Penelitian yang dilakukan Vardi dan Wiener (1996), ada tiga hal
pokok, pertama secara formal mendefinisikan konstruk baru perilaku
menyimpang didalam organisasi (OMB) dan mendiskusikan implikasi
teoritisnya. Kedua, mengidentifikasi berbagai jenis OMB, dan ketiga
mengembangkan suatu kerangka kerja konseptual yang akan
memungkinkan dimasukkannya OMB dalam teori komprehensif
motivasi kerja baik itu perilaku yang tepat maupun perilaku
menyimpang dalam organisasi. Menurut Vardi dan Wiener (1996)
terdapat tiga jenis OMB yaitu:
1. OMB Type S, perilaku menyimpang yang bertujuan untuk
menguntungkan diri sendiri dan orang-orang yang terlibat dalam OMB
Type S terutama didorong oleh pertimbangan kepentingan diri sendiri
(proses instrumental).
2. OMB Type O, perilaku menyimpang yang bertujuan untuk
menguntungkan organisasi dan orang-orang yang terlibat dalam OMB
Type O melakukannya karena sebagian besar mereka memiliki loyalitas
pada organisasi (proses normatif).
3. OMB Type D, perilaku menyimpang yang bertujuan untuk menimbulkan
kerusakan dan mungkin dipicu oleh salah satu instrumen atau kekuatan
normatif, atau oleh keduanya pada saat yang sama
Perilaku menyimpang organisasi (OMB) didefinisikan sebagai
tindakan yang disengaja oleh anggota organisasi yang menentang dan
melanggar (a) bersama organisasi norma dan harapan , dan atau (b) nilainilai inti masyarakat, adat istiadat dan standar perilaku yang tepat. Sinclair
(1993), menyatakan bahwa nilai definisi sebagai bentuk keyakinan, dan
sumber utama dari nilai-nilai tersebut mungkin berupa harapan sosial,
terutama ketika mereka bersama. Nilai dapat ditafsirkan sebagai keyakinan
normatif, setelah dibentuk mereka dapat bertindak sebagai panduan perilaku
normatif, penghargaan dan hukuman atas konsekuensi tindakan (Wiener,
1988).
Aspek perilaku OMB dapat diukur menggunakan jumlah frekuensi
tindakan perilaku sehubungan dengan unit organisasi tertentu atau dengan
masing-masing anggota. Mengukur frekuensi ini dapat dilakukan dengan
pembobotan indeks dampak perilaku menyimpang. Indeks terdiri dari dua
aspek yaitu (a) melanggar sentralitas norma atau nilai (Wiener, 1988) dan
(b) tingkat pemikiran sebelumnya atau perencanaan yang terlibat dalam
perilaku menyimpang. Meskipun orang cenderung cukup enggan untuk
secara terbuka menyatakan niat untuk berbuat jahat, langkah-langkah
operasional mungkin dapat dikembangkan. Indeks multifaset seperti
(perilaku dan sikap) digunakan oleh peneliti untuk mengukur OMB. OMB
diklasifikasikan menjadi tiga jenis berdasarkan niat yang mendasari:
1. OMB yang dimaksudkan untuk menguntungkan diri (Tipe S), perilaku
menyimpang ini sebagian besar berasal internal organisasi. Perilaku
seperti ini mungkin memiliki tiga kategori (1) bekerja sendiri
(mendistorsi data), (2) properti organisasi sumber daya, simbol atau
peraturan (mencuri dan menjual rahasia manufaktur), dan (3) anggota
lainnya (melecehkan rekan-rekan).
2. OMB yang dimaksudkan untuk menguntungkan anggota organisasi
secara menyeluruh (Tipe O) misalnya memalsukan catatan untuk
meningkatkan kesempatan mendapatkan kontrak organisasi. Biasanya
berasal dari eksternal organisasi.
3. OMB yang dimaksudkan untuk menimbulkan kerusakan dan menjadi
destruktif (Tipe D). Hal yang mendasari perilaku menyimpang Tipe S
dan O adalah untuk memberikan manfaat untuk individu atau organisasi,
sedangkan Tipe D adalah untuk menyakiti orang lain atau organisasi.
Contohnya menyabotase peralatan organisasi.
OMB Tipe O bergantung pada ideologi dan nilai-nilai, dan orangorang tersebut sangat mengidentifikasi misi dan kepemimpinan organisasi.
Mendasari niat tersebut mungkin kekuatan normatif seperti kasus merusak
properti organisasi sebagai rasa solidaritas terhadap anggota serikat, namun
pada saat yang sama, perilaku semacam ini mungkin sebagian besar
ditentukan oleh faktor kepuasan pribadi dari tindakan balas dendam atau
kekerasan. Inilah sebabnya mengapa peneliti berpendapat bahwa pada
prinsipnya normatif dan instrumental mungkin saling bertemu secara
bersamaan untuk menentukan OMB Tipe D.
OMB berdampak pada pengambilan keputusan dan pengolahan
informasi sosial. Model The March dan Simon membahas bahwa salah satu
penentu utama OMB adalah perhitungan rasional utilitas perilaku diri
terhadap pertimbangan proses pengambilan keputusan. Model Salancik dan
Pfeffer Model mengemukakan bahwa keyakinan dan harapan mempengaruhi
perilaku menyimpang seseorang dalam organisasi. Menurut Wiener (1988)
terdapat beberapa jenis penyebab utama OMB :
1. Individual factor :
Personality, Person organization value congruence, Generalized value
of loyalty and duty, Personal circumstances, Dissatisfaction of personal
need by the organization.
2. Organizational factor :
Built-in opportunity, Control system, Organizational Culture,
Organizational cohesiveness, Organizational goals.
Penelitian Yousefi et al., (2012), perilaku menyimpang karyawan
adalah perilaku yang secara konsisten melanggar aturan organisasi seperti
tidur di tempat kerja, berkelahi ditempat kerja, datang terlambat, atau
menyalahgunakan posisi (Ivancevich, 2007). Pemimpin sering harus
berurusan dengan karyawan yang terlibat dalam berbagai tindakan perilaku
menyimpang seperti pencurian oleh karyawan, penyalahgunaan fasilitas
organisasi atau properti, pengungkapan rahasia, penggelapan, sabotase
produk, atau penggunaan telepon organisasi dan kartu kredit untuk
keperluan pribadi (Purpa, 2002). Maclane dan Walmsley (2010), melakukan
klasifikasi untuk berbagai perilaku menyimpang yaitu: (1) Pencurian dan
perilaku terkait, (2) Pengrusakan properti, (3) Penyalahgunaan informasi, (4)
Penyalahgunaan waktu dan sumber daya, (5) Perilaku tidak aman, (6)
Rendahnya tingkat kehadiran, (7) Minimnya kualitas kerja, (8) Penggunaan
alkohol, (9) Penggunaan obat terlarang, (10) Inappropriate tindakan lisan,
(11) Kekerasan fisik.
Ivancevich (2007) mengklasifikasikan perilaku menyimpang
karyawan dalam beberapa kelompok, yaitu :
1. Karyawan yang kualitas atau kuantitas pekerjaan tidak memuaskan,
karena kurangnya kemampuan, pelatihan, atau motivasi.
2. Masalah-masalah pribadi diluar pekerjaan mulai mempengaruhi
produktivitas karyawan pada pekerjaan, masalah-masalah ini dapat
mencakup alkoholisme, obat-obatan, atau hubungan keluarga.
3. Karyawan yang melanggar hukum seperti mencuri dari organisasi atau
karyawan atau melakukan kekerasan fisik.
4. Karyawan yang secara konsisten melanggar peraturan organisasi dan
tidak menanggapi reaksi pengawasan.
Appelbaum et al., (2005) menjelaskan bahwa perilaku menyimpang
positif seringkali disebut dengan perilaku proporsional yang ditunjukan
dengan perilaku loyalitas organisasional (organizational citizenship
behavior), peniup peluit (whistle-blowing), tanggung jawab sosial
korporasi (corporate social responbility) dan kreatifitas atau inovasi.
Perilaku menyimpang positif berarti menyimpang dari deskripsi kerjanya,
tetapi memberikan manfaat bagi keefektifan organisasi dalam pencapaian
tujuan (Warren, 2003). Sedangkan perilaku yang sesuai dengan deskripsi
kerjanya seperti yang telah disusun organisasi disebut perilaku reguler
sehingga dapat dijadikan standar perilaku didalam organisasi. Aspek-aspek
yang berperan dalam menjelaskan perilaku menyimpang baik positif
seperti perilaku proporsial maupun perilaku menyimpang negatif
diantaranya adalah tekanan sosial, frustasi dan depresi dalam organisasi,
lemahnya pengendalian dalam sistem kerja, sanksi yang terlalu lemah
ataupun perubahan organisasional disebut dengan aspek-aspek situasional
atau situasional-based predictors. Demikian pula aspek-aspek kepribadian
dalam hal ini person-based predictors menjelaskan bahwa kepribadian
adalah prediktor perilaku menyimpang baik menyimpang positif maupun
negatif. Teori kognisi sosial (social cognitive theory) menjelaskan bahwa
pendekatan kedua prediktor yaitu situasi dan kepribadian dalam
menjelaskan perilaku menyimpang negatif tidak bersifat saling
meniadakan (mutually exclusive) melainkan saling berinteraksi satu
dengan yang lainnya dalam menjelaskan perilaku menyimpang baik positif
maupun negatif.