Harga Saham


Harga saham merupakan harga yang terjadi dipasar bursa pada saat tertentu yang
ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran
saham yang bersangkutan dipasar modal (Jogiyanto,2008).
Berdasarkan fungsinya, nilai suatu saham dibagi atas tiga jenis, yaitu :

  1. Par value (Nilai Nominal/Stated Value/Face Value)
    Nilai nominal adalah nilai yang tercantum pada saham untuk tujuan akuntasi,
    menurut ketentuan UU PT No. 1/1995 sebagai berikut:
    1) Nilai nominal dicantumkan dalam mata uang RI.
    2) Saham tanpa nilai nominal tidak dapat dikeluarkan..
  2. Base Price (Harga Dasar)
    Harga dasar adalah harga perdana, untuk menetapkan nilai dasar yang
    dipergunakan dalam perhitungan indeks harga saham. Harga dasar akan berubah
    sesuai dengan aksi emiten. Untuk saham baru, harga dasar merupakan harga
    perdananya.
  3. Market Price (Harga Pasar)
    Market price merupakan harga pada pasar riil, dan merupakan harga yang paling
    mudah ditentkan karena merupakan harga dari suatu saham pada pasar yang
    sedang berlangsung atau jika pasar sudah tutup, maka harga pasar adalah harga
    penutupannya (closing price).
    Ada dua keuntungan yang diperoleh investor melalui saham, yaitu :
  4. Mendapatkan dividen
    Dividen adalah pembagian keuntungan dari laba bersih yang dihasilkan
    perusahaan dalam periode tertentu kepada para pemegang saham..
  5. Capital Gain.
    Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain
    terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder .
    Selain memiliki keuntungan, berinvestasi di saham juga memiliki risiko, yaitu :
  6. Risiko tidak mendapat dividen.
  7. Capital Los, merupakan kebalikan dari capital gain, yaitu suatu kondisi
    dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli.
  8. Risiko Likuidasi
    Risiko Likuidasi yaitu perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut
    oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Hak klaim dari pemegang
    saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat
    dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan), jika masih terdapat sisa dari
    hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara
    proporsional kepada seluruh pemegang saham, namun jika tidak terdapat sisa
    kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari
    likuidasi tersebut.
  9. Saham disuspend
    Saham disuspend yaitu saham yang terdafar diberhentikan perdagangannya oleh
    otoritas Bursa Efek Indonesia yang sekarang diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan.
    Risiko atas saham disuspend membuat seorang pemegang saham dituntut untuk
    secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan seperti dengan
    melihat faktor yang mempengaruhi harga saham.
    Harga saham dapat ditentukan melalui analisis teknikal dan analisis fundamental.

Saham


Saham merupakan surat berharga jangka panjang yang diterbitkan perusahaan
(emiten) ke publik untuk diperjualbelikan kepada investor dengan tujuan untuk
untuk pendanaan perusahaan. Saham dapat didefinisikan tanda penyertaan atau
kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas
(Darmadji dan Fakhruddin, 2001).
Saham memberikan indikasi kepemilikan atas perusahaan sehingga para
pemegang saham berhak menentukan menentukan arah kebijaksanaan perusahaan
lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Para pemegang saham juga berhak
memperoleh dividen yang dibagikan oleh perusahaan. Sebaliknya, pemegang
saham pun turut menanggung resiko sebesar saham yang dimiliki apabila
perusahaan tersebut bangkrut.
Menurut jenisnya,saham dapat dibedakan antara saham biasa (common stock) dan
saham preferen (preferred stock).
Saham biasa adalah efek dari pernyertaan pemiliknya dari badan usaha berbentuk
perseroan terbatas. Jika usaha perusahaan berjalan dengan baik maka dividen
saham biasa akan lebih besar daripada saham preferen. Tetapi manakala terjadi
likuidasi pembagian dividen dan pembagian harta perusahaan serta pemegang
saham biasa akan memperoleh pembagian terakhir setelah pemegang saham
preferen. Karakteristik saham biasa adalah sebagai berikut :

  1. Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.
  2. Memiliki hak suara
  3. Hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila bangkrut dilakukan
    setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
    Saham preferen merupakan saham yang mempunyai hak khusus melebihi
    pemegang saham biasa. Saham preferen disebut juga dengan saham istimewa
    sebab mempunyai banyak keistimewaan. Biasanya keistimewaan ini dihubungkan
    dalam hal pembagian dividen atau pembagian aktiva pada saat likuiditas.
    Kelebihan dalam hal pembagian dividen adalah bahwa dividen yang dibagi
    pertama kali harus dibagikan untuk saham preferen, kalau ada kelebihan baru
    dibagikan kepada pemegang saham biasa. Karakteristik saham preferen adalah
    sebagai berikut :
  4. Pembayaran dividen dalam jumlah yang tetap.
  5. Hak klaim lebih dahulu dibanding saham biasa jika perusahaan dilikuidasi
  6. Dapat dikonversikan menjadi saham biasa
  7. Tidak memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham

Pengertian Perilaku


Karakteristik Konsumen yang berbeda – beda dapat dipengaruhi oleh
berbagai hal sebelum seorang konsumen tersebut melakukan pembelian, tugas
seorang pemasar adalah dapat memahami berbagai hal menyangkut keinginan
konsumen dalam membeli sebuah produk.”
Pengertian Perilaku Konsumen menurut Schiffman dan Kanuk (2014)
perilaku konsumen adalah:”
“Studi perilaku konsumen terpusat pada cara individu mengambil
keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu dan
uang) guna membeli barang – barang yuang berhubungan dengan konsumsi. Hal
ini mencakup apa yang mereka beli, mengapa mereka membeli, kapan mereka
membeli, dimana mreka membeli, seberapa sering mereka membeli, dan seberapa
sering mereka menggunakannya”.”
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) mendefiniskan perilaku konsumen
sebagai berikut:
“Perilaku pembeli konsumen mengacu pada perilaku pembelian konsumen
akhir – individu dan rumah tangga yang membeli barang dan jasa untuk konsumsi
pribadi”.”
Sedangkan menurut Tjiptono (2012) definisi perilaku konsumen adalah:”
“Perilaku konsumen merupakan tindakan – tindakan individu yang secara
langsung terlibat dalam usaha memperoleh, menggunakan, dan menentukan
produk dan jasa, termasuk proses pengembalian keputusan yang mendahului dan
mengikuti tindakan – tindakan tersebut”

Indicator Social Media Marketing


Adapun indikator variabel dari isi pesan yang dapat mempengaruhi
persepsi konsumen antara lain: (Pramudita, 2012)
1) Entertainment
Entertainment didefinisikan sebagai tulisan atau gambar yang menarik
perhatian atau menyenangkan sehingga membuat penerima tertarik
untuk membaca atau melihat (Pramudita, 2012). Entertainment merupakan
salah satu hal yang penting dalam sebuah iklan. Isi yang menghibur
diharapkan mampu meningkatkan loyalitas konsumen dan memberikan
nilai lebih dimata konsumen.
2) Informativeness
Informativeness didefinisikan sebagai isi dari iklan yang bersifat
menginformasikan atau memberikan informasi yang jelas kepada
konsumen yang dituju (Pramudita, 2012). Sebuah iklan haruslah bersifat
informativeness atau memberikan informasi yang jelas kepada konsumen
yang dituju. Konsumen mengharapkan informasi yang cepat, terarah dan
tidak sulit untuk dicerna atau mudah dimengerti.
3) Irritation
Irritation atau gangguan dapat diartikan sebagai sesuatu yang
tidak diharapkan terjadi oleh konsumen. Gangguan dapat diartikan secara
berbeda oleh konsumen. Kebanyakan dari konsumen tidak menyukai
iklan yang tidak bermanfaat atau sebagian dari mereka ada juga
yang merasa terganggu dengan karakteristik dari iklan yang
bersangkutan seperti pada saat sekarang ini dimana sering terdapat
sosial media marketing yang kemudian hari memaksa konsumen untuk
menghabiskan kuota mereka.
4) Credibility
Credibility didefenisi kan sebagai tingkat kebenaran yang
tinggi atau iklan tersebut dapat dipercaya bahwa hal-hal yang
dijanjikan memang benar adanya (Pramudita, 2012). Iklan
yang baik harus memiliki kredibilitas yang tinggi dimata
konsumen. Kredibilitas konsumen dapat diartikan seperti
tingkat kebeneran yang tinggi atau iklan tersebut dapat di
percaya bahwa hal yang dijanjikan benar adanya

Pengertian Social Media Marketing


Menurut Evans et al. (2010) mengatakan bahwa Social Media Marketing
di gunakan untuk membangun pasar melalui media sosial yang bertujuan untuk
menjaring banyak pengunjung baru, hal tersebut secara langsung melibatkan
pelanggan. Menurut Santoso (2017) pemasaran sosial media merupakan bentuk
pemasaran yang dipakai untuk menciptakan kesadaran, pengakuan, ingatan dan
bahkan tindakan terhadap suatu merek, produk, bisnis, individu, atau kelompok
baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan alat dari web
sosial seperti blogging, microblogging, dan jejaring sosial.
Dengan adanya social media marketing memudahkan para pelaku usaha
untuk berinteraksi dengan pelanggannya secara online. Biaya yang dikeluarkan
tidak terlalu besar dan tidak ada batasannya waktu selama tersambung dengan
internet. Media sosial berperan saat pemasaran kegiatan perusahaan membentuk
hubungan individu dengan pelanggan dan memberi perusahaan peluang untuk
mengakses pelanggan (Kelly, 2010). Dengan generalisasi media sosial di seluruh
masyarakat, para peneliti telah mempelajari penggunaan media sosial dengan
menyelidiki mengapa mereka menggunakan media sosial, berapa banyak waktu
yang mereka gunakan, dan jumlah digunakan dalam periode waktu tertentu
(Afrilia, 2017).
Menurut (Arthur, 2010), 90% dari pengguna media sosial adalah likers
(penyuka) yang hanya menonton konten yang diposting, 9% berinteraksi dengan
menambahkan komentar mereka, dan hanya 1% membuat konten baru.
Berdasarkan hal ini, pengguna media sosial dapat didefinisikan secara
komprehensif dan inklusif mulai dari lukers hingga partisipan aktif. Social Media
dalam bahasa indonesia disebut media sosial adalah media yang didesain untuk
memudahkan interaksi sosial yang bersifat interaktif atau dua arah. Menurut Tsitsi
(2013 ) Social Media Marketing adalah sistem yang memungkinkan pemasar
untuk terlibat, berkolaborasi, berinteraksi dan memanfaatkan kecerdasan orang-
orang yang berpartisipasi didalamnya untuk tujuan pemasaran. menarik perhatian
dan mendorong pembaca untuk berbagi dengan jaringan sosial mereka.
Keuntungan dalam menggunakan Social Media Marketing menurut Neti (2011) ,
antara lain:
1) Menyediakan ruang dangan tidak hanya untuk memasarkan produk
atau jasa kepada pelanggan tetapi juga untuk mendengarkan keluhan
dan saran.
2) Mempermudah untuk mengidentifikasi berbagai kelompok atau
pengaruh antara berbagai kelompok, yang dapat menjadi pemberi
informasi tentang merek dan membantu dalam growth of brand
(pertumbuhan merek).
3) Biaya rendah kerena sebagian besar situs jejaring sosial gratis

Pengertian Digital Marketing


Sejak awal tahun 2000, teknologi informasi telah memasuki pasar utama
dan dikembangkan labih jauh menjadi apa yang disebut sebagai New Wave
Technology. New Wave Technology adalah teknologi yang memungkinkan
konektivitas dan interaktivitas antar individu dan kelompok (Kotler dan Keller,
2012). New Wave meliputi tiga kekuatan utama: komputer dan telepon genggam
yang murah, internet yang murah, dan open source. Dalam era new wave,
ekonomi yang dipertimbangkan tidak hanya pertumbuhan ekonomi, tingkat suku
bunga, dan inflasi saja melainkan juga faktor ekonomi digital. Keberadaan
ekonomi digital ditandai dengan semakin maraknya bisnis atau transaksi
perdagangan yang memanfaatkan internet sebagai medium komunikasi,
kolaborasi dan kooperasi antar perusahaan ataupun antar individu (Situmorang,
2011).”
Digital marketing adalah praktek marketing melibatkan penggunaan alat
pemasaran digital seperti situs web, media sosial, iklan dan aplikasi seluler, video
online, email, blog, dan platform digital lainnya untuk melibatkan konsumen di
mana saja, kapan saja melalui komputer, smartphone, tablet, internet, dan media
digital lainnya (Kotler dan Keller, 2012). Aktivitas-aktivitas pemasaran akan
dilakukan secara intensif menggunakan media komputer, baik mulai dari
penawaran produk, pembayaran dan pengirimannya. Dalam konteks marketing,
kondisi krisis global membuat banyak organisasi mulai memikirkan dan mencari
metode penghematan.”
Oleh sebab itu, organisasi bisnis harus pandai melihat peluang melakukan
aktivitas marketing yang efektif di era digital dengan biaya yang murah dan
efektif. Teknologi digital telah banyak mengubah wajah dunia bisnis, termasuk
aktivitas pemasaran. Meskipun digital marketing tidak meliputi teknik dan
praktek yang masuk dalam kategori internet maketing dengan cara-cara untuk
mencapai target konsumen yang tidak memerlukan internet (mobile technology).
Teknologi telah mengubah cara manusia dalam berbicara, berkomunikasi,
bertindak, dan mengambil keputusan. Teknologi telah menjadi sangat efektif
dalam memaksimalkan bottom line suatu organisasi.”
Banyaknya jumlah pengguna ponsel membuat ponsel menjadi media masa
baru, peluang ini dimanfaatkan oleh para produsen sebagai media untuk beriklan.
Bagi para marketer, mobile marketing dianggap lebih efisien karena biaya
muarah, lebih fokus pada konsumen yang diinginkan (tersegmentasi) dan lebih
terukur (Situmorang, 2011). Para marketer bahkan banyak yang menggunakan
Facebook atau Twitter untuk beriklan, sehingga melahirkan inovasi baru yaitu
mobile marketing.”
Setidaknya terdapat tiga dimensi sebagai keuntungan perusahaan dalam
menggunakan mobile marketing:”

  1. Consumer Relationship Management
    Perusahaan dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan.
  2. Corporate usage
    Meningkatkan komunikasi diantara karyawan tanpa batas waktu,
    mengecek jadwal dan informasi.
  3. Biaya dan meningkatkan produktivitas
    Aplikasi wireless secara signifikan mengurangi biaya komunikasi kepada
    pelanggan, improving brand awareness, menawarkan produk spesial
    dengan calon pelanggan potensial

Word Of Mouth


Word of mouth ialah perusahaan dapat mempromosikan produk yang
mereka jual melalui metode promosi. Word of Mouth adalah strategi
pemasaran yang bekerja dengan menyampaikan dari mulut ke mulut dari satu
pelanggan ke pelanggan lainnya. Artinya pelanggan yang puas akan
memberitahu pelanggan lain mengapa produk perusahaan lebih baik dan akan
merekomendasikannya kepada pelanggan lain. Verbal menurut Sernovitz
dalam Nugraha (2013) secara keseluruhan adalah komunikasi lisan satu orang
ke orang lain atau kormunikasi lisan antara orang dengan orang lain/di antara
pengirim dan penerima pesan yang mengandung komponen barang,
administrasi atau merek. Telah dibuktikan bahwa promosi dari mulut ke mulut
memengaruhi pilihan konsumen dan memainkan peran penting dalam
keputusan pembelian konsumen. Dari Word of Mouth, berikut adalah beberapa
definisi:
1) Sesuai WOMMA (Word of Mouth Marketing Association) mengatakan
WOMMA adalah tindakan dimana pembeli memberikan data tentang suatu
barang kepada pembeli yang berbeda. WOM adalah tindakan pemasaran
yang memicu pelanggan untuk berdiskusi, memajukan,
merekomendasikan, dan menawarkan barang kepada pembeli yang
berbeda.
2) Word of Mouth ialah proses dimana informasi mengenai suatu produk
yang ditemukan seseorang di media, melalui interaksi sosial, atau melalui
pengalaman pribadi dengan produk tersebut diteruskan ke orang lain yanf
menyebarkan informasi ke seluruh dunia (Prasetijo & Lhalauw dalam
Puspasari, 2014). Menurut beberapa definisi yang diberikan di atas, “Word
of Mouth” ialah bentuk komunikasi pemasaran dimana seorang pelanggan
menyebarkan informasi tentang suatu produk kepada pelanggan lain
melalui mulut ke mulut

Promotion (Promosi)


Promosi adalah komponen penting dari setiap strategi pemasaran yang
memerlukan seperangkat alat yang komprehensif, yang umumnya bersifat
jangka pendek, dimaksudkan untuk mendorong pembelian atau perdagangan
yang lebih cepat.
Promosi dalam pemasaran yaitu aktivitas yang telah terbukti dapat
meningkatkan permintaan barang atau jasa. Promosi bisa dilakukanuntuk
menyebarluaskan informasi tentang produk ataupun jasa yang ditawarkan, baik
untuk membuat produk atau jasa yang sudah dikenal menjadi pilihan atau
membuat produk atau jasa tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2018) Segala jenis komunikasi yang dilakukan
untuk menjelaskan meyakinkan, dan mengingatkan pasar sasaran tentang
barang yang dibuat oleh perusahaan orang, atau keluarga dianggap sebagai
promosi Menurut Praestuti (2020), promosi ialah upaya persuasi yang
dilakukan untuk merayu ataupun mendorong pelanggan agar mau membeli
barang atau jasa suatu perusahaan. Menurut Kotler dan Armstrong (2018)
menyatakan Mempromosikan produk adalah strategi untuk menonjolkan
keunggulannya kepada pelanggan dan meyakinkan mereka untuk membelinya.
Promosi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu
program pemasaran.
Dari ketiga pendapat para ahli diatas, maka kesimpulannya promosi adalah
kegiatan persuasif atau bujukan yang mendorong konsumen untuk membeli
produk yang ditawarkannya.
Berikut ini adalah tujuan dari promosi penjualan menurut Fandi Tjiptono

  1. Tujuan promosi penjualan
    a) Memberi Informasi
    Alasan utama promosi ialah untuk memahami produk ataupun jasa pada tahap
    pengenalan bersama-sama dengan membangkitkan minat terhadap item
    tersebut.
    b) Membujuk
    Membujuk merupakan pilihan kedua dari pemasaran yang menekankan pada
    keunggulan produk yang dijual.
    c) Pengingat
    Agar pelanggan tidak beralih ke produk saingan di pasar sasaran, sangat
    penting atau perlu untuk mengingatkan mereka tentang keberadaan produk
    tersebut.
    d) Pemantapan
    Pada tahap ini, perusahaan berupaya meyakinkan pembeli bahwasannya
    mereka sudah mengambil keputusan yang sesuai dengan mengambil barang
    dan menjadi klien setia.
  2. Kegiatan Promosi
    1) Over The Line ialah jenis metode khusus dengan teknik “menarik
    perhatian” pelanggan melalui iklan yang menarik dserta membangkitkan
    minat individu untuk membeli atau mencoba barang. Media tersebut
    adalah sebagai berikut : Media Elektronik, Media Cetak (koran, majalah,
    katalog), dan Media Online (Internet)
    2) Below the Line ialah jenis pemasaran yang bertujuan untuk mendorong
    calon pembeli untuk membeli atau mencoba barang ataupun jasa yang
    ditawarkan melalui Tindakan yang melibatkan atau mempertemukan
    pelaku usaha atau penjual secara langsung dengan pembeli. Media
    promosi yang dimanfaatkan: Seminar, pameran, kuis, dan event

Digital Marketing


Marketing adalah proses membuat, menyampaikan, menukar, dan
mengkomunikasikan penawaran yang berharga bagi pelanggan atau
masyarakat. Sementara itu, Internet adalah media digital. Internet membuatnya
sangat mudah dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, membeli barang,
dan melakukan lebih banyak lagi dalam hidup. yang seharusnya dapat
dilakukan melalui media web. Jadi saat ini web telah menjadi mekanisme
penting bagi perusahaan ataupun pelaku bisnis dalam menawarkan barangnya.
Dari penjelasan inilah muncul nama promosi lanjutan di masa komputerisasi
yang sedang berlangsung (Muljono, 2018). Jadi digital marketing
mempromosikan melalui media canggih dalam menawarkan merek yang
perusahaan miliki.
Memanfaatkan pemasaran digital, khususnya media sosial, sebagai bagian
dari strategi bisnis dapat menawarkan strategi memperluas jaringan konsumen
untuk pemasaran produk, sehingga memperluas keunggulan perusahaan atas
pesaing. Pelaku bisnis harus menyelidiki berbagai strategi komunikasi digital
sebagai bagian dari strategi komunikasi bisnis sebelum menerapkan pemasaran
digital. Perusahaan menggunakan saluran media digital, strategi komunikasi
digital, untuk mengiklankan produk mereka di situs web dan melalui media
online dengan tujuan menarik dan membujuk pelanggan untuk melakukan
pembelian.
Ada enam jenis utama media sosial dalam buku Nasrullah (2015) yang
berjudul Social Media.
1.Social Networking
Sarana untuk berinteraksi khususnya efek dari interaksi tersebut di dunia maya
adalah social networking. Atribut dasar dari tempat interaksi interpersonal
adalah bahwa klien mereka membentuk jaringan pertemanan baru. Secara
umum, jaringan pertemanan baru dibingkai berdasarkan minatnya pada hal
yang persis sama, seperti kegiatan ketertatikan bersama. Facebook dan
Instagram ialah contoh jejaring sosial.

  1. Blog
    Blog ialah media sosial yang memungkinkan pengguna untuk berbagi dengan
    pengguna lain, misalnya dengan berbagi tautan web, informasi, dan lainnya
    serta memposting aktivitas dan kegiatan sehari-hari.
  2. Microblogging
    Microblogging ialah jenis media sosial yang memungkinkan orang
    memposting serta menulis mengenai kegiatan atau dan pemikiran mereka.
    Secara garis besar, kehadiran media sosial semacam ini mengacu pada
    perkembangan Twitter yang hanya memberikan ruang khusus, khususnya batas
    140 karakter.
  3. Media sharing
    Dokumen, video, audio, dan gambar dapat dibagikan dan disimpan secara
    online oleh pengguna platform media sosial ini. Contoh media ini adalah
    Youtube, flash, photo bucke

Strategi Digital Marketing


Mengapa pemasar perlu strategi pemasaran digital? Tanpa teknologi pemasar
akan kehilangan peluang bahkan bisnis. Strategi pemasaran digital akan
membantu pemasar untuk menganalisis konsumen dan membuat keputusan
berdasarkan informasi yang diperoleh dari konsumen secara langsung. Sehingga
pemasar bisa memastikan bahwa strategi yang diterapkan sudah relevan dengan
bisnis yang dijalankannya. Untuk pengabdosian ke pemasaran digital, penting
bagi pemasar untuk memahami perkembangan pasar digital, dan bagaimana
teknologi sangat berpengaruh pada perkembangan bsinis kita untuk meningkatkan
brand dan mendatangkan pelanggan untuk kita. Semakin banyak target pasar yang
menggunakan teknologi maka semakin mudah pemasar untuk meneliti,
mengevaluasi, menganalisis sebuah produk atau jasa yang dikonsumsi oleh
konsumen (Wati dkk., 2020:12).
Strategi marketing seorang pebisnis online yang baik adalah dimana seorang
pelaku pebisnis online dapat berkomunikasi lancar dengan konsumen atau calon
konsumen mereka sehingga platform media sosial menjadi strategi marketing
yang bagus karena pelaku bisnis akan dengan mudah membagikan berbagai
informasi mengenai produk mereka melalui digital konten. Dengan begitu,
konsumen mendapatkan banyak pengetahuan mengenai produk tersebut dan akan
tertarik untuk membelinya (Nusantara, 2021

Digital Marketing Agency


Agensi digital (Digital Agency) adalah sebuah bidang usaha yang bergerak di
bidang jasa dalam membantu mempromosikan merk atau produk tertentu
(Aryanto & Wismantoro, 2020:33). Sebenarnya, apa hubungan Digital Marketing
dengan digital marketing agency? Digital marketing adalah suatu objek,
sedangkan digital marketing agency adalah tools (alat) nya. Dengan kata lain,
seiring perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi sekarang, tak luput
juga pertumbuhan agensi digital yang bertujuan untuk membantu promosi suatu
merek perusahaan tertentu. Lalu apa peran Digital Marketing Agency dalam hal
ini? Pertama, digital agency atau digital marketing agency akan melakukan
analisis terhadap permasalahan yang dimiliki klien. Biasanya, dapat berupa
penjualan, pengembangan, bahkan pembuatan produk baru. Dalam tahapan yang
pertama ini harus dilakukan dengan teliti karena bila salah sedikit dapat berakibat
fatal pada langkah selanjutnya.
Kedua, memberikan solusi dan rekomendasi strategi dari analisis
permasalahan sebelumnya. Dalam hal ini pihak Digital marketing dan Digital
Agency akan melakukan tutorial beberapa kali untuk memastikan strategi yang
diajukan selaras dengan strategi klien sehingga strategi yang dibuat dapat berjalan
dengan lancar. Setelah sepakat dengan strategi yang diajukan, kemudian digital
manager pada Digital Marketing Agency akan mendistribusikan pekerjaan ke
divisi masing – masing. Distribusi dapat meliputi ke tim IT, desain grafis,
marketing, media sosial, pay per click (setiap klik dari pewebsite akan
mendapatkan pembayaran dari google) hingga Search Engine Operation (Mesin
pencarian pada internet, contohnya google, yahoo, internet explorer dan lain
sebagainya). Digital Agency akan memperbaiki website klien, membuat design
produk terbaru, dan juga memperbarui konten – konten marketing klien. Semua
hal itu akan didistribusikan ke seluruh media klien sehingga kampanye digital
dapat berjalan dengan lancar.

Penerapan Digital Marketing


Digital marketing adalah teknik atau alat yang digunakan untuk
menjalankan pemasaran bisnis dan usaha, dan bukan sebuah bisnis yang bisa
menghasilkan uang. Sedangkan cara kerja penerapannya untuk bisnis adalah
sebagai berikut (Musnaini dkk., 2020:81):

  1. Mengenali Jenis Bisnis dan Usaha Harusnya hal ini sudah cukup mudah,
    sebagai pelaku dan pemilik usaha harus sudah paham jenis bisnisnya apa,
    misalnya jenis jasa atau produk, jenis kebutuhan sehari-hari (primer)
    kebutuhan sekunder, tersier, atau prestise
  2. Memahami Segmen Market Tidak semua orang akan membeli produk
    anda, ada orangorang tertentu yang akan membeli produk yang kita jual.
    Setiap produk punya segmen market sendiri-sendiri Dengan mengetahui
    target market selanjutnya kita bisa lebih tepat memilih media digital
    marketing yang paling tepat digunakan.
  3. Memilih Media Digital Marketing
  4. Membuat Funneling dari Traffic hingga Sales
    a. Urutan funneling dari menggunakan digital marketing adalah:
    b. Mengumpulkan visitor (traffic market customer) dari media digital
    c. Bagaimana cara membuat visitor tertarik
    d. Visitor menghubungi contact
    e. Terjadi sales penjualan (goal)
    Peran customer service sangat penting untuk bisa terjadi sales
    order atau penjualan, peran digital marketing berhenti sampai pada
    customer menghubungi customer service.
  5. Membuat Ikatan Rantai Digital.
    Setelah bisa menentukan media digital marketing yang tepat, maka ada
    baiknya juga mengikatkan satu media dengan media digital yang lainnya
    yang saling berhubungan. Hal ini agar memberikan kemudahan kepada
    konsumen. Karena biasanya media digital akan saling melengkapi satu
    sama lain dan bisa mendatangkan traffic, tetapi jangan salah langkah, pilih
    terlebih dulu media yang paling tepat.
  6. Mengelola Iklan Digital
    Iklan menggunakan anggaran adalah langkah terakhir ketika kita sudah
    benar-benar maksimal dengan kelima langkah diatas. Fakta 90% pengiklan
    gagal karena tidak menerapkan step by step cara kerja digital marketing
    yang benar. Iklan ada Google Ads, Facebook Ads, Instagram Ads, dan
    Endorse (Musnaini dkk., 2020:82).

Digital Marketing


Digital Marketing adalah kegiatan pemasaran yang menggunakan media
digital dan dikerjakan oleh manusia atau alat canggih sehingga identik dengan
inovasi, teknologi, kemajuan dan pengembangan (Pranoto, 2021:9). Inovasi di
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti penemuan baru yang
berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Teknologi
berarti keseluruhan sarana untuk menyediakan barang – barang yang diperlukan
bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
Digital Marketing bisa didefinisikan sebagai penggunaan semua fasilitas
digital untuk memfasilitasi proses marketing dengan tujuan memfasilitasi
interaksi dengan konsumen dan membuahkan sebuah keterlibatan dalam wujud
loyalitas konsumen. Digital Marketing atau Pemasaran Digital adalah istilah
umum suatu usaha untuk memperkenalkan sebuah merk dengan menggunakan
media teknologi digital yang dapat menjangkau konsumen secara real time,
interaktif dan relevan. Digital Marketing sendiri berkembang sejak era industri
teknologi 1990 sampai saat ini, yang memanfaatkan fasilitas perangkat teknologi
sebagai media advertising bisnis untuk berkembang dan dikenal luas (Aryanto &
Wismantoro, 2020:21).
Sekarang ini, platform digital selain televisi, seperti facebok dan instagram
selalu digunakan dalam kehidupan sehari – hari, bahkan hampir separuh waktu
dan kegiatan. Dengan demikian, teknik pemasaran digital akan menjadi sangat
berpotensi untuk mempromosikan suatu merk serta meningkatkan preferensi dan
penjualan. Apabila dilihat dari sudut pandang strategi marketing, ada 3 langkah
dasar yang digunakan perusahaan yang menerapkan digital marketing :

  1. Kenali dan pahami tentang perusahaan dan merk.
  2. Letakkan konten dan kata kunci ke dalam website agar konsumen
    dapat menemukan produk kita.
  3. Gunakan platform pengiriman lain yang berbasis digital, seperti email,
    sosial media dan smartphone

Perkembangan dan Transformasi Digital


Perkembangan teknologi dalam kehidupan dimulai dari proses sederhana
dalam kehidupan sehari-hari samapai pada tingkat pemenuhan kepuasan sebagai
individu dan makluk sosial. Dari masa ke masa keamajuan teknologi terus
berkembang, mulai dari era teknologi pertanian, era teknologi industri, era
teknologi informasi, dan era teknologi komunikasi dan informasi. Perkembangan
ini membawa berbagai dampak dalam kehidupan bermasayarakat, berbangsa dan
bernegara, setiap individu tertarik untuk mengunakan dan memanfaatkan setiap
perkembangan ini (Danuri., 2020:117).
a. Penemuan Komputer
Sejak komputer ditemukan telah membawa perubahan besar dalam pola
pikir manusia, sejak akhir perang dunia II perkembangan teknologi
komputer generasi pertama sedikit demi sedikit terus meningkat. Hingga
akhir tahun 1990an telah digunakannya jaringan yang lebih luas dengan
nama internet menjadikan arah teknologi dunia menjadi berubah.
Komputer menjadi dasar semua perkembangan teknologi, sehingga
muncullah beberapa perusanhaan besar komputer dunia dan menjadi
pioneer perkembangan teknologi ini seperti IBM, Microsoft, Intel,
Macintos dan Apple. Sampai akhir tahun 2000 telah muncul generasi
computer yang ke empat dengan alat utama micro prosessor, yang
memiliki kecepatan yang sangat tinggi dalam melakukan proses, hingga
sampai saat ini terus meningkat kecepatannya.
b. Penemuan Komunikasi Digital
Perpaduan teknologi komputer dan komunikasi menjadikan teknologi
informasi yang memiliki bebebagai macam kelebihan dalam pertukaran
informasi ke berbagai belahan dunia, teknologi ini disebut internet dengan
jaringan yang mendunia dan akses yang sangat cepat. Setiap individu
dapat saling bertukar data dan informasi dengan jangkauan yang tidak
terbatas, akses kegiatan dan aktivitas dapat dilakukan secara online dengan
sarana ini.
c. Perkembangan Smart Aplikasi
Munculnya teknologi perangkat keras komputer yang juga disertai dengan
peralatan software yang memiliki berbagai macam kemampuan untuk
membantu pekerjaan setiap individu, mulai dari aplikasi perkantoran,
manajemen, pribadi, hiburan dan bidang-bidang pekerjaan manusia yang
lain. Semua perkerjaan manusia telah terbantukan dengan peralatan ini,
semakin mudah, cepat, teliti dan efisien.
d. Perkembangan Smart Phone
Perkembangan akses jaringan internet membawa perubahan pada
teknologi telepon, pemanfaatan jaringan internet telah dapat diaplikasikan
melalui telepon sehingga membawa berbagai kemudahan bagi setiap
individu untuk melakukan akses ke jaringan yang lebih luas.
Perkembangan aplikasi pendukung telepon menjadikan perangkat ini
semakin smart, semua aktivitas dapat dikelola melalui telepon yang cerdas
(smart phone), seperti komunikasi digital dengan media sosial, aktivitas
pembelian dan bisnis dengan aplikasi penjualan online serta banyak lagi
aplikasi pendukung pada smart phone yang dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan sehari-hari.
e. System cerdas (Expert system)
Perkembangan perangkat cerdas berbasis expert system telah banyak
mengubah pola pikir bisnis dan kegiatan perusahaan. Alat – alat sistem
cerdas yang membantu pekerjaan menjadi semakin dibutuhkan bagi
perusahaan untuk menigkatkan efisiensi dan efektivitas. Salah satu alat
cerdas yang digunakan perusahaan ini adalah auto teller machine, yang
dapat membantu para nasabah untuk melakukan transaksi perbankan tanpa
harus ke bank. Perkembangan selanjutnya adalah internet banking, dengan
system cerdas ini transaksi dapat dilakukan dari rumah kemudian
berkembang lagi dengan sms banking dan aplikasi banking melalui
fasilitas smart phone. Efisiensi dan efektifitas perkerjaan telah dapat
dinikmati oleh para nasabah, begitu juga pihak bank yang dapat
meningkatkan efisisensi dan efektifitas kegiatannya.
f. Digital Money
Era teknologi ditigal juga telah merubah pola dan model transaski dalam
bisnis dan investasi. Muncullnya uang digital (Digital Money) menjadikan
proses transaski semakin cepat, mudah, efektif dan efisien

Marketing


Menurut American Marketing Association (Assauri, 2017) Marketing atau
Pemasaran adalah hasil prestasi kerja kegiatan usaha yang berkaitan dengan
mengalirnya barang dan jasa dari produsen sampai konsumen. Pemasaran juga
memiliki kegiatan yang berkaitan erat dan bertujuan untuk memuaskan kebutuhan
dan keinginan setiap individu melalui proses pertukaran. Kegiatan pemasaran juga
harus dapat memberikan kepuasan kespada konsumen jika menginginkan
usahanya berjalan terus atau konsumen mempunyai pandangan yang baik
terhadap perusahaan.
Sedangkan Sedjati (2018) mendefinisikan bahwa Marketing atau Pemasaran
mengandung arti segala usaha atau aktivitas dalam menyampaikan barang atau
jasa para produsen kepada konsumen, dimana kegiatan tersebut ditujukan untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan dalam cara tertentu yang disebut
pertukara

Penerapan


Penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan
hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang
diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun
sebelumnya. Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI) pengertian
penerapan adalah perbuatan menerapkan.
Penerapan merupakan sebuah tindakan yang dilakukan, baik secara
individu maupun kelompok dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah
dirumuskan. Cahyono dalam Badudu dan Zain (2010:1487) menyatakan
“penerapan adalah hal, cara atau hasil”.
Adapun menurut Ali (2007:104), Penerapan adalah mempraktekkan atau
memasangkan.
Menurut Wahab (2008:65) “Penerapan merupakan tindakan-tindakan yang
dilakukan baik oleh individu-individu atau kelompok-kelompok yang diarahkan
pada tercapainya tujuan yang telah digariskan dalam keputusan”. Dalam hal ini,
penerapan adalah pelaksanaan sebuah hasil kerja yang diperoleh melalui sebuah
cara agar dapat dipraktekkan kedalam masyarakat.

Pengaruh Electronic word-of-mouth (e-WOM) terhadap KeputusanPembelian


Hubungan antar variabel ini didasarkan pada model perilaku konsumen menurut
Kotler dan Keller (2009) bahwa Electronic word-of-mouth (e-WOM) dapat
mempengaruhi keputusan pembelian. Berdasarkan model perilaku konsumen
tersebut dapat diketahui bahwa terdapat rangsangan penasaran berupa
komunikasi pemasaran yaitu Electronic word-of-mouth (e-WOM) sebagai salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Hasil
penelitian Zhoraida (2021) menyebutkan bahwa secara parsial Electronic word-
of-mouth (e-WOM) dapat mempengaruhi keputusan pembelian

Pengaruh kepercayaan terhadap keputusan pembelian


Penelitian yang dilakukan Ha et al. (2019) menunjukkan trust merupakan faktor
yang berpengaruh signifikan terhadap online purchase intention konsumen.
Oleh karena itu untuk meningkatkan niat tersebut, perusahaan perlu
membangun kepercayaan dengan pelanggannya. Zhao et al. (2020) dalam
penelitiannya menegaskan peran kepercayaan dalam niat membeli konsumen.
Kepercayaan kognitif konsumen pada informasi yang dikomunikasikan oleh
eWOM berkaitan dengan keputusan pembelian berdasarkan konten informas.
Alharbi et al. (2020) menjelaskan bahwa dapat diketahui jika komunikasi
eWOM positif, purchase intention pada pengguna online juga positif dan begitu
sebaliknya. Disamping itu, saat komunikasi eWOM negatif, maka trust atau
kepercayaan menurut begitupun juga dengan purchase intention

Pengaruh Electronic word-of-mouth (e-WOM) terhadap Kepercayaan


Zhao et al. (2020) mengatakan kualitas informasi e-WOM dapat
mempengaruh persepsi konsumen tentang kredibilitas ulasan online. Ia
menambahkan, kualitas informasi e-WOM dapat mempengaruhi persepsi
konsumen tentang keandalannya, yang kemudian menginformasikan tingkat
kepercayaan pada e-WOM. Komunikasi e-WOM dapat memberikan informasi
yang lebih terpercaya mengenai suatu produk atau layanan daripada dengan
media tradisional seperti iklan yang dilakukan penjual (Ismagilova et al., 2017)

Keputusan Pembelian


Menurut Peter Jerry C. Olson (2013) berpendapat bahwa suatu keputusan
mencakup suatu pilihan diantara dua atau lebih tindakan atau prilaku alternatif.
Pemasar secara khusus akan tertarik dengan perilaku Pembeli, terutama pilihan
konsumen akan merek-merek yang akan dibeli. Proses inti dari pengambilan
keputusan konsumen adalah proses integrasi yang digunakan untuk
mengkombinasikan pengetahuan guna untuk mengevaluasi dua atau lebih
perilaku alternatif dan memilih satu diantaranya. Hasil dari proses integrasi
tersebut merupakan suatu pilihan, serta kognitif menunjukan intensi prilaku.
Keputusan pembelian akan suatu produk merupakan kegiatan yang sering
dilakukan oleh konsumen. Menurut Kotler dan Amstrong (2012) dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu: Faktor budaya, faktor social, faktor pribadi, faktor
psikologis. Menurut Kotler dan Amstrong (2012) terdapat lima tahapan yang
dilalui oleh konsumen dalam pengambilan keputusan: Tahapan pengenalan
masalah, pencarian informasi, evaluasi alternative, keputusan pembelian,
perilaku pasca pembelian.
Keputusan pembelian konsumen merupakan penyeleksian terhadap dua
pilihan alternatif atau lebih konsumen pada pembelian di Shopee. Indikator
indikator keputusan pembelian dikembangkan dari indikator yang digunakan
menurut Lina (2019) sebagai berikut sebagai berikut: Pilihan Merek, Pilihan
Penyalur, Jumlah Pembelian.

Kepercayaan


Kepercayaan (Trust) didefinisikan oleh Kotler dan Keller (2016) sebagai
kesediaan perusahaan untuk mengandalkan mitra bisnis yang tergantung pada
sejumlah faktor interpersonal dan antar organisasi, seperti kompetensi,
integritas, kejujuran, dan ketulusan yang dirasakan perusahaan. Jika melihat
pada konteks online, Beldad et al. (2010) mengutarakan kepercayaan sebagai
sikap ekspektasi percaya diri seseorang mengenai situasi risiko online di mana
kerentanan seseorang tidak akan dimanfaatkan. Kemudian Sharma et al.
(2019) menganggap bahwa kepercayaan sebagai faktor penting dalam
membangun dan memelihara hubungan jangka panjang, oleh sebab itu
dianggap sebagai pelopor utama konsumen dalam memiliki niat membeli
menggunakan platform online.
Menurut Ha et al. (2019) kepercayaan adalah kesediaan seseorang untuk
menerima kemungkinan terburuk yang tidak menguntungkan untuk
melakukan transaksi belanja dengan penjual online dengan harapan akan
sesuai dengan keinginan konsumen. Ia juga menambahkan bahwa kepercayaan
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap niat belanja online konsumen.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan niat tersebut, perusahaan perlu membangun kepercayaan dengan konsumennya. Oliveira et al. (2017)
mengungkapkan terdapat tiga dimensi pada variabel kepercayaan yaitu
Competence, Integrity, dan Benevolence. Competence (kemampuan)
mengarah kepada kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmen yang
diberikannya kepada konsumen. Integrity (integritas) mengacu pada
perusahaan yang bertindak secara konsisten, jujur dan andal. Benevolence
(ketulusan) merupakan kemampuan perusahaan untuk mengutamakan
kepentingan konsumen daripada kepentingan pribadi, dan menunjukkan
kepedulian yang tulus terhadap kesejahteraan konsumen

Electronic Word of Mouth (E-WOM)


Electronic word-of-mouth (eWOM) merupakan perkembangan baru dari
Word-of Mouth (WOM) yaitu bentuk komunikasi pemasaran yang dilakukan
melalui jaringan internet. eWOM pada dasarnya terjadi karena adanya
perpindahan informasi (Farzin & Fattahi, 2018). Menurut Hennig-Thurau et al.
(2004) eWOM merupakan pernyataan positif atau negatif apapun yang
terbentuk oleh calon konsumen, konsumen aktual, atau konsumen sebelumnya
tentang suatu produk atau perusahaan yang tersedia untuk banyak orang atau
lembaga melalui internet.
Persebaran eWOM dilakukan dengan menggunakan media internet
sebagai media perantara, dengan adanya komunikasi sosial secara online ini
secara otomatis bisa membantu konsumen untuk membagikan pengalaman
mengenai produk atau jasa yang mereka peroleh dalam melakukan pembelian
(Kamtarin 2012). Cheung and Lee (2012) mengemukakan faktor yang
mendorong terjadinya eWOM adalah rasa ingin memiliki, reputasi, dan
kebersediaan untuk membantu. Hal yang sama dikemukakan oleh Hening-
Thurau, et al. (2004) yang menemukan faktor pendorong terjadinya eWOM
yaitu: platform assistance, venting negative feeling, concern for other
consumen, extraversion/ positive self enhancement, social benefit, Economic
incentives, helping the company, advice seeking. Goyette et al. (2010) dalam
penelitianya membagi eWOM menjadi tiga dimensi yang mencakup intensity,
valance of opinion, content

Komponen atau Metode Digital Marketing


Ada empat metode pemasaran digital yang dapat dilakukan
perusahaan dalam memberikan keuntungan berupa kemampuan perusahaan
mencapai lebih banyak konsumen melalui pendekatan global, (Kotler &
Keller, 2016). Adapun empat metode tersebut adalah:
a) Pemasaran daring, dimana perusahaan menyampaikan informasi yang
ingin disampaikan melalui media daring, baik media yang berbayar atau
tidak berbayar. Pemasaran daring biasanya dilakukan melalui laman
web, search ads, display ads, dan pesan elektronik;
b) Media sosial, biasanya media ini perusahaan dapat menampilkan suara
public melalui kehadiran mereka dalam interaksi antar konsumen.
Secara umum, media sosial dapat diklasifikasikan kedalam tiga
kategori: komunitas dan forum online, blog, serta social network;
c) Word of Mouth (E-WOM), dimana interaksi antar konsumen tercipta
baik secara generik atau diinisiasi oleh perusahaan. Metode ini membuat
perusahaan perlu untuk mengendalikan interaksi yang dilakukan oleh
konsumen;
d) Mobile marketing, dimana pemasaran dilakukan melalui gawai gawai
pintar.
Sesuai dengan topik penelitian, akan dijelaskan lebih lanjut tentang Word
of Mouth (E-WOM) pada sub bab berikut ini

Manfaat Digital Marketing


Manfaat Digital Marketing menurut Kotler (2002; 758), pemasaran
online atau digital marketing memiliki banyak keuntungan bagi pelanggan
atau konsumen dan pelaku pasar.
a) Manfaat bagi pelanggan atau klien antara lain:
(1) Nyaman. Pelanggan dapat memesan barang di mana saja selama 24
jam sehari. Pelanggan tidak harus pergi ke perusahaan tempat
mereka menjual.
(2) Informasi. Pelanggan dapat memperoleh informasi komparatif
tentang perusahaan, produk, dan pesaing mereka tanpa
meninggalkan kantor atau rumah mereka.
(3) Haluskan sedikit. Pelanggan tidak harus berurusan dengan
provokasidan emosi, sehingga mereka tidak perlu antre untuk
melakukan pembelian.
(4) Pelanggan dapat memesan barang sesuai dengan keinginannya.
Pelanggan dapat mengirimkan permintaan mereka langsung ke
perusahaan tentang barang dan jasa yang mereka butuhkan. Untuk
memungkinkan pembeli menemukan kelebihan dan kekurangan
barang tersebut.
b) Manfaat pemasaran:
(1) Cepat menyesuaikan dengan kondisi pasar. Perusahaan dapat dengan
cepat menambahkan produk ke penawaran mereka dan mengubah
harga serta deskripsi produk.
(2) Biaya rendah. Pemasar online dapat menghindari biaya manajemen
toko, biaya sewa, asuransi, dan infrastruktur yang menyertainya.
Mereka dapat membuat katalog digital dengan biaya yang jauh lebih
rendah daripada mencetak dan mengirimkan katalog kertas.
(3) Mengembangkan hubungan. Pemasar online dapat berbicara dengan
pelanggan dan belajar lebih banyak dari mereka. Pemasar dapat
mengunduh laporan yang diperlukan atau demo gratis perangkat
lunak pemasar.
(4) Mengukur ukuran penonton. Pemasar dapat mengetahui
berapapersentase pelanggan yang berbelanja online dapat
mengunjungi situs yang telah mereka buat. Informasi ini akan
membantu pelaku pasar meningkatkan tawaran dan iklan mereka.
Berikut keunggulan pemasaran digital (Pangestika, 2018):
(1) Kecepatan Lokasi Strategi pemasaran media digital dapat dilakukan
dengan sangat cepat hanya dalam beberapa detik. Selain itu, pemasaran
digital dapat diukur secara real time.
(2) Kemudahan Evaluasi Dengan menggunakan media online, Anda bisa
langsung melihat hasil kegiatan pemasaran Anda. Informasi tentang
berapa lama produk telah dilihat, berapa persentase penjualan yang
telah dikonversi dari setiap iklan, dan sebagainya.
(3) Jaringan geografis pemasaran digital yang luas menggunakan beberapa
langkah untuk mendistribusikan produk ke seluruh dunia
menggunakan Internet.

Pengertian Digital Marketing


Pemasaran digital adalah proses mempromosikan dan mencari pasar
melalui media digital online menggunakan berbagai alat seperti jejaring
sosial (Purwana, 2017). Digital marketing merupakan salah satu media
pemasaran yang banyak diminati masyarakat dalam hal mendukung banyak
kegiatan (Pradiani, 2017). Iklan digital dapat menjangkau khalayak yang
lebih luas di kancah internasional. Saat ini jaringan internet sudah ada
dimana-mana dan setiap orang memiliki smartphone, sehingga sekarang bisa
melakukan pemasaran dimana saja. Pemasaran digital memperluas dan
meningkatkan fungsi pemasaran tradisional menggunakan fasilitas Internet
dan teknologi informasi. Definisi ini berfokus pada semua pemasaran
tradisional, dan perlu dicatat bahwa konsep-konsep seperti “pemasaran
interaktif”, “pemasaran individual”, dan “pemasaran elektronik” terkait erat
dengan “pemasaran digital” (Urban, 2004: 2). Ditulis oleh Ridwan Sanjaya
& Josua Tarigan (2009: 47), pemasaran digital adalah kegiatan pemasaran
yang melibatkan branding dengan menggunakan berbagai media berbasis
web seperti blog, situs web, email, iklan, dan jejaring sosial. Tentu saja,
pemasaran digital bukan hanya tentang pemasaran internet. Menurut Kleindl
& Burrow (2005), pemasaran digital adalah proses perencanaan dan
penerapan ide atau konsep pemikiran, penetapan harga, periklanan, dan
distribusi. Pemasaran dapat dijelaskan secara lebih sederhana, seperti
mengembangkan dan memelihara hubungan yang saling memuaskan antara
perusahaan dan konsumen. Pemasaran digital Chaffey (2002: 14) adalah
penggunaan teknologi digital untuk membuat saluran online melalui inovasi
terbaru di pasar (situs web, email, database, televisi digital, blog lain, saluran,
podcast, jejaring sosial, dll.).
Vardhana (2015) menemukan bahwa strategi pemasaran digital
memiliki dampak sebesar 78% terhadap keunggulan kompetitif UMKM
dalam mempromosikan produknya. Strategi tersebut terdiri dari sebagai
berikut:
a) Tersedianya informasi produk dan manual produk;
b) Ketersediaan gambar, seperti foto dan ilustrasi produk;
c) Ketersediaan video dengan kemampuan untuk mendeskripsikan atau
mempromosikan suatu produk;
d) Tersedianya lampiran dokumen yang berisi informasi dalam berbagai
format;
e) Mampu berkomunikasi dengan pengusaha secara online;
f) Ketersediaan alat transaksi, pilihan alat pembayaran;
g) Ketersediaan layanan dan layanan pelanggan;
h) Mampu mendukung umpan balik online;
i) Kesiapan tampilan testimoni;
j) Ketersediaan pendaftaran tamu;
k) Kesiapan proposal khusus;
l) Tersedianya penyajian informasi terkini melalui SMS-blog;
m) Pencarian produk yang mudah;
n) Kemampuan untuk menciptakan visibilitas dan pengetahuan merek;
o) Kemampuan untuk mengidentifikasi dan menarik pelanggan baru;
p) Kemampuan untuk memperkuat citra merek yang diterima konsumen

Tahap Keputusan Berkunjung


Menurut Kotler dan Keller (2012) proses keputusan pembelian dan
keputusan berkunjung meliputi lima tahapan, yaitu :

  1. Problem Recognition (Pengenalan Masalah)
    Proses pembelian dimulai saat pembeli menyadari suatu masalah atau
    kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan internal atau pun internal. Pemasar
    perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu dengan
    mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen. Kemudian mereka dapat
    mengembangkan strategi pemasaran yang memicu minat konsumen.
  2. Information Search (Pencarian Informasi)
    Setelah mengenal kebutuhan yang dihadapinya, konsumen akan mencari
    informasi lebih lanjut atau tidak. Ketika konsumen mengumpulkan informasi,
    hanya bebrapa pilihan yang ,menjadi kuat. Jika kebutuhan itu sangat penting
    bagi konsuemen maka pencarian informasi akan lebih mendalam, salah satu
    cara konsumen yaitu mendapatkan informasi dari berbagai pihak. Informasi-
    informasi yang didapatkan konsumen dibagi menjadi empat kelompok sumber
    informasi diantaranya :
    a. Pribadi : keluarga, teman, tetangga
    b. Komersial : iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, tampilan.
    c. Publik : media masa, organisasi pemeringkat, konsumen.
    d. Pengalaman : penanganan, pemeriksaan, penggunaan produk.
    Jumlah dan pengaruh relatif dari sumber-sumber informasi tergantung pada
    jenis produk dan karakteristik pembeli.Secara umum konsumen menerima
    informasi tentang suatu produk dari sumber komersial, yaitu sumber yang
    didominasi pemasar. Namun sumber informasi yang paling efektif didominasi
    dari sumber pribadi.Setiap sumber informasi menjalankan fungsi yang berbeda
    dalam memengaruhi keputusan pembelian.Yang menjadi pusat perhatian
    pemasaran adalah sumber informasi pokok yang diperhatikan konsumen.
  3. Evaluation Alternative (Evaluasi Alternatif )
    Setelah melalui tahapan pencarian informasi, konsumen akan menghadapi
    sejumlah merek yang dapat dipilih, pemilihan alternatif ini melalui beberapa
    proses tertentu, yaitu :
    a. Konsumen akan mempertimbangkan berbagai sifat produk
    b. Pemasar harus mempertimbangkan kegunaan ciri-ciri suatu produk
    c. Konsumen biasnaya membangun seperangkat kepercayaan merek sesuai
    dengan ciri-cirinya
    d. Konsumen diasumsikan memiliki sejumlah fungsi kegunaan setiaap cirri
    yang menggambarkan bagaimana konsumen mengharapkan kepuasan dari
    suatu produk yang bervariasi pada tingkat yang berbeda untuk masing-
    masing ciri
    e. Terbentuknya sikap konsumen terhadap beberapa merek melalui prosedur
    f. Penilaian konsumen ternyata menerapkan prosedur penilaian yang berbeda
    untuk membuat suatu pilihan diantara sekian banyak ciri-ciri objek
    g. Purchase Decision (Keputusan Pembelian)
    Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk prefensi antar merek dalam
    kumpulan pilihan. Konsumen membentuk suatu minat terhadap merek yang
    paling dsukai. Dalam melaksanakan pembelian, konsumen dapat membentuk
    lima sub keputusan : merek, penyalur, kuantitas waktu, dan metode pembayaran.
    Cara sikap orang lain mengurangi altenatif yang disukai akan bergantung pada
    dua hal yaitu intensitan negatif orang lain pada alternatif yang disukai
    konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. Minat
    beli berada pada posisi setelah konsumen melakukan evaluasi alternatf sebelum
    melakukan keputusan pembelian. Pertimbangan alternatif konsumen untuk
    menyelesaikan masalah dalam memilih sebuah merek mana yang menjadi
    pilihan konsumen untuk mengatasi masalahnya terdapat beberapa macam
    alternatif pilihaan yang dibedakan berdasarkan beberapa klasifikasi yaitu: kelas
    produk, bentuk produk, merek atau model yang ingin konsumen beli. Adapun
    klasifikasi lainnya yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memutuskan
    pilihan membeli yaitu : meteode dalam pembayaran (kas, cek, atau kredit) yang
    dikunjunginya, dan waktu yang dikunjunginya harian atau bulanan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Berkunjung


Menurut Wahyuni et al., (2022) menyatakan bahwa ada lima faktor yang
menentukan seseorang untuk membeli jasa atau mengunjungi objek wisata, yaitu :

  1. Lokasi, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang lokasi yang
    benar-benar strategis dan tidak membutuhkan terlalu banyak waktu, tenaga dan
    biaya sehingga lokasi ini dapat mendukung yang lain.
  2. Fasilitas, fungsinya adalah memenuhi kebutuhan wisatawan selama tinggal
    untuk sementara waktu di destinasi wisata yang dikunjungi. Sehingga apabila
    suatu destinasi memiliki fasilitas yang lengkap maka akan mempengaruhi
    konsumen untuk berkunjung.
  3. Citra/image, menggambarkan kepada seseorang terhadap suatu destinasi yang
    mengandung kenyakinan, kesan dan persepsi. Citra yang terbentuk di pasar
    merupakan kombinasi antara berbagai faktor yang ada pada destinasi yang
    bersangkutan (seperti cuaca, pemandanan alam, keamanan, kesehatan dan
    sanitasi, keramah tamahan, dan lain-lain) dan informasi yang diterima oleh
    calon wisatawan dari berbagai sumber dipihak lain, atau fantasinya sendiri,
    walaupun tidak nyata, sangat penting di dalam mempengaruhi keputusan calon
    wisatawan.
  4. Harga/tarif, akan mempengaruhi seorang konsumen untuk mengambil
    keputusan dalam berkunjung ke suatu destinasi. Harga yang tinggi pada suatu
    daerah tujuan wisata akan memberikan imbas/timbal balik pada pengunjung
    begitu pula sebaliknya.
  5. Pelayanan, yang diberikan pada saat memilih sampai terjadinya transaksi
    pembelian sangatlah berpengaruh terhadap jadi tidaknya pembelian yang
    dilakukan oleh konsumen. Oleh karena itu, suatu destinasi akan memiliki
    banyak pengunjung apabila memberikan pelayanan yang terbaik bagi
    pengunjungnya.

Definisi Keputusan Berkunjung


Keputusan berkunjung adalah suatu tahap dimana konsumen telah
memiliki pilihan dan siap untuk melakukan pembelian atau pertukaran antara
uang dan janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan suatu
barang atau jasa (Kotler, 2012). Sedangkan menurut Tina Rahmadayanti &
Kholid Murtadlo, (2020) keputusan berkunjung adalah suatu keputusan yang
diambil oleh seseorang yang akan melakukan perjalanan ke suatu tempat wisata
tertentu untuk berlibur. Keputusan pengunjung untuk memilih objek wisata yang
dipilih pada dasarnya merupakan salah satu bentuk pengambilan keputusan.
Kristiutami, (2015) menyatakan bahwa keputusan berkunjung wisatawan sama
dengan keputusan pembelian. Keputusan berkunjung merupakan sebuah proses
dimana seseorang pengunjung melakukan penilaian dan memilih satu alternatif
yang diperlukan berdasarkan pertimbangan tertentu. Proses pengambilan
keputusan sangatlah penting karena dalam melakukan perjalanan wisata seorang
pengunjung terlebih dahulu menyiapkan mental, jarak tempuh berapa lama, ke
tempat wisata mana dan lain-lain. Keputusan berkunjung merupakan tahapan atau
proses yang dipengaruhi oleh motivasi, preferensi, informasi, dan kondisi
lingkungan dimana seseorang memiliki pilihan dan melakukan penilaian dengan
berbagai pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam melakukan perjalanan
atau kunjungan ke suatu tempat tertentu

Aspek Digital Marketing


Aspek digital marketing yang harus diketahui dan dipersiapkan dalam
menjalankan sebuah usaha menurut Karni Fadhillah (2020) sebagai berikut :

  1. Menetukan Target Market
    Menentukan kriteria target market bisnis merupakan hal penting dilakukan
    sebelum terjun ke dunia bisnis. Dari menentukan spesifikasi target pasar
    nantinya akan memudahkan untuk menjalankan strategi pemasaran
    menggunakan iklan digital ataupun cara penyampaian konten melalui sosial
    media.
  2. Branding
    Branding merupakan sebuah cara yang dilakukan untuk membuat sebuah bisnis
    atau usaha dikenal oleh banyak orang. Hal ini bisa diwujudkan melalui
    penggunaan iklan (baik secara digital maupun konvensional), melalui word of
    mouth (ulut ke mulut), mengikuti sebuah event, menjadi sponsor sebuah acara,
    menciptakan logo yang ikonik, membuat nama brand yang mudah diingat, dan
    masih banyak lagi.
  3. Iklan
    Aspek pemasaran yang tak kalah penting adalah ads atau iklan. Iklan dalam
    promosi digital dapat dibuat spesifik mungkin dengan menargetkan kriteria
    konsumen tertentu. Melalui penargetan iklan yang spesifik iklan akan tayang
    pada orang-orang dengan kriteria yang diinginkan. Dengan demikian
    perusahaan dapat menghemat biaya dalam metode pemasaran yang digunakan.
    Hal ini tidak seperti pemasaran konvensional dimana jangkauan atau target
    market tidak bisa dibuat spesifik
  4. Berkomunikasi dengan Konsumen
    Dalam menjalin hubungan dengan konsumen pastikan bahwa cara
    berkomunikasi yang digunakan sesuai dengan kriteria target market yang
    sebelumnya sudah ditentukan. Cara berkomunikasi yang tepat dan baik akan
    membangun hubungan di antara suatu brand dengan konsumennya. Hal ini
    berperan dalam meningkatkan kredibilitas serta kepuasan pelanggan terhadap
    pelayanan brand bisnis.
  5. Konsistensi
    Konsistensi merupakan kunci utama dalam memasarkan sebuah usaha atau
    bisnis. Untuk memaksimalkan peluang dalam bersaing dengan kompetitor lain,
    membuat sebuah konten media sosial atau iklan digital harus secara konsisten.
    Mempertahankan setiap kualitas konten hingga seluruh informasi yang akan
    diberikan tersampaikan pada konsumen. Informasi yang diberikan pun harus
    sesuai kebenarannya sebab, hal ini dapat mempengaruhi kredibilitas bisnis atau
    usaha di mata konsumen

Jenis-jenis Digital Marketing


Menurut Andy et al., (2020) terdapat beebrapa jenis digital marketing
sebagai berikut :

  1. Website
    Salah satu jenis dari digital marketing yaitu website. Saat ini banyak produk atau
    jasa yang sudah menggunakan website sebagai sarana promosi dam memasarkan
    produknya di era digital. Selain sebagai sarana promosi dan memasarkan produk,
    mealui website konsumen dapat mencari dan melihat review tentang produk atau
    jasa yang dicari.
  2. Sosial Media Marketing
    Sosial media marketing adalah pemasaran menggunakan situs media sosial untuk
    meningkatkan visibilitas di internet dan untuk mempromosikan produk dan jasa.
    Melalui media sosial bisa menjadi jembatan untuk bertukar ide, pengetahuan,
    informasi, bahkan komunikasi antar pengguna.
  3. Search Engine atau Mesin Pencarian
    Search Engine atau Mesin Pencarian adalah jenis website yang khusus untuk
    mengumpulkan daftar website yang bisa ditemukan di internet dalam data base
    yang kemudian menampilkan daftar indeks ini berdasarkan kata kunci atau
    keyword yang dicari oleh pengguna. Search Engine terbagi menjadi 2 yaitu SEO
    (Search Engine Optimization) dan SEM (Search Engine Marketing)
    a. SEM (Optimasi Mesin Pemasaran) : bekerja dengan cara meningkatkan
    visitabily dengan menggunakan periklanan dan optimasi dengan timbal balik
    berupa biaya. SEM memudahkan dalam mengupayakan website bisa muncul
    dihalaman pertama Google.
    b. SEO (Optimasi Mesin Pencari) : merupakan upaya menaikkan website
    dihalaman pertama Google dengan startegi atau peletakkan kata kunci artikel
    atau suatu konten

Kelebihan dan Kekurangan Digital Marketing


Dalam pengaplikasiannya digital marketing memiliki kelebihan dan
kekurangan. Menurut Andy et al., (2020) kelebihan dan kekurangan digital
marketing sebagai berikut :
a. Kelebihan menggunakan Digital Marketing

  1. Efisiensi biaya dan waktu : pemasaran digital memiliki biaya yang lebih rendah
    dibandingkan dengan pemasaran tradisional. Selain itu, pemasaran digital akan
    mendapatkan jangkauan pasar yang lebih luas dan lebih besar tanpa harus
    membuang banyak waktu untuk melakukan promosi.
  2. Interaktif : pengguna online dapat memilik kapan untuk memulai
    pemasarannya, dengan siapa, dimana saja, dan berapa lama nya tidak terbatas
    oleh waktu.
  3. Konten menarik : pemasaran digital menawarkan banyak konten menarik,
    praktis, dan tidak terbatas.
  4. Mudah diukur : teknologi digital memungkinkan pengukuran. Pemilik usaha
    dapat mengetahui seberapa jauh konten yang dibuat dan dapat berdampak pada
    penjualan.
  5. Audiens tak terbatas : kunjungan pada platform online yang dimiliki tidak
    terbatas, siapapun dapat melihat web, media sosial, atau akun lainnya.
    b. Kekurangan menggunakan Digital Marketing
  6. Koneksi internet : promosi online dapat terhambat salah satunya karena
    koneksi internet yang lambat, audiens akan sulit untuk mengakses konten yang
    telah di upload.
  7. Tantangan privasi dan keamanan : pengumpulan dan penggunaan data pribadi
    dapat menimbulkan masalah privasi dan keamanan yang perlu dikelola hati-
    hati.
  8. Kurangnya kepercayaan : kurangnya kepercayaan pengguna karena banyaknya
    iklan yang dimanipulasi sehingga mengarah pada penipuan.

Manfaat Digital Marketing dan Dampak Digital Marketing


Menurut Andy et al., (2020) digital marketing memiliki beberapa manfaat
bagi perusahaan untuk meningkatkan pemasaran produk, jasa, atau tempat sebagai
berikut :

  1. Meningkatkan penjualan, jangkauan konsumen dan target pasar yang luas akan
    membuat produk, jasa, atau tempat semakin dikenal oleh banyak orang.
  2. Lebih dekat dengan konsumen, komunikasi melalui media digital akan
    membuat konsumen menjadi lebih dekat. Dengan memberikan pelayanan
    terbaik konsumen akan merasa nyaman dan menjadi pelanggan setia.
  3. Meningkatkan pendapatan, dengan berkembangnya jaringan konsumen yang
    dimiliki, maka pendapatan juga akan ikut bertambah. Pendapatan yang
    meningkat juga bisa mendorong pertambahan profit perusahaan.
    Digital Marketing memiliki dampak signifikan dalam membentuk persepsi dan
    mempengaruhi keputusan pengunjung untung berkunjung. Berikut beberapa
    dampak dari digital marketing, yaitu :
  4. Membangun Kesadaran Merek
    Dengan berbagai saluran digital seperti media sosial perusahaan dapat
    membangun kesadaran merek secara efektif. Kesadaran merek yang tinggi
    dapat membentuk persepsi positif terhadap usaha yang dijalankan dan
    meningkatkan kemungkinan bahwa orang tersebut akan mengunjungi situs web
    atau tempat usaha tersebut.
  5. Testimoni atau Review Online
    Ulasan atau review online akan memainkan peran penting dalam membentuk
    persepsi seseorang. Ulasan positif yang baik dan terdapat bukti yang akurat
    tentang kualitas dan kepuasan pelanggan yang dapat mempengaruhi keputusan
    pengunjung untuk mengunjungi.
  6. Interaksi melalui Media Sosial
    Interaksi melalui media sosial dapat membentuk persepsi pelanggan tentang
    keaslian, nilai merek, dan sebagainya. Respon positif dan interaksi langsung
    dapat menciptakan ikatan emosional dengan pelanggan yang akan mendorong
    mereka untuk mengunjungi situs web atau tempat usaha.
  7. Kampanye Iklan Berbayar
    Kampanye iklan berbayar dapat memberikan hasil cepat dan membentuk
    persepsi bahwa bisnis tersebut memiliki tawaran menarik. Iklan yang
    ditargetkan secara tepat dapat memotivasi pengunjung untuk mengklik iklan
    dan mengunjungi situs web.
  8. Personalisasi melalui Email Marketing
    Melalui email marketing yang personal dan disesuaikan, bisnis dapat
    membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan. Personalisasi pesan
    dapat membentuk persepsi bahwa bisnis peduli dan memahami kebutuhan
    individual pelanggan

Indikator Digital Marketing


Digital marketing memiliki beberapa indikator menurut Viedy E, Samadi L
(2022), yaitu :

  1. Accessibility (aksessibilitas), kemampuan pengguna untuk mengakses
    informasi dan layanan yang disediakan secara online dan periklanan.
  2. Interactivity (interaktivitas), tingkat komunikasi dua arah yang mengacu pada
    kemampuan timbal balik komunikasi antara pengiklan dan konsumen, dan
    menanggapi input yang akan diterima.
  3. Entertainment (hiburan), kemampuan beriklan untuk memberi kesenangan
    atau hiburan kepada konsumen.
  4. Credibility (kepercayaan), tingkat kepercayaan konsumen pada iklan yang
    muncul atau sejauh mana iklan memberikan informasi tentang mereka dapat
    dipercaya, tidak memihak, kompeten, kredibel, dan spesifik.
  5. Informativeness (informatif), kemampuan iklan untuk menyuplai informasi
    kepada konsumen, serta memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai
    sebuah produk sehingga bisa memberikan keuntungan ekonomis.

Definisi Digital Marketing


Kini banyak perusahaan yang menggunakan teknologi modern untuk
mempromosikan usaha atau bisnis mereka. Hal ini juga dimanfaatkan oleh
industri pariwisata di Jawa Timur Park 3 yang menggunakan startegi digital
marketing untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Digital marketing
merupakan penggunaan berbagai platform atau media online seperti media sosial,
email dan berbagai platform online lainnya untuk mempromosikan, memasarkan,
dan mengkomunikasikan produk dan layanan. Tujuan utama dari digital
marketing adalah untuk meningkatkan keputusan berkunjung, meningkatkan
kesadaran merek, meningkatkan penjualan, dan menarik perhatian calon
pelanggan. Digital marketing memiliki definisi yang sangat luas dengan berbagai
konsep juga sistem penerapan yang berbeda-beda menurut Chaffey (2011) digital
marketing adalah pemasaran digital adalah suatu bentuk usaha perusahaan dalam
memasarkan produk dan jasanya ke dalam teknologi digital secara online guna
mendapatkan pasar secara global dan spesifik.
Strategi digital marketing akan terus berkembang seiring berkembangnya
teknologi dan seiring berjalannya waktu, perusahaan akan terus memperbarui
strateginya untuk tetap bertahan di pasar yang dinamis ini. Digital marketing
bukan hanya tentang periklanan, tetapi juga tentang berinteraksi dengan calon
pelanggan dan membangun hubungan jangka panjang. Digital marketing memiliki
peran penting dalam dunia bisnis modern dan memainkan peran inti dalam
menarik perhatian pengunjung ke platform online atau situs web.
Menurut Andy et al., (2020) ada beberapa alasan mengapa digital marketing
penting , yaitu :

  1. Targeting yang lebih efisien, digital marketing dapat memudahkan untuk
    mengetahui apa yang diinginkan pelanggan, apa yang disukai dan apa yang
    tidak disukai
  2. Mencapai audiens yang lebih luas, melalui digital marketing perusahaan
    dapat terhubung dengan orang dari seluruh penjuru dunia sehingga, akan
    memperluas pelanggan potensial
  3. Biaya yang lebih efisien, melalui digital marketing perusahaan dapat
    menghemat anggaran dan memaksimalkan hasil keuangan perusahaan karena,
    semua aktivitas pemasaran dilakukan secara online

Pengertian keputusan pembelian


Keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah
menentukan pilihannya dan melakukan pembelian produk,
serta mengkonsumsinya. Keputusan pembelian antara satu
konsumen dengan yang lainnya berbeda-beda, karena
kebutuhan dan selera konsumen yang berbeda, menurut
Schiffman dan Kanuk, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
2011 keputusan pembelian adalah perilaku yang diperlihatkan
konsumen dalam mencari, memberi, menggunakan,
mengevaluasi dan menghabiskan suatu produk dan jasa yang
diharapkan dapat memuaskan kebutuhannya. Menurut Kotler
dan Amstrong, 2008:179 yang dikutip oleh Mandey, 2013
keputusan pembelian adalah proses keputusan pembeli tentang
merek mana yang dibeli. Pada umumnya, keputusan pembelian
konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi 2
faktor bisa berada antara niat dan keputusan pembelian.
Konsumen dalam keputusan pembelian dipengaruhi oleh
perilaku konsumen, pola perilaku konsumen antara satu
dengan yang lainnya saling berkaitan, seperti produk kemudian
harga dan juga promosi. Sebelum memutuskan untuk membeli
konsumen akan memastikan produk apa yang akan dibeli
kemudian memilih produknya melihat kualitas dan
kegunaannya terlebih dahulu kemudian konsumen akan
melihat harga dari produk yang telah ia pilih. Promosi juga
mempengaruhi keputusan pembelian, konsumen tidak akan
tahu produk yang baik serta harga yang murah jika tidak ada
promosi dari penjual

Manfaat influencer marketing


Menurut Ellora (2019), berdasarkan jumlah followers secara
umum jenis influencer dibagi menjadi 4, yaitu :

  1. Nano influencer
    Nano influencer adalah influencer yang memiliki jumlah
    followers 500 hingga 1.000. Meskipun jumlah
    followersnya paling sedikit di kategori influencer, namun
    tetap memiliki pengaruh yang kuat karena lebih mengenal
    hampir seluruh followersnya secara langsung
  2. Micro influencer
    Micro influencer adalah influencer yang memiliki jumlah
    followers antara 1.000 hingga 100.000. Micro influencer
    biasanya dikenal karena suatu bidang secara spesifik.
    Misalnya beauty blogger, parenting blogger, food
    blogger, dan masih banyak lagi.
  3. Macro influencer
    Macro influencer berada satu tingkat diatas micro
    influencer, mereka memiliki followers diatas 100.000
    hingga 1.000.000. Influencer jenis ini paling banyak
    ditemukan dan kerap dianggap paling ideal bagi brand.
    Macro influencer juga memproduksi konten yang lebih
    berkualitas, karena content creator adalah pekerjaan
    utamanya.
  4. Mega influencer
    Mega influencer atau biasa disebut dengan premium
    influencer atau celebrity influencer, mereka memilliki
    followers lebih dari 1 juta. Influencer jenis ini
    dikategorikan sebagai jenis influencer tertinggi karena
    biasanya berasal dari kalangan artis, youtuber, atau
    selebgram yang memiliki lebih dari 1 juta followers

Pengertian Influencer Marketing


Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin
pesat, dunia bisnis dituntut untuk selalu memperbarui strategi
pemasarannya agar lebih inovatif dalam menciptakan produk
hingga melakukan promosinya. Saat ini strategi pemasaran
yang sedang banyak digunakan adalah metode pemasaran yang
menggunakan influencer sebagai medianya. Para influencer
adalah mereka yang dipercaya dan digemari oleh sebagian
masyarakat, apapun yang dipakai dan dilakukan akan selalu
menjadi sorotan bagi orang banyak. Seorang influencer dapat
menciptakan citra merek produk yang lebih baik dan dengan
biaya yang lebih murah dibandingkan menggunakan brand
endorser artis atau figur publik yang sudah berada kalangan
artis papan atas. Seorang influencer secara umum biasanya
dipilih berdasarkan kemampuan, keahlian, tingkat popularitas,
maupun reputasi yang dimilikinya (Hariyanti & Wirapraja,
2018). Kepribadian generasi milenial yang dekat dengan dunia
internet, lebih menyukai pendekatan secara online berupa User
Generated Content (UGC) yang dibuat oleh perseorangan.
Mereka menggunakan media sosial untuk mendapatkan
informasi dan melakukan pengambilan keputusan dalam
pembelian produk berdasarkan review atau testimoni dari
orang yang sudah membeli atau menggunakan produk tersebut
(Arini, Angga, & Putra, 2019). Oleh sebab itu menggunakan
influencer sebagai media promosi merupakan hal yang efektif
karena masing-masing influencer memiliki cara yang berbeda
dalam melakukan promosi produk secara soft selling, hal ini
diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan massa dan
meningkatkan brand awareness.
Indikator influencer marketing menurut Hovland, Janis dan
Kelly, 1953 yang dikutip oleh Sugiharto & Ramadhana, 2018
“kredibilitas disusun menyimpulkan dari pembahasan-
pembahasan sebelumnya bahwa itu memiliki 3 komponen
yaitu trustworthiness, expertise, dan attractiveness”.

  1. Trustworthiness
    Menurut Shimp (2007), trustworthiness mengarah pada
    kemampuan sumber yang dilihat memiliki kejujuran,
    integritas dan dapat dipercaya. Influencer yang dipercaya
    dapat mempengaruhi audience meskipun memiliki
    kemampuan yang biasa-biasa saja
  2. Expertise
    Menurut Shimp (2007), expertise mengarah pada
    pengetahuan, pengalaman atau keahlian yang dimiliki oleh
    seorang influencer yang dapat dikaitkan dengan merek
    yang sedang di iklan-kan
  3. Attractiveness
    Attractiveness menurut Shimp (2007), yaitu mengarah
    kepada diri yang menurut audience dianggap memiliki
    daya tarik fisik yang menarik. Menurut Mowen dan Minor
    (2002), karakteristik influencer harus sesuai dengan
    produk yang mereka bawakan. Jika audience merasa
    tertarik dengan influencer, hal tersebut dapat mempersuasi
    dengan mudah melalui ketertarikan dari inflluencer
    tersebut

Pengaruh Brand Image terhadap Keputusan Pembelian


Menurut P. Kotler & Keller, 2009 yang dikutip oleh Musay,
2013 citra merek adalah presepsi dan keyakinan yang dipegang
oleh konsumen, seperti yang dicerminkan asosiasi yang
tertanam dalam ingatan pelanggan, yang selalu diingat pertama
kali saat mendengar slogan dan tertanam dibenak
konsumennya, kemudian menurut Tjiptono & Fandy (2015),
citra merek adalah deskripsi asosiasi dan keyakinan konsumen
terhadap merek tertentu. Citra merek (brand image) adalah
pengamatan dan kepercayaan yang digenggam konsumen,
seperti yang dicerminkan di asosiasi atau di ingatan konsumen.
Menurut Ferrinadewi, 2008:166 yang dikutip oleh Musay,
2013 brand image merupakan konsep yang diciptakan oleh
konsumen karena alasan subyektif dan emosi pribadinya.
Berbagai upaya dilakukan perusahaan dalam rangka
mempertahankan brand image yang mereka miliki diantaranya
inovasi teknologi keunggulan yang dimiliki produk tersebut,
penetapan harga yang bersaing, dan promosi yang tepat
sasaran. Semakin baik brand image produk yang dijual, maka
semakin tinggi keputusan pembelian oleh konsumen
(Francisco, 2013)
Kesimpulannya, brand image (citra merek) merupakan
gambaran atau kesan yang ditimbulkan oleh suatu merek
dalam benak pelanggan. Penempatan citra merek dibenak
konsumen harus dilakukan secara terus-menerus agar citra
merek yang tercipta tetap kuat dan dapat diterima secara
positif. Ketika sebuah merek memiliki citra yang kuat dan
positif di benak konsumen maka merek tersebut akan selalu
diingat dan kemungkinan konsumen untuk membeli merek
yang bersangkutan sangat besar (P.musay, 2013)

Teori Brand Image


Menurut Kertajaya, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
2011, menyatakan ada beberapa faktor yang membentuk citra
merek yaitu :

  1. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk
    barang yang ditawarkan oleh produsen dengan merek
    tertentu
  2. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan
    pendapat dan kesepakatan yang di bentuk oleh masyarakat
    tentang suatu produk yang dikonsumsi
  3. Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari
    suatu produk yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen
  4. Pelayanan, yang berkaitan dengan tugas produsen dalam
    melayani konsumennya
  5. Resiko, berkaitan dengan untung rugi yang dialami oleh
    konsumen
  6. Harga, dalam hal ini yang dikeluarkan konsumen untuk
    mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi
    citra berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
    sedikitnya jumlah uang jangka panjang
  7. Image, yang dimiliki merek itu sendiri, yaitu berupa
    pelanggan, kesempatan dan informasi yang berkaitan
    dengan suatu merek dari produk tertentu
    Menurut Rahman, 2010:179 yang dikutip oleh Kurniati,
    2012, pengukuran terhadap merek mempunyai enam tingkat
    pengertian, yaitu :
  8. Atribut : Merek mengingatkan pada atribut tertentu dari
    sebuah produk, baik dari program purna jualnya,
    pelayanan, maupun kelebihannya dan perusahaan
    menggunakan atribut tersebut sebagai materi iklan mereka
  9. Manfaat : Pelanggan tentu tidak membeli sebatas atribut
    dari suatu produk melainkan manfaatnya
  10. Nilai : Merek mewakili nilai dari produknya. Jam tangan
    merek Rolex, misalnya yang memberikan nilai tinggi bagi
    penggunanya
  11. Budaya : Merek mewakili budaya tertentu
  12. Kepribadian : Merek layaknya seseorang yang
    merefleksikan sebuah kepribadian tertentu
  13. Pemakai : Merek menunjukkan jenis konsumen yang
    membeli atau menggunakan suatu produk tersebut.
    Manfaat dari brand image menurut Tjiptono (2012) yaitu :
  14. Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan
    atau pelacakan produk bagi perusahaan, terutama dalam
    pengorganisasian sediaan dan pencatatan akuntansi
  15. Bentuk proteksi hukum terhadap fitur atau aspek produk
    yang unik. Merek bisa mendapatkan perlindungan properti
    intelektual. Nama merek bisa diproteksi melalui merek
    dagang terdaftar (registered trademarks) proses
    pemanufakturan bisa dilindungi melalui hak paten dan
    kemasan bisa diproteksi melalui hak cipta (copyright) dan
    desain
  16. Signal tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas,
    sehingga mereka bisa dengan mudah memilih dan
    membelinya lagi di lain waktu
  17. Sarana untuk menciptakan asosiasi dan makna unik yang
    membedakan produk dari para pesaing
  18. Sumber keunggulan kompetitif, terutama menyangkut
    pendapatan masa datang
  19. Sumber financial returns, terutama menyangkut
    pendapatan masa datang

Pengertian Brand Image


Brand Image merupakan representasi dari keseluruhan
persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman masa lalu konsumen terhadap merek itu. Ketika
konsumen memutuskan untuk membeli suatu produk
sebenarnya mereka memiliki alasan-alasan tertentu dalam
memilih sebuah produk, misalnya merasa puas dengan kualitas
dan pelayanan yang ditawarkan produk tersebut. Ada pula
konsumen yang membeli barang berdasarkan kebutuhan akan
suatu barang dan tidak sedikit konsumen yang membeli suatu
produk secara spontanitas, maksudnya konsumen membeli
produk tersebut tanpa ada rencana untuk membeli sebelumnya
atau tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan khusus ketika
memutuskan untuk membeli (Musay, 2013). Berbagai upaya
dilakukan perusahaan dalam rangka mempertahankan brand
image yang mereka miliki diantaranya inovasi teknologi
keunggulan yang dimiliki produk tersebut, penetapan harga
yang bersaing, dan promosi yang tepat sasaran. Semakin baik
brand image produk yang dijual, maka semakin tinggi
keputusan pembelian oleh konsumen (Francisco, 2013).
Pengertian brand image menurut para ahli :

  • Menurut Tjiptono, 2015:49 yang dikutip oleh Venessa &
    Arifin, 2015 Citra merek adalah deskripsi asosiasi dan
    keyakinan konsumen terhadap merek tertentu
  • Menurut Kertajaya, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
    2011, mengemukakan pendapatnya bahwa yang dimaksud
    dengan citra merek adalah gebyar dari seluruh asosiasi yang
    terkait pada suatu merek yang sudah ada di benak
    konsumen

Pengertian Digital Marketing


Digital Marketing atau biasa disebut dengan pemasaran
digital merupakan aktivitas promosi baik untuk produk atau
merek (Brand) yang menggunakan media elektronik (digital).
Saat ini perkembangan teknologi sangat memudahkan pebisnis
dalam melakukan pemasaran secara digital, iklan bisa dilakukan
melalui blog, website, e-mail dan berbagai macam sosial media.
Iklan adalah bentuk promosi dan promosi merupakan salah satu
elemen yang paling penting dari bauran pemasaran (Laksana &
Dharmayanti, 2018). Definisi digital marketing menurut para ahli:

  • Menurut Tjiptono, 2016 yang dikutip oleh Hariyanti &
    Wirapraja, 2018, e-marketing (Electronic Marketing) adalah
    proses strategik, mengembangkan, mendistribusikan,
    mempromosikan, dan menetapkan harga barang dan jasa
    kepada pasar sasaran melalui internet atau alat-alat digital
    seperti smartphone.
  • Pemasaran digital menurut Chaffey, 2016:14 yang dikutip oleh
    Jayabaya Putu Nina Mediawati, 2018 adalah penerapan dari
    internet serta teknologi-teknologi digital yang berkaitan
    terhadap metode komunikasi tradisional untuk memperoleh
    tujuan pemasaran
    Menurut Eun Young Kim, 2002 yang dikutip oleh Laksana &
    Dharmayanti, 2018 ada empat dimensi dari digital marketing.
    Empat dimensi yang diukur dari digital marketing adalah :
  1. Cost, merupakan salah satu teknik promosi yang memiliki
    tingkat efisiensi yang tinggi sehingga dapat menekan biaya
    dan waktu transaksi.
  2. Incentive Program, adalah program-program menarik yang
    menjadi keunggulan dalam setiap promosi yang dilakukan.
    Program-program ini juga diharapkan agar dapat memberikan
    niai yang lebih kepada perusahaan.
  3. Site design, merupakan tampilan menarik dalam media
    digital marketing yang dapat memberikan nilai positif bagi
    perusahaan.
  4. Interactive, merupakan hubungan antara pihak perusahaan
    dengan konsumen yang dapat memberikan info dan dapat
    diterima dengan baik dan jelas

Pengaruh Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian


Kualitas dapat diartikan kemampuan dari produk untuk menjalankan
fungsinya yang mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan, kekuatan,
kemudahan dalam pengemasan dan reparasi produk dan ciri- ciri lainnya (Kotler
dan Amstrong, 2008). Menurut Stanton, (2004) mendefinisikan produk adalah
sekumpulan atribut yang nyata yang terkait dalam sebuah bentuk yang dapat
didentifikasikan, di dalamnya sudah ter-cakup warna, harga, kemasan, prestise
pabrik, prestise pengecer, dan pelayanan dari pabrik serta pengecer yang
mungkin diterima oleh pembeli sebagai sesuatu yang bisa memuaskan keinginan.
Kualitas produk merupakan hal yang sangat penting dan harus di utamakan
perusahaan agar menarik minat produsen untuk membeli sebuah produk yang di
hasilkan sehingga dapat bersaing untuk memuaskan kebutuhan konsumen

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Amstrong (2012) dalam Priansa (2017), indikator
dalam proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a. Pilihan Produk
b. Pilihan Merek
c. Pilihan Saluran Pembelian
d. Waktu Pembelian
e. Jumlah Pembelian
Penjelasan dari kelima indikator tersebut :
a. Pemilihan produk Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli
sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang
lain.Perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang
yang berniat membeli.
b. Konsumen memutuskan merek mana yang akan dibeli. Setiap merek
memiliki perbedaan-perbedaan yang tersendiri. Dalam hal ini, perusahaan
harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek, apakah
berdasarkan ketertarikan, atau kesesuaian.
c. Pembelian, konsumen harus mengambil keputusan penyalur produk yang
mana akan dikunjungi. Setiap konsumen berbeda dalam pemilihan
penyalur, misalnya faktor lokasi, harga, persediaan barang yang lengkap,
kenyamanan berbelanja, keluasan tempat, dan lain sebagainya merupakan
faktor-faktor yang memengaruhi konsumen untuk memilih penyalur.
d. Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-
beda, contohnya : ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua
minggu sekali, tiga minggu sekali, satu bulan sekali dan sebagainya.
e. Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian dilakukan mungkin lebih
dari satu. Dalam keputusan pembelian tersebut perusahaan harus
mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang
berbeda-beda dari setiap pembeli

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan suatu tindakan konsumen untuk
membeli produk atau tidak. Menurut Kotler dan Amstrong (2011) menyatakan
bahwa “keputusan pembelian merupakan tahap proses keputusan dimana
konsumen secara aktual melakukan pembelian produk”.
Adanya kecenderungan pengaruh kualitas produk, harga dan promosi
terhadap keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut,
mengisyaratkan bahwa manajemen perusahaan perlu mempertimbangkan aspek
perilaku konsumen, terutama proses pengambilan keputusan pembeliannya.
Keputusan pembelian didefinisikan sebagai tahap dalam proses
pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen benar-benar membeli
Kotler dan Armstrong, (2012). Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan
individu secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan
barang yang ditawarkan.

Indikator Persepsi Harga


Indikator Persepsi HargaMenurut Kotler dan Amstrong (2009) dalam
jurnal Manajemen dan keuangan (2017) dikutip oleh Amalia dan Nst,
indikator persepsi harga yaitu sebagai berikut:
a. Keterjangkauan harga.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
c. Daya saing harga.
d. Kesesuaian harga dengan manfaat.
Penjelasan dari keempat indikator diatas adalah sebagai berikut:
a. Keterjangkauan Harga Harga yang terjangkau adalah harapan
konsumen sebelum mereka melakukan pembelian. Konsumen akan
mencari produk-produk yang harganya dapat mereka jangkau.
b. Kesesuaian Harga Dengan Kualitas Produk Untuk produk tertentu,
biasanya konsumen tidak keberatan apabila harus membeli dengan
harga relative mahal asalkan kualitas produknya baik. Namun
konsumen lebih menginginkan produk dengan harga murah dan
kualitasnya baik.
c. Daya Saing Harga Perusahaan menetapkan harga jual suatu produk
dengan mempertimbangkan harga produk yang dijual oleh pesaingnya
agar produknya dapat bersaing di pasar.
d. Kesesuaian Harga dengan Manfaat Konsumen terkadang mengabaikan
harga suatu produk namun lebih mementingkan manfaat dari produk
tersebut

Teori Persepsi Harga


Dharmmesta dan Handoko (2011) mengemukakan harga adalah jumlah uang
(ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanan. Dinawan (2010) mengatakan
presepsi harga terlihat dari:
a. Perbandingan harga dengan produk lain, yaitu bagaimana perbandingan
harga produk dengan produk pesaingnya.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, yaitu apakah harga yang
ditawarkan sudah sesuai dengan kualitas produk yang didapatkan.
c. Keterjangkauan harga, yaitu adalah keterjangkauan harga yang
ditawarkan produsen ke konsumen.

Peresepsi Harga


Presepsi harga adalah konsumen yang memiliki kecenderungan
menggunakan harga untuk mempertimbangkan kualitas penilaian suatu produk.
Penilaian harga suatu produk dapat dilihat mahal atau tidak, untuk masing-
masing individu penilaian tidaklah sama karena bergantung pada persepsi
individu. Menurut Tjiptono (2011) mengatakan bahwa harga merupakan bauran
harga berkenaan dengan strategi dan taktis seperti tingkat harga, struktur diskon,
syarat pembayaran, dan tingkat diskriminasi harga diantara berbagai kelompok
pelanggan.
Menurut Schifman dan Kanuk (2004) mendefinisikan “presepsi
harga adalah pandangan atau persepsi mengenai harga bagaimana pelanggan
memandang harga tertentu (tinggi, rendah, wajar) mempengaruhi pengaruh
yang kuat terhadap maksud membeli dan kepuasan membeli.Konsumen adalah
individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Penilaian yang
dirasakan oleh setiap konsumen terhadap suatu poduk maupun jasa yang mereka
terima tidklah sama.
Presepsi konsumen terhadap suatu harga dapat mempengaruhi keputusan
dalam membeli suatu produk sehingga perusahaan harus mampu memberikan
presepsi yang baik terhadap produk jasa yang akan di jual.Konsumen mempunyai
anggapan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara harga dan kualitas
sebuah produk, maka mereka akan membandingkan produk satu dengan yang
lainnya dan barulah konsumen akan mengambil keputusan untuk membeli.
Menurut Kotler dan Keller yang dialihbahasakan oleh Bob Sabran (2009), harga
adalah salah satu elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan,
elemen lain menghasilkan biaya. Harga merupakan elemen termudah dalam
program pemasaran untuk disesuaikan, fitur produk, saluran, dan bahkan
komunikasi membutuhkan banyak waktu.

Indikator Kualitas Produk


Menurut Fandy Tjiptono (2012) kualitas produk memiliki indikator-indikator
yaitu sebagai berikut :

  1. Kinerja (Performance) merupakan karakteristik operasi dan produk inti
    (core product) yang dibeli.Misalnya kecepatan, kemudahan dan
    kenyamanan dalam penggunaan.
  2. Fitur (feature) Fitur produk yang melengkapi fungsi dasar suatu produk
    tersebut.
  3. Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to Spesification) Sejauh
    mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang telah
    ditetapkan sebelumnya. Misalnya standar karakteristik operasional.
  4. Ketahanan (Durability) Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut
    dapat terus digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur
    ekonomis.
  5. Keandalan (Realibility) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
    kerusakan atau gagal pakai.
  6. Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah
    direparasi, serta penanganan keluhan yang memuaskan.Pelayanan yang
    diberikan tidak terbatas hanya sebelum penjualan,tetapi juga selama
    proses penjualan hingga purna jual, yang juga mencakup pelayanan
    reparasi dan ketersediaan komponen yang dibutuhkan.
  7. Estetika (Esthetica) Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
    Misal keindahan desain produk,keunikan model produk,dan kombinasi.
  8. Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality) Merupakan persepsi
    konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu
    produk.Biasanyakarena kurangnya pengetahuan pembeli akan atribut atau
    ciri-ciri produk yang akan dibeli,maka pembeli memperspsikan
    kualitasnya dari aspek harga, iklan,reputasi perusahaan, maupun negara
    pembuatnya

Kualitas Produk


Kualitas Produk adalah karakteristik produk atau jasa yang bergantung
pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang dinyatakan
atau diimplikasikan (Kotler dan Armstrong 2012). Dalam rangka menciptakan
kepuasan pelanggan, produk yang ditawarkan organisasi harus berkualitas.
Kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan
manfaat (benefits) bagi pelanggan.
Dalam kaitannya dengan kepuasan pelanggan, kualitas memiliki
beberapa dimensi pokok, bergantung pada konteksnya. Untuk menerapkan
kualitas produk perusahaa program “Total Quality Managemen (TQM)” selain
mengurangi kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk
meningkatkan nilai konsumen. Kotler dan Keller yang dialihbahasakan oleh Bob
Sabran (2012), menyatakan bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu
barang untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari
apa yang diinginkan pelanggan.
Pendapat yang diajukan oleh Kotler dan Keller diatas sejalan dengan
konsep yang disampaikannya, dimana Kotler dan Keller (2012) menyatakan
bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan
fungsinya, meliputi daya tahan, keandalan, ketepatan, kemudahan operasi dan
perbaikan serta atribut bernilai lainnya.Kualitas produk merupakan hal penting
yang harus diusahakan oleh setiap perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat
bersaing dipasar untuk memuaskan kebutuhan dan keininan konsumen.
Menurut Dinawan (2010), menyatakan bahwa konsumen mempunyai
anggapan adanya hubungan yang positif antara harga dan kualitas suatu produk,
maka mereka akan membandingkan antara produk yang satu dengan yang lainnya
dan barulah konsumen mengambil keputusan untuk membeli suatu produk.
Pendapat ini menyatakan kualitas produk adalah karakteristik suatu produk atau
jasa yang menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan.
Menurut Orville, Larreche, dan Boyd (2005), “Apabila perusahaan
ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan
harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen
untuk membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan
produk pesaing”

Indikator Minat Beli (Purchase Intention)


Minat beli dapat dilihat dari beberapa indikator menurut
Munawaroh (2018:112) di antaranya:

  1. (Attention,) yaitu perhatian calon konsumen terhadap produk yang
    ditawarkan oleh produsen.
  2. (Interest), yaitu ketertarikan calon konsumen terhadap produk yang
    ditawarkan oleh produsen.
  3. (Desire), yaitu keinginan calon konsumen untuk memiliki produk yang
    ditawarkan oleh produsen.
  4. (Action), yaitu calon konsumen melakukan pembelian terhadap produk
    yang ditawarkan.
    Ferdinand (2019:98) mengatakan bahwa minat beli memiliki beberapa
    indikator, yaitu :
  5. Minat Transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
    produk.
  6. Minat Referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk
    mereferensikan produk kepada orang lain.
  7. Minat Preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku
    seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut.
  8. Minat Eksploratif, yaitu menggambarkan perilaku seseorang yang
    selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan
    mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat produk tersebut.

Tahapan Minat Beli (Purchase Intention)


Terdapat empat tahapan produsen dalam menentukan minat beli
atau menentukan dorongan konsumen dalam melakukan pembelian
terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Empat tahapan tersebut
dikenal dengan model AIDA (Priansa, 2017).

  1. (Attention), Tahap ini merupakan tahap awal dalam menilai suatu
    produk atau jasa sesuai dengan kebutuhan calon pelanggan, selain itu
    calon pelanggan juga mempelajari produk atau jasa yang ditawarkan.
  2. (Interest), Dalam tahap ini calon pelanggan mulai tertarik untuk
    membeli produk atau jasa yang ditawarkan, setelah mendapatkan
    informasi yang lebih terperinci mengenai produk atau jasa yang
    ditawarkan.
  3. (Desire), Calon pelanggan mulai memikirkan serta berdiskusi
    mengenai produk atau jasa yang ditawarkan, karena hasrat dan
    keinginan untuk membeli mulai timbul. Dalam tahapan ini calon
    pelanggan sudah mulai berminat terhadap produk atau jasa yang
    ditawarkan. Tahap ini ditandai dengan munculnya minat yang kuat dari
    calon pelanggan untuk membeli dan mencoba produk atau jasa yang
    ditawarkan.
  4. (Action), Pada tahap ini calon pelanggan telah mempunyai kemantapan
    yang tinggi untuk membeli atau menggunakan produk atau jasa yang
    ditawarkan.

Faktor Minat Beli (Purchase Intention)


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen
menurut Ujia & Munawaroh (2018:101) di antaranya :
a. Kesadaran akan kebutuhan
Dimana kebutuhan akan mempengaruhi seseorang untuk memiliki
minat beli terhadap apa yang dibutuhkan.
b. Pengenalan Produk
Apabila seseorang mengenal suatu produk tertentu akan cenderung
mempengaruhi minat beli terhadap produk tersebut.
c. Evaluasi Alternatif
Dengan munculnya alternatif pilihan maka akan terjadi evaluasi
alternatif yang akan mempengaruhi minat beli.
d. Pengaruh Eksternal
Adanya pengaruh dalam Usaha Pemasaran, Sosial, Budaya

Aspek Minat Beli (Purchase Intention)


Minat beli adalah tahap terakhir dari suatu proses keputusan
pembelian yang kompleks. Proses ini dimulai dari munculnya kebutuhan
akan suatu produk atau merek (need arousal), kemudian pemrosesan
informasi oleh konsumen (consumer information processing), selanjutnya
konsumen akan mengevaluasi produk atau merek tersebut.
Hasil evaluasi ini yang akhirnya memunculkan niat atau intensi
untuk membeli sebelum akhirnya konsumen benar-benar melakukan
pembelian. Terdapat beberapa aspek minat beli pada konsumen menurut
(Schiffman dan Kanuk, 2012) di antaranya:
a. Tertarik untuk mencari informasi tentang produk. Konsumen yang
terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang
lebih banyak. Terdapat dua level rangsangan atau simultan kebutuhan
konsumen, yaitu level pencarian informasi yang lebih ringan atau
penguatan perhatian dan level aktif mencari informasi yaitu dengan
mencari bahan bacaan, bertanya pada teman, atau mengunjungi toko
untuk mempelajari produk tertentu.
b. Mempertimbangkan untuk membeli. melalui pengumpulan informasi,
konsumen mempelajari merek-merek yang bersaing serta fitur merek
tersebut. Melakukan evaluasi terhadap pilihan-pilihan dan mulai
mempertimbangkan untuk membeli produk.
c. Tertarik untuk mencoba. Setelah konsumen berusaha memenuhi
kebutuhan, mempelajari merek-merek yang bersaing serta fitur merek
tersebut, konsumen akan mencari manfaat tertentu dari solusi produk
dan melakukan evaluasi terhadap produk-produk tersebut. Evaluasi ini
dianggap sebagai proses yang berorientasi kognitif. Maksudnya adalah
konsumen dianggap menilai suatu produk secara sangat sadar dan
rasional hingga mengakibatkan ketertarikan untuk mencoba.
d. Ingin mengetahui produk. Setelah memiliki ketertarikan untuk
mencoba suatu produk, konsumen akan memiliki keinginan untuk
mengetahui produk. Konsumen akan memandang produk sebagai
sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam
memberikan manfaat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan.
e. Ingin memiliki produk. Para konsumen akan memberikan perhatian
besar pada atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya. Dan
akhirnya konsumen akan mengambil sikap (keputusan, preferensi)
terhadap produk melalui evaluasi atribut dan membentuk niat untuk
membeli atau memiliki produk yang disukai.

Definisi Minat Beli


Minat beli yaitu dengan menciptakan suatu hal yang dapat terekam
dalam pikiran konsumen lalu menjadikannya suatu keinginan yang sangat
kuat dengan cara motivasi. Fitrah (2018:45)
Menurut Sciffman dan Kanuk (2012:76), menyatakan bahwa minat
beli adalah suatu model sikap seseorang terhadap objek barang yang
sangat cocok dalam mengukur siap terhadap golongan produk, jasa, atau
merek tertentu.
Menurut Ferdinand (2019:78) menyatakan bahwa minat beli adalah
sesuatu yang terjadi setelah adanya rangsangan oleh produk yang dilihat
disitulah timbul minat beli untuk mendapatkannya
Minat Beli konsumen adalah inisiatif responden dalam
pengambilan keputusan untuk membeli sebuah produk. Model terperinci
perilaku konsumen tersebut menjelaskan bahwa rangsangan pemasaran
yang terdiri dari variabel marketing mix yaitu produk, harga, tempat,
promosi sebagai komponen utama dalam pemasaran. Komponen utama
tersebut juga di pengaruhi oleh adanya rangsangan lainnya yaitu bersifat
eksternal yaitu ekonomi, teknologi, politik dan budaya. Oentoro (2012:98)

Indikator Pemasaran Digital (Digital Marketing)


Adapun indikator dari pemasaran digital dari sisi promosi sebagai
bagian dari bauran pemasaran (4Ps) menurut Ryan dan Jones
(2009:29) yaitu:
a. Website: Website adalah penghubung dengan dunia digital secara
keseluruhan dan mungkin bagian yang paling penting dalam
keseluruhan strategi pemasaran digital,dimana kegiatan online akan
terarah langsung ke calon konsumen.
b. Optimasi Mesin Pencari (search engine optimation) : Salah satu bagian
penting dari website adalah SEO (search engine optimation),atau
proses pengaturan konten dari website agar mudah ditemukan oleh
pengguna internet yang sedang mencari konten yang relevan dengan
yang ada di website, dan juga menyajikan konten agar dapat dengan
mudah ditemukan oleh mesin-mesin pencari.
c. Periklanan berbasis klik pencarian berbayar (PPC advertising) :
Periklanan PPC (pay per click) memungkinkan pemasar membeli
halaman hasil pencarian internet berdasarkan kata kunci – kata kunci
dan kalimat yang dipilih.
24
d. Pemasaran afiliasi dan kemitraan strategis (affiliate marketing and
strategic partnership): Kegiatan bermitra dengan
organisasi/perusahaan lain dan website-website untuk mencapai
keuntungan bersama dari sebuah kerjasama untuk mempromosikan
produk atau layanan.
e. Hubungan masyarakat online (Online Public Relation) : Menggunakan
saluran komunikasi online seperti press release, sindikasi artikel, dan
blog untuk menciptakan persepsi positif atas merek dan/atau untuk
menempakan organisasi/perusahaan sebagai pihak yang berwenang di
bidang tertentu.
f. Jejaring social (social network) : Sebuah peluang pemasaran, namun
saat ini belum ada seseorangpun yang bisa menawarkan sistem
periklanan dengan sangat fokus ke kelompok masyarakat yang sangat
kecil (niche) atas dasar informasi profil yang didapatkan dari situs-
situs jejaring social.
g. E-mail pemasaran (e-mail marketing): Surat elektronik (e-mail) masih
menjadi alat yang penting untuk kegiatan pemasaran digital, yang
dikirimkan dengan tujuan untuk menjaga hubungan antara konsumen
yang sudah ada maupun calon konsumen yang bersedia menerima
informasi lewat e-mail.
h. Manajemen hubungan pelanggan (Customer Relationship
Management) : Menjaga konsumen yang sudah ada dan membangun
kerjasama yang saling menguntungkan dengan mereka adalah salah
satu elemen penting dari kegiatan pemasaran digital.
Indikator Digital Marketing menurut Nasdini (2012:37) yaitu :

  1. Aksessibilitas, adalah kemampuan pengguna untuk mengakses
    informasi dan layanan yang disediakan secara online periklanan.
    Aksessibilitas umumnya terkait dengan cara pengguna dapat
    mengakses situs Sosial Media.
  2. Interactivity (Interaktivitas), adalah tingkat komunikasi dua arah yang
    mengacu pada kemampuan timbal balik komunikasi antara pengiklan
    dan konsumen, dan menganggapi input yang mereka terima.
  3. Entertainment (Hiburan), adalah kemampuan beriklan untuk memberi
    kesenangan atau hiburan kepada konsumen, secara umum menang
    banyak iklan yang memberikan hiburan sambil menyisipkan
    informasi-informasi.
  4. Credibility (Kepercayaan), adalah bagaimana tingkat kepercayaan
    konsumen online iklan yang muncul, aau sejauh mana iklan
    memberikan informasi tentang mereka dapat dipercaya, tidak
    memihak, kompeten, kredibel dan spesifik.
  5. Irritation (Kejengkelan), adalah gangguan yang terjadi dalam iklan
    online, seperti manipulasi iklan sehingga mengarah pada penipuan atau
    pengalaman buruk konsumen tentang periklanan online.
  6. Informativeness (Informative), kemampuan iklan untuk menyuplai
    informasi kepada konsumen adalah hakekat dari sebuah iklan. Iklan
    juga harus memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai sebuah
    produk sehingga bisa memberikan keuntungan ekonomis bagi
    konsumen

Dimensi E-Service Quality


Menurut Zeithmal dalam buku Tjiptono (2016:178-179) mengemukakan ada
7 dimensi E-Service Quality antara lain:

  1. Efisiensi
    Kemampuan pelanggan untuk mengakses website, mencari produk yang
    diinginkan dan informasi yang berkaitan dengan produk tersebut, dan
    meninggalkan situs bersangkutan dengan upaya minimal.
  2. Reliabilitas
    Berkenaan dengan fungsional teknis situs bersangkutan, khususnya se jauh
    mana situs tersebut tersedia dan berfungsi sebagaimana mestinya.
  3. Fulfillment
    Mencakup akurasi janji layanan, ketersediaan stok produk, dan pengiriman
    produk sesuai dengan waktu yang dijanjikan.
  4. Privasi
    Berupa jaminan bahwa data perilaku berbelanja tidak akan diberikan kepada
    pihak lain manapun dan bahwa informasi kartu kredit pelanggan terjamin
    keamanannya
  5. Daya Tanggap (Responsiveness)
    Kemampuan pengelola untuk memberikan informasi yang tepat kepada
    pelanggan sewaktu timbul masalah, memiliki mekanisme untuk menangani
    pengembalian produk, dan menyediakan garansi online.
  6. Kompensasi
    Meliputi pengembalian uang,biaya pengiriman, dan biaya penanganan produk.
  7. Kontak
    Mencerminkan kebutuhan pelanggan untuk bisa berbicara dengan staf layanan
    pelanggan secara online atau meliputi telepon (dan bukan berkomunikasi
    dengan mesin).

E-Service Quality


Menurut Parasuraman dan Malhotra dalam Perwira (2016:48) E-Service
Quality adalah pelayanan berbasis elektronik yang digunakan untuk memfasilitasi
belanja, pembelian maupun pengiriman produk dan jasa secara efektif dan efisien.
Sedangkan menururt Santos dalam Agus (2017) e-service quality didefinisikan
sebagai evaluasi dan penilaian pelanggan secara keseluruhan mengenai keunggulan
dan kualitas pengiriman e-service pada market place.
Menurut Zeithmal dalam Tjiptono (2016:178-179) E-Service Quality adalah
model kualitas jasa online yang komprehensif dan integrative. Pada prinsipnya,
model E-Service Quality ini merupakan adaptasi dan perluasan model tradisional
Service Quality kedalam konteks pengalaman berbelanja online.

Kualitas Layanan (Service Quality)
Kualitas pelayanan adalah konsumen mengevaluasi kualitas pelayanan yang
didapatkan mulai dari proses dan hasil penyampaian yang diberikan apakah sudah
sesuai dengan harapan konsumen, dalam menentukan pelayanan yang didapatkan
sudah terpenuhi dengan baik akan dikembalikan pada konsumen karena pandangan
konsumen akan berbeda-beda sesuai dengan keinginan dan harapan konsumen
(Adam, 2015:11)
Menurut Zeithaml dan Binter dalam (Adam, 2015:11) kualitas pelayanan
adalah penyampaian yang sangat baik atau unggul sesuai harapan pelanggan
dengan memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan, pelanggan akan menilai hasil dari pelayanan yang diharapkan.
Menurut pasuraman dalam Tjiptono (2017: 125) terdapat dua faktor utama
yang mempengaruhi kualitas pelayanan yakni, layanan yang diharapkan (expected
service) dan layanan yang diterima (perceived service). Tingkat harapan adalah
keyakinan konsumen bahwa sebuah produk memiliki atribut-atribut tertentu yang
di inginkan. Sementara itu, tingkat kenyataan adalah presepsi terhadap jumlah
atribut produk atau jasa dari hasil yang diterima

Karakteristik Jasa


Dalam buku (Ari Setyaningrum, 2015) dikatakan terdapat beberapa karakteristik
khusus jasa, yaitu:

  1. Intangible
    Jasa bersifat tidak berwujud. Sebuah barang tersusun dari materi berwujud,
    sedangkan jasa merupakan kinerja yang tidak memiliki wujud yang solid. Jasa
    tidak dapat dilihat, dan disentuh.
  2. Inseparability
    Sebagian besar jasa memiliki sifat tidak terpisahkan antara produksi dan
    konsumsi jasa. Jasa dikonsumsi saat jasa tersebut diproduksi.
  3. Variability
    Kualitas jasa lebih bervariasi dibandingkan dengan barang. Karena bersifat
    inseparability dan live performance, berbagai faktor dapat menyebabkan
    ualitas jasa bervariasi. Personerl jasa yang berbeda, outlet jasa yang berbeda,
    dan waktu pemakaian yang berbeda dapat menyebabkan variasi dalam kualitas.
  4. Perishability
    Jasa bersifat tidak disimpan. Kapasitas jasa yang tersedia bersifat sensitif
    terhadap perubahan waktu. Dengan berlalunya waktu kapasitas jasa yang tidak
    terpakai akan hilang. Seperti kursi sebuah pesawat yang hanya terisi setengah
    dan berangkat dari jakarta menuju Yogyakarta akan hilang begitu saja tidak
    dapat dimanfaatkan lagi di masa depan.
  5. Difficult to Understand
    Jasa cenderung sulit dipahami. Beberapa jasa melalui tahapan-tahapan yang
    rumit dan tidak mudah dimengerti. Dindakan operasi, penyusunan laporan
    keuangan, dan hypotherapy adalah contoh jasa yang kompleks dan sulit
    dimengerti oleh konsumen. Karakteristik jasa lain adalah intangibility,
    inseparability, dan variability juga menyebabkan suatu jasa sulit dimengert

Bauran Pemasaran Jasa


Menurut Fandy Tjiptono (2015:41) “Bauran pemasaran jasa merupakan
seperangkat alat yang dapat digunakan pemasar untuk membentuk karakteristik jasa
yang ditawarkan kepada pelanggan.” Dalam bauran pemasaran terdapat
seperangkat alat pemasaran yang dikenal dalam istilah 4P, yaitu product (produk).
price (harga), place (tempat atau saluran distribusi), dan promotion (promosi),
sedangkan dalam pemasaran jasa memiliki beberapa alat pemasaran tambahan
seperti people (orang), physical evidence (fasilitas fisik), dan process (proses),
sehingga dikenal dengan istilah 7P. Maka dapat disimpulkan bauran pemasaran jasa
yaitu product, price, place, promotion, people, physical evidence, dan process.
Adapun pengertian 7P menurut Kotler dan Amstrong (2014:62):

  1. Produk
    Produk adalah mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan
    pengembangan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan dengan mengubah
    produk atau jasa yang ada dengan menambah dan mengambil tindakan yang lain
    yang mempengaruhi bermacam-macam produk atau jasa.
  2. Harga
    Harga adalah suatu sistem manajemen perusahaan yang akan menentukan harga
    dasar yang tepat bagi produk atau jasa dan harus menentukan strategi yang
    menyangkut potongan harga, pembayaran ongkos angkut dan berbagai variabel
    yang bersangkutan.
  3. Tempat
    Tempat yakni memilih dan mengelola saluran perdagangan yang dipakai untuk
    menyalurkan produk atau jasa dan juga untuk melayani pasar sasaran, serta
    mengembangkan sistem distribusi untuk pengiriman dan perniagaan produk
    secara fisik.
  4. Promisi
    Promosi adalah suatu unsur yang digunakan untuk memberitahukan dan
    membujuk pasar tentang produk atau jasa yang baru pada perusahaan melalui
    iklan, penjualan pribadi, promosi penjualan, maupun publikasi.
  5. Sarana Fisik
    Sarana Fisik merupakan hal nyata yang turut mempengaruhi keputusan
    konsumen untuk membeli dan menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan.
    Unsur yang termasuk dalam sarana fisik antara lain lingkungan atau bangunan
    fisik, peralatan, perlengkapan, logo, warna dan barang- barang lainnya
  6. Orang
    Orang adalah semua pelaku yang memainkan peranan penting dalam penyajian
    jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi pembeli. Elemen dari orang adalah
    pegawai perusahaan, konsumen, dan konsumen lain. Semua sikap dan tindakan
    karyawan, cara berpakaian karyawan dan penampilan karyawan memiliki
    pengaruh terhadap keberhasilan penyampaian jasa.
  7. Proses
    Proses adalah semua prosedur aktual, mekanisme, dan aliran aktivitas yang
    digunakan untuk menyampaikan jasa. Elemen proses ini memiliki arti sesuatu
    untuk menyampaikan jasa. Proses dalam jasa merupakan faktor utama dalam
    bauran pemasaran jasa seperti pelanggan jasa akan senang merasakan sistem
    penyebaran jasa sebagai bagian jasa itu sendiri.

Digital Marketing


Menurut Chaffey dan Chadwick (2016:11) “Digital marketing is the
application of the internet and related digital technologies in conjunction with
traditional communications to to achieves marketing objectives.”. Artinya Digital
Marketing merupakan aplikasi dari internet dan berhubungan dengan teknologi
digital dimana didalamnya berhubungan dengan komunikasi tradisional untuk
mencapai tujuan pemasaran. Hal tersebut dapat dicapai untuk meningkatkan
pengetahuan tentang konsumen seperti profil, perilaku, nilai, dan tingkat loyalitas,
kemudian menyatukan komunikasi yang ditargetkan dan pelayanan online sesuai
kebutuhan masing-masing individu.
Menurut Chaffey dan Chadwick (2016:11), Dedi Purwana (2017:2) Jadi pada
dasarnya digital marketing merupakan kegiatan pemasaran yang menggunaan
media digital dengan menggunakan internet yang memanfaatkan media berupa
web, social media, e-mail, database, mobile/wireless dan digital tv guna
meningkatkan target konsumen dan untuk mengetahaui profil, perilaku, nilai
produk, serta loyalitas para pelanggan atau target konsumen untuk mencapai tujuan
pemasaran

Tahapan Minat Beli (Purchase Intention)


Terdapat empat tahapan produsen dalam menentukan minat beli
atau menentukan dorongan konsumen dalam melakukan pembelian
terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Empat tahapan tersebut
dikenal dengan model AIDA (Priansa, 2017).

  1. (Attention), Tahap ini merupakan tahap awal dalam menilai suatu
    produk atau jasa sesuai dengan kebutuhan calon pelanggan, selain itu
    calon pelanggan juga mempelajari produk atau jasa yang ditawarkan.
  2. (Interest), Dalam tahap ini calon pelanggan mulai tertarik untuk
    membeli produk atau jasa yang ditawarkan, setelah mendapatkan
    informasi yang lebih terperinci mengenai produk atau jasa yang
    ditawarkan.
  3. (Desire), Calon pelanggan mulai memikirkan serta berdiskusi
    mengenai produk atau jasa yang ditawarkan, karena hasrat dan
    keinginan untuk membeli mulai timbul. Dalam tahapan ini calon
    pelanggan sudah mulai berminat terhadap produk atau jasa yang
    ditawarkan. Tahap ini ditandai dengan munculnya minat yang kuat dari
    calon pelanggan untuk membeli dan mencoba produk atau jasa yang
    ditawarkan.
  4. (Action), Pada tahap ini calon pelanggan telah mempunyai kemantapan
    yang tinggi untuk membeli atau menggunakan produk atau jasa yang
    ditawarkan.
  5. Indikator Minat Beli (Purchase Intention)
    Minat beli dapat dilihat dari beberapa indikator menurut
    Munawaroh (2018:112) di antaranya:
  6. (Attention,) yaitu perhatian calon konsumen terhadap produk yang
    ditawarkan oleh produsen.
  7. (Interest), yaitu ketertarikan calon konsumen terhadap produk yang
    ditawarkan oleh produsen.
  8. (Desire), yaitu keinginan calon konsumen untuk memiliki produk yang
    ditawarkan oleh produsen.
  9. (Action), yaitu calon konsumen melakukan pembelian terhadap produk
    yang ditawarkan.
    Ferdinand (2019:98) mengatakan bahwa minat beli memiliki beberapa
    indikator, yaitu :
  10. Minat Transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
    produk.
  11. Minat Referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk
    mereferensikan produk kepada orang lain.
  12. Minat Preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku
    seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut.
  13. Minat Eksploratif, yaitu menggambarkan perilaku seseorang yang
    selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan
    mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat produk tersebut

Faktor Minat Beli (Purchase Intention)


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen
menurut Ujia & Munawaroh (2018:101) di antaranya :
a. Kesadaran akan kebutuhan
Dimana kebutuhan akan mempengaruhi seseorang untuk memiliki
minat beli terhadap apa yang dibutuhkan.
b. Pengenalan Produk
Apabila seseorang mengenal suatu produk tertentu akan cenderung
mempengaruhi minat beli terhadap produk tersebut.
c. Evaluasi Alternatif
Dengan munculnya alternatif pilihan maka akan terjadi evaluasi
alternatif yang akan mempengaruhi minat beli.
d. Pengaruh Eksternal
Adanya pengaruh dalam Usaha Pemasaran, Sosial, Budaya

Definisi Minat Beli


Minat beli yaitu dengan menciptakan suatu hal yang dapat terekam
dalam pikiran konsumen lalu menjadikannya suatu keinginan yang sangat
kuat dengan cara motivasi. Fitrah (2018:45)
Menurut Sciffman dan Kanuk (2012:76), menyatakan bahwa minat
beli adalah suatu model sikap seseorang terhadap objek barang yang
sangat cocok dalam mengukur siap terhadap golongan produk, jasa, atau
merek tertentu.
Menurut Ferdinand (2019:78) menyatakan bahwa minat beli adalah
sesuatu yang terjadi setelah adanya rangsangan oleh produk yang dilihat
disitulah timbul minat beli untuk mendapatkannya
Minat Beli konsumen adalah inisiatif responden dalam
pengambilan keputusan untuk membeli sebuah produk. Model terperinci
perilaku konsumen tersebut menjelaskan bahwa rangsangan pemasaran
yang terdiri dari variabel marketing mix yaitu produk, harga, tempat,
promosi sebagai komponen utama dalam pemasaran. Komponen utama
tersebut juga di pengaruhi oleh adanya rangsangan lainnya yaitu bersifat
eksternal yaitu ekonomi, teknologi, politik dan budaya. Oentoro (2012:98)
Dari definisi diatas Minat beli merupakan pernyataan mental
konsumen yang merefleksikan rencana pembelian suatu produk dengan
merek tertentu pengetahuan tentang niat beli konsumen terhdap produk
perlu diketahui oleh para pemasar untuk mendeskripsikan perilaku
konsumen pada masa yang akan datang. Minat beli merupakan tahapan di
mana konsumen membentuk pilihan mereka di antara beberapa merek
yang tergabung ke dalam perangkat pilihan. Di mana pada akhirnya
mereka melakukan pilihan pada satu alternatif yang paling disukai atau
proses yang dilalui konsumen untuk membeli barang atau jasa berdasarkan
dari berbagai pertimbangan. Minat beli pada sebuah produk dapat muncul
karena adanya kepercayaan pada produk yang diiring dengan kemampuan
membeli produk

Definisi Digital Marketing


Pemasaran digital (digital marketing) adalah kegiatan pemasaran
termasuk branding yang menggunakan berbagai media berbasis web
seperti blog, website, e-mail, adwords, ataupun jejaring sosial Sanjaya dan
Taigan, (2012:56).
Menurut Nasdini (2012:28) Pemasaran digital dan media sosial
mencangkup penggunaan alat pemasar digital seperti situs web, media
sosial, mobile ada dan aplikasi, video seluler dan online, e-mial, blog, dan
platform digital lainnya. Komputer, Tablet, Televisi dan perangkat digital
lainnya menjangkau konsumen dimana saja dan kapan saja.
Digital marketing merupakan teknologi dalam memasarkan produk
serta layanan yang harus menggunakan media digital. Adapun media yang
digunakan untuk digital marketing yaitu website, social media, e-mail
marketing, periklanan, dan search engine optimization (SEO). (Rachmadi,
2020)
Pemasaran digital dan media sosial melibatkan penggunaan alat
pemasara digital seperti situs web, media sosial, mobile ada dan aplikasi,
video online, emial, blog, dan platform digital lainnya untuk menjangkau
konsumen di mana saja, dan kapan saja melalui komputer, smartphone,
tablet, TV, dan perangkat digital lainnya. Kotler dan Armstrong (2018:78)

Hasil belajar siswa


Hasil belajar merupakan puncak dari keberhasilan belajar siswa
terhadap tujuan belajar yang telah ditetapkan. Hasil belajar siswa dapat
meliputi aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik
(tingkah laku).
Hal ini sesuai dengan pendapat Bettencourt (Suparno, 2012: 61)
yang menuliskan bahwa, ”Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman
siswa dengan dunia fisik dan lingkungannya”. Hasil belajar seseorang
tergantung pada apa yang telah diketahuinya; misal konsep-konsep, tujuan,
dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang
dipelajari.Selanjutnya menurut Chatib (2012: 169-170), “Hasil belajar
tidak hanya terbatas pada tes atau ujian saja tetapi sangat luas. Hasil
belajar dapat dilihat dari; a) perubahan perilaku anak; b) perubahan pola
pikir anak; c) membangun konsep baru”. Keberhasilan belajar siswa dapat
dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut; faktor materi, lingkungan,
instrumen (kurikulum, pengajar/guru, model dan metode mengajar). Untuk
memperoleh hasil belajar yang efektif dan baik, faktor instrumental ini
dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan materi dan subjek
belajar.
Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana diuraikan di atas
dipertegas lagi oleh Nawawi dalam K. Brahim (2007:39) yang menyatakan
bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa
dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam
skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran
tertentu. Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa
adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.
Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang
berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif
menetap. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat
penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan
demikian, penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang
dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan kepada
siswa.
Selanjutnya, dikemukakan oleh Wasliman (2007: 159) bahwa
sekolah merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan hasil belajar
siswa. Semakin tinggi kemampuan belajar siswa dan kualitas pengajaran di
sekolah, maka semakin tinggi pula hasil belajar siswa

Belajar dan Pembelajaran


Belajar menurut beberapa ahli, antara lain yaitu:
a. Daryanto (2009:2) mengemukakan bahwa belajar sebagai suatu proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman
sendiri dalam interaksi dengan lingkungnnya.
b. Suyono & Hariyanto (2014: 9) belajar merujuk kepada suatu proses
perubahan perilaku atau pribadi atau perubahan struktur kognitif
seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu hasil interaksi
aktifnya dengan lingkungan dan sumber-sumber pembelajaran yang
ada di sekitarnya.
c. Purwanto (2014: 85) belajar merupakan suatu perubahan yang bersifat
internal dan relatif mantap dalam tingkah laku melalui latihan atau
pengalaman yang menyangkut aspek kepribadian, baik fisik maupun
psikis.
d. Sanjaya (2008: 229) belajar pada dasarnya adalah suatu proses
aktivitas mental seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya
sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat positif
baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun psikomotor.
e. Winaputra, dkk (2007: 19) belajar adalah perubahan perilaku pada
individu sebagai buah dari pengalaman atau interaksi.
Berdasarkan definisi itu dapat dikatakan bahwa belajar adalah suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan
tingkah laku yang baru sebagai pengalaman individu itu sendiri. Pada
dasarnya belajar memiliki makna yang sangat spesifik.
Menurut Suyono (2011: 9), belajar adalah suatu aktivitas atau suatu
proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan,
memperbaiki perilaku, sikap dan memperkokoh kepribadian. Belajar
adalah suatu proses aktivitas mental yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang bersifat positif dan
menetap relatif lama melalui latihan atau pengalaman yang menyangkut
aspek kepribadian baik scara fisik ataupun psikis. Belajar menghasilkan
perubahan dalam diri setiap individu, dan perubahan tersebut mempunyai
nilai positif bagi dirinya.
Proses belajar merupakan sebuah langkah untuk memperoleh
pengetahuan. Berdasarkan uraian di atas belajar adalah sebagai suatu
usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk tujuan perubahan tingkah laku
melalui interaksi dengan lingkungan.
Menurut Slameto (2003:76) pembelajaran matematika sangat
ditentukan oleh strategi dan pendekatan yang digunakan dalam mengajar
matematika itu sendiri. Belajar yang efisien dapat tercapai apabila dapat
menggunakan strategi belajar yang tepat. Secara psikologis pengertian
pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh suatu perubahan perilaku secara menyeluruh, sebagai hasil
dari interaksi individu itu dengan lingkungannya. Suyono & Hariyanto
(2014: 183) mengatakan bahwa pembelajaran identik dengan pengajaran,
suatu kegiatan dimana guru mengajar atau membimbing anak-anak
menuju proses pendewasaan diri

Perilaku Siswa


Menurut Alwi (2001: 859) perilaku merupakan tanggapan atau
reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan, sedangkan menurut
Notoatmodjo (2007: 133) perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
organisme dalam hal ini perilaku makhluk hidup terutama manusia, pada
hakikatnya adalah suatu tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri.
Perilaku siswa adalah semua tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh
siswa didalam lingkungan sekolah (Razak dkk, 2019).
Dalam mengelola perilaku siswa di dalam kelas ada berbagai
faktor yang mempengaruhi, yakni faktor guru, faktor peserta didik, dan
faktor lingkungan/sarana. Yang masuk faktor guru adalah pertama, tipe
kepemimpinan guru: guru yang otoriter dan kurang demokratis dapat
menumbuhkan sikap agresif peserta didik. Kedua, format mengajar yang
monoton menimbulkan rasa bosan dan frustasi dari peserta didik. Ketiga,
kepribadian guru yang hangat, adil, objektif da leksibel menimbulkan
suasana emosional menyenangkan dalam proses belajar mengajar.
Keempat, pemahaman guru mengenai peserta didik dan latar belakangnya
sangat menolong dalam mengelola perilaku siswa di dalam kelas. Faktor
peserta didik juga berperan dalam pengelolaam perilaku siswa. Peserta
didik harus sadar bahwa jika mereka mengganggu temannya yang sedang
belajar berarti mereka tidak melakukan kewajiban sebagai anggota
masyarakat dan tidak menghormati hak peserta didik lain untuk
memperoleh manfaat maksimal dari proses belajar mengajar. Sementara
faktor keluarga mencakup sikap orang tua terhadap anaknya. Sikap otoriter
orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif dan
apatis. Kebiasaan yang kurang baik di lingkungan keluarga seperti tidak
tertib, kurang disiplin dan kebebasan berlebih atau terlalu dikekang akan
menjadi penyebab anak didik melanggar disiplin kelas.
Perilaku adalah kegiatan atau aktivitas makhluk hidup terutama
manusia yang disebabkan karena adanya rangsangan yang berasal dari
internal maupun eksternal (Sari, 2013: 143). Siswa adalah sekelompok
orang dengan usia tertentu yang belajar baik secara kelompok atau
perorangan (Muhaimin dkk dalam Razak dkk, 2019: 97). Perilaku siswa
adalah segala aktivitas yang dilakukan siswa di dalam lingkungan sekolah
disebabkan oleh rangsangan internal maupun eksternal.
Skinner dalam Hergenhahn, B & Olson, H, (2008: 84–85)
menyatakan ada dua jenis perilaku yaitu respondent behavior (perilaku
responden) dan operant behavior (perilaku operan). Perilaku responden
ditimbulkan oleh stimulus yang dikenali atau bergantung dari stimulus
yang mendahuluinya, misalnya gerak refleks. Jenis perilaku yang kedua
adalah perilaku operan yaitu perilaku yang diakibatkan oleh stimulus yang
dikenal, biasanya lebih spontan. Misalnya dalam aktivitas seseorang
sehari-hari. Perilaku merupakan proses perubahan tingkah laku. Perilaku
datang dari sebuah pikiran sehingga memaksa tubuh untuk melaksanakan
aktivitas atau tindakan. Secara psikologi pikiran dan tubuh saling
berhubungan yang mempengaruhi kesehatan. Menurut Laura A. King
(2010: 33-34) hubungan antara pikiran dan tubuh (mind and body)
dibedakan menjadi dua yaitu bagaimana pikiran berdampak pada tubuh
dan bagaimana tubuh berdampak pada pikiran.
Pikiran berdampak pada tubuh, apa yang seseorang pikiran akan
berpengaruh pada tingkah laku seseorang tersebut, Perilaku kesehatan
yang berasal dari pikiran sehingga berdampak pada tubuh misalnya makan
dengan gizi seimbang, menggosok gigi, tidak merokok, tidak
mengkonsumsi NAPZA, akan berdampak pada tubuh seseorang. Pikiran
yang positif menyebabkan perilaku yang baik sehingga menjadikan tubuh
seseorang bugar. Tubuh berdampak pada pikiran. Hal yang saling
berlawanan tetapi memiliki hubungan yang sangat mempengaruhi. Tubuh
yang bugar tentu saja akan membuat pemikiran seseorang nyaman dan
jernih sehingga diharapkan seseorang berfikir positif. Gagasan bahwa
pikiran dan tubuh adalah dua hal terpisah yang mendorong kesadaran
manusia untuk berperilaku. Perubahan perilaku tersebut dapat dilakukan
melalui pendekatan behavioristik (behavioral approach).
Perilaku, apabila sudah menjadi kebiasaan memang kadang susah
untuk diubah, tetapi masih dapat diubah, meskipun membutuhkan waktu
yang lama. Menurut Wahid Iqbal M& Nurul Chayatin. (2009: 365)
perilaku seseorang dapat diubah dengan cara sebagai berikut: (1)
Cognitive dissonance, yaitu adanya suatu gangguan keseimbangan tentang
kemantapan pengertian yang sudah dimiliki oleh seseorang. Gangguan
keseimbangan ini dapat dilihat dari perbedaan pandangan antara sesuatu
yang lama dan penemuan yang baru misalnya penyebab suatu penyakit,
sehingga menyebabkan perubahan sikap dan perilakunya; (2) Perubahan
perilaku menurut Kelman dalam Wahid Iqbal M& Nurul Chayatin. (2009:
365) ada tiga cara yaitu; (a) terpaksa (compliance), perubahan perilaku
yang dikarenakan ada penyebab dan reward, misalnya seseorang
mengubah perilakunya karena akan mendapatkan imbalan, pengakuan dari
seseorang ataupun kelompok. perubahan perilaku karena terpaksa ini tidak
dapat bertahan lama, (b) Peniruan (Identification), individu mengubah
perilakunya karena ingin disamakan dengan seseorang yang dikaguminya.
Guru kadang dijadikan suatu model atau objek oleh siswa dalam
berperiaku sehari-hari, oleh karena itu guru harus menunjukkan sikap dan
perilaku yang baik agar siswa dapat berperilaku baik, (c). menghayati
manfaatnya (Internalization), perubahan perilaku yang mendasar sehingga
sulit untuk diubah karena sudah menjadi bagian dalam hidup seseorang.
Pemahaman tentang perilaku dan bahwa perilaku seseorang itu bisa diubah
sebaiknya dimiliki oleh setiap guru dan siswa itu sendiri, bahkan setiap
orang

Aspek-aspek efikasi diri,

Menurut Bandura (1997) dalam Ghufron
& Risnawita (2010: 80-81), efikasi diri pada diri tiap individu akan
berbeda antara satu individu dengan yang lainnya berdasarkan tiga
dimensi. Berikut ini adalah tiga dimensi tersebut.
a. Dimensi tingkat (level)
Dimensi ini berkaitan dengan derajat kesulitan tugas ketika individu
merasa mampu untuk melakukannyal. Apabila individu dihadapkan
pada tugas-tugas yang disusun menurut tingkat kesulitannya, maka
efikasi diri individu mugkin akan terbatas pada tugas-tugas yang
mudah, sedang, atau bahkan meliputi tugas-tugas yang sulit, sesuai
dengan batas kemampuan yang dirasakan untuk memenuhi tuntunan
perilaku yang dibutuhkan masing-masing tingkat. Dimensi ini memiliki
implikasi terhadap pemilihan tingkah laku yang akan dicoba atau
dihindari. Individu akan mencoba tingkah laku yang dirasa mampu
dilakukannya dan menghindari tingkah laku yang berada di luar batas
kemampuan yang dirasakannya.
b. Dimensi kekuatan (strength)
Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kekuatan dari keyakinan atau
pengharapan individu mengenai kemampuannya. Pengharapan yang
lemah mudah digoyangkan oleh pengalaman-pengalaman yang tidak
mendukung. Meskipun mungkin ditemukan pengalaman yang kurang
menunjang. Dimensi ini biasanya berkaitan langsung dengan dimensi
level, yaitu makin tinggi taraf kesulitan tugas, makin lemah keyakinan
yang dirasakan untuk menyelesaikannya.
c. Dimensi generalisasi (generality)
Dimensi ini berkaitan dengan luas bidang tingkah laku yang mana
individu merasa yakin akan kemampuannya. Individu dapat merasakan
11
yakni terhadap kemampuan dirinya. Apakah sebatas pada sesuatu
aktivitas dan situasi tertentu atau pada serangkaian aktivitas dan situasi
yang bervariasi.

Efikasi diri


Efikasi diri menurut Alwisol dalam Cahyadi (2021: 5) adalah
pandangan atau persepsi pada diri tentang bagaimana diri dapat berfungsi
sesuai situasi yang sedang dihadapi. Efikasi diri secara umum tidak
berkaitan dengan keahlian yang dimiliki individu melainkan lebih kepada
psikologis atau keyakinan individu.
Efikasi diri merupakan salah satu aspek pengetahuan tentang diri
atau self-knowledge yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia
sehari-hari. Hal ini disebabkan efikasi diri yang dimiliki ikut
mempengaruhi individu dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan
untuk mencapai suatu tujuan, termasuk didalamnya perkiraan berbagai
kejadian yang akan dihadapi (Ghufron & Risnawita, 2010: 73). Menurut
Widiyanti & Marheni (2013: 72) efikasi diri penting dimiliki oleh
kalangan remaja agar mampu terus menghadapi segala perubahan yang
terjadi. Efikasi diri berhubungan dengan keyakinan bahwa diri memiliki
kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan. Efikasi adalah
penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk,
tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang
dipersyaratkan. Efikasi tidak sama dengan aspirasi (cita-cita) karena
aspirasi menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya dapat dicapai
sedangkan efikasi menggambarkan penilaian tentang kemampuan diri
(Widyaninggar, 2014: 92).
Baron dan Byrne (dalam Ariska dkk, 2020: 15) menyatakan dalam
ilmu psikologi, keyakinan dan kepercayaan individu terhadap kemampuan
dirinya untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu
tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasikan tindakan untuk
menampilkan kecakapan tertentu disebut dengan efikasi diri. Menurut
Schunk (dalam Purnomo, dkk, 2018:182) efikasi diri merujuk kepada
keyakinan seseorang mengenai kemampuan dirinya untuk belajar atau
melakukan sesuatu. Astuti dan Pratama (2020:149) perasaan yakin akan
kemampuan dalam efikasi diri dapat menumbuhkan semangat untuk
belajar menjadi lebih baik. Efikasi diri berperan menentukan bagaimana
seseorang melakukan pendekatan terhadap berbagai saran, tugas dan
tantangan.
Bandura (dalam Ghufron & Risnawita, 2010:73) adalah tokoh yang
memperkenalkan istilah efikasi diri (self-effacy). Ia mendefinisikan bahwa
efikasi adalah keyakinan individu mengenai kemampuan dirinya dalam
melakukan tugas atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil
tertentu. Efikasi diri merupakan unsur kepribadian yang berkembang
melalui pengamatan-pengamatan individu terhadap akibat-akibat
tindakannya dalam situasi tertentu. Persepsi seseorang mengenai dirinya
dibentuk selama hidupnya melalui reward dan punishment dari orang-
orang di sekitarnya. Unsur penguat (reward dan punishment) lamakelamaan dihayati sehingga terbentuk pengertian dan keyakinan mengenai
kemampuan diri. Bandura (1997) dalam (Ghufron & Risnawita, 2010:77)
mengatakan bahwa persepsi terhadap efikasi diri pada setiap individu
berkembang dari pencapaian secara berangsur-angsur akan kemampuan
dan pengalaman tertentu secara terus-menerus. Pietsch, Walkeer, dan
Chapman (2003: 589–603) juga menemukan hasil yang sama, yaitu ada
hubungan antara efikasi diri matematika dengan prestasi matematika.
Menurut Bandura dalam Mahmudi dan Suroso (2014:187) karakter
individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi adalah ketika individu
tersebut yakin bahwa mereka mampu menangani sebuah situasi yang
mereka hadapi secara efektif, tekun dalam menyelesaikan tugas, percaya
diri, memandang kesulitan sebagai tantangan, berkomitmen kuat terhadap
dirinya, menanamkan usaha yang kuat dalam apa yang dilakukannya,
meningkatkan usaha saat menghadapi kegagalan, berfokus pada tugas dan
memikirkan strategi dalam menghadapinya, cepat memulihkan rasa
mampu setelah mengalami kegagalan , dan menghadapi ancaman dengan
keyakinan

Tahapan Program Psikoedukasi Bersahabat dengan Stroke


Merujuk pada tahapan atau sesi yang sudah dikembangkan
beberapa penelitian sebelumnya terkait dengan pasien pasca stroke
yang mengalami gangguan psikologis yang dapat mempengaruhi
efikasi diri, maka dalam penelitian ini dilakukan psikoedukasi untuk
meningkatkan efikasi diri pada pasien pasca stroke yang dapat
membuat pasien puas dengan keadaannya, mencapai kebebasan
dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari, meningkatkan kualitas
hidup dan menurunkan depresi yang biasanya terjadi pasca stroke
sehingga dapat mempengaruhi motivasi dan berperilaku untuk
mencapai kesembuhan. Adapun sesi-sesi program psikoedukasi
bersahabat dengan stroke yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Sesi 1: video edukasi dan motivasi untuk meningkatkan efikasi
diri
Pada sesi ini responden melihat video yang berisi tentang apakah
stroke dapat disembuhkan, serta kiat-kiat meningkatkan motivasi
pasien pasca stroke. Video yang ditampilkan berdurasi 6 menit 57
detik untuk mempertahankan fokus pasien (Denny et al., 2017).
Sesi 1 dilakukan saat responden pulang dari rumah sakit dan pada
hari yang sama setelah responden mengisi pretest.
2) Sesi 2: video persuasi verbal dan cerita penyintas stroke
Pada sesi ini responden melihat video yang berisi tentang persuasi
verbal dan kata-kata motivasi untuk dapat meningkatkan efikasi
diri, selain itu salah satu penyintas stroke membagikan
pengalamannya saat terkena stroke hingga menjalani rehabilitasi.
Video yang ditampilkan berdurasi 7 menit 7 detik. Sesi 2
dilakukan 3 hari setelah sesi 1, peneliti memberikan video melalui
tautan YouTube yang dibagikan melalui WhatsApp. Tindak lanjut
psikoedukasi melalui telepon sangat berarti bagi responden dan
keluarga karena dapat menghemat biaya dan tenaga untuk pergi
ke rumah sakit.
3) Sesi 3: review video 1 dan 2
Sesi 3 dilakukan 3 hari setelah sesi 2, peneliti meminta
responden untuk melihat kembali video 1 dan 2. Satu minggu
setelah review video, dilakukan evaluasi dengan mengisi
kuesioner (posttest). Posttest menggunakan google formulir
melalui tautan yang dibagikan ke responden menggunakan
WhatsApp dengan dibantu keluarga.

Program atau Modul Psikoedukasi


Program psikoedukasi merupakan suatu rangkaian kegiatan
psikoedukasi untuk membantu kelompok klien sasaran/partisipan
mengembangkan satu atau serangkaian keterampilan hidup tertentu
(Supratiknya, 2011). Program psikoedukasi dapat dikembangkan
menggunakan modul psikoedukasi yang tersusun atas komponen:
1) Topik
Topik menjelaskan jenis keterampilan hidup yang hendak
diberikan dalam modul psikoedukasi dan biasanya digunakan
sebagai judul.
2) Tujuan
Tujuan menjelaskan secara spesifik jenis-jenis keterampilan
hidup yang akan menjadi tujuan modul serta hasil yang
diharapkan akan dicapai oleh peserta psikoedukasi pada akhir
kegiatan.
3) Waktu
Menjelaskan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan modul
dari kegiatan dari awal hingga evaluasi, biasanya dituliskan jam
atau menit
4) Tata ruang
Menjelaskan pengaturan isi ruangan, kondisi ruangan, peralatan
dan perlengkapan dalam pelaksanaan modul psikoedukasi.
5) Materi
Menjelaskan secara konseptual jenis-jenis keterampilan hidup
yang menjadi tujuan pada modul yang dapat disajikan melalui
handouts, booklet, rekaman pidato, video, atau media lain yang
disertai penjelasan lisan oleh fasilitator.
6) Prosedur
Menjelaskan langkah-langkah kegiatan psikoedukasi yang harus
dilakukan oleh peserta dan fasilitator untuk mencapai tujuan
yang diharapkan.
7) Media
Media dalam psikoedukasi dapat berupa:
a) Handouts atau booklet yang berisi materi yang disampaikan
b) Lembar kerja pribadi maupun kelompok
c) Slides-film, rekaman audio seperti pidato, musik, dan
sebagainya
d) Gambar, koran bekas, majalah bekas, dan lain-lain
e) Laptop, komputer, dan reviewer
38
f) Alat tulis
8) Evaluasi
Komponen ini terdiri dari dua macam evaluasi, yaitu evaluasi
hasil dan evaluasi kinerja. Evaluasi hasil
mempertanggungjawabkan hasil penyelenggaraan modul
psikoedukasi yang telah dilaksanakan, sedangkan evaluasi
kinerja mempertanggungjawabkan proses pelaksanaan modul
psikoedukasi yang telah dilaksanakan terkait kinerja fasilitator.
9) Sumber
Memuat berbagai sumber pustaka yang digunakan sebagai acuan
dalam penyusunan modul

Tujuan Psikoedukasi


Tujuan dari psikoedukasi adalah untuk meningkatkan
pengetahuan tentang penyakit anggota keluarga, mengurangi tingkat
kekambuhan, dan meningkatkan fungsi pasien dan keluarga (Stuart,
2009). Intervensi psikoedukasi diharapkan dapat meningkatkan
pencapaian pengetahuan individu tentang penyakit, mengajarkan
bagaimana teknik pengajaran dalam upaya membantu mereka
melindungi individu dengan mengetahui gejala-gejala perilaku dan
mendukung individu

Psikoedukasi. Pengertian


Psikoedukasi adalah pendidikan kesehatan pada pasien baik
yang mengalami penyakit fisik maupun gangguan jiwa yang
bertujuan untuk mengatasi masalah psikologis yang dialami pasien
(Suryani, 2016). Psikoedukasi dapat dilaksanakan secara individual
maupun kelompok/grup dan dapat diberikan dalam satu sesi atau
lebih.
Psikoedukasi dapat dilaksanakan di berbagai tempat pada
berbagai kelompok atau rumah tangga. Tindakan psikoedukasi
memiliki media berupa catatan seperti poster, booklet, leaflet, video,
dan beberapa eksplorasi yang diperlukan. Perawat dapat
membangun hubungan saling percaya agar dapat melakukan
pengkajian yang tepat dan memberikan pengertian terhadap
keluarga bagaimana psikoedukasi memberikan keuntungan pada
mereka, dapat mengatasi dan mencegah terjadinya gangguan
emosional dengan strategi koping yang efektif (Supratiknya, 2011).
Terapi psikoedukasi ini bisa dilakukan secara pasif berupa
pemberian informasi dengan leaflet atau melalui email atau website
dan juga dilakukan secara aktif berupa konseling atau pemberian
pendidikan kesehatan secara individu atau kelompok (Suryani,
2016).

Fase Rehabilitasi Stroke


Rehabilitasi pada pasien stroke bertujuan untuk
meminimalkan defisit neurologis beserta komplikasinya,
mendorong keluarga, dan memfasilitasi dan meningkatkan kualitas
hidup pasien stroke (Tan, 2017).
Secara umum rehabilitasi pasien stroke dibagi menjadi 3 fase
sebagai acuan penentuan tujuan dan jenis intervensi rehabilitasi
yang diberikan, yaitu (Wirawan, 2009):
1) Stroke fase akut (2 minggu pertama pasca serangan stroke)
Pada fase akut, biasanya keadaan hemodinamik pasien belum
stabil dan masih menjalani perawatan di rumah sakit. Pasien
stroke dapat dirawat di ruang rawat biasa ataupun unit stroke.
Pasien yang dirawat di unit stroke menghasilkan perawatan yang
lebih baik dibandingkan dengan pasien yang dirawat di ruang
rawat biasa. Pasien cenderung lebih mandiri dan mempunyai
kualitas hidup yang lebih baik. Rehabilitasi pada fase ini
dijalankan oleh tim yang biasanya latihan aktif dimulai sesudah
prosesnya stabil, 24-72 jam sesudah serangan, kecuali terjadi
perdarahan (Purwanti, 2008).
2) Stroke fase subakut (antara 2 minggu hingga 6 bulan pasca
serangan stroke)
Pada fase subakut, kecuali pasien yang memerlukan perawatan
rehabilitasi intensif, status hemodinamik pasien lebih stabil dan
diperbolehkan pulang. Pada fase ini pasien mulai menunjukkan
tanda-tanda depresi, fungsi bahasa mulai dapat terperinci.
Rehabilitasi pada fase ini dilakukan untuk mencegah hemiplegic
posture dengan mengatur posisi dan stimulasi sesuai kondisi
klien (Purwanti, 2008).
Pasa fase subakut pasien mulai mempelajari kembali aktivitas
perawatan diri dan berjalan. Rehabilitasi diperlukan untuk
memastikan gerakan pasien lebih terarah dan lebih efisien dalam
penggunaan energi. Rehabilitasi dilakukan dengan terapi latihan
yang terstruktur yang berkelanjutan dan berulang serta
mempertimbangkan kinesiologi dan biomekanik gerak. Tujuan
rehabilitasi pada fase ini yaitu untuk mencegah komplikasi
akibat tirah baring, mempersiapkan atau mempertahankan
kondisi yang memungkinkan pemulihan fungsional secara
optimal, mengembalikan kemandirian dalam aktivitas seharihari, serta mengembalikan kebugaran fisik dan mental.
3) Stroke fase kronis (lebih dari 6 bulan pasca serangan stroke)
Program latihan untuk fase stroke kronis hampir mirip dengan
fase subakut, yang berlangsung lebih dari 6 bulan pasca stroke.
Hasil dari rehabilitasi pada fase kronis tergantung pada tingkat
keparahan stroke. Hasilnya terdiri dari beberapa tingkatan
seperti mandiri penuh dan kembali ke tempat kerja seperti
sebelum sakit, mandiri penuh dan bekerja namun berganti
pekerjaan yang lebih ringan sesuai kondisi, mandiri penuh
namun tidak bekerja, aktivitas sehari-hari perlu bantuan minimal
dari orang lain, atau aktivitas sehari-hari sebagian besar atau
sepenuhnya dibantu orang lain.
Tujuan dari program latihan pada fase kronis ini adalah untuk
mengoptimalkan kemampuan fungsional pasien,
mempertahankan kemampuan fungsional yang dicapai,
mengoptimalkan kualitas hidup pasien, dan mencegah
komplikasi. Pada saat fase ini, fokusnya adalah pada terapi
kelompok, keluarga pasien lebih banyak dilibatkan, pekerja
medik sosial, dan psikolog perlu lebih aktif (Purwanti, 2008)

Dampak Stroke


Beberapa dampak stroke yang terjadi pada pasien stroke,
antara lain:
1) Dampak fisik
Stroke dapat menyebabkan beberapa gangguan fisik seperti
kelumpuhan atau cacat (hemiplegia dan hemiparesis), gangguan
berkomunikasi, hilangnya indra perasa, gangguan tidur, nyeri,
kehilangan kemampuan dasar sebagai individu normal, kesulitan
mengunyah dan menelan makanan (disfagia), dan inkontinensia
(Lingga, 2013).
2) Dampak psikososial
Kondisi tidak berdaya oleh pasien akibat stroke dapat
menyebabkan perubahan mental pada pasien, sehingga
mengalami stres, depresi, mudah tersinggung, mudah marah,
dan sedih. Tidak jarang diantara mereka yang putus asa dan
kehilangan semangat hidup. Sebagian besar pasien pasca stroke
juga tidak dapat menerima kehidupan baru yang dialaminya.
Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak dapat mengatasi
persoalan yang dialaminya sendirian. Karena itu, perlu
dukungan orang lain agar perubahan emosi dan mental tersebut
tidak berkembang lebih buruk. Konseling yang dilakukan oleh
psikolog atau pemuka agama merupakan sebuah upaya yang jitu
dan terbukti efektif untuk membantu pasien mengatasi persoalan
kejiwaan yang berat (Lingga, 2013).
3) Dampak ekonomi
Stroke digolongkan ke dalam penyakit katastropik karena
mempunyai dampak luas secara ekonomi dan sosial (Kemenkes
RI, 2018). Stroke memerlukan biaya perawatan dan biaya
pengobatan yang tidak sedikit dan dapat mempengaruhi
stabilitas ekonomi keluarga dan dapat mempengaruhi stabilitas
emosi baik pasien maupun keluarga (Muttaqin, 2008

Terapi Stroke


National Institutes of Health (NIH) (2004) menyatakan bahwa
terapi yang dapat diberikan untuk rehabilitasi stroke yaitu:
1) Terapi fisik
Terapi yang diberikan untuk merawat klien dengan gangguan
motorik dan mengembalikan mobilitas klien pasca stroke
2) Terapi okupasi
Layanan kesehatan yang ditujukan pada klien yang mengalami
gangguan motorik atau mental yang dilakukan untuk
meningkatkan aktivitas kehidupan sehari-hari dan melatih
kemandirian
3) Terapi wicara
Layanan kesehatan yang diberikan pada klien yang mengalami
gangguan bicara (afasia). Klien stroke kemungkinan mengalami
gangguan dalam komunikasi sehingga membutuhkan terapi
wicara untuk melatih dan meningkatkan kemampuannya dalam
berbicara/komunikasi

Manifestasi Klinis Stroke


Manifestasi klinis stroke beragam tergantung pada jenis stroke
(Ghofir, 2021):
1) Kelumpuhan wajah atau anggota badan (biasanya hemiparesis)
yang muncul secara mendadak
2) Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan
(gangguan hemisensorik)
3) Perubahan mendadak pada status mental (konfusi, delirium,
letargi, stupor, atau koma)
4) Afasia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan, atau kesulitan
memahami ucapan)
5) Disartria (bicara pelo atau cadel)
6) Gangguan penglihatan (hemianopia atau monokuler) atau
diplopia
7) Vertigo, mual dan muntah, dan nyeri kepala

Klasifikasi Stroke


Klasifikasi stroke dibedakan menurut patologi dari serangan
stroke meliputi (LeMone et al., 2016):

  1. Stroke hemoragik
    Stroke hemoragik merupakan perdarahan serebral dan mungkin
    perdarahan subarakhnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh
    darah otak pada daerah otak tertentu dan pada umumnya
    kesadaran klien menurun (Muttaqin, 2008). Terdapat dua jenis
    stroke hemoragik yaitu hemoragi intraserebral dan hemoragi
    subarakhnoid.
    a) Perdarahan intraserebral
    Pecahnya pembuluh darah dikarenakan hipertensi yang
    mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak,
    membentuk massa yang menekan jaringan otak dan
    menimbulkan edema otak.
    b) Perdarahan subarakhnoid
    Perdarahan yang berasal dari pecahnya aneurisma berry atau
    AVM. Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang subarakhnoid
    menyebabkan TIK meningkat secara mendadak,
    meregangnya struktur peka nyeri, dan vasopasme pembuluh
    darah serebral yang berakibat disfungsi otak global yaitu
    nyeri kepala, penurunan kesadaran maupun disfungsi otak
    fokal yaitu hemiparesis, gangguan hemisensorik, afasia, dan
    lainnya.
  2. Stroke Nonhemoragik
    Stroke yang berupa iskemia atau emboli dan trombosis serebral
    yang biasanya terjadi saat setelah lama istirahat, baru bangun
    tidur, atau di pagi hari. Stroke nonhemoragik ini tidak terjadi
    perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia
    dan edema sekunder

Faktor Risiko Stroke


Faktor risiko stroke diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu
faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan dapat dimodifikasi. Faktor
yang dapat dimodifikasi dapat diubah dengan prevensi (LeMone et
al., 2016). Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi terdiri dari
usia, jenis kelamin, ras, dan hereditas, sedangkan faktor yang dapat
dimodifikasi terdiri dari hipertensi, penyakit jantung, kolesterol
tinggi, obesitas, diabetes, merokok, penyalahgunaan zat dan alkohol
(Muttaqin, 2008). Faktor risiko lain meliputi stroke sebelumnya atau
serangan iskemia transien (TIA), dan faktor khusus untuk wanita
adalah kontrasepsi oral (khususnya disertai hipertensi, merokok, dan
kadar estrogen tinggi) (LeMone et al., 2016)

Etiologi Stroke


Menurut Muttaqin (2008) beberapa keadaan di bawah ini dapat
menyebabkan stroke:
1) Trombosis serebral
Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami
penyumbatan sehingga menyebabkan iskemia jaringan otak
yang dapat menimbulkan edema dan kongesti di sekitarnya.
Trombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur
atau bangun tidur, dikarenakan penurunan aktivitas simpatis dan
penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan iskemia
serebral. Trombosis serebral dapat disebabkan oleh
aterosklerosis, hiperkoagulasi dan arteritis.
2) Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak
oleh bekuan darah, lemak, dan udara.
3) Hemoragik
Perdarahan intrakranial atau intraserebral meliputi perdarahan di
dalam ruang subarakhnoid atau di dalam jaringan otak sendiri.
Perdarahan ini dapat terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi.
Pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah
ke dalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan,
pergeseran, dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan,
sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan
sehingga terjadi infark otak, edema, dan mungkin herniasi otak.
4) Hipoksia umum
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum
adalah:
a) Hipertensi yang parah,
b) Henti jantung paru,
c) Curah jantung turun akibat aritmia.
5) Hipoksia lokal
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia lokal
adalah:
a) Spasme arteri serebri yang disertai perdarahan subarakhnoid
b) Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migren

Stroke Pengertian


Stroke atau cedera vaskular serebral adalah kondisi
kedaruratan ketika terjadi defisit neurologis akibat dari penurunan
tiba-tiba aliran darah ke area otak yang terlokalisasi (LeMone et al.,
2016). Defisit neurologis ini disebabkan oleh pecahnya pembuluh
darah di otak dan/atau terjadinya trombosis dan emboli (Batticaca,
2008). Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul
mendadak yang disebabkan terjadinya gangguan peredaran darah
otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Stroke
merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan kecacatan
berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara, proses berpikir,
daya ingat, dan bentuk-bentuk kecacatan yang lain sebagai akibat
gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008)

Alat Ukur Efikasi Diri

Beberapa alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur efikasi diri, antara lain: 1) General Self-Efficacy Scale 24 General Self-Efficacy Scale merupakan instrumen pengukuran yang bersifat unidimensional, atau hanya mengukur satu faktor yaitu general self-efficacy. General Self-Efficacy Scale awalnya dikembangkan oleh Matthias Jerusalem dan Ralf Schwarzer pada tahun 1979 yang terdiri dari 20 item. General Self-Efficacy Scale telah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa dan digunakan dalam penelitian di berbagai negara. Setiap item dalam instrumen memiliki 4 pilihan jawaban, yaitu: “sangat tidak sesuai” hingga “sangat sesuai”. Rentang nilai instrumen ini yaitu 1 sampai 4, sehingga rentang jumlah skor antara 10 sampai 40, dengan skor semakin tinggi maka efikasi diri semakin tinggi pula. General Self-Efficacy Scale sudah diuji validitas dan reliabilitas dengan hasil yang sangat reliabel, stabil, dan valid (Novrianto et al., 2019). 2) Daily Living Self-Efficacy Scale Daily Living Self-Efficacy scale merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk menilai efikasi diri penderita stroke dalam dua domain kehidupan sehari-hari yaitu aspek psikologis dan aktivitas sehari-hari terlepas dari sifat dan tingkat kecacatan fisik pasien. Kuesioner ini terdiri dari 12 item pertanyaan yang mencakup dua sub domain yaitu efikasi diri untuk fungsi psikososial dan efikasi diri untuk fungsi aktivitas sehari-hari (Maujean et al., 2014). 25 3) The Stroke Self-Efficacy Questionnaire (SSEQ) The Stroke Self-Efficacy Questionnaire (SSEQ) merupakan instrumen untuk menilai efikasi diri yang dirasakan oleh penderita stroke dalam fungsi tertentu misalnya perawatan diri, aktivitas dan mobilitas, dan tugas yang terkait dengan manajemen diri (Maujean et al., 2014). Kuesioner ini digunakan untuk mengukur efikasi diri individu dalam kinerja fungsional dan manajemen diri yang relevan dengan individu pasca stroke. Pengembangan kuesioner ini dilakukan selama tahun 2004 hingga 2006 dengan menjalani 3 kali studi. Kuesioner ini telah diujicobakan kepada 112 penderita stroke antara 2 sampai 24 minggu pasca stroke. The Stroke Self-Efficacy Questionnaire (SSEQ) terdiri dari 13 item pertanyaan dengan hasil uji cronbach’s α 0,90 dan nilai uji validitas r = 0,803 dan p < 0,001 (Jones et al., 2008).

Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Proses Dalam Diri Manusia


Menurut Bandura dalam Kristiyani (2020) terdapat empat
proses besar psikologis dalam proses efikasi diri dalam
mempengaruhi fungsi manusia:
1) Proses Kognitif
Dampak efikasi diri terhadap proses kognitif seseorang berbeda
antara satu dengan lainnya. Sebagian besar perilaku akan
berubah sesuai dengan pemikiran untuk mewujudkan tujuan.
Semakin kuat persepsi efikasi diri seseorang, semakin tinggi
tujuan-tujuan yang dibuat bagi dirinya dan lebih mengokohkan
komitmen mereka. Semua tindakan dimulai dalam pikiran.
Fungsi utama dari pemikiran adalah untuk memungkinkan
seseorang memprediksi kejadian dan menentukan langkah serta
mengembangkan cara untuk mengontrol hal-hal yang
mempengaruhi hidup mereka. Ketika seseorang dihadapkan
pada sebuah masalah yang sulit akan timbul keraguan diri
mengenai keberhasilan yang dapat dicapai dalam pemikirannya,
sehingga tujuan dan kualitas prestasi menurun.
2) Proses Motivasional
Efikasi diri berperan penting dalam regulasi motivasi diri.
Kebanyakan motivasi dihasilkan secara kognitif. Orang
memotivasi dirinya sendiri dan mengarahkan tindakan melalui
pemikiran sebelumnya. Efikasi diri mempengaruhi pola pikir
seseorang sehingga mereka membentuk keyakinan mengenai
apa yang dapat mereka lakukan. Mereka menetapkan tujuan bagi
dirinya sendiri dan merencanakan tindakan untuk merealisasikan
tujuan yang telah dibuat. Tujuan yang menantang akan
meningkatkan dan mempertahankan motivasi seseorang.
3) Proses Afektif
Efikasi diri seseorang mengenai kemampuannya untuk
menghadapi masalah mempengaruhi seberapa besar tingkat
motivasi, stres, dan depresi yang dialami dalam menghadapi
situasi yang sulit atau mengancam. Seseorang yang percaya
bahwa mereka mampu mengatasi masalah yang ada akan
merubah pola pikirnya yang mengganggu sehingga mereka
menjadi lebih tangguh dalam menghadapi permasalahan.
Setelah seseorang mengembangkan rasa tangguh yang dimiliki,
seseorang dapat menahan kesulitan yang datang. Sebaliknya
orang yang memiliki kepercayaan yang rendah terhadap
kemampuan dirinya akan merasa sangat cemas dan melihat
berbagai hal sebagai bahaya. Efikasi diri dapat mengatur emosi
seseorang melalui beberapa cara, yaitu seseorang yang percaya
bahwa mereka mampu mengelola ancaman tidak akan mudah
tertekan oleh diri sendiri, sebaliknya jika efikasi diri rendah
seseorang cenderung memperbesar risiko, dan dapat mendorong
munculnya depresi (Manuntung, 2019).
4) Proses Seleksi
Efikasi diri seseorang dapat membentuk kehidupan dengan
mempengaruhi jenis aktivitas dan lingkungan yang akan dipilih.
Seseorang akan menghindari aktivitas dan situasi yang mereka
yakini berada diluar kemampuannya. Tetapi mereka akan
bersiap begitu menghadapi suatu masalah dan memilih situasi
yang kemungkinan dapat ditangani

Faktor yang Mempengaruhi Efikasi Diri


Menurut Bandura dalam Anwar (2009) tinggi atau rendahnya
efikasi diri seseorang sangatlah bervariasi. Ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi, diantaranya yaitu:
1) Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin juga berpengaruh terhadap efikasi diri.
Penelitian Bandura dalam Anwar (2009) menyatakan wanita
cenderung memiliki efikasi diri yang tinggi daripada pria yang
bekerja, terutama wanita yang memiliki peran selain sebagai ibu
rumah tangga, juga sebagai wanita karir.
2) Budaya
Budaya mempengaruhi efikasi diri melalui nilai, kepercayaan,
dan proses pengaturan diri yang berfungsi sebagai sumber
penilaian efikasi diri.
3) Usia
Salah satu faktor yang mempengaruhi efikasi diri adalah usia
(Ismatika & Soleha, 2018). Individu yang lebih tua pada
umumnya lebih berpengalaman dalam mengatasi masalah yang
dihadapi dibanding individu yang lebih muda yang kurang
pengalaman menghadapi masalah dalam hidup. Hal ini berkaitan
dengan pengalaman individu yang dimiliki selama rentang
hidupnya.
4) Tingkat pendidikan
Pendidikan merupakan komponen yang sangat penting untuk
seorang individu. Efikasi diri umumnya terbentuk dari proses
belajar seseorang melalui pendidikan formal. Individu dengan
tingkat pendidikan yang tinggi umumnya memiliki efikasi diri
yang tinggi pula karena banyak menerima proses pembelajaran
dan berbagai persoalan yang dihadapi ketika masa pendidikan.
5) Sifat dari tugas yang dihadapi
Tingkat kesulitan tugas yang dihadapi oleh seseorang akan
mempengaruhi penilaian individu tersebut terhadap kemampuan
dirinya sendiri. Semakin kompleks suatu tugas yang dihadapi
oleh individu maka akan semakin rendah individu tersebut
menilai kemampuannya. Sebaliknya, jika individu dihadapkan
pada tugas yang mudah dan sederhana maka akan semakin tinggi
individu tersebut menilai kemampuannya.
6) Pengalaman
Efikasi diri dibentuk dari sebuah pengalaman atau proses
adaptasi dan pembelajaran yang telah dialami individu di
lingkungannya, tetapi hal ini bergantung pada bagaimana
individu tersebut menghadapi keberhasilan atau kegagalan
dalam menghadapi masalah.
21
7) Status atau peran individu dalam lingkungan
Individu yang memiliki status lebih tinggi akan memperoleh
tingkat kontrol yang lebih besar sehingga efikasi diri yang
dimilikinya juga tinggi. Sedangkan individu yang memiliki
status yang lebih rendah akan memiliki kontrol yang lebih kecil
sehingga efikasi diri yang dimiliki juga rendah.
8) Informasi tentang kemampuan diri
Individu akan memiliki efikasi diri tinggi, jika memperoleh
informasi positif mengenai dirinya, sementara individu akan
memiliki efikasi diri yang rendah jika memperoleh informasi
negatif mengenai dirinya

Sumber-Sumber Efikasi Diri


Efikasi diri dipengaruhi oleh empat sumber informasi penting
(Lenz & Shortridge-Baggett, 2002):
1) Performance accomplishment: berlatih dan pengalaman
sebelumnya.
Berlatih adalah sumber efikasi diri yang paling penting karena
didasarkan pada pengalaman seseorang sendiri. Pengalaman
individu terkait keberhasilan akan meningkatkan efikasi diri,
sedangkan kegagalan dapat menurunkan efikasi diri, terutama
jika kegagalan terjadi di awal proses pembelajaran. Hal ini
membuktikan bahwa pengalaman individu mempunyai
pengaruh yang besar terhadap efikasi diri.
Seseorang yang berhasil menemukan solusi untuk permasalahan
yang dihadapi dan dapat menuntun bangkit dari keterpurukan
maka efikasi diri orang tersebut secara otomatis akan meningkat
dibandingkan sebelumnya. Menguasai sesuatu hal yang baru
relatif sederhana, yang diperlukan yaitu latihan dan
membiasakannya. Efikasi diri perlu dikembangkan dengan cara
mencoba menyelesaikan tugas yang sulit dan melewati kendalakendala yang ditemui.
2) Vicarious experience: pengamatan orang lain.
Efikasi diri juga bisa dibentuk dengan melihat orang lain yang
sukses yang dianggap memiliki suatu kemiripan dengan orang
yang mengamatinya. Orang lain dapat menjadi contoh atau role
model dan memberikan informasi tentang tingkat kesulitan dari
jenis perilaku tertentu. Orang-orang yang berperan sebagai
panutan, bagaimanapun harus menunjukkan kesamaan dengan
pengamat dalam karakteristik yang relevan dengan masalah
tersebut, artinya dengan mengamati orang lain yang dianggap
senasib atau mengalami hal yang sama, sang pengamat dapat
membentuk sugesti positif terhadap dirinya bahwa ia mampu
melakukan hal serupa seperti model yang diamatinya. Hal ini
sangat penting bagi mereka yang kurang mempunyai keyakinan
dalam menghadapi permasalahan yang terjadi.
Mengamati orang lain adalah sumber efikasi diri yang lebih
lemah daripada pengalaman langsung, tetapi dapat berkontribusi
pada penilaian seseorang terhadap efikasi dirinya sendiri.
Seberapa besar dampak vicarious experience terhadap efikasi
diri seseorang bergantung pada seberapa mirip seseorang dengan
model dalam pemikiran seseorang (Kristiyani, 2020). Semakin
mirip seorang model dimata seseorang dengan dirinya maka
akan semakin besar pengaruh pengalaman sukses atau
pengalaman gagal model terhadap efikasi diri seseorang.
3) Verbal Persuation: Persuasi verbal
Persuasi verbal merupakan sumber efikasi diri yang paling
sering digunakan karena mudah digunakan. Profesional
kesehatan dapat memberikan instruksi, saran dan nasihat,
mencoba meyakinkan orang bahwa mereka dapat berhasil dalam
mengerjakan tugas yang sulit, yang paling penting adalah
kredibilitas, keahlian, kepercayaan, dan prestise orang yang
melakukan persuasi. Persuasi verbal untuk meyakinkan orang
bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melakukan suatu
perilaku lebih lemah daripada dua sumber sebelumnya karena
mereka tidak memperhatikan pengalaman atau contoh mereka
sendiri. Namun, persuasi verbal bisa menjadi pendukung yang
baik untuk sumber efikasi diri yang lain. Jika seseorang yakin
dengan kemampuan mereka, mereka akan lebih cenderung untuk
bertahan dan tidak akan mudah menyerah.
4) Physiological information: evaluasi diri dari keadaan fisiologis
dan emosional.
Informasi tentang tubuh manusia juga dapat mempengaruhi
penilaian seseorang terhadap kemampuan untuk menunjukkan
perilaku tertentu. Dalam menilai kapasitas mereka sendiri, orang
menggunakan informasi tentang keadaan fisiologis dan
emosional mereka. Ketegangan, kecemasan, dan depresi
ditafsirkan sebagai tanda defisiensi personal yang dapat
berdampak negatif terhadap efikasi diri seseorang. Apa yang
orang percaya tentang penyakit mereka dan bagaimana mereka
menafsirkan gejala mereka mempengaruhi efikasi diri mereka
untuk menghadapi penyakit.

Konsep Efikasi Diri


Efikasi diri adalah keyakinan individu untuk mengelola
perilaku-perilaku tertentu untuk mencapai kesembuhan (Makhfudli
et al., 2020). Efikasi diri merupakan suatu proses kognitif terkait
kenyamanan individu dalam melakukan suatu hal yang dapat
mempengaruhi motivasi, proses berpikir, kondisi emosional serta
lingkungan sosial yang menunjukkan suatu kebiasaan yang spesifik
(Hasanah, 2018).
Menurut Bandura dalam Kristiyani (2020), efikasi diri
menentukan bagaimana seseorang merasa, berpikir, memotivasi diri
sendiri, dan berperilaku. Efikasi diri merupakan dasar dari motivasi,
kesejahteraan, serta berprestasi. Hal ini disebabkan karena jika
seseorang tidak percaya bahwa tindakan mereka dapat
menghasilkan sesuatu sesuai dengan yang diharapkan, mereka
mendapat sedikit dorongan untuk bertahan ketika dihadapkan
kesulitan. Sebaliknya, jika mereka yakin bahwa mereka dapat
mencapai sesuatu, maka mereka menjadi lebih bersemangat dalam
mencapai sesuatu tersebut Pada umumnya orang dengan efikasi diri
yang baik akan lebih cepat bangkit dari kegagalan atau kemunduran
yang dialami serta memiliki komitmen yang tinggi untuk dapat
mencapai sesuatu.

Cara Mengukur Perilaku Pencegahan Diare

Subjek memberi respon dengan lima kategori ketentuan untuk sub variable sikap, yaitu: sangat setuju, setuju, tidak tahu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Sub variable pengetahuan dan tindakan, subyek memberi respon dengan dua kategori yaitu : ya dan tidak. Pernyataan positif untuk jawaban sangat setuju (skor 5), setuju (skor 4), tidak tahu (skor 3), tidak setuju (skor 2), sangat tidak setuju (skor 1), atau ya (skor 1) dan tidak (skor 0). Untuk pernyataan negative untuk jawaban sangat setuju (skor 1), setuju (skor 2), tidak tahu (skor 3), tidak setuju (skor 4), sangat tidak setuju (skor 5) atau ya (skor 0), tidak (skor 1), ((Nursalam, 2017). Menurut (Arikunto,2010) pengukuran perilaku dapat diinterprestasikan baik (76-100%), cukup (56-75%), dan kurang (<56%)

Perilaku pencegahan diare


Perilaku pencegahan penyakit diare pada balita sangat penting dilakukan oleh
keluarga kususnya ibu, pencegahan kejadian diare tidak terlepas dari orang tua
yang harus mengetahui cara-cara pencegahannya, tindakan untuk mencegah
penyakit termasuk kedalam perilaku kesehatan. Upaya pencegahan merupakan
komponen strategis pemberantasan diare pada anak terdiri dari pencegahan
melalui imunisasi dan non-imunisasi. Pencegahan non-imunisasi merupakan
pencegahan nonspesifik misalnya mengatasi berbagai faktor-risiko seperti polusi
udara dalam-ruang, merokok, kebiasaan perilaku tidak sehat/bersih, perbaikan gizi
dan dan lain-lain

Faktor yang mempengaruhi perilaku


Perilaku seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu (Notoatmodjo, 2007):
a. Faktor internal, yaitu faktor dari dalam yang berhubungan dengan
karakteristik orang yang bersangkutan, seperti tingkat kecerdasan, tingkat
emosional, keyakinan, jenis kelamin, dan sebagainya
b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang memepengaruhi dari luar seperti
lingkungan, sosial budaya, politik, ekonomi, agama, pendidikan, dan
sebagainya

Domain perilaku


Menurut Benyamin Bloom (1908) dalam buku (Notoatmodjo, 2011b)
menyebutkan perilaku manusia dibagi dalam tiga ranah atau kawasan, yaitu
kognitif, afektif, psikomotor yang dijelaskan sebagai berikut :
a. Pengetahuan (kognititf)
Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh seseorang tentang sesuatu hal
yang terjadi setelah melakukan pengindraan terhadap suatu onyek. Pengetahuan
atau kognitif merupakan domain yang penting untuk membentuk perilaku
seseorang. Wawasan dan pemikiran yang luas di bidang kesehatan akan
mempengaruhi perilaku individu dalam menyikapi suatu masalah. Menurut
pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan
yaitu (Notoatmodjo, 2011b):
1) Tahu, diartikan sebagai mengingat suatu materi yang sudah dipelajari.
2) Memahami, diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secera
benar tentang obyek yang diketahui.
3) Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi sesungguhnya.
4) Analisis, adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi ke dalam
komponen-konponen tetapi masih dalam struktur organisasi, dan masih ada
kaitannya satu sama lain.
5) Sintesis, menunjuk kepada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluasi, berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
b. Sikap
Menurut sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus tertentu
yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Sikap juga
mempunyai tingkat berdasarkan intensitasnya, yaitu (Notoatmodjo, 2011b) :
1) Menerima (receiving), diartikan bahwa orang tersebut mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan objek.
2) Merespon (responding), yaitu memberikan jawaban apabila ditanya,
mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi
dari sikap.
3) Menghargai (valving), yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4) Bertanggung jawab (responsible), yaitu bertanggung jawab atas segala
sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang
paling tinggi.
c. Praktik atau tindakan
Menurut praktik adalah melaksanakan atau mempraktikkan apa yang
diketahui dan disikapi oleh seseorangdan dibedakan menjadi empat tingkatan
yaitu (Notoatmodjo, 2011b):
1) Persepsi, yaitu mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan
tindakan yang akan diambil
2) Respons terpimpin, yaitu tindakan yang dilakukan seseorang yang masih
menggunakan panduan atau tergantung pada tuntunan.
3) Mekanisme, yaitu kegiatan atau tindakan yang telah dilakukan secara
otomatis, besar, dan tepat dan akan dilakukan kembali tanpa harus diperintah
atau ditunggui (kebiasaan)
4) Adopsi, yitu suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang dengan
baik. Artinya, yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja,
tetapi sudah dilakukan modifikasi menuju tindakan yang lebih berkualitas.

Bentuk-bentuk perilaku


Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus, maka bentuk perilaku
dibedakan menjadi dua yaitu (Notoatmodjo, 2011b):
a. Bentuk pasif
Bentuk pasif yaitu respon yang terjadi dalam diri sesrorang dan tidak secara
langsung dapat dilihat oleh orang lain seperti berfikir, sikap, dan pengetahuan.
Bentuk perilaku pasif ini juga disebut sebagai perilaku tertutup (covert behavior),
karena perilaku ini masih terselubung atau tertutup
b. Bentuk aktif
Bentuk aktif yaitu apabila respon seseorang jelasa dapat diobservasi secara
langsung oleh orang lain seperti tindakan nyata. Bentuk perilaku aktif ini juga
disebut sebagai perilaku terbuka (open behavior), karena perilaku ini sudah
tampak dalam bentuk tindakan nyata.

Konsep Perilaku Pencegahan Diare

Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
organisme yang bersangkutan. Perilaku manusia hakekatnya adalah suatu aktivitas
manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, perilaku manusia mempunyai bentangan yang
sangat luas, mencakup; berjalan, berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan
lain sebagainya. Perilaku dapat dikatakan apa yang dikerjakan secara langsung
atau secara tidak langsung .Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang
(organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan. Perilaku pencegahan penyakit
adalah respon untuk melakukan pencegahan penyakit (Notoatmodjo, 2011a)

Pengukuran Efikasi Diri


Alat ukur yang digunakan dalam mengukur efikasi diri adalah kuisioner
keyakinan diri untuk mengukur keyakinan diri yang terdiri dari 30 peranytaan
yang diberikan kepada responden. Kuesioner perilaku keyakinan diri berisi
pernyataan untuk mengidentifikasi keyakinan diri pada ibu balita yang terdiri
dari 3 sub variabel yaitu magnitude, generality dan strenght.Kuesioner
keyakinan diri terdiri dari 30 pertanyaan yaitu 10 pernyataan mengenai
magnitude, 10 pernyataan mengenai generality, dan 10 pernyataan mengenai
strenght dengan menggunakan skala likert, item-item disusun berupa
pernyataan positif dan negatif. Penyataan positif untuk jawaban sangat yakin
(skor 5), yakin (skor 4), ragu-ragu (skor 3), tidak yakin (skor 2), sangat tidak
yakin (skor 1). Sedangkan untuk pernyataan negatif, jawaban sangat yakin
(skor 1), yakin (skor 2), ragu-ragu (skor 3), tidak yakin (skor 4), sangat tidak
yakin (skor 5),(Nursalam, 2017)

Cara meningkatkan efikasi diri


Untuk meningkatkan efikasi diri dibagi menjadi empat aspek penting yaitu
(Bandura, 1997) :
a. Kepercayaan diri, keyakinan individu bahwa dapat melaksanakan tugas
dengan baik akan menentukan prilaku atau tindakan yang benar-benar akan
dilakukan individu tersebut (seberapa besar usaha yang akan dilakukan akan
menentukan pencapain tujuan akhir).
b. Keyakinan akan kemampuan dalam mengatasi masalah atau tantangan
(efikasi diri juga terkait dengan kemampuan individu dalam mengatasi
masalah atau tantangan yang muncul).
c. Keyakinan mencapai target yang ditetapkan (seseorang yang mempunyai
efikasi diri yang tinggi akan menetapkan target yang tinggi dan selalu
konsekuen terhadap target tersebut, individu akan berupaya menetapkan
target yang lebih tinggi bila target sesungguhnya telah mampu dicapai dan
begitu pula sebaliknya)
d. Keyakinan akan kemampuan untuk menumbuhkan motivasi, kemampuan
kognitif dan melakukan yang diperlukan untuk mencapai hasil

Pengaruh efikasi diri pada tingkah laku


Menurut Bandura (1997) efikasi diri akan mempengaruhi individu
merasakan, berpikir, motivasi diri sendiri, dan bertingkah laku. Efikasi diri atau
kapabilitas yang dimiliki individu akan mempengaruhi tingkah lakunya dalam
beberapa hal seperti :
a. Tindakan individu efikasi diri menentukan kesiapan individu
dalammerencanakan apa yang harus dilakukannya. Individu dengan
keyakinan diri tinggi tidak mengalami keragu-raguan dan mengetahui apa
yang harus dilakukannya.
b. Usaha, efikasi diri mencerminkan seberapa besar upaya yang dikeluarkan
individu untuk mencapai tujuannya. Individu dengan keyakinan terhadap
kemampuan diri tinggi akan berusaha maksimal untuk mengetahui cara
belajar serta kegiatan yang sesuai dengan minatnya. Individu dengan
keyakinannya terhadap kemampuan diri tinggi akan berusaha mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
c. Daya tahan individu dalam menghadapi hambatan atau rintangan dan
kegagalan, individu dengan efikasi diri tinggi mempunyai daya tahan yang
kuat dalam menghadapi rintangan atau kegagalan, serta dengan mudah
mengembalikan rasa percaya diri setelah mengalami kegagalan. Individu juga
beranggapan bahwa kegagalan dalam mencapai tujuan adalah akibat dari
kurangnya pengetahuan, bukan karena kurangnya keahlian yang dimilikinya.
Hal ini membuat individu berkomitmen terhadap tujuan yang dicapainya.
Individu akan menganggap kegagalan sebagai bagian dari proses, dan tidak
menghentikan usahanya.
d. Ketahanan individu terhadap keadaan tidak nyaman, dalam situasi tidak
nyaman. Individu dengan efikasi diri tinggi menganggap sebagai suatu
tantangan, bukan merupakan sesuatu yang harus dihindari. Ketika individu
mengalami keadaan tidak nyaman dalam usaha untuk mencapai tujuan yang
diminati, iaakan tetap berusaha bertahan dengan mengabaikan
ketidaknyamanan tersebut dan berkonsentrasi penuh.
e. Pola pikir, situasi tertentu akan mempengaruhi pola pikir individu. Individu
dengan efikasi diri tinggi, pola pikirnya akan tidak mudah terpengaruh oleh
situasi lingkungan dan tetap memiliki cara pandang yang luas memungkinkan
individu untuk memiliki alternative pilihan kegiatan belajar yang banyak dari
bidang yang diminati.
f. Stres dan depresi, bagi individu yang memiliki efikasi diri rendah, kecemasan
yang dibangkitkan oleh stimulus tertentu akan membuatnya mudah merasa
tertekan.
g. Tingkat pencapaian yang akan terealisasikan. Individu dengan efikasi diri
tinggi dapat membuat tujuan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
mampu menentukan bidang pendidikan sesuai dengan minat dan
kemampuannya

Dimensi efikasi diri


Menurut Bandura (1997) efikasi diri terdiri dari 3 dimensi, yaitu :
a. Magnitude
Dimensi magnitude berfokus pada tingkat kesulitan yang setiap orang tidak
akan sama. Seseorang bisa mengalami tingkat kesulitan yang tinggi terkait dengan
usaha yang dilakukan, sedikit agak berat atau ada juga yang melakukan usaha
terkait dengan sangat mudah dan sederhana. Semakin tinggi keyakinan efikasi diri
yang dimiliki maka akan mudah usaha terkait yang dapat dilakukan.
b. Generality
Generalitas berkaitan dengan seberapa luas cakupan tingkah laku yang
diyakini mampu dilakukan. Berbagai pengalaman pribadi dibandingkan
pengalaman orang lain, pada umumnya akan lebih mampu meningkatkan efikasi
diri seseorang.
c. Strength
Dimensi ini berfokus pada kekuatan atau keyakinan dalam melakukan sebuah
usaha. Harapan yang lemah bisa disebabkan oleh pengalaman yang buruk, tetapi
bila seseorang mempunyai harapan yang kuat mereka akan tetap berusaha
walaupun mengalami sebuah kegagalan

Proses pembentukan efikasi diri


Menurut proses pembentukan efikasi diri dibagi menjadi empat proses yaitu
(Bandura, 1997):
a. Proses kognitif
Proses kognitif merupakan proses berpikir yang didalamnya termasuk
pemerolehan, pengorganisasian dan penggunaan informasi. Kebanyakan tindakan
manusia bermula dari sesuatu yang dipikirkan terlebih dahulu. Individu yang
memiliki efikasi diri yang tinggi lebih senang membayangkan tentang kesuksesan.
Sebaliknya individu yang efikasi dirinya rendah lebih banyak membayangkan
kegagalan dan hal-hal yang dapat menghambat tercapainya kesuksesan.
b. Proses motivasi
Kebanyakan motivasi manusia dibangkitkan melalui kognitif. Individu
memberi motivasi/dorongan bagi diri mereka sendiri dan mengarahkan tindakan
melalui tahap pemikiran sebelumnya. Kepercayaan akan kemampuan diri dapat
mempengaruhi motivasi dalam beberapa hal, yaitu menentukan tujuan yang telah
ditentukan individu, seberapa besar usaha yang dilakukan, seberapa tahan mereka
dalam menghadapi kesulitan dan ketahanan mereka dalam menghadapi kegagalan.
c. Proses afektif
Proses afektif merupakan proses pengaturan kondisi emosi dan reaksi
emosional, keyakinan individu akan koping mereka turut mempengaruhi level
stress dan depresi seseorang saat mereka menghadapi situasi yang sulit. Persepsi
efikasi diri tentang kemampuannya mengontrol sumber stress memiliki peranan
penting dalam kecemasan. Individu yang percaya akan kemampuannya untuk
16
mengontrol situasi cenderung tidak memikirkan hal-hal yang negative. Individu
yang merasa tidak mampu mengontrol situasi cenderung mengalami level
kecemasan yang tinggi, selalu memikirkan kekurangan mereka, memandang
lingkungan sekitar penuh ancaman, membesar-besarkan masalah kecil, dan terlalu
cemas pada hal-hal yang sebenarnya jarang terjadi.
d. Proses seleksi
Kemampuan individu untuk memilih aktivitas dan situasi tertentu, turut
mempengaruhi efek dari suatu kejadian individu cenderung menghindari aktivitas
dan situasi yang diukur batas kemampuan mereka. Bila individu merasa yakin
bahwa mereka mampu menangani suatu situasi, maka mereka cenderung tidak
menghindari situasi tersebut. Dengan adanya pilihan yang dibuat, individu
kemudian dapat meningkatkan kemampuan, minat dan hubungan social mereka

Klasifikasi efikasi diri


Efikasi diri menjadi dua yaitu efikasi diri tinggi dan rendah. Ada beberapa
perbedaan pola prilaku antara seseorang yang mempunyai efikasi diri tinggi dan
rendah, yang dapat dilihat pada gambar berikut (Robert Kreitner dan Angilo,
1989):
Gambar 1 Klasifikasi efikasi diri menurut Robert Kreitner dan Angilo
Dari diagram diatas dijelaskan perbedaan pola perilaku (behavioral
pattern) antara seseorang yang mempunyai efikasi diri tinggi
dengan seseorang yang mempunyai efikasi diri rendah sebagi
berikut :
a. Efikasi diri tinggi :
1) Aktif memilih peluang terbaik
2) Mampu mengelola situasi, menghindari atau menetralisir hambatan
3) Menetapkan tujuan, menetapkan standard
4) Membuat rencana, persiapan dan praktek
5) Bekerja keras
6) Kreatif dalam memecahkan masalah
7) Belajar dari pelajaran
8) Memvisualisasikan keberhasilan
9) Membatasi stress
b. Efikasi diri rendah
1) Pasif
2) Menghindari tugas yang sulit
3) Aspirasi lemah dan komitmen rendah
4) Fokus pada kekurangan pribadi
5) Tidak melukan upaya apapun
6) Berkecil hati karena kegagalan
7) Mengaanggap kegagagalan adalah karena kurangnya kemampuan atau nasib
buruk
8) Mudah khawatir, stress dan menjadi depresi
9) Memikirkan alasan untuk gagal

Sumber-sumber efikasi diri


Efikasi diri dipengaruhi oleh empat sumber yang penting, yaitu : pengalaman
pribadi/pencapaian prestasi , pengalaman orang lain, persuasi verbal , dan kondisi
fisik dan emosional (Bandura, 1997) :
a. Pengalaman menguasai sesuatu (mastery experiences)
Hal ini merupakan sumber yang paling penting dari efikasi diri karena
didasarkan pada pengalaman orang itu sendiri. Pengalaman keberhasilan dapat
meningkatkan efikasi diri sedangkan kegagalan dapat menurunkannya. Setelah
seseorang memiliki efikasi diri yang tinggi, dia cenderung menggeneralisasi
pengalaman. Beberapa kesulitan dan kegagalan diperlukan untuk membentuk
individu yang kuat dan menyadarkan manusia bahwa kesuksesan membutuhkan
suatu usaha, seseorang yang memiliki keyakinan akan sukses mendorongnya
untuk bangkit dan berusaha untuk mewujudkan kesuksesan tersebut.
b. Pengalaman orang lain (vicarious experience)
Seseorang dapat belajar dari pengalaman orang lain dan meniru prilakunya
untuk mendapatkan seperti apa yang didapatkan oleh orang lain tersebut. Efikasi
diri meningkat saat kita mengobservasi pencapaian orang lain yang mempunyai
kompetensi setara, namun akan menurun saat melihat rekan sebaya gagal.
c. Persuasi verbal (verbal persuasion)
Persuasi social memberikan petunjuk, saran dan nasehat, tenaga kesehatan
mencoba untuk meyakinkan orang-orang bahwa mereka dapat berhasil dalam
tugas yang sulit. Upaya verbal untuk meyakinkan orang bahwa mereka memiliki
kemampuan untuk berprilaku. Jika orang yakin akan kemampuan mereka, mereka
akan lebih cenderung untuk bertahan dan tidak akan menyerah dengan mudah.
12
Meningkatkan efikasi diri melalui persuasi social, dapat menjadi efektif hanya
bila kegiatan yang ingin di dukung untuk dicoba berada dalam jangkauan prilaku
seseorang.
d. Kondisi fisik dan emosional (physiological and emosional state)
Dalam menilai kepastian mereka sendiri orang yang menggunakan informasi
tentangfisik dan emosional mereka. Ketegangan, kecemasan, dan depresi sebagai
hambatan fisik, kondisi emosional juga mempengaruhi seseorang dalam
mengambil keputusan terkait efikasi diri. Psikoterapis telah lama mengetahui
bahwa penurunan kecemasan atau peningkatan rileksasi fisik dapat meningkatkan
peforma. Informasi rangsangan berhubungan dengan beberapa variable. Variabel
pertama adalah tingkat rangsangan, biasanya semakin tinggi rangsangan semakin
rendah efikasi diri. Variabel yang kedua adalah realisme yang dipersepsikan dari
rangsangan tersebut. Apabila seseorang mengetahui bahwa rasa takut yang ia
rasakan bersifat realistis maka efikasi diri akan meningkat.