Pengertian Positioning (skripsi dan tesis)

Dengan melakukan segmentasi dan menentukan target pasar dengan baik, maka produsen akan mendapatkanpengertian yang menyeluruh tentang kebutuhan, sikap dan perlaku konsume. Bila sudah dapat memahami apa yang diinginkan oleh konsumen, maka produsen dapat menyelaraskan dengankemampuannya sendiri dan menetapkan posisi produknya di pasar.

Menurut Reis dan Trout dalam buku Renald Kasali (2007) mengatatkan bahwa:

“Positioning is not what you do to a product. It is what you do to the mind of prospect.”

“Positioning bukanlah apa yang Anda lakukan terhadap produk. Ini adalah apa yang Anda lakukan terhadap pemikiran calon pelanggan.”

Positioning bukanlah strategi produk, tetapi strategi komunikasi yang berhubungan dengan bagaimana konsumen menempatkan produk perusakaan dalam benaknya, dalam otaknya, dalam khayalannya, sehingga calon konsumen memiliki penilaian tertentu dan mengidetifikasi dirinya dengan porduk itu.

Philip Kotler (2007) mendefinisikan positioning sebagai berikut:

“Positioning is the act of deisgning the company’s offering and image to occupy a distictive place in the target market’s mind.”

“Positioning adalah tindakan merancanh tawaran dan kesan perusahaan sehingga menempati suatu tempat yang berari dan jelas dalam benak target pasar.

Positioning justru dilakukan karena adanya pesaingan, baik dalam kategori produk sejenis, maupun antar produk kategori Dalam hal ini Hiebing & Cooper (2007) melengkapi Kotler, mendefinisikan positioning sebagai berikut:

“Positioning established the desired perception of your product within the target market relative to the competition.”

“Positioning membangun presepsi produk anda di dalam pasaar sasaran reltaif terhadap pesaingan.”

Sedangkan deginisi positioning menurut Kasali (2007) sebagai berikut: “Positioning adalah strategi kominikasi untuk memasuki jendela otak konsumen, agar produk/merek/nama anda mengandung arti tertentu yangd alam beberapa segi mencerminkan keunggulan terhadap produk/merek/nama lain dalam bentuk hubungan asosiatif.”

Menurut Cheverton (2004), ada lima kesalahan dalam menentukan posisi pasar, yaitu :

  1. Positioning yang terlalu rendah: Jika tidak memiliki sesuatu yang khusus, maka akan sulit untuk mengambil tempat di dalam pikiran konsumen, tidak memberikan alasan untuk membeli, bahkan tidak peduli.
  2. Positioning yang terlalu tinggi :bersikap terlalu spesifik
  3. Positioning yang membingungkan : saat mencoba untuk melakukan banyak hal sekaligus maka akan muncuk kontradiksi dan konflik
  4. Positioning yang tidak relevan : saling tidak berhubungan satu dengan yang lainnya.
  5. Positioning yang meragukan : membuat pernyataan yang tidak dapat dipercaya dan hanya mereka ang sangat mudah tertipu yang akan menjadi konsumen Anda.

Menurut Kasali (2007), ada berbagai strategi positioning yang dapat diimplementasikan, antara lain :

  1. Positioning berdasarkan perbedaan produk

Perusahaan dapat menunjukkan kepada pasarnya dimana letak perbedaan produknya terhadap pesaing (unique product feature)

  1. Positioning berdasarkan manfaat produk

Manfaat produk dapat pula ditonjolkan sebagai positioning sepanjang dianggap penting oleh konsumen.

  1. Positioning berdasarkan pemakaian

Memposisikan produk sebagai yang terbaik dari segi pemakaian produk

  1. Positioning berdasarkan kategori produk

Positioning ini biasanya dlakukan oleh produk-produk baru yang muncul dalam suatu kategori produk.

  1. Positioning kepada pesaing

Memposisikan produk denganmembandingan diri sebagai yang terbaik dari pesaing yang disebutkan namanya ataupun tersirat

  1. Positioning melalui imajinasi

Memposisikan produk dengan menggunakan imajinasi-imajinasi seperti tempat, orang, benda dan sebagainya.

  1. Positioning berdasarkan masalah

Positioning yang digunakan untuk produk atau jasa baru yang belum begitu dikenal. Produk baru biasanya diciptakan untuk memberi solusi terhadap masalah yang dirasakan konsumennya.

Targeting Pasar (skripsi dan tesis)

Setelah melakukan segementasi pasaran dan memisahkan konsumen dalam kelompok yang lebih kecil, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh produsen adalah mengevaluasi setiap segmen pasar yang telah terbentuk dan memilih salah satu atau lebih segmen pasar yang hendak dimasuki atau diprioritaskan.

Targeting adalah menentukan target pasar (pasar sasaan) yang merupakan tahap selanjutnya dari analisa segmentasi. Produk dari targeting adalah target market (pasar sasaran), yaitu beberapa segmen pasar yang akan menjadi fokus dari kegiatan-kegiatan pemasarnya.

Definisi targeting menurut Kotler dan Armstong (2008) adalah :

“Targeting market is a set of buyers sharing common needs or characteristics that the company decides to serve.”

“Target Pasar adalah sekumpulan pembeli yang saling berbagi keinginan atau karakteristik yang mana perusahan harus melayani para pembeli tersebut.

Menurut Keegan (2007), targetng adalah : “Focusing on a marketing effort on a market group that has significant potential to respond.’

Ada lima pola yang bisa digunakan ketika memasuki pasar sasaran, yaitu :

  1. Memusatkan perhatian pada satu segmen tunggal
  2. Mengkhususkan pada beberapa segmen pilihan yang tidak berhubungan.
  3. Memusatkan pada sebuah produk.
  4. Memusatkan pada sebuah segmen pasar
  5. Menjangkau keseluruhan pasar.

Setelah mengevaluasi segmen-segmen yang berbeda, perusahaan dapat mempertimbangkan lima pola pemilihan segmentasi pasar, yaitu: (Kotler, 2007)

  1. Kosentrasi segmen tunggal  

Perusahaan bisa memilih dan menentukan sebuah segmen tunggal. Keuntungan jika perusahaan memilih berkonsentrasi pada pasar tertentu, maka perusahaan bisa mendapatkan pengetahuan yang luas dan mendalam tentang perilaku konsumen atas produk yang ditawarkan dan reputasi istimewa yang diperoleh perusahaan. Jika perusahaan dapat menguasai kepemimpinan dalam segmen tersebut, perusahaan dapat menghasilkan pengembalian investasi yang tinggi.Sedangkan kelemahannya adalah ketika konsumen mulai meninggalkan produk perusahaan dikarenakan konsumen sudah mulai bosan, atau adanya pesaing yang mendadak memproduksi barang yang sama maka perusahaan akan menghadapi risiko kerugian.

Contohnya: PT Sayap Mas berkonsentrasi pada pasar sabun dan sejenisnya. Perusahaan orang tua berkonsentrsi pada pasar makanan dan minuman berenergi. Volkswagen berkonsentrasi pada pasar mobil kecil dan Porsche pada pasar mobil sport. Saat wanita muda mendadak berhenti membeli pakaian olah raga, hal tersebut menyebabkan penghasilan Bobbie Brooks menurun tajam.

  1. Spesialisasi Selektif  

            Disini perusahaan memilih sejumlah segmen, masing-masing menarik dan cocok secara objektif, berdasarkan tujuan dan sumber daya perusahaan yang berpotensi sebagai penghasil uang. Contoh: Penyiar radio yang ingin menarik pendengar muda dan tua.

  1. Spesialisasi produk  

Dalam hal ini, perusahaan berkonsentrasi dalam menghasilkan produk tertentu yang dijual kebeberapa segmen. Kelebihan strategi spesialisasi produk ini adalah strategi ini mampu membangun reputasi yang kuat dibidang produk tertentu tapi kelemahannya adalah jika produk tersebut digantikan oleh produk yang sejenis yang lebih canggih.

Contohnya adalah: perusahaan kayu yang berkonsentrasi membuat dan menjual hasil produknya seperti meja dan bangku sekolah ke sekolah-sekolah negeri dan swasta. Perusahaan Mikroskop yang menjual mikroskop ke lab, kantor pemerintah, dan ke universitas

  1. Spesialisasi pasar  

Perusahaan berkonsentrasi untuk melayani berbagai kebutuhan dari suatu kelompok pelanggan tertentu. Kelebihan dari strategi ini adalah perusahaan mendapatkan reputasi yang kuat dengan mengkhususkan diri dalam melayani kelompok pelanggan dan menjadi saluran pemasaran bagi semua produk yang digunakan oleh kelompok pelanggan ini. Resiko yang tidak menguntungkan adalah bahwa kelompok pelanggan itu mungkin harus memotong anggaran mereka dan mengurangi pembelian.

Sebagai contoh: perusahaan yang menjual bermacam-macam produk ke laboratorium universitas yang terdiri dari mikroskop, osiloskop, pembakar Bunsen, dan labi kimia.

  1. Cakupan seluruh pasar  

Perusahaan berusaha melayani seluruh pelanggan dengan menyediakan semua produk yang dibutuhkan pelanggan. Biasanya perusahaan yang cukup besar yang bisa dan mampu melayani semua kebutuhan dan melayani strategi cakupan seluruh pasar. Perusahaan besar dapat mencakup seluruh pasar dengan dua cara umum, yaitu melalui pemasaran yang tidak  terdiferensiasi atau melalui pemasaran yang terdiferensiasi.

Dalam pemasaran yang tidak terdiferensiasi, perusahaan mengabaikan perbedaan segmen pasar dan meraih seluruh pasar dengan satu tawaran pasar. Ia memusatkan perhatian pada kebutuhan pembeli yang bersifat dasar dan bukannya pada perbedaan diantara pembeli. Ia merancang suatu produk atau suatu program pemasaran yang akan menarik jumlah pembeli terbesar. Ia menggantungkan diri kepada distribusi dan pengiklanan masal. Ia berusaha memberikan citra produk yang superior ke dalam benak orang-orang. Ia bertujuan memberikan produk dengan citra yang hebat dalam pikiran orang-orang.

Sedangkan dalam pemasaran yang terdiferensiasi,perusahaan beroperasi di berbagai segmen pasar dan merancang program yang berbeda bagi masing-masing segmen. Pemasaran yang terdiferinsiasi biasanya menciptakan lebih banyak penjualan total dari pada pemasaran yang tidak terdiferensiasi. Namun ia juga meningkatkan biaya unyuk berbisnis. Diantara biaya-biaya tersebut antara lain adalah biaya modifikasi produk,biaya manufaktur, dan biaya administrasi.

Beberapa kriteria dalam memilih pasar sasaran yang optimal :

  1. Responsif terhadap produk

Pasar sasaran yang dipilih harus responsif terhadap produk atau jasa dan program-program pemasaran yang dikembangkan oleh perusahaan. Apabila pasar tidak merespon seperti yang diinginkan atau pasar sasaran tidak begitu jelas, produsen/perusahaan akan dihadapkan pada resiko kegagalan yang besar.

  1. Potensi penjualan yang cukup luas

Besarnya pasar sasaran yang harus memadai untuk berkembang. Bukan hanya ditentukan oleh jumlah populasi. tetapi juga oleh daya beli dan keinginan pasar untuk memiliki produk tersebut.Daya beli berkaitan erat dengan persoalan ekonomi makro dan potensi suatu daerah (misalnya potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia), sedangkan keinginan membeli harus dapat diciptakan dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti kesiapan masyarakat, kelayakan produk tersebut, kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan atau kepuasan konsumen dan masalah etika.

  1. Pertumbuhan pasar

Pasar harus memungkinkan untuk tumbuh, wlaupun secara perlahan-lahan sampai akhirnya berkembang dengan pesat dan mencapai titik dewasa. Apabila pertumbuhan menjadi lambat, mungkin produk yang d iat tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pasar sasaran, bisa jadi harganya terlalu mahal, pasar tidak membutuhkannya, pasar telah dikuasai oleh pesaing yang memiliki konsumen yang setia, atau bahkan produk yang dilucurkan tidak dikenal pasar.

  1. Jangkauan komunikasi yang luas dan tepat

Mengkomunikasikan produk mempunyai peran sangat penting dalam memasarkan produk. Perusahaan harus menentukan media yang tepat untuk mengomunikasikan produknya. Adakalanya marketer gagal menjangkau pasar karena tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang karakter-karakter media yang ada. Biasanya pemilihan media diserahkan sepenuhya pada pihak ketiga aitu bro iklan. Tetapi tidak semua biro iklan memiliki pengetahuan tentang media planning yang baik, sehigga marketer sendiri harus kreatif dan mengetahui bagaimana cara menjangkau pasar sasaran dengan optimal.

Jenis-jenis pasar sasaran yang ada yaitu :

  1. Pasar Sasaran Jangka Pendek dan Masa Depan

Yang dimaksud dengan pasar sasaran jangka pendek adalah pasar yang sedang dijalankan saat ini dan yang direncanakan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat (satu tahun). Sedangkan pasar sasaran masa depan adalah pasar sasaran yang direncanakan untuk tiga sampai lima tahun mendatang.

  1. Pasar Premier dan Pasar Sekunder

Yang dimaksud dengan pasar premier adalah sasaran utama dari suatu produk. Umumnya pasar premier adalah pemakai fanatik, yang jumlahnya tidak banyak, tapi mereka terus memakai produk atau jasa tersebut. Sedangkan pasar sekunder adalah pasar yang terdiri dari pelanggan-pelanggan yang sering dianggap tidak penting karena hanya memakai produk atau jasa tersebut sekali saja.

Setelah menganalsis pasar yang potensial, perusahaan harus memilih salah satu dari strategi targeting berikut ini (Walker, Boydm Mullins, arrence, 2003):

  1. Niche – Market Strategy

Perusahaan hanya melayani pelanggan di satu segmen saja. dengan memberikan suatu niali tambah dalam produknya. Biasanya strategi ini untuk menghindari berhadapan langsung dengan perusahaan besar yang menguasai pasar.

  1. Mass – Market Strategy

Suatu perusahaan dapat menerapkan strategi ini dalam dua cara. Cara perhatma, suatu perusahaan menganggapp seuma pasar homogen, sehingga perusahaan tersebut menciptakan suatu produk yang sama untuk semua pasar. Tujuan dari strategi ini adalah untuk mendapatkan skala ekonomis dalam produksi dan penghematan biaya operasional. Cara kedua adalah perusahaan mendesain beberapa produk dan memasarkannya untuk segmen pasar yang berbeda-beda. Hal ini sering pula disebut dengan diferensiasi produk.

  1. Growth – Market Strategy

Strategi ini mengharuskan perusahaan untuk berkonsentrasi pada suatu segmen psar yang sedang tumbuh saja. walaupun segmen tersebut kecil.

Kriteria Segmen Efektif (skripsi dan tesis)

Segmentasi yang dilakukan harus memenuhi 5 kriteria utama agar dapat bermanfaat (Kotler dan Keller, 2007), antara lain:

  1. Dapat terukur (measurable). Ukuran, kekuatan beli dan karakteristik dari segmentasi harus bisa diukur.
  2. Cukup penting (substatial). Segmen harus cukup besar dan memberikan keuntungan yang baik untuk dilayani.
  3. Dapat dijangkau (accesible), segmen harus bisa dijangkau secara efektif.
  4. Dapat terbedakan (differentiable), segmen secara konsep bisa terbedakan dan memberikan respon yang berbeda terhadap program dan elemen pemasaran yang berbeda.
  5. Dapat dikerjakan (actionable), program yang efektif bisa diformulaskikan untuk menarik dan melayani segmen yang dituju.

Teknik-teknik Segmentasi Pasar (skripsi dan tesis)

Ada 2 konsep segmentassi yaitu konsep pendekatan apriori dan pendekatan post-hoc (Kasali, 2007). Pada pendekatan Apriori, segmen ditentukan diawal sebelum dilakukan survei, bahkan sebelum barang dijual atau data pembeli yang sebenarnya dikumpulkan. Sedangkan post-hoc adalah pendekatan yang berorientasi pada suatu jangkauan tertentu.

Secara garis besar ada dua metode yang lazim dipakai dalam riset-riset segmentasi post-hoc dewasa ini, yaitu metode dependensi dan metode interdependensi. Dalam metode dependensi, segmen-segmen dihasilkan karena ada hubungan antara variabel terikat dengan sejumlah variabel bebas. Variabel terikat ini haruslah sesuatu yang mencerminkan tindakan konsumen yang penting bagi kegiatan usaha. Dan dalam hal ini peneliti harus percaya ada variabel-variabel lain yang mendorong konsumen melakukan tindakan-tindakan itu. Variabel-variabel itu adalah variabel bebasm seperti usia, gender, pendidikan, pemkaian dan sebagainya.

Pada metode interdepensi, segmentasi hanya dibentuk oleh variabel-variabel bebas. Dalam metode ini, variabel-variabel bebas tidak dikaitkan dengan variabel terikat yang harus dijelaskan atau diprediksi. Objektifnya adalah menemukan kelompok-kelompok konumen yang memiliki kesamaan respon terhadap variabel-variabel bebas tertentu. Contoh dari metode ini adalah analisis cluster.

Dasar-dasar Segmentasi Pasar (skripsi dan tesis)

Untuk mensegmentasi pasar konsumen,d apat digunakan variabel-variabel yang berbeda. Ada beberapa pendapat mengenai dasat untuk membentuk suatu segmen, namun secara umum hampir sama. Variabel segmentasi utama yang dijabarkan oleh Kotler dan Keller (2007) seperti berikut ini :

  1. Segmentasi Geografi (Where), merupakan segmentasi yang membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda-beda, seperti : negara bagian, pulau, propinsi, kota, kecamatan atau RT.
  2. Segmentasi Demografi (Who), merupakan segmentasi yang terdiri dari pembagian pasar menjadi kelompok-kelompok dengan dasar variabel-variabel demografi, seperti: usia, jenis kelamin, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, pendidikan, profesi, penghasilan, agama dan kewarganegaraan.
  3. Segmentasi Psikografis (Why), merupakan segmentasi dimana konsumen dibagi menjadi kelompok yang berbeda berdasarkan kelas sosial, gaya hidup dan atau kepribadian.
  4. Segmentasi Perilaku (How), dalam mensegmentasi perilaku konsumen dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan pengetahuan, sikap, pemakaian, atau tanggapan mereka terhadap suatu produk.

Sementara Assael (2004) berpendapat bahwa ada 3 dasar untuk analisis segmentasi pasar yaitu

  1. Manfaat (benefits), bertujuan untuk membuat pengembangan produk baru dan memposisikan produk eksisting dengan kriteria nutrisi, kesehatan, ekonomi, rasa yang enak, kinerja produk dan prestis.
  2. Perilaku (behaviour), bertujuan untuk membuat strategi pemasaran dengan kriteria penggunaan merk, penggunakan kategori produk dan tingkat penggunaan.
  3. Elastisitas respons, dengan tujuan untuk menyasar upaya pemasaran dan kriterianya elastisitas harga, elastisitas kesepakatan dan elastisitas periklanan.

Segmentasi Pasar (skripsi dan tesis)

Segmentasi pasar menurut Cravens dan Piercy (2006) merupakan proses yang menempatkan pembeli pada suatu pasar produk ke dalam sub kelompokk sehingga anggota dari setiap segmen menunjukkan respon yang samaatau mirip terhadap strategi pemosisian tertentu. Kesamaan pembeli ini diindikasikan oleh jumlah dan frekuensi pembelian, loyalitas tehadap suatu merek,bagaimana produk digunakan dan beberapa ukuran lainnya.

McDonald dan Dunbar (2004) mendefinisikan segmentasi sebagai proses membagi konsumen menjadi kelompok yang berbeda atau segmen, dimana konsumen yang mempunyai karakteristik yang sama mempunyai kebutuhan yang sama. Dengan melakuan ini, setiap orang bisa ditargetkan dan dijangkau dengan bauran pemasaran yang berbeda.

Menurut Walker, Boyd, Mullins dan Larranche (2003) dalam bukunya “Marketing Strategy – A Decision Focused Approach” :

“Market segmentation is the process by which a market devided into distinct subsets of customers with similar needs and characteristics that lead them to respond in similar ways to particular product offering an marketing program.”

“Segmentasi pasar adalah proses mengkotak-kotakkan konsumen yang memiliki kesamaan kebutuhan dan atau kesamaan karakter yang memiliki respon yang sama dalam melihat suatu penawaran produk tertentu dan program pemasaran.”

Segmentasi saat ini menjadi semakin penditng di dalam perkembangan suatu strategi pemasaran, dengan alasan-alasan sebagai berikut :

  1. a)Pertumbuhan populasi yang semakin lambat dan banyaknya produk yang sudah mature. Situasi ini menyebabkan kompetisis yang semakin ketat diantara perusahaan-perusahaan untuk mencari laba/keuntungan melalui peningkatan pangsa pasar ataupun perluasan merk.
  2. b)Berubahnya status sosial dan ekonomu dari masyarakat sebagai akibat dari peningkatan tarag hidup, tingkat pendidikan yang lebih baik, dan perubahan gaya hidup.

Menurut Kasali (2007), segmentasi pasar juga memberikn beberapa keuntungan sebagai berikut :

  1. Organisasai dapat mengembangkan produk atau jasa baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar
  2. Segmentasi pasar membantu organisasi untuk mendesain program pemasaran yang lebih efektif untuk menjangkau konsumen yang homogen.
  3. Segmentasi pasar juga membantu untuk melakukan alokasi dari sumber-sumber pengkasilan pemasaran.
  4. Organisasi dapat menemukan peluang pasar yang baru
  5. Menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien.

Dodd dan Bigotte dalam Thomasn dan Pickering (2003) menunjukkan bahwa mensegmentasi pasar bisa menghasilkan efisiensi, diantaranya : biaya bisa menurun, sementara efektifitas dengan periklanan dan promosi bisa meningkat.

Strategi Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2007) juga memberikan definisi strategi pemasaran sebagai berikut: “ marketing strategy defines the board principles by which the business unit expect to achieve its marketing objectives in a target market. Its consist of basic decisions on total marketing expenditure, marketing mix and marketing llocation.”

Ahli ekonomi Indonesia, Assauri (2009) mengatakan: “ Strategi pemasaran adalah serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan dan aturan yang memberi arah kepada usaha-usaha pemasasran dari waktu ke waktu, pada masing-masing tingkatan danacuan serta alokasinya, terutama sebagai tanggapan perusahaan yang selalu berubah.

Dengan pengertian diaas, penentuan strategi pemasaran harus didasarkan atas analisa keunggulan (strenght) dan kelemahan (weakness) perusahaan, selain analisa kesempatan (opportunity) dan ancaman (threats) yang dihadapi perusahaan di lingkungannya. Dengan demikian strategi pemasaran yang tepat dan cepat, tujuan perusahaan untuk meningkatkan volume penjualan dan memperluas daerah pemasarannya akan dapat dicapai.

Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Manajemen pemasaran merupakan usaha sadar untuk menghasilkan pertukaran yang diinginkan dalam pasar yang dituju. Agar dapat mencapai tujuan tersebut, perlu didasari filosofi yang matang untuk pemasaran yang efektif, efisien, dan bertanggung jawab.

Terdapat beberapa pengertian mengenai pemasaran yang dikemukakan oleh pakar pemasaran dilihat dari sudut tinjauan yang berbeda, diantaranya yaitu :

  • Menurut Kotler (2007): “ Marketing is a social and managerial process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating, offering and exchanging products of value with others.”
  • Ahli pemasaran Schoell dan Guiltinan (1995) mendefinisikan pemasaran adalah : “Marketing is the process of planning and executing the conception, pricing, promotion and sevices to create exchanges that satisfy individual and organizational objectives”

Menurut Kotler (2007) konsep pemasaran yang mendasari cara organisasi melakukan pemasarannya ada 6 :

  1. Konsep berwawasan produksi

Konsep ini berpendapat bahwa konsumen akan memilih produk yang mudah didapat dan murah harganya.

  1. Konsep berwawasan produk

Konsep ini berpendapat bahwa produk yang bermutu, kinerja dan hal-hal inovatif lainnya yang akan dipilih oleh konsumen.

  1. Konsep berwawasan penjualan

Konsep ini berpendapat bahwa konsumen enggan untuk membeli dan harus didorong supaya membeli, terkecuali perusahaan yang menjalankan suatu usaha promosi dan penjualan efektif untuk merangsang pembelian

  1. Konsep berwawasan pemasaran

Konsep ini berpendapat bahwa kunci untuk mencapai tujuan perusahaan terdiri dari penentu kebutuhan dan keinginan pasar serta memberukan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektid dan efisien, dibandingkan kompetitor. Konsep ini bersandar pada empat pilar utama, yaitu pasar sasaran, kebutuhan pelanggan, pemasaran yang terkoordinir serta keuntungan.

  1. Konsep berwawasan konsumen

Konsep ini beranggapan bahwa untuk meningkatkan penjualan maka perusahaan harus berfokus pada kebutuhan dan keinginan konsumen serta dapat menaikkan loyalitas konsumen

  1. Konsep berwawasan pemasaran bermasyarakat

Konsep ini beranggapan bahwa tugas perusahaan adalah menentukan kebutuhan, keinginan serta kepentingan pasar sasaran dan memenuhinya dengan lebih efektif serta lebih efisien dibandingan dengan kompetitor dengan cara mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.

Teori Hierarki Kebutuhan (skripsi dan tesis)

Teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh                      A.H. Maslow dibagi dalam lima poin penting, yaitu :

  1. a)   Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan seperti rasa lapar, haus, seks, perumahan
  2. b)  Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan akan rasa cinta dan kepuasan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, kepuasan dan perasaan memiliki serta diterima dalam kelompok, rasa kekeluargaan, persahabatan dan kasih sayang
  3. c)   Kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan akan status dan kedudukan serta kehormatan diri
  4. d)  Kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan pemenuhan diri untuk mempergunakan potensi diri, pengembangan diri semaksimal mungkin, kreatifitas, ekspresi diri dan melakukan apa yang paling cocok serta menyelesaikan pekerjaan sendiri
  5. e)   Kebutuhan keamanan dan rasa aman yaitu kebutuhan seperti kondisi kerja yang aman, rencana-rencana senioritas, serikat kerja, tabungan, uang pesangon

2)  Teori X dan Teori Y

Teori X dan Teori Y dikemukakan oleh Douglas McGregor yang menyimpulkan bahwa pandangan seorang pemimpin mengenai kodrat manusia dibagi dua yaitu negatif (Teori X) dan positif (Teori Y).      Teori Hierarki Kebutuhan

Teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh                      A.H. Maslow dibagi dalam lima poin penting, yaitu :

  1. a)   Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan seperti rasa lapar, haus, seks, perumahan
  2. b)  Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan akan rasa cinta dan kepuasan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, kepuasan dan perasaan memiliki serta diterima dalam kelompok, rasa kekeluargaan, persahabatan dan kasih sayang
  3. c)   Kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan akan status dan kedudukan serta kehormatan diri
  4. d)  Kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan pemenuhan diri untuk mempergunakan potensi diri, pengembangan diri semaksimal mungkin, kreatifitas, ekspresi diri dan melakukan apa yang paling cocok serta menyelesaikan pekerjaan sendiri
  5. e)   Kebutuhan keamanan dan rasa aman yaitu kebutuhan seperti kondisi kerja yang aman, rencana-rencana senioritas, serikat kerja, tabungan, uang pesangon

2)  Teori X dan Teori Y

Teori X dan Teori Y dikemukakan oleh Douglas McGregor yang menyimpulkan bahwa pandangan seorang pemimpin mengenai kodrat manusia dibagi dua yaitu negatif (Teori X) dan positif (Teori Y).

Motivasi (skripsi dan tesis)

Motivasi adalah kemauan untuk berjuang atau berusaha ke tingkat yang lebih tinggi menuju tercapainya tujuan organisasi dengan syarat tidak mengabaikan kemampuannya untuk memperoleh kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pribadi (Hasibuan, 2007 : 141). Pendapat lain motivasi adalah segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong orang untuk memenuhi suatu kebutuhan (Siagian, 2007 : 285)

Motivasi dapat disimpulkan merupakan komponen penting dalam meraih keberhasilan suatu proses kerja, karena memuat unsur pendorong bagi seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan sendiri maupun kelompok.

Penyampaian Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri (skripsi dan tesis)

Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan merupakan dokumen kepegawaian yang bersifat rahasia. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan disimpan untuk selama 5 (lima) tahun mulai tahun pembuatannya. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan yang telah lebih dari 5 (lima) tahun tidak digunakan lagi dan dapat dimusnahkan menurut tata cara yang diatur dalam perundang-undangan yang berlaku.

Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang berpangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d ke bawah dibuat dalam 1 (satu) rangkap. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang berpangkat Pembina golongan ruang IV/a ke atas dibuat dalam 2 (dua) rangkap, yaitu 1 (satu) rangkap dikirimkan kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara dan l (satu) rangkap disimpan oleh instansi yang bersangkutan.

Keputusan Atasan Pejabat Penilai Pegawai Negeri (skripsi dan tesis)

Atasan Pejabat Penilai memeriksa dengan saksama Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan yang disampaikan kepadanya. Apabila terdapat alasan-alasan yang cukup, Atasan Pejabat Penilai dapat mengadakan perubahan nilai yang tercantum dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan. Perubahan yang dilakukan oleh Atasan Pejabat Penilai tidak dapat diganggu gugat.

Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan baru berlaku sesudah ada pengesahan dari Atasan Pejabat Penilai Pejabat Penilai Yang merangkap Sebagai Atasan Pejabat Penilai Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat dan Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah adalah Pejabat Penilai dan Atasan Pejabat Penilai tertinggi dalam lingkungan masing-masing.

Daftar Penilaian Pekerjaan yang dibuat oleh Pejabat Penilai yang merangkap menjadi Atasan Pejabat Penilai tidak dapat diganggu gugat Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil Yang Menjabat Sebagai Pejabat Negara Atau Ditugaskan Di Luar Instansi Induknya

Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil dibuat oleh Pejabat Penilai dari instansi asal tempat Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan bertugas sebelum diangkat sebagai Pejabat Negara. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjakan/ diperbantukan pada instansi pemerintah lain dibuat oleh Pejabat Penilai pada instansi tempat Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dipekerjakan/diperbantukan.

Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan diinstansi/badan lain diluar instansi induknya dibuat oleh Pejabat Penilai dengan bahan-bahan yang diperoleh dari instansi/badan lain tempat Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan ditugaskan.

Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil menjalankan tugas belajar oleh Pejabat Penilai dengan bahan-bahan yang diperoleh dari pimpinan lembaga pendidikan tempat Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan menjalankan tugas belajar.

Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang menjalankan tugas belajar di luar negeri dibuat oleh Pejabat Penilai dengan bahan-bahan yang diperoleh dari Kepala Perwakilan Republik Indonesia setempat.

Keberatan Terhadap Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri (skripsi dan tesis)

Apabila Pegawai Negeri Sipil yang dinilai berkeberatan atas nilai dalam Daftar Penilaian Pekerjaan baik sebagian atau seluruhnya, maka ia dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Atasan Pejabat Penilai. Keberatan tersebut dikemukakan dalam tempat yang tersedia dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan disertai alasan-alasannya. Keberatan tersebut di atas disampaikan melalui saluran hirarki dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan tersebut. Keberatan yang diajukan melebihi batas waktu 14 (empat belas) hari tidak dapat dipertimbangkan lagi. Pejabat Penilai memberikan tanggapan tertulis atas keberatan dari Pegawai Negeri Sipil yang dinilai pada tempat yang tersedia dan mengirimkan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan tersebut kepada Atasan Pejabat Penilai selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari terhitung mulai saat ia menerima kembali Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan dari Pegawai Negeri Sipil yang dinilai.

Tata Cara Penilaian Kinerja Pegawai Negeri (skripsi dan tesis)

Penilaian dilakukan oleh Pejabat Penilai, yaitu atasan langsung Pegawai Negeri Sipil yang dinilai, dengan ketentuan serendah-rendahnya Kepala Urusan atau pejabat lain yang setingkat dengan itu. Pejabat Penilai melakukan penilaian pelaksanaan pekerjaan terhadap Pegawai Negeri Sipil yang berada dalam lingkungannya pada akhir bulan Desember tiap-tiap tahun. Jangka waktu penilaian adalah mulai bulan Januari sampai dengan bulan Desember tahun yang bersangkutan. Nilai pelaksanaan pekerjaan dinyatakan dengan sebutan dan angka sebagai berikut:

1)      amat baik = 91 – 100

2)      baik = 76-90

3)      cukup = 61-75

4)      sedang = 51-60

5)      kurang = 50 ke bawah

Nilai untuk masing-masing unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan, adalah rata-rata dari nilai sub-sub unsur penilaian. Setiap unsur penilaian ditentukan dulu nilainya dengan angka, kemudian ditentukan nilai sebutannya. Hasil penilaian pelaksanaan pekerjaan dituangkan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan. Pejabat Penilai baru dapat melakukan penilaian pelaksanaan pekerjaan, apabila ia telah membawahkan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan. Apabila Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan diperlukan untuk suatu mutasi kepegawaian, sedangkan Pejabat Penilai belum 6 (enam) bulan membawahi Pegawai Negeri Sipil yang dinilai, maka Pejabat Penilai tersebut dapat melakukan penilaian pelaksanaan pekerjaan dengan mengunakan bahan-bahan yang ditinggalkan oleh Pejabat Penilai yang lama.

3). Penyampaian Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan

Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan yang telah diisi diberikan oleh Pejabat Penilai kepada Pegawai Negeri Sipil yang dinilai. Apabila Pegawai Negeri Sipil yang dinilai menyetujui penilaian terhadap dirinya seperti tercantum dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan, maka ia membubuhkan tanda tangannya pada tempat yang tersedia. Pegawai Negeri Sipil wajib mengembalikan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan yang telah ditandatangani olehnya kepada Pejabat Penilai selambat-lambatnya dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan tersebut. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan yang telah ditandatangani oleh Pejabat Penilai dan oleh Pegawai Negeri Sipil yang dinilai dikirimkan oleh Pejabat Penilai kepada Atasan Pejabat Penilai, yaitu atasan langsung dari Pejabat Penilai, selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari terhitung mulai diterimanya kembali Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan dari Pegawai Negeri Sipil yang dinilai.

Penilaian Kinerja Pegawai Negeri Sipil (skripsi dan tesis)

Penilaian kinerja Pegawai Negeri Sipil, adalah penilaian secara periodik pelaksanaan pekerjaan seorang Pegawai Negeri Sipil. Tujuan penilaian kinerja adalah untuk mengetahui keberhasilan atau ketidak berhasilan seorang Pegawai Negeri Sipil, dan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dalam melaksana-kan tugasnya. Hasil penilaian kinerja digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembinaan Pegawai Negeri Sipil, antara lain pengangkatan, kenaikan pangkat, pengangkatan dalam jabatan, pendidikan dan pelatihan, serta pemberian penghargaan. Penilaian kinerja Pegawai Negeri Sipil dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979 tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil.

1). Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil

Unsur-unsur yang dinilai dalam melaksanakan penilaian pelaksanaan pekerjaan adalah :

  1. kesetiaan;
  2. prestasi kerja;
  3. tanggungjawab;
  4. ketaatan;
  5. kejujuran;
  6. kerjasama;
  7. prakarsa; dan
  8. kepemimpian.
  9. Kesetiaan, Yang dimaksud dengan kesetiaan, adalah kesetiaan, ketaatan, dan pengabdian kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah.

Unsur kesetiaan terdiri atas sub-sub unsur penilaian sebagai berikut:

1)      Tidak pernah menyangsikan kebenaran Pancasila baik dalam ucapan, sikap, tingkah laku, dan perbuatan;

2)      Menjunjung tinggi kehormatan Negara dan atau Pemerintah, serta senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan diri sendiri, seseorang, atau golongan;

3)      Berusaha memperdalam pengetahuan tentang Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta selalu berusaha mempelaiari haluan Negara, politik Pemerintah, dan rencana-renca Pemerintah dengan tujuan untuk melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna;

4)      Tidak menjadi simpatisan/anggota perkumpulan atau tidak pernah terlibat dalam gerakan yang bertujuan mengubah atau menentang Pancasila Undang-Undang Dasar 1945, bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, atau Pemerintah;

5)      Tidak mengeluarkan ucapan, membuat tulisan, atau melakukan tindakan yang dapat dinilai bertujuan mengubah atau menentang Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah.

  1. Prestasi Kerja Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai seorang Pegawai Negeri Sipil dalam melaksana tugas yang dibebankan kepadanya. Pada umumnya prestasi kerja seorang Pegawai Negeri Sipil dipengaruhi oleh kecakapan, ketrampilan , pengalaman dan kesungguhan PNS yang bersangkutan Unsur prestasi kerja terdiri atas sub-sub unsur sebagai berikut:

1)      Mempunyai kecakapan dan menguasai segala seluk beluk bidang tugasnya dan bidang lain yang berhubungan dengan tugasnya;

2)      Mempunyai keterampilan dalam melaksanakan tugasnya;

3)      Mempunyai pengalaman di bidang tugasnya dan bidang lain yang berhubungan dengan tugasnya;

4)      Bersungguh-sungguh dan tidak mengenal waktu dalam melaksanakan tugasnya;

5)      Mempunyai kesegaran dan kesehatan jasmani dan rohani yang baik;

6)      Melaksanakan tugas secara berdayaguna dan berhasilguna;

7)      Hasil kerjanya melebihi hasil kerja rata-rata yang ditentukan, baik dalam arti mutu maupun dalam arti jumlah.

  1. Tanggung jawab Tanggung jawab adalah kesanggupan seorang Pegawai Negeri Sipil menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya serta berani memikul risiko atas keputusan yang diambilnya atau tindakan yang dilakukannya. Unsur tanggung jawab terdiri atas sub-sub unsur sebagai berikut:

1)      Selalu menyelesaikan tugas dengan sebaik- baiknya dan tepat pada waktunya;

2)      Selalu berada di tempat tugasnya dalam segala keadaan;

3)      Selalu mengutamakan kepentingan dinas daripada kepentingan diri sendiri, orang lain, atau golongan;

4)      Tidak pernah berusaha melemparkan kesalahan yang dibuatnya kepada orang lain;

5)      Berani memikul risiko dari keputusan yang diambil atau tindakan yang dilakukannya;

6)      Selalu menyimpan dan atau memelihara dengan sebaik-baiknya barang-barang milik Negara yang dipercayakan kepadanya.

  1. Ketaatan Ketaatan adalah kesanggupan seorang Pegawai Negeri Sipil untuk menaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku, menaati perintah kedinasan yang diberikan oleh atasan yang berwenang, serta kesanggupan untuk tidak melanggar larangan yang ditentukan. Unsur ketaatan terdiri atas sub-sub unsur sebagai berikut:

1)      Menaati peraturan perundang-undangan dan atau peraturan kedinasan yang berlaku

2)      Menaati perintah kedinasan yang diberikan oleh atasan yang berwenang dengan sebaik-baiknya;

3)      Memberikan pelayanan terhadap masyarakat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan bidang tugasnya;

4)      Bersikap sopan santun

  1. Kejujuran, Pada umumnya yang dimaksud dengan kejujuran, adalah ketulusan hati seorang Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugas dan kemampuan untuk tidak menyalah gunakan wewenang yang diberikan kepadanya. Unsur kejujuran terdiri atas sub-sub unsur sebagai berikut:

1)      Melaksanakan tugas dengan ikhlas;

2)      Tidak menyalahgunakan wewenangnya;

3)      Melaporkan hasil kerjanya kepada atasannya menurut keadaan yang sebenarnya

  1. Kerjasama, Kerjasama adalah kemampuan seseorang Pegawai Negeri Sipil untuk bekerja bersama-sama dengan orang lain dalam menyelesaikan sesuatu tugas yang ditentukan, sehingga tercapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya. Unsur kerjasama terdiri atas sub-sub unsur sebagai berikut:

1)      Mengetahui bidang tugas orang lain yang ada hubungannya dengan bidang tugasnya;

2)      Menghargai pendapat orang lain;

3)      Dapat menyesuaikan pendapatnya dengan pendapat orang lain, apabila yakin bahwa pendapat orang lain itu benar;

4)      Bersedia mempertimbangkan dan menerima usul yang baik dari orang lain;

5)      Selalu mampu bekerja bersama-sama dengan orang lain menurut waktu dan bidang tugas yang ditentukan;

6)      Selalu bersedia menerima keputusan yang diambil secara sah walaupun tidak sependapat.

  1. Prakarsa, Prakarsa adalah kemampuan seorang Pegawai Negeri Sipil untuk mengambil keputusan, langkah-langkah atau melaksanakan sesuatu tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok tanpa menunggu perintah dari atasan. Unsur prakarsa terdiri atas sub-sub unsur sebagai berikut:

1)      Tanpa menunggu petunjuk atau perintah dari atasan, mengambil keputusan atau melakukan tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan tugasnya, tetapi tidak bertentangan dengan kebijaksanaan umum pimpinan

2)      Berusaha mencari tatacara yang baru dalam mencapai dayaguna dan hasilguna yang sebesar besarnya;

3)      Berusaha memberikan saran yang dipandangnya baik dan berguna kepada atasan, baik diminta atau tidak diminta mengenai sesuatu yang ada hubungannya dengan pelaksanaan tugas.

  1. Kepemimpinan, Kepemimpinan adalah kemampuan seorang Pegawai Negeri Sipil untuk meyakinkan orang lain sehingga dapat dikerahkan secara maksimal untuk melaksanakan tugas pokok. Unsur kepemimpinan terdiri atas sub-sub unsur sebagai berikut:

1)      Menguasai bidang tugasnya;

2)      Mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat;

3)      Mampu mengemukakan pendapat dengan jelas kepada orang lain;

4)      Mampu menentukan prioritas dengan tepat

5)      Bertindak tegas dan tidak memihak;

6)      Memberikan teladan baik;

7)      Berusaha memupuk dan mengembangkan kerjasama;

8)      Mengetahui kemampuan dan batas kemampuan bawahan;

9)      Berusaha menggugah semangat dan menggerakkan bawahan dalam melaksanakan tugas;

10)  Memperhatikan dan mendorong kemajuan bawahan:

11)  Bersedia mempertimbangkan saran-saran bawahan.

Indikator Kinerja Pemerintah Daerah (skripsi dan tesis)

Menurut Mahsun (2006 : 77) indikator kinerja Pemerintah Daerah meliputi :

  1. Indikator masukan (input) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran. Indikator ini mengukur jumlah sumber daya seperti sumber daya manusia, peralatan dan masukan lainnya yang dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan.
  2. Indikator proses (process) yaitu dalam indikator proses ini organisasi merumuskan ukuran kegiatan baik dari segi kecepatan, ketepatan maupun tingkat akurasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
  3. Indikator keluaran (output) yaitu sesuatu yang diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik atau non fisik. Indikator atau tolak ukur keluaran digunakan untuk mengukur keluaran yang dihasilkan dari suatu kegiatan.
  4. Indikator hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah (efek langsung). Indikator outcome menggambarkan tingkat pencapaian atas hasil lebih tinggi yang mungkin mencakup kepentingan banyak pihak.
  5. Indikator manfaat (benefit) adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan. Indikator manfaat menggambarkan manfaat yang diperoleh dari indikator hasil.
  6. Indikator dampak (impact) adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif. Penilain kinerja bila dirujuk dari :

1)      Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979, tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil;

2)      Surat Edaran Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 02/SE/1980 tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil

Pengertian Kinerja (skripsi dan tesis)

Kinerja mempunyai arti penting bagi karyawan, oleh karena dengan adanya penilaian kinerja berarti karyawan mendapat perhatian dari atasannya. Disamping itu akan menambah gairah kerja karyawan, karena dengan penilaian kinerja ini mungkin karyawan-karyawan yang berprestasi dipromosikan, dikembangkan dan diberi penghargaan atas prestasi tersebut, sebaliknya karyawan yang tidak berprestasi mungkin akan didemosikan. Perlu diperhatikan, penilaian kerja yang efektif dan adil berkelanjutan akan meningkatkan motivasi dan prestasi kerja karyawan.

”Pengertian kinerja pada dasarnya adalah kegiatan dan hasil yang dapat dicapai atau dilanjutkan seseorang atau sekelompok orang di dalam pelaksanaan tugas, pekerjaan dengan baik, artinya mencapai sasaran atau standar kerja yang telah ditetapkan sebelum dan atau bahkan dapat melebihi standar yang ditentukan oleh perusahaan pada periode tertentu” (As’ad, 2004 : 67)

Menurut Jewel dan Siegall (2001 : 389) prestasi kerja dan ”sesuatu yang dikerjakan atau produk dan jasa yang dihasilkan atau diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang”. Pendapat tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan melalui suatu pelaksanaan pekerjaan atau tugas yang dibebankan kepadanya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, bermutu, tepat mengenai sasaran dengan selalu mengikuti metode yang telah ditetapkan, sedangkan menurut Handoko (2000 : 135) prestasi kerja adalah hasil yang dicapai oleh seseorang menurut ukuran yang berlaku bagi pekerjaan yang bersangkutan.

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan dan pendapat beberapa ahli seperti diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kinerja adalah perwujudan atau penampilan karyawan seseorang dalam pelaksanaan pekerjaan. Seseorang dapat dikatakan berprestasi kerja baik, manakala mereka dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik artinya mencapai sasaran atau standar kerja yang telah ditetapkan sebelum atau bahkan melebihi standar yang telah ditentukan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja (skripsi dan tesis)

Para pimpinan organisasi sangat menyadari adanya perbcdaan kinerja antara satu karyawan dengan karyawan, lainnya yang berada di bawah pengawasannya. Walaupun karyawan-karyawan bekerja pada tempat yang sama namun produktifitas karyawan tidaklah sama. Menurut Gibson, et al. (dalam Novitasari, 2003:39-40), ada tiga perangkat variabel yang mempengaruhi perilaku dan prestasi kerja atau kinerja, yaitu:

  1. Variabel individual, terdiri dari: 1). Kemampuan dan ketrampilan: mental dan fisik 2). Latar belakang: keluarga, tingkat sosial, penggajian 3). demografis: umur, asal-usul, jenis kelamin.
  2. Variabel organisasional, terdiri dari: sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan.
  3. Variabel psikologis, terdiri dari: persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi.

Menurut Tiffin dan Me. Cormick (dalam Novitasari, 2003:36-37) ada dua variabel yang dapat mempengaruhi kinerja, yaitu:

  1. Variabel individual, meliputi: sikap, karakteristik, sifat-sifat fisik, minat dan motivasi, pengalaman, umur, jenis kelamin, pcndidikan, serta faktor individual lainnya.
  2. Variabel situasional: 1). Faktor fisik dan pekerjaan, terdiri dari ; metode kcrja, kondisi dan desain perlengkapan kerja, penataan ruang dan lingkungan fisik (penyinaran, temperatur, dan fentilasi) 2). Faktor sosial dan organisasi, meliputi: peraturan-peraturan organisasi, sifat organisasi, jenis latihan dan pengawasan, sistem upah dan lingkungan sosial.

Penilaian Kinerja (skripsi dan tesis)

Penilaian kinerja merupakan suatu proses organisasi untuk menilai kinerja pegawainya. Tujuan dilakukannya penilaian kinerja secara umum adalah untuk memberikan umpan balik kepada karyawan dalam upaya memperbaiki kinerjanya dan meningkatkan produktivitas organisasi, khususnya yang berkaitan dengan kebijaksanaan terhadap karyawan seperti untuk tujuan promosi, kenaikan gaji, pendidikan dan latihan. Saat sekarang ini dengan lingkungan bisnis yang bersifat dinamis penilaian kinerja merupakan suatu yang sangat berarti bagi organisasi. Organisasi haruslah memilih kriteria secara subyektif maupun obyektif. Kriteria kinerja secara obyektif adalah evaluasi kinerja terhadap standar-standar spesifik, sedangkan ukuran secara subyektif adalah seberapa baik seorang karyawan bekerja keseluruhan.

Penilaian kinerja (performance appraisal, PA) adalah proses evaluasi seberapa baik karyawan mengerjakan, ketika dibandingkan dengan satu set standar dan kemudian mengkomunikasikannya dengan para karyawan. Penilaian kinerja merupakan landasan penilaian kegiatan manajemen sumber daya manusia seperti perekrutan, seleksi, penempatan, pelatihan, penggajian, dan pengembangan karir. Kegiatan penilaian kinerja sangat erat kaitannya dengan kelangsungan organisasi. Data atau informasi tentang kinerja karyawan terdiri dari tiga kategori (Mathis dan Jackson, 2002 ), yaitu :

  1. Informasi berdasarkan ciri-ciri seperti kepribadian yang menyenangkan, inisiatif atau kreatifitas dan mungkin sedikit pengaruhnya pada pekerjaan tertentu.
  2. Informasi berdasarkan tingkah laku memfokuskan pada perilaku yang spesifik yang mengarah pada keberhasilan pekerjaan. Informan perilaku lebih sulit diidentifikasikan dan mempunyai keuntungan yang secara jelas memberikan gambaran akan perilaku apa yang ingin dilihat oleh pihak manajemen.
  3. Informasi berdasarkan hasil mempertimbangkan apa yang telah dilakukan karyawan atau apa yang telah dicapai karyawan. Untuk pekerjaan-pekerjaan dimana pengukuran itu mudah dan tepat, pendekatan hasil ini adalah cara yang terbaik. Akan tetapi, apa-apa yang akan diukur cenderung ditekankan, dan apa yang sama-sama pentingnya dan tidak merupakan bagian yang diukur mungkin akan diabaikan karyawan. Sebagi contoh, seorang tenaga penjualan mobil yang hanya dibayar berdasarkan penjualan mungkin tidak berkeinginan untuk mengerjakan tugas-tugas administrasi atau pekerjaan lain yang tidak berhubungan secara langsung dengan penjualan mobil. Lebih jauh lagi, masalah etis atau legal bisa jadi timbul ketika hasilnya saja yang ditekankan dan bukannya bagaimana hasil itu diperoleh.

Rahmanto (2002) mengemukakan bahwa sistem penilaian kinerja mempunyai dua elemen pokok, yakni :

  1. Spesifikasi pekerjaan yaang harus dikerjakan oleh bawahan dan criteria yang memberikan penjelasan bagaimana kinerja yang baik (good performance) dapat dicapai, sebagai contoh : anggaran operasi, target produksi tertentu dan sebagainya.
  2. Adanya mekanisme untuk pengumpulan informasi dan pelaporan mengenai cukup tidaknya perilaku yang terjadi dalam kenyataan dibandingkan dengan kriteria yang berlaku sebagai contoh laporan bulanan manager dibandingkan dengan anggaran dan realisasi kinerja (budgeted and actual performance) atau tingkat produksi dibandingkan dengan angka penunjuk atau meteran suatu mesin.

Penilaian kinerja dapat terjadi dalam dua cara, secara informal dan secara sistimatis (Mathis dan Jackson, 2002). Penilaian informal dapat dilaksanakan setiap waktu dimana pihak atasan merasa perlu. Hubungan sehari-hari antara manajer dan karyawan memberikan kesempatan bagi kinerja karyawan untuk dinilai. Penilaian sistimatis digunakan ketika kontak antara manajer dan karyawan bersifat formal,dan sistemnya digunakan secara benar dengan melaporkan kesan dan observasi manajerial terhadap kinerja karyawan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian kinerja merupakan bagian integral dari proses penilaian yang meliputi : penerapan sasaran kinerja yang spesifik, terukur, memiliki tingkat perubahan, terbatas waktu, adanya pengarahan dan dukungan atasan. Karyawan bersama atasan masing-masing dapat menetapkan sasaran dan standar kinerja yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu. Peningkatan kinerja karyawan perseorangan pada gilirannya akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan.

Dharma, (2001) menyatakan bahwa hampir seluruh cara penilaian kinerja mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.

  1. Kuantitas yaitu jumlah yang harus diselesaikan
  2. Kualitas yaitu mutu yang dihasilkan
  3. Ketepatan  waktu  yaitu  sesuai  atau  tidaknya  dengan  waktu  yang  telah direncanakan.

Selanjutnya  Simamora,  (2004)  menyatakan  bahwa  :  “Penilaian  kinerja seyogyanya  tidak dipahami secara sempit, tetapi dapat menghasilkan beraneka ragam jenis kinerja yang diukur melalui berbagai cara.  Kuncinya adalah dengan sering  mengukur  kinerja  dan  menggunakan  informasi  tersebut  untuk  koreksi pertengahan periode”. Mitchell  (dalam  Sedarmayanti,  2001)  menyatakan  bahwa  :  “kinerja meliputi beberapa aspek, sebagai berikut.

  1. Quality of work (kualitas kerja)

Kualitas kerja lebih menekankan pada hasil atau yang diperoleh dari sebuah pekerjaan sebagai kontribusi pada perusahaan atau standar pencapaian hasil akhir dari pegawai yang ada di perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen.

  1. Promptness (ketepatan)

Ketepatan waktu dalam melaksanakan tugas diartikan sebagai sikap seseorang atau kelompok yang berniat untuk mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya dengan pekerjaan, pengertian ketepatan waktu atau  disiplin kerja adalah suatu sikap dan tingkah laku yang menunjukkan ketaatan karyawan terhadap peraturan organisasi.

  1. Initiative (inisiatif)

Inisiatif berarti usaha sendiri, langkah awal, ide baru. Berinisiatif berarti mengembangkan dan memberdayakan sektor kreatifitas daya pikir manusia, untuk merencanakan idea atau buah pikiran menjadi konsep yang baru yang pada gilirannya diharapkan dapat berdaya guna dan bermanfaat.

  1. Capability (kemampuan)

Kemampuan merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kemampuan merupakan salah satu hal yang harus dimiliki dalam jenjang apapun karena kemampuan memiliki kepentingan tersendiri dan sangat penting untuk dimiliki oleh pegawai.

  1. Communication (komunikasi)

Komunikasi merupakan bagian yang penting dalam kehidupan kerja. Hal ini mudah dipahami sebab komunikasi yang tidak baik bisa mempunyai dampak yang luas terhadap kehidupan organisasi , misalnya konflik antar pegawai, dan sebaliknya komunikasi yang baik dapat meningkatkan saling pengertian, kerjasama dan juga kepuasan kerja.

Sedangkan  Simamora,  (2004)  menyatakan  bahwa  kinerja  karyawan sesungguhnya dinilai atas lima dimensi.

  1. Mutu

Mutu pekerjaan yang dihasilkan berdasarkan syarat-syarat yang telah ditetapkan (quality of work)

  1. Kuantitas

Jumlah pekerjaan yang mampu dilakukan dalam suatu periode waktu yang telah ditentukan (quantity of work)

  1. Penyelesaian proyek

Penyelesaian pekerjaan yang dibebankan sesuai waktu yang telah ditetapkan (time of work).

  1. Kerjasama

Kesadaran untuk bekerja sama dengan unit kerja masing-masing (cooperation)

  1. Kepemimpinan

Kemampuan untuk mendelegasikan tugas serta mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan.

Menurut Hasibuan (2003:95), unsur-unsur yang dinilai pada penilaian prestasi kerja adalah:

  1. Kesetiaan

Penilai mengukur kesetiaan pegawai terhadap pekerjaannya, jabatannya, dan organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan pegawai menjaga dan membela organisasi di dalam maupun di luar pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak bertanggung jawab.

  1. Prestasi kerja

Penilai menilai hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas yang dapat dihasilkan pegawai tersebut dari uraian pekerjaannya.

  1. Kejujuran

Penilai menilai kejujuran dalam melaksanakan tugas-tugasnya memenuhi perjanjian baik bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang lain seperti kepada para bawahannya.

  1. Kedisiplinan

Penilai menilai disiplin karyawan dalam mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan melakukan pekerjaannya sesuai dengan instruksi yang diberikan kepadanya.

  1. Kreativitas

Penilai menilai kemampuan karyawan dalam mengembangkan kreativitasnya untuk menyelesaikan pekerjaannya, sehingga bekerja lebih efektif.

  1. Kerjasama

Penilai menilai kesediaan pegawai berpartisipasi dan bekerjasama dengan pegawai lainnnya secara vertikal atau horizontal di dalam maupun di luar pekerjaan sehingga hasil pekerjaan akan semakin baik.

  1. Kepemimpinan

Penilai menilai kemampuan untuk memimpin, berpengaruh, mempunyai pribadi yang kuat, dihormati, berwibawa, dan dapat memotivasi orang lain atau bawahannya untuk bekerja secara efektif.

  1. Kepribadian

Penilai menilai pegawai dari sikap perilaku, kesopanan, periang, disukai, memberi kesan menyenangkan, memperlihatkan sikap yang baik, dan lain-lain.

  1. Prakarsa

Penilai menilai kemampuan berpikir yang logis dan berdasarkan inisiatif sendiri untuk menganalisis, menilai, menciptakan, memberikan alasan, mendapatkan kesimpulan, dan membuat keputusan penyelesaian masalah yang dihadapinya.

  1. Kecakapan

Penilai menilai kecakapan pegawai dalam menyatukan dan menyelaraskan bermacam-macam elemen yang semuanya terlibat di dalam penyusunan kebijaksanaan dan di dalam situasi manajemen.

  1. Tanggung jawab

Penilai menilai kesediaan pegawai dalam mempertanggungjawabkan kebijaksanaannya, pekerjaan, dan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang dipergunakannya, serta perilaku kerjanya.

Menurut Handoko (2000) ada enam metode penilaian kinerja karyawan:

  1. Rating Scale, evaluasi hanya didasarkan pada pendapat penilai, yang membandingkan hasil pekerjaan karyawan dengan kriteria yang dianggap penting bagi pelaksanaan kerja.
  2. Checklist, yang dimaksudkan dengan metode ini adalah untuk mengurangi beban penilai. Penilai tinggal memilih kalimat-kalimal atau kata-kata yang menggambarkan kinerja karyawan. Penilai biasanya atasan langsung. Pemberian bobot sehingga dapat di skor. Metode ini bias memberikan suatu gambaran prestasi kerja secara akurat, bila daftar penilaian berisi item-item yang memadai.
  3. Metode peristiwa kritis (critical incident method), penilaian yang berdasarkan catatan-catatan penilai yang menggambarkan perilaku karyawan sangat baik atau jelek dalam kaitannya dengan pelaksanaan kerja. Catatan-catatan ini disebut peristiwa kitis. Metode ini sangat berguna dalam memberikan umpan balik kepada karyawan, dan mengurangi kesalahan kesan terakhir.
  4. Metode peninjauan lapangan (field review method), seseorang ahli departemen main lapangan dan membantu para penyelia dalam penilaian karyawan. Spesialis personalia mendapatkan informasi khusus dari atasan langsung tentang kinerja karyawan. Kemudian ahli itu mempersiapkan evaluasi atas dasar informasi tersebut. Evaluasi dikirim kepada penyelia untuk di review, perubahan, persetujuan dan serubahan dengan karyawan yang dinilai. Spesialis personalia bisa mencatat penilaian pada tipe formulir penilaian apapun yang digunakan perusahaan.
  5. Tes dan observasi prestasi kerja, bila jumlah pekerja terbatas, penilaian irestasi kerja bisa didasarkan pada tes pengetahuan dan ketrarnpilan. Tes mungkin tertulis atau peragaan ketrampilan. Agar berguna tes harus reliable dan valid. Metode evaluasi kelompok ada tiga: ranking, grading, point allocation method.
  6. Method ranking, penilai membandingkan satu dengan karyawan lain siapa yang paling baik dan menempatkan setiap karyawan dalam urutan terbaik sampai terjelek. Kelemahan metode ini adalah kesulitan untuk menentukan faktor-faktor pembanding, subyek kesalahan kesan terakhir dan halo effect, kebaikannya menyangkut kemudahan administrasi dan penjelasannya. Grading, metode penilaian ini memisah-misahkan atau menyortir para karyawan dalam berbagai klasifikasi yang berbeda, biasanya suatu proposi tertentu harus diletakkan pada setiap kategori. Point location, merupakan bentuk lain dari grading penilai dibenkan sejumlah nifai total dialokasikan di antara para karyawan dalam kelompok. Para karyawan diberi nilai lebih besar dan pada para karyawan dengan kinerja lebih jelek. Kebaikan dari rnetode ini, penilai dapat mengevaluasi perbedaan rclatif di antara para karyawan, meskipun kelemahan-kelemahan efek halo (halo effect) dan bias kesan terakhir masih ada.

Manfaat penilaian kinerja yaitu :

  1. Perbaikan prestasi kerja atau kinerja.Umpan balik pelaksanaan kerja mernungkinkan karyawan, manajer dan departemen personalia dapat memperbaiki kegiatan-kegiatan karyawan, manajer dan departemen personalia untuk meningkatkan prestasi.
  2. Penyesuaian-penyesuaian kompensasi. Evaluasi prestasi keja membantu para pengambil keputusan dalam mcnentukan kenaikan upah, pemberian bonus dan bentuk kompensasi lainnya.
  3. Keputusan-keputusan penempatan. Promosi dan transfer biasanya didasarkan atas prestasi kerja atau kinerja masa lalu atau antisipasinya.
  4. Perencanaan kebutuhan latihan dan pengembangan. Prestasi kerja atau kinerja yang jelek mungkin menunjukkan perlunya latihan. Demikian pula sebaliknya, kinerja yang baik mungkin mencerminkan potensi yang harus dikembangkan.
  5. Perencanaan dan pengembangan karir. Umpan balik prestasi mengarahkan keputusan-keputusan karir, yaitu tentang jalur karir tertentu yang harus diteliti.
  6. Mendeteksi penyimpangan proses staffing. Prestasi kerja yang baik atau buruk adaiah mencerminkan kekuatan atau kelemahan prosedur staffing departemen personalia.
  7. Melihat ketidakakuratan informasional. Prestasi kerja yanng jelek mungkin menunjukkan kesalahan-kesalahan dalam informasi analisis jabatan, rencana sumberdaya manusia, atau komponen-komponen lain sistem informasi manajemcn personalia. Menggantungkan pada informasi yang tidakakurat dapat rnenyebabkan keputusan-kcpulusan personalia tidak tepat.
  8. Mendeteksi kesalahan-kesalahan desain pekerjaan. Prestasi kerja yang jelek mungkin merupakan tanda kesalahan dalam desain pekerjaan. Penilaian prestasi membantu diagnosa kesalahan-kesalahan tersebut.
  9. Menjamin kesempatan kerja yang adil. Penilaian prestasi kerja yang akurat akan menjamin keputusan-keputusan penempatan internal diambil tanpa diskriminasi.
  10. Melihat tanlangan-tantangan ekternal. Kadang-kadang prestasi seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor diluar lingkungan kerja, seperti keluarga, kesehatan, dan masalah-masalah pribadi lainnya.

Definisi Kinerja (skripsi dan tesis)

Hasibuan, (2007) menyatakan kinerja merupakan perwujudan kerja yang dilakukan oleh karyawan yang biasanya dipakai sebagai dasar penilaian terhadap karyawan  atau  organisasi.  Kinerja  yang  baik  merupakan  langkah  untuk tercapainya  tujuan  organisasi.  Sehingga  perlu  diupayakan  usaha  untuk meningkatkan  kinerja.  Tetapi  hal  ini  tidak  mudah  sebab  banyak  faktor  yang mempengaruhi  tinggi  rendahnya  kinerja  seseorang.  As’ad,  (2000)  menyatakan kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan  yang  bersangkutan.  Dharma,  (2001)  menyatakan  sesuatu  yang dikerjakan  atau  produk/jasa  yang  dihasilkan  atau  diberikan  seseorang  atau sekelompok orang.

Bernardin dan Russel, (2000) menyatakan kinerja adalah catatan perolehan yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama satu periode  pekerjaan  tertentu.  Simamora,  (2004)  menyatakan  kinerja  mengacu kepada  kadar  pencapaian  tugas-tugas  yang  membentuk  sebuah  pekerjaan karyawan. Kinerja merefleksikan seberapa baik karyawan memenuhi persyaratan sebuah pekerjaan. Rivai, (2008) menyatakan kinerja merupakan perilaku nyata yang  ditampilkan  setiap  orang  sebagai  prestasi  kerja  yang  dihasilkan  oleh karyawan  sesuai  dengan  perannya  dalam  perusahaan.  Kinerja  karyawan merupakan  suatu  hal  yang  sangat  penting  dalam  upaya  perusahaan  untuk mencapai tujuannya.

Dari beberapa uraian tersebut, dapat dikemukakan bahwa kinerja adalah hasil  kerja  nyata  yang  dicapai  seseorang  dalam  melaksanakan  tugas  yang diberikan  kepadanya  sesuai  dengan  kriteria  dan  tujuan  yang  ditetapkan  oleh organisasi.

Pengukuran Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Pengukuran kepuasan kerja sangat bervariasi, baik dalam segi analisis statistiknya maupun pengumpulan datanya. Informasi yang didapat dari kepuasan kerja bisa melalui tanya jawab secara perorangan, dengan angket maupun dengan pertemuan suatu kelompok kerja. Kalau menggunakan tanya jawab sebagai alatnya maka karyawan diminta untuk merumuskan tentang perasaannya terhadap aspek-aspek pekerjaan. Cara lain dengan mengamati sikap dan tingkah laku orang tersebut (As’ad, 2004).

Menurut Robbins (2003), terdapat dua pendekatan dalam mengukur kepuasankerja, yaitu:

  1. Single Global Rating

Dengan mengajukan pertanyaan kepada responden, seperti: “Berdasarkan semua yang ada, sejauhmana anda puas terhadap kerja anda?” Para responden itu kemudian menjawab dengan melingkari angka 1 sampai dengan 5 yang mewakili “perasaan puas” sampai “tidak puas”.

  1. Summation Score

Mengidentifikasikan elemen-elemen dalam pekerjaan dan bertanya kepada karyawan tentang apa yang mereka rasakan dari setiap elemen tersebut. Elemen-elemen tersebut antara lain: pekerjaan mereka, supervisi, bayaranmereka, kesempatan untuk promosi, dan hubungan dengan rekan kerja. Semua elemen ini akan diurut dalam skala standar dan ditambahkan untukmenghasilkan nilai kepuasan kerja secara keseluruhan.

Dalam penelitian ini adalah menggunakan Summation Score, karena yang ditanyakan menyangkut pekerjaan, supervisi, imbalan yang diterima, dan hubungandengan rekan kerja serta beberapa faktor lainnya yang berhubungan dengan kepuasankerja karyawan.

Pentingnya dilakukan pengukuran terhadap kepuasan kerja bagi karyawanmempunyai tujuan berikut:

  1. Mengidentifikasi kepuasan karyawan secara keseluruhan, termasuk kaitannyadengan tingkat urutan prioritasnya (urutan faktor atau atribut tolak ukurkepuasan yang dianggap penting bagi karyawan).
  2. Mengetahui pandangan setiap karyawan terhadap organisasi atau perusahaan.Sampai seberapa dekat pandangan tersebut sesuai dengan harapan mereka danbagaimana perbandingannya dengan karyawan lain.
  3. Mengetahui atribut-atribut mana yang termasuk dalam kategori kritis (criticalperfoment attributes) yang berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasankaryawan.
  4. Apabila memungkinkan, perusahaan atau instansi dapat membandingkannyadengan indeks milik perusahaan atau instansi saingan atau yang lainnya (Kuswadi, 2004).

Faktor-Faktor Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Ada lima faktor yang dapat mendorong kepuasan kerja (Robbins,2001:328) yaitu:

  1. Kerja yang secara mental menantang

Karyawan cenderung lebih menyukai pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan ketrampilan itu dan kemampuan mereka.

  1. Ganjaran yang pantas

Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijaksanaan promosi yang mereka persepsikan sebagai adil, tidak meragukan, segaris dengan harapan mereka.

  1. Kondisi kerja yang mendukung

Karyawan peduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas.

  1. Rekan sekerja yang mendukung

Orang-orang yang mendapatkan lebih daripada sekedar uang atau prestasi yang berwujud dari pekerjaan mereka. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi sosial.

  1. Kesesuaian antara kepribadian-pekerjaan

Kecocokan yang tinggi antara kepribadian seorang karyawan dan pekerjaan akan menghasilkan individu yang lebih terpuaskan.

Definisi Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Masalah kepuasan kerja yang terjadi dalam suatu organisasi atau perusahaan merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian tersendiri. Apabila kurang mendapat perhatian yang serius, akan dapat berpengaruh pada produktivitas kerja karyawan yang akhirnya dapat menghambat pencapaian tujuan perusahaan. Kepuasan Kerja merupakan hasil persepsi para karyawan tentang seberapa jauh pekerjaan seseorang tersebut memberikan segala sesuatu yang dipandang penting melalui hasil kerjannya.

Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka, kepuasan karyawan mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaanya (Handoko, 2001:129). Setiap individu selalu berusaha untuk bekerja dengan baik sesuai dengan tugasnya masing-masing. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri antara individu yang satu dengan yang lain memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik dan jiwa emosional masing-masing individu tidaklah sama.

Kepuasan kerja adalah Kondisi emosional karyawan dengan adanya kesesuaian atau ketidak sesuaian antara harapan dan kenyataan. Apabila harapan yang ada pada individu dapat terjadi atau sesuai dengan kenyataan, maka ada kepuasan karyawan dalam bekerja. Sebaliknya bila harapan yang diinginkan tidak sesuai dengan kenyataan, berarti karyawan tersebut merasa tidak puas. Kepuasan kerja ini berhubungan juga dengan kinerja. Apabila karyawan merasa puas dalam bekerja, maka akan selalu berupaya berprestasi kerja secara optimal.

Apabila kepuasan kerja dari karyawan tercapai, maka pada umumnya akan berpengaruh pada sikap dari karyawan yang diwujudkan dengan tindakan positif terhadap segala pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Sehingga bagian personalia diharapkan lebih kontinyu atau terus menerus memberikan pengawasan pada karyawan mengenai kepuasan kerja dari pada karyawan.

Indikator untuk mengukur kompensasi (skripsi dan tesis)

Indikator yang digunakan untuk mengukur kompensasi menurut (Simamora, 2006:445) adalah sebagai berikut :

  1. Upah dan gaji

       Upah biasanya berhubungan dengan tarif gaji per jam. Upah merupakan basis bayaran yang kerapkali digunakan bagi pekerja-pekerja produksi dan pemeliharaan. Gaji umumnya berlaku untuk tarif bayaran mingguan, bulanan, atau tahunan.

  1. Insentif

Insentif adalah tambahan kompensasi di atas atau di luar gaji atau upah yang diberikan oleh organisasi.

  1. Tunjangan

Contoh-contoh tunjangan adalah asuransi kesehatan dan jiwa, liburan yang ditanggung perusahaan, program pensiun, dan tunjangan lainnya yang berkaitan dengan hubungan kepegawaian.

  1. Fasilitas

Contoh-contoh fasilitas adalah kenikmatan/fasilitas seperti mobil perusahaan, keanggotaan klub, tempat parkir khusus, atau akses ke pesawat perusahaan yang diperoleh karyawan. Fasilitas dapat mewakili jumlah substansial dari kompensasi, terutama bagi eksekutuf yang dibayar mahal.

Tujuan Pemberian Kompensasi (skripsi dan tesis)

Menurut (Hasibuan, 2002:120), tujuan pemberian kompensasi (balas jasa) antara lain adalah:

  1. Ikatan Kerja Sama

Dengan pemberian kompensasi terjalinlah ikatan kerja sama formal antara majikan dengan karyawan. Karyawan harus mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, sedangkan pengusaha/majikan wajib membayar kompensasi sesuai dengan perjanjian yang disepakati.

  1. Kepuasan Kerja

Dengan balas jasa, karyawan akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik, status sosial, dan egoistiknya sehingga memperoleh kepuasan kerja darimjabatannya.

  1. Pengadaan Efektif

Jika program kompensasi ditetapkan cukup besar, pengadaan karyawan yang qualified untuk perusahaan akan lebih mudah.

  1. Motivasi

Jika balas jasa yang diberikan cukup besar, manajer akan mudah memotivasi bawahannya.

  1. Stabilitas Karyawan

Dengan program kompensasi atas prinsip adil dan layak serta eksternal konsistensi yang kompentatif maka stabilitas karyawan lebih terjamin karena turn-over relatif kecil.

  1. Disiplin

Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan semakin baik. Mereka akan menyadari serta mentaati peraturan-peraturan yang berlaku.

  1. Pengaruh Serikat Buruh

Dengan program kompensasi yang baik pengaruh serikat buruh dapat dihindarkan dan karyawan akan berkonsentrasi pada pekerjaannya.

  1. Pengaruh Pemerintah

Jika program kompensasi sesuai dengan undang-undang perburuhan yang berlaku (seperti batas upah minimum) maka intervensi pemerintah dapat dihindarkan.

Jenis-Jenis Kompensasi (skripsi dan tesis)

Menurut Dessler (2005:72) kompensasi mempunyai tiga komponen sebagai berikut :

  1. Pembayaran uang secara langsung (direct financial payment) dalam bentuk gaji, dan intensif atau bonus/komisi.
  2. Pembayaran tidak langsung (indirect payment) dalam bentuk tunjangan dan asuransi.
  3. Ganjaran non finansial (non financial rewards) seperti jam kerja yang luwes dan kantor yang bergengsi.

Menurut Mondy dan Noe (2005:374), kompensasi dapat dibedakan atas kompensasi finansial dan kompensasi non finansial. Kompensasi finansial terdiri dari  kompensasi finansial langsung dan tidak langsung. Kompensasi non finansial terdiri dari interpersonal reward dan personal growth reward.

  1. Kompensasi finansial :

1)      Kompensasi finansial langsung (direct financial compentation) terdiri dari pembayaran yang diterima oleh seseorang pegawai dalam bentuk gaji, upah, bonus, dan komisi.

2)      Kompensasi finansial tidak langsung (Indirect financial compentation), yang disebut juga dengan tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak termasuk dalam kompensasi langsung antara lain berupa program asuransi jiwa dan kesehatan, bantuan sosial, benefit antara lain: jaminan pensiun, jaminan sosial tenaga kerja, bantuan pendidikan, dan bantuan natura, ketidakhadiran yang dibayar seperti cuti. Hari libur atau vacation, cuti sakit dan lain-lain.

  1. Kompensasi non finansial (non financial compentation) terdiri dari interpersonal reward dan personal growth reward.

Pada penelitian ini, interpersonal reward terdiri dari hubungan interpersonal dengan sesama, status sosial dalam organisasi dan komitmen pada organisasi. Sedangkan personal growth reward meliputi variasi pekerjaan, pengembangan diri dan partisipasi dalam pengambilan keputusan

Pengertian Kompensasi (skripsi dan tesis)

Kompensasi acapkali juga disebut penghargaan dan dapat didefinisikan sebagai setiap bentuk penghargaan yang diberikan kepada karyawan sebagai balas jasa atas kontribusi yang mereka berikan kepada organisasi (Panggabean, 2002:75). Selain itu menurut Hasibuan, (2002:119) terdapat beberapa pengertian kompensasi dari beberapa tokoh yaitu :

  1. Menurut Werther dan Davis kompensasi adalah apa yang seorang pekerja terima sebagai balasan dari pekerjaan yang diberikannya. Baik upah per jam ataupun gaji periodik yang didesain dan dikelola oleh bagian personalia.
  2. Menurut Sikula kompensasi adalah segala sesuatu yang dikonstitusikan atau dianggap sebagai suatu balas jasa atau ekuivalen.

Pengertian kompensasi juga terdapat pada berbagai literatur yang dikemukakan oleh beberapa pakar, antara lain:

  1. Menurut Dessler (2005:72) kompensasi karyawan adalah setiap bentuk pembayaran atau imbalan yang diberikan kepada karyawan dan timbul dari dipekerjakannya karyawan itu.
  2. Menurut Handoko (1993:155) kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima para karyawan sebagai balas jasa untuk kerja mereka.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kompensasi adalah setiap bentuk pembayaran atau imbalan yang diberikan kepada karyawan sebagai balas jasa untuk pekerjaan yang diberikannya, baik upah per jam ataupun gaji periodik.

Gaya-Gaya Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku orang lain dalam hal ini adalah bawahannya. Dalam setiap organisasi/perusahaan seorang pemimpin mempunyai gaya yang berbeda dalam kepemimpinannya sesuai kemampuannya masing-masing. Pada umumnya gaya kepemimpinan dalam setiap organisasi dapat diklasifikasikan menjadi lima golongan utama yaitu (Veithzal Rivai, 2003:103):

  1.  Gaya kepemimpinan Otokratis

Gaya kepemimpinan ini menganggap bahwa pemimpin adalah merupakan suatu hak. Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai berikut:

1)   Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi.

2)   Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.

3)   Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata-mata.

4)   Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain karena dia menganggap dialah yang paling benar.

5)   Selalu bergantung pada kekuasaan formal.

6)   Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan pendekatan (Approach) yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.

Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe pimpinan otokratis tersebut di atas dapat diketahui bahwa tipe ini tidak menghargai hak-hak dari manusia, karena tipe ini tidak dapat dipakai dalam organisasi modern.

  1.  Gaya kepemimpinan Militeristis

Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan seorang pemimpin tipe militeristis tidak sama dengan pemimpin-pemimpin dalam organisasi militer. Artinya tidak semua pemimpin dalam militer adalah bertipe militeristis. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

1)   Dalam menggerakkan bawahan untuk yang telah ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama.

2)   Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya.

3)   Senang kepada formalitas yang berlebihan.

4)   Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan.

5)   Tidak mau menerima kritik dari bawahan.

6)   Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh gaya kepemimpinan militeristis jelaslah bahwa gaya kepemimpinan seperti ini bukan merupakan pemimpin yang ideal.

  1.  Gaya kepemimpinan Fathernalistis

Gaya kepemimpinan fathernalistis, mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapakan dalam menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil. Sifat-sifat umum dari gaya kepemimpinan fathernalistis dapat dikemukakan sebagai berikut:

1)   Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.

2)   Bersikap terlalu melindungi bawahan.

3)   Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, karena itu jarang dan pelimpahan wewenang.

4)   Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya tuk mengembangkan inisatif daya kreasi.

5)   Sering menganggap dirinya maha tau, sehingga sulit menerima saran.

Harus diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat diperlukan. Akan tetapi ditinjau dari segi sifat-sifat negatifnya pemimpin faternalistis kurang menunjukkan elemen kontinuitas terhadap organisasi yang dipimpinnya.

  1. Gaya kepemimpinan karismatis

Sampai saat ini para ahli manajemen belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seorang pempimin memiliki karisma. Yang diketahui ialah gaya kepemimpinan seperti ini mampunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini, dilatar belakangi karena kurangnya pemahaman terhadap seorang pemimpin yang karismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers). Perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur, kesehatan, profil pendidikan dan sebagainya, tidak dapat digunakan sebagai kriteria gaya kepemimpinan karismatis.

  1.  Gaya kepemimpinan Demokratis

Dari semua gaya kepemimpinan yang ada, gaya kepemimpinan demokratis dianggap adalah gaya kepemimpinan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena gaya kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.

Beberapa ciri dari gaya kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut:

1)   Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.

2)   Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.

3)   Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.

4)   Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan  kepada    bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi   kreativitas, inisatif, dan prakarsa dari bawahan.

5)   Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.

6)   Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.

7)   Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Pengertian Gaya Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Pernyataan mengenai pemimpin mempunyai banyak pengertian. Definisi pemimpin banyak, sesuai dengan pribadinya masing-masing dan sesuai dengan situasinya.

       Definisi pemimpin menurut Fairchild yang dikutip oleh Kartini Kartono dalam bukunya Pemimpin dan Kepemimpinan (1992:33), menyatakan pemimpin itu adalah “ Seseorang yang memimpin, dengan cara memprakarsai tingkah laku sosial, dengan mengatur, mengorganisir, mengontrol atas upaya/usaha orang lain atau melalui kekuasaan atau posisi.”

       Gaya kepemimpinan merupakan salah satu posisi kunci dimana seorang pemimpin harus bisa mempengaruhi , mengarahkan, dan menunjukan kemampuannya agar semua tujuan perusahaan bisa tercapai sesuai dengan yang telah ditetapkan.

       Menurut Susilo Martoyo (1996:81) dalam bukunya Sumber Daya Manusia bahwa “ Gaya Kepemimpinan adalah norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain “. Sedangkan menurut menurut Musanef (1996:81) Gaya kepemimpinan adalah “ Kecenderungan performa kepemimpinan dalam menjalankan tugas kepemimpinannya”

Tingkatan Kompetensi SDM (skripsi dan tesis)

Spencer dan Spencer (dalam Wibowo, 2007:96) mengelompokkan tiga tingkatan kompetensi yaitu:

  1. Behavioral Tools

1)      Knowledge merupakan informasi yang digunakan orang dalam bidang tertentu, misalnya membedakan antara akuntan senior dan junior.

2)      Skill merupakan kemampuanorang untuk melakukan sesuatudengan baik. Misalnya, mewawancara dengan efektif, dan menerima pelamar yang baik.

  1. Image Attribute

1)      Social Role merupakan pola perilak orang yang diperkuat oleh kelompok social atau organisasi. Misalnya menjadi pemimpin atau pengikut, menjadi agen perubahan atau menolak perubahan.

2)      Self Image merupakan pandangan orang terhadap dirinya sendiri, identitas, kepribadian, dan harga dirinya. Misalnya melihat dirinya sebagai pengembang atau manajer yang berada di atas.

  1. Personal Charasteristic

1)      Traits merupakan aspek tipikal berprilaku Misalnya, menjadi pendengar yang baik.

2)      Motive merupakan apa yang mendorong perilaku seseorang dalam bidang tertentu (prestasi, afiliasi, kekuasaan). Misalnya, ingin mempengaruhi perilaku orang lain untuk kebaikan organisasi.

Aspek-aspek yang Terkandung pada Konsep Kompetensi (skripsi dan tesis)

Hutapea dan Thoha (2008:28) mengungkapkan bahwa ada tiga komponen utama pembentukan kompetensi yaitu pengetahuan yang dimiliki seseorang, kemampuan, dan prilaku individu. Pengetahuan (knowledge) adalah informasi yang dimiliki seseorang karyawan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan bidang yang digelutinya (tertentu), misalnya bahasa komputer. Pengetahuan karyawan turut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya, karyawan yang mempunyai pengetahuan yang cukup akan meningkatkan efisiensi perusahaan. Namun bagi karyawan yang belum mempunyai pengetahuan cukup, maka akan bekerja tersendat-sendat. Pemborosan bahan, waktu dan tenaga serta faktor produksi yang lain akan diperbuat oleh karyawan berpengetahuan kurang. Pemborosan ini akan mempertinggi biaya dalam pencapaian tujuan organisasi. Atau dapat disimpulkan bahwa karyawan yang berpengetahuan kurang, akan mengurangi efisiensi

Gordon (Sutrisno, 2010: 204) menyatakan bahwa aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi adalah sebagai berikut:

  1. Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya seorang karyawan mengetahui cara melakukan identifikasi belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran yang baik sesuai dengan kebutuhan yang ada di perusahaan.
  2. Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif, dan afektif yang dimiliki oleh individu. Misalnya, seorang karyawan dalam melaksanakan pembelajaran harus mempunyai pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi kerja secara efektif dan efisien.
  3. Nilai (value), adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya, standar perilaku para karyawan dalam melaksanakan tugas (kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan lain-lain).
  4. Kemampuan (skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepada karyawan. Misalnya standar perilaku para karyawan dalam memilih metode kerja yang dianggap lebih efektif dan efisien.
  5. Sikap (attitude), yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji.
  6. Minat (interest), adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Misalnya melakukan suatu aktivitas kerja.

Kompetensi (skripsi dan tesis)

Menurut Boulter et al. (dalam Rosidah, 2003:11), kompetensi adalah karakteristik dasar dari seseorang yang memungkinkan pegawai mengeluarkan kinerja superior dalam pekerjaannya. Hal ini berarti kompetensi mengandung bagian kepribadian yang mendalam dan melekat pada seseorang dengan perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan. Prediksi siapa yang berkinerja baik dan kurang baik dapat diukur dari kriteria atau standar yang digunakan.

Analisis kompetensi disusun sebagian besar untuk pengembangan karier, tetapi penentuan tingkat kompetensi dibutuhkan untuk mengetahui efektivitas tingkat kinerja yang diharapkan. Menurut Boulter et al. (dalam Rosidah, 2003:11) level kompetensi adalah sebagai berikut : Skill, Knowledge, Social Role, Self Image, Trait dan Motive. Skill adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas dengan baik misalnya seorang progamer computer. Knowledge adalah informasi yang dimiliki seseorang untuk bidang khusus (tertentu), misalnya bahasa komputer. Social role adalah sikap dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang dan ditonjolkan dalam masyarakat (ekspresi nilai-nilai diri), misalnya : pemimpin. Self image adalah pandangan orang terhadap diri sendiri, merekflesikan identitas, contoh : melihat diri sendiri sebagai seorang ahli. Trait adalah karakteristik abadi dari seorang karakteristik yang membuat orang untuk berperilaku, misalnya : percaya diri sendiri. Motive adalah sesuatu dorongan seseorang secara konsisten berperilaku, sebab perilaku seperti hal tersebut sebagai sumber kenyamanan, contoh : prestasi mengemudi.

Kompetensi Skill dan Knowledge cenderung lebih nyata (visible) dan relatif berada di permukaan (ujung) sebagai karakteristik yang dimiliki manusia. Social role dan self image cenderung sedikit visibel dan dapat dikontrol perilaku dari luar. Sedangkan trait dan motive letaknya lebih dalam pada titik sentral kepribadian. Kompetensi pengetahuan dan keahlian relatif mudah untuk dikembangkan, misalnya dengan program pelatihan untuk meningkatkan tingkat kemampuan sumber daya manusia. Sedangkan motif kompetensi dan trait berada pada kepribadian sesorang, sehingga cukup sulit dinilai dan dikembangkan. Salah satu cara yng paling efektif adalah memilih karakteristik tersebut dalam proses seleksi. Adapun konsep diri dan social role terletak diantara keduanya dan dapat diubah melalui pelatihan, psikoterapi sekalipun memerlukan waktu yang lebih lama dan sulit.

Spencer dan Spencer (dalam Moeheriono, 2009:3) menyatakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik yang mendasari seseorang berkaitan dengan efektivitas kinerja individu dalam pekerjaannya atau karakteristik dasar individu yang memiliki hubungan kausal atau sebagai sebab-akibat dengan kriteria yang dijadikan acuan, efektif atau berkinerja prima atau superior di tempat kerja atau pada situasi tertentu. Berdasarkan dari definisi ini, maka beberapa makna yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut:

  1. Karakteristik dasar (underlying characteristic), kompetensi adalah bagian dari kepribadian yang mendalam dan melekat pada seseorang serta mempunyai perilaku yang mendalam dan melekat pada seseorang serta mempunyai perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan tugas pekerjaan.
  2. Hubungan kausal (causally related), berarti kompetensi dapat menyebabkan atau digunakan untuk memprediksikan kinerja seseorang, artinya jika mempunyai kompetensi yang tinggi, maka akan mempunyai kinerja yang tinggi pula (sebagai akibat).
  3. Kriteria (criterian referenced), yang dijadikan sebagai acuan, bahwa kompetensi secara nyata akan memprediksikan seseorang dapat bekerja dengan baik, harus terukur dan spesifik atau terstandar.

Kompetensi berdasarkan penjelasan tersebut merupakan sebuah karakteristik dasar seseorang yang mengindikasikan cara berpikir, bersikap, dan bertindak serta menarik kesimpulan yang dapat dilakukan dan dipertahankan oleh seseorang pada waktu periode tertentu. Dari karakteristik dasar tesebut tampak tujuan penentuan tingkat kompetensi atau standar kompetensi yang dapat mengetahui tingkat kinerja yang diharapkan dan mengkategorikan tingkat tinggi atau di bawah rata-rata.

Ketimpangan (skripsi dan tesis)

Ketimpangan ekonomi antar wilayah dinegara sedang berkembang cukup besar. Hal ini terjadi karena beberapa hal antara lain : perbedaan potensi daerah yang cukup besar, perbedaan kondisi demografi dan tenaga kerja, dan perbedaan kondisi sosial budaya antar wilayah. Disamping itu kurang lancarnya mobilitas barang dan orang antar daerah juga mendorong terjadinya ketimpangan. Bila ketimpangan ekonomi antar wilayah tersebut cukup besar akan membawa dampak negatif dari segi ekonomi, sosial dan politik (Sjafrizal, 2014: 192).

Ada empat faktor yang mendasari adanya ketimpangan pendapatan antar wilayah yang dikemukakan Williamson, yaitu : sumber daya alam yang dimiliki, perpindahan tenaga kerja, perpindahan modal, dan kebijakan pemerintah. Ketersediaan sumber daya alam yang berbeda antar wilayah akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam pertumbuhan antara wilayah yang maju dan wilayah yang kurang maju. Perpindahan tenaga kerja dan modal dari wilayah yang kurang berkembang ke wilayah yang berkembang akan menimbulkan kesenjangan yang semakin meningkat. Demikian juga kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi peningkatan dalam ketimpangan pendapatan antar wilayah (Adisasmita, 2013: 76).

 Menurut Kuncoro (2003) ada banyak teori yang mengatakan ada trade off antara pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan.  Salah satu teori tersebut adalah rumusan  Hipotesis Kuznets berbunyi seiring dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka ketimpangan atau ketidakmerataan ekonomi akan menurun.  Kurva Kuznets berbentuk U terbalik (inverted U curve) bahwa mula-mula distribusi pendapatan akan makin tidak  merata, namun pada suatu tingkat pembangunan tertentu, distribusi semakin merata atau ketimpangan semakin menurun.

Ketimpangan pembangunan daerah selalu muncul dan cenderung semakin melebar. Fenomena yang dijelaskan oleh Myrdal sebagai akibat dari proses penyebab akumulatif (Cumulative Causation). Menurut Myrdal backwash effect (dampak yang merugikan) lebih besar dibanding spread effect (dampak yang menguntungkan). Oleh karena itu, apabila tingkat pembangunan di berbagai daerah dibandingkan, maka pembangunan yang dicapai oleh daerah yang lebih maju selalu lebih cepat daripada yang terjadi pada daerah lain. Hal ini dalam jangka panjang akan menyebabkan tingkat ketimpangan yang cukup lebar (Sukirno, 1985 : 24).

Untuk dapat melihat ketimpangan antar kabupaten/ kota dapat menggunakan  indeks Williamson. Indeks ini berkisar pada angka 0 hingga 1, jika nilai indeks mendekati 1 maka ketimpangan semakin besar dan jika nilai indeks mendekati 0 maka ketimpangan semakin kecil (Kuncoro, 2013) (Sjafrizal, 2008).

Menurut Sjafrizal (2012) Beberapa faktor utama yang menyebabkan terjadinya ketimpangan antar wilayah yaitu :

  1. Perbedaan kandungan sumber daya alam

Perbedaan kandungan sumber daya alam akan mempengaruhi kegiatan produksi pada daerah bersangkutan. Daerah dengan kandungan sumber daya alam cukup tinggi akan dapat memproduksi barang-barang tertentu dengan biaya relatif murah dibandingkan dengan daerah lain yang mempunyai kandungan sumber daya alam lebih rendah. Kondisi ini mendorong pertumbuhan ekonomi daerah bersangkutan menjadi lebih cepat. Sedangkan daerah lain yang mempunyai kandungan sumber daya alam lebih kecil hanya akan dapat memproduksi barang-barang dengan biaya produksi lebih tinggi sehingga daya saingnya menjadi lemah. Kondisi tersebut menyebabkan daerah bersangkutan cenderung mempunyai pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.

  1. Perbedaan kondisi demografis

Perbedaan kondisi demografis meliputi perbedaan tingkat pertumbuhan dan struktur kependudukan, perbedaan tingkat pendidikan dan kesehatan, perbedaan kondisi ketenagakerjaan dan perbedaan dalam tingkah laku dan kebiasaan serta etos kerja yang dimiliki masyarakat daerah bersangkutan. Kondisi demografis akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja masyarakat setempat. Daerah dengan kondisi demografis yang baik akan cenderung mempunyai produktivitas kerja yang lebih tinggi sehingga hal ini akan mendorong peningkatan investasi yang selanjutnya akan meningkatkan penyediaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

  1. Kurang lancarnya mobilitas barang dan jasa

Mobilitas barang dan jasa meliputi kegiatan perdagangan antar daerah dan migrasi baik yang disponsori pemerintah (transmigrasi) atau migrasi spontan. Alasannya adalah apabila mobilitas kurang lancar maka kelebihan produksi suatu daerah tidak dapat di jual ke daerah lain yang membutuhkan. Akibatnya adalah ketimpangan pembangunan antar wilayah akan cenderung tinggi, sehingga daerah terbelakang sulit mendorong proses pembangunannya.

  1. Konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah

Pertumbuhan ekonomi akan cenderung lebih cepat pada suatu daerah dimana konsentrasi kegiatan ekonominya cukup besar. Kondisi inilah yang selanjutnya akan mendorong proses pembangunan daerah melalui peningkatan penyediaan lapangan kerja dan tingkat pendapatan masyarakat.

  1. Alokasi dana pembangunan antar wilayah.

Alokasi dana ini bisa berasal dari pemerintah maupun swasta. Pada sistem pemerintahan otonomi maka dana pemerintah akan lebih banyak dialokasikan ke daerah sehingga ketimpangan pembangunan antar wilayah akan cenderung lebih rendah. Untuk investasi swasta lebih banyak ditentukan oleh kekuatan pasar. Dimana keuntungan lokasi yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan kekuatan yang berperan banyak dalam menark investasi swasta. Keuntungan lokasi ditentukan oleh biaya transpor baik bahan baku dan hasil produksi yang harus dikeluarkan pengusaha, perbedaan upah buruh, konsentrasi pasar, tingkat persaingan usaha dan sewa tanah. Oleh karena itu investai akan cenderung lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan

Pertumbuhan dan pembangunan Ekonomi (skripsi dan tesis)

Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi ekonomi suatu negara menuju kondisi yang lebih secara berkesinambungan dalam periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan Produk Domestik Bruto/ Pendapatan Nasional Bruto tanpa memandang apakah kenaikan tersebut lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak (Arsyad, 1999 :13).

Menurut Boediono (1999:2) pertumbuhan ekonomi adalah penjelasan mengenai faktor- faktor yang menentukan kenaikan output per kapita jangka panjang dan bagaimana faktor tersebut saling terkait, sehingga terjadi proses  pertumbuhan. Aspek-aspek penting dalam pertumbuhan ekonomi adalah : (1) Proses,dalam kaitan proses ini  pertumbuhan ekonomi merupakan proses dari waktu ke waktu, bukan gambaran ekonomi pada saat atau waktu tertentu. (2) Kenaikan pendapatan per kapita, hal tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat. Agar pendapatan perkapita bisa naik maka  kenaikan jumlah penduduk harus lebih rendah dari pada pertumbuhan ekonomi. (3) Jangka panjang, pertumbuhan ekonomi harus berlangsung dalam waktu yang lama agar dapat meningkatkan pertumbuhan pendapatan.

Pembangunan ekonomi didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil perkapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai perbaikan sistem kelembagaan. Dari definisi diatas maka pembangunan ekonomi mempunyai pengertian:

  1. Suatu proses yang berarti perubahan terus menerus
  2. Usaha untuk menaikan pendapatan perkapita, dan
  3. Kenaikan perdapatan perkapita harus terus berlangsung dalam jangka panjang.
  4. Perbaikan sistem kelembagaan disegala bidang (misalnya politik, ekonomi, hukum, sosial dan budaya). Aspek perbaikan dalam sistem kelembagaan ini mencakup institusi dan regulasi formal dan non formal (Arsyad,2002: 6)

Pembangunan ekonomi adalah suatu  proses dimana pendapatan per kapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang panjang, dengan catatan bahwa jumlah penduduk miskin tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang (Meier,1995) dalam (Kuncoro, 2013: 2). Selanjutnya Kuncoro (2013) menjelaskan yang dimaksud proses adalah berlangsungnya kekuatan-kekuatan tertentu yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Dengan kata lain pembangunan ekonomi lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi. Proses pembangunan membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang diikuti perubahan struktur ekonomi dan perubahan kelembagaan.

Pengungkapan Laporan Keuangan di Internet (skripsi dan tesis)

Internet Financial Reporting (IFR) adalah distribusi informasi keuangan dan kinerja perusahaan dengan menggunakan teknologi internet seperti World Wide Web (IASC, 1999; Trites, 1999;. Ashbaugh et al, 1999; FASB, 2000). FASB (2000: 42) mengidentifikasi dua dimensi utama dari IFR yaitu presentasi (IFR-P) dan konten (IFR-C). IFR memiliki kelebihan pada bentuk-bentuk presentasi yang dinamis yang tidak tersedia dalam paradigma kertas, seperti interaksi langsung dengan pengguna database perusahaan, fasilitas multimedia audio dan video.

Internet Financial Reporting memiliki potensi untuk merevolusi bidang akuntansi dan pelaporan karena jangkauannya yang mengglobal, fleksibilitas, kapasitas interaktif, dan kecepatannya (WWW, 1992; Beattie dan Pratt, 2001; Debreceny dan Gray, 2001; Jensen dan Xiao, 2001). Pada pertengahan 1999, hampir setiap 30 perusahaan terbesar di Australia, Jerman, Amerika Utara, Swedia dan Inggris telah menggunakan Internet untuk menyebarkan informasi keuangan perusahaan (Lymer et al., 1999).

Penggunaan informasi keuangan sangat tergantung pada ketersediaan informasi tersebut. Pengguna laporan keuangan pemerintah dan masyarakat luas seharusnya memperoleh kemudahan dalam mengakses laporan keuangan sektor publik. Pelaporan keuangan sebenarnya bukan tujuan utama, tetapi dimaksudkan untuk memberikan informasi yang berguna untuk berbagai tujuan. Ini membantu pemerintah untuk memenuhi tugas pertanggungjawabannya kepada publik. Hal ini juga membantu untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang memiliki keterbatasan kewenangan, kapasitas atau sumber daya untuk memperoleh informasi, terutama bagi mereka yang bergantung pada laporan sebagai sumber informasi yang penting untuk pengambilan keputusan. Sumber daya yang digunakan oleh unit-unit sektor publik terutama berasal dari kontribusi aktif, dan kontributor mengklaim hak sah mereka untuk menerima informasi yang lengkap tentang penggunaan sumber daya tersebut. Dengan demikian, pelaksanaan tanggung jawab menyiratkan bahwa orang-orang yang bertanggung jawab melaksanakan anggaran dan menempatkan kebijakan ke dalam praktek harus diwajibkan untuk bertanggung jawab kepada publik (Glynn, 1985).

Pengembangan pelaporan keuangan berbasis internet merupakan perkembangan dari praktik akuntansi pengungkapan yang ada meskipun perkembangan praktik ini tidak didasari dengan standarisasi pengungkapan informasi keuangan di internet. Informasi perusahaan yang diberikan melalui media website merupakan pengungkapan sukarela dan tidak dire­gulasi oleh badan tertentu pada beberapa negara berkembang, seperti juga di Indonesia (Almilia, 2008). Pemerintah daerah juga telah menggunakan media internet untuk menyampaikan informasi kepada pengguna. Melalui website pemerintah daerah, informasi tersebut akan tersampaikan dengan tepat waktu. Semakin cepat waktu peyajian laporan keuangan, maka akan semakin baik untuk pengambilan keputusan (Mardiasmo, 2009).

Permasalahan yang sering muncul adalah ketika kebutuhan akan informasi semakin banyak, maka waktu yang dibutuhkan untuk mengha­silkan berbagai informasi tersebut juga semakin banyak. Sebagaimana diungkapkan dalam PSAK No. 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan, “Manfaat suatu laporan keuangan akan berkurang jika laporan tersebut tidak tersedia tepat pada waktunya. Suatu perusahaan sebaiknya mengelua­rkan laporan keuangannya paling lama 4 (empat) bulan setelah tanggal neraca. Faktor-faktor seperti kompleksitas operasi perusahaan tidak cukup menjadi pembenaran atas ketidakmampuan perusahaan menyediakan lapo­ran keuangan tepat waktu”.

Pengungkapan Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Evans (2003) sebagaimana disampaikan oleh Suwardjono (2005), pengungkapan laporan keuangan dapat diklasi fikasikan tiga ting­kat dari pengungkapan sebagai berikut.

  1. 1.  Pengungkapan memadai (adequate disclosure) adalah tingkat mini­mum yang harus dipenuhi agar statement keuangan secara keseluruhan tidak menyesatkan untuk kepentingan pengambilan keputusan yang terarah.
  2. 2.  Pengungkapan wajar (fair or ethical disclosure) adalah tingkat yang harus dicapai agar semua pihak mendapat perlakuan atau pelayanan informasional yang sama. Artinya, tidak ada satu pihakpun yang ku­rang mendapat informasi sehingga mereka menjadi pihak yang kurang diuntungkan posisinya.
  3. 3.  Tingkat penuh (full disclosure) menuntut penyajian secara penuh semua informasi yang berpaut dengan pengambilan keputusan.

Pengungkapan sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib dan pengungkapan sukarela. Pengungkapan wajib merupakan  pengungkapan informasi yang diharuskan oleh peraturan yang berlaku Pengungkapan sukarela adalah pengungkapan informasi yang dilakukan secara sukarela oleh perusahaan tanpa  diharuskan oleh peraturan yang berlaku atau pengungkapan melebihi yang diwajibkan.

Menurut Suwardjono (2005), secara umum tujuan dari pengungkapan (disclosure) adalah menyajikan informasi yang dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dan untuk melayani berbagai pihak yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Pasar modal merupakan sarana utama untuk pemenuhan dana dari masyarakat, karenanya pengungkapan dapat diwajibkan untuk tujuan melindungi, informatif, dan melayani kebutuhan khusus. Pengungkapan dimaksudkan untuk melin­dungi perlakuan manajemen yang mungkin kurang adil dan terbuka. Pengungkapan dimaksudkan untuk menyediakan informasi yang dapat membantu keefektifan pengambilan keputusan dari pengguna. Apa yang harus diungkapkan kepada publik dibatasi dengan apa yang dipandang bermanfaat bagi pemakai yang dituju sementara untuk tujuan pengawasan, informasi tertentu harus disampaikan kepada badan pengawasan berdasar­kan peraturan melalui formulir-formulir yang menuntut pengungkapan secara rinci.

Pengungkapan laporan keuangan pemerintah daerah merupakan bentuk nyata dari adanya akuntabilitas dan transparasi keuangan daerah. Sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 Pasal 3, “Informasi Keuangan Daerah yang disampaikan harus memenuhi prinsip-prinsip akurat, relevan, dan dapat dipertanggungjawab­kan”. Menurut Mardiasmo (2009), akuntabilitas publik adalah kewajiban pihak  pemegang amanah (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegia­tan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (prin­cipal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungja­waban tersebut. Akuntabilitas publik terdiri dari dua jenis, yaitu: akuntabi­litas vertikal (vertical accountability) dan akuntabilitas horisontal (hori­zontal accountability) (Mardiasmo, 2009). Pertanggungjawaban vertikal adalah pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih tinggi. Sedangkan pertanggungjawaban horisontal adalah pertang­gungjawaban kepada masyarakat luas.

Pada setiap akhir tahun anggaran dan periode pemerintahan kepala daerah wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban yang disampai­kan kepada DPRD sebagai wakil dari masyarakat yang telah mempercaya­kan pengelolaan sumber daya daerah. Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 pasal 184 ayat 1 menyebutkan bahwa kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. Sebagaimana dije­laskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 Pasal 12 bahwa salah satu tujuan penyelenggaraan Sistem Informasi Keuangan Daerah adalah menyajikan Informasi Keuangan Daerah secara terbuka kepada masyarakat. Dengan adanya transparansi maka diharapkan setiap warga negara dapat berperan aktif dalam melakukan pengawasan atas jalannya pemerintahan.

 

Laporan Keuangan Sektor Publik (skripsi dan tesis)

            Laporan keuangan merupakan gambaran posisi keuangan suatu peru­sahaan dan kinerja perusahaan selama periode waktu tertentu. Unsur-unsur yang berkaitan langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aktiva, kewajiban dan ekuitas. Sedangkan unsur yang berkaitan dengan kinerja ada­lah penghasilan dan beban yang termuat dalam laporan laba-rugi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan produk atau hasil akhir dari suatu proses akuntansi. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan. Selain sebagai informasi, laporan keuangan juga dapat digunakan sebagai sarana pertanggungjawaban perusahaan terhadap pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan perusahaan.

            Laporan keuangan juga dapat digunakan sebagai salah satu indikator kesuksesan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya (Hanafi, 2005). Laporan keuangan tersebut harus disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Laporan tahunan tersebut terdiri atas: (1) Neraca, (2) Laporan Laba Rugi, (3)  Laporan Arus Kas, (4) Laporan Perubahan Modal, dan (5) Catatan atas Lapo­ran Keuangan.

            Laporan keuangan sektor publik adalah representasi posisi keua­ngan dari sejumlah transaksi sektor yang dilakukan oleh suatu entitas sek­tor publik (Bastian, 2006). Menurut Bastian (2006), bentuk dan penyusu­nan laporan keuangan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sifat lembaga sektor publik, sistem pemerintahan suatu negara, mekanisme pengelolaan keuangan, dan sistem anggaran negara. Keempat faktor ini sangat mempengaruhi karakteristik akuntansi sektor publik. Hal ini juga dapat membedakan antara laporan keuangan sektor publik dengan sektor swasta. Sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SPAP) No. 1, dalam rangka untuk memenuhi tujuan umum atas laporan keuangan dae­rah, maka dalam penyajian laporan keuangan harus menyediakan infor­masi mengenai entitas pelaporan sebagai berikut:

  1. 1.  Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

            Laporan Realisasi Anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah pusat/daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBN/APBD. Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah dalam satu periode pelaporan. Dalam penyajian laporan realisasi anggaran setidaknya harus memuat unsur pendapatan, belanja, transfer, surplus/defisit, pem­biayaan, sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran.

  1. Neraca

            Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. Neraca menyajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang pajak dan bukan pajak, persediaan, investasi jangka panjang, aset tetap, kewajiban jangka pendek, kewajiban jangka panjang,dan ekuitas.

  1. Laporan Arus Kas

            Laporan arus kas menyajikan informasi mengenai sumber, penggu­naan, perubahan kas dan setara kas selama satu periode akuntansi, dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi, penda­naan, dan transitoris.

  1. Catatan atas Laporan Keuangan

            Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Reali­sasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah penyajian informasi yang diha­ruskan dan dianjurkan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan, seperti kewajiban kontijensi dan komitmen-komitmen lainnya.

Agency Theory (skripsi dan tesis)

Secara tradisional, hubungan antara pemerintah dengan warga negara dapat dijelaskan dalam teori agensi (principal-agency theory) yang telah digunakan secara luas dalam bidang administrasi publik untuk menganalisis masalah yang terkait dengan manajemen dan administrasi dalam lingkungan yang terdesentralisasi (Thompson, 1998). Permasalahan yang timbul dalam hubungan prinsipal-agen adalah dalam hubungannya dengan pengungkapan informasi.

            Teori keagenan (agency theory) merupakan basis teori yang menda­sari praktik bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar dari sinergi teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang (prinsipal) yaitu investor dengan pihak yang menerima wewenang (agensi) yaitu manajer, dalam bentuk kontrak kerja sama.

            Literatur akuntansi tentang pengungkapan sendiri seringkali mengacu pada konsep keagenan dengan menyediakan dorongan untuk melakukan pengungkapan wajib maupun sukarela terhadap laporan keuangan. Dorongan ini ditunjukkan pada literatur sebagai alat penggerak yang digunakan untuk mengurangi asimetri informasi antara prinsipal dan agen. Shareholder sebagai prinsipal menggunakan informasi akuntansi untuk mengawasi kinerja manajemen yang bertindak sebagai agen. Pada gilirannya, agen ini akan menggunakan pengungkapan akuntansi sebagai kesempatan untuk mengisya­ratkan kinerjanya kepada prinsipal (Wolk et al, 2000). Sekarang ini internet dapat menyediakan sarana yang  ekonomis dan efisien untuk mengkomunika­sikan kinerja manajemen kepada stakeholder maupun shareholder.

            Teori keagenan muncul karena adanya perbedaan kepentingan sehingga masing-masing pihak berusaha memperbesar keuntungan bagi diri sendiri. Jika pihak-pihak tersebut bertindak untuk kepentingannya sendiri, maka hal tersebut akan menimbulkan konflik antara prinsipal dan agen. Menurut teori keagenan menggambarkan bahwa konflik yang terjadi akan menimbulkan biaya agensi yang pada akhirnya akan ada insentif untuk menguranginya.

            Teori keagenan mengasumsikan bahwa prinsipal menginginkan pengembalian yang sebesar-besarnya dan secepatnya atas investasi yang mereka tanamkan, salah satunya dicerminkan dengan kenaikan porsi deviden dari tiap saham yang mereka miliki. Sedangkan agen menginginkan kepen­tingannya diakomodir dengan pemberian kompensasi/bonus/insentif yang memadai dan sebesar-besarnya atas kinerja yang telah mereka lakukan. Prin­sipal menilai prestasi agen berdasarkan kemampuannya memperbesar laba untuk dialokasikan pada pembagian deviden. Semakin tinggi laba, harga saham dan semakin besar deviden, maka agen dianggap berhasil dan memiliki kinerja yang baik sehingga layak mendapat insentif yang tinggi.

            Dalam kerangka teori keagenan, terdapat tiga macam hubungan kea­genan, yaitu: 1) hubungan keagenan antara manajer dengan pemilik (Bonus Plan Hypothesis), 2) hubungan keagenan antara manajer dengan kreditur (Debt/Equity Hypothesis) dan 3) hubungan keagenan antara manajer dengan pemerintah (Political Cost Hypothesis). Hal ini berarti ada kecenderungan bagi manajer untuk melaporkan sesuatu dengan cara-cara tertentu dalam rangka memaksimalkan utilitas mereka dalam hal ini hubungannya dengan pemilik, kreditur maupun pemerintah (Wolk et al, 2000).

            Teori Agency dianggap sebagai konstruk penting untuk memahami insentif pelaporan keuangan. Teori agensi menyatakan bahwa adanya asimetri informasi membuat manajer akan memilih keputusan yang diperlukan untuk memaksimalkan kegunaannya. Beberapa studi empiris meneliti bagaimana masalah keagenan dapat dikurangi melalui peningkatan pengungkapan. Ball (2006) berpendapat bahwa peningkatan transparansi dan keterbukaan berkontribusi pada kepentingan konvergensi yang lebih baik antara manajer dan pemegang saham. Dalam hal ini, teori keagenan menganggap pengungkapan sukarela sebagai mekanisme untuk mengontrol kinerja manajer dan mengurangi asimetri informasi dan monitoring biaya.

Pengaruh Size terhadap CAR (skripsi dan tesis)

Beberapa alasan yang menjelaskan mengapa bank besar mempunyai rasio modal yang rendah adalah bank besar mempunyai akses yang mudah terhadap pasar modal dan dapat memperoleh modal eksternal dengan biaya yang rendah, sehingga fleksibilitas keuangan lebih besar dan tidak memerlukan regulasi modal dibandingkan dengan bank kecil (Shrieves dan Dahl,1992), (Ahmad et.al,2008), (Kleff dan Weber,2003). Disamping itu bank besar lebih banyak mempunyai diversifikasi portofolio. Menurut Titman dan Wessels (1988) pada bank besar proporsi biaya kebangkrutan sangat kecil, dimana mengalami penurunan arti penting dari biaya kebangkrutan, maka dampak pengaruh antara Size bank dan rasio modal adalah negatif. Awdeh,et.al (2011) menyatakan bahwa ada empat faktor yang menghubungkan antara Size dengan perubahan modal yaitu (1) Bank besar di Libanon memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi dan dapat bergantung dengan pendanaan dari sumber internal perusahaan, (2) Bank besar memiliki kemudahan akses di pasar modal baik lokal maupun internasional untuk memperoleh pendanaan jika diperlukan, (3) Bank kecil dipaksa oleh regulator untuk memenuhi/melebihi modal minimum yang dipersyaratkan untuk menarik deposan, (4) Bank besar memiliki modal yang lebih rendah karena memegan doktrin “too big to fail”

 Awdeh,et.al (2011), Damanik (2008), Aggarwal dan Jacques (1998), Rime (2000), Kleff dan Weber (2003) menyatakan dalam penelitiannya bahwa Size berpengaruh negatif terhadap rasio modal.

Pengaruh Leverage terhadap CAR (skripsi dan tesis)

Di dalam neraca suatu perusahaan, sisi kiri adalah aktiva yang sering disebut struktur harta/usaha (asset/business structure). Sisi kanan adalah utang dan ekuitas yang disebut struktur keuangan (financial structure). Sawir (2004) mendefinisikan leverage keuangan adalah penggunaan sumber dana yang menimbulkan beban tetap keuangan. Utang adalah sumber dana yang menimbulkan beban tetap keuangan, yaitu bunga yang harus dibayar tanpa mempedulikan tingkat laba perusahaan.

Di dalam dunia perbankan struktur modal menunjukkan cara yang ditempuh bank untuk memperoleh pendanaan, umumnya dilakukan melalui kombinasi penerbitan saham, obligasi dan penerimaan pinjaman. Struktur modal sebuah bank ditentukan oleh otoritas pengawas perbankan yang menetapkan persyaratan modal minimum untuk mengantisipasi potensi kerugiannya. Bank disebut dengan istilah “highly geared” atau “highly leveraged” karena jumlah utang yang besar dibandingkan dengan modalnya (GARP).

Ahmad, et.al (2008) memasukkan rasio ekuitas terhadap total liabilitas (EQTL) sebagai salah satu variabel determinan rasio modal. EQTL yang tinggi menunjukkan leverage yang rendah (liabilitas yang rendah) sedangkan EQTL yang rendah menunjukkan leverage yang tinggi (liabilitas tinggi). Dari hasil penelitiannya, menunjukkan bahwa EQTL berpengaruh positif dan signifikan terhadap rasio modal. Tanda positif EQTL dalam persamaan regresi menunjukkan hubungan yang negatif terhadap CAR. Hal tersebut mengartikan bahwa dengan rasio EQTL yang rendah (leverage tinggi) bank akan cenderung menaikkan rasio kecukupan modalnya begitupun sebaliknya dengan rasio EQTL yang tinggi (leverage rendah) bank diharapkan akan menjaga modalnya di level yang rendah.

Pengaruh Likuiditas terhadap CAR (skripsi dan tesis)

Pengelolaan likuiditas bagi suatu bank mengacu pada kemampuan bank menyediakan dana dalam jumlah cukup, tepat waktu untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya terutama memenuhi ketentuan Bank Sentral atau pemerintah, terbinanya hubungan baik dengan bank koresponden agar saldo seimbang, memenuhi kebutuhan penarikan dana oleh penabung, pemilik rekening giro maupun debitur dan membayar kewajiban jangka panjang yang telah jatuh tempo (Leon dan Ericson, 2007).

Rasio likuiditas yang lazim digunakan dalam dunia perbankan terutama diukur dari Loans to Deposit Ratio (LDR). LDR merupakan ukuran likuiditas yang mengukur besarnya dana yang ditempatkan dalam bentuk kredit yang berasal dari dana yang dikumpulkan oleh bank (terutama dana masyarakat). Semakin tinggi LDR menunjukkan semakin riskan kondisi likuiditas bank, sebaliknya semakin rendah LDR menunjukkan kurangnya efektivitas bank dalam menyalurkan kredit. LDR mencerminkan kemampuan bank dalam menyalurkan dana pihak ketiga dalam bentuk kredit atau sejenis kredit untuk menghasilkan pendapatan. Jika dana pihak ketiga tidak tersalur atau idle money akan mengakibatkan kehilangan kesempatan mendapatkan bunga, pendapatan rendah, dan laba menjadi rendah, sehingga akumulasi laba untuk menambah modal juga menjadi rendah (Krisna, 2008).

Hasil penelitian Krisna (2008) menunjukkan bahwa LDR berpengaruh signifikan negatif terhadap rasio modal, sedangkan penelitian Ahmad et.al (2008) menunjukkan bahwa rasio likuiditas yang diproksikan dengan LACSF  (Liquid Assets to Total Deposits) dan EQTL (Equity to Total Liabilities) berpengaruh positif terhadap rasio modal, hal tersebut menunjukkan setiap kenaikan likuiditas bank maka akan berpengaruh positif terhadap rasio modal. Didalam penelitian ini variabel likuiditas yang digunakan adalah LDR.

Pengaruh Profitabilitas terhadap CAR (skripsi dan tesis)

Faktor penting lainnya yang mempengaruhi rasio modal bank adalah profitabilitas. Profitabilitas dapat mencerminkan baik tidaknya kinerja perusahaan.

Kinerja perusahaan dapat dilihat melalui berbagai macam variabel atau indikator. Variabel atau indikator yang dijadikan dasar penilaian adalah laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Apabila kinerja sebuah perusahaan publik meningkat nilai keusahaannya akan semakin tinggi.

Menurut Sofyan (2002) kinerja perbankan dapat diukur dengan menggunakan rata-rata tingkat bunga pinjaman, rata-rata tingkat bunga simpanan dan profitabilitas perbankan. Ukuran profitabilitas yang digunakan adalah rate of return equity (ROE) untuk perusahaan pada umumnya dan return on asset (ROA) pada industri perbankan. ROA memfokuskan kemampuan perusahaan untuk memperoleh earning dalam operasi perusahaan, sedangkan ROE hanya mengukur return yang diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalam bisnis tersebut (Mawardi,2005).

Profitabilitas dapat menentukan kemampuan bank untuk meningkatkan modalnya dengan mengakumulasikan labanya (Kleff dan Weber,2003). Hal ini sesuai dengan teori pecking-order dari Myers dan Majluf (1984) yang menyatakan bahwa perusahaan akan melakukan pilihan terhadap pendanaan internal dalam memperoleh biaya yang rendah, maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dahulu, yaitu dimulai dengan penerbitan obligasi kemudian diikuti oleh sekuritas yang berkarakteristik opsi, dan alternatif terakhir adalah menerbitkan saham baru.

Di dalam penelitian ini variabel profitabilitas yang digunakan adalah ROA (Return on Assets) dan NIM (Net Interest Margin). ROA merupakan salah satu ukuran profitabilitas yang menunjukkan tingkat pencapaian laba bersih (sebelum pajak) terhadap total asset yang dimiliki oleh bank. Semakin tinggi ROA yang dicapai oleh bank menunjukkan laba sebelum pajak tinggi, yang berarti kemungkinan akumulasi laba ditahan meningkat, sehingga modal sendiri akan meningkat dan diperkirakan CAR juga meningkat.

NIM adalah rasio antara pendapatan bunga bersih terhadap rata-rata aktiva produktif. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari bunga yang diterima dari pinjaman yang diberikan dikurangi dengan biaya bunga dari sumber dana yang dikumpulkan. Semakin besar NIM menunjukkan marjin pendapatan bersih semakin besar sehingga kemungkinan akan meningkatkan laba perusahaan yang diperoleh, laba yang ditahan akan meningkatkan rasio modal.

Penelitian Awdeh,et.al (2011), Krisna (2008), Rime (2000) menunjukkan bahwa ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap rasio modal. Sedangkan Ahmad,et.al (2008) mengungkapkan bahwa dari hasil penelitiannya NIM berkorelasi negatif terhadap rasio modal. Hal tersebut memunculkan pandangan bahwa pendapatan yang tinggi mempermudah manajer bank untuk mengakses ekuitas modal dan peraturan insentif sendiri untuk meminimalisasi pengambilan risiko, sehingga bank dengan tingkat profitabilitas yang tinggi memiliki kemungkinan kegagalan yang rendah. Pendapat lain dari Awdeh,et.al (2011), Krisna (2008) menyatakan bahwa NIM memiliki pengaruh yang positif meskipun tidak signifikan terhadap modal. 

Pengaruh Risiko terhadap CAR (skripsi dan tesis)

Menurut kamus, risiko didefinisikan sebagai peluang terjadinya bencana atau kerugian. Walaupun sudah dilakukan upaya diversifikasi portofolio dalam pemberian kredit, bank tetap akan menghadapi risiko-risiko ekonomi dari pasar domestik. Dalam hal ini, perekonomian sebuah negara dapat dipengaruhi oleh :

  • Gejolak eksternal, dapat berbentuk bencana alam atau peristiwa yang disebabkan oleh manusia, dan/atau
  • Kesalahan manajemen perekonomian.

Jumlah debitur macet pada  bank yang berada dalam sebuah perekonomian sebagaimana digambarakan dapat meningkat secara signifikan. Hal ini dapat terjadi karena :

  • Kualitas kredit perusahaan yang terpengaruh oleh keadaan perekonomian yang memburuk
  • Tingkat pengangguran yang meningkat pesat
  • Naiknya tingkat suku bunga

Untuk menghadapi dampak gejolak ekonomi yang terjadi bank harus melakukan mitigasi dampak negatif gejolak ekonomi dengan memastikan bank memiliki modal yang cukup untuk melindungi stakeholder dari dampak gejolah ekonomi tersebut.

Hal ini menunjukkan dengan jelas keterkaitan antara risiko dengan modal. Semakin besar risiko yang dihadapi, maka semakin besar pula modal yang dibutuhkan. Bank diwajibkan untuk memiliki modal yang cukup untuk menutupi risiko yang dihadapi. Hal tersebut dikenal sabagai kecukupan modal (capital adequacy).

Rasio keuangan yang menunjukkan tingkat risiko dalam perbankan adalah Non Performing Loans (NPL). Rasio ini menggambarkan kualitas portofolio kredit bank dan diterima secara luas dalam literatur pengukuran risiko kegagalan kredit. Besarnya tingkat NPL menunjukkan kualitas kredit yang diberikan oleh bank tidak baik karena debitur mengalami gagal bayar. Hal ini akan mempengaruhi besarnya pencadangan modal untuk menutup risiko kerugian akibat kredit macet tersebut. Sehingga besarnya NPL akan memaksa bank untuk menambah cadangan modal mereka.

Ahmad,et.al (2008) melakukan penelitian dengan sampel yang digunakan adalah 42 institusi keuangan di Malaysia dengan periode pengamatan 1995-2002. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel risiko yaitu NPL dan ZRISK berkorelasi positif terhadap rasio modal. Hasil yang sama juga ditunjukkan dalam penelitian Cannata dan Quagliariello (2006), dan Damanik (2008). Namun penelitian Krisna (2008) menemukan hubungan yang signifikan negatif antara NPL dengan CAR.

Penilaian Tingkat Kesehatan Bank (skripsi dan tesis)

Penilaian tingkat kesehatan bank umum di Indonesia diatur dalam PBI No. 13/1/PBI/2011 dan Surat Edaran BI No. 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011. Menurut peraturan tersebut Bank diwajibkan untuk melakukan penilaian sendiri (self assessment) Tingkat Kesehatan Bank dengan menggunakan pendekatan Risiko (Risk-based Bank Rating/RBBR) baik secara individual maupun secara konsolidasi, dengan cakupan penilaian meliputi faktor – faktor sebagai berikut : Profil Risiko (risk profile), Good Corporate Governance (GCG), Rentabilitas (earnings) dan Permodalan (capital) untuk menghasilkan Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank.

Aspek faktor permodalan mengharapakan setiap bank di Indonesia diwajibkan untuk memelihara Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM). Rasio permodalan secara umum diukur dari Capital Adequacy Ratio (CAR) dalam melihat tingkat kecukupan modal Bank. Riyadi (2006) mengatakan bahwa salah satu indikator utama yang digunakan secara internasional untuk mengukur kondisi suatu bank, khususnya kemampuan bank meng-cover risiko yang dihadapi, adalah besarnya rasio kecukupan modal (CAR). CAR merupakan rasio kewajiban pemenuhan modal minimum yang harus dimiliki oleh bank. CAR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia mengacu pada ketentuan atau standar internasional yang dikeluarkan oleh Banking for International Settlement (BIS)

Faktor kualitas aktiva produktif menunjukkan kualitas penanaman aktiva serta porsi penyisihan untuk menutupi kerugian akibat penghapusan aktiva produktif. Rasio kualitas aktiva produktif terdiri dari :

  1. Non Performing Loans (NPL) Gross

NPL Gross merupakan perbandingan jumlah kredit yang diberikan dengan tingkat kolektibilitas 3, 4 dan 5 dibandingkan dengan total kredit yang diberikan oleh bank.

  1. Non Performing Loans (NPL) Net

Rasio profitabilitas bertujuan untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba selama periode tertentu, juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektifitas manajemen dalam menjalankan operasional perusahaannya. Dalam penelitian ini, rasio profitabilitas diproksikan dengan return on asset  (ROA), yaitu perbandingan antara laba bersih (net income) dengan total aktiva (total assets) dan net interest margin (NIM) , yaitu perbandingan antara pendapatan bunga bersih dengan rata-rata aktiva produktif yang menghasilkan bunga yang dirumuskan dengan persamaan berikut (Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001):

Persyaratan Modal Bank di Indonesia (skripsi dan tesis)

Menurut Stignum dan Branch (1983) bank tidak dapat beroperasi tanpa modal, hal ini mengindikasikan bahwa modal sangat berperan penting dalam perbankan. Menurut Diamond dan Rajan (2000) bahwa bank dengan sadar bertujuan mencapai rasio modal tertentu, menunjukkan bahwa fungsi modal adalah sangat penting dalam  menentukan kinerja bank dalam  mencapai rasio modal bank yang optimal dan memperkirakan bahwa perubahan rasio modal bank adalah sebagai hasil dari kebebasan dalam menentukan penyesuaian (discretioanary adjustment) ke arah target rasio modal dan faktor eksogen bank.

Modal atau capital merupakan sejumlah dana yang digunakan untuk menjalankan kegiatan usaha, pada perusahaan umumnya diperoleh dengan menerbitkan saham. Dalam bisnis industri jasa perbankan jumlah kecukupan modal merupakan masalah yang sangat penting. Ketentuan ini dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 14/18/PBI/2012 tanggal 28 November 2012 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum dan Surat Edaran BI No. 14/21/DPNP tanggal 18 Juli 2012 tentang Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia  No 9/33/DPNP tanggal 18 Desember 2007 perihal Pedoman Penggunaan Metode Standar dalam Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum dengan Memperhitungkan  Risiko Pasar, adalah modal inti ditambah dengan modal pelengkap. Dana bank yang digunakan sebagai modal operasional dalam kegiatan usaha dapat bersumber dari :

  1. Dana sendiri (dana pihak pertama) yang merupakan modal setor yang berasal dari pemegang saham dapat dikatakan bersifat tetap dalam arti selamanya dapat mengendap dalam bank dan tidak akan mudah ditarik begitu saja oleh penyetornya kecuali melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
  2. Dana pihak kedua merupakan sumber dana bank yang dapat diperoleh melalui pasar uang antar bank dan melalui pasar modal dengan cara menerbitkan obligasi atau surat berharga jangka panjang lainnya.
  3. Dana pihak ketiga merupakan dana yang berasal dari masyarat biasa dan merupakan tulang punggung dari dana yang harus diolah atau dikelola oleh bank untuk memperoleh keuntungan.
  4. Sumber dana berbiaya merupakan dana-dana yang berasal dari masyarakat, baik dana pihak ketiga maupun dana pihak kedua (tidak termasuk penerbitan saham).

Dengan adanya pengelompokan sumber dana tersebut bank dapat mempelajari sifat masing-masing kelompok dan bagaimana cara menghimpunnya, sehingga manjamen bank dalam setiap membuat kebijakan untuk menghimpun dana memiliki strategi yang jitu untuk meningkatkan penghimpunan dananya, apakah berasal dari masyarakat, dari Pasar Uang atau Pasar Modal dan dari Pemilik sendiri atau modal saham dengan cara go public.

Dalam meningkatkan besarnya modal, bank dapat melakukan dengan cara penambahan dana baru dari pemilik atau meningkatkan hasil usaha bank, sedangkan bagi bank yang sahamnya sudah dicatatkan di bursa saham bisa dijual kepada masyarakat luas (Riyadi,2006).

Sejak diperkenalkannya Capital Accord oleh Basel Commitee on Banking Supervision (BCBS) pada tahun 1988, industri perbankan telah melalui berbagai perubahan signifikan. Baik disisi bisnis, manajemen risiko, maupun konsep supervisi. The New Basel Capital Accord atau Basel II pada dasarnya mengandung tiga pendekatan baru , yang secara mendasar merubah apa yang terkandung di dalam Capital Accord atau Basel I.

  1. Berbeda dengan 1988 Capital Accord  yang memfokuskan penghitungan risiko pada satu jenis risiko (Credit Risk), The New Basel Capital Accord menekankan kepada metodologi internal bank, review supervisi dan disiplin pasar dan memiliki cakupan lebih luas terhadap jenis – jenis risiko yang dihadapi oleh bank.
  2. The New Basel Capital Accord  mengandung konsep-konsep yang lebih fleksibel, menawarkan berbagai pendekatan, dan memberikan insentif bagi konsep risk management yang lebih baik, sementara Basel I menetapkan satu konsep yang dianggap sesuai bagian semua (one size fit all)
  3. The New Basel Capital Accord  mengandung konsep yang lebih sensitif terhadap risiko dibandingkan dengan Basel I yang cenderung sensitif terhadap tingkat risiko dalam suatu struktur tingkatan risiko yang sangat umum.

Di Indonesia peraturan mengenai permodalan mengalami beberapa perubahan. Serangkaian paket kebijakan reformasi perbankan sebagai bagian dari liberalisasi sektor keuangan digulirkan dalam periode 1988-1999. Liberalisasi sektor keuangan sejalan dengan diberikannya kebebasan yang lebih besar bagi bank-bank untuk mengalokasikan aset dan menentukan suku bunga. Dalam rangka mengendalikan persaingan diantara bank-bank tersebut, persyaratan permodalan yang merupakan instrumen utama pengawasan bank di Indonesia, dikeluarkan sebagai bagian dari Paket Kebijakan Oktober 1988 atau yang dikenal dengan Pakto ’88.

Kebijakan permodalan yang diterapkan di Indonesia pada waktu itu telah mengacu pada standar yang ditetapkan Basel Capital Accord (Basel I) meskipun dilakukan secara bertahap. Dalam praktik pengawasan perbankan di Indonesia, rekomendasi Basel I tersebut diadopsi oleh Bank Indonesia melalui pengaturan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 26/20/KEP/DIR tanggal 29 Mei 1993. Dalam surat ini diatur tentang kewajiban penyediaan modal minimum bank sebesar 8% dari aktiva tertimbang menurut risiko yang pemenuhannya dilakukan secara bertahap, yakni sebesar 7% sejak akhir Maret 1993 dan 8% sejak akhir Desember 1993.

Penerapan KPMM  pernah mengalami perubahan setelah melihat kondisi yang ada. Seperti pada tahun 1998 saat terjadinya krisis perbankan yang mengakibatkan penurunan permodalan bank yang cukup besar, dilakukan penyesuaian KPMM dari 8% menjadi 4% melalui Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 31/146/KEP/DIR tanggal 12 November 1998. Seiring dengan kebijakan tersebut, dilakukan berbagai langkah restrukturisasi dan rekapitalisasi perbankan dengan salah satu tujuan mengembalikan kondisi permodalan bank sesuai dengan standar internasional sebagaimana keadaan sebelum terjadinya krisis perbankan.

Sejalan dengan target program rekapitalisasi perbankan sebagaimana terdapat dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan Republik Indonesia dan Gubernur Bank Indonesia Nomor 53/KMK.017/1999 dan Nomor 31/12/KEP/GBI tanggal 8 Februari 1999 yang menegaskan pencapaian rasio KPMM sebesar 8% pada akhir tahun 2001, maka dikeluarkan Peraturan Bank Indonesia  Nomor 3/21/PBI/2001 tanggal 31 Desember 2001 tentang KPMM Bank Umum. Isi pokok ketentuan tersebut adalah kewajiban bank menyediakan modal minimum sebesar 8% dari aktiva tertimbang menurut risiko sejak akhir bulan Desember 2001. Peraturan terbaru yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia tentang penyediaan modal bank tertuang dalam Ketentuan ini dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 14/18/PBI/2012 tanggal 28 November 2012 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum dan Surat Edaran BI No. 14/21/DPNP tanggal 18 Juli 2012 tentang Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia  No 9/33/DPNP tanggal 18 Desember 2007 perihal Pedoman Penggunaan Metode Standar dalam Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum dengan Memperhitungkan  Risiko Pasar.

Sebagai upaya untuk mencapai sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan, terkait dengan tujuan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) Bank Indonesia mengeluarkan peraturan melalui PBI Nomor 7/15/2005 tentang jumlah Modal Inti Bank Umum. Ketentuan tersebut juga untuk mengantisipasi penerapan Basel Accord II. Inti pokok dari peraturan tersebut adalah mewajibkan bank umum memiliki jumlah modal inti secara bertahap minimal Rp. 80 milyar pada akhir tahun 2007 dan Rp. 100 milyar pada akhir tahun 2010. Bank umum yang tidak memenuhi jumlah modal inti sebagaimana ketentuan tersebut akan mendapatkan konsekuensi berupa pembatasan kegiatan usaha.

Di dalam penelitian ini modal bank didefinisikan sebagai rasio modal terhadap aktiva tertimbang menurut risiko (Capital Adequacy Ratio-CAR) seperti yang digunakan oleh Ahmad,et.al (2008), Damanik (2008) dan Awdeh,et.al (2011) Pemilihan variabel CAR sebagai variabel dependen dikarenakan CAR menggambarkan keputusan bank dalam mengambil risiko sesuai dengan situasi (Rime, 2000).

Pengertian Studi Kelayakan (skripsi dan tesis)

            Studi kelayakan pada saat ini banyak dikenal oleh masyarakat, terutama yang bergerak dibidang usaha. Bermacam-macam peluang dan kesempatan yang ada pada bidang usaha menuntut penilaian sejauh mana kesempatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi pengusaha. Sehingga studi kelayakan yang sering disebut feasibility studi merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan usaha/proyek yang direncanakan  (Ibrahim, 1998).

Menurut (Thomson,2005) studi kelayakan bisnis dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang dikendalikan untuk mengidentifikasi masalah dan peluang, menentukan tujuan, menggambarkan berbagai biaya dan manfaat  yang terkait dengan beberapa alternatif untuk pemecahan masalah. Bila investasi dalam pembangunan proyek berupa fasilitas baru, maka untuk menilai kelayakannya perlu dilakukan kegiatan mulai dari mengembangkan, menganalisis dan prakarsa atau gagasan yang timbul sampai menelusuri berbagai aspek proyek . Gagasan dapat pula berupa tanggapan atas situasi yang disebabkan oleh desakan untuk meningkatkan fasilitas yang tersedia, misalnya perbaikan atau penggantian peralatan yang sudah tua guna memperbaiki efisiensi dan menekan biaya pemeliharaan. Sehingga biaya produksi dapat dikurangi dan daya saing dapat ditingkatkan.

Pengkajian tersebut sifatnya menyeluruh dalam segala aspek kelayakan proyek atau investasi. Disamping sifatnya yang menyeluruh studi kelayakan juga harus dapat menampilkan data hasil analisis secara kuantitatif tentang manfaat yang diperoleh dibandingkan sumber daya yang diharapkan. Layaknya suatu gagasan usaha atau  proyek  memberikan finansial benefit dan sosial benefit. Penilaian sosial  benefit tidak selalu menggambarkan arti finansial benefit, tergantung dari segi penilaian yang dilakukan.

Pada umumnya proyek yang dinilai dari sosial benefit adalah proyek yang dinilai dari segi manfaat yang diberikan terhadap perkembangan perekonomian masyarakat secara menyeluruh. Kegiatan usaha/proyek yang dinilai dari segi finansial benefit adalah usaha-usaha yang dinilai dari segi penanaman investasi/modal yang diberikan untuk melaksanakan usaha/proyek tersebut (Ibrahim, 1998).

Asesori Jaringan Pipa (skripsi dan tesis)

  1. Pompa

Pompa adalah suatu alat untuk menaikkan tekanan atau energi potensial air. Dengan pompa maka tinggi tekanan yang telah berkurang dapat dinaikkan kembali. Jika sebelum pompa dipasang sudah ada aliran, maka tugas pompa adalah menambah debit yang berarti juga mempercepat aliran. Dengan demikian pompa dapat juga digunakan sebagai alat untuk menambah debit dan tekanan. Jika tinggi tekanan yang dibutuhkan sistem semakin tinggi, kemampuan pompa dalam mengalirkan air turun. Sebaiknya jika tinggi tekanan dari pompa dikurangi, maka kemampuan pompa untuk mengalirkan air naik. Namun pompa biasanya bekerja pada elevasi yang relatif tetap (Triatmadja,2000).

Pompa mencapai efisiensi yang tinggi pada saat yang tepat, yaitu pada ketinggian tekanan tertentu, disebut sebagai Hd (design head). Pada saat itu pompa efisien tetapi debit yang keluar dari pompa bukan yang tinggi

Pompa dapat diklasifikasikan antara lain :

  1. Pompa Reciprocating

Dari kurva karakteristik pompa reciprocating dapat dilihat bahwa head yang dihasilkan pompa tersebut tidak dipengaruhi oleh kapasitas. Dengan kapasitas yang tetap dapat dihasilkan head yang berbeda,

  1. Pompa Rotary

Pompa ini biasanya digunakan untuk memompakan zat cair dengan viskositas tinggi seperti minyak, larutan yang bersifat bubur dan lain-lain.

  1. Pompa sentrifugal banyak digunakan untuk memompa air bersih maupun air buangan. Beberapa tipe   pompa sentrifugal yang sering digunakan adalah pompa submersible air bersih sumur dalam, pompa turbin sumur dalam, dan pompa Non-Clongging.
  2. Tangki

Tangki tidak boleh direncanakan asal besar saja, perencanaan yang demikian membuat tangki tidak efisien. Tangki harus direncanakan sedemikian rupa sehingga air tidak turun terus menjadi habis terkuras pada jam puncak, tetapi tangki harus direncana

dapat menampung air sebesar kekurangan air yang dibutuhkan antara suplai dan kebutuhan saat jam puncak.Jadi pada jam dengan kebutuhan besar(kebutuhan lebih besar daripada suplai), air dalam tangki walaupun berkurang tetapi tidak boleh kurang dari elevasi dari elevasi minimum dalam tangki, selanjutnya pada jam-jam berikutnya setelah kebutuhan berkurang debit suplai air lebih besar dari kebutuhan air sehingga tangki terisi kembali.

Walski dalam Radianta Triatmadja (2000) memberikan konsep dasar keberadaan tangki dalam distribusi air bersih adalah sebagai berikut :

1)        Penyamaan

Pengoperasian bangunan pengolah air pada nilai yang relatif tetap, dengan mata air dan pompa yang secara umum baik pada sebuah nilai tetap. Porsi pelayanan sebuah tangki diukur untuk memenuhi kebutuhan harian puncak. Proses pengisian dan pengosongan tangki tampungan adalah sangat mudah secara operasional dan secara umum murah dibanding metode lain,

2)        Mempertahankan tekanan

Pada sebuah ketinggian, elevasi dari air yang disimpan dalam tangki menentukan tekanan dalam semua pipa yang secara langsung berhubungan dengan tangki tersebut (tanpa melalui katup pelepas tekan atau pompa),

3)        Penyimpanan untuk pemadaman kebakaran

Untuk sistem yang lebih kecil, tangki mempunyai keandalan secara operasinoal dan secara ekonomi, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan besar dengan waktu pendek pada sebuah sistem penyediaan air selama pemadam kebakaran,

4)        Penyimpanan darurat

Tangki tampungan juga dapat menyediakan air dalam sistem jika terjadi keadaan darurat seperti : putusnya saluran induk, masalah pada bangunan pengolah, dan kegagalan sistem. Disamping secara sederhana menyediakan volume tampungan, tangki dapat mem-backup tekanan udara dalam sistem jika terjadi kemacetan pompa, mencegah terjadinya kontaminasi akibat putusnya pipa utama,

5)        Pemakaian energi.

Air yang ditampung dalam tangki pada sebuah elevasi menyimpan energi yang dapat digunakan sehingga operasional pompa pada waktu puncak lebih efisien dan efektif,

6)        Kualitas air

Tangki dapat mempengaruhi kualitas air secara umum melalui proses kimia, fisik dan biologi yang terjadi karena air disimpan terlalu dalam tangki, atau melalui kontaminasi eksternal kedalam tangki (burung, tikus, serangga). Hal ini seharusnya dihilangkan dengan design dan pemeliharaan yang tepat,

7)        Pengatur hidrosis sementara

Mereduksi efek”waterhammer” akibat perubahan kecepatan secara ekstrim dalam sistem,

8)        Estetika

Pertimbangan design dan kedudukan tangki juga dapat mengenai segi estetis tanpa  mengabaikan tujuan, efisiensi dari operasi sistem jaringan.

Aliran Dalam Pipa (skripsi dan tesis)

Di dalam pipa air mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Pernyataan ini dapat diartikan selama air mengalir, tinggi tekanannya berkurang. Atau dengan kata lain energinya berkurang. Berkurangnya energi atau tinggi tekanan merupakan fungsi debit, panjang pipa, diameter pipa dan koefisien gesek pipa.

Pipa yang digunakan untuk mengalirkan air baku dari sumber air kekonsumen ataupun bak penampung, harus memiliki bentuk penampang yang bulat. Pipa dapat terbuat dari bahan yang sangat keras maupun dari bahan plastik (Linsley,1996). Pipa plastik adalah salah satu jenis pipa yang banyak digunakan dalam proyek-proyek jaringan distribusi air bersih, pipa ini lebih dikenal dengan sebutan pipa PVC (Poly Vinyl Chloride). Panjang pipa antara 4-6 meter dengan ukuran diameter dari 16 mm hingga 650 mm. Keuntungan dalam penggunaan pipa ini adalah :

1)   umur pipa dapat mencapai 75 tahun,

2)         banyak tersedia di pasaran dan harganya lebih murah dari pada pipa DIP (Ductile Iron Pipa) dan GI (Galvanized Iron),

3)        Non corrosive atau tidak berkarat sehingga kualitas air tidak mengalami perubahan rasa dan tetap bersih,

4)        Permukaan pipa licin (koefisien kekasaran kecil sehingga menghemat tinggi tekanan),

5)        Ringan sehingga mempermudah untuk pengangkutan, mudah dalam peletakan/pemasangan,

6)         Pemasangan sambungan yang mudah yaitu dengan menggunakan RRJ (Rubber Ring Joint),

7)         non poisonous yaitu pipa PVC tidak beracun dan tidak mengubah warna maupun cairan yang melewatinya,

8)        isolator, pipa PVC merupakan electrical cable conduit cover yang terbaik,

9)        infalmmable, yaitu tidak terbakar bila kena api,

10)    mechanical strength, pipa PVC memiliki mechanical strength dan elastis.

Kehilangan Air (skripsi dan tesis)

Jumlah pengguna air meningkat, jika kebutuhan meningkat dalam sistem distribusi. Oleh sebab itu tekanan harus diperbesar agar dapat sampai kedaerah distribusi secara merata. Namun kondisi ini sering menyebabkan kehilangan air yang lebih besar melalui kebocoran, sejumlah besar terbuang melalui kran yang terbuka (Budi Kamulyan,2007 ).

Menurut Kodoatie (2005 dalam Derry Yumico, 2004) kehilangan air dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara jumlah air bersih yang diproduksi oleh produsen  air dan jumlah air yang terjual kepada konsumen, sesuai dengan yang tercatat di meteran pelanggan. Menurut DPU Jendral Cipta karya Direktorat Air Bersih (1987) dalam Derry Yumico (2004), kehilangan air dapat terjadi akibat faktor-faktor seperti dibawah ini :

  1. Faktor teknis
  2. adanya lubang atau celah pada pipa sambungan,
  3. pipa pada jaringan distribusi pecah,
  4. meteran yang dipasang pada pipa konsumen kurang baik,
  5. pemasangan perpipaan dirumah kurang baik,
  6. Faktor non teknis
  7. kesalahan pembacaan dan pencatatan meter air,
  8. kesalahan pemindahan /pembuatan rekening PDAM,

angka yang ditunjukkan oleh meter air berkurang akibat adanya tekanan udara  dari rumah konsumen ke pipa distribusi melalui meter air tersebut.

Fluktuasi Kebutuhan Air (skripsi dan tesis)

Fluktuasi kebutuhan air pada suatu tempat sangat dipengaruhi oleh kondisi populasi, dan secara umum ditunjukkan bahwa semakin padat penduduk akan menurunkan beban puncak. Pemukiman didaerah pinggiran kota akan memberikan beban puncak jam-jaman yang lebih besar dibandingkan pemukiman di kota-kota besar (Budi Kamulyan, 2007). Fluktuasi kebutuhan air disuatu wilayah ditentukan oleh jumlah yang memakai air, faktor setempat dan kondisi dari penyediaan air itu sendiri.

Sistem Jaringan Distribusi (skripsi dan tesis)

Sistem jaringan distribusi merupakan bagian yang paling mahal bagi suatu perusahaan air bersih. Untuk itu perencanaan dari suatu sistem jaringan perpipaan harus dirancang dengan teliti mungkin agar sistem dapat bekerja secara efisien dan optimal. Kesalahan dalam merencanakan jaringan distribusi air bersih dapat berakibat fatal, misalnya sebagai berikut ini ( Radianta Triatmadja, 2000 )

  1. sebagian daerah mungkin tidak terairi pada waktu-waktu tertentu, daerah lain mungkin tidak memperoleh air sama sekali,
  2. pada suatu lokasi air terus mengalir tetapi melalui pipa yang pecah karena tidak kuat terhadap tekanan air di dalamnya,
  3. pompa bekerja tidak efisien karena kesalahan perencanaan sehingga biaya operasional tinggi,
  4. pada saat perbaikan, suatu daerah tidak mendapat suplai air,
  5. sulit dan tidak dapat dikembangkan karena pemilihan pipa yang tidak tepat,
  6. tangki terlalu kecil sehingga tidak efisien dan pompa bekerja tidak efisien,
  7. kebocoran tidak terdeteksi.

Kebutuhan Air (skripsi dan tesis)

Jumlah kebutuhan air rumah tangga pada tiap-tiap orang bervariasi, tergantung pada kondisinya atau aktifitasnya sehari-hari. Terkait dengan fungsi waktu, kebutuhan air bervariasi dari jam ke jam sepanjang hari (relatif rendah dimalam hari). Kebutuhan air untuk suatu kota adalah besarnya air yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh komponen yang ada dikota (rumah tangga, industri, perdagangan,  hotel,  dan lain-lain), ditambah dengan kehilangan akibat kebocoran pipa.

Kebutuhan air bersih dari suatu daerah ditentukan oleh jumlah penduduk yang memakainya air bersih, faktor setempat dan kondisi dari penyediaan air itu sendiri.

Pembagian kebutuhan air bersih dapat dibedakan menjadi dua yaitu kebutuhan domestik dan kebutuhan non domestik sebagai berikut ini :

  1. Kebutuhan domestik :
  2. Kebutuhan rumah tangga,
  3. Keran umum,
  4. Kebutuhan non domestik :
  5. Fasilitas perkantoran,
  6. Fasilitas perdagangan dan industri,
  7. Fasilitas sosial seperti rumah sakit, tempat ibadah dan lain-lain.

Dalam analisa kebutuhan air disuatu daerah sangat diperlukan  tingkat kepentingan daerah yang berguna untuk perkiraan – perkiraan jumlah volume air yang dibutuhkan. Besaran tersebut biasanya diberikan dalam bentuk informasi data  dari jumlah orang yang akan dilayani dan volume konsumsi rata-rata tiap orang setiap hari dari beberapa faktor tingkat konsumsi air.

Faktor – faktor yang  mempengaruhi konsumsi air bersih adalah :

  1. Penduduk, jumlah penduduk selalu berubah sesuai perubahan waktu dan tempat. Kecenderungan kenaikan pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan pula naiknya permintaan ketersediaan air bersih,
  2. Usia pengguna, sangat menentukan dalam penggunaan air. Orang dewasa akan lebih banyak membutuhkan air karena kebutuhan airnya lebih bervariasi dan dalam jumlah yang relatif lebih besar,
  3. Tingkat kemajuan penduduk, parameter tingkat ekonomi dan pendidikan penduduk pada suatu daerah menunjukkan pengelompokan tingkat konsumsi pengunaan air bersih. Kebutuhan air meningkat selaras dengan pertumbuhan kemajuan penduduk,
  4. Kebiasaan masyarakat, adat istiadat, budaya, serta agama, dalam mengunakan air pada masing-masing daerah atau negara berlainan sehingga standar kebutuhan airnya juga berbeda,
  5. Ketersediaan air, yang dimaksud ketersediaan air mencakup kuantitas, kualitas serta energi atau tekanan air, Jika ketersediaan air terbatas orang akan cendrung untuk lebih,
  6. Cuaca, iklim, pada musim kemarau kebutuhan air akan lebih besar bila dibandingkan pada saat musim hujan.

Metode Pengambilan Keputusan (skripsi dan tesis)

Menurut Rachmad Jayadi (2001, dalam Suandhi 2005), proses pengambilan keputusan merupakan proses penyelesaian masalah terkait dengan upaya pemilihan beberapa alternatif  pada cakupan pertimbangan yang kompleks dan berpotensi untuk saling bertentangan. Proses ini dimulai dengan identifikasi persoalan secara rumit. Selanjutnya adalah menetapkan adalah menetapkan kategori dan melakukan kuantifikasi tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang telah ditetapkan akan menentukan langkah atau tindakan untuk memperoleh penyelesaian persoalan. Sekali tujuan telah ditetapkan, maka sangat penting untuk melakukan identifikasi fisik dan sumber-sumber informasi yang diperlukan. Tanpa penilaian secara akurat terhadap sumberdaya dan berbagai kendala yang ada, upaya pencarian solusi akan bersifat sangat spekulatif.

Tahap berikutnya adalah menentukan beberapa opsi yang berpotensi untuk menjawab persoalan. Apakah beberapa opsi telah didapatkan, langkah berikutnya adalah menetapkan dan menerapkan kriteria pemilihan. Beberapa opsi tersebut dapat dikombinasikan kedalam beberapa alternatif yang komprehensif dan dapat diterapkan. Beberapa alternatif yang diperoleh selanjutnya dapat di evaluasi dan dikaji ulang yang hasilnya akan diberikan kepada pembuat keputusan atau pihak terkait sehingga dapat memanfaatkan informasi ini untuk memilih alternatif solusi terbaik yang dapat dilaksanakan. Alternatif terpilih akan diimplementasikan dengan disertai pemantauan (monitoring) untuk memastikan bahwa solusi yang ditempuh dapat berjalan baik.

Salah satu metode dalam pengambilan keputusan adalah Analytic Hierarchy Process (AHP). Metode AHP ini berperan dalam menstrukturkan kriteria-kriteria yang ada untuk suatu masalah pengambilan keputusan dengan banyak kriteria. Pengambilan keputusan perlu menentukan tingkat kepentingan antara kriteria-kriteria yang ada dengan membandingkan semua kombinasi kriteria yang mungkin. Selanjutnya disusun suatu matriks hubungan relatif nilai kepentingan dari kriteria-kriteria yang ada. Kemudian urutan prioritas dari kriteria dapat disusun dengan mencari eigen vektor matriks tersebut.

Analytic Hierarchy  Process (AHP). Atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan Proses Hierarki Analitik (PHA), dikembangkan oleh Thomas L.Saaty pada tahun 1970-an. AHP adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan kedalam kelompok-kelompoknya. Kemudian kelompok-kelompok tersebut diatur menjadi suatu bentuk hirarki (Permadi, 1992 dalam Kadarsyah Suryadi, 2002). Penilaian dari metode AHP didasarkan atas dua pernyataan, yaitu : 1) elemen mana yang lebih penting, lebih disukai atau lebih mungkin terjadi, 2) berapa kali lebih penting, lebih disukai atau lebih mungkin terjadi.

Beberapa prinsip yang harus dipahami dalam penyelesaian dengan metode AHP, antara lain :

  1. Decomposition, adalah memecah persoalan yang utuh menjadi beberapa elemen hingga elemen tersebut tidak dapat diuraikan lagi,
  2. Comparative judgement, adalah proses perbandingan antara dua elemen (pairwise comparison) dalam suatu level sehubungan dengan level diatasnya,
  3. Synthesis of priority, adalah proses penentuan prioritas elemen dalam satu level.
  4. Setelah diperoleh skala perbandingan antara dua elemen melalui wawancara, kemudian dicari vektor prioritas (eigen vector) dari suatu level hirarki pada skala preferensi,
  5. Logical consistency , adalah prinsip rasionalitas AHP yaitu obyek yang serupa antara obyek yang didasarkan pada kriteria tertentu, dengan syarat inkonsistensi tidak lebih dari 10%.

Analisis dalam metode ini dimulai dengan melakukan penilaian terhadap pendapat berdasarkan hasil wawancara dan isian kuisioner dari responden terkait. Adapun tahapan yang dilakukan dalam analisis ini adalah:

  1. Identifikasi masalah, meliputi penentuan tujuan, kriteria dan sub kriteria, dilakukan melalui kajian pustaka,
  2. Menyusun hierarki,
  3. Dalam AHP, pengambilan keputusan perlu menentukan tingkat kepentingan antara kriteria-kriteria yang ada dengan membandingkan semua kombinasi kriteria yang mungkin (Rachmad Jayadi, 2001 dalam Suandhi, 2005). Selanjutnya disusun suatu matriks hubungan relatif nilai kepentingan dari kriteria-kriteria yang ada. Selanjutnya urutan prioritas/rangking dari kriteria dapat disusun dengan mencari eigen vektor matriks. Struktur formulasi masalah dalam AHP dapat dilihat seperti gambar 3.1.
  4. Pairwise Comparison (pembandingan secara berpasangan), fase evaluasi didasarkan pada suatu konsep pembanding berpasangan (pairwise comparison). Elemen dalam suatu level hirarki adalaah pembanding dalam bagian itu sehingga diperoleh nilai kepentingan atau kontribusi dari masing-masing elemen dengan memperhatikan pengaruh elemen pada level diatasnya.
  5. Tes konsistensi

Untuk mengetahui konsistensi AHP, maka perlu dilakukan uji konsistensi. Langkah tersebut berlaku masing-masing kriteria, sub kriteria dan alternatif, sehingga akhirnya diperoleh vektor prioritas menyeluruh nilai masing – masing alternatif dijumlahkan dan nilai tertinggi adalah alternatif terbaik (Saaty,1993)

…..…………………………………..(3.2)

                      …………………………………………………….(3.3 )

                               …………………………………………….(3.4)

 

                  …………………………………………………………(3.5)

dengan:

A  =  matriks awal,

W =  vektor prioritas,

N  =  jumlah kriteria,

            λ   =   nilai subjektifitas (maksimum 10%),

           RI  =   average random consistency index.

Tabel 3.1 Random Consistency Index

Orde matriks (n) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Indeks Random 0 0 0,52 0,89 1,11 1,25 1,35 1,4 1,45 1,49

Sumber : Saaty (1993)

Nilai konsistensi ini disebut ratio konsistensi (Consistensy Ratio atau Cr).

Hal ini penting untuk menekankan bahwa meminimalkan nilai CR. Jika nilai CR sama dengan 0 berarti pendapat tersebut adalah konsisten sempurna. Nilai CR sampai dengan 0,10 secara umum masih dapat ditoleransikan.

Proyeksi Jumlah Penduduk (skripsi dan tesis)

Perkembangan  jumlah penduduk pada suatu wilayah akan menentukan besarnya kebutuhan air bersih, dan merupakan salah satu faktor yang penting dalam merencanakan kebutuhan air ke masa depan. Dalam melakukan analisa pertambahan penduduk akan diperoleh jumlah penduduk yang digunakan untuk memperkirakan tingkat pelayanan air bersih yang diterima  pelanggan. Memperkirakan pertambahan penduduk yang digunakan dalam penelitian ini dengan metode geometrik (DPU Direktorat Jendral Cipta Karya, 1998) persamaan sebagai berikut :

………………………………………………………(3.1)

dimana :  Pt :  jumlah penduduk pada tahun ke- t,

Po :  jumlah penduduk pada tahun dasar hitungan (tahun ke-0),

 r  : tingkat pertumbuhan penduduk,

 t  :  jumlah tahun antara tahun proyeksi dengan tahun dasar hitungan,

Proyeksi jumlah penduduk, dengan menggunakan metode aritmatik dijabarkan dalam persamaan berikut (Anonim 1998) :

    Pn  = Po + Ka ( Tn – To )    ……………………………………. (3.2  )

 Ka  = P2 – P1   ……………………………………………………….(3.2.a)

T2 ­– T1

Dimana : Pn = jumlah penduduk pada tahun ke-n (jiwa),

Po = jumlah penduduk pada tahun awal (jiwa),

Ka = konstanta aritmatik,

Tn = tahun ke-n (jiwa),

To = tahun dasar (jiwa),

P1 = jumlah penduduk yang diketahui pada tahun ke-1 (jiwa),

P2 = jumlah penduduk yang diketahui pada tahun akhir (jiwa),

T1 = tahun ke-1 yang diketahui,

T2 = tahun ke-2 yang diketahui.

Kebutuhan Air (skripsi dan tesis)

berbagai kebutuhan air dapat dibedakan menjadi:

  1. Kebutuhan air untuk domestik

Menurut standar FAO dan Dirjen Cipta Karya (Agung Rudi PPA, 2000) kebutuhan konsumsi air domestik tergantung dari jumlah penduduk, ukuran kota dan kehilangan air. Hubungan jumlah penduduk dan kebutuhan air dapat dilihat pada tabel 2-1.

Tabel 2-1 Kisaran pemakaian air domestik berdasarkan kategori wilayah

.No Kategori Kota Jumlah penduduk

(jiwa)

Kebutuhan air bersih

(liter/orang/hari)

1.

2.

3.

4.

5.

Kota Metropolitan

Kota Besar

Kota Sedang

Kota Kecil

Ibukota Kecamatan

Diatas 1 juta

500.000-1juta

100.000-500.000

20.000-100.000

Dibawah 20.000

190

170

150

110

100

  Sumber : DPU-CK 1994,  Tata cara rancangan distribusi jaringan air bersih.

  1. Kebutuhan air untuk pelayanan umum

Kebutuhan air untuk pelayanan umum meliputi penggunaan air untuk niaga, pemerintahan, pemadam kebakaran, pendidikan, pelabuhan, terminal, industri kecil dan sebagainya. Kebutuhan air untuk pelayanan umum dapat diperkirakan dari kategori kota. Kebutuhan air untuk pelayanan umum sekitar 15 – 40%

( Agung Rudi PPA, 2000 ).

  1. Kebutuhan air untuk mengganti air yang hilang

Kebutuhan air untuk mengganti air yang hilang digunakan untuk mengantisipasi kehilangan air pada sambungan pipa, retakan, katup, filter dan sebagainya. Kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air diprediksi sekitar 25-30% dari kebutuhan air untuk domestik ( Agung Rudi PPA, 2000 ).

  1. Kebutuhan air untuk industri

Menurut Agung Rudi PPA (2000), mengemukakan bahwa kebutuhan air untuk industri kecil dan kegiatan (aktivitas) yang tidak membutuhkan air dengan  intensif termasuk kebutuhan air perkotaan, akan tetapi kebutuhan air bagi industri yang dominan dalam proses industri harus diidentifikasi tersendiri dapat dilakukan beberapa metode yaitu :

  1. Metode persamaan linier.

Perhitungan kebutuhan air dengan persamaan linier dilakukan dengan menggunakan variabel-variabel berupa hal-hal yang erat kaitannya dengan kebutuhan  air seperti jumlah penduduk,

  1. Metode analisis berdasarkan penggunaan lahan.

Analisis kebutuhan air berdasarkan penggunaan lahan dilakukan berdasarkan luas lahan yang dipergunakan bagi kegiatan usaha ( kegiatan non domestik ) pada waktu yang ditinjau,

  1. Metode analisis berdasarkan jumlah pekerja.

Metode analisis berdasarkan jumlah pekerja dilakukan melalui perhitungan kebutuhan air bagi setiap pekerja kegiatan usaha terhadap standar kebutuhan air masing-masing pekerja,

  1. Metode analisis berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan.

Metode analisis berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan dilakukan berdasarkan perhitungan besarnya kebutuhan air bagi kegiatan dan proses produksi untuk menghasilkan suatu produk.

Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja (skripsi dan tesis)

Selama berlangsungnya pekerjaan harus diukur hasil hasil yang dicapai untuk dibandingkan dengan rencana semula. objek pengawasan ditujukan pada pemenuhan persyaratan minimal segenap sumber daya yang dikerahkan agar proses konstruksi secara teknis dapat berlangsung baik. upaya mengevaluasi hasil pekerjaan untuk mengetahui penyebab penyimpangan terhadap estimasi semula. Pemantauan (monitoring) berarti melakukan observasi dan pengujian pada tiap interval tertentu untuk memeriksa kinerja maupun dampak sampingan yang tidak diharapkan (Istimawan, 1996:423)

Salah satu cara pendekatan untuk mengetahui tingkat produktivitas tenaga kerja adalah dengan menggunakan metode pengamatan work sampling dengan mengkategorikan pekerja kedalam dua group yaitu kategori bekerja dan tidak bekerja.

  1. Pekerjaan Efektif (effective Work) yaitu disaat pekerja melakukan pekerjaan dizona pekerjaan
  2. Pekerjaan tidak efektif (not useful), yaitu kegiatan selain diatas yang tidak menunjang penyelesaian pekerjaan, seperti meninggalkan zona pengerjaan, mengobrol sesama pekerja sehingga tidak maksimal bekerja.

sehingga produktivitas dapat dihitung:

Produktivitas Riel/jam = ∑Prod/Jam

                                                n                                                                 (1)

Dimana n= Jumlah Pengamatan

Pengukuran produktivitas tenaga kerja menurut system pemasukan fisik perorangan/per-orang atau per jam kerja orang diterima orang secara luas, namun dari sudut pengawasan harian pengukuran – pengukuran tersebut pada umumnya tidak memuaskan, karena adanya variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk yang berbeda. oleh karena itu digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja (jam, hari, atau tahun) Pengukuran diubah kedalam unit-unit pekerja yang biasanya diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja yang terpercaya yang bekerja menurut pelaksanaan standar. karena hasil maupun masukan dapat dinyatakan dalam waktu, produktivitas tenaga kerja dapat dinyatakan sebagai indeks yang sangat sederhana:

Pengukuran Waktu tenaga kerja =

(Muchdarsyah, 1992:24-25)

Berdasarkan beberapa teori diatas maka faktor – faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja dalam penelitian ini adalah:

  1. Pengalaman Kerja
  2. Umur
  3. Kondisi Fisik Lapangan
  4. Iklim/Cuaca

Ukuran Besar Proyek

Faktor Yang Berpengaruh Pada Produktivitas (skripsi dan tesis)

Semua faktor yang mempengaruhi produktivitas dipandang sebagai sub sistem untuk menunjukkan dimana potensi produktivitas dan cadangannya disimpan. Faktor-Faktor tersebut antara lain:

Menurut Kaming dalam Ervianto (2005) faktor yang mempengaruhi produktivitas proyek diklasifikasikan menjadi empat kategori utama, yaitu:

  1. Metode dan teknologi, terdiri atas faktor: Desain rekayasa, Metode Konstruksi, urutan kerja, pengukuran kerja.
  2. Manajemen lapangan, terdiri atas faktor: perencanaan dan penjadwalan, tata letak lapangan, komunikasi lapangan, manajemen material, manajemen peralatan, manajemen tenaga kerja.
  3. Lingkungan kerja, terdiri atas faktor: keselamatan kerja, lingkungan fisik, kualitas pengawasan, keamanan kerja, latihan kerja, partisipasi.
  4. Faktor Manusia, tingkat upah pekerja, kepuasan kerja, insentif, pembagian keuntungan, hubungan kerja mandor-pekerja, hubungan kerja antar sejawat, kemangkiran.

Menurut Muchdarsyah Sinungan dalam Eddy (2007)

  1. Kuantitas atau jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam suatu proyek
  2. Tingkat keahlian tenaga kerja
  3. Latar belakang kebudayaan dan pendidikan termasuk pengaruh faktor lingkungan dan keluarga terhadap pendidikan formal yang diambil tenaga kerja.
  4. Kemampuan tenaga kerja untuk menganalisis situasi yang terjadi dalam lingkup pekerjaannya dan sikap moral yang diambil pada keadaan tersebut.
  5. Minat tenaga kerja yang tinggi terhadap pekerjaan yang ditekuninya
  6. Struktur pekerjaan, keahlian dan umur (kadang-kadang jenis kelamin).

Disamping faktor tersebut diatas Soeharto (2004) mengatakan ada beberapa variabel yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja lapangan dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Kondisi fisik lapangan dan sarana bantu

Kondisi fisik ini berupa iklim, musim, atau keadaan cuaca. Misalnya adalah temperatur udara panas dan dingin, serta hujan dan salju. pada daerah tropis dengan kelembaban udara yang tinggi dapat mempercepat rasa lelah tenaga kerja, sebaliknya di daerah dingin, bila musim salju tiba, produktivitas tenaga kerja lapangan akan menurun. Untuk kondisi fisik lapangan kerja seperti rawa-rawa, padang pasir atau tanah berbatu keras, besar pengaruhnya terhadap produktivitas. hal ini sama akan dialami di tempat kerja dengan keadaan khusus seperti dekat dengan unit yang sedang beroperasi, yang biasanya terjadi pada proyek perluasan instalasi yang telah ada, yang sering kali dibatasi oleh macam – macam peraturan keselamatan dan terbatasnya ruang gerak, baik untuk pekerja maupun peralatan. Sedangkan untuk kekurang lengkapnya sarana bantu seperti peralatan akan menaikkan jam orang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. sarana bantu diusahakan siap pakai dengan jadwal pemeliharaan yang tepat.

  1. Kepenyeliaan, perencanaan dan koordinasi

Yang dimaksud dengan supervisi atau penyelia adalah segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan tugas pengelolaan para tenaga kerja, memimpin para pekerja dalam pelaksanaan tugas, termasuk menjabarkan perencanaan dan pengendalian menjadi langkah – langkah pelaksanaan jangka pendek, serta mengkoordinasikan dengan rekan atau penyelia lain yang terkait. keharusan memiliki kecakapan memimpin anak buah bagi penyelia, bukanlah sesuatu hal yang perlu dipersoalkan lagi. melihat lingkup tugas dan tanggung jawab terhadap pengaturan pekerjaan dan penggunaan tenaga kerja, maka kualitas penyelia besar pengaruhnya terhadap produktivitas secara menyeluruh.

  1. Komposisi Kelompok Kerja

Pada kegiatan konstruksi seorang penyelia lapangan memimpin satu kelompok kerja yang terdiri dari bermacam-macam pekerja lapangan (labor craft), seperti tukang batu, tukang besi, tukang pipa, tukang kayu, pembantu (helper) dan lain-lain. Komposisi kelompok kerja berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja secara keseluruhan. yang dimaksud dengan komposisi kelompok kerja adalah:

  • Perbandingan jam-orang penyelia dan pekerja yang dipimpinya.
  • Perbandingan jam-orang untuk disiplin-disiplin kerja.

Perbandingan jam – orang penyelia terhadap total jam-orang kelompok kerja yang dipimpinya, menunjukkan indikasi besarnya rentang kendali yang dimiliki. untuk proyek pembangunan industri yang tidak terlalu besar komplek dan berukuran sedang keatas, perbandingan yang menghasilkan efisiensi kerja optimal dalam praktek berkisar antara 1:10-15. jam-orang yang berlabihan akan menaikkan biaya, sedangkan bila kurang akan menurunkan produtivitas.

  1. Kerja lembur

Sering kali kerja lembur atau jam kerja yang panjang lebih dari 40 jam per minggu tidak dapat dihindari, misalnya untuk mengejar sasaran jadwal, meskipun hal ini akan menurunkan efisiensi kerja.

  1. Ukuran besar proyek
  2. Pekerja langsung versus kontraktor
  3. Kurva pengalaman
  4. Kepadatan tenaga kerja

Produktivitas dalam Proyek Konstruksi (skripsi dan tesis)

Produktivitas didefiniskan sebagai rasio antara input dan output atau rasio antara hasil produksi dengan total sumber daya yang digunakan. Dalam proyek kontruksi, rasio produktivitas adalah nilai yang diukur selama proses kontruksi, dapat dipisahkan menjadi biaya tenaga kerja, material, uang metode dan alat. Sukses atau tidaknya proyek kontruksi tergantung pada efektifitas pengelolaan sumber daya.

Sumber daya yang digunakan selama proses kontruksi adalah material, machines, men, method and money. Penggunaan material dalam proses kontruksi secara efektif sangat tergantung pada disain yang dikehendaki dari suatu bangunan. Penghematan material dapat dilakukan pada tahap pnyediaan, hanling, dan processing selama proses kontruksi. Pemilihan alat yang tepat akan mempengaruhi kecepatan proses kontruksi, pemindahan/distribusi material dengan cepat baik arah horisontal dan vertikal.

Pekerja adalah salah satu sumber daya yang tidak mudah untuk dikelola. Upah yang diberikan sangat bervariasi tergantung pada kecakapan masing-masing pekerja karena tidak ada satu pun pekerja yang sama karakteristiknya. Biaya untuk pekerja merupakan fungsi dari waktu dan metode kontruksi yang digunakan. Pihak yang bertanggung jawab terhadap pengendalian waktu kontruksi dan pemilihan metode kontruksi yang akan digunakan adalah Kepala Proyek.

Faktor manusia menjadi penentu untuk mencapai tingkat produktivitas yang ditetapkan. Proyek kontruksi selalu membutuhkan pekerja untuk bekerja dengan menggunakan fisik mereka untuk bekerja di lapngan terbuka dalam cuaca dan kondisi apapun. Untuk mendapatkan tingkat produktivitas yang diinginkan dan meminimalkan segala resiko yang mungkin terjadi serta mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja, para pimpinan harus memahami kemampuan dan keterbatasan yang diakibatkan oleh kondisi proyek.

Produktivitas Secara Umum (skripsi dan tesis)

Produktivitas kerja merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan untuk memenuhi keinginan konsumen. Produktivitas dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Hal ini dapat diimplementasikan interaksi antara karyawan (:pekerja) dan pelanggan yang mencakup (a) ketepatan waktu, berkaitan dengan kecepatan memberikan tanggapan terhadap keperluan-keperluan pelanggan; (b) penampilan karyawan, berkaitan dengan kebersihan dan kecocokan dalam berpakaian; (c) kesopanan dan tanggapan terhadap keluhan, berkaitan dengan bantuan yang diberikan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang diajukan pelanggan (Gaspersz, 2003).

Jika membicarakan masalah produktivitas muncullah situasi yang bertentangan karena belum adanya kesepakatan umum dari para ahli tentang maksud pengertian produktivitas serta kriterianya dalam mengikuti petunjuk-petunjuk produktivitas. Secara umum produktivitas diartikan atau dirumuskan sebagai perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input) (Hasibuan, 2003).

Internasional Labour Organization (ILO) mengungkapkan bahwa secara lebih sederhana maksud dari produktivitas adalah perbandingan secara ilmu hitung antara jumlah yang dihasilkan dan jumlah setiap sumber yang dipergunakan selama produksi berlangsung (Hasibuan, 2003). Ervianto (2005) memberikan rumusan produktivitas kerja sebagai berikut.

Produktivitas Kerja = fungsi(Motivasi+Kecepatan kerja + Kepribadian Pekerja + Performa/Kinerja) + Kepuasan Kerja

Faktor-faktor peiningkatan produktivitas, pertama, perbaikan terus menerus, yaitu upaya meningkatkan produktivitas kerja salah satu implementasinya ialah bahwa seluruh komponen harus melakukan perbaikan secara terus-menerus. Pandangan ini bukan hanya merupakan salah satu kiat tetapi merupakan salah satu etos kerja yang penting sebagai bagian dari filsafat manajemen mutakhir. Suatu organisasi dituntut secara terus-menerus untuk melakukan perubahan-perubahan, baik secara internal maupun eksternal. Perubahan internal contohnya, yaitu: (a) perubahan strategi organisasi; (b) perubahan kebijakan tentang produk; (c) perubahan pemanfaatan teknologi; (d) perubahan dalam praktek-praktek sumber daya manusia sebagai akibat diterbitkannya perundang-undangan baru oleh pemerintah. Perubahan eksternal, meliputi: (a) perubahan yang terjadi dengan lambat atau evolusioner dan bersifat acak; (b) perubahan yang tinggi secara berlahan tetapi berkelompok; (c) perubahan yang terjadi dengan cepat karena dampak tindakan suatu organisasi yang dominant peranannya di masyarakat; dan (d) perubahan yang terjadi cepat, menyeluruh dan kontinyu.

Kedua, peningkatan mutu hasil pekerjaan. Peningkatan mutu hasil pekerjaan dilaksanakan oleh semua komponen dalam organisasi. Bagi manajemen, misalnya, perumusan strategi, penentuan kebijakan, dan proses pengambilan keputusan. Yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan kegiatan organisasi yaitu mutu laporan, mutu dokumen, mutu penyelenggaraan rapat, dan lain-lain.

Ketiga, pemberdayaan sumberdaya manusia. Memberdayakan sumberdaya manusia mengandung kiat untuk: (a) mengakui harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang mulia, mempunyai harga diri, daya nalar, memiliki kebebasan memilih, akal, perasaan, dan berbagai kebutuhan yang beraneka ragam; (b) manusia mempunyai hak-hak yang asasi dan tidak ada manusia lain (termasuk manajemen) yang dibenarkan melanggar hak tersebut. Hak-hak tersebut yaitu hak menyatakan pendapat, hak berserikat, hak memperoleh pekerjaan yang layak, hak memperoleh imbalan yang wajar dan hak mendapat perlindungan; (c) penerapan gaya manajemen yang partisipasif melalui proses berdemokrasi dalam kehidupan berorganisasi. Dalam hal ini pimpinan mengikutsertakan para anggota organisasi dalam proses pengambilan keputusan.

Keempat, kondisi fisik tempat bekerja yang menyenangkan.Kondisi fisik tempat kerja yang menyenangkan memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan produktivitas kerja, antara lain: (a) ventilasi yang baik; (b) penerangan yang cukup; (c) tata ruang rapi dan perabot tersusun baik; (d) lingkungan kerja yang bersih; dan (e) lingkungan kerja vang bebas dari polusi udara.

Kelima, umpan balik. Pelaksanaan tugas dan karier karyawan tidak dapat dipisahkan dari penciptaan, pemeliharaan, dan penerapan sistem umpan balik yang objektif, rasional, baku, dan validitas yang tinggi. Objektif dalam arti didasarkan pada norma-norma yang telah disepakati bukan atas dasar emosi, senang atau tidak senang pada seseorang. rasional dalam arti dapat diterima oleh akal sehat. Jika seseorang harus dikenakan sangsi disiplin, status berat-ringannya disesuaikan dengan jenis pelanggarannya. Validitas yang tinggi, dalam arti siapapun yang melakukan penilaian atas kinerja karyawan didasarkan pada tolok ukur yang menjadi ketentuan.

Pengertian Proyek Konstruksi (skripsi dan tesis)

Dipohusodo (1999) menyatakan bahwa suatu proyek merupakan upaya yang mengerahkan sumber daya yang tersedia, yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan, sasaran dan harapan penting tertentu serta harus diselesaikan dalam jangka waktu terbatas sesuai dengan kesepakatan. Menurut Soeharto (2004), proyek adalah kegiatan sekali lewat dengan waktu dan sumber dayaterbatas untuk mencapai hasil akhir yang telah ditentukan dimana proses pencapaian hasil akhir akan dibatasi oleh biaya, jadwal dan mutu.

Menurut Soeharto (2004), kegiatan proyek adalah suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber dana tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah digariskan dengan jelas. Dari pengertian diatas dapat dilihat ciri pokok proyek, antara lain :

  1. Memiliki tujuan khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir.
  2. Jumlah biaya, jadwal serta kriteria mutu dalam proses pencapaian tujuan telah ditentukan
  3. Bersifat sementara, yaitu waktu pelaksanaan proyek dibatasi oleh titik awal dan titik akhir yang ditentukandenga jelas.
  4. Non rutin atau tidak berulang – ulang.

Menurut Barrie (1993), bahwa kostruksi merupakan suatu proses dimana rencana dan spesifikasi para perancang dikonversikan menjadi struktur dan fasilitas fisik. Hal ini melibatkan pengorganisasian dan koordinasi dari semua sumber untuk proyek yakni tenaga kerja, peralatan konstruksi, material tetap dan sementara dan keperluan umum, dana, teknologi dan metode serta  waktu untuk menyelesaikan tepat pada jadwal waktunya, dalam batas-batas anggarannya dan sesuai dengan standar kualitas dan pelaksanaannya yang dispesifikasikan oleh perancang.

Proyek konstruksi terdefinisikan sebagai proyek yang berkaitan dengan upaya pembangunan suatu bangunan infrastruktur, yang umumnya mencakup pekerjaan utama, dan yang termasuk didalamnya adalah bidang teknik sipil dan arsitektur, namun tidak sedikit pula melibatkan disiplin ilmu lainnya seperti : teknik industri, mesin, elektro, geoteknik, dan lain sebagainya. Bangunan-bangunan tersebut meliputi aspek kepentingan masyarakat yang sangat luas antara lain, berupa untuk tempat tinggal, apartemen, dan gedung perkantoran berlantai banyak, pabrik serta bangunan industri, jembatan jalan raya yang temasuk di dalamnya jalan raya, jalan kereta api, dan lain-lain.

Proyek memiliki tujuan atatu sasaran khusus yang dalam pencapainnya ditentukan dengan batasan, yaitu besarnya biaya yang dialokasikan, jadwal serta mutu harus dipenuhi.

  1. Anggaran

Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran. Untuk proyek – proyek yang melibatkan dana dalam jumlah besar dan jadwal bertahun-tahun, anggarannya bukan ditentukan untuk total proyek tetapi dipecah bagi komponen-komponennya,atau per periode tertentu yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan.

  1. Jadwal

Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurung waktu dan tanggal akhir yang ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahannya tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan

  1. Mutu

Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa instalasi pabrik, maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik ahrus mampu beroperasi secara memuaskan dalam kurun waktu yang ditentukan.

Menurut Suharto (2004), ketiga batasan tersebut bersifat tarik-menarik. Artinya jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan menaikkan mutu, yang selanjutnya berakibat pada naiknya biaya yang melebihi anggaran.

Konsep dasar sistem produktivitas (skripsi dan tesis)

Muchdarsyah Sinungan, 2003 (dalam Fadrizal Lubis, 2004) mengartikan produktifitas sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang-barang atau jasa) dengan yang masuk sebenarnya. Produktifitas juga diartikan sebagai berikut :

  1. perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil, dan
  2. perbedaan antara kumpulan jumlah pengeluaran dan masukan yang dinyatakan dalam satuan umum .

Mali, 1978 (dalam Muh Nur Sahid, 2003) mengatakan bahwa produktivitas tidak sama dengan produksi, tetapi produksi, performasi kualitas, hasil-hasil, merupakan komponen dari usaha produktivitas.  Dengan demikian produktivitas merupakan suatu kombinasi dari efektifitas dan efisiensi, sehingga produktivitas dapat diukur berdasarkan pengukuran :

Sumanth, 1985 (dalam Fadrizal Lubis, 2004) memperkenalkan suatu konsep format yang disebut sebagai siklus produktivitas (Prodtictivity cycle) untuk dipergunakan dalam peningkatan produtivitas terus menerus. Pada dasamya konsep produktivitas terdiri dari empat tahap dengan penjelasan sebagai berikut ini .

  1. Pengukuran produktivitas.

Secara formal program peningkatan produktivitas harus dimulai melalui pengukuran poduktivitas dari sistem itu sendiri .

  1. Evaluasi produktivitas.

Mengevaluasi tingkat produktivitas aktual itu untuk diperbandingkan dengan rencana yang akan ditetapkan. Kesenjangan yang terjadi antara tingkat produktivitas aktual dan rencana merupakan masalah produktivitas yang harus dievaluasi dan dicari akar penyebabnya .

  1. Perencanaan produktivitas.

Berdasarkan evaluasi selanjutnya dapat direncanakan kembali target produktivitas yang akan dicapai baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

  1. Peningkatan produktivitas.

Target produktivitas yang telah direncanakan itu, berbagai program formal dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas terus menerus

Untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas perusahaan adalah membangun suatu sistem industri yang memperhatikan secara terfokus dan bersama sekaligus pada aspak-aspek kualitas, efektifitas pencapaian tujuan dan efisiensi penggunaan sumber daya. Selanjutnya indikator keberhasilan sistem profitabilitas terus menerus dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Hubungan antara produktivitas dan profitabilitas

Kasus Jika Maka
Profitabilitas Produktivitas Apa akan terjadi Tindakan
1

 

 

 

 

tinggi (+)

 

 

tinggi (+) Kondisi Keuangan akan sehat dan stabil Pertahankan atau tingkatkan produktivitas dan profitabilitas lebih lanjut
2 tinggi (+) rendah (-) Profitabilitas yang tinggi tidak akan berlanjut dalam jangka panjang

Produktivitas rendah akan menggerogoti keuntungan.

Tingkatkan produktivitas menggunakan siklus produktivitas terhadap masalah internal dalam sistem.
3 rendah (-) tinggi (+) Perusahaan akan mengalami kerugian dan akan mengakibatkan kebangkrutan. Tingkatkan profitabilitas melalui perbaikan : strategi desain produk, pelayanan pelanggan dll, terdapat masalah eksternal dari sistem.
4 rendah (-) tinggi (-) Perusahaan akan bangkrut. Tingkatkan produktivitas dan profitabilitas dengan membangun kembali sistem industri yang sekaligus memperhatikan aspek-aspek kualitas, efektifitas pencapaian tujuan, efisien pengguna SDA masalah internal dan eksternal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Unsur-unsur Perencanaan Operasional Proyek (skripsi dan tesis)

Beberapa unsur perencanaan operasional proyek menurut Iman Soeharto (1998) adalah sebagai berikut ini .

3.4.1    Perencanaan Lingkup Proyek

Perencanaan lingkup proyek adalah proses memberikan deskripsi gambaran perwujudan proyek dan batas – batasnya secara tertulis. Sebagai contoh, untuk proyek E – MK, perencanaan lingkup proyek dihasilkan dari suatu studi kelayakan terutama mengenai aspek teknis dan finansial  (manfaat dan biaya). Perencanaan lingkup proyek mendapatkan masukan dari perencanaan mutu, biaya dan jadwal, agar diperoleh alternatif lingkup yang terbaik dengan mengingat hambatan-hambatan yang ada. Setelah lingkup disetujui, sebagai output dikeluarkan suatu “works statement“ dan daftar  “deliverable“  yang selanjutnya diikuti oleh pembuatan perkiraan sumber daya berupa material, peralatan, dan tenaga kerja untuk mewujudkan lingkup di atas .

3.4.2        Perencanaan Mutu

Perencanaan mutu proyek adalah proses penentuan standar dan kriteria mutu yang akan di pakai oleh proyek, serta usaha untuk dapat memenuhinya. Parameter standar dan kriteria menjadi masukan penting pada waktu menentukan definisi lingkup proyek. Ketentuan standar mutu akan besar pengaruhnya terhadap biaya proyek terutama pada waktu desain – engineering, seleksi peralatan dan material. Oleh karena itu, perlu ada kebijakan mutu  ( quality policy )  dari pihak pimpinan maupun kontraktor untuk di pakai sebagai pegangan pelaksanaan. Output  dari perencanaan mutu adalah dokumen yang memuat kebijakan dan prosedur yang menyeluruh tentang masalah  QA / QC .

3.4.3    Perencanaan Waktu

Perencanaan waktu atau jadwal proyek meliputi langkah-langkah yang bertujuan agar proyek dapat di selasaikan sesuai dengan sasaran waktu yang di tetapkan. Perencanaan waktu memberikan masukan kepada perencanaan sumber daya agar sumber daya tersebut siap pada waktu diperlukan. Perencanaan tersebut terdiri dari penentuan definisi komponen kegiatan, urutan pelaksanaan komponen kegiatan, dan perkiraan kurun waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan masing-masing komponen kegiatan. Hasil langkah-langkah tersebut kemudian dianalisis dengan berbagai metode dan teknik untuk menyusun jadwal proyek.

3.4.4    Perencanaan Biaya

Perencanaan  (perkiraan)  biaya terdiri dari serangkaian langkah untuk memperkirakan besar biaya dari sumber daya yang diperlukan proyek. Langkah tersebut termasuk mempertimbangkan sebagai alternatif yang mungkin dapat menghasilkan biaya yang paling ekonomis bagi kinerja atau material yang sebanding. Jadi, perencanaan biaya baru dapat diselesaikan bila telah tersedia perencanaan keperluan sumber daya. Faktor risiko besar pengaruhnya terhadap perencanaan biaya, yang mengharuskan disediakan sejumlah kontijensi dan sejumlah asuransi. Biaya perkiraan dikaitkan dengan unsur jadwal pemakaiannya, maka akan tersusun anggaran biaya proyek  (time phased budged). Dengan telah merinci jadwal pemakaian dan jumlah alokasi yang bersangkutan, anggaran biaya ini akan menjadi sasaran bagi pengendaliaan kemajuan atau progres kegiatan proyek. Output dari perkiraan biaya proyek adalah anggaran biaya, yang sesuai dengan tahap keperluan dan waktunya dapat berupa dokumen Anggaran Biaya Proyek  ( ABP ) atau Anggaran Biaya Definitif  ( ABD ) .

3.4.5        Perencanaan Sumber Daya

Perencanaan sumber daya proyek dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu perencanaan sumber daya nonmanusia dan sumber daya manusia ( SDM ).

  1. Perencanaan sumber daya nonmanusia

Perencanaan sumber daya nonmanusia meliputi pengadaan material, peralatan yang akan menjadi bagian permanen proyek serta peralatan konstruksi  (crane, truck dan lain – lain)  yang diperlukan untuk membangun proyek tetapi tidak menjadi permanen. Perencanaan sumber daya nonmanusia secara menyeluruh dapat diartikan sebagai pengkajian dan identifikasi kebutuhan proyek yang akan sumber daya nonmanusia serta bagaimana, kapan, berapa banyak, dan darimana memperolehnya. Hasil utama perencanaan diatas adalah lembaran yang membuat deskripsi kebijakan, daftar material, dan peralatan utama serta jadwal pengadaannya.

  1. Perencanaan sumber daya manusia

Iman Soeharto (1998) menjelaskan yang dimaksud dengan perencanaan sumber daya manusia adalah proses mengidentifikasi jenis dan jumlah sumber daya sesuai jadwal keperluan yang telah ditetapkan. Tujuan perencanaan tersebut adalah mengusahakan agar sumber daya yang dibutuhkan tersedia tepat pada waktunya, tidak boleh terlalu awal atau terlambat, karena keduanya merupakan pemborosan. Oleh karena itu, untuk merencanakan tenaga kerja proyek yang realistis perlu diperhatikan bermacam-macam faktor, diantaranya yang terpenting adalah :

  1. produktivitas tenaga kerja,
  2. tenaga kerja periode puncak (Peak),
  3. jumlah tenaga kerja kantor pusat,
  4. perkiraan jumlah tenaga kerja konstruksi dilapangan,dan
  5. meratakan jumlah tenaga kerja guna mencegah gejolak (fluctuation) yang tajam.

Adapun perencanaan sumber daya manusia meliputi rancangan organisasi, pengisian personil untuk kantor pusat, mobilisasi dan pelatihan tenaga kerja untuk lapangan. Perencanaan organisasi terdiri dari penyusunan struktur organisasi, termasuk membuat uraian tugas posisi kunci, tanggung jawab, serta jalur komunikasi dan pelaporan. Karena proyek umumnya mengikutsertakan organisasi dari luar organisasi pemilik (kontraktor, konsultan dan lain-lain), penyusunan jalur komunikasi dan pelaporan harus mempertimbangkan hal-hal tersebut. Misalnya, tingkat mana harus melapor kepada siapa. Dalam merencanakan struktur organisasi, berbagai aspek harus dikaji  (seperti besar lingkup, lokasi, tingkat kompleksitas kesulitan, dan lain-lain ).

Perencanaan pengisian personil  (staffing plan) meliputi kegiatan pengadaan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan proyek, dalam arti jumlah, kualitas dan jadwalnya.

Perilaku Kegiatan Proyek (skripsi dan tesis)

Iman Soeharto (1998) menjelaskan bahwa kegiatan proyek dapat diartikan sebagai satu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk atau deliverable yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas.  Lingkup (scope ) tugas tersebut dapat berupa pembangunan pabrik, jalan, jembatan dan lainnya, dari pengertian diatas maka ciri pokok proyek adalah sebagai berikut ini .

  1. Bertujuan menghasilkan lingkup (deliverable) tertentu berupa produk akhir atau hasil kerja akhir seperti bangunan jalan .
  2. Dalam proses mewujudkan lingkup diatas maka ditentukan jumlah biaya, jadwal dan kriteria mutu .
  3. Bersifat sementara, dalam arti umumya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas .
  4. Nonrutin, tidak berulang-ulang. Macam dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung .

Di samping proyek dikenal pula program yang mempunyai sifat sama dengan proyek.  Perbedaanya terletak pada kurun waktu pelaksanaan dan besamya sumber daya yang diperlukan program memiliki skala yang lebih besar daripada proyek. Umumnya, program dapat dipecahkan menjadi lebih dari satu proyek. Dengan kata lain, suatu program merupakan kumpulan dari bermacam-macam proyek .

Selain berbentuk bangunan diatas telah disebutkan bahwa tiap proyek memiliki tujuan khusus, misalnya pembangunan rumah tinggal, jembatan, atau instalasi pabrik. Dapat pula berupa produk hasil kerja penelitian dan pengembangan. Di dalam proses mencapai tujuan tersebut, ada batasan yang harus di penuhi yaitu besamya biaya (anggaran) yang dialokasikan, jadwal, serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek. Ketiga batasan di atas disebut tiga kendala (triple constraint) seperti terlihat pada Gambar 3.2 .

  1. Anggaran

Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi dari anggaran. Untuk proyek-proyek yang melipatkan dana dalam junlah besar dan jadwal pengerjaannya bertahun-tahun, anggarannya tidak hanya ditentukan secara total proyek, tetapi dipecah atas komponen-komponennya atau per periode tertentu (rnisalnya per kuartal ) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode.

  1. Waktu

Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahannya tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.

  1. Mutu

Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan.  Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut merupa instalasi pabrik, maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik harus mampu beroperasi secara memuaskan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jadi memenuhi persyaratan mutu berarti mampu memenuhi tugas yang dimaksudkan atau sering disebut sebagai for the intended use .

Ketiga batasan tersebut bersifat saling tarik menarik, artinya jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan meningkatkan mutu. Hal ini selanjutnya berakibat pada naiknya biaya sehingga melebihi anggaran. Sebaliknya, bila ingin menekan biaya, maka biasanya harus berkompromi dengan mutu atau jadwal .

Fungsi dan Siklus Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Uraian secara garis besar dan sederhana ketiga fungsi manajemen proyek tersebut adalah sebagai berikut ini .

  1. Perencanaan (Planning)

Perencanaan adalah kegiatan pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan organisasi dan penentuan strategi, sasaran, program, target, prosedur, metode, system, anggaran, waktu dan standar-standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi .

  1. Pelaksanaan (Actuating)

Pelaksanaan merupakan proses dan cara/teknik bagaimana menerapkan hasil perencanaan/kegiatan yang telah ditetapkan secara riil (di lapangan), agar tercapai tujuan dari kegiatan yang telah ditetapkan secara optimal .

  1. Pengendalian (Controlling)

Pengendalian adalah upaya yang sistematis agar proses dan hasil pelaksanaan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan melalui proses .

Ketiga fungsi manajemen tersebut menurut Istimawan Dipohusodo (1996) menjadi dasar suatu siklus mekanisme manajemen proyek yang merupakan proses terus menerus selama proyek berlangsung dalam suatu tata hubungan kompleks yang selalu berubah-ubah (dinamis).

Manajemen Proyek Konstruksi (skripsi dan tesis)

Menurut Tadjuddin BMA (2004) manajemen adalah suatu metode/teknik atau proses untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara sistematik dan efektif, melalui tindakan-tindakan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), menggerakkan/melaksanakan (actuating), dan pengawasan (controlling) dengan mengelola dan menggunakan sumber daya yang ada secara efisien .

Adapun beberapa definisi manajemen seperti yang dikemukakan oleh beberapa ahli dibidang manajemen berikut ini .

  1. George R. Terry (Principles of management dalam Tadjuddin BMA, 2004)

Terry menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan/pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling), yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui sumber daya manusia dan sumber daya lain .

  1. James Af Stoner (“Management”dalam Tadjuddin BMA, 2004).

Pengertian manajemen menurut Af Stoner adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan terhadap usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya sumber daya organisasi lainnya, agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan .

3 . Elmor Peterson (“Bussiness Organization and Management” dalam Tadjuddin BMA, 2004)

Peterson menyatakan bahwa manajemen adalah suatu teknik untuk menetapkan maksud dan tujuan dari sekelompok manusia tertentu dan mengklasifikasi serta melaksanakan unsur-unsur manajemen .”

  1. John F. Mee (dalam Tadjuddin BMA, 2004)

John F. Mee menyatakan bahwa manajemen adalah seni untuk mencapai hasil yang maksimal dengan usaha yang rninimal, serta mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan maksimal baik bagi pimpinan maupun para pekerja dan memberikan pelayanan sebaik mungkin pada masyarakat .

5    Marry P. Foflet (dalam Tadjuddin BMA, 2004)

     Foflet menyatakan bahwa manajemen adalah seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain .

  1. Ali B. Siregar dkk-, (Manajemen dalam Tadjuddin BMA, 2004)

Ali B. Siregar menyatakan bahwa manajemen adalah proses untuk memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan tertentu .

Menurut Iman Soeharto (1998) bahwa pengertian dari manajemen proyek  adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan sumber daya perusahaan konstruksi untuk mencapai sasaran jangka panjang pendek yang telah ditentukan. Lebih jauh, manajemen proyek menggunakan pendekatan system dan hierarki (arus kegiatan) vertikal dan horizontal .

Agar pelaksanaan proyek dapat berhasil, ada beberapa ciri-ciri manajemen proyek yang perlu diperhatikan :

  1. tujuan, sasaran, harapan harapan dan strategi proyek hendaknya dinyatakan secara jelas dan terinci sedemikian rupa sehingga dapat dipakai untuk mewujudkan dasar kesepakatan segenap individu dan satuan organisasi yang terlibat,
  2. diperlukan rencana kerja, jadwal, dan anggaran biaya yang realistis,
  3. diperlukan kejelasan dan kesepakatan tentang peran dan tanggung jawab di antara semua satuan organisasi dan individu yang terlibat dalam proyek untuk berbagai strata jabatan,
  4. diperlukan mekanisme untuk memonitor, mengkoordinasikan, mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan tugas dan tanggu jawab pada berbagai strata organisasi,
  5. diperlukan mekanisme sistem evaluasi yang diharapkan dapat memberikan umpan balik bagi manajemen. Informasi umpan balik akan dimanfaatkan sebagai pelajaran dan dapat dipakai sebagai pedoman di dalam upaya peningkatan produktivitas proyek,
  6. sesuai dengan sifat dinamis suatu proyek, apabila diperlukan tim proyek atau satuan proyek dapat dimungkinkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mungkin harus bergerak di luar kerangka organisasi tradisonal atau rutin, akan tetapi dengan tetap berorientasi pada tercapainya produktivitas, dan
  7. diperlukan pengertian dan pemahaman mengenai tata cara dan dasar-dasar peraturan birokrasi dan pengetahuan tentang cara-cara mengatasi kendala birokrasi .

Analisis pengendalian proyek dengan menggunakan konsep nilai hasil (Earned Value Concept) (skripsi dan tesis)

Permasalahan dalam studi Fadrizal Lubis (2004) adalah seringnya terjadi keterlambatan waktu yang diakibatkan kinerja proyek yang masih kurang baik selama berlangsungnya pelaksanaan pembangunan jalan ujung-kota lama kabupaten Rokan Hulu .

Tujuan dari studi Fadrizal Lubis (2004) adalah untuk membandingkan antara kemajuan pekerjaan yang sedang berjalan terhadap waktu dan biaya yang tersedia pada pekerjaan tersebut. Dengan metode Konsep Nilai Hasil (Earned Value Concept) dapat diperkirakan kemajuan pekerjaan meliputi waktu dan biaya yang tersedia .

Penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut ini .

  1. Data internal .

           Data internal didapatkan dari perusahaan yang melaksanakan proyek .

  1. Data eksternal .

     Data eksternal diperoleh dari beberapa nara sumber atau instansi terkait yang terlibat dalam pelaksanaan proyek pembangunan jalan tersebut dengan melakukan wawancara, survey lapangan atau pengamatan langsung di lapangan .

Hasil penelitian Fadrizal Lubis (2004) menunjukkan kinerja yang kurang baik terutama indek kerja jadwal (SPI) dari bulan Agustus dengan nilai : 0,936 sampai dengan bulan Desember dengan nilai : 0,320. Akibat kinerja yang kurang baik, menyebabkan pekerjaan ini terlambat dan mengalami kerugian. Pada awal pekerjaan (bulan mei) sampai dengan bulan ke 3 (juli) kemajuan pekerjaan (biaya dan waktu) masih diatas rencana kerja. Kemudian prestasi terus mengalami penurunan sampai bulan ke 8 (Desember) sebesar : – 40,709 % dari prestasi rencana .

Evaluasi kineria biaya dan waktu dengan menggunakan Konsep Nilai Hasil (Earned Value Concept) (skripsi dan tesis)

Permasalahan dalam studi Nusantara (2003) adalah keterlambatan waktu dari rencana time shcedule pada pelaporan kedua pada proyek pembangunan laboratorium terpadu Universitas Islam Indonesia .

Tujuan dari studi Nusantara (2003) adalah untuk mengetahui kinerja waktu dan biaya dari proyek pembangunan laboratorium terpadu guna mengetahui performance keseluruhan proyek serta mengambil tindakan dini terhadap kemajuan proyek. Dengan menggunakan metode konsep nilai hasil tidak hanya mampu menunjukkan varians biaya dan waktu pelaporan, namun juga dapat menunjukkan kinerja dari biaya dan waktu saat pelaporan.

Cara penelitian pada proyek pembangunan laboratorium terpadu Universitas Islam Indonesia adalah sebagai berikut ini .

  1. Data pelaporan prestasi dan biaya disajikan dalam periode mingguan atau per enam hari kerja .
  2. Untuk melihat fluktuasi prestasi pekerjaan keseluruhan proyek diambil data selama 4 kali periode yaitu pelaporan pertama pada 23 – 27 April 2002, pelaporan kedua pada 23 – 27 Juli 2002, pelaporan ketiga pada 21 – 26 Oktober 2002 dan pelaporan keempat pada 30 Desember 2002 – 11 Januari 2003 .
  3. Untuk data anggaran didapat dari jumlah prosentase bobot pekerjaan yang harus dicapai pada saat pelaporan dikalikan dengan rencana anggaran biaya proyek. Untuk data pengeluaran didapat dari keuangan proyek pada saat pelaporan .

Hasil penelitian Nusantara (2003) menunjukkan bahwa biaya proyek mengalami penghematan dimana biaya rencana adalah Rp. 8.217.30,1.745.64,- sementara perkiraan biaya total proyek menurut konsep nilai hasil sebesar Rp. 7.471.405.504,65, sehingga proyek mengalami keuntungan sebesar Rp. 745.897.246,99,-. Dari segi waktu proyek ini memang mengalami keterlambatan dari rencana time shcedule pada pelaporan kedua. Namun dari total waktu yang diberikan oleh pemilik proyek penyelesaian pekerjaan belum terlambat. Penyebab keterlambatan proyek adalah kurangnya sumber daya manusia sehingga prestasi realisasi pekerjaan proyek lebih kecil dari prestasi rencana .

Pengendalian Biaya dan Waktu Pada Proyek Bangunan Gedung Menggunakan Konsep Nilai Hasil (skripsi dan tesis)

Permasalahan  dalam studi Muh Nur Sahid (2003) adalah keterlambatan waktu pelaksanaan pembangunan Gedung Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta sehingga mengakibatkan biaya meningkat dari rancana anggaran tersedia.

Tujuan dari studi Muh Nur Sahid (2003) adalah untuk mengetahui kinerja selama berlangsungnya proyek dan dilakukan optimasi waktu dan biaya. Untuk itu dibutuhkan pengendalian meliputi waktu dan biaya dengan menggunakan Konsep Nilai Hasil dengan metode Simulated Annealing.

Penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. melakukan analisis Varian jadwal dan biaya,
  2. melakukan analisis kinerja pelaksanaan proyek,
  3. melakukan analisis prakiraan biaya pekerjaan tersisa , dan
  4. melakukan analisis jadwal keterlambatan .

Hasil penelitian Muh Nur Sahid (2003) menunjukkan bahwa proyek tidak berjalan sesuai dengan rencana untuk itu dilakukan optimasi, sehingga dihasilkan biaya minimum penyelesaian proyek sebesar Rp. 8.170.835.263,- dengan waktu penyelesaian 83,05 minggu, walau biaya minimum tetapi proyek tetap rugi walaupun ruginya minimum. Biaya proyek akan lebih besar lagi apabila waktu pelaksanaan proyek lebih cepat dari 5 minggu atau lebih terlambat dari 83,05 minggu.

Dampak Limbah Kopi (skripsi dan tesis)

Limbah kopi mengandung beberapa zat kimia beracun seperti alkaloids, tannins, dan polyphenolics. Hal ini membuat lingkungan degradasi biologis terhadap material organik lebih sulit. Limbah kopi yang berupa kulit termasuk limbah organik sehingga mudah terdegradasi oleh lingkungan. Limbah hasil pengolahan kopi yaitu berupa daging buah yang secara fisik komposisi mencapai 48%, terdiri dari kulit buah 42% dan kulit biji 6% (Zainuddin et al, 1995).

Dampak sederhana yang ditimbulkan adalah bau busuk yang cepat muncul. Hal ini karena kulit kopi masih memiliki kadar air yang tinggi, yaitu 75-80% (Simanihuruk et al., 2010) sehingga sangat mudah ditumbuhi oleh mikroba pembusuk. Tentunya, hal ini akan menggangu lingkungan sekitar jika dalam jumlah besar karena dapat mencemari udara. Selain itu, kulit kopi yang terbengkalai juga dapat menjadi media tumbuh bakteri pathogen mengingat kandungan nutrisinya yang masih cuku tinggi. Akibatnya, penyakit yang ditimbulkan dapat menjadi wabah karena dibawa angin atau lalat yang hinggap.

Dampak lingkungan berupa polusi organik limbah kopi yang paling berat adalah pada perairan di mana effluen kopi dikeluarkan. Dampak itu berupa pengurangan oksigen karena tingginya BOD dan COD. Substansi organik terlarut dalam air limbah secara amat lamban dengan menggunakan proses mikrobiologi dalam air yang membutuhkan oksigen dalam air. Karena terjadinya pengurangan oksigen terlarut, permintaan oksigen untuk menguraikan organik material melebihi ketersediaan oksigen sehingga menyebabkan kondisi anaerobik. Kondisi ini dapat berakibat fatal untuk makhluk yang berada dalam air dan juga bisa menyebabkan bau, lebih jauh lagi, bakteri yang dapat menyebabkan masalah kesehatan  dapat meresap ke sumber air minum.

Upaya dan Tahap Minimasi Limbah Kopi (skripsi dan tesis)

II.5          

Upaya miinimasi limbah kopi dapat dibagi menjadi dua, upaya minimasi limbah padat kopi dan upaya minimasi limbah cair kopi.

  1. Upaya minimasi limbah padat kopi

Berikut adalah beberapa cara untuk meminimalisasi limbah padat kopi yang banyak terdiri dari kulit luar dan kulit dalam kopi:

  1. Limbah kopi untuk pengganti briket batubara

Limbah kopi dapat dijadikan sebagai pengganti briket batubara. Hal ini telah dilakukan oleh PT Sari Incoofood di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Dari 1 kilogram ampas kopi yang dihasilkan dalam proses pengolahan biji kopi dapat dihasilkan sebanya 4 ons briket. Pengolahan itu dilakukan dengan mengambil ampas biji kopi. Proses pengolahan cukup sederhana yaitu dilakukan dengan cara mengeringkan limbah kopi. Selanjutnya, limbah dijadikan arang dan kemudian dicetak. Briket dari limbah kopi itu siap dipakai dalam bentuk cetakan bulat, sebesar buah kemiri. Cara memanfaatkannya sama dengan briket batu bara.

  1. Limbah kopi untuk biodiesel

Pengolahan limbah kopi untuk biodiesel ini diproses dengan cara meng-ekstraksi kandungan minyak biodiesel yang ada dalam limbah kopi. Limbah kopi mengandung biodiesel sebesar 10% sampai dengan 20%. Dari total kapasitas produksi kopi dunia yang hampir mencapai angka 16 milyar pon per tahun, diperkirakan berpotensi menghasilkan biodiesel sebesar 340 juta galon.

  1. Limbah kopi untuk pakan ternak

Limbah kopi yang dipakai untuk pakan ternak berasal dari kulit kopi. Formula pakan seimbang dengan menggunakan limbah kulit kopi untuk penggemukan ada takarannya. . Cara pembuatannya adalah campurkan air dengan gula pasir, urea, NPK dan campur dengan Asperigillus Niger kemudian diaerasi 24-36 jam, dan setiap beberapa jam buihnya dibuang. Larutan Asperigillus siap dipakai. limbah kopi dicampur dengan larutan Asperigillus yang siap pakai lalu didiamkan selama 5 hari, maka jadilah limbah kopi terfermentasi. Kemudiaan limbah ini dikeringkan, setelah limbah tersebut kering giling sehingga menjadi tepung limbah kering yang siap menjadi makanan ternak. Hasil yang didapat dari penggunaan limbah kopi ini sangat baik yaitu dapat menghasilkan pertambahan bobot badan kambing dengan menggunakan terapan tehnologi itu rata-rata 108 gram per hari.

  1. Upaya Minimalisasi Limbah Cair Kopi

Kandungan COD dan BOD yang tinggi dalam limbah cair kopi dapat dikurangi dengan penyaringan dan pemisahan pulp. Pada cara ini kandungan COD dan BOD menjadi jauh lebih rendah, yaitu mencapai 3429-5524 mg/l untuk COD dan 1578-3248 mg/l untuk BOD

Bahan-bahan organik padat yang berupa pektin dapat diambil langsung dari air. Jika pektin tidak diambil, maka akan ada kenaikan pH dan COD. Untuk memaksimalkan proses anaerobik pada limbah cair tersebut, maka diperlukan tingkat pH sebesar 6,5-7,5, sementara tingkat pH limbah cair kopi adalah 4, yang merupakan tingkat pH sangat asam. Hal ini bisa diatasi dengan penambahan kalsium hidroksida (CaOH2) kepada limbah cair kopi. Hasilnya, tingkat solubilitas pektin dapat meningkat serta peningkatan COD dari rata-rata 3700 mg/l kepada rata-rata 12650 mg/l.

The Central Pollution Control Board (CPCB) India telah menyarankan sebuah solusi tekhnis yang berdasarkan desain National Environmental Engineering Research Institute (NEERI) untuk mengoolah limbah kopi. Saran dari CPCB ini terdiri dari 3 fase: fase pertama adalah fase netralisasi di mana limbah yang bersifat asam dinetralkan dengan kapur, lalu diikuti dengan pengolahan anerobik dalam laguna dan yang terakhir adalah fase aerobik. Tujuan pengolahan ini adalah untuk menyusaikan BOD dan COD sesuai dengan tingkat yang tak membahayakan.

Biogas reaktor atau bioreaktor juga bisa menjadi alternatif pilihan untuk mengolah limbah cair kopi dengan cara anaerobik.

Limbah Kopi (skripsi dan tesis)

II.4     

Limbah kopi dibedakan menjadi dua macam, yaitu limbah padat pengolahan kopi merah (masak) dan limbah pengolahan kopi hijau (mentah). Pengolahan kopi merah diawali dengan pencucian, perendaman, dan pengupasan kulit luar.  proses ini akan menghasilkan 65 persen biji kopi dan 35 persen limbah kulit kopi. Biji kopi lalu dikeringkan dengan oven. Hasilnya adalah biji kopi kering oven (31 %), yang akan digiling untuk menghasilkan kopi bubuk (21 %). Sedangkan 10 persen lagi berupa limbah kulit dalam.

Proses pengolahan kopi hijau diawali dari penjemuran sampai bobotnya mencapai 38 persen dari bobot basah. kopi kering digiling dan menghasilkan kopi bubuk (16,5 %). Sisanya, 21,5 persen, berupa campuran limbah kulit luar dan kulit dalam.

Limbah cair hasil proses pengolahan kopi mengadung tingkat polusi yang tinggi. Komponen utama limbah cair adalah bahan-bahan organik, yang berasal dari depulping dan proses pengelupasan kulit kopi yang berlendir. Mayoritas dari material organik di dalam limbah cair tersebut mengandung nilai COD yang sangat tinggi sebesar 50000 mg/l, sedangkan BOD mencapai 20000 mg/l.

Limbah (skripsi dan tesis)

I

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), definisi limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Definisi secara umum, limbah adalah bahan sisa atau buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3).

Mahida dan Bennet dalam Zain (2005) menyatakan bahwa limbah adalah buangan cair dari suatu lingkungan masyarakat baik domestik, perdagangan maupun industri yang mengandung bahan organik dan non organik. Bahan organik yang terkandung dalam limbah umumnya terdiri dari bahan nitrogen, lemak, karbohidrat dan sabun. Limbah cair itu sendiri merupakan gabungan atau campuran dari air dan bahan-bahan pencemar yang terbawa oleh air, baik dalam keadaan terlarut maupun tersuspensi yang terbuang dari sumber pertanian, sumber industri, sumber domestik (perumahan, perdagangan dan perkantoran),dan pada saat tertentu tercampur dengan air tanah, air permukaan ataupun air hujan .

Limbah cair yang bersumber dari pertanian (sawah) terdiri dari air yang bercampur dengan bahan-bahan pertanian seperti pestisida dan pupuk yang mengandung nitrogen, fosfor, sulfur, kalsium dan kalium. Limbah yang bersumber 8 dari kegiatan industri umumnya memiliki karakterisasi yang bervariasi antara satu jenis industri dengan industri lainnya. Bahan polutan yang terkandung dalam limbah industri yaitu zat organik terlarut, padatan tersuspensi, bahan terapung, minyak, lemak logam berat serta senyawa toksik. Untuk limbah domestik itu sendiri merupakan semua bahan limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, toilet, tempat cuci pakaian, dan peralatan rumah tangga (Mahida, dalam Zain, 2005)

Metode Pengolahan Basah (skripsi dan tesis)Metode Pengolahan Basah (skripsi dan tesis)

Proses metode pengolahan basah meliputi: penerimaan, pulping, klasifikasi, fermentasi, pencucian, pengeringan, pengawetan dan penyimpanan. Proses Metode pengolahan basah meliputi ; penerimaan, pulping, Klasifikasi, fermentasi, pencucian, pengeringan, Pengawetan dan penyimpanan

  1. Penerimaan

Hasil panen harus secepat mungkin dipindahkan ke tempat pemerosesan untuk menghindari pemanasan langsung yang dapat menyebabkan kerusakan (seperti : perubahan warna buah, buah kopi menjadi busuk).
Hasil panen dimasukkan kedalam tangki penerima yang dilengkapi dengan air untuk memindahkan buah kopi yang mengambang (buah kopi kering di pohon dan terkena penyakit (Antestatia, stephanoderes) dan biasanya diproses dengan pengolahan kering.Sedangkan buah kopi yang tidak mengambang (non floating) dipindahkan menuju bagian peniecah (pulper).

  1. Pulping

Pulping bertujuan untuk memisahkan kopi dari kulit terluar dan mesocarp (bagian daging), hasilnya pulp. Prinsip kerjanya adalah melepaskan exocarp dan mesocarp buah kopi dimana prosesnya dilakukan dilakukan didalam air mengalir. proses ini menghasilkan kopi hijau kering dengan jenis yang berbeda-beda. Macam-macam alat pulper yang sering digunakan : Disc Pulper (cakram pemecah), Drum pulper, Raung Pulper, Roller pulper dan Vis pulper. Untuk di Indonesia yang sering digunakan adalah Vis Pulper dan Raung Pulper. Perbedaan pokok kedua alat ini adalah kalai Vis pulper hanya berfungsi sebagai pengupas kulit saja, sehingga hasilnya harus difermentasi dan dicuci lagi. Sedangkan raung pulper berfungsi sebagai pencuci sehingga kopi yang keluar dari mesin ini tidak perlu difermentasi dan dicuci lagi tetapi masuk ke tahap pengeringan

  1. Fermentas

proses fermentasi bertujuan untuk melepaskan daging buah berlendir (mucilage) yang masih melekat pada kulit tanduk dan pada proses pencucian akan mudah terlepas (terpisah) sehingga mempermudah proses pengeringan. Hidrolisis pektin disebabkan, oleh pektihase yang terdapat didalam buah atau reaksinya bias dipercepat dengan bantuan jasad renik. proses fermentasi ini dapat terjadi, dengan bantuan jasad renik (Saccharomyces) yang disebut dengan proses peragian dan pemeraman. Biji kopi yang keluar dari mesin pulper dialirkan lewat saluran sebelum masuk bak fementasi.

Selama dalam pengaliran lewat saluran ini dapat dinamakan proses pencucian pendahuluan. Di dalam pencucian pendahuluan ini biji kopi yang berat (bernas) dapat dipisahkan dari sisa-sisa daging buah yang terbawa, lapisan lendir, biji-biji yang hampa karena bagian ini terapung di atas aliran air sehingga mudah dipisahkan.

  1. Pencucian

Pencucian secara manual dilakukan pada biji kopi dari bak fementasi dialirkan dengan air melalui saluran dalam bak pencucian yang segera diaduk dengan tangan atau di injak-injak dengan kaki. Selama proses ini, air di dalam bak dibiarkan terus mengalir keluar dengan membawa bagian-bagian yang terapung beupa sisa-sisa lapisan lendir yang terlepas.

Pencucian biji dengan mesin pencucidilakukan dengan memasukkan biji kopi tersebut kedalam suatu mesin pengaduk yang berputar pada sumbu horizontal dan mendorong biji kopi dengan air mengalir. Pengaduk mekanik ini akan memisahkan lapisan lendir yang masih melekat pada biji dan lapisan lendir yang masih melekat pada biji dan lapisan lendir yang telah terpisah ini akan terbuang lewat aliran air yang seterusnya dibuang

  1. Pengeringan

Pengeringan pendahuluan kopi parchment basah, kadar air berkurang dari 60 menjadi 53%. Sebagai alternatif kopi dapat dikeringkan dengan sinar matahari 2 atau 3 hari dan sering diaduk, Kadar air dapat mencapai 45 %. Pengeringan kopi Parchment dilanjutkan, dilakukan pada sinar matahari hingga kadar air mencapai 11 % yang pada akhirnya dapat menjaga stabilitas penyimpanan. Pengeringan biasanya dilakukan dengan menggunakan baki dengan penutupnya yang dapat digunakan sepanjang hari. Rata-rata pengeringan antara 10-15 hari. Pengeringan buatan (suhu tidak lebih dari 55°C) juga banyak digunakansejak pengeringan kopi alami menjadi lebih sulit dilakukan pada perkebunan yang lebih luas.

  1. Curing

Proses selanjutnya baik kopi yang diproses secara kering maupun basah ialah curing yang bertujuan untuk menjaga penampilan sehingga baik untuk diekspor maupun diolah kembali.

  1. Penyimpanan

Buah kopi dapat disimpan dalam bentuk buah kopi kering atau buah kopi parchment kering yang membutuhkan kondisi penyimpanan yang sama. Biji kopi KA air 11 % dan RH udara tidak lebih dari 74 %. Pada kondisi tersebut pertumbuhan jamur (Aspergilus niger, A. oucharaceous dan Rhizopus sp) akan minimal. Di Indonesia kopi yang sudah di klasifikasi mutunya disimpan didalam karung goni dan dijahit zigzag mulutnya dengan tali goni selanjutnya disimpan didalam gudang penyimpanan.

Metode Pengolahan Kopi Secara Kering (skripsi dan tesis)

II.2 

Metode ini sangat sederhana dan sering digunakan untuk kopi robusta dan juga 90 % kopi arabika di Brazil, buah kopi yang telah dipanen segera dikeringkan terutama buah yang telah matang. Pengeringan buah kopi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

  1.  Pengeringan Alami

Pengeringan alami yaitu pengeringan dengan menggunakan sinar matahari, caranya sangat sederhana tidak memerlukan peralatan dan biaya yang besar tetapi memerlukan tempat pengeringan yang luas dan waktu pengeringan yang lama karena buah kopi mengandung gula dan pektin. Pengeringan biasanya dilakukan di daerah yang bersih, kering dan permukaan lantai yang rata, dapat berupa lantai plester semen atau tanah telanjang yang telah diratakan dan dibersihkan. Ketebalan pengeringan 30-40 mm, terutama pada awal kegiatan pengeringan untuk menghindari terjadinya proses fermentasi, Panas yang timbul pada proses ini akan mengakibatkan perubahan warna dan buah menjadi masak.

Pada awal pengeringan buah kopi yang masih basah harus sering dibalik dengan Blat penggaruk. Jenis mikroorganisme yang dapat berkembang biak pada kulit buah (exocarp) terutama jamur (fusarium sp, colletotrichum coffeanum) pada permukaan buah kopi yang terlalu kering (Aspergilus niger, penicillium sp, Rhizopus, sp) beberapa jenis ragi dan bakteri juga dapat berkembang. Lamanya proses pengeringan tergantung pada cuaca, ukuran buah kopi, tingkat kematangan dan kadar air dala,m buah kopi, biasanya proses pengeringan memakan waktu sekitar 3 sampai 4 minggu. Setelah proses pengeringan Kadar air akan menjadi sekitar 12 %.

  1. Pengeringan Buatan (ArtificialDrying)

Keuntungan pengeringan buatan,dapat menghemat biaya dan juga tenaga kerja hal yang perlu diperhatikan adalah pengaturan suhunya. Menurut Roelofsen, pengeringan sebaiknya pada suhu rendah yaitu 55°C akan menghasilkan buah kopi yang bewarna merah dan tidak terlalu keras. Untuk buah kopi kering dengan KA rendah dikeringkan dengansuhu tidak terlalu tinggi sehingga tidak akan terjadi perubahan rasa. Peralatan pengeringan yang biasa digunakan : mesin pengering statik dengan alat penggaruk mekanik, mesin pengering dari drum yang berputar, serta mesin pengering vertika

Proses pengolahan kopi (skripsi dan tesis)

II

Biji kopi yang sudah siap diperdagangkan adalah berupa biji kopi kering yang sudah terlepas dari daging buah, kulit tanduk dan kulit arinya, butiran biji kopi yang demikian ini disebut kopi beras (coffea beans) atau market koffie. Kopi beras berasal dari buah kopi basah yang telah mengalami beberapa tingkat proses pengolahan. Secara garis besar dan berdasarkan cara kerjanya, maka terdapat dua cara pengolahan buah kopi basah menjiadi kopi beras, yaitu yang disebut pengolahan buah kopi cara basah dan cara kering. pengolahan buah kopi secara basah biasa disebut W.I..B. (West lndische Bereiding), sedangkan pengolahan cara kering biasa disebut O.I.B (Ost Indische Bereiding). Perbedaan pokok dari kedua cara tersebut diatas adalah pada cara kering pengupasan daging buah, kulit tanduk dan kulit ari dilakukan setelah kering (kopi gelondong), sedangkan cara basah  pengupasan daging buah di lakukan ketika masih basah.

Pendekatan Distribusi Weibull (skripsi dan tesis)

Di dalam membahas masalah perawatan, maka bentuk distribusi waktu kerusakan biasanya mengikuti suatu pola tertentu, dimana distribusi tersebut dapat memperlihatkan frekuensi kemampuan (performansi) mesin terhadap waktu operasinya. Distribusi waktu kerusakan dikembangkan dari suatu distribusi waktu berjalan (running time) sebelum mengalami kerusakan (break down) dan ini tergantung dari keadaan peralatan tersebut.

Distribusi weibull digunakan untuk menggambarkan kelelahan dari peralatan (mesin) dalam suatu lingkungan operasi yang sama dari mesin, distribusi Weibull merupakan distribusi yang paling umum karena mempunyai beberapa kelebihan diantaranya, distribusi ekuivalen dengan bentuk distribusi lainnya dimana harga parameter bentuk sesuai bila (Walpole dan Myers, 2011):

 < 1 Distribusi Weibull menyerupai distribusi hiper ekponensial

   > 1 Di dapat fungsi kehandalan dengan laju kerusakan yang meningkat

=  1 Distribusi Weibull menyerupai distribusi raylight

= 2 Distribusi Weibull menyerupai distribusi log-normal dengan fase operasi

 = 3 Distribusi Weibull menyerupai distribusi normal

Fungsi-fungsi kegagalan (kelelahan) dari distribusi Weibull meliputi:

  1. Fungsi Kepadatan Kemungkinan Kerusakan f(t)

Probabilitas besarnya terjadinya kerusakan waktu t, sehingga fungsi kemungkinan kerusakan :

F (t) =   e …………………………………………………………….. (2.3)

  1. Fungsi Distribusi Kumulatif  F(t)

Distribusi kumulatif merupakan fungsi kemungkinan terjadinya sebelum waktu t tertentu yang telah ditetapkan.

Fungsi distribusi kumulatif dinyatakan sebagai F(t) dengan :

F(t) = 1-e                                                                                   F (t) =   I- e  …………………………………………………………………………. (2.4)

  1. Fungsi Kehandalan R(t)

Fungsi kehandalan menyatakan hubungan kehandalan dengan waktu t yaitu lamanya komponen melaksanakan fungsinya. Fungsi kehandalan adalah suatu komponen melaksanakan fungsinya. Fungsi kehandalan suatu komponen dinotasikan dengan R(t), dengan :

R(t) =  …………………………………………………………………………….. (2.5)

  1. Fungsi Laju Kegagalan r(t)

Fungsi laju kegagalan dinotasikan dengan r(t) yang merupakan probabilitas gagal pada interval (t,t+h). Fungsi ini sebenarnya merupakan probabilitas terjadinya kerusakan sesaat setelah melampaui waktu dan kondisi tertentu, Maka persamaannya yaitu :

r(t) = e  ………………………………………………………………………………. (2.6)

Tingkat Kehandalan (Reliability) (skripsi dan tesis)

Availibilitas adalah probabilitas suatu peralatan dapat melakukan operasi secara memuaskan pada kondisi tertentu untuk suatu periode waktu (Basya dan Samadhi, 1993). Dari definisi ini dapat diketahui bahwa availibilitas selalu dikaitkan dengan selang waktu pada suatu mesin, tanpa mengalami kerusakan dalam kondisi lingkungan tertentu.

Oleh karena itu variabel yang penting yang berkaitan dengan availibilitas adalah waktu. Secara matematis pengertian availibilitas dinyatakan sebagai perbandingan antara selang waktu efektif berfungsinya mesin peralatan terhadap selang waktu total pemakaian alat. Untuk memperoleh availibilitas mesin  diesel yang maksimal, maka perlu dilakukan inspeksi yang bertujuan untuk mendeteksi terlebih dahulu keadaan alat atau mesin sebelum alat mengalami kegagalan atau kerusakan. Secara spesifikasi asumsi-asumsi yang digunakan (Lerch, 1987) :

  1. Sistem kerusakan mesin diketahui terlebih dahulu.
  2. Inspeksi dapat menghindarkan, menurunkan waktu lamanya perbaikan jika terjadi kerusakan.
  3. Sistem mesin pada saat inspeksi tidak sedang mengalami kerusakan.
  4. Waktu antar kerusakan dengan waktu inspeksi, membutuhkan ongkos tersendiri untuk tiap satuan unit waktu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi peramalan produksi (skripsi dan tesis)

Suatu perusahaan memerlukan sumber daya yang akan digunakan untuk memproduksi barang. Sumber daya tersebut berupa bahan mentah, bahan pendukung, mesin-mesin, tenaga kerja, peralatan pendukung dan lain-lain. Tiap-tiap perusahaan tentu saja akan mempunyai jumlah dan jenis sumber-sumber produksi yang berbeda satu sama lain.

Faktor yang menjadi kendala dalam proses produksi yang mempengaruhi penentuan volume produksi dan tingkat kombinasi produksi optimal antara lain (Reksohadiprodjo dan Gitosudarmo, 2008):

  1. Kapasitas bahan baku

Dengan tersedianya bahan baku dalam perusahaan, maka perusahaan dapat melakukan produksi dan besarnya jumlah kapasitas bahan baku dapat mempengaruhi tingkat produksi yang optimal. Apabila kapasitas bahan baku yang tersedia cukup besar, maka perusahaan dapat memperoleh luas produksi yang lebih besar pula. Sebaliknya apabila jumlah kapasitas bahan baku yang tersedia relatif kecil maka perusahaan akan memperoleh luas produksi yang lebih kecil pula.

  1. Kapasitas mesin

Kapasitas mesin yang dimiliki oleh perusahaan dapat mempengaruhi jumlah output yang dihasilkan selama produksi. Meskipun bahan baku yang tersedia cukup besar jumlahnya, namun apabila kapasitas mesin yang tersedia kurang mencukupi untuk memproses bahan baku tersebut, maka tingkat output yang dihasilkannya pun relatif kecil.

  1. Jumlah tenaga kerja

Tersedianya tenaga kerja dalam perusahaan sangat diperlukan guna pelaksanaan produksi, karena tenaga kerja yang tersedia baik jumlah maupun mutunya sangat menentukan luas perusahaan dalam suatu perusahaan. Perusahaan tidak mungkin melakukan proses produksi melebihi dari kemampuan jumlah tenaga kerja yang dimilikinya.

  1. Batasan permintaan

Batasan permintaan merupakan dasar pedoman bagi  perusahaan untuk menentukan luas produksi. Dalam hal ini, batasan permintaan ditentukan melalui peramalan dengan menggunakan data produksi sebelumnya yang diolah dengan bantuan program. Dalam melakukan perhitungan peramalan tersebut , terdapat sepuluh metode yang dapat digunakan kemudian akan dicari MAD terkecil. Peramalan adalah suatu perkiraan atau dugaan suatu peristiwa/kejadian pada masa yang akan datang sebagai bagian dari integral aktivitas pengambilan keputusan. Dalam melakukan peramalan dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif.

Metode kuantitatif meliputi metode deret berkala ( time series ) dan metode kausal. Yang mana metode time series memprediksi masa yang akan datang berdasarkan data masa lalu untuk menentukan pola masa lalu dan mengekstrapolasi pola tersebut untuk masa yang akan datang. Sedangkan metode kausal mengasumsikan faktor yang diramal memiliki hubungan sebab akibat terhadap beberapa variable independent, sehingga pada akhirnya dapat menentukan hubungan antar faktor dan menggunakan hubungan tersebut untuk meramal nilai-nilai variable independent.

Metode time series menggambarkan berbagai gerakan yang terjadi pada sederetan data pada waktu tertentu. Langkah penting dalam memilih metode time series adalah dengan mempertimbangkan jenis pola data. Pola data dapat dibedakan menjadi empat jenis siklus dan trend (Makridarkis dan Wheelwrightd dalam Yamit, 2007), yaitu :

  1. Pola horizontal, terjadi bilamana nilai data berfluktuasi disekitar nilai rata-rata konstan. Contoh, suatu produk yang permintaannya tidak meningkat atau menurun selama waktu tertentu.
  2. Pola musiman, terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman. Contoh permintaan es krim, jas hujan, dan lain sebagainya.
  3. Pola silkus, terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang seperti siklus bisnis.
  4. Pola trend, terjadi bilaman terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang dalam data.

Definisi Peramalan Produksi (skripsi dan tesis)

 

Peramalan adalah seni dan ilmu untuk memperkirakan kejadian di masa depan (Heizer dan Render, 2004). Menurut Kusuma (1999), peramalan adalah tingkat permintaan satu atau lebih produk selama beberapa periode mendatang. Peramalan produksi penting dan perlu karena beberapa hal, sebagai berikut :

  1. Ada ketidakpastian aktivitas produksi di masa yang akan datang
  2. Kemampuan & sumber daya perusahaan yang terbatas
  3. Untuk dapat melayani konsumen lebih baik, melalui tersedianya hasil produksi yang baik.

Tujuan peramalan dalam manajemen operasional adalah untuk mengurangi ketidakpastian produksi, agar langkah proaktif/antisipatif dapat dilakukan, dan untuk keperluan penjadwalan produksi. Peramalan dapat dipengaruhi oleh lingkungan eksternal dan lingkungan internal perusahaan. Lingkungan eksternal dapat berupa pendapatan konsumen, promosi pesaing,  harga pesaing, ketersedian produk, efektifitas kompetitif, efesiensi saluran yang digunakan, karakteristik pelanggan, dan lain sebagainya. Sedangkan lingkungan internal adalah kebijakan-kebijakan yang dilakukan dalam perusahaan, berupa kebijakan promosi, biaya dan saluran perusahaan (Makridakis et al., 1995).

Beberapa langkah yang perlu diperhatikan untuk memastikan bahwa peramalan permintaan yang dilakukan dapat mencapai taraf ketepatan yang optimal (Baroto, 2002) adalah sebagai berikut :

  1. Penentuan tujuan. Tujuan peramalan tergantung pada kebutuhan informasi para manajer. Analisis peramalan membicarakan dengan cara „decision maker‟ untuk mengetahui apa kebutuhan mereka dan selanjutnya menentukan:
  2. Variabel apa yang diramalkan,
  3. Siapa yang menggunakan hasil peramalan,
  4. Untuk tujuan apa hasil peramalan digunakan,
  5. Peramalan jangka panjang atau jangka pendek yang diperlukan,
  6. Derajat ketepatan peramalan yang diinginkan,
  7. Kapan peramalan diperlukan,
  8. Bagian-bagian peramalan yang diinginkan, seperti peramalan untuk kelompok pembeli, kelompok produk, atau daerah geografis.
  9. Pengembangan model. Model mempermudah pengolahan dan penyajian data untuk dianalisis, bila dimasukkan data input akan menghasilkan output berupa ramalan di masa yang akan datang. Validitas dan reliabilitas ramalan sangat ditentukan oleh model yang digunakan.
  10. Pengujian Model. Pengujian model bertujuan untuk melihat tingkat akurasi, validitasi, dan reliabiltas yang diharapkan. Bila model telah memenuhi tingkat akurasi, validitas, dan reliabilitas yang telah ditetapkan (langkah 1), maka model ini dapat diterima. Perlu dipahami model yang dipilih belum tentu merupakan model yang terbaik.
  11. Penerapan model. Penerapan model dengan cara memasukkan data historis (data masa lalu) untuk menghasikan suatu ramalan.
  12. Revisi dan evaluasi. Hasil ramalan yang telah dibuat harus senantiasa ditinjau ulang untuk diperbaiki. Perbaikan perlu bila terdapat perubahan berarti pada variabel input-an. Hasil peramalan harus dibandingkan dengan kondisi nyata untuk menentukan apakah model peramalan yang digunakan masih memiliki tingkat akurasi yang ditetapkan. Bila tidak, maka model peramalan harus dikembangkan ulang.

Umumnya jumlah yang diproduksi sangat ditentukan oleh besarnya permintaan akan produk. Berdasarkan jumlah permintaan yang diramalkan operasi, maka sub sistem operasi merencanakan dan merancang sistem, dan menjadwalkan sistem serta mengendalikan sistem tersebut. Dalam merencanakan dan merancang sistem tercakup perancangan produk, perancangan proses, investasi dan penggantian peralatan, serta perencanaan kapasitas. Sedangkan dalam penjadwalan sistem tercakup perencanan produksi menyeluruh dan penjadwalan operasi.

Dalam pengendalian sistem (controlling the system) mencakup pengendalian produksi, pengendalian persediaan, pengendalian tenaga kerja dan pengendalian biaya. Ketiga kegiatan tersebut, yaitu perencanaan sistem, penjadwalan sistem, dan pengendalian sistem menentukan hasil keluaran berupa barang atau jasa.

Pengukuran Produktivitas Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Secara umum pengukuran produktivitas berarti perbandingan yang dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis yang sangat berbeda (Sinungan, 2000), yaitu:

  1. perbandingan-perbandingan antara pelaksanaan sekarang dengan historis yang tidak menunjukkan apakah pelaksanaan sekarang ini memuaskan, namun hanya mengetengahkan apakah meningkatkan atau berkurang serta tingkatannya,
  2. perbandingan pelaksanaan antara satu unit (perorangan tugas, seksi, proses) dengan lainnya. Pengukuran seperti ini menunjukkan pencapaian relative, dan
  3. perbandingan pelaksanaan sekarang dengan targetnya dan inilah yang terbaik sebagai memusatkan perhatian pada sasaran serta tujuan.

 Melakukan pengukuran produktivitas sudah banyak metode yang dikembangkan. Untuk setiap metode diperlukan suatu perangkat data dan untuk itu diperlukan pula suatu sistem administri yang sesuai untuk dapat mencatat data-data yang diperlukan secara berkesinambungan, apabila metode yang dipakai sangat pelik dan komplek maka semakin komplek pula administarasi yang harus dilakukan (Syarif, 1987).

Pengukuran produktivitas tenaga kerja dapat dilakukan secara langsung, yaitu dengan membagi output dan input pekerjaan (Reksohadiprojo, 1998). Pengukuran produktivitas dilakukan dengan membagi output dengan input (Syarif, 1987), yaitu:

Produktivitas = Hasil Pekerjaan (Volume)  …………………………….. (3.1)

Jumlah tenaga/waktu

Ukuran hasil pekerjaan (volume) dapat dinyatakan dalam bentuk-bentuk antara lain:

  1. jumlah satuan fisik produk/jasa, dan
  2. jumlah pekerjaan/kerja.

Ukuran jumlah tenaga/waktu dapat dinyatakan dalam bentuk, antara lain:

  1. jumlah tenaga kerja,
  2. jumlah waktu, dan
  3. jumlah material.

Produktivitas penggunaan suatu alat atau bahan tertentu seperti aspal dapat diperbandingkan secara langsung melalui ukuran-ukuran di atas atau melalui pembuatan grafik yang menyatakan perbandingan hasil pekerjaan terhadap penggunaan sumber daya

Produktivitas Dalam Proyek Kontruksi (skripsi dan tesis)

.Salah satu pendekatan manajemen yang digunakan untuk mempelajari produktivitas pekerja adalah work study. Metode ini menyejajarkan dua metoda lain yaitu method study and work measurenment. Metode ini secara sistematik dapat digunakan untuk mengetahui dan memperbaiki/meningkatkan kinerja penggunaan sumber daya dalam proyek. Work study adalah teknik manajemen yang bertujuan meningkatkan produktivitas dengan cara menyempurnakan penggunaan sumber daya secara tepat :

Work study dapat diaplikasikan dalam berbagai kasus. Pada umumnya harapan yang ingin dicapai adalah berikut :

  1. Menentukan metode kontruksi yang tepat dalan suatu proses produksi
  2. Menyempurnakan penggunaan metode pelaksanaan dengan cara mengeliminasi kegiatan yang tidak diperlukan, mengoptimalkan penggunaan pekerja, alat, material
  3. Meningkatkan produktivitas dari suatu kegiatan
  4. Method Study

Fungsi utama Method Study adalah memberikan informasi yang cukup sebagai dasar pengambilan keputusan tentang metode yang akan digunakan, dengan cara melakukan analisi secara sistematis terhadap berbagai alternatif metode, sehingga penggunaan sumber daya secara optimum dapat dicapai. Tujuan utamnya adalah menguji setiap tahap kegiatan dan menjadikan tahap tersebut lebih mudan dan efektif dalam proses produksi. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan eliminasi kegiatan yang tidak perlu, menghindari terjadinya delay dan meminimalisasikan semua kegiatan yang bersifat pemborosan. Untuk mencapai kondisi terbaik dari suatu kegiatan, dapat dilakukan bebrapa cara sebagai berikut :

  1. Memperbaiki lokasi bekerja/lingkungan kerja
  2. Memperbaiki prosedur bekerja
  3. Memperbaiki penggunaan material, alat dan pemakaian pekerja
  4. Memperbaiki spesifiksi produk.

Method Study mcakup bebrapa tahap berikut ini :

  1. Penentuan kasus yang akan dipelajari
  2. Pencatatan data lapangan
  3. Pengujian kegiatan kritis
  4. Pengembangan metode kontruksi
  5. Implementasi metode yang telah disempurnakan
  6. Melakukan penyempurnaan metode dengan cara melakukan pengawasan secara kontinu
  7. Work Measurenment

Setiap metode yang dipilih untuk digunakan dalam melaksanakan proyek kontruksi harus diyakinkan mengenai manfaat dan efisiensinya. Proses evaluasi manfaat ini ditinjau dari bebrapa aspek, diantaranya adalah waktu. Waktu merupakan salah satu kendala dalam proyek konstruksi slain kendala lainnya, yaitu kendala biaya dan mutu. Ketepatan dan kecepatan dalam mlaksanakan pekerjaan dengan menggunakan setiap metode tertentu harus selalu dievaluasi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mendapatkan waktu kerja adalah menggunakan time study

  1. Crew Balance Sheet

Proses pelaksanaan kegiatan dalam melaksanakan proyek konstruksi sebagian bsar menggunakan peralatan. Pendataan pemanfaatan alat dan pekerja sebaiknya dilakukan setiap hari karena hal ini akan digunakan sebagai basis pemberian upah. Selain itu, data dapat dimanfaatkan untuk proses evaluasi kinerja (efektivitas dan efisiensi). Data pekerja dan alat itu nantinya diubah/ditampilkan dalam bentuk diagram yang disebut dengan crew balance sheet.

Pembentukan crew balance sheet diawali dengan pencatatan waktu kerja untuk setiap pekerja dan alat yang digunakan (metode time study). Kemudian hasil pendataan ini dimanfaatkan untuk menentukan waktu yang dikonsumsi oleh setiap pekerja dan alat. Pertimbangan yang derlu diperhatikan dalam pencatatan pendataan antara lain :

  1. Tingkat akurasi dalam mendapatkan waktu standar, disebabkan oleh pencatatan waktu
  2. Pengamatan untuk setiap kegiatan masing-masing pekerja dapat dihitung lebih baik dalam setiap pekerjaan
  3. Pemisahan kegiatan dalam menentukan waktu standar dapat dilakukan sesuai pemisahan kegiatan

Crew balance sheet digambarkan berupa “batang vertikal” yang mempresentasikan setiap pekerja atau peralatan yang digunakan. Ordinat mempresentasikan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan. “Batang vertikal” dibagi menjadi bebrapa bagian yang mempresentasikan subkegiatan (waktu kegiatan, waktu idle, waktu yang tidak efisien, waktu tidak produktif).

Sebagai contoh pada proyek perbaikan jalan yang menggunakan 4 orang pekerja, implmentasi crew bance chart dimulai dengan menghitung besarnya waktu dasar yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan. Jenis Kegiatan yang dapat dipisahkanakan dihitung tersendiri waktu dasarnya. Adapun pemisahan jenis kegiatannya adalah sebagai berikut:

  1. penentuan lokasi-lokasi mana saja yang membutuhkan perbaikan jalan,
  2. memasang rambu-rambu keselamatan,
  3. memperisapkan alat dan bahan perbaikan jalan,
  4. membersihkan jalan yang rusak, dan
  5. melakukan perbaikan jalan.

Kemudian kegiatan-kegiatan tersebut direkapitulasikan waktu dasar pelaksanaannya dengan memperhitungkan waktu produktif (bekerja) dan waktu tidak produktif (tidak bekerja). Contoh perhitungan pada Tabel 3.3.

Tabel.3.3. Contoh Pelaksanaan Waktu Produktif dan Tidak Produktif Pekerja

Kegiatan Waktu dasar Waktu tidak produktif %
a.       Penentuan lokasi-lokasi mana saja yang membutuhkan perbaikan jalan

b.       Memasang rambu-rambu keselamatan

c.       Memperisapkan alat dan bahan perbaikan jalan

d.      Membersihkan jalan yang rusak

e.       Melakukan perbaikan jalan

01:15:00

 

 

00:20:00

 

00:15:00

 

00:25:00

02:30:00

00:10:00

 

 

00:01:00

 

00:00:00

 

00:02:00

00:20:00

10.67%

 

 

5.00%

 

0.00%

 

8.00%

13.33%

Dari tabel 3.3.di atas terlihat bahwa pada kegiatan perbaikan jalan waktu tidak produktifnya adalah yang paling besar (13,33%), sehingga kegiatan ini perlu diteliti lebih lanjut menggunakan metode crew balance chart.

Dari Grafik di atas dapat diketahui bahwa dalam kegiatan perbaikan jalan, pekerja 4 banyak berdiam diri sehingga produktivitasnya rendah, hal ini dapat disikapi dengan memberikan tugas tambahan kepada pekerja tersebut.

Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Penelitian tentang produktivitas telah banyak dilakukan, diantaranya dilakukan di Singapura oleh Low pada tahun 1992. Low menyimpulkan bahwa produktivitas dipengaruhi oleh tujuh faktor, yaitu buildability, structure of industry, training, mechanisation and automation, foreign labour, standarization, building control.

Di Indonesia, penelitian serupa dilakukan oleh Kaming pada tahun 1997. Faktor yang mempengaruhi produktivitas proyek diklasifikasikan menjadi empat kategori utama, yaitu :

1         Metoda dan teknologi, terdiri atas faktor : disain rekayasa, metoda kontruksi, urutan kerja, pengukuran kerja

2         Manajemen lapangan, terdiri atas faktor : perencanaan dan penjadwalan, tata letak lapangan, komunikasi lapangan, manajemen material, manajemen peralatan, manajemen tenaga kerja.

3         Lingkungan kerja, terdiri atas faktor : keselamatan kerja, lingkungan fisik, kualitas pengawasan, keamanan kerja, latihan kerja, partisipasi

4         Faktor manusia, tingkat upah pekerja, kepuasan kerja, insentif, pembagian keuntungan, hubungan kerja mandor-pekerja, hubungan kerja anatar sejawat, kemangkiran

Definisi Produktivitas dalam Proyek Konstruksi (skripsi dan tesis)

Produktivitas didefiniskan sebagai rasio antara input dan output atau rasio antara hasil produksi dengan total sumber daya yang digunakan. Dalam proyek kontruksi, rasio produktivitas adalah nilai yang diukur selama proses kontruksi, dapat dipisahkan menjadi biaya tenaga kerja, material, uang metode dan alat. Sukses atau tidaknya proyek kontruksi tergantung pada efektifitas pengelolaan sumber daya.

Sumber daya yang digunakan selama proses kontruksi adalah material, machines, men, method and money. Penggunaan material dalam proses kontruksi secara efektif sangat tergantung pada disain yang dikehendaki dari suatu bangunan. Penghematan material dapat dilakukan pada tahap pnyediaan, hanling, dan processing selama proses kontruksi. Pemilihan alat yang tepat akan mempengaruhi kecepatan proses kontruksi, pemindahan/distribusi material dengan cepat baik arah horisontal dan vertikal.

Pekerja adalah salah satu sumber daya yang tidak mudah untuk dikelola. Upah yang diberikan sangat bervariasi tergantung pada kecakapan masing-masing pekerja karena tidak ada satu pun pekerja yang sama karakteristiknya. Biaya untuk pekerja merupakan fungsi dari waktu dan metode kontruksi yang digunakan. Pihak yang bertanggung jawab terhadap pengendalian waktu kontruksi dan pemilihan metode kontruksi yang akan digunakan adalah Kepala Proyek.

Produktivitas Secara Umum (skripsi dan tesis)

Produktivitas kerja merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan untuk memenuhi keinginan konsumen. Produktivitas dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Hal ini dapat diimplementasikan interaksi antara karyawan (:pekerja) dan pelanggan yang mencakup (a) ketepatan waktu, berkaitan dengan kecepatan memberikan tanggapan terhadap keperluan-keperluan pelanggan; (b) penampilan karyawan, berkaitan dengan kebersihan dan kecocokan dalam berpakaian; (c) kesopanan dan tanggapan terhadap keluhan, berkaitan dengan bantuan yang diberikan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang diajukan pelanggan (Gaspersz, 2003).

Jika membicarakan masalah produktivitas muncullah situasi yang bertentangan karena belum adanya kesepakatan umum dari para ahli tentang maksud pengertian produktivitas serta kriterianya dalam mengikuti petunjuk-petunjuk produktivitas. Secara umum produktivitas diartikan atau dirumuskan sebagai perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input) Hasibuan (2003).

Apabila produktivitas naik hanya dimungkinkan oleh adanya peningkatan efisiensi (waktu, bahan, tenaga) dan sistem kerja, teknik produksi, dan adanya peningkatan keterampilan tenaga kerja. Menurut Blunchor dan Kapustin yang dikutip oleh Sinungan (1987), produktivitas kadang-kadang dipandang sebagai penggunaan intensif terhadap sumber-sumber konversi seperti tenaga kerja dan mesin yang diukur secara tepat dan benar-benar menunjukkan suatu penampilan yang efisiensi.

Internasional Labour Organization (ILO) mengungkapkan bahwa secara lebih sederhana maksud dari produktivitas adalah perbandingan secara ilmu hitung antara jumlah yang dihasilkan dan jumlah setiap sumber yang dipergunakan selama produksi berlangsung (Hasibuan, 2003). Ravianto (1995) memberikan rumusan produktivitas kerja sebagai berikut.

Produktivitas Kerja = fungsi(Motivasi+Kecepatan kerja + Kepribadian Pekerja + Performa/Kinerja) + Kepuasan Kerja

Faktor-faktor peiningkatan produktivitas, pertama, perbaikan terus menerus, yaitu upaya meningkatkan produktivitas kerja salah satu implementasinya ialah bahwa seluruh komponen harus melakukan perbaikan secara terus-menerus. Pandangan ini bukan hanya merupakan salah satu kiat tetapi merupakan salah satu etos kerja yang penting sebagai bagian dari filsafat manajemen mutakhir. Suatu organisasi dituntut secara terus-menerus untuk melakukan perubahan-perubahan, baik secara internal maupun eksternal. Perubahan internal contohnya, yaitu: (a) perubahan strategi organisasi; (b) perubahan kebijakan tentang produk; (c) perubahan pemanfaatan teknologi; (d) perubahan dalam praktek-praktek sumber daya manusia sebagai akibat diterbitkannya perundang-undangan baru oleh pemerintah. Perubahan eksternal, meliputi: (a) perubahan yang terjadi dengan lambat atau evolusioner dan bersifat acak; (b) perubahan yang tinggi secara berlahan tetapi berkelompok; (c) perubahan yang terjadi dengan cepat karena dampak tindakan suatu organisasi yang dominant peranannya di masyarakat; dan (d) perubahan yang terjadi cepat, menyeluruh dan kontinyu.

Kedua, peningkatan mutu hasil pekerjaan. Peningkatan mutu hasil pekerjaan dilaksanakan oleh semua komponen dalam organisasi. Bagi manajemen, misalnya, perumusan strategi, penentuan kebijakan, dan proses pengambilan keputusan. Yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan kegiatan organisasi yaitu mutu laporan, mutu dokumen, mutu penyelenggaraan rapat, dan lain-lain.

Ketiga, pemberdayaan sumberdaya manusia. Memberdayakan sumberdaya manusia mengandung kiat untuk: (a) mengakui harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang mulia, mempunyai harga diri, daya nalar, memiliki kebebasan memilih, akal, perasaan, dan berbagai kebutuhan yang beraneka ragam; (b) manusia mempunyai hak-hak yang asasi dan tidak ada manusia lain (termasuk manajemen) yang dibenarkan melanggar hak tersebut. Hak-hak tersebut yaitu hak menyatakan pendapat, hak berserikat, hak memperoleh pekerjaan yang layak, hak memperoleh imbalan yang wajar dan hak mendapat perlindungan; (c) penerapan gaya manajemen yang partisipasif melalui proses berdemokrasi dalam kehidupan berorganisasi. Dalam hal ini pimpinan mengikutsertakan para anggota organisasi dalam proses pengambilan keputusan.

Keempat, kondisi fisik tempat bekerja yang menyenangkan.Kondisi fisik tempat kerja yang menyenangkan memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan produktivitas kerja, antara lain: (a) ventilasi yang baik; (b) penerangan yang cukup; (c) tata ruang rapi dan perabot tersusun baik; (d) lingkungan kerja yang bersih; dan (e) lingkungan kerja vang bebas dari polusi udara.

Kelima, umpan balik. Pelaksanaan tugas dan karier karyawan tidak dapat dipisahkan dari penciptaan, pemeliharaan, dan penerapan sistem umpan balik yang objektif, rasional, baku, dan validitas yang tinggi. Objektif dalam arti didasarkan pada norma-norma yang telah disepakati bukan atas dasar emosi, senang atau tidak senang pada seseorang. rasional dalam arti dapat diterima oleh akal sehat. Jika seseorang harus dikenakan sangsi disiplin, status berat-ringannya disesuaikan dengan jenis pelanggarannya. Validitas yang tinggi, dalam arti siapapun yang melakukan penilaian atas kinerja karyawan didasarkan pada tolok ukur yang menjadi ketentuan.

Menurut Dessler (1997), pentingnya peningkatan produktivitas dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi adalah: (a) peningkatan produktivitas dapat berarti peningkatan hasil yang dicapai dengan penggunaan sumberdaya secara efektif dan efisien; dan (b) hal tersebut akan memberikan sumbangan besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih kuat. Kaitannya dengan upah meliputi: (a) aspek peningkatan produktivitas dapat berupa penurunan biaya produksi dan peningkatan kemampuan bersaing karena hasil jumlah produksi bertambah dan harga ditekan lebih rendah; (b) apabila hal tersebut dibarengi dengan pembinaan pasar maka keuntungan akan meningkat; (c) bertambah besarnya keuntungan antara lain dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan tingkat upah dan perluasan usaha. Hubungannya dengan aspek kesejahteraan mencakup: (a) peningkatan produktivitas dapat mempengaruhi kenaikan taraf hidup dan (b) jika upah meningkat maka dapat untuk membiayai kebutuhan hidup akan lebih baik.

Program Pemeliharaan Jalan (skripsi dan tesis)

Program pemeliharaan walaupun mempunyai economic return yang tinggi, akan tetapi tidak begitu menarik di lingkungan dunia konstruksi, karena biaya/paketnya relatif sangat kecil dibandingkan dengan program-program lainnnya seperti peningkatan dan ataupun rehabilitasi. Selain itu program penanganan pemeliharaan jalan dilaksanakan secara partial dan dilaksanakan oleh banyak kontraktor kecil secara tersebar. Hal ini tentu saja tidak efisien, dan dapat dibuktikan melalui pendekatan kuantitatif kontrak-kontrak pemeliharaan rutin yang ada dan disimulasi dengan kontrak pemeliharaan yang berskala besar.

Selain dana yang kecil, waktu pekerjaan kontrak-kontrak pemeliharaan itu hanya berlaku s/d 12 bulan maksimum. Sehingga tidak mendorong industri kontraktor mempunyai peralatan untuk pekerjaan pemeliharaan. Ini merupakan konsekwensi logis dari pertimbangan ekonomis, kalau kontraktor tersebut membeli alat pada saat menang, alat itu belum tentu dapat dipergunakan lagi 12 bulan mendatang, karena dia harus mengikuti tender pada pekerjaan baru. Padahal diketahui bahwa biaya pekerjaan pemeliharaan hanya berkisar 3 s/d 7% dari total biaya jalan.(Antameng, 2005)

Miquel dan J. Condron (1991) dalam studi yang dibiayai oleh Bank Dunia menemukan data bahwa British Columbia dan United Kingdom serta Malaysia yang telah men set-up kontrak maintenance yang tidak partial (Comprehensive). Kontrak tersebut meliputi suatu kawasan besar dan dalam waktu relatif lama. Sebelumnya kontrak pemeliharaan di British Columbia memakan waktu 3 tahun, United Kingdom berjangka waktu 18 bulan dan Malaysia 2 tahun. Berdasarkan jawaban responden terhadap questionnaire yang diajukan oleh Miquel, ditemukan bahwa para kontraktor pada 3 negara tersebut, menghendaki agar kontrak pemeliharaan dapat dilaksanakan selama 5 tahun. Sehingga dapat memberikan kesempatan dan insentif kepada mereka untuk menanam investasi berupa pembelian peralatan pemeliharaan yang berteknologi canggih. Saat ini British Columbia sudah menjalani kontrak pemeliharaan dengan jangka waktu 5 tahun, sedangkan United Kingdom juga melaksanakan 5 tahun kontrak. Malaysia (Taufik Widjojono, 2000) melaksanakan kontrak pemeliharaan dengan jangka waktu 15 tahun.

Jangka waktu kontrak tentunya tidak cukup untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang optimal, diperlukan performance based contract untuk pekerjaan pemeliharaan. Performance based contract akan memberikan sangsi baik kepada pemberi pekerjaan maupun pihak penerima kerja, dan ini tentunya akan berkonsekwensi bahwa kedua belah pihak akan lebih berhati-hati dalam pelaksanaan kontrak.

Zietlow 1999, mendefinisikan performance sebagai bentuk perjanjian antara Penguasa Jalan dengan kontraktor yang menetapkan tingkat minimun dari kinerja pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor dengan parameter yang dapat diukur, sefta mendefinisikan kinerja dari asset system drainase, asset lalulintas, permukaan jalan dan jembatan di dalam konteks outcome dari program pemeliharaan.

Kontrak pemeliharaan berdasarkan kinerja diperkenalkan di Amerika Latin dan banyak negara-negara yang mempergunakan kontrak kinerja untuk pekerjaan pemeliharan jalan. Pengenalan kontrak kinerja untuk pekerjaan tersebut, bersamaan dengan pengenalan Road Fund di Amerika Latin. Adapun bentuk-bentuk standar yang biasa dilaksanakan di Amerika Latin (Africa Technical Note, 1998) adalah sebagai berikut:

  1. IntemationalRoughness Index (IRI) untuk mengukur ketebalan permukaan jalan yang mempengaruhi Biaya Operasi kendaraan.
  2. Tidak adanya “pothole” serta pengawasan terhadap cracks dan rutting.
  3. Jumlah minimum jejak (friction) antara ban mobil dengan permukaan jalan untuk alasan keselamatan.
  4. Jumlah minimum bungkalan dari tanah liat yang menutupi/menghalangi sistem drainase.
  5. Retroflexivity dari road sign and marking.
  6. Pengawasan terhadap tingginya alang-alang atau tumbuhan sampai pada tinggi tertentu

Persyaratan dasar suatu jalan pada hakekatnya adalah dapatnya menyediakan lapisan permukaan yang selalu rata, konstruksi yang kuat sehingga dapat menjamin kenyamanan dan keamanan yang tinggi untuk masa pelayanan (umur jalan) yang cukup lama yang memerlukan pemeliharaan sekecil kecilnya dalam berbagai keadaan.

Konstruksi perkerasan yang lazim pada saat sekarang ini adalah konstruksi perkerasan yang terdiri dari berberapa lapis bahan dengan kualitas yang berbeda, di mana bahan yang paling kuat biasanya diletakkan di lapisan yang paling atas. Bentuk kontruksi perkerasan seperti ini untuk pembangunan jalan-jalan yang ada di seluruh Indonesia pada umumnya menggunakan apa yang dikenal dengan jenis konstruksi perkerasan lentur (Flexible Pavement). Perkerasan lentur (Flexible Pavement) merupakan perkerasan yang menggunakan bahan pengikat aspal dan konstruksinya terdiri dari beberapa lapisan bahan yang terletak di atas tanah dasar,

Masalah kualitas konstruksi jalan di atas sudah banyak dilakukan upaya mengatasinya mulai dari menggunakan spesifikasi baru, mengubah desain perkerasan fleksible dengan rigid pavement, medesentralisasikan desain, melatih para pengawas dan pelaksana, meminta supaya kontraktor memperbaiki AMP dan lain sebagainya, namun realisasinya juga masih belum sesuai yang kita harapkan, masih banyak mutu pekerjaan yang kehandalannya belum sesuai dengan umur rencana yang ditentukan. Jalan yang kita desain dengan umur rencana 10 tahun baru tiga tahun sudah mulai terjadi gejala kerusakan. Kualitas jalan aspal kita masih berkutat pada; bila musim hujan terjadi lobang, dan musim panas masih terjadi rutting. Begitu juga jalan beton yang kita desain 20 tahun baru 3 tahun sudah terjadi kerusakan. Jalan beton baru berumur 3 tahun telah terjadi kerusakan yang cukup merepotkan.

Permukaan perkerasan aspal pada musim panas, terjadi rutting dan lama terjadi lobang dan musim hujan lobang juga muncul cukup banyak. Secara umum deformasi disebabkan terjadinya proses pelelehan campuran aspal pada temperatur alam dan pre compacted oleh roda kendaraan sehingga Void in Mix tidak dapat lagi menampung proses pemuaian aspal pada saat leleh karena temperatur alam (temperatur dipantura pada siang hari mencapai 65°C). Kejadian ini dapat dipahami karena aspal yang digunakan berupa aspal minyak dengan titik lembek 48° C. Penambahan filler yang baik seperti semen bisa menaikkan titik lembek campuran aspal sampai 10° C hal ini berarti Softening Point asphalt campuran (hotmix) hanya bisa mencapai temperatur 58° C, lebih rendah dari aktual. (Purnomo, 2005).

Dari berbagai uraian di atas maka salah satu faktor yang penting dalam operasi pemeliharaan jalanadalah pemilihan aspal yang digunakan karena berkaitan dengan produktivitas penggunaan sumber daya tenaga, waktu dan biaya.

Secara teknis pemeliharaan jalan aspal menggunakan aspal dingin (emulsi) sangat mudah dan cepat dilakukan, namun apakah secara ekonomispun biaya perbaikannya berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan aspal panas (minyak). Oleh karena itu diperlukan analisis menganai manfaat dan biaya (cost-benefit) untuk dijdikan dasar pengambilan keputusan. Menurut Kuiper dalam Kodoatie (2005), ada tiga parameter yang sering dipakai dalam analisis manfaat dan biaya, yaitu:

  1. Perbandingan Manfaat dan Biaya (Benefit/Cost atau B/C)
  2.  Selisih Manfaat dan Biaya (Net Benefit)
  3. Tingkat Pengembalian (Rate of Return)

Ketiga parameter untuk kedua jenis lapis permukaan jalan akan diperbandingkan produktivitasnya dan dialisis secara aktual di lapangan untuk mengetahui mana yang lebih baik dan untuk menganalisis apakah perbedaannya signifikan atau tidak.

Pekerjaan Laburan Aspal Dua Lapis (Burda) (skripsi dan tesis)

Pekerjaan laburan aspal dua lapis (Burda) telah distandarkan oleh Dirjen Bina Marga dalam bentuk Analisa Harga Satuan dengan kode analisa K617. Anggapan-anggapan yang digunakan dalam analisa harga satuan tersebut adalah:

  1. Hasil kerja 600m2/hari
  2. Agregat ukuran tunggal 19 mm dan 9,5 mm tersaring produksi unit pemecah batu ditimbun di lokasi pekerjaan oleh pemasok
  3. Permukaan yang akan diaspal telah selesai dipadatkan dan terikat dengan binder
  4. Lapis primer/resap permukaan menggunakan aspal cutback @ 1L/m2
  5. Lapis seal/penutup menggunakan aspal cutback @ 1,61L/m2 dan @ 1,31L/m2
  6. Agregrat ukuran tunggal dihampar dari dumptruck penghampar @ 60m2/ m3
  7. Sesuai rev. Spek. Umum B.M. maret,89-Buku 3

Sedangkan proses pelaksanaan pekerjaan laburan aspal dua lapis (Burda) adalah sebagai berikut:

  1. Bersihkan permukaan tidak beraspal dari oli dan material lepas
  2. Permukaan perkerasan dilapis prime aspal cutback
  3. Bersihkan dan tutup permukaan yang sudah dilapis dengan dua lapis aspal cutback dan serpihan agregat
  4. Tiap lapis digilas dengan mesin gilas pneumatic roda karet.

Pada pengerjaan Burda diperlukan tiga buah komponen pendukung yaitu pekerja, material, dan peralatan. Rincian masing-masing komponen tersebut untuk volume perkjaan 1800 m2 dapat dilihat pada tabel 3.1:

Tabel 3.2. Tabel  Analisis Harga Satuan Pengerjaan Burda

Komponen Vol Hari Kode Total Vol

(org.hari)

1.      Pekerja a. Mandor

b.Operator terlatih

c. Pembantu Operator

d.                 Supir terlatih

e. Pembantu supir

f. Buruh tak terampil

g.Buruh terampil

1

2

2

1

1

12

2

3

3

3

3

3

3

3

L061

L081

L089

L091

L099

L101

L106

3

6

6

3

3

36

6

      Satuan Kode Total Vol
2.      Material a. Batu sungai tersaring

b.Aspal

c. Minyak baker

d.                 Alat Bantu (set@3 alat)

  m3

kg

lt

set

K017

M061

M065

M170

48,00

5750,00

1270,00

1,44

3.      Peralatan a. Mesin gilas roda karet 8-15 ton

b.Mesin penyemprot aspal

c. Dump truck 3,5 ton/115HP

1

 

1

1

3

 

3

3

E084

 

E153

E211

15,00

 

15,00

15,00

 

Sumber: Analisa Harga Satuan Kode K617 Dirjen Bina Marga

Aspal Secara Umum (skripsi dan tesis)

Dari sejarah dapat diketahui bahwa aspal, atau asphalt (Amerika) atau bitumen (Inggris) telah digunakan sejak dahulu untuk beberapa keperluan baik digunakan untuk pengerasan jalan, maupun untuk pengawetan jenasah dan lain-lain.

Aspal tersusun atas senyawa hydrogen (H) dan karbon (C) yang terdiri dari parafins, naptene dan aromatic. Bahan-bahan tersebut membentuk kelompok-kelompok yang disebut:

  1. Asphaltenese

Kelompok ini membentuk butiran halus, berdasarkan aromatic benzene structure serta mempunyai berat molekul yang tinggi.

  1. Oils

Kelompok ini membentuk cairan yang melarutkan asphaltenese, tersusun dari paraffin (waxy), cyclo paraffin (wax-free),dan aromatic serta mempunyai berat molekul yang rendah

  1. Resins

Kelompok ini membentuk cairan yang menyelubungi asphaltenese dan mempunyai berat molekul yang sedang. Selanjutnya gabungan resin dan oil sering disebut sebagai maltenese.

Menurut jenisnya aspal dapat dibedakan menjadi: (Suprapto, 2004)

  1. Aspal alam

Aspal jenis ini banyak terdapat di alam, seperti lake asphalt di Trinidad Bermuda dan rock asphalt di Pulau Buton Indonesia yang terkenal dengan sebutannya Asbuton (aspal batu buton). Biasanya aspal jenis ini banyak tedapat di daerah yang mengandung minyak bumi.

Kadar bitumen pada aspal alam ini hanya mencapai kurang lebih 30 % sehingga kurang baik untuk langsung digunakan. Oleh karenanya banyak usaha yang dilakukan unuk memperbaiki karakteristik aspal alam.

  1. Aspal Panas

Aspal atau bitumen yang merupakan campuran dari hydrogen (H) dan Carbon (C) yang sangat kompleks. Aspal panas dapat diperoleh dari dari (1) bahan hewani yang diperoleh dari crude oil pada proses akhir pengolahan minyak, di dalam proses penyaringan crude oil, tidak semuanya dapat menghasilkan aspal (2) bahan nabati yang diperoleh dari pengolahan batu bara (disebut tar). Perbedaan kedua jenis aspal minyak ini adalah dari baunya.

Aspal jenis ini banyak digunakan pada pekerjaan coating/pelapisan jalan (misalnya: perbaikan) dan pembuatan beton aspal campuran dingin (cold mix) atau digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat aspal semen atu aspal lain dengan wujud yang berbeda.

  1. Apal Emulsi (Emulsified Asphalt)

Aspal ini dibuat dari bahan dasar aspal, air, dan bahan tambah (agent) dengan cara mendispersikan aspal ke dalam diaran (air) dalam bentuk butiran-butiran halus. Agar bahan yang dicampur dapat bertahan yaitu butiran aspal tidak berkumpul dan menggumpal maka perlu diberikan tambahan bahan lain yaitu surface active agent (bahan pengemulsi).

Daya lekat antara aspal emulsi dan permukaan batu/jalan, sangat tergantung dari proses penguapan air dan realsi kimia antara kedua permukaan yang bersentuhan tersebut. Kelebihan aspal emulsi ini adalah tidak adanya bahaya kebakaran pada saat penggunaannya (hingga sering disebut aspal dingin), tidak ada polusi, bitumen keras dapat diperoleh dalam keadaan cair, cocok dengan pekerjaan yang relative kecil dengan unskilled labour.

Perbandingan keunggulan dan kekurangan antara aspal emulsi dan aspal panas,dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 3.1. Perbandingan Keunggulan dan Kekurangan Aspal Emulsi dan Aspla Panas

Jenis Aspal Keunggulan Kekurangan
Aspal Panas –          Harga satuan lebih murah

–          Tidak terpengaruh oleh cuaca hujan

–          Dapat digunakan sebagai campuran untuk membuat beton aspal

–          Efisiensi penggunaan rendah karena bentuknya semi padat sehingga banyak tertinggal di dalam drum

–          Dibutuhkan pemanasan terlebih dahulu sebelum digunakan

–          Peralatan dan pengerjaan lebih sulit dan tidak cocok dengan pekerjaan yang relaitf kecil dengan unskilled labour

–          Dapat terjadi bahaya kebakaran pada saat penggunaannya, dan menyebabkan polusi.

Aspal Emulsi –          Efisiensi penggunaan tinggi karena bentuknya cair sehingga dapat digunakan sampai habis

–          Tidak dibutuhkan pemanasan   terlebih dahulu sebelum digunakan

–          Peralatan dan pengerjaan cukup mudah dan cocok dengan pekerjaan yang relative kecil dengan unskilled labour

–          Tidak adanya bahaya kebakaran pada saat penggunaannya, tidak ada polusi.

–          Harga satuan lebih mahal

–          Terpengaruh oleh cuaca hujan karena akan larut dalam air

–          Tidak dapat digunakan sebagai campuran untuk membuat beton aspal

Sumber: PT Hutama Prima (2003)

Pemerataan dan Perluasan Memperoleh Pendidikan (skripsi dan tesis)

Dunia pendidikan di Indonesia masih menghadapi beberapa permasalahan besar yaitu: (Kodoatie, 2005)

  1. Rendahnya pemerataan memperoleh pendidikan
  2. Rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan
  3. Lemahnya manajemen pendidikan

Dengan otonomi daerah yang termasuk di dalamnya otonomi pendidikan, penyelenggaraan pendidikan jenjang dasar sampai dengan jenjang menengah termasuk pendidikan luar sekolah, hampir seluruhnya menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten/Kota. Sehingga diharapkan pengelolaan pendidikan akan lebih baik.

Suatu hal dikatakan efektif jika dapat mencapai atau memenuhi apa yang menjadi tujuannya. Dalam konteks efektifitas sekolah, maka sekolah yang efektif adalah sekolah yang dapat mengembangkan fungsi-fungsi sekolah yang ditetapkan sebagai kapasitas sekolah untuk memaksimumkan pencapaian pelaksanaan fungsi-fungsi sekolah tersebut.

Pemerataan dan perluasan pendidikan atau bisa disebut perluasan kesempatan belajar merupakan salah satu sasaran pembangunan pendidikan. Pemerataan dan perluasan pendidikan dimaksudkan agar setiap orang mepunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan itu tidak dibedakan menurut jenis kelamin, status sosial ekonomi, dan lokasi geografis.

Kebijakan ini menekankan bahwa setiap orang tanpa memandang asal-usulnya mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan pada seua jenis jenjang, maupun jalur pendidikan. Sasaran kebijakan ini adalah untuk menciptakan keadilan dalam pelayanan pendidikan untuk semua segmen masyarakat. Pemerataan ini dimaksudkan untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan yang merata.

Untuk dapat mencapai kebijakan tersebut maka dibuatlah sekolah-sekolah di daerah terpencil seperti SMP terbuka. Mengingatt Siswa SMP Terbuka diperuntukkan bagi =nggota masyarakat usia sekolah tertutama bagi mereka yang tidak mampu untuk menempuh pendidikan reguler(sekolah umum), baik karena kemampuan ekonomi, jarak tempuh, waktu dan lain-lain sedangkan efektifitas adalah pencapaian sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan maka efektifitas SMP terbuka dapat diukur dengan indikator-indikator sebagai berikuts :

  1. Angka Partisipasi Kasar (APK)

Merupakan perbandingan antara jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk kelompok usia yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase.

Rumus:

APK =  Jumlah siswa di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah penduduk kelompok tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Makin tinggi APK berarti makin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan di daerah, atau makin banyak anak usia di luar kelompok usia sekolah trertentu bersekolah di tingkat pendidikan tertentu. Nilai APK bisa lebih besar dari 100% karena terdapat didwa yang berusia di luar usia resmi sekolah, terletak di daerah terpencil atau perbatasan kota.

  1. Angka Partisipasi Murni (APM)

Merupakan perbandingan antara penduduk kelompok usia sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk usia sekolah yang dinyatakan dalam persentase.

Rumus

APM = Jumlah siswa kelompok sekolah di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah penduduk kelompok usia tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi APM berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah, dan tingkat pendidikan tertentu. Nilai ideal APM adalah 100%, bila lebih dari 100% karena adanya siswa usia sekolah dari luar daerah yag bersekolah di daerah tertentu, diperbolehkannya mengulang di setiap tingkat, daerah kota, atau daerah perbatasan.

  1. Angka Partisipasi Murni Usia Sekolah (APM usia sekolah/APMus)

Merupakan perbandingan jumlah siswa kelompok usia tertentu yang bersekolah pada beberapa jenjang pendidikan dengan pendidikan kelompok usia sekolah tertentu yang sesuai dan dinyatakan dengan persentase.

Rumus

APMus = Jumlah siswa kelompok sekolah di jenjang pendidikan x100%

Jumlah penduduk kelompok usia tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi APMus berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah, dan tingkat pendidikan tertentu. Nilai ideal APM adalah 100%, tidak akan lebih dari 100% karena siswa usia sekolah dan penduduk usia sekolah dihitung dari siswa yang ada di semua jenjang pendidikan pada suatu daerah. Bila ternyata lebih dari 100%, maka perlu dicari tau berapa siswa yang berasal dari daerah lain.

  1. Rasio Siswa per Sekolah (R-S/S)

Merupakan perbandingan antara jumlah siswa dengan jumlah sekolah pada jenjang pendidikan tertentu.

Rumus

R-S/S =  Jumlah siswa di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah sekolah pada jenjang pendidikan tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi rasio berarti semakin padat siswa di sekolah atau kurang jumlah sekolah di suatu daerah

  1. Rasio Siswa per Kelas (R-S/K)

Merupakan perbandingan antara jumlah siswa dengan jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu.

Rumus

R-S/S =  Jumlah siswa di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi rasio berarti semakin padat siswa di kelas atau kurang jumlah kelas di suatu daerah

  1. Rasio Siswa per Guru (R-S/G)

Merupakan perbandingan antara jumlah siswa dengan jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu.

Rumus

R-S/S =  Jumlah siswa di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi rasio berarti semakin banyak siswa yang dilayani oleh guru atau kurang jumlah guru di suatu daerah

  1. Angka Melanjutkan (AM)

Merupakan perbandingan antara jumlah siswa baru di tingkat I pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan jumlah lulusan pada jenjang yang lebih rendah.

Rumus

R-S/S =  Jumlah siswa di jenjang pendidikan tertentu x100%

Jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin tinggi angkanya maka semakin baik. Idealnya=100% berarti seuma lulusan dapat ditempung di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

  1. Tingkat Pelayanan Sekolah (TPS)

Merupakan perbandingan jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah sekolah ekuivalen atau jumlah lulusan terhadap sekolah ekuivalen. Sekolah ekuivalen adalah sekolah yang diasumsikan memiliki 6 kelas. Tingakt pelayanan SD dan jenjang lebih tinggi dibedakan karena masing-masing sekolah melayani siswa yang berbeda. Khusus SD adalah melayani siswa usia 7-12 tahun, sedangkan SLTP dan SLTA adalah melayani lulusan SD dan SLTP yang akan masuk ke SLTP atau SLTA.

Rumus

TPS-SD= Jumlah penduduk 7-12 tahun

              Jumlah sekolah ekuivalen

TPS-SLTP/SLTA= Jumlah lulusan

                               Jumlah sekolah ekuivalen

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Semakin kecil nilainya berarti semakin baik karena semakin banyak kesempatan belajar di sekolah, walaupun demikian ada batas minimalnya.

Standar ideal untuk mengukur pemerataan pendidikan dihitung dari angka nasional untuk tingkat SD, SLTP, maupun SLTA disajikan dalam table berikut:

Tabel 2.1. Standar Ideal Indikator Pendidikan

No Jenis Indikaor Standar Nasional
Tk.SD Tk. SLTP Tk. SLTA
1

2

3

4

5

6

7

8

Angka Partisipasi Kasar

Angka Partisipasi Murni

Angka Partisipasi Murni US

Rasio Siswa per Sekolah

Rasio Siswa per Kelas

Rasio Siswa per Guru

Angka Melanjutkan

Tingkat Pelayanan Sekolah

Sekitar 100%

Mendekati 100%

100%

240

40

40

–

133

Sekitar 100%

Mendekati 100%

100%

360

40

21

100%

116

Sekitar 100%

Mendekati 100%

100%

360

40

21

100%

102

Sumber: ”Data dan Indikator”, Departemen Pendidikan Nasional Balitbang Depdiknas Pusat Statistik Pendidikan 2006

Konsep Efektifitas (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya pengertian efektifitas yang umum menunjukkan pada taraf tercapainya hasil, sering atau senantiasa dikaitkan dengan pengertian efisien, meskipun sebenarnya ada perbedaan diantara keduanya. Efektifitas menekankan pada hasil yang dicapai, sedangkan efisiensi lebih melihat pada bagaimana cara mencapai hasil yang dicapai itu dengan membandingkan antara input dan outputnya.

Istilah efektif (effective) dan efisien (efficient) merupakan dua istilah yang saling berkaitan dan patut dihayati dalam upaya untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Tentang arti dari efektif maupun efisien terdapat beberapa pendapat.

Menurut Chester I. Barnard (Prawirosentono, 1999), menjelaskan bahwa arti efektif dan efisien adalah sebagai berikut :

“When a specific desired end is attained we shall say that the action is effective. When the unsought consequences of the action are more important than the attainment of the desired end and are dissatisfactory, effective action, we shall say, it is inefficient. When the unsought consequences are unimportant or trivial, the action is efficient. Accordingly, we shall say that an action is effective if it specific objective aim. It is efficient if it satisfies the motives of the aim, whatever it is effective or not”.

Bila suatu tujuan tertentu akhirnya dapat dicapai, kita boleh mengatakan bahwa kegiatan tersebut adalah efektif. Tetapi bila akibat-akibat yang tidak dicari dari kegiatan mempunyai nilai yang lebih penting dibandingkan dengan hasil yang dicapai, sehingga mengakibatkan ketidakpuasan walaupun efektif, hal ini disebut tidak efisien. Sebaliknya bila akibat yang tidak dicari-cari, tidak penting atau remeh, maka kegiatan tersebut efisien. Sehubungan dengan itu, kita dapat mengatakan sesuatu efektif bila mencapai tujuan tertentu. Dikatakan efisien bila hal itu memuaskan sebagai pendorong mencapai tujuan, terlepas apakah efektif atau tidak.

Disamping itu, menurut Chester Barnard, (Prawirosentono, 1999), pengertian efektif dan efisien dikaitkan dengan system kerjasama seperti dalam organisasi perusahaan atau lembaga pemerintahan, sebagai berikut :

“Effectiveness of cooperative effort relates to accomplishment of an objective of the system and it is determined with a view to the system’s requirement. The efficiency of a cooperative system is the resultant of the efficiency of the individuals furnishing the constituent effort, that is, as viewed by them”.

Efektifitas dari usaha kerjasama (antar individu) berhubungan dengan pelaksanaan yang dapat mencapai suatu tujuan dalam suatu system, dan hal itu ditentukan dengan suatu pandangan dapat memenuhi kebutuhan system itu sendiri. Sedangkan efisiensi dari suatu kerjasama dalam suatu system (antar individu) adalah hasil gabungan efisiensi dari upaya yang dipilih masing-masing individu).

Dalam bahasa dan kalimat yang mudah hal tersebut dapat dijelaskan bahwa : efektifitas dari kelompok (organisasi perusahaan) adalah bila tujuan kelompok tersebut dapat dicapai sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan. Sedangkan efisien berkaitan dengan jumlah pengorbanan yang dikeluarkan dalam upaya mencapai tujuan. Bila pengorbanannya dianggap terlalu besar, maka dapat dikatakan tidak efisien.

Menurut Peter Drucker (Kisdarto, 2002) menyatakan :

“doing the right things is more important than doing the things right. Effectiveness is to do the right things  while efficiency is to do the things right”

Efektifitas adalah melakukan hal yag benar : sedangkan efisiensi adalah melakukan hal secara benar). Atau juga “effectiveness means how far we achieve the goal and efficiency means how do we mix various resources properly” (efektifitas berarti sejauhmana kita mencapai sasaran dan efisiensi berarti bagaimana kita mencampur sumber daya secara cermat).

Efisien tetapi tidak efektif berarti baik dalam memanfaatkan sumberdaya (input), tetapi tidak mencapai sasaran. Sebaliknya, efektif tetapi tidak efisien berarti dalam mencapai sasaran menggunakan sumber daya berlebihan atau lajim dikatakan ekonomi biaya tinggi. Tetapi yang paling parah adalah tidak efisien dan juga tidak efektif, artinya ada pemborosan sumber daya tanpa mencapai sasaran atau penghambur-hamburan sumber daya.

Efisien harus selalu bersifat kuantitatif dan dapat diukur (mearsurable), sedangkan efektif mengandung pula pengertian kualitatif. Efektif lebih mengarah ke pencapaian sasaran. Efisien dalam menggunakan masukan (input) akan menghasilkan produktifitas yang tinggi, yang merupakan tujuan dari setiap organisasi apapun bidang kegiatannya.

Hal yang paling rawan adalah apabila efisiensi selalu diartikan sebagai penghematan, karena bisa mengganggu operasi, sehingga pada gilirannya akan mempengaruhi hasil akhir, karena sasarannya tidak tercapai dan produktifitasnya akan juga tidak setinggi yang diharapkan.

Penghematan sebenarnya hanya sebagian dari efisiensi. Persepsi yang tidak tepat mengenai efisiensi dengan menganggap semata-mata sebagai penghematan sama halnya dengan penghayatan yang tidak tepat mengenai Cost Reduction Program (Program Pengurangan Biaya), yang sebaliknya dipandang sebagai Cost Improvement Program (Program Perbaikan Biaya) yang berarti mengefektifkan biaya.

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa efektifitas kerja berarti penyelesaian pekerjaan tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Artinya apakah pelaksanaan sesuatu tugas dinilai baik atau tidak sangat tergantung pada bilamana tugas itu diselesaikan dan tidak, terutama menjawab pertanyaan bagaimana cara melaksanakannya dan berapa biaya yang dikeluarkan untuk itu.

Pendidikan di Daerah Terisolir atau Daerah Terpencil (skripsi dan tesis)

Daerah terpencil adalah daerah  yang memiliki kondisi sosial, ekonomi dan fisik relatif tertinggal dibandingkan daerah lain atau sekitarnya, yang dicirikan oleh adanya permasalahan sebagai berikut :

  1. rendahnya tingkat kesejahteraan dan ekonomi masyarakat,
  2. keterbatasan Sumberdaya Alam (rendahnya produktifitas lahan /     kritis minus),
  3. rendahnya aksesibilitas
  4. terbatasnya ketersediaan prasarana dan sarana kawasan,
  5. serta rendahnya kualitas Sumberdaya Manusia.

Berkaitan dengan Penuntasan Program Wajib Belajar 9 Tahun, Departemen Pendidikan Nasional menyatakan bahwa salah satu permasalahan penuntasan Wajar 9 tahun berkaitan dengan daerah terisolir adalah pemerataan dan perluasan akses yang didasarkan pada kenyataan bahwa:

  1. APK rata-rata nasional SMP/MTs/Sederajat tahun 2006 masih 88,68%, sehingga ada sekitar 1,47 juta anak usia 13-15 tahun yang belum mendapatkan layanan pendidikan SMP/MTs/Sederajat.

Anak usia 13-15 yang belum memperoleh layanan pendidikan SMP/MTs/Sederajat tersebut te4rsebar di berbagai daerah yang kondisi geografisnya sangat beragam, di daerah terpencil, terpencar dan terisolir.  Pada wilayah yang seperti ini di samping motivasi mereka terhadap perlunya pendidikan masih rendah, perlu ada layanan alternatif/khusus untuk memudahkan mereka mendapatkan layanan pendidikan.  Masalah lain yang dihadapi pada kondisi daerah seperti ini adalah latar belakang ekonomi masyarakat yang sebagian besar sangat rendah sehingga daya dukung masyarakat terhadap pendidikan pun masih sangat lemah.

  1. Terdapat kurang lebih 452 ribu tamatan SD/MI/Sederajat setiap tahun yang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP/MTs/Sederajat.

Dalam mengupayakan layanan pendidikan dasar yang komprehensif, anak-anak tamatan sekolah dasar/MI atau sederajat yang tidak melanjutkan pendidikannya ke SMP/MTs perlu didukung dengan penyediaan daya tampung yang memadai dan memberikan dorongan agar semangat dan motivasi belajar mereka dapat dilanjutkan.

  1. Angka putus sekolah masih cukup tinggi.

Untuk mensukseskan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar, angka putus sekolah pada pendidikan dasar masih perlu perhatian untuk diturunkan.  Data yang ada menunjukkan bahwa persentase angka putus sekolah di Indonesia untuk SMP/MTs sebesar 2,15% pada tahun 2006 atau sebanyak 247,3 ribu siswa per tahun.  Upaya mempertahankan mereka tetap berada di sekolah dikaitkan dengan penyediaan fasilitas pembelajaran yang memadai dan pemberian dorongan agar motivasi untuk belajar dapat dipertahankan.

Masalah kesenjangan antarwilayah melalui pembangunan daerah tertinggal tetap akan menjadi salah satu perhatian utama pemerintah di dalam memeratakan hasil-hasil pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Upaya tersebut menuntut pentahapan karena besarnya permasalahan yang dihadapi. Dalam tahun 2007, pengurangan kesenjangan antarwilayah difokuskan pada penanganan daerah-daerah perbatasan yang sesungguhnya merupakan beranda negara kita terhadap negara-negara tetangga, serta daerah-daerah terisolir yang di dalamnya juga termasuk pulau-pulau kecil terluar. Dalam konteks pengembangan daerah-daerah perbatasan sebagian besar wilayahnya mengalami masalah ketertinggalan pembangunan akibat aksesibilitasnya yang umumnya terbatas dari ibu kota provinsi. Ketertinggalan tersebut selain berpotensi menimbulkan permasalahan sosial politik dengan negara-negara tetangga, juga mendorong munculnya sejumlah kegiatan yang bersifat ilegal. Dengan demikian, penanganan bagi daerah-daerah ini umumnya menggunakan pendekatan kesejehteraan (prosperity approach) yang diintegrasikan dengan pendekatan keamanan (security approach).

Beberapa masalah pokok di daerah perbatasan dan wilayah terisolir seperti: terbatasnya prasarana dan sarana penunjang ekonomi antara lain transportasi, telekomunikasi, ketenagalistrikan dan informasi, rendahnya akses ke pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, tingginya biaya produksi, serta terbatasnya prasarana sosial seperti air bersih, air irigasi, kesehatan, pendidikan akan mendapat perhatian yang besar.

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Terbuka (SMP Terbuka) (skripsi dan tesis)

Menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Nomor 053/U/1996 Tentang definisi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Terbuka merupakan lembaga pendidikan formal yang tidak berdiri sendiri tetapi merupakan bagian dari SMP Induk yang dalam menyelenggarakan pendidikannya menggunakan metode belajar mandiri.

Siswa SMP Terbuka diperuntukkan bagi Anggota masyarakat usia sekolah tertutama bagi mereka yang tidak mampu untuk menempuh pendidikan reguler(sekolah umum), baik karena kemampuan ekonomi, jarak tempuh, waktu dan lain-lain. Siswa SMP Terbuka dapat pindah ke SMP Lainnya dan sebaliknya.

SMP Terbuka yang dirintis sejak tahun pelajaran 1978/1979 merupakan sekolah lanjutan tingkat pertama yang dirancang khusus untuk melayani para anak tamatan SD/MI/sederajat siswa usia 1315 tahun yang tidak dapat mengikuti pelajaran secara biasa pada SMP Reguler setempat, karena berbagai alasan yang antara lain : keadaan sosial ekonomi orang tua siswa, kendala transportasi dari dan ke SMP, kondisi geografis yang sulit, atau kurangnya waktu bagi anak untuk dapat belajar seperti anak-anak pada umumnya di SMP Reguler. Berbagai ragam kendala tersebut merupakan fenomena dan gambaran secara nyata dari kebanyakan siswa SMP Terbuka yang sebenarnya tetap berkeinginan untuk belajar hingga meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Sebagai salah satu pola dalam pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun, SMP Terbuka telah berjasa dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi para anak tamatan SD/MI/sederajat usia maksimal 18 tahun yang memiliki karakteristik khusus tersebut. Karakteristik dimaksud antara lain adalah rendahnya status ekonomi orang tua atau masyarakat dan keterpencilan tempat tinggal siswa, baik secara sosial maupun geografis yang sulit untuk dijangkau oleh pelayanan pendidikan, baik melalui SMP Reguler maupun jenis pendidikan lainnya yang setingkat. Di samping miskin harta, mereka pada umumnya juga miskin informasi.

Sedangkan Kegiatan Pembelajaran SMP Terbuka dilaksanakan sebagai berikut:

  1. Siswa belajar mandiri atau berkelompok sekurang-kurangnya 16 jam pelajaran dalam satu minggu yang dibimbing oleh guru pamong di Tempat Kegiatan Belajar (TKB)
  2. Siswa belajar secara tatap muka di kelas pada Sekolah induk sekurang-kurangnya 12 jam pelajaran dalam satu minggu yang dibimbing oleh Guru bina

Siswa SMP Terbuka adalah Warga Negara Indonesia dengan syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Usia Maksimal 18 tahun
  2. Berijazah dan mempunyai Surat Tanda Tamat Belajar Sekolah Dasar

Tenaga Kependidikan SMP Terbuka terdiri dari

  1. Kepala Sekolah

Kepala Sekolah dari SMP Terbuka adalah kepala Sekolah Induk.

  1. Guru Bina

Guru bina adalah guru pada sekolah induk yang diberi tugas untuk mengajar di SMP Terbuka sesuai mata pelajaran yang ditentukan.

  1. Guru Pamong

Guru pamong adalah pembimbing belajar mandiri siswa yaitu Anggota masyarakat yang peduli akan pendidikan. Dengan ketentuan pendidikan minimal SMA, dan berada pada lingkungan sekitar Tempat Kegiatan Belajar.

Waktu belajar di TKB disepakati oleh siswa dan guru pamong, waktu belajar dapat diadakan pada pagi, siang atau malam hari. Waktu kegiatan belajar di Sekolah Induk diadakan sesuai ketersediaan waktu dan ruangan yang ada di Sekolah Induk.

Siswa SMP Terbuka sepenuhnya dibebaskan dari pungutan apapun, Hal tersebut dikarenakan biaya operasional SMP Terbuka sepenuhnya dibiayai oleh Pemerintah.

Pengkonsepsikan dan Perancangan Rencana Pembangunan Infrastruktur Sekolah (skripsi dan tesis)

  1. Dalam pembahasan mengenai trend perencanaan pendidikan, kecenderungan masa lalu dan masa kini harus diamati dalam batas-batas lingkungannya dan perencana pendidikan harus mengkaji pola-pola dan kecenderungan yang umum dan menonjol pada manusia, tempat, pergerakan, ekonomi dan aktivitas. Dengan memperhatikan perencanaan lingkungan, perhatian yang harus diarahkan adalah orang dan fungsinya  dalam lingkungan tersebut. Perencanaan melibatkan pengarahan dan pengawasan dari penggunaan dan pengembangan sumber daya manusia dan fisik untuk manfaat sosial dan ekonomi semaksimal mungkin.

Tiga jenis konsep infrastruktur, yaitu:

  1. Infrastruktur linear (air, listrik, lalu lintas dan sebagainya)
  2. Infrastruktur planar (permukaan datar)
  3. Infrastruktur spatial

Seperti kebiasaan umum dalam perencana, infrastruktur linear memungkinkan variasi yang tidak terlalu beragam dibandingkan dengan dua infrastruktur lainnya. Dalam beberapa hal, kota bisa dianggap sebagai suatu kombinasi yang rumit dan dinamis dari infrastruktur linier, palanar dan spatial.

Konsep sistem yang dinamis dan berubah yang ditemukan di kota mengharuskan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan bentuknya. Perkembangan bentuk dan struktur perkotaan memiliki implikasi penting untuk perencanaan kota juga sistem sekolah.

Konsep kepadatan hendaklah tidak ditafsirkan secara kaku. Misalkan di Amerika Serikat, perencana terkesan dengan luasnya wilayah dengan demikian merencanakan keterbukaan perencanaan. Sementara di Eropa dimana kepadatan penduduknya sangat tinggi, sasaran perencanaan adalah memanfaatkan ruang yang ada untuk pemakaian terbaik karena wilayah perkotaan menjadi semakin kompleks diperlukan fleksibilitas yang lebih besar agar bisa memadukan orang dengan tempat, pergerakan biaya dan aktivitas. Secara umum harus mempertimbangkan komunikasi dan konsep pergerakan. Disini harus dipertimbangkan keseimbangan antara peraturan dengan pengendalian dan kebebasan penduduk.

Perencanaan pendidikan akan memberikan kontribusi yang besar jika dapat menilai efektifitasnya berbagai program yang ditanganinya. Bangunan dan ruang lainnya sebagian menunjukkan suatu sistem sosial yang kompleks. Setiap aspek terletak pada hubungan kausal dengan yang lainnya. Aspek  perencanaan fisik fasilitas pendidikan harsu sesuai dengan rencana lain pihak pemerintah maupun non pemerintah.

Prinsip perencanaan, khususnya dalam lingkungan fisik, semuanya berkaitan dengan perencanaan lingkungan pendidikan. Empat perhatian perencana adalah:

  • Sejumlah aktivitas yang tercakup dalam berbagai lembaga pendidikan
  • Kebutuhan manusia akan lembaga pendidikan.
  • Perencanaan fasilitas fisik yang berkaitan dengan proses dan teknik
  • Administrasi gedung dan peralatan sekolah

Pendidikan merupakan suatu sistem dalam lingkungan secara keseluruhan, perencanaan sistem pendidikan hendaknya secara langsung diintegrasikan ke dalam aktivitas perkotaan lainnya. Karena sistem pendidikan bukan merupakan sistem tertutup, maka akan terus berinteraksi dengan bagian lain dari mekanisme perkotaan. Prinsip-prinsip yang dan berlaku untuk sistem kota dan sistem sekolah. Perencanaan pembelajaraan dan proyeksi kebutuhan pembelajaran di masa depan  dalam bidang pembelajaran dapat diprediksi untuk memastikan lingkungan fisik yang paling baik untuk pembelajaran.

Pola dan trend yang mempengaruhi orang, tempat, pergerakan, ekonomi dan aktivitas itu bersatu menjadi suatu gambaran yang bermakna berkenaan dengan proses pendidikan.

  1. Pola dan Kecenderungan Umum Pada Manusia

Perencana pendidkan harsu sesuai dengan pekerjaanya. Perencana pendidikan hendaknya seorang analis yang terampil, evaluator yang efektif dan desainer yang cakap. Perencana merupakan seoranf profesional yang dengan pengalaman atau pendidikan mampu membuat konsep mengenai pedoman pelaksanaan satu tugas sampai selesai. Sebagai analisi dan pesintesi, perencana harus memahami keseluruhan kontribusi komponen sistem pendidikan dan interaksi antar komponen tersebut dalam struktur, penggunaan tanah, prosedur perzinan, transportasi, demografi, interaksi sosial dan sistem sekolah merupakan bagian penting dari latar belakangnya. Fungsi perencanaan itu lebih luas daripada sekedar merancanggedung. Pembuatan desain sistem sekolah dalam wilayah tertentu itu melibatkan sejumlah pengetahuan dan ketrampilan dibanding dengan hanya sekedar memvisualisasikan perencanaan gedung sekolah.

Desain untuk lingkungan fisik, seperti desain perencanaan posisi sekolah menunjukkan aktivitas yang akan terjadi dalam ruang (space). Petunjuk khusus mengenai prencanaan dan perencana memang belum begitu jelas. Dalam kaitannya dengan munculnya kekuatan politik, perencana harsu sangat fleksibel. Namun demikian disiplin perencanaan dibagi ke dalam dua kelompok yaitu:

  • Petunjuk metodologi
  • Petunjuk parsial atau tidak lengkap

Permasalahan perencanaan infrastruktur sekolah terletak pada pembuatan penggunaan lahan atau ruang, sedangkan perencana harus membuat sistem suatu lembaga atau organisasi sehingga berbagai komponen yang berada di dalamnya dapat berinteraksi dan berfunsi secara efektif. Konsep fleksibilitas menjadi semakin kuat dalam sistem perencanaan infrastruktur sekolah serta desain arsitektur gedung. Dua konsep ini sangat jelas, pertama merupakan perubahan dalam aktivitas belajar mengajar dan yang ke dua merupakan keterlibatan aktivitas pendukung komunitas yang memberikan kontribusi pada pengembangan sistem pembelajaran.

Fungsi perencana pendidikan sangat banyak dan beragam, akrean seorang perencana dapat berfungsi sebagai perumus dan pelaksana perencanan, pedoman atau perencanaan, pedoman atau pencapaian tujuan. Perencana harus terus menerus memonitor dan mengevaluasi perencanaan dan bertindak sebagai penyangga untuk memastikan penyelesaian dari perencanaan tersebut. Peran utama perencana meliputi:

  • Pemimpin institusi
  • Perencana profesional
  • Komunikator
  • Promotor

Dengan demikian trend dalam perencanaan pendidikan tampaknya mendapatkan fleksibiltas yang lebih besar dalam pelatihan perencanaan pendidikan dan akibatnya sangat besar fleksibiltasnya dalam perncangan lingkungan fisik untuk pembelajaran. Perubahan tang pesat dalam masyarakat teknologi menuntut bahwa lingkungan fisik untuk belajar itu harus fleksibel agar dapat memastikan bahwa siswa dapat terus mengimbangi perubahan sosial, politik, budaya dan fisik di masa depan.

Pekerjaan perncana pendidikan memerlukan interprestasi ringkas mengenai kebutuhan masyarakat dan bagaimana cara perencanaan tersebut memenuhinya. Dengan demikian, perencanaan harus bersifat komprehensif jika perencanaan itu merupakan perencanaan fisk, sosial, ekonomi, transportasi dan perencanaan pendidikan. Perencana harus menyeimbangkan sesuatu menginginkan dengan sesuatu yang memungkinkan terjadi

  1. Pola dan Kecederungan Yang Menonjol Pada Tempat

Dari awal peradaban,lingkungan fisik mempengaruhi sosial manusia. Manusia menggunakan unsur-unsur alam untuk kepentingan dan pemenuhan tujuan sosialnya. Masalah penting lainnya dari perancang fisik ini adalah penciptaan bentuk-bentuk pemukiman yang menunjukkan lingkungan manusia sebagai bagian dari tatanan alami kehidupan. Ini dilakukan dengan membuat fokus interaksi agar bisa meningkatkan pilihan dalam aktivitas dan hubungan infrastruktur.

Salah satu pengukuran pengaruh lingkungan ini adalah tingkat tanggapan lingkungan terhadap individu. Lingkungan yang sesuai dapat secara efektif mempengaruhi perilaku individu dan membantu menggali pengembangan potensi dasarnya. Bila seluruh sistem dikaji, ada tindakan korektif yang dilakukan untuk bebrapa komponen sistem, sehingga keseluruhan sistem bisa berjalan dengan sangat efektif. Dalam perencanaan pendidikan, pendekatan sistem menyeluruh ini diterapkan dalam fasilitas fisik juga program akademi. Lingkungan fisik harus mampu mendukung individu melakukan sejumlah aktivitas. Setting yang sesuai menekankan siswa sebagai individu dan mengahsilkan konsep diri yang lebih positif karena setting tersebut jelas menggambarkan peran individu tersebut dalam sistem pendidikan.

  1. Pengaruh Fisik

Untuk mempertahankan kondisi lingkungan yang ideal selamanya tidaklah mungkin. Tugas perencana pendidikan dalam hal lingkungan fisik merupakan tugas yang kompleks. Tanggung jawab perencana adalah menciptakan bentuk pendidikan yang akan menghasilkan situasi yang membantu pelajar dengan pengaruh efektif agar berperilaku positif. Namun, lingkungan pendidikan harus dianggap sebagai satu perwujudan yang ada dalam batas-batas aktivitas perkotaan untuk menentukan faktor mana yang efektif dan mana yang tidak efektif, perencana pendidikan harys dapat menganalisa keseluruhan lingkungan perkotaan, sehingga pembelajaran bisa berlangsung dan menggunakan berbagai komponen fisik untuk mendukung proses pembelajaran. Perencana secara umum memiliki standar dan kriteria stres juga pengukuran toleransi manusia. Sehingga yang diperlukan adalah sejumlah indeks untuk mengukur  tingkat keterbukaan, menentukan prioritas dan mengevaluasi situasi yang ada sebagai sebagai faktor-faktor lingkungan yang mengubah dan mempengaruhi individu. Hanya dengan evaluasisubjektif mengenai kualitas lingkungan tertentu sejalan dengan perencana secar efektif dapat mendesain sistem fungsional yang optimal. Sistem seperti itu akan memungkinkan aktivitas pendidikan terlaksana secara selaras dengan aktivitas perkotaan lainnya saat individu bergerak dari satu titik ke titik lainnya dalam seluruh sistem tersebut.

  1. Kewilayahan Tempat

Dalam pergerakan, individu selalu menjadi bagian dari lingkungannya. Individu tergantung pada lingkungan berdasarkan kebutuhan dasarnya. Interaksi yang terus menerus antar individu dan lingkungannya itu membentuk suatu lingkungan pembelajaran yang efektif. Karena itu penting untuk efektivitas pembelajaran, perancangan lingkungan pendidikan juga hendaknya terus mempengarugi individu dan juga dipengaruhi oleh individu tersebut. Lingkungan pembelajaran yang dinamis sangat penting karena keakraban menjadikan individu bisa diterima secara otomatis dan cepat tanggap terhadap lingkungan. Jika lingkungan terus berubah. Lingkungan itu akan lebih merangsang dan menarik.

Bagi setiap makluk hidup, ada pola tertentu dari dimensi lingkungan yang berkaitan dengan apa yang umumnya dijadikan acuan sebagai ecologigal niche (posisi atau peran yang menyenangkan dan nyaman di berbagai tempat dalam komunitasnya). Dengan kata lain, ini berarti pola perilaku tertentu yang dikembangkan individu dan kewilayahan (territoriality) yang dibutuhkan sehingga memungkinkan pola perilaku itu berfungsi secara efektif

Di sini ditekankan mengenai interkasi individu dalam sistem sosial, psikologi dan fisiologi. Faktor-faktor lingkungan tersebut membentuk konsep mengenai kewilayahan seseorang (zona intim, zona pribadi, zona sosial dan zona publik). Konsep ini menunjukkan dorongan dasar umtuk memiliki atau menguasai wilayah tertentu. Perilaku ini berkaitan dengan peran tertentu yang dimainkan individu dalam wilayah tersebut.

  1. Peran Persepsi

Manusia memandang lingkungannya dalam kaitannya dengan latar belakang persepsi. Bentuk, ukuran dan kondis tidak memiliki makna kecuali apabila diungkapkan dalam pengalaman persepsi seseorang. Lingkungan itu sendiri tidak begitu berarti bagi siswa sampai siswa secara aktif terlibat dan berinteraksi di dalamnya. Saat siswa dilibatkan dalam lingkungan siswa menginterprestasikan latar belakang persepsi ini dan memberikan respom pada lingkungan tersebut dengan melibatkan berbagai stimuli.

  1. Pola dan Kecenderungan Umum Pada Pergerakan

Dewasa ini orang, benda, pesan disalurkan dalam orbit jaringan aktivitas yang bergerak dari satu node (titik sambungan dalam suatu jaringan) ke node lainnya. Konfigurasi pergerakan ini tampak juga dalam peregerakan lingkungan perkotaan. Namun individu masih berupa mempersepsi bahwa lingkungan tersebut sifatnya konstan dan stabil.

Pergeraakan penuh dengan pengalaman orang-orang di perkotaan. Setiap hari siswa memulai pengalaman belajar siswa dengan pergerakan untuk memulai ke pusat pembelajaran. Namun pengalaman ini tidak dapat dijadilan bagian dari program pendidikan baik secara formal maupun informal. Akibatnya individu tidak peduli terhadap kekacauan, kemacetan dan bahaya. Namun untuk masa sekarang perencana banyak yang menggunakan perhitungan tersebut untuk melibatkan perhitungan seperti siswa berjalan di koridor pada jam tertentu, jalur sekolah dan lain sebagainya.

  1. Pola dan Kecenderungan Umum Pada Ekonomi

Masalah ekonomi perkotaan sangatlah penting bagi perencana pendidikan karena pendidikan karena perangkat pembuatan kepuutsan dalam mengatasi masalah ini belum berkembang secara efektif, masalah organisasi yang memberi kontribusi pada inefisiensi itu memang beragam.

Salah satu kebijakan ekonomi yang menjadi proses berkelanjutan adalah pembaharuan kota (urban renewal). Di dalamnya tercakup pengembangan wilayah, administrasi proyek, pengembangan fasilitas baru, perbaikan fasilitas baru, pembingkaran fasilitas lama, renovasi dengan memperhatikan kepentingan berbagai pihak sehingga masalah-masalah penggunaan lahan tanah tidak menimbulkan konflik. Pembaharuan kota ini memberikan peluang untuk merancang skema yang komprehensif dengan melibatkan berbagai sistem aktivitasnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi pembangunan rumah (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan lokasi pembangunan rumah,  yaitu : (1) aksesibilitas, yang terdiri dari kemudahan transportasi dan jarak ke pusat kota, (2) lingkungan, dalam hal ini terdiri dari lingkungan sosial dan fisik seperti kebisingan, polusi dan lingkungan yang nyaman, (3) peluang kerja yang tersedia, yaitu kemudahan seseorang dalam mencari pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya, (4) tingkat pelayanan, lokasi yang dipilih merupakan lokasi yang memiliki pelayanan yang baik dalam hal sarana dan prasarana dan lain-lain (Drabkin (1980:68)

Luhst (1997) menyebutkan bahwa kualitas kehidupan yang berupa kenyamanan, keamanan dari suatu rumah tinggal sangat ditentukan oleh lokasinya, dalam arti daya tarik dari suatu lokasi ditentukan oleh dua hal yaitu lingkungan dan aksesibilitas.

  1. Lingkungan oleh Luhst didefenisikan sebagai suatu wilayah yang secara geografis dibatasi dengan batas nyata, dan biasanya dihuni oleh kelompok penduduk. Lingkungan mengandung unsur-unsur fisik dan sosial yang menimbulkan kegiatan dan kesibukan dalam kehidupan sehari-hari. Unsur-unsur tersebut berupa gedung-gedung sekolah, bangunan pertokoan, pasar, daerah terbuka untuk rekreasi, jalan mobil dan sebagainya.
  2. Aksesibilitas merupakan daya tarik suatu lokasi dikarenakan akan memperoleh kemudahan dalam pencapaiannya dari berbagai pusat kegiatan seperti pusat perdagangan, pusat pendidikan, daerah industri, jasa pelayanan perbankan, tempat rekreasi, pelayanan pemerintahan, jasa profesional dan bahkan merupakan perpaduan antara semua kegiatan tersebut. Penilaian dari aksesibilitas bisa berupa jarak dari Central Business Distrik (CBD), kemudahan mendapat pelayanan dari transportasi umum yang menuju lokasi bersangkutan atau bisa juga dilihat dari lebar jalan yaitu semakin sempit lebar jalan suatu lahan, maka berarti aksesibilitas dari tempat yang bersangkutan kurang baik..

Prayogo Mirhard (Wonosuprojo dkk, 1993) membahas tentang pengadaan permukiman bagi berbagai tingkat pendapatan dan penentuan lokasi permukiman yang baik perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Aspek Teknis Pelaksanaan

–       Mudah mengerjakannya dalam arti tidak banyak pekerjaan gali dan urug, pembongkaran tonggak kayu, dan sebagainya.

–       Bukan daerah banjir, gempa, angin ribut, perayapan. – Mudah dicapai tanpa hambatan yang berarti.

–       Kondisi tanah baik, sehingga konstruksi bangunan direncanakan semurah mungkin.

–       Mudah mendapat air bersih, listrik, pembuangan air limbah/ kotoran/ hujan.

–       Mudah mendapat bahan bangunan.

–       Mudah mendapat tenaga kerja.

  1. Aspek Tata Guna Tanah

–       Tanah secara ekonomis lebih sukar dikembangkan secara produktif

–       Tidak merusak lingkungan yang telah ada, bahkan kalau dapat memperbaikinya.

–       Sejauh mungkin mempertahankan fungsi sebagai reservoir air tanah,dan penampung air hujan.

  1. Aspek Kesehatan

–       Lokasi sebaiknya jauh dari lokasi pabrik yang dapat mendatangkan polusi.

–       Lokasi sebaiknya tidak terlalu terganggu kebisingan.

–       Lokasi sebaiknya dipilih yang mudah untuk mendapatkan air minum, listrik, sekolah, puskesmas dan lainnya untuk kepentingan keluarga.

–       Lokasi sebaiknya mudah dicapai dari tempat kerja penghuni.

  1.  Aspek Politik Ekonomis

–       Menciptakan kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat sekitarnya.

–       Dapat merupakan suatu contoh bagi masyarakat disekitarnya untuk membangun rumah dan lingkungan yang sehat.

–       Mudah menjualnya karena lokasinya disukai oleh calon pembeli dan mendapat keuntungan yang wajar.

Goodall (1972) menyebutkan bahwa beberapa pertimbangan yang dilakukan oleh suatu keluarga dalam memilih sebuah rumah yaitu:

  1. suasana kehidupan di lingkungan
  2. lokasi rumah
  3. keadaan fisik rumah
  4. kelengkapan fasilitas rumah
  5. nilai prestisius
  6. harga rumah
  7. pendapatan keluarga

Komaruddin (1997) mengemukaan faktor – faktor pemilihan lokasi perumahan yaitu:

  1. Terjamin kemudahan pencapaian atau aksesibilitas dari dan menuju tempat kerja
  2. Dekat dengan fasilitas sosial dan fasilitas umum
  3. Terhindar dari kerawanan terhadap bencana seperti banjir longsor gempa polusi kebakaran yang membahayakan keselamatan penghuninya
  4. Terjamin secara hukum karena sesuai dengan arahan pemanfaatan tata guna lahan

Brdasarkan uraian teori di atas, maka dalam penelitian ini faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan perumahan yang dibangun secara infill development adalah sebagai berikut (a) Aksesibilitas; (b) Harga tanah; (c) Jumlah penduduk; (d) Biaya

Perkembangan Permukiman di Pinggiran Kota (skripsi dan tesis)

  

Pertumbuhan  kota ke area pinggiran  karena meningkatnya kebutuhan dapat terjadi secara alami.  Kondisi tersebut mengakibatkan  terjadinya  perubahan  penggunaan lahan ke arah luar kota (non urban) terutama untuk memenuhi kebutuhan manusia berupa tempat bermukim telah berlangsung secara bertahap dari waktu ke waktu. Proses perubahan tersebut merupakan  peristiwa terjadinya perubahan  kenampakan fisik kotayang merembet kearah luar yang disebabkan oleh adanya penetrasi  dari  suatu  kelompok  penduduk  area  terbangun  kota  (built  up  area) kearah  luar, sehingga wilayah perbatasan menjadi area yang dituju bagi orientasi perkembangan kota (Adisasmita, 2006). Menurut pendapat Yunus (2002), ketersediaan ruang di wilayah kota dalam kondisi tetap dan terbatas mengakibatkan  pengambilan ruang di area pinggiran kota untuk memenuhi kebutuhan ruang yang digunakan sebagai tempat tinggal dan fungsi-fungsi yang lain.

Tanda-tanda perkembangan kota yang menjalar ke area pinggiran kota dikenal sebagai “invasion” dan proses terjadinya kenampakan fisik kota menuju ke arah luar kota desebut sebagai “urban sprawl” (Northam dalam Yunus, 1994)

Penjalaran fisik kota menurut Northam dalam Yunus (1994)  terbagi menjadi tiga macam model, yaitu :

  1. a)Perkembangan Konsentris (concentric development) adalah penjalaran fisik kota yang bersifat rata pada sisi luar yang terjadi dalam tempo yang lambat dan terdapat tanda-tanda yang mengindikasikan adanya morfologi kota yang kompak.
  2. b)Perkembangan fisik memanjang atau linier (ribbon/linear/axial development) merupakan penjalaran fisik kota pada area yang berada di sepanjang jaringan jalan dan  mengikuti pola jaringan jalan tersebut dan terdapat perbedaan penjalaran dalam setiap bagian perkembangan kota.
  3. c)Perkembangan yang meloncat (leap frog/chercher board development) merupakan penjalaran fisik kota tanpa pola.

Spencer (1979:112),   mengemukakan definisi beberapa alasan yang mendorong perpindahan penduduk ke daerah pinggirann kota: (1) penggunaan tanah untuk permukiman di kota bersaing dengan tanah lain yang lebih komersil, sehingga tanah yang tersedia untuk permukiman semakin berkurang ;(2) penduduk kota semakin meningkat jumlahnya; (3) sarana transportasi menuju pinggiran kota menjadi lebih baik dan fleksibel, sehingga memungkinkan  penduduk  dan  perusahaan-perusahaan   pindah  lebih  jauh  dari pusat-pusat bisnis (kota), menyebar ke pinggiran kota mengikuti jalur transportasi; (4) orang-orang  kota menginginkan  tempat tinggal yang lebih luas dan tenang, karena mereka merasa bahwa tempat tinggal di kota sangat padat dan sesak; (5) Pemerintah  telah  membantu  penduduk  untuk  mengusahakan  pemilikan  rumah yang menarik dengan syarat pembayaran yang ringan di daerah pinggiran kota.

Ruswurm,  1980  dalam  Yunus  (2004:131),  berpendapat  bahwa,  faktor- faktor utama yang mempengaruhi perkembangan pinggiran kota yakni: 1) Pertumbuhan penduduk (population growth); 2) persaingan memperoleh lahan (competition for land); 3) hak-hak kepemilikan (property right); 4) kegiatan “developers” (developers activities); 5) perencanaan (planning controls); 6) perkembangan   teknologi   (technological   development);   7) lingkungan   fisik (physical environement).

Menurut pendapat Rugg (1979 : 71) dalam  Warsono (2006), pinggiran kota merupakan kota yang  letak wilayahnya berada di perbatasan dengan kota di sebelahnya yang memiliki hirarkhi lebih tinggi, berkarakteristik  wilayah pedesaan dan kondisi  intensitas wilayah terbangun lebih rendah dari kota pusatnya, intensitas ini akan menurun dari kota ke desa.

Menurut Bintarto  (1989),  gejala terjadinya perembetan  kota dapat diidentifikasi dari kenampakan  fisik kota ke arah luar yang dapat dilihat melalui terbentuknya zone-zone yang meliputi daerah-daerah  : (1) area yang melingkari sub urban dan merupakan daerah peralihan antara desa kota (sub urban fringe), (2) area batas luar kota yang memiliki sifat-sifat mirip kota (urban fringe), dan (3)  area terletak antara daerah kota dan desa yang   ditandai   dengan   penggunaan   tanah   campuran   (Rural-Urban-Fringe).

Bar-Gal, 1987 dalam Kustur (1997:4), mengemukakan bahwa, sebagai  daerah  urban  fringe,  dapat dilihat   melalui  berbagai  karakteristik, seperti peningkatan harga tanah yang drastis, perubahan fisik penggunaan tanah, perubahan  komposisi  penduduk  dan  tenaga  kerja,  serta  berbagai  aspek  sosial lainnya. Evers (1986:29-31) dalam Warsono (2006) berpendapat bahwa, gejala perkembangan perluasan kota terjadi yang terjadi secara terencana maupun tidak direncanakan (natural), berdampak pada perubahan konsep fungsi tanah sebagai gejala baru di pinggiran kota terutama bagi penduduk asli.

Infill Development (skripsi dan tesis)

Arti kata infill menurut Bartsch (et.al ,2001) adalah daur ulang secara kreatif terhadap tanah kosong atau tanah yang kurang dimanfaatkan di dalam kota maupun di pinggiran kota. lstilah infill development berasal dari bahasa lnggris memiliki arti pengembangan pengisian atau  pembangunan sisipan. Hingga  saat  ini  arti yang  pasti tentang infill development yang dapat digunakan  untuk setiap kondisi kota belum terdefinisi. Beberapa literatur yang  ada  menyebutkan  bahwa  infill development merupakan pengembangan lahan kosong, terabaikan, tertinggalkan, yang terletak di tengah kota,  dengan  pengembangan  utamanya  adalah untuk fungsi perumahan (Suradi dan Setiawan : 2004)

Pembangunan infill, secara sederhana berarti   pembangunan atau pembangunan kembali yang dilakukan pada lahan yang terbengkelai, lahan kosong, atau dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembangunan berkelanjutan . Pembangunan infill merupakan komponen dari pengembangan kawasan mixed –use dan alternatif pengembangan perumahan yang ekonomis. Selain itu pembangunan infill juga berperan bagi pembangunan yang menyebar (sprawl) (NH. Department of Environmental Service, 2008).

Infill development adalah perumahan yang dilakukan pada lahan kosong berada di antara bangunan (Seifeddini, 2009). Infill development menciptakan bangunan baru di tempat kosong dan tidak terpakai banyak sentra dan area komersialnya. Tempat-tempat ini biasanya terletak di lingkungan yang memiliki layanan infrastruktur seperti jalan akses, air, listrik dan lain-lain. (Tarnay, 2004).

Pembangunan perumahan infill di Eropa dan Amerika lebih dikenal dengan pembangunan Inflil saja atau infill development. Hal ini diakibatkan karena definisi model  pembangunan infill oleh para peneliti sebelumnya lebih terkonsentrasi pada pembangunan perumahan .

Arti mengenai pembangunan infill hingga saat ini belum ada kesepakatan berupa definisi secara umum. Beberapa peneliti memberikan paparan tentang pengertian pembangunan infill yang mayoritas definisinya berkaitan atau berorientasi pada pembangunan perumahan;

  1. Menurut Moskowitz dan Lindbloom (2004), pembangunan infill merupakan pembangunan perumahan baru atau gedung lain yang dibangun pada lahan kosong yang lokasinya tersebar pada wilayah atau area padat bangunan;
  2. Infill adalah pembangunan bangunan baru pada lahan yang kosong yang berada pada lingkungan terbangun  , yang merupakan upaya untuk mengisi “lubang” pada lingkungan tersebut (Downtown Brookings, Inc. 2004);
  3. Infill adalah pembangunan bangunan baru di lahan kosong yang berada di sepanjang jalan komersial tradisional, yang memiliki hubungan yang harmonis dengan bangunan-bangunan tua yang terdapat di sekelilingnya.  (City of San Benardino, 2002);
  4. Infill merupakan pengembangan pada lahan kosong yang berada dalam kondisi tidak terpakai, terbengkalai, atau yang ditinggalkan pada suatu area yang telah memiliki infrastruktur (State of Maryland, 2001);
  5. Infill adalah upaya daur ulang pada lahan kosong atau lahan yang kurang dimanfaatkan pada area di dalam kota atau pinggiran kota (Northwest-Midwest Institute and Congress for New Urbanism, 2001);
  6. An infill lot is defined as “any lot that is bounded on one or more sides by lots with existing residences, in an established neighborhood” (Village of Glenview 2003);

 

  1. “Urban Infill and redevelopment area means an area or areas designated by local government where (a) public service such as water and wastewater, transportation, schools, and recreation are already available or are scheduled to be provided in an adopted five-year scheduled of capital improvement; (b) the area (or one or more neighborhoods whitin the area) suffers from passive poverty, unemployment, and general d istress as defined by s. 290.0058 [1998 Florida statues, chapter 290, section 0058]; (c) the are exhibits a proportion of properties that are substandard, overcrowded, dilapidated, vacant or abandoned, or functionally obsolete that is higher than the average for the local government; (d) more then 50 percent of the area is whitin one –quarter mile of a transit stop, or a sufficient number of such transit stops will be made available concurrent with the designation; and (e) the area includes or adjacent to community redevelopment areas, brownfields, enterprise zones, or Main Street programs, or has been designated bay the state or federal government as an urban redevelopment, revitqalizatin, or infill area under empowerment zone, enterprise community, or brownfield showcase community programs or simiar programs.”(State of Florida 2005;

 

  1. Infill adalah pembangunan kembali yang dilakukan pada lahan kosong yang bertujuan  untuk menambah unit perumahan baru (City of Burlington, 1994);
  2. Pembangunan infill merupakan pembangunan situs kosong yang terdapat di daerah perkotaan dan daerah yang letaknya berdekatan dengan perkotaan, yang bertujuan untuk menyediakan layanan dan fasilitas yang diproyeksikan dapat   menampung permintaan masyarakat (Dalvis, 2004);
  3. Enviion, Utah, (2002) mengemukakan pendapatnya bahwa infill tidak seperti reuse, karena infill terjadi  di lahan yang kosong pada  area yang lebih kecil yang terdapat di daerah yang telah mengalami perkembangan;
  4. Nisenson, (2005) mendefinisikan Infill sebagai pembangunan yang dilakukan  pada area yang telah dikembangkan sebelumnya.

Infill development juga memberkan  implikasi positif  baik  yaitu  (1) dari  segi  fisik  (misalnya efisiensi  lahan dan  mengurangi  konversi  tanah-tanah pertanian di pinggiran kota); (2) dari segi sosial (misalnya mendekatkan  jarak tempat tinggal dengan tempat kerja); dan (3) dari segi  ekonomi  (meningkatkan produktivitas kota). (www.nemw.org, dalam Suradi dan Setiawan : 2004).

Menurut Yunus (1999), oleh karena ketersediaan ruang di dalam kota tetap dan terbatas, maka secara alamiah terjadi pemilihan alternatif dalam memenuhi kebutuhan ruang untuk tempat tinggal. Evers dalam Warsono dkk (2009) mengemukakan bahwa, gejala perkembangan perluasan kota yang secara terencana maupun tidak direncanakan (natural), berimplikasi pada berubahnya konsep fungsi tanah sebagai gejala baru di pinggiran kota terutama bagi penduduk asli. Sebagaimana dikatakan oleh Spencer dalam Warsono dkk (2009)  bahwa, proses perkembangan kota ke arah pinggiran yang cenderung alamiah, daripada terencana, merupakan suatu gejala sub-urbanisasi prematur dan tidak terencana, sehingga menciptakan perluasan kota yang liar dan tidak teratur, serta tidak terkendali.

Infill development adalah pembangunan perumahan yang dilakukan pada lahan kosong yang tersisa di antara bangunan yang padat (Seifeddini, 2009).

Rumah (skripsi dan tesis)

Berdasar  Kamus Besar Bahasa Indonesia,  rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal. Sementara itu terdapat  beberapa definisi mengenai rumah yaitu;

  1. Berdasar UU Republik Indonesia No. 1 Tahun 2011, rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana bagi pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya.
  2. Menurut Oxford Dictionary,  house is a building for human habitation, especially one that consist of a ground floor and one or more upper storeys.(https://en.oxfordditionaries.com).
  3. Berdasar Cambridge Dictionary, house is a buliding that people, usually one family, live in (https://dictionary.cambridge.org)
  4. Menurut Webster Dictionary, house is a structure intended or used as a habitation or shelter for animals of any kind; but especially, a building or edifice for the habitation of man; a dwelling place, a mansion. House a bulit to live in, not look on. (http://www.webster-dictionary.org)
  5. Rumah adalah tempat hunian atau berlindung dari pengaruh keadaan alam sekitarnya (hujan dan panas) serta merupakan tempat untuk beristirahat setelah melakukan aktifitas untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari. Rumah harus dapat mewadahi kegiatan penghuninya dan cukup luas bagi seluruh pemakainya, sehingga kebutuhan ruang dan aktivitas setiap penghuninya dapat berjalan dengan baik. Lingkungan rumah juga sebaiknya terhindar dari faktor- faktor yang dapat merugikan kesehatan (Hindarto, 2007)

Manfaat Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)

Menurut Norken et al (2012:12), manfaat manajemen risiko yang diberikan terhadap perusahaan dapat dibagi dalam 4 (lima) kategori utama, yaitu:

  1. Manajemen risiko mungkin dapat mencegah perusahaan dari kegagalan.
  2. Manajemen risiko menunjang secara langsung peningkatan laba. Manajemen risiko dapat memberikan laba secara tidak langsung.
  3. Adanya ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya perlindungan terhadap risiko murni, merupakan harta non material bagi perusahaan itu.
  4. Manajemen risiko melindungi perusahaan dari risiko murni, dan karena kreditur pelanggan dan pemasok lebih menyukai perusahaan yang dilindungi maka secara tidak langsung menolong meningkatkan public image.

Manfaat yang diperoleh dengan menerapkan manajemen risiko antara lain (Mok et.al,1996) :

  1. Memudahkan estimasi biaya
  2. Memberikan pendapat dan intuisi dalam pembuatan keputusan yang dihasilkan dalam cara yang benar.
  3. Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi risiko ketidakpastian dalam keadaan yang nyata
  4. Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk memutuskan berapa banyak informasi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah.
  5. Meningkatkan pendekatan secara sistematis dan logika untuk membuat keputusan.
  6. Menyediakan pedoman untuk membantu perumusan masalah.
  7. Memungkinkan analisa yang cermat dari pilihan-pilihan alternatif.

Sasaran utama manajemen risiko adalah menghindari risiko, yang memunculkan ketidakpastian dan kerugian baik secara proyek, teknis maupun bisnis. Risiko proyek mengancam rencana proyek. Bila risiko proyek menjadi kenyataan maka ada kemungkinan jadwal proyek akan mengalami slip dan biaya menjadi bertambah. Risiko proyek mengidenifikasibiaya, sumber daya, jadwal, pelanggan, personil (staffing dan organisasi), masalah persyaratan. Risiko teknis mengancam kualitas dan ketepatan waktu proyekyang akandihasilkan. Bila risiko teknis menjadi kenyataan makaimplementasinya menjadi sangat sulit atau tidak mungkin. Risiko teknis mengidentifikasi desain potensial, ambiguitas, implementasi, spesifikasi, interfacing, ketidakpastian teknik, verifikasi, keusangan teknik, masalah pemeliharaan, dan teknologi yang leading edengane. Risiko bisnis mengancam viabilitas proyek yang akan dibangun. Risiko bisnis membahayakan proyek. Contoh risiko bisnis adalah pelaksanaan proyekyang baik sebenarnya tidak pernah diinginkan oleh masyarakat, pelaksanaan proyek yang tidak sesuai dengan keseluruhan strategi bisnis bagi perusahaan (risiko strategi), kehilangan dukungan manajemen senior sehubungan dengan perubahan pada fokus atau perubahan pada manusia (risiko manajemen), dan kehilangan hal-halyang berhubungan dengan biaya atau komitmenpersonal (risiko biaya). (Gil dkk, 2014: 1-14)

Sasaran dari monitoring risiko (aktifitas penelurusan proyek) yaitu memperkirakan apakah risiko yang diramalkan benar-benar terjadi, memastikan bahwa langkah aversi risiko yang didefiniskan, untuk risiko telah diterapkan secara benar, dan mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk analisis  risiko masa yang akan datang. (Amornsawadwatana dkk, 2007: 4-8)

Langkah Penanggulangan Risiko (skripsi dan tesis)

Ada tiga faktor yang mempengaruhi konsekuensi jika suatu risiko benar-benar terjadi, yaitu sifatnya risiko yang menunjukkan masalah yang muncul bila terjadi, ruang lingkupnya; menggabungkan kepelikannya (seberapa seriusnya masalah ini) dengan keseluruhan distribusi (berapa banyak proyek yang akan dipengaruhi atau berapa banyak pelanggan terganggu), dan waktunya dengan mempertimbangkan kapan dan untuk berapa lamapengaruh itu dirasakan. Seorang manajer proyek mungkin menginginkan berita buruk terjadi segera mungkin tetapi dalam beberapa kasus penundaan lebih lama akan lebih baik. (Masyhud Ali, 2006)

Langkah-langkah yang direkomendasikan untuk menentukan konsekuensi keseluruhan dari suatu risiko: (Mamduh M. Hanafi, 2006)

  1. Tentukan probabilitas rata-rata dari nilai kejadian untuk masing-masing komponen risiko.
  2. Dengan menggunakan suatu tabel, tentukan pengaruh untukmasing-masing komponen berdasarkan kreteria yangdiperlihatkan.
  3. Lengkapi tabel risiko dan analsis hasilnya seperti dijelaskansebelumnya.

Tim proyek harus melihat tabel risiko pada interval yang regulermengevaluasi lagi masing-masing risiko untuk menentukan kapankeadaan baru menyebabkan probabilitas dan pengaruh berubah. Akibatnya diperlukan penambahan risiko baru ke tabel, menggantirisiko yang tidak relevan dan mengubah pemosisian relatif dari risikolainnya. (Stulz, 2003)

Tingkat referen risiko harus ditentukan sehingga bermanfaat. Sebagian besar proyek, komponen risiko yaitu kinerja, biaya, dukungan dan jadwal mencerminkan tingkat referen risiko. Tingkat referen risiko adalah tingkat degradasi kinerja,peningkatan biaya, kesulitan dukungan, dan melesatnya jadwal yangmenyebabkan proyek diterminasi. (Bramantyo Djohanputra, 2005)

Jika kombinasi risiko menciptakan masalah sehinnga tingkatreferen terlampaui maka kerja berhenti. Tingkat referen memiliki titik tunggal yang disebut referen point/break point dimana keputusan diteruskan atau dihentikansama-sama diterima. Selama penilaian risiko maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:(Mamduh M. Hanafi, 2006)

  1. Tentukan tingkat referen risiko untuk proyek.
  2. Usahakan untuk mengembangkan hubungan antaramasing-masing risikodan masing-masing tingkat referen.
  3. Prediksi himpunan titik referen yang menentukan daerahtereliminasi dibatasi oleh kurva atau area ketidakpastian.
  4. Cobalah memprediksi bagaimana penggabungan kombinasirisiko akan mempengaruhi suatu titik referen

Respon risiko adalah merupakan salah tindakan penanganan yang perlu dilakukan terhadap risiko yang mungkin terjadi. Metode/strategi yang dipakai dalam menangani risiko menurut (norman & flanagan, 1993) yaitu :

  1. Menahan risiko (risk retention), merupakan bentuk penanganan risiko yang mana akan ditahan atau diambil sendiri oleh suatu pihak.
  2. Mengurangi risiko (risk reduction), yaitu tindakan untuk mengurangi risiko yang kemungkinan akan terjadi dengan cara pendidikan dan pelatihan bagi para tenaga kerja dalam menghadapi risiko, perlindungan terhadap kemungkinan kehilangan, dan perlindungan terhadap orang dan properti.
  3. Mengalihkan risiko (risk transfer). Pengalihan ini dilakukan untuk memindahkan risiko kepada pihak lain. Bentuk pengalihan risiko yang dimaksud adalah asuransi dengan membayar premi.
  4. Menghindari risiko (risk avoidance) Menghindari risiko sama dengan menolak untuk menerima risiko yang berarti menolak untuk menerima proyek tersebut.

Langkah pengurangan risiko diperlukan bagi definisi standar dokumentasi dan mekanisme untuk memastikan bahwa dokumendikembangkan secara tepat waktu, guna memastikan kontinuitas. Manajemen risiko dan perencanaan kemungkinan mengasumsikanbahwa usaha pengurangan telah gagal dan risiko menjadi suatukenyataan. Sebagai contoh, diandaikan proyek sedang berlangsung dengan baik dansejumlah orang mengatakan akan keluar dari proyek tersebut maka strategi pengurangan telah dilakukan dengan backupinformasi, dokumentasi dan pengetahuan telah disebar ke semua tim. Manajer proyek akan menyesuaikan lagi jadwal dengan fungsi-fungsi yang telah disusun sepenuhnya dan pendatang baru akan ditambah untuk mengejar dan membagun serta akan ditransfer pengetahuan oleh orang akan keluar. (Stulz, 2003)

Aktifitas analisis risiko mempunyai titik tunggal yang memiliki tujuanuntuk membantu tim proyek dalam mengembangkan strategi yangberkaitan dengan risiko. Strategi yang efektif harus menghindari risiko, memonitoring risiko, dan manajemen risiko dan perencanaan kemungkinan. Sebagai contoh langkah-langkah untuk mengurangi turnover staf adalah:(Mamduh M. Hanafi, 2006)

  1. Temui staf yang ada, untuk menentukan penyebab keluar.
  2. Bertindaklah untuk mengurangi penyebab-penyebab yang ada dibawah kontrol manajemen sebelum proyek dimulai.
  3. Bila proyek dimulai asumsikan turnover akan terjadi dankembangkan teknik-teknik untuk memastikan kontiunitas padasaat orang keluar.
  4. Kumpulkan tim proyek sehingga informasi mengenaimasing-masing aktivitas pengembangan dapat disebarluaskan.
  5. Tentukan standar dokumentasi dan buat mekanisme untukmemastikan bahwa dokumen dikembangkan tepat waktu.
  6. Lakukan kajian antar teman terhadap semua pekerjaan tersebut sehingga lebih dari satu orang yang terbiasa denganpekerjaan itu.
  7. Tentukan backup anggota staf untuk setiap teknologi kritis.

Aktifitas pemonitoran dimulai, manajer proyek memonitor faktor-faktor yang dapat memberikan suatu indikasi apakah risikomungkin sedang menjadi lebih atau kurang. Untuk kasus turnover tinggi, faktor-faktor yang dapat dimonitor misalnya sikap umum anggota tim berdasarkan tekanan proyek, tingkat di mana tim disatu-padukan, hubungan interpersonal di antara anggota tim, masalah pontensial dengan kompensasi dan manfaat, dan keberadaan pekerjakan di dalam perusahaan dan di luarnya. (Masyhud Ali, 2006)

Identifikasi Risiko (skripsi dan tesis)

Pengidentifikasi risiko merupakan proses penganalissan untuk menemukan secara sistematis dan berkesinambungan risiko (kerugian yang potensial) yang menentang perusahaan. Untuk itu diperlukan, Pertama: suatu checklist dari pada semua kerugian potensial  yang mungkin bisa terjadi pada umumnya pada setiap perusahaan; Kedua: untuk menggunakan checklist itu diperlukan suatu pendekatan yang sistematik untuk menentukan mana dari kerugian potensial yang tercantum dalam checklist oleh perusahaan yang  sedang dianalisis. (Norken et al, 2012: 4-5)

Strategi reaktif memonitor proyek terhadap kemungkinan risiko. Umumnya dalam manajemen proyek, sumber-sumber daya sering dikesampingkan, padahal seharusnya sumber-sumber daya tersebut sering menjadi masalah yang sebenarnya / penting. (Rodrigues-da-Silva dkk, 2014: 3-7)

Strategi proaktif dimulai sebelum kerja teknis diawali. Risiko potensial diidentifikasi, probabilitas dan pengaruh proyekdiperkirakan, dan diprioritaskan menurut kepentingan, kemudianmembangun suatu rencana untuk manajemen risiko. (Rodrigues-da-Silva dkk, 2014: 2-4)

Kategori risiko menurut Robert Charette meliputi risiko yang sudah diketahui, risiko yang dapat diramalkan, dan risiko yang tidak diharapkan. Risiko yang sudah diketahui adalah risiko yang dapat diungkap setelah dilakukan evaluasi secarahati-hati terhadap rencana proyek, bisnis, dan lingkungan teknik dimanaproyek sedang dikembangkan, dan sumber informasi reliable lainnya, seperti tanggal penyampaian yangtidak realitas, kurangnya persyaratan yang terdokumentasi, kurangnya ruag lingkupsoftware, dan lingkungan pengembangan yang buruk. Risiko yang dapat diramalkan biasanya diekstrapolasi dari pengalaman proyek sebelumnya, misalnya pergantian staf, komunikasi yang buruk dengan para pelanggan, dan mengurangi usaha staff bila permintaan pemeliharaansedang berlangsung dilayani. Risiko yang tidak diharapkan biasanya dapat benar-benar terjadi, tetapi sangat sulit untukdiidentifikasi sebelumnya. Identifikasi risiko dalah usaha sistematis untuk menentukanancaman terhadap rencana proyek. Tujuan identifikasi risiko adalah untuk menghindari risiko bilamana mungkin, serta menghindarinyasetiap saat diperlukan. (Cervone, 2006: 8-12)

Ada dua cara melakukan proyeksi risiko, yaitu probabilitas di mana risiko adalah nyata dan konsekuensi masalah yang berhubungan dengan risiko. Perencanaan proyek bersama dengan manajer dan staf teknikmelakukan 4 aktifitas proyeksi risiko, yaitu membangun suatu skala yang merefleksikan kemungkinanrisiko yang dirasakan, menggambar konsekuensi risiko, memperkirakan pengaruh risiko pada proyek dan produk, mencatat keseluruhan akurasi proyeksi proyek risiko sehingga, sehingga akan tidak ada kesalahpahaman. (Shiyu Mu dkk, 2014: 5-7)