Validitasi model MDS (skripsi dan tesis)

 Untuk mendapatkan model MDS yang cocok, terdapat beberapa kriteria atau pedoman agar hasil yang didapatkan layak dan dapat digunakan untuk interpretasi sesungguhnya yaitu :
a. Nilai Stress (Standardized Residual Sum of Square)
Stress ialah ukuran ketidakcocokan (a lack of fit measure), makin tinggi nilai stres semakin tidak cocok, sehingga dapat disimpulkan kalau data tidak cocok digunakan untuk proses anilisis multidimensional scaling. Untuk menemukan tingkat ketidakcocokan tersebut makan kita dapat mencari dengan menggunakan rumus Stress.
b Nilai R kuadrat
 R kuadrat (R square) ialah kuadrat dari koefisien korelasi yang menunjukkan proporsi varian dari skala optimal data, yang disumbangkan oleh prosedur penskalaan multidimensional ukuran kecocokan/ketepatan (goodness of fit measure).28Yang diinginkan ialah nilai R 2 yang tinggi (R 2=1 atau 100% model mewakili dengan sempurna), akan tetapi, 𝑅 2 ≥ 0.60 (60% atau lebih) sudah bisa diterima, artinya bisa mewakili data input dengan cukup baik

Asumsi Dalam Multidimensional Scaling (Skripsi dan tesis)

Multidimensional Scaling tidak memiliki asumsi yang baku dalam metodologinya, tipe data atau hubungan antar variabel-variabelnya. Dalam MDS hanya mensyaratkan bahwa peneliti menerima beberapa prinsip mengenai persepsi yang meliputi : a. Pembatasan multidimensionalscaling Diasumsikan bahwa kemiripan stimulus A dan B sama dengan stimulus B ke A. Akan tetapi ada beberapa kasus yang asumsi ini tidak berlaku. b. Variasi dimensi Tiap-tiap responden tidak akan menilai suatu stimulus di dalam dimensi yang sama. Misalnya, seseorang mungkin akan menilai sebuah mobil dari tenaga dan modelnya, sedangkan yang lain tidak memperhatikan faktor ini melainkan sebuah mobil dari harga dan kenyamanannya. c. Variasi kepentingan Responden tidak menilai kepentingan dimensi pada tingkat yang sama, walaupun serluruh responden menilai dimensi tersebut.Misalnya, dua orang responden menilai suatu minuman ringan dari tingkat karbonasinya. Seorang responden mungkin akan menilai bahwa faktor ini tidaklah penting, sedangkan yang lainnya menilai bahwa faktor ini penting. d. Variasi waktu Pernyataan yang didapat dari stimulus-stimulus tidak bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Dengan kata lain, peneliti tidak dapat mengharapkan persepsi yang stabil dari waktu ke waktu

Jenis-jenis Multidimensional scaling (MDS) (skripsi dan tesis)

Tipe data berdasarkan skala pengukuran dibagi menjadi 4 tipe, yaitu skala nominal, ordinal, interval dan rasio. Berdasarkan tipe data tersebut, multidimensional scaling dibagi menjadi 2 jenis, yaitu penskalaan berdimensi ganda metrik dan penskalaan berdimensi ganda non-metrik. a. Multidimensional scaling (MDS) metrik
Data jarak yang digunakan dalam multidimensional scaling metrik adalah data rasio atau interval. MDS metrik (classical scaling) digunakan untuk menemukan himpunan titik dalam ruang dimensi n dimana masing-masing titik mewakili satu objek. Dalam classical scaling, dissimilarities (𝛿𝑖𝑗) diperlakukan sama dengan jarak (𝑑𝑖𝑗), yaitu 𝛿𝑖𝑗 = 𝑑𝑖𝑗.
b. Multidimensional scaling(MDS) nonmetrik
Multidimesional scaling nonmetrik mengasumsikan bahwa datanya adalah kualitatif (nominal dan ordinal). Program MDS nonmetrik menggunakan transformasi monoton (sama) ke data yang sebenarnya sehingga dapat dilakukan operasi aritmatika terhadap nilai ketidaksamaannya, untuk menyesuaikan jarak dengan nilai urutan ketidaksamaanya. Hasil perubahan ini disebut disparities. Disparities ini digunakan untuk mengukur tingkat ketidaktepatan konfigurasi objek-objek dalam peta berdimensi tertentu dengan input data ketidaksamaannya. Pendekatan yang sering digunakan saat ini untuk mencapai hasil yang optimal dari skala non metrik digunakan Kruskal’s Least-Square Monotomic Transformation dimana disparities merupakan nilai rata-rata dari jarak-jarak yang tidak sesuai dengan urutan ketidaksamaanya. Informasi ordinal kemudian dapat diolah dengan MDS nonmetrik sehingga menghasilkan konfigurasi dari objek-objek yang yang terdapat pada dimensi tertentu dan kemudian agar jarak antara objek sedekat mungkin dengan input nilai ketidaksamaan atau kesamaannya. Koordinat awal dari setiap subjek dapat diperoleh melalui cara yang sama seperti metode MDS metrik dengan asumsi bahwa meskipun data bukan jarak 25 informasi yang sebenarnya tapi nilai urutan tersebut dipandang sebagai variabel interval

Definisi Analisis Multidimensional Scaling (skripsi dan tesis)

 Ada beberapa definisi penskalaan dimensi ganda (multidimensional scaling) yang diungkapkan oleh beberapa ahli antara lain, penskalaan multidimensional (PMD) atau multidimensional scaling (MDS) merupakan suatu teknik yang bisa membantu peneliti untuk mengenali (mengidentifikasi) dimensi kunci yang mendasari evaluasi objek dari responden atau pelanggan.16 Analisis multidimensional scaling (MDS) merupakan salah satu teknik peubah ganda yang dapat digunakan untuk menentukan posisi suatu objek lainnya berdasarkan penilaian kemiripannya. MDS berhubungan dengan pembuatan map untuk menggambarkan posisi sebuah objek dengan objek lainnya berdasarkan kemiripan objek-objek tersebut. Dari definisi tersebut, kegunaan multidimensional scaling adalah untuk menyajikan objek-objek secara visual berdasarkan kemiripan yang dimiliki. Selain itu kegunaan lain dari teknik ini adalah mengelompokkanobjek-objek yang memiliki kemiripan dilihat dari beberapa peubah atau atribut yang dianggap mampu menggelompokkan objek-objek tersebut.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa, multidimensional scaling adalah: a. Kumpulan teknik-teknik statistika untuk menganalisis kemiripan dan ketakmiripan antar objek. b. Memberikan hasil yang berupa plot titik-titik sehingga jarak antar titik menggambarkan tingkat kemiripan atau ketakmiripan. c. Memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi atribut tak diketahui atau faktor yang mempengaruhi munculnya kemiripan atau ketakmiripan. Statistik dan beberapa istilah (terminologi) yang penting dalam analisis MDS, antara lain sebagai berikut: a. Analisis agregat (aggregate analysis), sebuah pendekatan dalam MDS, dimana perceptual map dibuat untuk evaluasi sekelompok responden terhadap objek-objek. Perceptual map dapat dibuat dengan komputer maupun peneliti sendiri. b. Penilaian kesamaan (similarity judgement), merupakan perangkat seluruh pasangan merek yang mungkin atau stimuli lain berdasarkan kesamaan yang dinyatakan melalui skala pengukuran (measurement scale) berskala nonmetrik atau semacamnya.

Peringkat preferensi (preference rankings), adalah ranking berupa urutan merek-merek mulai dari yang paling diinginkan sampai paling tidak diinginkan konsumen atau responden. d. Stress, adalah skor yang menyatakan ketidaktepatan pengukuran (lack offit measurement). Semakin tinggi stress , semakin tinggi ketidaktepatan. e. R kuadrat (R square), adalah indeks korelasi pangkat dua yang menyatakan proporsi varians data asli yang dapat dijelaskan MDS. f. Peta spasial (disebut juga perceptual map) , adalah suatu peta geometris yang menyatakan hubungan atau perbandingan antarmerek atau stimuli lain berdasarkan dimensi-dimensi yang diukur. g. Koordinat (coordinates), menyatakan posisi suatu merak atau stimulus lain dalam peta spasial. h. Unfolding, representasi merek dan responden sebagai pola dalam ruang yang sama.20 Konsep dasar dari multidimensional scaling adalah jarak yang dihasilkan dalam ruang harus sesuai dengan proximities yang sebenarnya. Sehingga yang dilakukan oleh multidimensional scaling adalah mencari posisi dalam ruang dan koordinat untuk setiap stimuli. Diharapkan jarak yang dihasilkan akan mendekati nilai proximities. Proximity dibagi atas dua yaitu pertama similarity (kemiripan) yaitu jika semakin kecil nilai jaraknya
menunjukkan bahwa objeknya lebih mirip. Kedua, dissimilarity (ketakmiripan) yaitu jika semakin besar nilai jaraknya, menunjukkan bahwa objeknya semakin tak mirip. Keberhasilan dari proses ini ditentukan oleh seberapa baik jarak yang dihasilkan (𝑑̂ 𝑖𝑗) dalam ruang sesuai dengan proximities yang sebenarnya (𝛿𝑖𝑗)

Analisis Multivariat (skripsi dan tesis)

Analisis multivariat merupakan suatu metode statistik yang berhubungan dengan lebih dari dua variabel atau terdapat banyak variabel yang diamati dimana antar variabel saling berpengaruhAnalisis ini berhubungan dengan semua teknik statistik yang secara simultan menganalisis sejumlah pengukuran pada individu atau objek. Maka dapat disimpulkan bahwa analisis multivariat adalah metode-metode statistik yang mengelolah beberapa pengukuran menyangkut individu atau objek sekaligus.  Teknik analisis multivariat secara dasar diklasifikasikan menjadi dua, yaitu analisis dependensi dan analisis interdependensi. Pertama, analisis dependensi berfungsi untuk menerangkan atau memprediksi variabel tergantung (dependent variable) dengan menggunakan dua atau lebih variabel bebas (independent variable).Yang termasuk dalam klasifikasi ini ialah analisis regresi linear berganda, analisis diskriminan, analisis varian multivariat (MANOVA), dan analisis korelasi kanonikal. Kedua, analisis interdependensi berfungsi untuk memberikan makna terhadap seperangkat variabel atau membuat kelompok elompok secara bersama-sama.Yang termasuk dalam klasifikasi ini ialah analisis faktor, analisis kluster, dan multidimensional scaling

Peta Persepsi (Perceptual Mapping) (skripsi dan tesis)

Pada sub sub bab sebelumnya sudah dibahas mengenai pengertian persepsi konsumen. Setiap orang memiliki penilaian tersendiri terhadap suatu atribut yang akan diukur. Oleh karena itu, penilaian ini perlu dipetakan agar lebih mudah dalam membaca persepsi konsumen. Persepsi dari konsumen inilah yang akan dijadikan input untuk perceptual mapping. Menururt Santoso (2015) percpetual mapping merupakan penggambaran persepsi yang dibentuk ke dalam plot-plot pada suatu grafik dengan menggunakan skala. Persepsi ini juga akan dipilahpilah mengenai kekurangan dan kelebihannya berdasarkan atribut dari produk yang dinilai.

Multidimensional Scaling (skripsi dan tesis)

Multidimensional scaling merupakan suatu teknik statistik yang mengukur objekobjek dalam ruangan multidimensional. Teknik ini didasarkan pada penilaian responden mengenai kemiripan (similarity) objek-objek tersebut. Perbedaan persepsi diantara semua obyek tersebut disatukan dalam suatu ruangan multidimensional. Menurut Santoso (2015) MDS atau Multidimensional Scaling berhubungan dengan pembuatan grafik (map) untuk menggambaran posisi sebuah objek berdasarkan kemiripan objek tersebut. MDS dapat menganalisis data non-metrik (nominal dan ordinal) ataupun data metrik (interval dan rasio). Pada MDS terdapat nilai-nilai yang menunjukkan kedekatan antar objek yang disebut proximity. Semakin dekat objek satu dengan salah satu objek lain maka dapat dikatakan bahwa objek tersebut mirip. Apabila jarak antar kedua objek saling berjauhan maka objek tersebut saling tidak mirip. MDS memiliki dua jenis yaitu MDS metrik dan MDS non metrik. Perbedaa kedua jenis ini hanya terletak pada data yang dimasukkan dalam program. Jika data memiliki tipe rasio atau interval maka dikatakan MDS non metrik, sedangkan data yang bertipe ordinal   dikatakan MDS metrik (Hair dkk, 2010). Hasil yang akan ditampilkan oleh MDS dapat memberikan informasi seperti pengukuran citra, segmentasi pasar, pengembangan produk, analisis harga, keputusan distribusi dan sikap terhadap konsumen. Menurut Hair dkk (2010) MDS juga dapat membantu dalam beberapa hal seperti: 1. Mengilustrasikan segmentasi pasar berdasarkan penilaian preferensi konsumen. 2. Menentukkan produk yang kompetitif satu sama lain 3. Menyimpulkan kriteria penilaian konsumen terhadap suatu objek (produk, perusahaan, iklan, merek, dll) Multidimensional scaling mempunyai tujuan untuk menggambarkan secara lebih sederhana dengan space yang ditampilkan mengenai penilian konsumen tentang kemiripan suatu objek yang dibandingkan. Hair dkk (2010) menyatakan bahwa apabila objek A dan B berada pada dimensi yang sama maka A dan B memiliki jarak yang dekat dan mirip. Posisi semua objek tetap ditampilkan untuk mengetahui space antar objek. Terdapat tiga langkah dasar dalam menganalisis beberapa objek dengan menggunakan multidimensional scaling adalah: 1. Mengumpulkan ukuran kemiripan antar objek yang akan dianalisis 2. Menggunakan teknik MDS untuk mengestimasi posisi setiap objek dalam jarak multidimensional. 3. Mengidentifikasi dan menginterpretasikan sumbu ruang dimensi berdasarkan atribut

Analisis Faktor (Factor Analysis) (skripsi dan tesis)

Menurut Anderson dkk (Dalam Yamin dan Kurniawan, 2014) analisis faktor adalah pendekatan statistik yang dapat digunakan untuk menganalisis hubungan di antara beberapa variabel dan menjelaskannya secara umum berdasarkan suatu dimensi yang disebut faktor. Tujuan dari analisis faktor ini adalah untuk   mempersingkat informasi yang terdapat dalam beberapa variabel sehingga menjadi serangkaian variabel yang lebih kecil (faktor). Analisis faktor membantu dalam membuat suatu hubungan antar variabel yang saling independen sehingga menjadi satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dibandingkan jumlah variabel awal. Kumpulan variabel yang terbentuk disebut sebagai faktor (Santoso, 2015). Menurut Santoso (2015) selain untuk meringkas variabel awal (data reduction), tujuan lain analisis faktor adalah mengidentifikasi adanya hubungan antar variabel dengan melakukan uji korelasi. Besarnya korelasi antar variabel harus di atas 0.5 maka variabel tersebut dapat dianggap layak untuk dianalisis di proses berikutnya. Apabila ada variabel yang tidak layak maka variabel tersebut harus dikeluarkan. Analisis faktor dapat dilakukan pengujian berulang apabila terdapat satu atau beberapa variabel yang tidak layak. Ada beberapa proses utama pada analisis faktor yaitu: (Santoso, 2015) a. Menentukan variabel yang akan dianalisis. b. Menguji variabel yang telah ditentukan dengan melakukan penyaringan terhadap beberapa variabel yang tidak memenuhi syarat. c. Melakukan analisis factoring yaitu mengekstrak satu atau lebih faktor yang terbentuk dari variabel awal.

Uji Reliabilitas (skripsi dan tesis)

 

Istilah reliabilitas merupakan terjemahan dari kata reliability yang berasal dari kata rely dan ability (Yamin dan Kurniawan, 2014). Reliabilitas menunjukkan suatu kehandalan dan konsistensi dalam penelitian. Apabila pengujian dilakukan beberapa kali maka akan tetap menghasilkan hasil yang relatif konstan. Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal apabila jawaban seseorang terhadap pertanyaan maupun pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengukuran yang mempunyai reliabilitas tinggi adalah pengukuran yang dapat menghasilkan data yang reliable. Reliabilitas dapat diukur dengan koefisien reliabilitas yang bernilai 0 sampai 1. Semakin mendekati angka 1 maka alat ukur tersebut semakin reliable. (Yamin dan Kurniawan, 2014). Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan indikator Alpha Cronbach karena teknik ini merupakan teknik keandalan kuesioner yang paling sering digunakan. Uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach ini akan menghasilkan nilai alpha sehingga dapat diketahui tingkat reliabilitasnya. Selain itu, melalui uji Alpha Cronbach akan terdeteksi indikator-indikator yang tidak konsisten. Menurut Yamin dan Kurniawan (2014) jika nilai Alpha lebih besar dari 0.6 maka pengukuran tersebut dapat dikatakan reliable.

Uji Validitas (skripsi dan tesis)

Istilah validitas merupakan kata terjemahan dari kata validity. Validitas menguji
seberapa baik suatu instrumen yang dibuat mampu mengukur konsep tertentu yang ingin diukur (Sekaran, 2013). Validitas berhubungan dengan suatu peubah yang mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Uji validitas adalah uji yang digunakan untuk menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan mampu mengukur apa yang diukur. Suatu kuesioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuesioner mampu menjawab sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Indikator yang valid adalah indikator yang mempunyai tingkat measurement error yang kecil (Yamin dan Kurniawan, 2014).

SPSS atau Statistical Product and Service Solution (skripsi dan tesis)

Menurut Yamin dan Kurniawan (2014) SPSS atau Statistical Product and Service Solution merupakan software statistik yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan statistik dengan teknik-teknik analisis statistik yang tersedia. Kelebihan program ini adalah dapat melakukan secara cepat semua perhitungan sederhana maupun sulit dalam statistik. Perkembangan penggunaan analisis statistik membuat software SPSS semakin dikenal karena pengoperasiannya yang mudah. Pada kasus tertentu dibutuhkan pengkodean dalm menginput misalnya untuk pertanyaan laki-laki dan perempuan maka kode “1” untuk laki-laki dan “2” untuk perempuan. Kegiatan ini dilakukan agar data dapat dibaca olehSPSS. Terdapat 2 bagian dalam menginput data yaitu data view dan variabel view. Data yang akan diinputkan ke dalam SPSS dapat diisi pada bagian variabel view terlebih dahulu kemudian membuka data view untuk memulai input. SPSS akan membantu dalam membuat perceptual mapping dan metode MDS. Pada MDS, isi baris dan kolom pada SPSS akan diproses sekaligus (Santoso, 2015).

Sampel (skripsi dan tesis)

Sampel merupakan bagian dari suatu populasi. Sampel terdiri dari anggota
populasi maksudnya adalah sejumlah atau beberapa tetapi tidak semua anggota.
Misalnya suatu populasi terdiri dari 5000 orang dan diambil sampel sebanyak
500 orang, sampel ini akan menjadi kesimpulan mengenai keseluruhan populasi.
Sampel hanya mengambil sebagian populasi karena memudahkan dalam
melakukan penelitian dilihat dari beberapa faktor lain seperti biaya, waktu,
tenaga, dan sumber daya manusia. Pengambilan sampel merupakan proses
memilih sejumlah elemen secukupnya dari populasi sehingga penelitian terhadap sampel dan pemahaman sifat serta karakteristiknya dapat menggeneralisasikan elemen populasi (Sekaran, 2013). Menurut Sekaran (2013) ada beberapa aturan dalam menentukan ukuran sampel diantaranya yaitu:
a. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk
penelitian.
b. Ukuran sampel minimum 30 untuk setiap kategori adalah tepat.
c. Ukuran sampel sebaiknya dilakukan beberapa kali (lebih disukai 10 kali
atau lebih)

Skala Pengukuran (skripsi dan tesis)

Skala pengukuran sangat bervariasi, mulai dari yang sederhana atau skala yang kompleks (Kuncoro, 2009). Skala sederhana adalah suatu skala yang digunakan untuk mengukur beberapa karakteristik misalnya dari pertanyaan “Apakah anda laki-laki atau perempuan?”. Sedangkan skala kompleks terdiri dari beberapa skala yang digunakan untuk mengukur beberapa karakteristik, misalnya “Bagaimana tanggapan Anda mengenai pembangunan hotel bintang lima di Yogyakarta: Sangat tidak setuju, tidak setuju, tidak peduli, setuju, sangat setuju”.
Menurut Kuncoro (2009) ada 2 teknik skala pengukuran yaitu skala penilaian
(rating scales) dan attitude scales. Skala penilaian terbagi lagi menjadi 3 yaitu:
a. Graphic rating scales
Responden menunjukkan perasaan atau penilaiannya dalam skala grafik.
Misalnya dalam skala 0 sampai 100 (0=sangat jelek, 50=netral, dan
100=yang paling baik).
b. Itemized rating scales
Pada skala ini dipilih suatu kategori dalam bentuk berurutan, misalnya
dari pertanyaan “Apakah anda tertarik menggunakan sepeda dengan
merk BMX?” jawabannya adalah sangat tertarik, tertarik, dan tidak
tertarik.
c. Comparative rating scales
Pada skala ini orang, obyek, atau fenomena lain dinilai dalam suatu
standar orang, obyek, dan fenomena lain itu sendiri. Bentuk skala ini
dikenal dengan skala rank order. Misalnya, “Rangkinglah merk
handphone-handphone berikut menurut urutan yang Anda sukai. Beri nilai
1 untuk yang paling Anda sukai, nilai 2 untuk selanjutnya, dan nilai 3
untuk berikutnya, dst”.
_____Iphone _____Samsung _____Asus _____Sony _____Nokia
Sedangkan attitude scales terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Likert scale
Pada jenis skala ini responden menyatakan tingkat setuju atau tidak
setuju mengenai berbagai pernyataan tentang perilaku , objek, orang,
atau kejadian. Biasanya skala yang ada terdiri dari 5 sampai 7 titik. Skalaskala ini nantinya akan dijumlahkan untuk mendapatkan gambaran dari
apa yang dinilai. Misalnya “Saya senang menari” pilihan jawabannya
adalah 1=sangat tidak setuju, 2=tidak setuju, 3=netral, 4=setuju, 5=sangat
setuju.
b. Semantic differential
Pada jenis skala ini responden menilai perilaku obyek dengan skala 5
atau 7 titik dari dua kutub kata sifat atau frase seperti positif dan
negatifnya suatu objek, orang, kejadian. Misalnya, “Nilailah ice cream Mc
Donald’s dalam dimensi berikut ini” pilihan jawabannya adalah rentang
dari kutub positif dan negatif (enak: __ : __ : __ : __ : __ : tidak enak)

Atribut yang Mempengaruhi Daya Saing (skrisi dan tesis)

Menurut Kotler dan Amstrong (2003) atribut produk merupakan pengembangan pada suatu produk yang melibatkan penentuan manfaat yang akan diberikan.
Atribut dapat menentukan dalam pengambilan keputusan untuk pembelian suatu produk yang ditawarkan. Atribut-atribut yang mempengaruhi daya saing terhadap kompetitor dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Harga
Menurut Sangadji dan Sopiah (2013) harga adalah atribut dari suatu
produk atau jasa yang paling sering digunakan oleh konsumen untuk
mengevaluasi produk. Harga dianggap penting oleh konsumen karena
sangat berhubungan dengan pendapatan yang diterima. Atribut harga
akan mempengaruhi pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen.
Semakin mahal harga yang ditawarkan maka konsumen semakin berpikir
untuk melakukan transaksi pembelian atau tidak. Pada kondisi tertentu
konsumen merasa sensitif dengan harga karena harga yang relatif lebih
tinggi dibandingkan kompetitor dapat mengeliminasi produk tersebut.
Dalam kasus lain, harga dapat dijadikan suatu indikator kualitas produk
karena bagi beberapa konsumen menganggap harga yang tinggi akan
memiliki kualitas produk yang lebih baik.
b. Rasa
Rasa merupakan atribut yang sangat sensitif dengan persepsi konsumen
karena dapat menimbulkan rangsangan tertentu dari panca indera
(Sangadji dan Sopiah, 2013). Rasa akan memunculkan suatu kekhasan
tertentu pada produk. Produk seperti bakpia yang merupakan oleh-oleh
daerah Yogyakarta memegang penting atribut rasa karena rasa yang
berbeda dengan bakpia lainnya akan dapat membantu minat beli
konsumen.
c. Merek (Brand Image)
Merek adalah sebuah simbol atau indikator yang menggambarkan
pencitraan suatu produk (Sangadji dan Sopiah, 2013). Menurut Kotler
(1993) merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau
kombinasi dari beberapa unsur seperti logo, cap, atau kemasan yang
dimaksudkan untuk mengidentifikasi suatu produk sehingga dapat
membedakannya dengan produk yang lain. Kesimpulan yang didapat dari
definisi-definisi tersebut bahwa merek merupakan suatu nama, simbol,
gambaran yang mewakili suatu produk sehingga konsumen mudah untuk
membedakan produk tersebut dengan produk yang lain. Merek
memegang peranan penting bagi sebuah produk atau jasa. Merek yang
sudah terkenal akan menjadi sebuah citra atau status bagi produk
tersebut.
d. Desain (Kemasan)
Kemasan adalah bungkus langsung dari suatu produk (Kotler, 1993).
Kemasan merupakan salah satu atribut yang perlu diperhatikan dalam
persaingan di industri kreatif makanan. Terutama produk oleh-oleh yang
merupakan ciri khas suatu daerah atau objek wisata. Kemasan akan
menggambarkan suatu produk secara tidak langsung karena konsumen
akan melihat produk mulai dari kemasan lalu harga dan atribut lainnya.
Meskipun konsumen memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam
pengambilan keputusan pembelian, tetapi untuk atribut kemasan juga
sangat mempengaruhi. Pada industri kreatif makanan yang menjadi oleholeh seperti bakpia, kemasan dapat membantu dalam menarik minat
pembeli. Kemasan yang menarik dan berbeda serta menunjukkan
kekhasan suatu produk dapat meningkatkan penjualan (Kotler, 1993).
e. Variasi Produk/Rasa
Menurut Kotler (1993) produk adalah segala sesuatu yang di tawarkan
kepada pasar untuk di perhatikan, dimiliki, digunakan atau dikonsumsikan
yang kemungkinan dapat memuskan keinginan atau kebutuhan. Variasi
produk seperti rasa yang beraneka ragam dapat menarik konsumen.
Semakin bertambahnya variasi rasa pada kompetitor membuat faktor ini
perlu untuk dipertimbangkan

Multidimensional Scaling (skripsi dan tesis)

Mohanty (2012) melakukan penelitian mengenai brand positioning merk
shampoo di India dengan menggunakan pendekatan multidimensional scaling.
Dalam penelitiannya dlakukan perbandingan beberapa merk shampoo seperti
Dove, Sunsilk, Clinic Plus, Head and Shoulder, Pantene, Chick, Nyle, dan
Vatika. Dari hasil analisis MDS, didapatkan 3 faktor yang paling berpengaruh
untuk industri shampoo yaitu hair care, brand image, dan value for money.
Penelitian mengungkapkan bahwa Clinic Plus memiliki citra merk yang unik.
Dove dan Sunsilk memiliki citra pasar sejenis. Head & Shoulder dan Vatika
memiliki fitur yang mirip. Pada penelitian lainnya, seperti yang dikemukakan oleh Konuk dan Altuna (2011) mengenai perbandingan 5 merk shampoo di Turki dengan menggunakan multidimensional scaling. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mencari faktor yang paling mempengaruhi pemilihan merk shampoo di Turki. Ada 2 faktor yang berpengaruh yaitu “Brand Affect” dan “Brand Trust & Customer Service”. Chen (2010) melakukan penelitian mengenai pemilihan motel di Taoyuan dengan menggunakan multidimensional scaling dan cluster analysis. Penelitian ini bertujuan untuk membahas mengenai pikiran dan pandangan dari warga di Taoyuan, serta pertimbangan dan persyartan dalam memilih motel di Taoyuan. Dari hasil analisis didapatkan lima kelompok yang berbeda, yaitu “iDo supreme motel, York supreme motel”, “iLai leisure motel, Arousing scenario hotel”, “Bird of paradise motel”, “Li-Star International motel, Wego Hotel” dan “168 motel”. Perkembangan akomodasi dan pasar yang belum berkembang menjadi perhatian khsusus untuk pembisnis motel di Taoyuan. Dari beberapa penelitian yang sudah ada didapatkan bahwa pendekatan multidimensional scaling juga dapat dilakukan dengan brand positioning (Posisi Brand/Merk). Namun penelitian lain mengatakan bahwa analysis positioning juga
dapat dilakukan dengan multidimensional scaling. Penelitian lain mengenai hal
ini dilakukan oleh Wardhana (2015) mengenai posisi produk digital di Indonesia seperti notebook, kamera digital, dan smartphone menggunakan
multidimensional scaling dengan 5 atribut (designer attractiveness, reliability,
durability, features completeness, dan easy to find). Penelitian ini
membandingkan beberapa merk dari produk notebook, kamera digital, dan
smartphone tersebut. Shakhshir (2014) melakukan penelitian mengenai posisi
merk makanan di Rumania. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa faktor promosi berpengaruh terhadap persepsi konsumen dalam memilih merk makanan di Rumania. Selain itu, analisis posisi ini juga dilakukan oleh Megawe (2014) tentang produk sabun yang ada di Manado dengan bantuan correspondence analysis. Correspondence analysis ini dilakukan untuk mendapatkan persepsi konsumen mengenai produk sabun yang ada di Manado, yang kemudian akan diolah dengan MDS

Tipe-tipe Kualitatif (skripsi dan tesis)

Penelitian dengan pendekatan kualitatif dapat dibedakan menjadi lima
tipe utama, yaiu : phenomenology, ethnography, case study research,
grounded theory, dan historical research (Johnson, 2005 : 8)
a. Phenomenology : a form of qualitative research in which the
researcher attempts to understand how one or more individuals
experience a phenemenon.
b. Ethnography : is the form of qualitative research that focuses on
describing the culture of a group of people.
c. Case study research : is a form of qualitative research that focused
on providing a detailed account of one or more cases.
d. Grounded theory : is a qualitative approach to generating and
developing a theory form data that the researcher collects.
e. Historical research : research about events that occurred in the past.

Prosedur Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Prosedur pelaksanaan penelitian kualitatif bersifat fleksibel sesuai
dengan kebutuhan, serta situasi dan kondisi di lapangan. Secara garis besar
tahapan penelitian kualitatif adalah sebagai berikut (Sudarwan Danim dan
Darwis, 2003 : 80)
a. Merumuskan masalah sebagai fokus penelitian.
b. Mengumpulkan data di lapangan.
c. Menganalisis data.
d. Merumuskan hasil studi.
e. Menyusun rekomendasi untuk pembuatan keputusan.

Karakteristik Penelitian Kualitaif (skripsi dan tesis)

Penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik, metode
fenomenologis, metode impresionistik, dan metode post positivistic. Adapun
karakteristik penelitian jenis ini adalah sebagai berikut (Sujana dan Ibrahim,
2001 : 6-7; Suharsimi Arikunto, 2002: 11-12; Moleong, 2005: 8-11;
Johnson, 2005, dan Kasiram, 2008: 154-155).
a. Menggunakan pola berpikir induktif (empiris – rasional atau bottomup).
Metode kualitatif sering digunakan untuk menghasilkan grounded
theory, yaitu teori yang timbul dari data bukan dari hipotesis seperti
dalam metode kuantitatif. Atas dasar itu penelitian bersifat generating
theory, sehingga teori yang dihasilkan berupa teori substansif.
b. Perspektif emic/partisipan sangat iutamakan dan dihargai tinggi.
Minat peneliti banyak tercurah pada bagaimana persepsi dan makna
menurut sudut pandang partisipan yang diteliti, sehingga bias
menemukan apa yang disebut sebagai fakta fenomenologis.
c. Penelitian kualitatif tidak menggunakan rancangan penelitian yang
baku. Rancangan pene-litian berkembang selama proses penelitian.
d. Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami, mencari makna
di balik data, untuk menemukan kebenaran, baik kebenaran empiris
sensual, empiris logis, dan empiris logis.
e. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, sumber data yang
dibutuhkan, dan alat pengumpul data bisa berubah-ubah sesuai
dengan kebutuhan.
f. Pengumpulan data dilakukan atas dasar prinsip fenomenologis,
yaitu dengan memahami secara mendalam gejala atau fenomena yang
dihadapi.
g. Peneliti berfungsi pula sebagai alat pengumpul data sehingga
keberadaanya tidak terpisahkan dengan apa yang diteliti.
h. Analisis data dapat dilakukan selama penelitian sedang dan telah
berlangsung.
i. Hasil penelitian berupa deskripsi dan interpretasi dalam konteks
waktu serta situasi tertentu

Asumsi Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Anggapan yang mendasari penelitian kualitatif adalah bahwa kenyataan
sebagai suatu yang berdimensi jamak, kesatuan, dan berubah-ubah (Nana
Sudjana dan Ibrahim, 2001 : 7). Oleh karena itu tidak mungkin dapat
disusun rancangan penelitian yang terinci dan fixed sebelumnya. Rancangan
penelitian berkembangan selama proses penelitian.

Definisi Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)

Moleong setelah melakukan analisis terhadap beberapa definisi
penelitian kualitatif kemudian membuat definisi sendiri sebagai sisntesis dari
pokok-pokok pengertian penelitian kualitatif. Menurut Moleong (2005: 6)
penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya
perilaku, persepsi, motivasi , tindakan, dll. secara holistic, dan dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus
yang alamiah dahn dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Metode Penelitian Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Metode yang dipergunakan dalam penelitian kuantitatif, khusunya
kuantitatif analitik adalah metode dedutif. Dalam metoda ini teori ilmiah
yang telah diterima kebenarannya dijadikan acuan dalam mencari kebenaran
selanjutnya.
Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Ilmu dalam Perspektif Moral,
Sosial, dan Politik (2000: 6) menyatakan bahwa pada dasarnya metoda
ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh
pengetahuannya berdasarkan : a) kerangka pemikiran yang bersifat logis
dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan
sebelumnya yang telah berhasil disusun; b) menjabarkan hipotesis yang
merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut; dan c) melakukan
verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran
pernyataannya secara faktual.
Selanjutnya Jujun menyatakan bahwa kerangka berpikir ilmiah yang
berintikan proses logico-hypothetico-verifikatif ini pada dasarnya terdiri dari
langkah-langkah sebagai berikut (Suriasumantri, 2005 : 127-128).
a) Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek
empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktorfaktor yang terkait di dalamnya.
b) Penyusunan kerangka berpikir dalam penyusunan hipotesis yang
merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin
terdapat antara berbagai faktor yang saling mengait dan membentuk
konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara
rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji
kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang
relevan dengan permasalahan.
c) Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan
terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan
kesimpulan dari dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
d) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang
relevan dengan hipotesis, yang diajukan untuk memperlihatkan
apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipoteisis tersebut atau
tidak.
e) Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah hipotesis
yang diajukan itu ditolak atau diterima.

Tipe-tipe Penelitian Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan penelitian, peneliti dapat menggunakan metoda dan
rancangan (design) tertentu dengan mempertimbangkan tujuan penelitian
dan sifat masalah yang dihadapi. Berdasarkan sifat-sifat permasalahannya,
penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi beberapa tipe sebagai berikut
(Suryabrata, 2000 : 15 dan Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 69 – 78).
a. Penelitian deskriptif
b. Penelitian korelational
c. Penelitian kausal komparatif
d. Penelitian tindakan
e. Penelitian perkembangan
f. Penelitian eksperimen

Tipe-tipe Penelitian Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan penelitian, peneliti dapat menggunakan metoda dan
rancangan (design) tertentu dengan mempertimbangkan tujuan penelitian
dan sifat masalah yang dihadapi. Berdasarkan sifat-sifat permasalahannya,
penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi beberapa tipe sebagai berikut
(Suryabrata, 2000 : 15 dan Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 69 – 78).
a. Penelitian deskriptif
b. Penelitian korelational
c. Penelitian kausal komparatif
d. Penelitian tindakan
e. Penelitian perkembangan
f. Penelitian eksperimen

Prosedur Penelitian Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Penelitian kuantitatif pelaksanaannya berdasarkan prosedur yang telah
direncanakan sebelumnya. Adapun prosedur penelitian kuantitatif terdiri dari
tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut.
a. Identifikasi permasalahan
b. Studi literatur.
c. Pengembangan kerangka konsep
d. Identifikasi dan definisi variabel, hipotesis, dan pertanyaan penelitian.
e. Pengembangan disain penelitian.
f. Teknik sampling.
g. Pengumpulan dan kuantifikasi data.
h. Analisis data.
i. Interpretasi dan komunikasi hasil penelitian.

Karakeristik Penelitian Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Karakteristik penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut (Nana Sudjana
dan Ibrahim, 2001 : 6-7; Suharsimi Arikunto, 2002 : 11; Johnson, 2005; dan
Kasiram 2008: 149-150) :
a. Menggunakan pola berpikir deduktif (rasional – empiris atau topdown), yang berusaha memahami suatu fenomena dengan cara
menggunakan konsep-konsep yang umum untuk menjelaskan
fenomena-fenomena yang bersifat khusus.
b. Logika yang dipakai adalah logika positivistik dan menghundari halhal yang bersifat subjektif.
c. Proses penelitian mengikuti prosedur yang telah direncanakan.
d. Tujuan dari penelitian kuantitatif adalah untuk menyususun ilmu
nomotetik yaitu ilmu yang berupaya membuat hokum-hukum dari
generalisasinya.
Utu E
12
e. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, dan sumber data yang
dibutuhkan, serta alat pengumpul data yang dipakai sesuai dengan
apa yang telah direncanakan sebelumnya.
f. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran dengan menggunakan alat yang objektif dan baku.
g. Peneliti menempatkan diri secara terpisah dengan objek penelitian,
dalam arti dirinya tidak terlibat secara emosional dengan subjek
penelitian.
h. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul.
i. Hasil penelitian berupa generalisasi dan prediksi, lepas dari konteks
waktu dan situasi.

 Langkah-langkah Penelitian Ex-post Facto (skripsi dan tesis)

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik, peneliti perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. a)Perumusan Masalah

Masalah yang ditetapkan harus mengandung sebab atau kausa bagi munculnya variabel dependen, yang diketahui berdasarkan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan atau penafsiran peneliti terhadap hasil observasi fenomena yang diteliti. Masalah penelitian ini dapat berbentuk pernyataan hipotesis atau tujuan. Rumusan hipotesis digunakan jika sifat dasar perbedaan dapat diprediksi oleh peneliti sebelum data dikumpulkan. Sedangkan rumusan pernyataan tujuan digunakan bila peneliti tidak dapat memprediksi perbedaan antar kelompok subjek yang dibandingkan dalam variabel tertentu.

  1. b)Hipotesis

Setelah masalah dirumuskan, peneliti harus mampu mengidentifikasikan tandingan atau alternatif yang mungkin dapat menerangkan hubungan antar variabel independen dan dependen.

  1. c)Pengelompokkan Data

Penentuan kelompok subjek yang akan dibagi, pertama-tama kelompok yang diplih harus memiliki karakteristik yang menjadi konsen penelitian. Selanjutnya Peneliti memilih kelompok yang tidak memiliki karakteristik tersebut atau berbeda tingkatannya.

  1. d)Pengumpulan Data

Hanya data yang diperlukan yang kumpulkan, baik yang berhubungan dengan variabel dependen maupun berkenaan dengan faktor yang dimungkinkan munculnya hipotesis tandingan. Karena penelitian ini menyelidiki fenomena yang sudah terjadi, sering kali data yang diperlukan sudah tersedia sehingga peneliti tinggal memilih sumber yang sesuai. Disamping itu berbagai instrumen seperti les, angket, interview, dapat digunakan untuk mengumpul data bagi peneliti.

  1. e)Analisis Data

Teknik analisis data yang digunaka, serupa dengan yang digunakan dalam penelitian diferensial maupun eksperimen. Dimana perbandingan nilai variabel dependen dilakukan antar kelompok subjek atas dasar faktor yang menjadi konsen. Hal ini dapat dilakukan dengan teknik analaisi uji-T, independen atau ANAVA, tergantung dari jumlah kelompok dari faktor tersebut. Apapun teknik analisis statistik inferensial yang digunakan, biasanya analisis tersebut diawali dengan perhitungan niali rata-rata atau mean dan stansar deviasi untuk mengetahui antar kelompok secara deskripitif.

  1. f)Penafsiran Hasil

Pernyataan sebab akibat dalam penelitian ini perlu dilakukan secara hati-hati. Kualitas hubungan antar variabel independen dan dependen sangat tergantung pada kemampuan peneliti untuk memilih kelompok perbandingan yang homogen dan keyakinan bahwa munculnya hipotesis tandingan dapat dicegah.

 Ciri-ciri Penelitian Ex-post Facto (skripsi dan tesis)

Adapun ciri-ciri penelitian ex-post facto adalah sebagai berikut :

  1. a)Data dikumpulkan setelah semua peristiwa terjadi.
  2. b)Variabel terikat ditentukan terlebih dahulu, kemudian merunut ke belakang untuk menemukan sebab, hubungan, dan maknanya.
  3. c)Penelitian ex post facto dilakukan jika dalam beberapa hal penelitian eksperimen tidak dapat dilaksanakan. Hal tersebut adalah:
  • Jika tidak mungkin memilih, mengontrol, dan memanipulasi faktor-faktor yang diperlukan untuk meneliti hubungan sebab akibat secara langsung
  • Jika control semua variable kecuali independent tunggal, tidak realistik, dan artificial, mencegah interaksi yang normal dengan variable lain yang mempengaruhi.
  1. d)Jika kontrol secara laboratori untuk beberapa tujuan tidak praktis, dari segi biaya dan etik dipertanyakan.

Pengertian Penelitian Ex-Post Facto (skripsi dan tesis)

Penelitian ex-post facto merupakan penelitian dimana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel-variabel terikat dalam suatu penelitian (Hammadi, 2010 : 223). Nama ex post facto sendiri dalam bahasa latin artinya “dari sesudah fakta”. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian itu dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dalam variabel bebas itu terjadi karena perkembangan kejadian itu secara alami.

Penelitian ex-post facto secara metodis merupakan penelitian experimen yang juga menguji hipotesis, tetapi tidak memberikan perlakuan-perlakuan tertentu karena sesuatu sebab untuk memberikan perlakuan atau manipulasi. Biasanya karena alasan etika manusiawi atau gejala atau peristiwa tersebut sudah terjadi dan ingin menelusuri faktor-faktor penyebabnya atau hal-hal yang mempengaruhinya.

Penelitian ex-post facto bertujuan menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variabel bebas secara keseluruhan sudah terjadi. Sebagai contoh : kita akan menguji hipotesis bahwa perceraian akan mengakibatkan penyimpangan perilaku anak-anak. Dalam situasi ini kita tidak dapat mengeksperimenkan suatu keluarga untuk melakukan perceraian. Perceraian dalam hal ini bukan variabel bebas yang tidak dapat dimanipulasikan. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan pada keluarga yang sedang mengalami perceraian.

Donald Ary (1982:382-383) juga menyatakan bahwa penelitian ex post facto merupakan penemuan empiris yang dilakukan secara sistematis, peneliti tidak melakukan kontrol terhadap variabel-variabel bebas karena manifestasinya sudah terjadi. Sebagai contoh seorang peneliti ingin mengetahui pengaruh merokok terhadap kemampuan menyerap oksigen dalam darah. Peneliti tidak mungkin melakukan eksperimen dengan menyuruh orang menghisap beberapa batang rokok dalam sehari untuk diketahui pengaruhnya terhadap kemampuan darah dalam mengikat oksigen.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ex-post facto merupakan penelitian yang menjelaskan atau menemukan bagaimana variabel-variabel dalam penelitian saling berhubungan atau berpengaruh, serta menemukan bagaimana gejala-gejala atau perilaku itu terjadi.

Dasar penelitian ex-post facto adalah :

  1. Menilai dengan subjek yang berbeda pada variabel bebas dan mencoba untuk menentukan konsekuensi yang berbeda. Contoh : pengaruh orang tua tunggal dan orang tua lengkap (variabel terikat) terhadap pembolosan (variabel bebas).
  2. Dimulai dari subjek yang berbeda sebagai variabel terikat dan berusaha menentukan penyebab perbedaan itu. Contoh : perbandingan siswa yang latarnya dari sekolah tinggi dengan orang-orang yang drop out (variabel terikat) pada variabel bebas seperti motivasi atau kedisiplinan.

Bentuk-bentuk Desain Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Menurut Sugiyono (2011:73) terdapat beberapa bentuk desain eksperimen, yaitu :

  1. Pre-experimental (nondesign), yang meliputi one-shot case studi, one group pretestposttest, intec-group comparison;
  2. True-experimental, meliputi posttest only control design, pretest-control group design;
  3. Factorial experimental; dan
  4. Quasi experimental, meliputi time series design dan nonequivalent control group design.

Penjelasan mengenai bentuk-bentuk desain tersebut adalah sebagai berikut

  1. Pre-experiment

Disebut pre-experiments karena desain ini belum merupakan desain sungguh-sungguh. Masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Hasil eksperimen yang merupakan variabel dependen itu akan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen. Hal ini dikarenakan tidak adanya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara random.

Dalam pre-experimental design terdapat tiga alternatif desain sebagai berikut.

1)      One-shot case study

Jenis one-shot case study dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan pengukuran dan nilai ilmiah suatu desain penelitian. Adapun bagan dari one-shot case study adalah sebagai berikut:

X O
Perlakuan terhadap variabel independen

(Treatment of independent variable)

Pengamatan atau pengukuran terhadap variabel dependen (Observation or measurement of dependent variable)

Dengan X: kelompok yang akan diberi stimulus dalam eksperimen dan O: kejadian pengukuran atau pengamatan.

Bagan tersebut dapat dibaca sebagai berikut: terdapat suatu kelompok yang diberi perlakuan, dan selanjutnya diobservasi hasilnya.

Contoh: Pengaruh penggunaan Komputer dan LCD (X) terhadap hasil belajar siswa (O).

2)      The one group pretest-posttest design

Perbedaan dengan desain pertama adalah, untuk the one group pretest-posttest design, terdapat pretest sebelum diberi perlakuan, hasil perlakuan dapat diketahui dengan lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.

Bentuk bagan desain tersebut adalah sebagai berikut.

O1 X O2
Pretest Treatment Posttest

                       Pengaruh perlakuan: O1 – O2

Desain ini mempunyai beberapa kelemahan, karena akan menghasilkan beberapa ukuran perbandingan. Kelemahan tersebut antara lain disebabkan oleh faktor historis (tidak menghasilkan perbedaan O1 dan O2), maturitation (subjek penelitian dapat mengalami kelelahan, kebosanan, atau kelaparan dan kadang enggan menjawab jika dinilai tidak sesuai dengan nilai yang berlaku), serta pembuatan instrument penelitian. Kejelekannya yang paling fatal adalah tidak akan menghasilkan apapun.

3)      The static-group comparison.

Penelitian jenis ini menggunakan satu group yang dibagi menjadi dua, yang satu memperoleh stimulus eksperimen (yang diberi perlakuan) dan yang lain tidak mendapatkan stimulus apapun sebagai alat kontrol. Masalah yang akan muncul dalam desain ini adalah meyangkut resiko penyeleksian terhadap subjek yang akan diteliti. Oleh karena itu, grup tersebut harus dipilih secara acak.

Ketiga bentuk desain preexperiment itu jika diterapkan untuk penelitian akan banyak variabel luar masih berpengaruh dan sulit dikontrol, sehingga validitas internal penelitian menjadi rendah.

  1. True Experiments

Disebut sebagai true experiments karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Jadi, validitas internal (kualitas pelaksnaaan rancangan penelitian) menjadi tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, tujuan dari true experiments menurut Suryabrata (2011 : 88) adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan perlakuan. True experiments ini mempunyai ciri utama yaitu sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari populasi tertentu. Atau dengan kata lain dalam true experiments pasti ada kelompok kontrol dan pengambilan sampel secara random. Selanjutnya, jenis penelitian yang termasuk dalam true experiments adalah: pretestposttes control group design, posttest-only control group design, extensions of true experimental design, multigroup design, randomized block design, latin square design, factorial design.

Adapun penjelasan mengenai jenis-jenis penelitian tersebut dapat dielaborasi sebagai berikut :

1)      Pretest-posttes control group design

Dalam desain ini terdapat dua grup yang dipilih secara random kemudian diberi pretest untuk mengetahui perbedaan keadaan awal antara group eksperimen dan group kontrol. Hasil pretest yang baik adalah jika nilai group eksperimen tidak berbeda secara signifikan.

Bagan dari desain penelitian tersebut adalah sebagai berikut.

R O1 X O2
R O3 O4

Pengaruh perlakuan adalah: (O2 – O1) – (O4 – O3)

2)      Posttest-only control group design

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Grup pertama diberi perlakuan (X) dan grup yang lain tidak.

Bagan penelitian ini adalah sebagai berikut.

R X O1
R O2

       Pengaruh adanya perlakuan adalah (O1:O2)

Dalam penelitian, pengaruh perlakuan dianalisis dengan uji beda menggunakan statistik t-test. Jika ada perbedaan yang signifikan antara grup eksperimen dan grup kontrol maka perlakuan yang diberikan berpengaruh secara signifikan.

  1. Factorial Design

Desain merupakan modifikasi dari design true experimental, yaitu dengan memperhatikan kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan terhadap hasil. Semua grup dipilih secara random kemudian diberi pretest. Grup yang akan digunakan untuk penelitian dinyatakan baik jika setiap kelompok memperoleh nilai pretest yang sama.

  1. Quasi Experiments

Quasi experiments disebut juga dengan eksperimen pura-pura. Bentuk desain ini merupakan pengembangan dari trueexperimental design yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai variabel kontrol tetapi tidak digunakan sepenuhnya untuk mengontrol variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Desain digunakan jika peneliti dapat melakukan kontrol atas berbagai variabel yang berpengaruh, tetapi tidak cukup untuk melakukan eksperimen yang sesungguhnya.

Dalam eksperimen ini, jika menggunakan random tidak diperhatikan aspek kesetaraan maupun grup kontrol. Bentuk-bentuk quasiexperiments antara lain :

1)      Time Series Design

Ciri desain ini adalah grup yang digunakan tidak dapat dipilih secara random.

O1 O2 O3 O4 x O5 O6 O7 O8

Dalam desain ini, kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara acak. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan.

Jika hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan kelompok dapat diketahui dengan jelas, maka baru diberi perlakuan.

Hasil pretest yang baik adalah O1 = O2 = O3 = O4 dan hasil perlakuan yang baik adalah O5 = O6 = O7 = O8. Besar pengaruhnya perlakuan adalah (O5 + O6 + O7 + O8) – O1 + O2 + O3 + O4).

Sebelum diberi perlakuan, grup diberi pretest sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan grup sebelum diberi perlakuan.

Jika hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti grup tersebut dalam kondisi tidak stabil dan tidak konsisten. Setelah kondisi tidak labil maka perlakuan dapat mulai diberikan.

2)      Nonequivalent control group design

Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, tetapi pada desain ini group eksperimen maupun group kontrol tidak dipilih secara random.

Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Menurut Ary (1985), ada tiga karakteristik penting dalam penelitian eksperimen, anatara lain:

  1. Variabel bebas yang dimanipulasi

Memanipulasi variabel adalah tindakan yang dilakukan oleh peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah. Perlakuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka untuk memperoleh perbedaan efek dalam variabel yang terkait.

  1. Variabel lain yang berpengaruh dikontrol agar tetap konstan

Menurut Gay (1982), control is an effort on the part of researcher to remove the influence of any variable other than the independent variable that ought affect performance on a dependent variable. Dengan kata lain, mengontrol merupakan usaha peneliti untuk memindahkan pengaruh variabel lain yang mungkin dapat mempengaruhi variabel terkait. Dalam pelaksanaan eksperimen, group eksperimen dan group kontrol sebaiknya diatur secara intensif agar karakteristik keduanya mendekati sama.

  1. Observasi langsung oleh peneliti

Tujuan dari kegiatan observasi dalam penelitian eksperimen adalah untuk melihat dan mencatat segala fenomena yang muncul yang menyebabkan adanya perbedaan diantara dua group.

  1. Perlakuan (treatment) Penelitian Eksperimen.
  2. Penelitian eksperimen pada intinya sama dengan observasi. Perbedaan antara keduanya terletak pada objek yang diamati.
  3. Pada observasi yang bukan eksperimen, objek yang diamati telah ada, sedangkan pada eksperimen objek yang diamati itu diciptakan situasi munculnya oleh peneliti.
  4. Memunculkan objek pengamatan itu adalah melalui perlakuan atau treatment.
  5. Pengendalian / Kontrol Penelitian Eksperimen.

Kesimpulan tentang hubungan kausal antara variabel bebas dan variabel terikat dengan valid, bila dilakukan pengontrolan pengaruh variabel lain terhadap variabel terikat.

  1. Pengontrolan ini menggunakan apa yang disebut dengan kelompok kontrol. Dalam berbagai segi, keberadaan kelompok kontrol sarna dengan kelompok eksperimen.
  2. Satu-satunya perbedaan adalah, pada kelompok eksperimen diberi perlakuan (treatment), sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada perlakuan.
  3. Dengan demikian, bila muncul gejala yang berbeda antara kedua kelompok, maka itu dianggap sebagai pengaruh perlakuan atau treatment effect.
  4. Model Rancangan Penelitian Eksperimen.

Pengertian Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen menurut Faisal (1982: 76) merupakan suatu metode yang sistematis dan logis untuk menjawab pertanyaan: ”Jika sesuatu dilakukan pada kondisi-kondisi yang dikontrol dengan teliti, maka apakah yang akan terjadi?”. Selanjutnya, Sugiyono (2011: 72) menyatakan bahwa penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali.

Fraenkel, dkk (2012: 265) menyatakan bahwa penelitian eksperimen adalah unik di dalam dua hal yang sangat penting. Penelitian ini merupakan satu-satunya jenis penelitian yang secara langsung mencoba untuk mempengaruhi suatu variabel tertentu, dengan ,enerapkan variabel bebas dan variabel terikat. Penelitian ini juga merupakan jenis penelitian yang terbaik dalam pengujian hipotesis hubungan sebab akibat atau kausalitas.

Hamid Darmadi (2011:175) menyatakan bahwa penelitian eksperimen adalah satu-satunya metode penelitian yang benar-benar dapat menguji hipotesis hubungan sebab-akibat. Metode ini menyajikan pendekatan yang paling valid untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial/pendidikan; suatu metode yang sistematis dan logis untuk menjawab pertanyaan: “Jika penyelidikan dilakukan pada kondisi-kondisi yang dikontrol dengan teliti, maka apakah yang akan terjadi?”.

Dalam penelitian eksperimen, peneliti memanipulasi variabel bebas, kemudian mengobservasi pengaruh yang diakibatkan dari manipulasi yang dilakukan. Untuk mendapatkan pengaruh yang betul-betul bersih dari pengaruh luar, peneliti melakukan kontrol yang cermat terhadap masuknya pengaruh faktor luar. Dalam penelitian eksperimen variabel-variabel yang ada termasuk variabel bebas atau independent variabel dan variabel terikat atau dependent variabel, sudah ditentukan secara tegas oleh peneliti sejak awal penelitian.

Dalam penelitian eksperimen, kontrol yang cermat terhadap kemungkinan masuknya pengaruh faktor lain sangat diperlukan agar mendapatkan faktor-faktor yang benar-benar murni dari faktor-faktor yang dimanipulasi. Penelitian eksperimen bertujuan untuk:

  1. Menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian.
  2. Memprediksi kejadian atau peristiwa di dalam latar eksperimen.
  3. Menarik generalisasi hubungan antarvariabel.

PERBEDAAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF (skripsi dan tesis)

 

Penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif mengambil jarak antara peneliti dengan obyek yang diteliti, menggunakan instrumen-instrumen formal, standar, dan bersifat mengukur. Sedangkan penelitian kualitatif menyatu dengan situasi dan fenomena yang diteliti, menggunakan peneliti sebagai instrumen.

Berdasarkan Williams (1988) ada lima pandangan dasar perbedaan antara pendekatan kuantitatif (istilah Williams dengan kuantitatif positivistik) dan kualitatif. Kelima pendangan dasar  perbedaan tersebut adalah:

  1. 1.      Bersifat realitas, pendekatan kuantitatif melihat realitas sebagai tunggal, konkrit, teramati, dan dapat difragmentasi. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat realitas ganda (majemuk), hasil konstruksi dalam pandangan holistik. Sehingga peneliti kuantitatif lebih spesifik, percaya langsung pada obyek generalis, meragukan dan mencari fenomena pada obyek yang realitas.
  2. 2.      Interaksi antara peneliti dengan obyek penelitiannya, pendekatan kuantitatif melihat sebagai independen, dualistik bahkan mekanistik. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat sebagai proses interaktif, tidak terpisahkan bahkan partisipasif.
  3. 3.      Posibilitas generalis, pendekatan kuantitatif bebas dari ikatan konteks dan waktu (nomothetic statements), sedangkan pendekatan kualitatif terikat dari ikatan konteks dan waktu (idiographic statements).
  4. 4.      Posibilitas kausal, pendekatan kuantitatif selalu memisahkan antara sebab riil temporal simultan yang mendahuluinya sebelum akhirnya melahirkan akibat-akibatnya. Sedangkan pendekatan kualitatif selalu mustahilkan usaha memisahkan sebab dengan akibat, apalagi secara simultan.
  5. 5.      Peranan nilai, pendekatan kuantitatif melihat segala sesuatu bebas nilai, obyektif dan harus seperti apa adanya. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat segala sesuatu tidak pernah bebas nilai, termasuk si peneliti yang subyektif.

PENELITIAN KUALITATIF (skripsi dan tesis)

Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, maupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya yang kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di laporan.

Penelitian kualitatif adalah penekanan pada proses dan makna yang tidak dikaji secara ketat atau belum diukur, menekankan sifat realita yang terbangun secara sosial, hubungan erat antara yang diteliti dengan peneliti, tekanan situasi yang membentuk penyelidikan, sarat nilai, menyoroti cara munculnya pengalaman sosial sekaligus perolehan maknanya

PENELITIAN KUANTITATIF (skripsi dan tesis)

 

Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk mengungkapkan gejala secara holistik-konstektual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kuantitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif lebih menonjol disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh dengan nilai-nilai otentik.

Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menitikberatkan pada pengukuran dan analisis hubungansebab-akibat antara bermacam-macam variabel, bukan prosesnya, penyelidikan dipandang berada dalam kerangka bebas nilai.

Kelemahan Metode Eksperimen (skripsi dan tesis)

Kelemahan-kelemahan pada penelitian eksperimen sebagaimana dijelaskan oleh Jaedun (2011) adalah dalam validitas internal, antara lain: history, maturation, testing, instrumentation, selection, statistical regretion, experiment mortality, diffusion of treatments. Kelemahan-kelemahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. History. Banyak kejadian di masa lampau yang dapat mempengaruhi validitas penelitian eksperimental yang disebabkan oleh adanya interaksi antar individu.
  2. MaturationBeberapa perubahan dapat terjadi pada dependent variable yang berfungsi dalam kurun waktu dan bukannya kejadian yang spesifik ataupun kondisi tertentu. Terutama berkaitan dengan jangka waktu pengamatan yang memakan waktu lama.
  3. TestingProses pengujian juga dapat menimbulkan distorsi yang akan mempengaruhi hasil-hasil eksperimen.
  4. InstrumentationInstrumen yang digunakan dalam penelitian eksperimen kadang kala sudah tidak sesuai lagi dengan standar yang berlaku.
  5. SelectionPeneliti kadang masih menggunakan unsur subjektifitas dalam memilih orang yang akan dijadikan objek eksperimen yang baik.
  6. Statistical RegretionPeneliti kadangkala dihadapkan pada kesulitan apabila hasil yang diperoleh dalam penelitian menghasilkan skor yang ekstrim.
  7. Experiment MortalityDalam penelitian eksperimen seringkali terjadi perubahan komposisi kelompok yang diobservasi. Ada anggota kelompok yang harus didrop karena tidak sesuai dengan situasi pengetesan saat tertentu.

Langkah-langkah dan Prosedur Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

 

Jika ditinjau dari langkah-langkahnya maka langkah-langkah penelitian eksperimen tidak jauh berbeda dengan penelitian lain. Sebagaimana telah diuraikan pada bagian pendahuluan, maka langkah-langkah penelitian ini, sebagai berikut (Sukardi, 2003):

  1. Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak
  2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
  3. Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan
    definisi istilah.
  4. Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) Menentukan cara mengontrol; c) Memilih rancangan penelitian yang tepat; d) Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; dan e) Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.
  5. Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan.
  6. Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
  7. Melaksanakan eksperimen.
  8. Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
  9. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
  10. Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
  11. Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan.

Sedangkan menurut Jaedun (2011) adalah Langkah-langkah penelitian eksperimen pada dasarnya sama dengan jenis penelitian positivistik yang lain, yaitu:

  1. Memilih dan merumuskan masalah, termasuk akan mengujicobakan perlakuan apa, dampak dampak apa yang ingin dilihat.
  2. Memilih subyek yang akan dikenai perlakuan dan subyek yang tidak dikenai perlakuan.
  3. Memilih disain penelitian eksperimen.
  4. Mengembangkan instrumen pengukuran (instrumen untuk mengumpulkan data).
  5. Melaksanakan prosedur penelitian dan pengumpulan data.
  6. Menganalisis data.
  7. Perumusan kesimpulan.

Sedangkan langkah operasionalnya adalah sebelum peneliti mulai on action” maka perlu melakukan:

  1. Membentuk atau memilih kelompok-kelompok (kelompok yang dikenai perlakuan dan kelompok pembanding/kelompok kontrol).
  2. Memperkirakan apa yang akan terjadi pada setiap kelompok.
  3. Mencoba mengontrol semua faktor lain di luar perubahan yang direncanakan.
  4. Mengamati atau mengukur efek pada kelompok-kelompok setelah perlakuan berakhir.
  5. Penelitian eksperimen adalah penelitian untuk menguji hipotesis. Setidaktidaknya dengan 1 hipotesis hubungan sebab-akibat dari 2 variabel, yaitu variabel perlakuan dan variabel dampak.
  6. Penelitian eksperimen yang paling sederhana biasanya melibatkan 2 kelompok, yaitu: (1) Kelompok eksperimen, yaitu kelompok yang dikenai perlakuan tertentu, dan (2) Kelompok kontrol atau kelompok pembanding, yaitu kelompok yang tidak dikenai perlakuan.
  7. Kelompok eksperimen menerima treatmen yang baru, suatu treatmen yang sedang diselidiki, sedangkan kelompok kontrol menerima treatmen yang berbeda atau diberi treatmen seperti biasa.
  8. Dua kelompok yang akan dibandingkan, yaitu kelompok yang menerima treatmen dan kelompok yang tidak dikenai treatmen harus disetarakan terlebih dahulu, agar dapat dipastikan bahwa adanya perbedaan pada variabel terikat semata-mata karena pengaruh perlakuan yang diberikan bukan karena memang sejak awalnya sudah berbeda.
  9. Cara penyetaraan yang dapat dilakukan:
    1. Membuat berpasang-pasangan (matching), misal siswa yang nilai awalnya sama, dikelompokkan berpasang-pasangan pada kelompok yang berbeda.
    2. Penugasan secara random (random assignment), yaitu menempatkan subyek baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok pembanding dengan cara diundi (dirandom), atau tidak dipilih-pilih.
    3. Kesulitan yang terjadi adalah tidak memungkinkan (sulit) mengelompokkan siswa secara bebas, dan terpisah dari rombelnya, karena akan merusak sistem yang telah berjalan. Sehingga sampelnya apa adanya, atau disebut intax sampel.

Pre-experimental Design (Nondesigns) (skripsi dan tesis)

Desain ini dikatakan sebagai pre experimental design karena belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh sebab masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Rancangan ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan yang ada dalam penelitian. Dalam desain ini karena tidak menggunakan kelompok kelas eksperimen dan kelompok kontrol yang diambil secara random, maka analisis datanya menggunakan statistik deskriptif bukan statistik inferensial seperti t-tes dan analisis varians (ANOVA). Tidak ada uji signifikansi terhadap pengaruh treatment (nilai sebelum dan sesudah ada treatment). Ada beberapa macam bentuk penelitian ini, yaitu: One  Shoot Case Study, (Studi Kasus Satu Tembakan), One – Group Pretest-Posttest Design (Satu Kelompok Pretes-Postes), dan Intact Group Comparison.

Langkah-langkah Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen dilakukan dengan menempuh langkah-langkah (Sukardi, 2003):

  1. Melakukan kajian secara induktif yang terkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
  2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
  3. Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
  4. Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) Menentukan cara mengontrol; c) Memilih rancangan penelitian yang tepat; d) Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; dan g) Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
  5. Melaksanakan eksperimen.
  6. Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
  7. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan.
  8. Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
  9. Menginterpretasikan hasil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan

Ruang Lingkup dan Variabel Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen dilakukan dalam lingkup (Jaedun, 2011):

  1. Sebagian besar eksperimen dalam bidang pendidikan pada umumnya dilakukan dalam rangka melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, biasanya berkaitan dengan usaha untuk menguji pengaruh materi, media, metode, atau praktik pendidikan yang baru terhadap hasil belajar siswa.
  2. Rancangan penelitian eksperimen pada umumnya, menggunakan variabel tunggal, yaitu:
    1. Satu variabel perlakuan dimanipulasikan (dibuat kondisinya berbeda), selanjutnya diamati akibat/ dampak dari perlakuan tersebut terhadap satu atau lebih variabel tergantung.
    2. Variabel yang dimanipulasikan disebut: variabel perlakuan, variabel treatment, variabel eksperimen, atau variabel independen.
    3. Variabel yang merupakan akibat/dampak disebut: variabel tergantung, variabel dependen, atau variabel dampak.
    4. Masalah pokok: 1) Menentukan kelompok kontrol (pembanding) yang sebanding (komparabel); dan 2) Membuat konstan (mengontrol/ mengendalikan) variabel-variabel non-eksperimental yang dapat mempengaruhi variabel dampak.

Agar lebih jelas pemahaman ruang lingkup penelitian eksperimen, maka berikut ini dijelaskan variabel-variabelnya. Variabel-variabel penelitian eksperimen adalah gejala atau fakta (data) yang harganya berubah-berubah atau bervariasi. Berikut ini dijelaskan jenis-jenis variabel yang termasuk dalam penelitian ini, yaitu:

  1. Variabel bebas/ independen (variabel perlakuan/ eksperimen) merupakan variabel yang akan dilihat pengaruhnya terhadap variabel terikat/ dependen, atau variabel dampak.
  2. Variabel terikat/ dependen (variabel dampak) merupakan variabel hasil/ dampak/ akibat dari variabel bebas/ perlakuan.
  3. Variabel terikat umumnya menjadi tujuan penelitian, sumber masalah, yang ingin ditingkatkan kualitasnya.
  4. Variabel kontrol (pengendali) variabel yang berpengaruh terhadap variabel terikat, tetapi pengaruhnya ditiadakan/ dikendalikan dengan cara dikontrol (diisolasi) pengaruhnya. Pengontrolan dapat dilakukan melalui pengembangan disain penelitiannya (kondisinya dibuat sama) atau secara statistik tertentu.
  5. Variabel Moderator variabel yang mempengaruhi tingkat hubungan (pengaruh) variabel bebas terhadap variabel terikat. Atau hubungan/ pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat memiliki nilai yang berbeda pada level yang berbeda.

Untuk lebih jelasnya mengenai variabel penelitian ini, Farida Nursyahidah (2015) menjelaskan bahwa variabel-variabel penelitian eksperimen adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi, keadaan, faktor, perlakuan, atau tindakan yang diperkirakan dapat memengaruhi hasil eksperimen. Variabel yang berkaitan secara langsung dan diberlakukan untuk mengetahui suatu keadaan tertentu dan diharapkan mendapatkan dampak/akibat dari eksperimen, sering disebut variabel eksperimental (treatment variable), dan variabel yang tidak dengan sengaja dilakukan tetapi dapat memengaruhi hasil eksperimen disebut variabel noneksperimental. Variabel eksperimental adalah kondisi yang hendak diteliti bagaimana pengaruhnya terhadap suatu gejala. Untuk mengetahui pengaruh varibel itu, kedua kelompok, yaitu kelompok eksperimental dan kontrol dikenakan variabel eksperimen yang berbeda atau yang bervariasi. Variabel noneksperimental sebagian dapat dikontrol, baik untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Ini disebut variabel kontrol atau controlled variabel. Akan tetapi, sebagian lagi dari variabel non-eksperimen ada di luar kekuasaan eksperimen untuk dikontrol atau dikendalikan. Jenis variabel ini disebut variabel ekstrane atau extraneous variabel. Dalam setiap eksperimen, hasil yang berbeda pada kelompok eksperimen dan kontrol sebagian disebabkan oleh variabel eksperimental dan sebagian lagi karena pengaruh variabel ekstrane. Oleh karena itu, setiap peneliti yang akan melakukan eksperimen harus memprediksi akan munculnya variabel pengganggu ini.

Syarat-syarat Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

 Penelitian eksperimen dapat berjalan baik dan memberikan hasil yang akurat jika dilaksanakan dengan mengikuti kaidah dan syarat-syarat tertentu. Seperti halnya dengan penelitian eksperimen, akan memberikan hasil yang valid jika dilaksanakan dengan mengikuti syarat-syarat yang ada. Berkaitan dengan ini, Wilhelm Wundt dalam Alsa (2004) mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian eksperimen, yaitu:

  1. Peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan melakukan penelitian.
  2. Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang sama.
  3. Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah, mengontrol) variabel yang diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya.
  4. Diperlukan kelompok pembanding (control group) selain kelompok yang diberi perlakukan (experimental group).

Tujuan Umum Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Secara umum tujuan penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbedaMisalnya, suatu eksperimen dalam bidang pendidikan dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode problem solving) terhadap prestasi belajar dan kemampuan komunikasi matematika pada siswa SMP atau untuk menguji hipotesis tentang ada tidaknya pengaruh perlakuan tersebut jika dibandingkan dengan metode konvensional.

Selanjutnya, tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/ diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas pada mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan tetapi juga ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut jika dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda

Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian ini tidak sama dengan penelitian-penelitian lain. A. Muri Yusuf (2013:171) menegaskan bahwa “penelitian eksperimen jauh berbeda dari rancangan penelitian jenis-jenis yang lain. Penelitian ini memungkinkan peneliti sedini mungkin untuk mengontrol variabel bebas dan variabel yang lain, sehingga tingkat kepasatian jawaban hasilnya jauh lebih terkontrol dibandingkan dari jenis penelitian kelompok ex post fakto, baik ditinjau dari segi validitas internal (internal validity) maupun validitas eksternal (external validity). Hubungan sebab akibat dapat ditelusuri dengan jelas. Penelitian ini secara umum dapat dikelomokan menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Pre-experiment;
  2. Quasi- experiment;
  3. Turue- experiment.

Penelitian eksperimen memiliki karakteristik yang berbeda dengan metode penelitian lain. Karakteristik dimaksud sebagaimana dijelaskan oleh Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimen, yaitu:

  1. Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimen diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (acak).
  2. Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimen.
  3. Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalam kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
  4. Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimen, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimen yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
  5. Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan menggeneralisasikan pada kondisi yang sama.
  6. Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

Ada beberapa unsur lain yang amat penting dan harus diperhatikan dalam melakukan penelitian ini, yaitu kontrol, manipulasi, pengamatan, sebelum dan sesudah. Variabel kontrol disini adalah inti dari metode eksperimental, karena variabel ini yang akan menjadi standar dalam melihat apakah ada perubahan, maupun perbedaan yang terjadi akibat perbedaan perlakuan yang diberikan. Sedangkan manipulasi disini adalah operasi yang sengaja dilakukan dalam penelitian eksperimen. Dalam penelitian ini, yang dimanipulasi adalah variabel independent dengan melibatkan kelompok-kelompok perlakuan yang kondisinya berbeda. Setelah peneliti menerapkan perlakuan eksperimen, ia harus mengamati untuk menentukan apakah hipotesis perubahan telah terjadi (Observasi). Sedangkan unsur “sebelum” dan “sesudah”, digunakan untuk melihat suatu kelompok yang telah diberi perlakukan bagaimana perbedaan sebelum dan sesudahnya.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat ditegaskan bahwa karakteristik penelitian eksperimen adalah:

  1. Menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk dibandingkan dengan kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental.
  2. Menggunakan sedikitnya dua kelompok.
  3. Melihat dua kondisi pada satu kelompok, yaitu kondisi sebelum diberi perlakukan dan kondisi sesudah diberi perlakukan.
  4. Harus mempertimbangkan kesahihan ke dalam (internal validity).
  5. Harus mempertimbangkan kesahihan keluar (external validity).

Selain karakteristik penelitian eksperimen yang telah diuraikan di atas, Jaedun (2011), juga menguraikan karakteristik penelitian eksperimen dengan penelitian positivistik lainnya, yaitu:

  1. Metode eksperimen merupakan satu-satunya metode penelitian yang dianggap paling dapat menguji hipotesis hubungan sebab-akibat, atau paling dapat memenuhi validitas internal.
  2. Metode eksperimen merupakan rancangan penelitian yang memberikan pengujian hipotesis yang paling ketat dibanding jenis penelitian yang lain.
  3. Metode eksperimen merupakan penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap dampaknya dalam kondisi yang terkendalikan.
  4. Ciri khas yang membedakan penelitian eksperimen dengan penelitian yang lain adalah:
    1. Satu atau lebih variabel bebas dimanipulasi (kondisinya dibuat berbeda, misalnya treatment dan non-treatment).
    2. Semua variabel lainnya, kecuali variabel perlakuan (variabel bebas), dikendalikan (dipertahankan tetap).
    3. Pengaruh manipulasi variabel bebas (pemberian perlakuan) terhadap variabel terikat diamati, dengan asumsi karena diberi perlakuan yang berbeda maka akan berdampak yang berbeda pula.
    4. Adanya komparasi, sehingga perlu penyamaan antara kelompok yang akan dikenai perlakuan dengan kelompok yang tidak dikenai perlakuan (dua kelompok yang akan dibandingkan tersebut harus komparabel).

Konsep Dasar Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Pada prinsipnya penelitian eksperimen (experimental research) dilakukan untuk meneliti pengaruh perlakuan yang telah diberikan pada sesuatu. Para ahli penelitian telah memberi pengertian tentang penelitian ini. Salah seorang diantaranya adalah Hadi (1985) mengatakan bahwa penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara sengaja oleh peneliti. Sementara  (Sugiyono 2011:72) mengatakan juga bahwa metode eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan utuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Sedangkan Sukardi (2011:179) mengatakan juga bahwa penelitian eksperimen pada prisipnya sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat (causal-effect relationship). Sedangkan Borg & Gall (1983), menyatakan bahwa penelitian eksperimen merupakan penelitian yang paling dapat diandalkan keilmiahannya (paling valid), karena dilakukan dengan pengontrolan secara ketat terhadap variabel-variabel pengganggu di luar yang dieksperimenkan. Emmory dalam Jaedun (2011), menegaskan bahwa penelitian eksperimen merupakan bentuk khusus investigasi yang digunakan untuk menentukan variabel-variabel apa saja dan bagaimana bentuk hubungan antara satu dengan yang lainnya. Menurut konsep klasik, eksperimen merupakan penelitian untuk menentukan pengaruh variabel perlakuan (independent variable) terhadap variabel dampak (dependent variable).

Jaedun (2011) juga mengemukakan definisi lain yaitu penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel yang data-datanya belum ada sehingga perlu dilakukan proses manipulasi melalui pemberian treatment/ perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian yang kemudian diamati/ diukur dampaknya (data yang akan datang). Penelitian eksperimen juga merupakan penelitian yang dilakukan secara sengaja oleh peneliti dengan cara memberikan treatment/ perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian guna membangkitkan sesuatu kejadian/ keadaan yang akan diteliti bagaimana akibatnya. Dijelaksan lagi bahwa penelitian eksperimen merupakan penelitian kausal (sebab akibat) yang pembuktiannya diperoleh melalui komparasi/ perbandingan antara: 1) Kelompok eksperimen (yang diberi perlakuan) dengan kelompok kontrol (yang tidak diberikan perlakuan); atau 2) Kondisi subjek sebelum diberikan perlakuan dengan sesudah diberi perlakuan.

Penggunaan metode penelitian eksperimen pada penelitian sosial dan pendidikan akan dihadapkan pada permasalahan yang menyangkut subyek penelitian. Dalam hal ini, penggunaan metode eksperimen ini akan menjadi sangat rumit mengingat obyek yang diteliti menyangkut interaksi manusia dengan lingkungan, atau interaksi antar manusia itu sendiri. Selain itu, tidak mudah untuk mencari orang yang bersedia dengan sukarela menjadi subyek dari penelitian eksperimen (“kelinci percobaan”). Di lain pihak, penelitian eksperimen yang dilakukan di dalam kelas oleh guru terhadap siswanya atau sebagai penelitian kelas, juga akan menghadapi persoalan validitas hasil penelitian. Dalam hal ini, guru sebagai peneliti akan dihadapkan pada persoalan apakah dia bisa bersikap obyektif, mengingat sebagai peneliti dia juga sebagai manusia yang berinteraksi dengan subyek yang diteliti, yaitu siswanya sendiri.

Berdasarkan pengertian di atas dapat ditegaskan bahwa penelitian eksperimen dilaksanakan dengan memberi perlakukan pada sesuatu dan melihat kondisi yang ditimbulkannya. Artinya ada perlakukan yang diberikan dan ada kondisi yang ditimbulkannya. Dengan kata lain, penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian suatu treatment atau perlakuan terhadap subjek penelitian. Dalam hal pendidikan, penelitian eksperimen dapat dikatakan bahwa penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/ treatment pendidikan terhadap tingkah laku peserta didik. Penelitian ini juga bisa dilakukan untuk menguji hipotesis tentang ada tidaknya pengaruh tindakan itu jika dibandingkan dengan tindakan lain, atau melihat kondisi atau pengaruh sebelum dan sesudah diberi perlakukan kepada sesuatu atau sekelompok orang. Dapat dijelaskan lagi bahwa penelitian ini di dalamnya ditemukan minimal satu variabel yang dimanipulasi untuk mempelajari hubungan sebab-akibat, dan erat kaitanya dalam menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan, maupun perbedaan perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakua

Struktur Rancangan Penelitian dan Pengembangan (skripsi dan tesis)

          Sumardi (2003: 77) menjelaskan struktur  pengembangan yang dilakukan dalam rancangan penelitian pengembangan, yakni.

  1.     Perencanaan

        Pada bagian perencanaan ini ada beberapa langkah yang harus dilkaukan peneliti, yaitu: (a)  melakukan identifikasi, definisi, kompetensi, perumusan tujuan, urutan pembelajaran, dsb., (b) menetapkan kriteria keberhasilan dan jenis-jenis instrumen untuk menilai ketercapaian tujuan, (3) merancang kegiatan pengembangan produk dan uji coba yang meliputi bebeapa aspek lamanya waktu pelaksanaan, fasilitas yang diperlukan, estimasi biaya, dan penentuan subyek.

  1.      Eksplorasi

        Pada bagian ini ada dua aspek yang harus dijelaskan, yaitu (a) kajian literatur tentang produk yang akan dikembangkan dan kajian terhadap penelitian-penelitian yang telah dilakukan terkait dengan produk, dan (b) kajian tentang situasi lapangan: kondisi kelas, lembaga, jumlah dan keadaan mahasiswa, sarana, serta praktek pembelajaran yang berlaku.

  1.     Pengembangan awal produk

        Pada bagian ini ada dua tahap yang akan dilakukan oleh seorang peneliti, yaitu: (a) perencanaan dalam membuat produk awal, sampai dihasilkan produk awal yg diinginkan, (b) mereview dan masukan dari pemakai produk perlu dilakukan oleh tim pengembang.

  1.      Validasi

        Dalam memvalidasi produk ada tiga aspek yang perlu diperhatikan, yaitu: (a) aspek penampilan produk: keterbacaan teks, sistematika  materi, kemenarikan (tampilan gambar dan animasi), komposisi warna, kualitas narasi, (b) aspek implementabilitas: standar kompetensi, kejelasan petunjuk penggunaan, kemudahan memahami materi, keluasan, dan kedalaman materi, ketepatan urutan penyajian, interaktif, ketepatan evaluasi, (c) keberterimaan pemakai: Pemakai merasa ’nyaman’ dalam menggunakan.

  1.     Tahap Validasi & Revisi

Ada dua tahapvalidasi yang harus dilakukan seorang peneliti yaitu:

  1. Validasi Ahli (Expert Judgement) dan revisi

       Pada bagian ini, untuk memvalidasi hasil produk yang dihasilkan bisa dilakukan dengan cara mendapatkan persetujuan (konsensus) ahli atau pun melibatkan langsung para pakar dalam bidang terkait dengan produk yang dikembangkan, dalam pelaksanaan harus diperoleh konsensus: cakupan materi, tingkatan dan kedalaman,  kesesuaian media, jenis dan sistem evaluasi. Selanjutnya, barulah peneliti melakukan revisi berdasarkan masukan dari konsensus para ahli.

  1. Uji Lapangan (Field Testing)

Pada tahap uji lapangan ini, ada jenis uji yang akan dilakukan peneliti yaitu:

1)     Uji Lapangan Awal (Preliminary Field Testing) dan Revisi.

2)     Uji Lapangan Utama (Main Field Testing) dan Revisi.

3)     Uji Lapangan Operasional (Operasional Field Testing) dan Perbaikan Akhir.

       Selanjutnya,  Sugiyono  (2003:298) juga menjelaskan bahwa ada 10 langkah-langkah dalam penelitian dan pengembangan, yakni:

  1. Potensi dan Masalah

Masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian R/D ini adalah masalah yang ditimbulkan akibat penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, sehingga dikemukakanlah satu model, pola, atau system penangganan terpadu yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut. Potensi dan masalah yang dikemukakan harus ditunjukkan dengan data empirik.

  1. Mengumpulkan Informasi

Setelah potensi dan masalah dapat ditunjukkan secara faktual dan uptode, maka selanjutnya perlu dikumpulkan informasi yang digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut dan menentukan metode penelitian yang akan digunakan untuk penelitian sesuai masalah dan tujuan yang ingin dicapai.

  1. Desain produk

Pada tahap ini peneliti harus membuat rancangan kerja baru berdasarkan peniliaian terhadap  sistem kerja lama, sehingga dapat ditemukan kelemahan-kelemahan terhadap sistem tersebut. Hasil  akhir dari kegiatan ini adalah berupa desain produk baru, yang lengkap dengan spesifikasinya. Desain produk harus diwujudkan dalam gambar dan bagan, sehingga dapat digunakan  sebagai pengangan untuk menilai dan membuatnya. Desain produk juga harus disertai mekanisme penggunaan dan cara kerja.

  1. Validasi desain

Pada tahap  validasi kegiatan yang dilakukan menilai apakah rancangan produk, dilihat dari system kerjanyanya lebih efektif dari yang lama atau tidak. Validasi produk dapat dilakukan oleh beberap pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk baru yang dirancang tersebut. Validasi juga dapat dilakukan dalam forum diskusi.

  1. Perbaikan desain

Perbaikan desain dilakukan setelah setelah diketahui kelemahannya, dan diperbaiki langsung oleh peneliti.

  1. Uji coba produk

Ujicoba produk dilakukan setelah produk dibuat, kemudian dilakukan eksprimen, yaitu membandingkan efektifitas dan efesiensi sistem kerja lama disebut kelompok (kontrol)  dengan yang baru yang disebut kelompok (eksperiment). Eksprimen dapat dilkukan dengan cara membandingkan keadaan sebelum dan sesudah memakai system baru (before-after). Kelompok eksperiment  diberi perlakuan untuk sistem kerja baru, sedangkan kelompok kontrol menggunakan sistem kerja lama. Untuk membuktikan signifikan perbedaan sistem kerja lama dan baru , perlu diuji secara statistik dengan t-test berkorelasi (related).

  1. Revisi produk

Apabila system baru yang dilakukan belum mencapai apa yang diharapkan dalam penelitian, maka desain produk perlu direvisi.  Setelah direvisi perlu diujicobakan kembali pada kerja sesungguhnya. Selanjutnya dapat diproduksi.

  1. Ujicoba pemakaian

Menurut Sugiyono  (2003:310) pada tahap ini kegiatan yang dilakukan menerapkan system kerja baru dalam kondisi nyata.

  1. Revisi produk

Revisi produk dilakukan, apabila dalam pemakaian kondisi nyata terdapat kekurangan dan kelemahan.

  1. Pembuatan produk massal

Pembuatan produk massal dilakukan apabila produk yang telah diujicobakan dinyatakan efektif dan layak untuk diproduksi massal.

Prinsip-Prinsip Penelitian dan Pengembangan (skripsi dan tesis)

Chaeruman menjelaskan prinsip dasar penelitian pengembangan berdasarkan pendapat ahli yaitu:

  1. Borg and Gall, 1983: penelitian yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk pendidikan.
  2. Richey and Klien, 2007: Penelitian yang pada dasarnya berfungsi untuk menciptakan suatu produk pembelajaran, tool-tool pembelajaran dan membuat model baru atau meningkatkan/memperbaiki yang ada.
  3. Gay, Mills & Airasian, 2009: Penelitan yang dilakukan untuk melihat kebutuhan pelanggan (komponen yang ada di sekolah) dan kemudian mengembangkan produk untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang  lebih efektif untuk digunakan.

 Karakteristik Penelitian dan Pengembangan (skripsi dan tesis)

          Sumardi (2003:14) menjelaskan bahwa dan 4 ciri dari penelitian dan pengembangan, yaitu:

  1. Penelitian pengembangan memusatkan perhatian  pada studi mengenai   variabel-variabel dan perkembanganya selama beberapa bulan atau beberapa

      tahun.

  1. Masalah sampling dalam studi longitudinal adalah kompleks karena terbatasnya subyek yang dapat diikuti dalam waktu yang lama: berbagai faktor mempengaruhi atrisi dalam studi longitudinal. Metode ini juga menuntut kontiniutas staf dan bantuan biaya untuk jangka waktu yang lama.
  2. Studi-studi cross-setional biasanya meliputi subyek lebih banyak, tetapi mencandra faktor-faktor pertumbuhan yang lebih sedikit dari pada studi-studi longitudinal.
  3. Studi-studi kencendrungan mengandung kelemahan bahwa faktor-faktor yang tak dapat diramalkan mungkin membuat kecendrungan yang didasarkan masa lampau menjadi tidak sah.

       Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa penelitian R/D ini bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran, yang disesuaikan dengan kurikulum, sehingga apabila berganti kurikulum, maka penelitian itu bisa saja tidak sah lagi atau tidak cocok digunakan lagi, serta penelitian R/D ini memerlukan lebih banyak waktu dan biaya apabila dibandingkan dengan penelitian lainnya.

          Selanjutnya, Sandjaya (2006:105) menjelaskan bahwa secara umum ada empat karakteristik dari penelitian dan pengembangan, yaitu:

  1. Spesifik dan kontekstual: masalah yang akan dipecahkan melalui penelitian pengembangan merupakan masalah yang spesifik dan nyata.
  2. Problem solving: pengembangan model dan perangkat pembelajaran berorientasi pada pemecahan masalah.
  3. Kolaboratif: kerjasama antara peneliti/ pengembang (Litbang) dan guru/ sekolah.
  4. Menghasilkan produk: ada produk yang dihasilkan untuk dicoba keefektifannya.

Pengertian dan Definisi Penelitian dan Pengembangan (skripsi dan tesis)

          Sugiyono (2013:297) menjelaskan bahwa penelitian dan pengembangan (Research and Development) adalah sebuah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu,  dan menguji keefektifan produk tersebut. Hal ini menggambarkan bahwa R/D bertujuan  untuk menghasilkan atau mengembangkan suatu produk yang bisa berupa model, desain, prototipe, bahan, media, alat, atau strategi pembelajaran yang berguna sebagai peningkatan dalam  kualitas pembelajaran.

Struktur Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

          Pada umumnya, penelitian tindakan dilakukan berdasarkan tema-tema dan menyarankan sebuah metode untuk meninjau situasi pembelajaran. Ada empat tema dasar dalam penelitian tindakan yang dilakukan oleh anggota penelitian yang saling melengkapi dalam siklus, yakni:

–   Mengembangkan rencana (a plan) tindakan kritis untuk meningkatkan apa yang sedang terjadi.

–   Bertindak (to act) untuk melaksanakan rencana.

–   Mengamati (to reflect) akibat-akibat tersebut sebagai dasar untuk merencanakan lebihlanjut, tindakan cerdas secara kritis berikutnya, dan sebagainya melalui siklus berikutnya.

Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

          Menurut Kunandar ( 2011: 67-68) ada sepuluh prinsip dalam pelaksanaan PTK, yaitu:

1)        Tidak boleh mengganggu PBM dan tugas mengajar

2)        Tidak boleh terlalu menyita waktu

3)        Metodologi yang dipakai harus tepat dan terpercaya

4)        Masalah yang dikaji benar-benar ada dan dihadapi guru

5)        Memegang etika kerja (minta izin, membuat laporan, dan lain-lain)

6)        PTK bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu proses belajatr mengajar

7)        PTK menjadi media guru untuk berfikir kritis dan sistematis

8)        PTK menjadikan guru terbiasa melakukan aktivitas yang bernilai akademik dan ilmiah

9)        PTK dimulai dari permasalahan pembelajran yang sederhana, konkret, dan jelas.

10)    Pengumpulan data atau informasi dalam PTK tidak boleh terlalu banyak menyita waktu dan terlalu rumit karena dikhawatirkan akan mengganggu tugas utama sebagai guru dan tenaga pendidik

Fungsi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

          Penelitian tindakan kelas memiliki manfaat atau fungsi yang dapat diraih atau dirasakan sebagai berikut:

(1)          Inovasi Pembelajaran.

 Guru harus selalu terbuka dan bersikap inovatif untuk mencoba, mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan kemampuan mengajarkan agar mampu melahirkan model-model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kelasnya. Inovasi yang tumbuh dari bawah ini dengan sendirinya akan lebih efektif dibandingkan dengan penataran atau pelatihan, karena berangkat dari realitas permasalahan yang dihayati guru baik di kelas atau sekolah.

(2)          Perbaikan praktis yang meliputi penanggulangan berbagai masalah belajar yang dialami siswa secara sistematis.

Setiap kelas, setiap siswa, dan setiap massa, tentu memiliki karakteristik yang berbeda dan khas. Sudah tentu persoalan yang dihadapinya juga berbeda dan sangat kompleks. Persoalan yang kompleks dan senantiasa berubah setiap waktu tidak mungkin dapat dihadapi jika guru yang bersangkutan tidak mampu bertindak sebagai manajer dan aktor yang mampu mengubah kualitas pembelajarannya.

(3)          Membentuk profesionalitas guru.

Guru yang profesional adalah guru yang memiliki keterbukaan untuk melihat dan menilai kemampuannya secara kritis kemudian melalui proses refleksi mau dengan segera melakukan perubahan, perbaikan, dan pengembangan. Keterlibatan guru dalam PTK dengan demikian dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

          Karakteristik yang terdapat dalam PTK antara lain:

1)        Didasarkan atas masalah yang dihadapi guru dlam instruksional

2)        Adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya

3)        Penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi

4)        Bertujuan memperbaiki atau meningkatkan kualitas praktek instruksional

5)        Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus

          Ada juga pendapat dari Kunandar (2008: 59- 64) menjelaskan beberapa

karakteristik yang terdapat pada PTK sebagai berikut:

1)        Masalah yang diteliti adalah nyata yang muncul dari dunia kerja peneliti

2)        Berorientasi pada pemecahan masakah. Guru melakukan PTK sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajat mengajar di kelasnya melalui suatu tindakan tertentu untuk menyempurnakan proses pembelajaran di kelasnya.

3)        Berorientasi pada peningkatan mutu. PTK dilakukan dalam kerangka untuk memperbaiki mutu PBM yang dilakukan oleh guru di kelasnya.

4)        Siklus yaitu konsep tindakan diterapkan melalui urutan yang terdiri dari beberapa tahap berdaur ulang.

5)        Di dasarkan pada adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki PBM di kelas.

6)        Adanya pengkajian terhadap dampak tindakan yang dikaji sesuai tujuan.

7)        Aktivitas PTK dipicu oleh permasalah praktis yang dihadapi oleh guru dalam PBM di kelas.

8)        Dilaksanakan secara kolaboratif dan bermitra dengan pihak lain, seperti teman sejawat. Ada partisipasi dari pihak lain berperan sebagai pengamat.

9)        Peneliti sebagi praktisi yang melakukan refleksi.

10)    Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus, di mana dalam satu siklus terdiri dari tahapan perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi selanjutnya diulang kembali dalam beberapa siklus

Pengertian  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

               Kunandar (2008: 45) menyebutkan ada tiga konsep atau unsur dalam penelitian tindakan kelas, yakni bahwa:

  1. Penelitian adalah aktivitas mencermati suatu objek tertentu melalui metodologi ilmiah dengan mengumpulkan data-data dan dianalisis untuk menyelesaikan suatu masalah.
  2. Tindakan adalah suatu aktivitas yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang berbentuk siklus kegiatan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu atau kualitas proses belajar mengajar.
  3. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru.

          Dari konsep ini  dapat disimpulkan bahwa Penelitian tindakan kelas merupakan sebuah proses refleksi diri yang dilakukan oleh guru dan perangkat pendidikan lainnya dalam situasi kependidikan yang bertujuan untuk memperbaiki:  praktik-praktik kependidikan, pemahaman tentang praktik pendidikan itu sendiri dan dalam situasi bagaimana praktik tersebut dilaksanakan.

          Penelitian Tindakan Kelas oleh  Kunandar (2011:45) adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Selanjutya, Iskandar (2009:21) mendefinisikan PTK adalah suatu kegiatan penelitian ilmiah yang dilakukan secara rasional, sistematis dan empiris reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru, kolaborasi sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di kelas berupa kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi pembelajaran yang dilakukan.

Struktur Rancangan Penelitian Eksperimenm (skripsi dan tesis)

          Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

(1)  Rancangan Pra-Eksperimental

Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:

  1. a) Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)

b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)

c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

(2)  Rancangan Eksperimen Murni

Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:

  1. a) Adanya kelompok kontrol.
  2. b) Siswa ditarik secara random dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
  3. c) Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.

Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.

  1. a)Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest only control group design)
  2. b)Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the randomized pretest-posttest control group design)
  3. c)Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)
  4. d)Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)
  5. e)Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

(3)  Rancangan Eksperimen Kuasi/ Semu (Quasi—Experimental Design)

        Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:

  1. a)Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design, using matched subject).
  2. b)Rancangan dengan pemasangan subyek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),
  3. c)Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter balanced, using matched subject) .
  4. d)Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)
  5. e)Rancangan faktorial (factorial design).

Jenis-Jenis Desain (Rancangan) Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

          Pada dasarnya rancangan penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi tiga yaitu pra eksperimen, eksperimen, dan eksperimen kuasi.

  1. Rancangan Pra Eksperimen

Ada tiga jenis rancangan pra eksperimen  yaitu :

1)         The One Shot Study

                        Perlakuan tes akhir X  T-2. Rancanagan ini hanya menggunakan satu kelompok, kelompok diberikan perlakuan (manipulasi yang dieksperimenkan) ( X ),  diadakan tes akhir (T-2). Hasil tes akhir dianggap sebagai pengaruh pemberian perlakuan. Rancangan ini tidak dapat mengontrol semua ancaman terhadap validitas internal: sejarah, kematangan serta moralitas. Menurut Kerlinger (1990) rancangan ini tidak bernilai ilmiah.

2)   One Group Pretest – Postest Design

                        Tes awal perlakuan tes akhik T-1 X T-2. Rancangan ini menggunakan satu kelompok, sebelum dan sesudah perlakuan diadakan tes. Perbedaan skor tes akhir (T-2) dengan tes awal (T-1) dianggap sebagai pengaruh perlakuan (X). Ciri utama rancangan ini adalah bahwa kelompok dibandingkan dengan dirinya sendiri. Jika skor perbedaan T2-T1 ada perbedaan secara signifikan maka perbedaan ini merupakan pengaruh dari perlakuan (X). Kelemahan rancangan ini adalah balum dapat mengontrol valliditas internal: sejarah, kematangan, pengetasan awal, alat pengukur, dan kemunduran statistik; serta validitas eksternal.

3).  The Static Group Comparison

                        Kelompok perlakuan  tes akhir eksperimen X T-2 kontrol -T-2. Rancangan ini menggunakan paling sedikit dua kelompok, satu kelompok menerima perlakuan yang dieksperimenkan (kelompok eksperimen) sedangkan kelompok yang lain tidak menerima perlakuan (kelompok kontrol) Perlakuan (X) diberikan kepada kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol yang diasumsikan sama dengan kelompok eksperimen tidak mendapat perlakuan. Hasil tes akhir (T-2) kelompok eksperimen, dibandingkan dengan hasil tes akhir (T-2) kelompok kontrol, hasil perbedaan tersebut merupakan pengaruh adanya perlakuan.

            Kelompok rancangan ini adalah menganggap kedua kelompok (eksperimen dan kontrol) sama variabel bebasnya kecuali variabel perlakuan (X). Anggapan ini keliru karena penempatan subyek ke dalam kelompok tidak melalui pengacakan. Sejumlah faktor validitas internal yang tidak dikontrol antara lain: kematangan, seleksi, interaksi kematangan dengan seleksi dan mortalitas.

  1.  Rancangan Eksperimen

Rancangan eksperimen berusaha untuk mengontrol sejauh mungkin semua sumber validitas internal dan eksternal. Dalam semua rancangan eksperimen ada satu karakteristik yang membedakan dengan rancangan lain, yaitu penempatan subyek kedalam kelompok melalui pengacakan serta mempunyai dua kelompok atau lebih. Ada tiga jenis rancangan eksperimen diuraikan sebagai berikut:

1)    Pre test – Posttes Control Desi

–   Kelompok tes awal perlakuan tes akhir

(R)  Eksperimen         T-1                    X-1         T-2
(R)  Kontrol           T-1               X-2         T-2
R = Random ( penempatan kelompok secara acak)

–   Kelompok tes awal perlakuan tes akhir

(R)  Eksperimen T-1     X-1   T-2
(R)               Kontrol                   T-1                           X-2              T-2

M= matching (penempatan kelompok dengan penjodohan)

            Rancangan ini menghendaki paling sedikit ada dua kelompok, penempatan subyek ke dalam kelompok melalui pengacakan dapat pula dengan penjodohan. Kedua kelompok menerima tes awal, pemberian perlakuan diberikan kepada kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol tidak menerima perlakuan. Kemudian, kedua kelompok diberikan tes awal serta adanya kelompok kontrol, akan menjalankan pengontrolan untuk semua sumber-sumber  validitas internal. Kelemahan rancangan ini hanya belum dapat mengontrol validitas eksternal: interaksi pemberian tes awal. Dengan adanya tes awal, maka penggeneralisasiannya hanya untuk kelompok lain yang melalui tes awal. Analisis yang digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan (X ) dengan membandingkan skor tes akhir (T-2) antara kelompok kontrol dengan t-tes, atau jika  asumsi kelompok tidak sama dapat dianalisis menggunakan teknik kovarian.

2)  Posttes – Only Control Group Design

 Kelompok perlakuan tes akhir

(R)   Eksperimen                                   X                             T-2
(R)     Kontrol                                             –                                  T-2
Rancanga ini sama dengan Pretest – Postest Control Group Design, kecuali tidak diadakannya tes awal. Penempatan subyek ke dalam kelompok dengan pengacakan yang tujuannya untuk mengendalikan semua kemungkinan variabel ekstra, sehingga perbedaan kelompok kemungkinan kegiatan eksperimen dilakukan terjadi hanya secara kebetulan. Setelah penempatan subyek ke dalam dua kelompok, hanya kelompok eksperimen yang mendapat perlakuan. Di luar perlakuan kedua kelompok diperlukan sama, tes akhir dikenakan pada kedua kelompok , kemudian skor hasil tes tersebut dibandingkan. Apabila rerata kedua kelompok berbeda secara signifikan, maka peneliti dapat merasa yakin bahwa perbedaan tersebut karena adanya perlakuan (X). Kelemahan rancangan ini hanya belum dapat mengontrol validitas internal: mortalitas, sedangkan yang lainnya dapat dikendalikan.

3)   Solomon Four Group Design

     Kelompok                 Tes Awal              Perlakuan             tes akhir

      (R)   Eksperimen             T-1                             X                           T-2
(R)   Kontrol                    T-1                              –                              T-2
(R) Kontrol               –                      X                      T-2
(R) Kontrol               –                      –                      T-2
Rancangan empat kelompok solomon, penempatan subyek ke dalam kelompok secara random. Dua kelompok melaksanakan tes awal, sedangkan dua kelompok tidak mengadakan tes awal. Dua kelompok yang mendapatkan perlakuan (X) satu kelompok melakukan tes awal sedangkan kelompok yang lain tidak, akan tetapi keempat kelompok tersebut mendapat tes akhir.

                           Rancangan ini merupakan kombinasi Pretest-postest Control Group Design dengan Postest Only Control Group Design, tujuannya untuk menutup kelemahan dari kedua rancangan tersebut. Kombinasi kedua rancangan ini menghasilkan rancangan yang dapat mengontrol semua sumber ancaman validitas internal dan eksternal. Jalan terbaik untuk menganalisis data dengan menggunakan analisis faktor 2×2. Analisis faktor akan mengurangi interaksi validitas antara perlakuan dengan tes awal.

  1. Rancangan Eksperimen Kuasi

        Banyak situasi pendidikan yang tidak mungkin dapat dipecahkan dengan menggunakan rancangan eksperimen, karena alasan berbagai hal sehingga tidak mungkin mambagi kelompok dan penempatan subyek-subyek dalam kelompok secara acak. Rancangan eksperimen kuasi tidak memberikan pengontrolan secara penuh, oleh sebab itu penting sekali bagi peneliti mengetahui variabel mana yang mungkin tidak sepenuhnya dapat dikendalikan dan dikontrol.

Ada 3 jenis desain penelitian eksperimen adalah sebagai berikut:

  1. The Noneequivalent Control Design

 Kelompok               Tes Awal                Perlakuan             Tes akhir
Eksperimen                   T-1                            X                          T-2
Kontrol                               T-1                                   –                             T-2
Desain ini hampir sama dengan desain ekperimental (pretest-postest control group design), perbedaannya terletak pada tidak adanya pengacakan dalam penempatan subyek ke dalam kelompok-kelompok. Walaupun penempatan subyek secara acak tidak dapat dilakukan, namun usahakan agar kedua kelompok sejauh mungkin sama. Apabila kedua kelompok memang berbeda analisis selanjutnya dengan menggunakan analisis kovarian.

  1. The Time Series Design

                Tes ke-                               Perlakuan                        Tes ke-

                      T-1 T-2 T-3 T-4                              X                        T-5 T-6 T-7 T-8

                             Rancangan rangkaian waktu seperti ini adalah lebih jelas dalam memerinci rancangan one group pretest-postest dengan cara kelompok berulang-ulang mendapat tes (T-1 sampai T-8) di antara pemberian perlakuan (X). Pengaruh perlakuan akan ditunjukan  perbedaan antartes, yaitu dengan membandingkan skor-skor pengukuran. Analisis yang cocok untuk dipergunakan pengolahan data jenis ini adalah analisis varian. Kelemahan desain ini tidak dapat mengontrol validitas internal: sejarah dan penggunaan alat pengukuran; serta validitas eksternal: interaksi tes awal.

  1. Counter Balanced Design

    Replikasi            Perlakuan dari  X-1                X-2                        X-3

1  Kelompok             A.T-1                       B.T-2                     C.T-3
2  Kelompok                  B. T-1                          C.T-2                        A.T-3

3  Kelompok                  C.T-1                         A.T-2                         B.T-

                                                        Rata                                Rata                    Rata

        Dalam rancangan ini semua kelompok ( A, B dan C ) menerima semua perlakuan ( X-1, X-2 dan X-3) tetapi dengan pelaksanaan yang berbeda, seperti digambarkan dalam bagan di atas. Desain ini melibatkan serangkaian replikasi, dalam setiap replikasi kelompok ditukar sehingga pada akhir eksperimen setiap kelompok telah menerima samua jenis perlakuan. Kelemahan utama rancamgan ini adalah kemungkinan terjadinya pengaruh pindahan ( carry over effect) dari satu perlakuan ke perlakuan berikutnya, atau perlakuan tertentu memengaruhi perlakuan yang lain. Analisis statistik  dengan menggunakan analisis varian.

Prinsip-Prinsip Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Ada tiga prinsip dasar dalam pelaksanaan rancangan penelitian eksperimen yaitu:
1.  Replikasi, pengulangan dari eksperimen dasar. Hal ini berguna untuk memberikan      estimasi yang lebih tepat terhadap (kesalahan) error eksperimen dan memperoleh estimasi yang lebih baik terhadap rata-rata pengaruh yang ditimbulkan dan   perlakuan.

  1. Randomisasi, bermanfaat untuk meningkatkan validitas dan mengurangi bias      utamanya dalam hal pembagian kelompok dan perlakuan.
  1. Kontrol internal, melakukan penimbangan. Bloking, pengelompokan, dan         unit-unit percobaan yang digunakan.

Fungsi Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen pada era kini, penggunaannya ditandai dengan:

  • Behaviorisme, yang menekankan pada studi mengenai pengukuran tingkah laku sebagai ekspresi mental seseorang.
  • Kuantifikasi, yang menekankan penghitungan fenomena sosial dengan angka-angka. Dalam ilmu sosial, penghitungan berbasis angka banyak diterapkan dalam statistika sosial. Perubahan dalam subjek penelitian. Penelitian eksperimen pada awalnya menekankan peneliti professional sebagai subyek dari penelitian tersebut. Namun dalam perkembangannya, subjek penelitian eksperimen berupa orang-orang awam yang belum dikenalnya, sehingga obyektifitas dari hasil penelitian tersebut lebih terjamin.
  • Aplikasi praktis. Penelitian eksperimen diterapkan secara praktis dalam berbagai hal untuk menguji hubungan sebab akibat.

Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

          Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu:
1)   Variabel-variabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib dan

       ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi

      langsung, maupun random.

2)   Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental.

3)   Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Dengan demikian, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subyek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.

4)   Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.

5)   Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama.

6)   Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

Pengertian Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

–  Jika tujuan penelitian ilmiahnya menetapkan hubungan yang ada di antara variabel-variabel maka cara yang paling tepat untuk menetapkan hubungan itu ialah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah cara yang paling kuat untuk mengetahui hubungan sebab akibat di antara variabel.

–   Menurut  Wasis dan Karwono (1992: 67) penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang paling tepat dan sunguh-sungguh dapat mengetes hipotesis mengenai sebab akibat dan pengaruh suatu hubungan apabila dibandingkan dengan metode penelitian yang lain.

–  Menurut Kerlinger (1990) eksperimen adalah penelitian atau penyelidikan ilmiah di mana si peneliti memanipilasikan dan mengendalikan satu variabel bebas (independent variable) atau lebih dan melakukan observasi terhadap variabel terikat, untuk menemukan variasi yang seiring muncul dengan manipulasi variabel bebas tersebut.

–   Menurut Gay ( 1990), dalam penelitian eksperimen peneliti memanipulasi paling sedikit satu variabel bebas, mengontrol variabel-variabel lain yang diperkirakan  bersangkut paut serta mengamati pengaruhnya terhadap satu atau lebih variabel terikat. Manipulasi variabel bebas merupakan ciri yang membedakan antara penelitian eksperimen dengan jenis penelitian yang lain (historis dan deskriptif).

 Struktur Rancangan Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

        Menurut Creswell (2012: 339-342), ada dua rancangan utama dalam penelitian korelasional yaitu explanatory research design dan prediction research design.

  1. Explanatory Research Design (Rancangan Penelitian Penjelasan).

       Adalah desain korelasional di mana peneliti tertarik dalam dua variabel (atau lebih) bervariasi, yaitu di mana perubahan dalam satu variabel merefleksi perubahan variable lain. Berikut adalah struktur rancangan penelitian penjelasan (explanatory research design):

  1. a)Para peneliti dapat mengkorelasikan dua variabel atau lebih.
  2. b)Para peneliti mengumpulkan data pada satu titik waktu. Bukti ditemukan dalam administrasi instrumen.
  3. c)Peneliti ​​menganalisis semua variabel.
  4. d)Peneliti memperoleh setidaknya dua skor untuk masing-masing variabel.
  5. e)Peneliti melaporkan penggunaan statistik uji korelasi dalam       analisis data.
  6. f)Di akhir, peneliti membuat interpretasi atau menarik kesimpulan dari hitungan hasil tes.
  7. The Prediction Design (Rancangan Penelitian Prediksi)

       Prediktor adalah variabel yang digunakan untuk membuat prediksi tentang hasil dalam penelitian korelasional. Hasil prediksinya itu disebut kriteria variabel. Berikut adalah struktur rancangan dari penelitian prediksi, antara lain:

  1. a)Para penulis biasanya memasukan kata ‘prediksi’ di dalam judul.
  2. b) Para peneliti biasanya mengukur variabel prediktor pada satu titik waktu dan variabel kriteria pada suatu titik waktu selanjutnya.
  3. c)Para peneliti memperkirakan kinerja masa depan.

       Sebuah penelitian prediksi akan melaporkan analisa korelasi menggunakan uji statistik korelasi. Sebagai contoh, penulis mungkin tertarik di beberapa prediktor yang membantu menjelaskan kriteria dari setiap variabel.

             Disisi lain, menurut Fraenkel, Walen, dan Hyun (2012: 363) struktur rancangan dalam penelitian korelasi antara lain adalah memilih masalah, memilih sampel, memilih atau mengembangkan instrumen, penentuan prosedur, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menginterpretasikan hasil.

Jenis-Jenis Desain Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

 Shaughnessy dan Zechmeiser (dalam Emzir, 2008) menyatakan ada 5 jenis desain penelitian korelasional yaitu: (1) korelasi bivariat, (2) korelasi regresi dan prediksi, (3) regresi jamak, (4) analisis faktor, dan (5) korelasi yang dibuat untuk membuat kesimpulan kausal. Sementara, Creswell (2008) menyatakan hanya ada dua desain utama penelitian korelasional yaitu eksplanatori (explanatory) dan prediksi (prediction). Meskipun para ahli mengelompokkan rancangan penelitian korelasional agak berbeda, namun pada prinsipnya pengklasifikasian tersebut hanya berpijak pada pandangan yang berbeda dan penamaan yang berbeda

Prinsip-Prinsip Penelitian Korelasional (skrispi dan tesis)

         Dalam penelitian korelasional, para peneliti biasanya hanya mendasarkan pada penampilan variabel sebagaimana adanya, tanpa mengatur kondisi atau memanipulasi variabel tersebut. Oleh karena itu, peneliti hendaknya mengetahui cukup banyak alasan yang kuat guna mempertahankan hasil hubungan yang ditemukan.

Fungsi Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

          Penelitian korelasi digunakan untuk melakukan penelitian terhadap sejumlah variabel yang diperkirakan mempunyai peranan yang signifikan  dalam mencapai proses pembelajaran. Sebagai contoh, misalnya tentang pencapaian hasil belajar dengan motivasi internal, belajar strategi, intensitas kehadiran mengikuti kuliah, dan lain sebagainya.

          Disamping itu, penelitian korelasi dilakukan untuk menjawab tiga pertanyaan penelitian tentang dua variabel atau lebih. Pertanyaan tersebut yaitu: (1) Adakah hubungan di antara dua variabel? (2)  Bagaimanakah arah hubungan tersebut? (3) Berapa besar/ jauh hubungan tersebut dapat diterangkan?

Karakteristik Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

(1) Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan peneliti tidak mungkin melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian eksperimen,

(2) Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting (lingkungan) nyata,

(3) Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan (Sukardi, 2008:166).

Pengertian Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

          Penelitian korelasional digunakan untuk: (1) mengukur hubungan di antara berbagai variabel, (2) meramalkan variabel tak bebas dari pengetahuan kita tentang variabel bebas, dan (3) meratakan jalan untuk membuat rancangan penelitian eksperimental (Rakhmat, 2007: 27-31).

          Menurut Creswell (2012: 338) penelitian korelasi yaitu:

“A correlation is a statistical test to determine the tendency or pattern for two (or more) variables or two sets of data to vary consistently…”

“Suatu korelasi adalah uji statistik untuk menentukan kecenderungan atau pola untuk dua (atau lebih) variabel atau dua set data bervariasi secara konsisten…

Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen Time Series (skripsi dan tesis)

Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu:

  • Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
  • Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
  • Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
  • Membuat rencana penelitian yang di dalamnya mencakup kegiatan: Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; Menentukan cara mengontrol; Memilih rancangan penelitian yang tepat; Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
  • Melaksanakan eksperimen.
  • Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
  • Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan.
  • Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
  •  Menginterpretasikan hasil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan.

Karakteristik Penelitian Eksperimen Time Series (Skripsi dan tesis)

Ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian eksperimen, yaitu kontrol, manipulasi, dan pengamatan.

  1. a) Variabel kontrol adalah inti dari metode eksperimental.
  2. b) Manipulasi variable independent adalah operasi yang sengaja dilakukan dalam penelitian eksperimen. Dalam penelitian, yang dimanipulasi adalah variabel independent dengan melibatkan kelompok-kelompok perlakuan yang kondisinya berbeda.
  3. c) Setelah peneliti menerapkan perlakuan eksperimental, ia harus mengamati untuk menentukan apakah hipotesis perubahan telah terjadi.

Time Series Design Eksperimen (skripsi dan tesis)

Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan keadaan kelompok dapat diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment/perlakuan. Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol.

Pengertian Penelitian Eksperimen Quasi (skripsi dan tesis)

Penelitian dengan melakukan percobaan terhadap kelompok eksperimen, kepada tiap kelompok eksperimen dikenakan perlakuan-perlakuan tertentu dengan kondisi-kondisi yang dapat di kontrol disebut penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih
kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan
.

Quasi experiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan (Cook & Campbell, 1979). Jenis ini juga sering kali disebut sebagai post-hoc research yang berarti bahwa peneliti dapat melihat efek yang terjadi dari sebuah variabel setelah kejadian tertentu (Salkind, 2006:234).

Quasi experiment sesungguhnya dapat dikatakan mirip dengan true experiment jika dilihat dari pemanipulasian variabel independen yang dilakukan (Ary et al, 2010:316). Beberapa perbedaan yang sangat signifikan dari quasi experiment bila dibandingkan dengan true experiment adalah jika di dalam true experiment digunakan untuk menguji sebab-akibat yang sesungguhnya dari sebuah hasil relasi, sedangkan di dalam quasi experiment hanya melakukan pengujian tanpa adanya kendali penuh didalamnya (Salkind, 2006:10; Levy & Ellis, 2011). Namun hal ini bukan berarti bahwa peneliti sama sekali tidak memiliki kendali terhadap obyek penelitian di dalam quasi experiment, tetapi yang dimaksudkan adalah kendali yang dimiliki tidak mutlak bisa digunakan.

Pembagian dalam Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

  1. Eksperimental Murni (True Experimental)
  • Mengikuti seluruh prosedur & syarat eksperimen terutama dalam : kontrol  variabel, pemberian manipulasi (perlakuan)  dan pengujian hasil
  • Semua variabel dikontrol, kecuali variabel independen yang akan diuji pengaruhnya  terhadap variabel dependen
  • Kelompok  eksperimen diberi perlakuan khusus (variabel yang akan diuji akibatnya), sedang kelompok kontrol  diberi perlakuan lain (yang biasa dilakukan) dan hasilnya  dibandingkan  dengan kelompok eksperimen
  • Pengukuran/pengujian menggunakan instrumen baku (tes standar)
  1. Eksperimental Semu (Quasi Experimental)
  • Pada dasarnya sama dengan eksperimen murni, bedanya dalam pengontrolan variable.
  • Pengontrolan tidak pada semua variabel ttp hanya pada satu variabel yg cukup dominan dan minimal dipasangkan (matching).
  • Umpamanya dari dua kelas yang akan diambil sebagai kelompok kontrol dan  eksperimen, setelah dilakukan pengukuran kecerdasan, diambil secara berpasangan, yang IQnya 140, 135, 130 sampai dengan IQ  90.
  1. Eksperimental Lemah (Weak Experimental)
  • Disebut  pra eksperimen karena tidak ada penyamaan karakteristik (random) dan tidak ada pengontrolan variable
  • Desain dan perlakuannya seperti penelitian eksperimen ttp tidak ada pengontrolan variabel sama sekali
  • Lemah kadar validitasnya
  • Model ini sebaiknya hanya dipergunakan sbg latihan
  • Sebaiknya tdk digunakan  utk tesis, disertasi atau penelitian yang hasilnya digunakan untuk pengambilan keputusan, penentuan kebijakan maupun pengembangan ilmu
  1. Eksperomental Subjek Tunggal (Single Subject Experimental)
  • Eksperimen terhadap subjek tunggal (satu atau dua orang)
  • meneliti individu tanpa perlakuan dan kemudian  dgn perlakuan  serta  akibatnya thdp variabel dependen diukur  dalam kedua kondisi tersebut
  • Agar memiliki validitas internal yg tinggi  disain eksperimen tunggal harus memperhatikan karakteristik : (1) pengukuran yg ajeg; (2) Pengukuran yg berulang-ulang ; (3) Deskripsi kondisi; (3) garis dasar, kondisi perakuan , rentang waktu relatif lama dan pada tahap awal eksperimen I individu diamati sampai menunjukan keadaan stabil baru  kemudian diberi perlakuan; rentang waktu  pada tahap awal disebut garis dasar (based line); (4)  ketentuan variabel . selama perlakuan eksperimen  variabel yg diubah pada satu subjek hanya satu variabel supaya nampak pengaruhnya
  • Eksperimen ini  dilakukan dalam bentuk variasi bentuk eksperimen : baik   eksperimen murni, quasi maupun lemah

Proses Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Langkah-langkah dalam penelitian eksperimen pada dasarnya hampir sama dengan penelitian lainnya. Menurut Gay (1982 : 201) langkah-langkah dalam penelitian eksperimen yang perlu ditekankan adalah sebagai berikut.

  1. Adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti.
  2. Pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
  3. Pembuatan atau pengembangan instrumen.
  4. Pemilihan desain penelitian.
  5. Eksekusi prosedur.
  6. Melakukan analisis data.
  7. Memformulasikan simpulan.

Syarat-syarat Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Sebuah penelitian dapat berjalan baik dan memberikan hasil yang akurat jika dilaksanakan dengan mengikuti kaidah tertentu. Seperti halnya dengan penelitian eksperimen, akan memberikan hasil yang valid jika dilaksanakan dengan mengikuti syarat-syarat yang ada. Berkaitan dengan hel tersebut, Wilhelm Wundt dalam Alsa (2004) mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian eksperimental, yaitu:

(1)   Peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan melakukan penelitian;

(2)   Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang sama;

(3)   Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah, mengontrol) variabel yang diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya;

(4)   Diperlukan kelompok pembanding (control group) selain kelompok yang diberi perlakukan (experimental group).

Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Ciri-ciri yang membedakan eksperimen dari jenis penelitian lain adalah adanya:

(1)   Manipulasi variable

Bila kita melakukan eksperimen, maka secara sengaja kita mengintervensi terjadinya hubungan kausal.

  • Situasi (variabel bebas) yang diasumsi sebagai penyebab munculnya gejala (variabel terikat) secara sengaja dimanipulasi.
  • Manipulasi variabel itu dilakukan dengan menempatkan subjek pada situasi tersebut, dan mencegah kemungkinan munculnya faktor lain yang dapat mencemari situasi itu.

(2)   Kontrol

Kesimpulan tentang hubungan kausal antara variabel bebas dan variabel terikat dengan valid, bila dilakukan pengontrolan pengaruh variabel lain terhadap variabel terikat.

  • Pengontrolan ini menggunakan apa yang disebut dengan kelompok kontrol. Dalam berbagai segi, keberadaan kelompok kontrol sarna dengan kelompok eksperimen.
  • Satu-satunya perbedaan adalah, pada kelompok eksperimen diberi perlakuan (treatment), sedangkan pada kelompok control tidak ada perlakuan.
  • Dengan demikian, bila muncul gejala yang berbeda antara kedua kelompok, maka itu dianggap sebagai pengaruh perlakuan atau treatment effect.

(3)   Penugasan Random (RANDOM ASSIGNMENT)

  • Dalam konteks eksperimen, perandoman dilakukan dalam dua kegiatan, yaitu dalam memilih subjek yang menjadi sampel (pemilihan random atau random selection), dan dalam menugaskan setiap subjek yang menjadi sampel ke dalam salah satu dari kelompok eksperimen atau kelompok kontrol, yang disebut dengan penugasan random alau random assignment.
  • Pemilihan random berfungsi membuat kelompok subjek yang menjadi sampel itu representatif terhadap populasi.
  • Adapun fungsi penugasan random adalah agar sebelum pelaksanaan eksperimen, baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol keadaannya sama (homogen), sehingga bila setelah eksperimen terjadi perbedaan pada kedua kelompok itu, perbedaan yang terjadi adalah pengaruh dari perlakuan.

(4)   Perlakuan (Treatment)

  • Eksperimen pada intinya sama dengan observasi. Perbedaan antara keduanya terletak pada objek yang diamati.
  • Pada observasi yang bukan eksperimen, objek yang diamati telah ada, sedangkan pada eksperimen objek yang diamati itu diciptakan situasi munculnya oleh peneliti.
  • Memunculkan objek pengamatan itu adalah melalui perlakuan atau treatment.

Definisi Penelitian Eksperimen Menurut Para Ahli (skripsi dan tesis)

  • Menurut Faisal (1982: 76)

Suatu metode yang sistematis dan logis untuk menjawab pertanyaan :”Jika sesuatu dilakukan pada kondisi-kondisi yang dikontrol dengan teliti, maka apakah yang akan terjadi?”.

  • Menurut Sugiyono (2011: 72)

Metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali.

  • Menurut Fraenkel, dkk (2012: 265)

Penelitian eksperimen adalah unik di dalam dua hal yang sangat penting. Penelitian ini merupakan satusatunya jenis penelitian yang secara langsung mencoba untuk mempengaruhi suatu variabel tertentu, dan ketika benar diterapkan. Penelitian ini juga merupakan jenis penelitian yang terbaik dalam pengujian hipotesis hubungan sebab akibat atau kausalitas.

  • Menurut Hadi (1985)

Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara sengaja oleh peneliti.

  • Latipun (2002)

Penelitian yang dilakukan dengan melakukan manipulasi yang bertujuan untuk mengetahui akibat manipulasi terhadap perilaku individu yang diamati.

  • (Alsa 2004) Hakekat penelitian eksperimen (experimental research) adalah meneliti pengaruh perlakuan terhadap perilaku yang timbul sebagai akibat perlakuan Eksperimen merupakan modifikasi kondisi yang dilakukan secara sengaja dan terkontrol dalam menentukan peristiwa atau kejadian, serta pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada peristiwa itu sendiri (Moch. Ali, 1993:134)

Rancangan Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

(1). Rancangan Pra-Eksperimental

Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:

a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)

b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)

c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

(2). Rancangan Eksperimen Murni

Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:

a). Adanya kelompok kontrol.

b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.

c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.

Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.

a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized

posttest only control group design)

b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the

randomized pretest-posttest control group design)

c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)

d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)

e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

(3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)

Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:

a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design, using matched subject).

b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),

c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter balanced, using matched subject) .

d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)

e). Rancangan faktorial (factorial design).

Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu, (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

(5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.

(7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.

(8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.

(9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

 Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi

Pengertian Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

 

Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2). selanjutnya akan dipaparkan karakteristik 

Teknik Pengumpulan Data Dan Analisis Dalam Penelitian (skripsi dan tesis)

 

Pengumpulan data dalam sebuah penelitian merupakan salah satu tahap yang sangat penting. Teknik pengumpulan data yang tepat dan benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu, pada tahap ini tidak boleh salah dan harus dilakukan secara cermat sesuai dengan prosedur dan ciri-ciri penelitian yang akan digunakan.

Pada penelititan, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya kurang bisa/tidak bisa dipertanggungjawabkan keakuratannya

Setelah melakukan proses pengumpulan data, hasil dari data tersebut harus dianalisis untuk memberikan arti dari hasil yang telah didapatkan. Proses analisis data diawali dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya. Dalam penelitian analisis data merupakan kegiatan pokok yang harus dilakukan.

Teknik pengumpulan data dan analisis data penting untuk diketahui oleh seorang peneliti. Oleh karena itu, dalam makalah ini topik yang akan dibahas adalah macam-macam teknik pengumpulan data dan analis data dalam penelitian kuantitatif, kualitatif dan pengembangan.

Dari topik pembahasan yang telah disebutkan di atas, dapat diketahui tujuan penulisan makalah. Tujuan penulisannya yaitu mengetahui macam-macam teknik pengumpulan data dan mengetahui teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif, kualitatif, dan pengembangan.

Pengertian Definisi Operasional (skripsi dan tesis)

 

Menjelaskan definisi operasional variabel dalam penelitian merupakan hal yang sangat penting guna menghindari penyimpangan atau kesalah pahaman pada saat pengumpulan data. Penyimpangan muncul dalam bentuk “bias”. Penyimpangan dapat disebabkan oleh pemilihan/penggunaan instrumen (alat pengumpul data) yang kurang tepat atau susunan pertanyaan yang tidak konsisten. Namun, bukan berarti bahwa semua variabel perlu diberikan definisi operasional Variabel yang sudah jelas, mempunyai pengertian dan interpretasi yang sama, misalnya jenis kelamin (sex”), tidak perlu diberikan definisi operasional.

Agar variabel dapat diukur dengan menggunakan instrumen atau alat ukur, maka variabel harus diberi batasan atau definisi yang operasional atau “Definisi Operasianal Variabel”. Definisi Operasional ini penting dan diperlukan agar pengukuran variabel atau pengumpulan data (variabel) itu konsisten antara sumber data (responden) yang satu dengan responden yang lain. Disamping variabel harus di definisi operasionalkan yang juga perlu dijelaskan cara atau metode pengukuran, hasil ukur atau kategorinya, serta skala pengukuran yang digunakan. Untuk memudahkan, biasanya definisi operasional itu disajikan dalam bentuk “matriks” yang terdiri dari kolom-kolom:

Beberapa Bentuk Desain Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Menurut Prof. Dr. Sugiyono dalam bukunya “Metode Penelitian Pendidikan” tahun 2010, beliau membagi desain penelitian ekperimen kedalam 3 bentuk yakni pre-experimental designtrue experimental design, dan quasy experimental design.

1. Pre-experimental design

Desain ini dikatakan sebagai pre-experimental design karena belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Rancangan ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan yang ada dalam penelitian. Bentuk Pre- Experimental Designs ini ada beberapa macam antara lain :

a.      One – Shoot Case Study (Studi Kasus Satu Tembakan)

Dimana dalam desain penelitian ini terdapat suatu kelompok diberi treatment (perlakuan) dan selanjutnya diobservasi hasilnya (treatment adalah sebagai variabel independen dan hasil adalah sebagai variabel dependen). Dalam eksperimen ini subjek disajikan dengan beberapa jenis perlakuan lalu diukur hasilnya

b. One – Group Pretest-Posttest Design (Satu Kelompok Prates-Postes)

Kalau pada desain “a” tidak ada pretest, maka pada desain ini terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.

c.       Intact-Group Comparison

Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi dua yaitu; setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan).

2. True Experimental Design

Dikatakan true experimental (eksperimen yang sebenarnya/betul-betul) karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental adalah bahwa, sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random (acak) dari populasi tertentu. Jadi cirinya adalah adanya kelompok kontrol dan sampel yang dipilih secara random. Desain true experimental terbagi atas :

a. Posstest-Only Control Design

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol.

Langkah-langkah Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi, (2003) pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti beriku :

  1. Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
  2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
  3. Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
  4. Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:

a)   Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen.
b)   Menentukan cara mengontrol.
c) ` Memilih rancangan penelitian yang tepat.
d)   Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian.
e)   Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.
f)   Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan.

g)   Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

  1. Melaksanakan eksperimen.
  2. Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
  3. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan.
  4. Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
  5. Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan.

Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimen, yaitu :

  1. Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimen diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (acak).
  2. Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimen.
  3. Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
  4. Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimen, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimen yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
  5. Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan menggeneralisasikan pada kondisi yang sama.
  6. Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

Selain itu, dalam penelitian eksperimen ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian ini, yaitu kontrol, manipulasi, dan pengamatan. Variabel kontrol disini adalah inti dari metode eksperimental, karena variabel control inilah yang akan menjadi standar dalam melihat apakah ada perubahan, maupun perbedaan yan terjadi akibat perbedaan perlakuan yang diberikan. Sedangkan manipulasi disini adalah operasi yang sengaja dilakukan dalam penelitian eksperimen. Dalam penelitian ini, yang dimanipulasi adalah variabel independent dengan melibatkan kelompok-kelompok perlakuan yang kondisinya berbeda. Setelah peneliti menerapkan perlakuan eksperimen, ia harus mengamati untuk menentukan apakah hipotesis perubahan telah terjadi (Observasi).

Pengertian Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen merupakan suatu penelitian yang menjawab pertanyaan “jika kita melakukan  sesuatu pada kondisi yang dikontrol secara ketat maka apakah yang akan terjadi?”. Untuk mengetahui apakah ada perubahan atau tidak pada suatu keadaan yang di control secara ketat maka kita memerlukan perlakuan (treatment) pada kondisi tersebut dan hal inilah yang dilakukan pada penelitian eksperimen.  Sehingga penelitian eksperimen dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiono : 2010).

Menurut Solso & MacLin (2002), penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang di dalamnya ditemukan minimal satu variabel yang dimanipulasi untuk mempelajari hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, penelitian eksperimen erat kaitanya dalam menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan, maupun perbedaan perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakuan

Jenis Validitas (skripsi dan tesis)

Campbell & Stanley (1963) membagi validitas eksperimen menjadi dua, yakni validitas internal dan validitas eksternal sedangkan pengarang buku ini Cook & Campbell (1979) mengembangkan pendapat itu dengan membagi validitas eksperimen menjadi 4 yaitu (1) validitas konklusi statistik, (2) validitas internal, (3) validitas konstruk, dan (4) validitas eksternal.

Empat tipe validitas:
1. Validitas kesimpulan Statistik.
Kesimpulan mengenai apakah masuk akal untuk menduga adanya kovariansi antara perlakuan dan efek dalam level alpha dan varians tertentu. Ancaman terhadap validitas kesimpulan statistik adalah ancaman dalam mengambil kesimpulan yang valid mengenai apakah dua variabel covary, (a) Low statisticalpower, (b) Pelanggaran terhadap asumsi uji statistik, (c) Fishing and error rate problem, (d) reliabilitas alat ukur, (e) reliabilitas implementasi perlakuan, (f) random irrelevancies in the experimental setting, (g) random heterogeneity of respondents.
2. Validitas Internal.
 Validitas internal menunjukkan apakah ada hubungan kausal antara dua variabel, apakah hubungan kausal itu berasal dari variabel yang dimanipulasi (perlakuan) ke variabel yang diukur. Ancaman terhadap validitas internal: (a) Sejarah, menunjukkan perubahan perilaku oleh karena peristiwa yang terjadi diantara prestes dan postes dan bukan kerena perlakuan, (b) maturasi, menunjukkan perubahan perilaku oleh karena subjek eksperimen bertambah dewasa, bijak, kuat, lebih berpengalaman antara pretes dan postes dan bukan karena perlakuan, (c) Testing, menunjukkan efek karena pengulangan pengukuran perilaku tertentu. Pengulangan akan membuat subjek eksperimen lebih mengenal tesnya sehingga performans akan meningkat, (d) Instrumentasi, menunjukkan perubahan perilaku karena perubahan yang dialami instrumen antara pretes dan postes dan bukan karena efek perlakuan. Misalnya, pengamat (yang melakukan observasi) perilaku berubah menjadi lebih berpengalaman antara pretes dan postes, (e) regresi statistik, menunjukkan jika kelompok diberi pretes dan alat ukur tidak reliabel, maka skor pretes tinggi akan menjadi skor postes lebih rendah dan sebaliknya. Perubahan perilaku itu bukan karena efek perlakuan, (f) seleksi, menunjukkan efek yang diakibatkan karena perbedaan jenis subjek antara kelompok eksperimen yang satu dengan yang lain. Dalam eksperimen kuasi ancaman seleksi sangat sering terjadi sebab kelompok yang berbeda akan mendapatkan perlakuan berbeda dan bukan kelo mpok yang secara probabilistik setara seperti halnya dalam rancangan eksperimen random, (g) mortalitas menunjukkan efek yang disebabkan oleh jenis subjek yang berbeda yang mengundurkan diri dari kelompok perlakuan selama eksperimen berlangsung. Hasil eksperimen merupakan artifak seleksi sebab kelompok eksperimen terdiri dari subjek yang berbeda pada saat postes, (h) Interaksi dengan seleksi seperti seleksi-maturasi, seleksi-sejarah, dan seleksiinstrumentasi, (i) difusi atau imitasi perlakuan. Jika kelompok-kelompok eksperimen, karena secara fisik dekat, saling dapat berkomunikasi sehingga satu kelompok dapat belajar informasi dari kelompok lain, (j) Penyamaan perlakuan sebagai imbangan. Jika perlakuan memberikan manfaat positif pada kelompok eksperimen, maka administrator memberi bagi kelompok kontrol usaha untuk menyamakan dengan kelompok eksperimen, (k) Persaingan kompensatoris oleh responden yang menerima perlakuan kurang bermanfaat. Jika penugasan subjek atau unit kedalam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol diumumkan secara publik maka persaingan akan muncul. Kelompok kontrol akan termotivasi mengurangi perbedaan yang diharapkan. Saretsky (1972) menyebut gejala ini “Efek John Henry” untuk menghormati seorang pengebor baja yang mengetahui akan dibandingkan performansinya dengan pengebor uap menjadi bekerja sangat keras dan mengungguli pengebor uap sehingga berakhir dengan kematian, (l) Demoralisasi responden yang mendapatkan perlakuan yang kurang menguntungkan. Kelompok yang mendapat perlakuan kurang menguntungkan atau kelompok kontrol tanpa perlakuan akan memperlihatkan rasa permusuhan dandemoralisasi. Misalnya dalam industri kelompok kontrol akan mengurangi produksi dan keuntungan perusahaan.
3. Validitas konstruk sebab putatif (yang diduga) dan efek
Validitas konstruk berkaitan dengan problem ”pencemaran” (confounding). Pencemaran berarti bahwa apa yang ditafsirkan peneliti sebagai sebuah hubungan kausal antara konstruk teoretis A dengan konstruk teoretis B oleh peneliti lain ditafsirkan sebagai sebuah hubungan kausal antara konstruk A dengan Y atau antara X dengan B. Ancaman terhadap validitas konstruk sebab putatif dan efek akan menggambarkan operasi-operasi yang gagal untuk memasukkan semua dimensi dari sebuah konstruk atau operasi-operasi yang mema sukkan dimensi yang tidak relevan dengan konstruk sasaran. Ancaman-ancaman itu misalnya (a) pernyataan praoperasional yang tidak memadai sebuah konstruk. Pernyataan yang tepat tentang konstruk sangat vital bagi validitas konstruk oleh karena pernyataan itu akan menyesuaikan manipulasi dan pengukuran dengan definisi yang timbul dari pernyataan tersebut, (b) mono-operation bias, (c) Mono-method bias, (d) Hypothesisguessing within experimental conditions, (e) Evaluation apprehension, (f) Harapan eksperimenter
 4. Validitas Eksternal
 Validitas eksternal menunjuk pada (a) menggeneralisasikan kepada individu, seting, dan waktu sasaran tertentu, serta (b) menggeneralisasikan kepada individu, seting dan waktu lain. Ancaman terhadap validitas eksternal (a) interaksi seleksi dengan perlakuan (b) interaksi seting dengan perlakuan (c) interaksi sejarah dengan perlakuan.

Kontrol Dalam Eksperimen (skripsi dan tesis)

Konsep kontrol dalam eksperimen dipakai dalam berbagai pengertian, yakni (1) Kemampuan mengendalikan situasi dimana eksperimen dilakukan agar pengaruh dari luar (extraneous) dapat dihilangkan. Misal, ruangan dibuat kedap suara, tabung uji dibuat steril dsb. Dalam ilmu sosial, laboratorium dapat melakukan pengontrolan faktor eksternal, namun terkadang ada penelitian yang mengharuskan dilakukan di seting lapangan. Pengontrolan terhadap variabel luar dapat dilakukan di seting kelas dan penjara namun agak lebih sulit melakukan pengontrolan dalam seting rumah atau kampung. Permasalahan utama adalah jumlah pengontrolan dan bukan bisa dikontrol atau tidak sebab tidak ada sebuah lingkungan yang mampu dikontrol total, (2) Kemampuan menentukan unit mana yang mendapatkan perlakuan tertentu pada waktu tertentu, (3) Berkaitan dengan peniadaan ancaman terhadap kesimpulan yang valid (a) dengan cara merancang dan menerapkan prosedur-prosedur riset. Pengertian ini diwakili oleh pernyataan peneliti seperti: “Kami akan mengontrol pengetahuan responden mengenai hipotesis eksperimen dengan cara memberikan kepada responden hipotesis palsu” atau (b) dengan mengukur ancaman potensial kemudian menggunakan pengukuran itu dalam analisis data untuk menghilangkan ancaman tadi. Pengertian ini tercermin dalam pernyataan “Kami berusaha mengendalikan kemungkinan responden yang diberi perlakuan lebih berpengalaman daripada kelompok tanpa perlakuan dengan mengukur jumlah pengalaman yang dimiliki masing-masing dan mengendalikannya dalam analisis statistik

Tipe Dalam Eksperimen Kuasi (skripsi dan tesis)

Tipe eksperimen kuasi secara tradisional dibagi menjadi (a) Rancangan kelompok tak setara (Nonequivalent group designs), biasanya perilaku kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diukur sebelum dan sesudah perlakuan, (b) interrupted time-series design, biasanya efek perlakuan disimpulkan dari pembandingan pengukuran perilaku yang dilakukan beberapa kali sebelum perlakuan dengan pengukuran perilaku yang dilakukan beberapa kali sesudah perlakuan.

Pengertian Kuasi Eksperimen (skripsi dan tesis)

Stouffer (1950) dan Campbell (1957) merumuskankan eksperimen kuasi (quasiexperiment) sebagai eksperimen yang memiliki perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen, namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan pembandingan dalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan. Proses perbandingan tergantung kepada kelompok pembanding tak setara yang berbeda dalam banyak hal dan bukan karena adanya perlakuan. Tugas peneliti dalam menafsirkan hasil rancangan eksperimen kuasi adalah memisahkan efek perlakuan dari efek yang disebabkan ketidaksetaraan awal diantara unit-unit didalam masing-masing kelompok perlakuan. Perhatian utama penelitian hanya pada efek perlakuan. Untuk memperoleh pemisahan efek ini, peneliti harus menyatakan ancaman khusus terhadap validitas kesimpulan yang ditiadakankan oleh penugasan acak dan peneliti harus berusaha memecahkan permasalahan ini. Eksperimen kuasi perlu secara eksplisit menyatakan faktor-faktor kausal tak relevan yang ”tersembunyi” didalam ceteris paribus penugasan acak.

Validitas Eksternal Riset (skripsi dan tesis)

 Eksperimen Validitas eksternal menunjukkan bagaimana hasil suatu eksperimen dapat diterapkan kepada dan antar individu yang berbeda, setting yang berbeda, dan waktu yang berbeda. Tiga kategori validitas eksternal yaitu:
1. Validitas populasi (population validity), yaitu kemampuan untuk menggeneralisasi dari sampel eksperimen ke populasi yang lebih luas (yaitu populasi yang daripadanya sampel diambil).
2. Validitas ekologikal (ecological validity) yaitu kemapuan untuk menggeneralisasi hasil riset antar setting atau antar kondisi lingkungan.
 3. Validitas waktu (time validity), menunjukkan pengaruh waktu terhadap hasil eksperimen. Beberapa hal yang dapat mengancam validitas waktu, meliputi: variasi musiman, variasi siklis dalam diri individu, dan variasi dalam karakteristik individu sebagai fungsi dari waktu (personological variation)

Teknik-teknik untuk Mencapai Konstansi Dalam Eksperimen (skripsi dan tesis)

 

Berbagai teknik yang dapat diterapkan untuk mengontrol extraneous variables, adalah:
 1. Randomisasi (Randomization) Randomisasi yaitu suatu teknik kontrol yang menyamakan (equates) kelompok-kelompok subyek eksperimen dengan cara menjamin setiap subyek mempunyai kesempatan (chance) yang sama untuk ditempatkan pada kelompok manapun. Randomisasi ini menyediakan kontrol atas berbagai sumber variasi (baik yang diketahui maupun tidak diketahui) dengan cara mendistribusikannya secara merata (equally) antar seluruh kondisi eksperimental, sehingga pengaruh extraneous variables dapat dipertahankan konstan.
2. Matching (pencocokan) Matching merupakan suatu teknik kontrol yang kurang kuat dalam hal kemampuannya untuk menyamakan kelompok-kelompok subyek pada semua extraneous variables. Akan tetapi teknik matching ini mampu meningkatkan sensitivitas eksperimen dan menyediakan kontrol atas extraneous variables yang dicocokkan (di-match).
3. Counterbalancing Counterbalancing merupakan teknik yang digunakan untuk mengontrol efek urutan (sequencing effects). Sequencing effects ini dapat berupa order effects (yang disebabkan karena performa subyek dalam satu treatment dipengaruhi oleh kondisi/treatment sebelumnya).
 4. Kontrol terhadap subject effects
5. Kontrol terhadap experimenter effects

Kontrol dalam Eksperimen (skripsi dan tesis)

Kontrol dalam eksperimen berkaitan dengan mempertahankan validitas internal, yaitu kondisi bahwa efek yang teramati hanya disebabkan sematamata oleh perlakuan eksperimental. Untuk mencapai validitas internal, pengaruh dari extraneous variables (yaitu berbagai variabel selain variabel independen yang dapat mempengaruhi variabel dependen) harus dikontrol. Kontrol dalam eksperimen mempunyai arti mempertahankan agar pengaruh dari extraneous variables tetap konstan antar berbagai level variabel independen. Hal ini dilakukan karena mengeliminasi pengaruh extraneous variables secara total (kondisi ideal) pada banyak kasus tidak mungkin dilakukan. Mempertahankan kekonstanan pengaruh extraneous variables juga merupakan hal yang sulit bagi beberapa variabel, karena variabel-variabel demikian bervariasi selama proses eksperimen dilakukan. Hal-hal yang harus dikontrol dalam eksperimen adalah:
1. Histori (history), yaitu berbagai kejadian selain variabel independen yang terjadi di antara pretest (observasi/pengukuran awal) dan posttest (observasi/pengukuran akhir) variabel dependen. Atau dapat dikatakan juga bahwa histori adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi antara periode sebelum tes (pretest) dengan sesudah tes (posttest) yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. Selama eksperimen dilakukan, subyek mendapat treatmen atau manipulasi. Akan tetapi, peristiwa lain dapat terjadi selama pemberian treatmen tersebut.
2. Maturasi (maturation), yaitu berbagai kondisi internal individu subyek eksperimen yang berubah dengan berlalunya waktu. Atau dapat dikatakan bahwa maturasi adalah efek waktu yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Karena waktu yang berlalu, maka subyek dapat berubah, misalnya perilaku subyek berubah menjadi gusar, bosan, lelah, dan lain sebagainya.
 3. Instrumentasi (instumentation), yaitu perubahan yang terjadi sebagai fungsi dari pengukuran variabel dependen. Instrumentasi adalah efek dari pergantian instrumen pengukur atau pengamat di eksperimen yang dapat memberikan hasil penelitian yang berbeda. Pergantian pengamat (observer) juga dapat mengganggu hasil penelitian, karena pengamat yang berbeda dapat memberikan hasil pengamatan yang berbeda yang tidak konsisten. Sebaliknya, pengamat yang tidak pernah diganti untuk beberapa pengamatan juga dapat menggangu hasil penelitian karena pengamat tersebut bosan, lelah, dan penurunan mental lainnya
. 4. Statistical regression, yaitu perubahan yang dapat diatribusikan kepada kecenderungan nilai-nilai (skor) yang sangat tinggi atau sangat rendah terhadap mean.
 5. Selection, yaitu perubahan akibat prosedur seleksi yang berbeda digunakan dalam menempatkan subyek-subyek eksperimen ke dalam berbagai kelompok.
 6. Mortality, yaitu perubahan akibat “hilang’nya subyek diferensial dari berbagai kelompok komparasi.
7. Subject effect, yaitu perubahan dalam performa subyek yang dapat diatribusikan kepada (disebabkan oleh) motivasi atau sikap subyek, misalnya positive self-presentation (yaitu motivasi subyek untuk memberi respon dalam cara yang mempresentasikan diri mereka secara paling positif). 8. Experimenter effect, yaitu perubahan dalam performa subyek yang diakibatkan oleh experimenter (peneliti). Hal ini dapat muncul dalam dua cara yaitu:
a. Experimenter attributes, yaitu karakteristik fisik dan psikis dari peneliti (experimenter) yang dapat menimbulkan respon yang berbeda pada subyek.
b. Experimenter expectancies, yaitu pengaruh dari ekspektasi peneliti mengenai hasil eksperimen.
9. Sequencing, yaitu perubahan dalam performa subyek yang dapat diatribusikan kepada fakta bahwa subyek berpartisipasi dalam lebih dari satu treatment.
10. Subject sophiscation, yaitu perubahan dalam performa subyek sebagai fungsi dari sophistication atau kebiasaan (familiarity) dengan prosedur-prosedur eksperimental

Variabel-variabel dalam Eksperimen (skripsi dan tesis)

 

1. Variabel Independen

Variabel independen dalam eksperimen adalah variabel yang diubahubah atau dimanipulasi oleh peneliti dalam suatu range yang telah ditentukan. Ada dua syarat yang harus ada untuk suatu variabel dapat dinyatakan sebagai variabel independen, yaitu:

– Variasi. Suatu variabel independen harus dapat dimanipulasi. Beberapa cara untuk memperoleh variasi dalam variabel independen yaitu:

a. Metode presence versus absence (yaitu satu kelompok mendapat treatment, sedangkan kelompok lain tidak mendapat treatment).

b.Membuat jumlah yang berbeda-beda (dari variabel independen tersebut) untuk tiap-tiap kelompok. c. Memvariasi jenis variabel independen.

– Kontrol atas variasi. Variasi yang terjadi harus di bawah kontrol peneliti. Terdapat dua langkah konkrit untuk memperoleh variasi:

– Manipulasi eksperimental (experimental manipulation), yaitu suatu penyesuaian terkontrol (oleh peneliti) atas variabel independen. Dua cara yang dapat dilakukan untuk memanipulasi secara eksperimental yaitu: a. manipulasi instruksi, yaitu memvariasi variabel independen dengan cara memberikan instruksi yang berbeda-beda untuk subyek eksperimen.

b. manipulasi kejadian, yaitu memvariasi variabel independen dengan cara mengubah kejadian-kejadian yang dialami subyek eksperimen.

– Manipulasi terukur (measured manipulation), yaitu memvariasi variabel independen dengan cara memilih subyek-subyek yang berbeda dalam jumlah atau jenis kondisi internal yang terukur. Asumsi yang mendasari manipulasi ini adalah bahwa tiap-tiap individu mempunyai sejumlah variabel personality. Dalam menentukan konstruk variabel independen, peneliti harus merumuskan definisi operasional (atau experimental operations) variabel independen tersebut. Constructing ini akan lebih sulit jika variabel independennya bersifat abstrak. Setelah merumuskan definisi operasional, peneliti perlu menguji validitas konstruk (construct validity) dari rumusan definisi operasional tersebut. Mengenai jumlah variabel independen dalam eksperimen, secara teori dan statistik  tidak ada batasan. Tetapi secara praktis ada batasan jumlah variabel independen ini. Jumlah variabel independen yang terlalu banyak akan menyulitkan subyek eksperimen maupun peneliti.

2. Variabel Dependen

Variabel dependen dalam eksperimen adalah variabel yang mengukur dampak dari variabel independen. Kriteria terpenting dalam memilih variabel dependen adalah sensitivitasnya terhadap efek/akibat dari variabel independen. Reliabilitas dan validitas variabel dependen perlu diperhatikan. Reliabilitas ditetapkan dengan menentukan konsistensi respon. Validitas ditunjukkan dengan apakah variabel dependen mengukur konstruk yang sebenarnya diukur

Identifikasi Masalah dan Pengembangan Hipotesis Dalam Eksperimen (skripsi dan tesis)

Tahap pertama dalam riset eksperimen adalah menemukan topik penelitian. Beberapa sumber ide penelitian eksperimen antara lain: teori, kejadian sehari-hari, isu-isu praktis, atau riset terdahulu. Setelah topik penelitian ditentukan, langkah berikutnya adalah mereview literatur kemudian merumuskan masalah penelitian. Masalah penelitian didefinisikan sebagai suatu kalimat tanya mengenai hubungan antara dua atau lebih variabel. Tiga kriteria perumusan masalah yang baik, yaitu:   1. Menunjukkan relasi variabel. 2. Dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. 3. Dapat diuji secara empiris. Pertanyaan penelitian dalam eksperimen sebaiknya cukup spesifik. Manfaat yang dapat diperoleh dari pertanyaan spesifik adalah: 1. Membantu peneliti memahami masalah penelitian. 2. Membantu peneliti menentukan berbagai item desain penelitian, misalnya subyek eksperimen, instrumen, ukuran. Setelah pertanyaan penelitian dirumuskan, langkah berikutnya adalah mengembangkan hipotesis.

Jenis Metode Eksperimen (skripsi dan tesis)

Berdasarkan settingnya, riset eksperimen dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu: a. Eksperimen lapangan, yaitu riset eksperimen yang dilaksanakan dalam setting kehidupan nyata (real-life). b. Eksperimen laboratorium, yaitu eksperimen yang dilakukan dalam laboratorium yang sangat terkontrol. Eksperimen laboratorium mempunyai keunggulan lebih banyak kontrol, tetapi kelemahannya adalah lebih artifisial.

Keunggulan dan Kelemahan Eksperimen (skripsi dan tesis)

Keunggulan Eksperimen:

• Validitas internal tinggi
• Peneliti dapat memanipulasi variabel independen •
 Peneliti dapat mengendalikan pengaruh variabel extraneous
 • Bisa direplikasi
Kelemahan Eksperimen:
• Validitas eksternal rendah
• Setting penelitian yang artifisial
• Generalisasi rendah
 • Terbatas untuk masalah yang sedang atau segera dihadapi
 • Masalah etika

Tujuan Eksperimen (skripsi dan tesis)

Tujuan Eksperimen:

 • Tujuan jangka pendek eksperimen adalah menguji hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, sedangkan tujuan jangka panjang eksperimen adalah untuk memahami hukum dasar keperilakuan. • Dalam jangka pendek, eksperimen harus dapat memenuhi validitas internal; yaitu menetapkan hubungan kausal antara variabel independen dan variabel dependen. • Dalam jangka panjang, validitas eksternal harus dapat dicapai; yaitu hasil eksperimen harus dapat diterapkan lintas individu, latar, dan waktu

Perbedaan Eksperimen dan Eksperimen Kuasi (skripsi dan tesis)

Eksperimen atau sering disebut dengan eksperimen betulan (true experiment) berbeda dengan eksperimen kuasi (quasi experiment). Secara umum perbedaannya adalah sebagai berikut:  Eksperimen betulan dilakukan dengan memanipulasi secara eksplisit terhadap satu atau lebih variabel independen dan membagi subyek ke dalam grup eksperimen dan grup kontrol. Sebaliknya untuk eksperimen kuasi, data yang digunakan adalah ex post facto yaitu data yang berasal dari aktivitas atau kejadian yang sudah terjadi yang tidak diintervensi oleh peneliti. Untuk eksperimen betulan, metode randomisasi (randomization) digunakan untuk mengurangi bahkan menghilangkan pengaruh variabel-variabel ekstrani (extraneous variables). Randomisasi dilakukan dengan memilih subyek secara random dari populasinya. Randomisasi hanya dapat dilakukan jika peneliti mempunyai kontrol yang penuh untuk memanipulasi variabel-variabel independen. Cara untuk mengurangi atau menghilangkan variabel-variabel ekstrani ini tidak dapat dilakukan untuk riset yang variabel-variabel di lingkungan nyatanya yang tidak dapat diobservasi dan tidak dapat dimanipulasi.Untuk eksperimen kuasi, randomisasi tidak dapat dilakukan.

Penelitian Cohort (skripsi dan tesis)

Penelitian cohort merupakan penelitian epidemiologis non eksperimental yang mengkaji antara variable independen (faktor resiko) dan fariabel dependen (efek kejadian atau penyakit). Pendekatan yang digunakan pada rancangan penelitian ini adalah pendekatan waktu secara longitudinal. Oleh karena itu, penelitian kohort ini disebut juga sebagai penelitian prospektif. Peneliti yang menggunkan rancangan ini mengobservasi variable independen (faktor resiko ) terlebih dahulu, kemudian subjek diikutii hingga priode waktu tertentu untuk melihat pengaruh variable independen terhadap variable dependen (kejaidan atau penykit yang diteliti) (Nursalam, 2003).

 

Pre Experimental Design (skripsi dan tesis)

Rancangan ini merupakan rancangan penelitian eksperimen yang  paling lemah dan tidak digunakan untuk membuktikan kausalitas. Pre experimental design terdiri atas one shot case study, pretest-pretest design dan static group comparison.

One shot case study

Penelitian ini dilakukan dengn memberikan intervensi/perlakuan untuk kemudian dilihat dampaknya atau pengaruhnya /hasil pengamatan seperti penelitian berikut : “Pengaruh PKMRS terhadap Tingkat Kepatuhan Kontrol
.” Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah, subjek diberikan penyuluhan tentang kesehatan masyarakat, kemudian dilihat dampaknya terhadap tingkat kepatuhan control.

Pre test-post test design

Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan pretest (pengamatan awal) terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi, Setelah diberikan intervensi, kemudian dilakukan kembali posttest (pengamatan akhir).

Static group comparison

Rancangan ini merupakan rancangan preeksperimental dengan cara menmbah kelompok control. Caranya adalah pada kelompok perlakuan setelah diberikan perlakuan, lalu dilakukan pengamatan, sedangkan pada kelompok control hanya dilakukan pengamatan saja.

Kelemahan desain preexperimental ini adlah akan terdapat bnyak variable-variabel luar yang berpengaruh dan sulit dikontrol sehingga tingkat validitas akan berkurang atau akan menyebabkan hasil intervensi yang di dapat kurang akurat.

True Experimental Design (Desain Eksperimen Murni) (skripsi dan tesis)

True experimental design merupakan jenis rancangan penelitin yang mempunyai ketelitian tinggi karena sampelnya dipilih secara acak dan ada kelompok kontrolnya. Pada penelitian ini semua variable luar dapat dikontrol sehingga rancangan ini dapat dikenal dengan experiment yang betul-betul experiment.

Ada tiga jenis true experimental design, yakni 1) randomized pretest-posstest control group design, 2) randomized posstest only control design, 3) solomom four group design.

Randomized Pretest-Posstest Control Group Design

Model rancangan ini adalah ada dua kelompok yang dipilih secara acak, lalu diberi pretest untuk mencari perbedaan dengan kelompok control terhadap eksperimen yang digunakan.

Randomized Posstest Only Control Design

Cara yang digunakan untuk model rancangan ini adalah ada dua kelompok yang dipilih secara acak, kemudian satu kelompk diberi perlakuan, sedangkan yang lainnya tidak diberi perlakuan dan kemudian langsung diamati atau diukur.

Solomom Four Group Design

Cara yang digunakan dalam rancangan ini adalah mengambil sampel yang telah diacak sebelumnya, kemudian dibagi dalam empat kelompok, kelompok pertama dilakukan observasi/pengamatan, kemudian diberikan perlakuan lalu diukur/diobservasi. Pada kelompok kedua dilakukan observasi awal tanpa perlakuan kemudian diukur/diamati. Untuk kelompok ketiga langsung diberi perlakuan dan sesudahnya dilakukan pengamatan, sedangkan pada kelompok keempat langsung dilakukan pengamatan.

Quasy Experimental Design (Desain Eksperimen Semu) (skripsi dan tesis)

Rancangan ini merupakan bentuk desain eksperimen yang lebih baik validitas internalnya daripada rancangan preeksperimental dan lebih lemah dari true experimental. Desain ini terdiri atas time series design, nonequivalent control group design, equivalent time sampel design, dll.

Time Series Design

Dalam rancangan ini, pada sampel penelitian, sebelum dilaksanakannya perlakuan dilakukan observasi beberapa kali dan sesudah perlakuan juga dilakukan beberapa kali observasi.

 Nonequivalent Control Group Design

Sampel pada penelitian ini diobservasi terlebih dahulu sebelum diberi perlakuan, kemudian setelah diberikan perlakuan sampel tersebut diobservasi kembali.

Equivalent Time Sampel Design

Sampel penelitian dipilih dalam rancangan ini adalah dua sampel yang ekivalen waktunya. Sampel A diberikan perlakuan X dan sampel B tidak diberikan perlakuan, keduanya kemudian diobservasi dan dilakuak secara berulang-ulang.