan,
moral kerja, dan labour turnover yang kecil, maka secara relatif kepuasan kerja
pegawai baik tetapi sebaliknya jika kedisiplinan, moral kerja dan labour turnover
besar maka kepuasan kerja pegawai pada perusahaan dinilai kurang (Rosita dan
Yuniati, 2016:4).
Robin & Judge (2013:80) menyebutkan bahwa terdiri dari lima komponen
kepuasan kerja, yaitu:
a. Pekerjaan itu sendiri. Sejauh mana pekerjaan menyediakan individu
dengan menarik tugas, kesempatan untuk belajar, dan kesempatan untuk
menerima tanggung jawab
b. Pembayaran/ Pay. Jumlah keuangan remunerasi yang diterima dan
sejauh mana ini dipandang sebagai adil dalam organisasi
c. Peluang Promosi. Kemungkinan untuk kemajuan dalam organisasi
d. Pengawasan. Kemampuan supervisor untuk menyediakan bantuan teknis
dan dukungan perilaku
e. Rekan kerja. Tingkat dimana rekan sekerja secara teknis dan sosial
mendukung
Pelanggaran Terhadap Psychological Contract
Robinson dan Morrison (2000: 532) mengemukakan sebuah konsep
dimana ada perbedaan mengenai psychological contract breach dan psychological
contract violation sebagai pelanggaran terhadap psychological contract.
Psychological contract breach adalah sebuah penilaian dimana karyawan
melakukan interpretasi atas psychological contract yang dia alami melalui proses
kognitif, sedangkan psychological contract violation sebagai adanya perasaan atau
emosi yang mungkin timbul atau tidak timbul bersamaan dengan penilaian
tersebut. Dalam penelitian ini, penulis membahas psychological contract breach
karena selain hal tersebut yang akan karyawan alami saat adanya pelanggaran
terhadap psychological contract, juga psychological contract breach dapat
mengakibatkan terjadinya psychological contract violation yang memiliki dampak
lebih serius pada karyawan terhadap perusahaan.
