Uji Rang-Tanda (skripsi dan tesis)

Uji Rang-Tanda dicetuskan oleh Frank Wilcoxon pada tahun 1945 dan saat ini disebut sebagai uji rang-tanda Wilcoxon. Uji ini memanfaatkan baik tanda maupun besarnya selisih. Uji rang-tanda Wilcoxon digunakan untuk kasus dua sampel yang dependen bila skala ukur memungkinkan kita menentukan besar selisih yang terjadi, jadi bukan sekedar hasil pengamatan yang berbeda saja. Uji rang-tanda Wilcoxon cocok digunakan bila kita dapat mengetahui besarnya selisih antara pasangan-pasangan harga pengamatan X1 dan Y1 berikut arah selisih yang bersangkutan. Apabila kita dapat menentukan besarnya setiap selisih, maka kita dapat menetapkan peringkat untuk masing-masing selisih itu. Melalui penyusunan peringkat selisih – selisih inilah uji Wilcoxon memanfaatkan informasi tambahan yang tersedia.

Asumsi :

         Data untuk analisis terdiri atas n buah beda. D1 = Y1 – X1

         Sampel X dan sampel Y adalah Variabel- variable acak kontinyu dan beda X– Y1,  X-Y2…dst bersifat kontinyu pula.

         Hipotesis nol yang di uji menyatakan bahwa median perbedaan pasangan nilai pengamatan kedua sampel sama dengan nol.

Uji Tanda (skripsi dan tesis)

    Uji tanda digunakan untuk menguji hipotesis mengenai median populasi. Dalam banyak kasus prosedur nonparametrik, rataan digantikan oleh median sebagai parameter lokasi yang relevan untuk diuji.

Uji tanda juga mempunyai asumsi dimana asumsinya adalah distribusinya bersifat binomial. Binomial artinya mempunyai dua nilai. Nilai ini dilambangkan dengan tanda, yaitu positif dan negatif. Ini mengapa ia disebut uji tanda.

Uji tanda banyak digunakan karena uji ini paling mudah untuk dilakukan pengujiannya dan tidak memakan waktu yang lama. Pengerjaan pengujian ini terbilang cukup mudah. Apabila setiap nilai pengamatan memiliki nilai lebih besar dari nilai rataannya maka diganti dengan tanda (+). Sedangkan, apabila setiap nilai pengamatan memiliki nilai kurang dari nilai rataannya maka diganti dengan tanda (-). Dan, apabila nilai pengamatannya sama dengan nilai rataannya maka nilai pengamatan tersebut harus dibuang.

Pengujian uji tanda yang pertama dilakukan adalah menentukan hipotesis nolnya beserta dengan hipotesis tandingannya. Tentukan pula taraf nyatanya beserta nilai proporsi peubah binomial X-nya. Kemudian melakukan penghitungan  Z hitung (apabila jumlah sampel lebih dari 30) dengan nilai n merupakan jumlah data pengamatan setelah dibandingkan dengan nilai rataannya dan nilai x adalah jumlah data pengamatan dengan tanda (+). Dengan begitu nilai Z akan didapat dan nilai P (proporsi)nya dapat ditentukan. Keputusan Hakan ditolak apabila nilai P yang didapat lebih kecil atau sama dengan nilai taraf nyatanya.

Analisis Regresi (skripsi dan tesis)

Regresi adalah salah satu metode statistika yang berguna untuk memodelkan
fungsi hubungan antara variabel respon dengan variabel prediktor. Persamaan
matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai suatu variabel
respon dari nilai-nilai satu atau lebih variabel prediktor disebut persamaan regresi
(Walpole, 1995).

Statistika Deskriptif (skripsi dan tesis)

Statistika deskriptif merupakan metode-metode yang berkaitan dengan
pengumpulan dan penyajian data sehingga memberikan informasi yang berguna.
Metode ini bertujuan untuk menguraikan tentang sifat-sifat atau karakteristik dari
suatu keadaan dan membuat deksripsi atau gambaran yang sistematis dan akurat
mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat dari fenomena yang diselidiki. Contoh dari
penyajian data dalam statistika deskriptif adalah tabel, diagram, dan grafik
(Walpole, 1995).

Uji Mann-Whitney (Skripsi dan tesis)

Metode Mann-Whitney test digunakan untuk menguji dua perbedaan median dari dua sampel yang diambil secara independent, sampel-sampel random tersebut bisa diperoleh dari populasi-populasi yang berdistribusi normal atau tidak berdistribusi normal (Andi, Supangat, 2007). Penggunaan distribusi normal dan distribusi “t” ditunjukkan untuk menguji perbedaan antara 2 sampel mean yang membutuhkan asumsi-asumsi sebagai berikut:
 1. Dua macam sampel yang dipilih adalah bersifat independent random sampel.
2. Populasi asalnya harus berdistribusi normal serta memiliki varians yang sama.  Pada test tanda (Sign test) sebelumnya analisa tidak didasarkan pada pemenuhan kedua asumsi tersebut diatas, namun pada situasi tertentu dimana asumsi pertama dapat dipenuhi (kedua sampel bersifat independen) dan hanya asumsi mengenai normalitas masih diragukan, maka kita lebih baik menggunakan pengujian dengan metode Mann-Whitney yang lebih dikenal dengan U test. Hipotesis nol yang akan diuji adalah bahwa dua sampel independen diambil dari populasi-populasi yang mempunyai mean yang sama, sedangkan hipotesis alternatifnya menyatakan bahwa dua sampel independen diambil dari populasi-populasi yang mempunyai mean yang berbeda.
Bila pengujian dilakukan dengan satu sisi maka hipotesis alternatifnya menyatakan bahwa mean yang berasal dari suatu populasi tertentu adalah lebih besar atau lebih kecil dari mean populasinya. (Djarwanto, 1998) Asumsi yang digunakan pada uji Mann-Whitney : (Siegel, 1997)
1. Dua sampel berukuran n dan m harus independen.
2. Sampel dipilih secara acak.
3. Variabel diukur paling sedikit dalam skala ordinal.
 Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut (Djarwanto, 2003)
1. Gabungkan kedua sampel independen dan beri rangking pada tiap-tiap anggotanya mulai dari nilai pengamatan terkecil sampai nilai pengamatan terbesar. Untuk memudahkan dapat disusun bentuk array lebih dahulu. Apabila ada dua atau lebih nilai pengamatan yang sama, digunakan jenjang rata-rata.
2. Hitunglah jumlah rangking masing-masing bagi sampel pertama dan kedua dan notasikan dengan dan .
3. Untuk uji statistik U, kemudian dihitung: dari sampel pertama dengan pengamatan (2) atau sampel kedua dengan pengamatan
 4. Dari dua nilai U tersebut yang digunakan adalah nilai U yang lebih kecil. Nilai yang lebih besar ditandai dengan . Sebelum pengujian dilakukan perlu diperiksa apakah telah didapatkan U atau dengan cara membandingkannya dengan nilai . Bila nilainya lebih besar daripada nilai tersebut adalah dan nilai U dapat dihitung
 5. Bandingkan nilai U statistik dengan nilai U dalam tabel

Menentukan Besar Sampel (skripsi dan tesis)

Menurut Roscoe dalam buku Research Methods For Bussines (1992:253) memberikan saransaran tentang ukuran sampel sebagai berikut :
1. Ukuran sampel yang layak digunakan dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500.
2. Bila sampel dibagi dalam kategori (pria-wanita, pegawai negeri-swasta) maka jumlah anggota sampel setiap kategori minimal 30.
 3. Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariat (korelasi atau regresi ganda misalnya), maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya variabel penelitiannya ada 5 (independen + dependen) maka jumlah anggota sampel = 10 x 5 = 50.
4. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol maka jumlah anggota sampel masing-masing 10 s/d 20.
Detail mengenai ukuran sampel yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis metode yang digunakan, meskipun ketepatannya perlu digunakan metode statistika dalam menentukan jumlah sampel yang diambil. Pada umumnya untuk tahap awal ataupun untuk peneliti pemula, sampel yang diambil sekitar 10% dari total individu populasi yang diteliti (Sugiarto, 2001) sampel untuk metode yang digunakan. Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan besar sampel yang populasinya diketahui adalah dengan menggunakan metode Slovin.

Pemilihan Sampel dari Polulasi Secara Tidak Acak (Nonrandom atau Nonprobability Sampling) (skripsi dan tesis)

 Non probability sampling (penarikan sampel secara tak acak) dikembangkan untuk menjawab kesulitan yang ditimbulkan dalam menerapkan metode acak, terutama dalam kaitannya dengan pengurangan biaya dan permasalahan yang mungkin timbul dalam pembuatan kerangka sampel. Hasil dari non probability ini sering kali mengandung bias dan ketidaktentuan yang bisa berakibat buruk. Permasalahan yang muncul ini tidak dapat dihilangkan dengan hanya menambah ukuran sampelnya. Alasan inilah yang mengakibatkan keengganan para statistikawan untuk menggunakan metode ini. Teknik–teknik nonrandom terdiri atas 3 macam yaitu:
 1. Quota Sampling
Untuk teknik sampling ini biasanya digunakan data dari populasi yang berkaitan dengan kependudukan seperti: lokasi geografis, usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan. Quota sampling ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah tahapan di mana peneliti merumuskan kategori kontrol atau kuota dari populasi yang ditelitinya. Tahapan kedua adalah penentuan bagaimana sampel akan diambil dapat secara Convenience ( berdasarkan ketersediaan elemen dan kemudahan untuk mendapatkannya atau sampel diambil / terpilih karena sampel tersebut ada pada waktu dan tempat yang tepat ) atau judgment ( sampel diambil berdasarkan kriteria-kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti). Perbedaan antara judgment dengan quota sampling terletak pada adanya suatu batasan pada quota sampling bahwa sampel yang diambil harus sejumlah tertentu yang dijatah dari setiap subgroup yang telah ditentukan dari suatu populasi.
2. Sampling Kebetulan
Sampling kebetulan dilakukan apabila pemilihan anggota sampelnya dilakukan terhadap orang atau benda yang kebetulan ada atau dijumpai. Keuntungannya murah, cepat, dan mudah sedangkan kelemahannya adalah kurang reprensetatif.
3. Sampling Bertujuan
Teknik ini digunakan apabila anggota sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitiannya. Keuntungan menggunakan teknik ini adalah murah, cepat dan mudah serta relevan dengan tujuan penelitiannya. Kerugiannya adalah tidak representatif untuk mengambil kesimpulan secara umum

Jenis Dalam Teknik sampling random (Skripsi dan tesis)

Teknik sampling random terdiri atas empat macam dengan uraian seperti berikut ini (Husaini, Usman,1995):

1. Sampling Random Sederhana Ciri utama sampling ini ialah setiap unsur dari keseluruhan populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih. Caranya ialah dengan menggunakan undian, ordinal, tabel bilangan random, atau komputer. Keuntungannya ialah anggota sampel mudah dan cepat didapat. Kelemahannya ialah kadang-kadang tidak mendapatkan data yang lengkap dari populasinya.

 2. Sampling Bertingkat Sampling ini disebut juga dengan istilah teknik sampling berlapis, berjenjang. Teknik ini digunakan apabila populasinya heterogen atau terdiri atas kelompok-kelompok yang bertingkat. Penentuan tingkat berdasarkan karakteristik tertentu. Misalnya menurut usia, pendidikan, golongan dan sebagainya. Keuntungan menggunakan cara ini adalah anggota sampel yang diambil lebih representatif. Kelemahannya ialah lebih banyak memerlukan usaha pengenalan terhadap karakteristik populasinya.

 3. Sampling Kluster Sampling ini disebut juga sebagai teknik sampling daerah. Teknik sampling ini digunakan apabila populasi tersebar dalam beberapa daerah, propinsi, kabupaten, kecamatan dan seterusnya. Keuntungan menggunakan teknik ini ialah dapat mengambil populasi besar yang tersebar di berbagai daerah, pelaksanaannya lebih murah dan mudah dibandingkan dengan yang lainnya. Kelemahannya adalah jumlah setiap individu pada setiap pilihan tidak sama, ada kemungkinan penduduk suatu daerah berpindah ke daerah lain tanpa sepengetahuan peneliti, sehingga penduuduk tersebut mungkin menjadi anggota rangkap sampel penelitian.
 4. Sampling Sistematis Teknik ini sebenarnya adalah teknik random sampling sederhana yang dilakukan secara ordinal. Artinya anggota sampel dipilih berdasarkan urutan tertentu. Misalnya setiap kelipatan 5 atau 10 dari daftar pegawai di suatu kantor. Keuntungannya adalah  sangat mudah dan cepat. Kelemahannya adalah kadang-kadang kurang mewakili populasinya. 5. Sampling Proporsional Sampling proporsional yaitu sampel yang dihitung berdasarkan perbandingan.

Pemilihan Sampel dari Populasi Secara Acak (Random atau Probability Sampling) (skripsi dan tesis)

 

Dalam probability sampling, pemilihan sampel tidak dilakukan secara subyektif, dalam arti sampel yang terpilih tidak didasarkan semata-mata pada keinginan si peneliti, sehingga setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama (acak) untuk terpilih sebagai sampel. Dengan demikian diharapkan sampel yang terpilih dapat digunakan untuk menduga karakteristik populasi secara obyektif. Di samping itu, teori-teori probabilitas (peluang) yang dipakai dalam probability sampling memungkinkan peneliti untuk mengetahui bias yang muncul dan sejauh mana bias yang muncul tersebut menyimpang dari perkiraan. Selain itu untuk dapat menggunakan probability sampling, kita membutuhkan kerangka sampel yaitu suatu daftar dari unit-unit Universitas Sumatera Utara sampling dalam rangka untuk mendapatkan responden dengan peluang yang telah diketahui sebelumnya.

Teknik Pengumpulan Data (skripsi dan tesis)

 Teknik-teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara di antaranya (Husaini, Usman, 2006):
 1. Wawancara
Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitianPada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian
 2. Pengamatan
Selain wawancara, observasi juga merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kualitatif. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian
3. Angket
Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket yaitu suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertnyaanpertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Responden mempunyai kebiasaan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan presepsinya
. 4. Dokumentasi
 Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cenderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali infromasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoretik untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekadar barang yang tidak bermakna

Data Menurut Sumbernya (skripsi dan tesis)

Berdasarkan sumbernya, data dapat digolongkan menjadi: a. Data Internal dan data eksternal. Data internal adalah data yang bersumber dari suatu organisasi. Data eksternal adalah data yang bersumber dari luar organisasi. b. Data Primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui suatu survey lapangan dengan menggunakan metode pengumpulan data tertentu. Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh suatu lembaga pengumpul data dan dipublikassikan kepada masyarakat pengguna data. Data sekunder akan mempermudah dan mempercepat jalannya penelitian.

Data Menurut Dimensi Waktu (skripsi dan tesis)

Menurut dimensi waktu, data dapat digolongkan menjadi: a. Data runtut waktu (time-series), yaitu data yang secara kronologis disusun menurut waktu. Data runtut waktu digunakan untuk melihat perubahan dalam rentang waktu tertentu. Data runtut waktu dibedakan menjadi: data harian, data mingguan, data bulanan, data tahunan. b. Data silang tempat (cross-section), yaitu data yang dikumpulkan pada suatu titik waktu. Data silang tempat digunakan untuk mengamati perilaku dalam periode yang sama. Contoh: data sensus yang diterbitkan setiap 10 tahun sekali, data jumlah penduduk miskin pada setiap desa pada tahun tertentu.  c. Data pooling, yaitu kombinasi antara data runtut waktu dengan data silang tempat.

Data Menurut Jenisnya (skripsi dan tesis)

Menurut jenisnya, data terdiri dari data kuantitatif dan data kualitatif

a. Data Kuantitatif Data kuantitatif adalah data yang diukur dalam suatu skala numerik (angka). Data kuantitatif dapat dibedakan menjadi: 1. Data interval, yaitu data yang diukur dengan jarak diantara 2 titik pada skala yang sudah diketahui. Sebagai contoh: IPK mahasiswa (interval 0 hingga 4). 2. Data rasio, yaitu data yang diukur dengan suatu proporsi. Sebagai contoh: persentase jumlah pengangguran di propinsi Sumatera Utara, tingkat inflasi Indonesia pada tahun 2000.
 b. Data Kualitatif Data kualitatif adalah data yang tidak dapat diukur dengan skala numerik. Namun karena dalam statistik semua data harus dalam bentuk angka, maka data kualitatif umumnya dikuantifikasi agar dapat diproses. Kuantifikasi dapat dilakukan dengan mengklasifikasikan data dalam bentuk kategori. Data kualitatif dapat dibedakan menjadi 1. Data nominal, yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kategori. Sebagai contoh, industri di Indonesia oleh BPS digolongkan menjadi a. Industri rumah tangga, dengan jumlah tenaga kerjanya 1-4 orang, diberi kategori 1. b. Industri kecil dengan jumlah tenaga kerja 5-19 orang, diberi kategori 2. Angka yang menyatakan kategori ini menunjukkan bahwa posisi data sama derajatnya. Angka ini sekedar menunjukkan kode kategori yang berbeda. 2. Data ordinal yaitu, data yang dinyatakan dalam bentuk kategori, namun posisi data tidak sama derajatnya karena dinyatakan dalam skala peringkat. Sebagi contoh, tingkat kosmopolitan petani suatu daerah dikategorikan: a. Sangat rendah diberi kode 1 b. Rendah diberi kode 2 c. Sedang diberi kode 3 d. Tinggi diberi kode 4 e. Sangat tinggi diberi kode 5

Data (skripsi dan tesis)

Data adalah suatu bahan mentah yang jika diolah dengan benar melalui berbagai analisis dapat memberikan berbagai informasi sehingga dengan informasi tersebut kita dapat mengambil suatu keputusan. Data bisa berwujud suatu keadaan, gambar, suara, huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbol-simbol lainnya yang bisa kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu konsep. Data diperoleh dengan mengukur nilai satu atau lebih variabel dalam sampel atau populasi (Husaini, Usman, 2006).

Kekurangan statistik nonparametrik (skripsi dan tesis)

Kekurangan statistik nonparametrik dibandingkan dengan statistik parametrik ialah : 1. Bila digunakan pada data yang dapat diuji menggunakan statistika parametrik maka hasil pengujian menggunakan statistika nonparametrik menyebabkan pemborosan informasi.  2. Pekerjaan hitung menghitung (aritmetik) karena memerlukan ketelitian terkadang menjemukan. 3. Jika jumlah sampel besar, tingkat efisiensi nonparametrik relatif lebih rendah dibandingkan dengan metode parametrik. 4. Statistik nonparametrik tidak dapat digunakan untuk membuat prediksi (peramalan).

Kelebihan statistik nonparametrik (skripsi dan tesis)

Kelebihan statistik nonparametrik adalah sebagai berikut (Tavi, Supriana,2010): 1. Asumsi –asumsi dalam statistik nonparametrik relatif lebih longgar. Jika pengujian data menunjukkan bahwa salah satu atau beberapa asumsi yang mendasari uji statistik parametrik (misalnya mengenai sifat distribusi data), tidak terpenuhi, maka statistik nonparametrik lebih sesuai diterapkan dibandingkan statistik parametrik. 2. Perhitungan-perhitungan dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, sehingga hasil penelitian dapat dengan cepat diselesaikan. 3. Untuk memahami konsep-konsep dan metode-metodenya tidak memerlukan dasar matematika yang mendalam. 4. Uji-uji pada statistik nonparametrik dapat diterapkan jika kita menghadapi keterbatasan data yang tersedia, misalnya jika data telah diukurmenggunakan skala pengukuran yang lemah. 5. Efisiensi statistik nonparametrik lebih tinggi jika dibandingkan dengan metode parametrik untuk jumlah sampel yang sedikit. 6. Asumsi yang digunakan minimum sehingga mengurangi kesalahan penggunaan. 7. Dapat diterapkan pada skala peubah kualitatif (nominal dan ordinal).

Statistik Nonparametrik (skripsi dan tesis)

Metode nonparametrik pertama kali digunakan ketika J.Arbuthnot (1710) mengetahui bahwa pada tahun 1629 sampai tahun 1710 jumlah laki-laki yang diberi nama baptis di London melebihi jumlah wanita. Ia memandang hal ini sebagai kenyataan yang kuat bahwa probabilita dari setiap kelahiran bayi laki-laki atau wanita tidak tepat sama, suatu ketidakcocokan yang dianggap oleh Arbuthnot berasal dari sesuatu yang aneh (Sprent, 1991). Statistik nonparametrik disebut juga statistik bebas sebaran. Statistik nonparametrik tidak mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi. Statistik nonparametrik dapat digunakan pada data yang memiliki sebaran normal atau tidak. Statistik nonparametrik biasanya digunakan untuk melakukan analisis pada data nominal atau ordinal. Universitas Sumatera Utara Metode statistik nonparametrik merupakan metode statistik yang dapat digunakan dengan mengabaikan asumsi-asumsi yang melandasi penggunaan metode statistik parametrik, terutama yang berkaitan dengan distribusi normal. Nama lain yang sering digunakan untuk statistik nonparametrik adalah statistik bebas distribusi. Contoh regresi nonparametrik adalah uji tanda (sign test), uji jenjang bertanda wilcoxon, metode theil, metode deret fourer, uji square, uji mann-whitney dan lain- lain. Perbandingan statistik nonparametrik dan statistik parametrik. Kekurangan dan kelebihan setiap pemilihan prosedur pengujian data, apakah itu menggunakan nonparametrik atau parametrik memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing

Statistik Parametrik (skripsi dan tesis)

Suatu tes statistik parametrik adalah suatu tes yang modelnya menetapkan adanya syaratsyarat tertentu tentang parameter populasi yang merupakan sumber sampel penelitinya. Syarat-syarat itu biasanya tidak diuji dan dianggap sudah dipenuhi. Seberapa jauh makna hasil suatu tes parametrik bergantung pada validitas anggapan-anggapan tadi. Tes-tes parametrik juga menuntut bahwa skor-skor yang dianalisis merupakan hasil suatu pengukuran yang sedikitnya berkekuatan sebagai skala interval (Siegel, Sidney,1986:38). Pada statistik parametrik, pengujian hipotesis (uji parametrik) atau aturan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh asumsi-asumsi tertentu. Misalnya, distribusi probabilitas untuk pengambilan sampel dan bentuk varians. Asumsi untuk distribusi misalnya distribusi normal, binomial, distribusi F, dan distribusi student t. Asumsi untuk varians, misalnya memiliki varians yang homogen, seperti pada korelasi dan regresi. Asumsi-asumsi tersebut tidak diuji lagi sudah dianggap sudah terpenuhi (Iqbal, Hasan, 2002).

Uji Chi-Square (skripsi dan tesis)

Chi-square atau kai kuadrat (X2 ) merupakan salah satu jenis uji komparatif nonparametrik yang dilakukan pada dua variabel, dimana skala data kedua variabel adalah nominal atau ordinal. Dasar dari uji chi-square adalah membandingkan perbedaan antara frekuensi observasi dengan frekuensi ekspektasi atau frekuensi yang diharapkan. Frekuensi observasi adalah frekuensi yang nilainya didapat dari hasil percobaan. Sedangkan frekuensi harapan adalah frekuensi yang nilainya dapat dihitung secara teoritis. Perbedaan tersebut untuk meyakinkan apabila harga dari chi-square sama atau lebih besar dari suatu harga yang telah ditetapkan pada taraf signifikan tertentu. Uji chi-square sangat bermanfaat dalam melakukan analisis statistik apabila asumsi-asumsi yang 29 dipersyaratkan untuk penggunaan statistik parametrik tidak dapat terpenuhi. Syarat-syarat dalam menggunakan uji ini adalah frekuensi responden atau sampel yang digunakan besar, karena ada beberapa syarat dimana chi-square dapat digunakan yaitu: a. Tidak ada cell dengan nilai frekuensi kenyataan (actual count) sebesar nol. b. Apabila bentuk tabel kontingensi 2×2, maka tidak boleh ada satu cell saja yang memiliki frekuensi harapan (expected count) kurang dari lima. c. Sedangkan apabila bentuk tabel lebih dari 2×2, maka jumlah cell dengan frekuensi harapan yang kurang dari lima tidak boleh lebih dari 20%. Adapun kegunaan dari uji chi-square sebagai berikut: a. Untuk mengetahui ada tidaknya asosiasi antara dua variabel. b. Untuk mengetahui homogenitas antar-sub kelompok. c. Untuk uji kenormalan data dengan melihat distribusi data. d. Untuk menganalisis data yang berbentuk frekuensi. e. Untuk menentukan besar kecilnya korelasi dari variabel-variabel yang dianalisis. Bentuk distribusi chi-square tergantung dari derajat kebebasan atau yang biasa dilambangkan d.f. (degree of freedom). Chi-square memiliki masing-masing nilai derajat kebebasan yaitu distribusi (kuadrat standard normal) yang merupakan distribusi chi-square dengan d.f. = 1 dan nilai variabel tidak bernilai negatif. Karakteristik dari chi-square yaitu nilainya selalu positif karena nilai chi-square adalah nilai kuadra

Crosstabs (skripsi dan tesis)

Crosstabs atau tabulasi silang merupakan suatu metode analisis deskriptif yang berbentuk tabel, dimana menampilkan tabulasi silang atau tabel kontingensi yang digunakan untuk mengidentifikasi serta mengetahui apakah ada korelasi atau hubungan sebab-akibat antara satu variabel dengan variabel yang lainnya ke dalam suatu matriks. Hasil crosstabs disajikan ke dalam suatu tabel dengan variabel yang tersusun sebagai kolom dan baris serta berisi nilai frekuensi dan persentase. Tabel yang dianalisis pada crosstabs ini adalah hubungan antara variabel dalam baris dengan variabel dalam kolom. Penyajian data pada umumnya adalah data kualitatif. Ciri dari penggunaan crosstabs yaitu data input yang pada umumnya berskala nominal atau ordinal. Pembuatan crosstabs dapat disertai dengan pengolahan atau perhitungan tingkat keeratan hubungan (asosiasi) antar variabel pada crosstabs. Alat statistik yang sering digunakan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara baris dan kolom dari sebuah crosstabs adalah uji chi-square. Selain uji chi-square, ada beberapa alat uji lainnya yang dapat digunakan seperti kendall, kappa, dan lain sebagainya

Uji Tanda (Sign Test) (skripsi dan tesis)

Uji tanda atau sign test merupakan uji non-parametrik yang digunakan untuk menguji ada tidaknya perbedaan dari dua buah populasi yang saling berkorelasi, dimana datanya memiliki skala pengukuran ordinal. Metode analisis ini menggunakan data yang dinyatakan dalam bentuk tanda (+) positif dan (-) negatif dari perbedaan antara pengamatan yang berpasangan. Sedangkan nilai 0 tidak diikut sertakan dalam analisis karena nilai 0 berarti tidak terdapat perubahan sebelum dan sesudah perlakuan. Pada prinsipnya, uji tanda memiliki tujuan untuk menghitung selisih nilai dari kedua pasang sampel. Apabila Ho diterima, maka jumlah selisih pasangan data yang positif kurang lebih akan sama dengan pasangan data yang negatif, sehingga sangat diharapkan jumlah selisih pasangan data yang positif dan negatif adalah setengah dari total sampel yang ada. Sedangkan Ho ditolak, jika jumlah selisih pasangan data yang negatif dengan data yang positif memiliki perbedaan nilai yang sangat tinggi. Supranto 26 (2002)

Kelebihan dan Kekurangan Statistik Non-Parametrik (skripsi dan tesis)a

Adapun kelebihan dan kekurangan dalam menggunakan metode statistik nonparametrik adalah sebagai berikut: a. Kelebihan Statistik Non-Parametrik i. Asumsi-asumsi yang digunakan sangatlah sedikit. ii. Tidak membutuhkan asumsi normalitas atau distribusi data tidak harus normal. Namun, statistik non-parametrik tidak terikat pada distribusi normal populasi, tetapi juga dapat digunakan pada populasi berdistribusi normal. iii. Secara umum konsep dan metode statistik non-parametrik lebih mudah dikerjakan dan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan statistik  parametrik karena statistik non-parametrik tidak membutuhkan perhitungan matematik yang rumit melainkan lebih sederhana. iv. Dapat diterapkan pada skala data numerik (nominal) dengan jenjang (ordinal). v. Terkadang dalam statistik non-parametrik tidak dibutuhkan urutan atau jenjang secara formal karena sering dijumpai hasil pengamatan yang dinyatakan dalam data kualitatif. vi. Pengujian hipotesis pada statistik non-parametrik dilakukan secara langsung pada pengamatan yang nyata. b. Kekurangan Statistik Non-Parametrik i. Tidak ada sistematika secara jelas. ii. Statistik non-parametrik terkadang mengabaikan beberapa informasi tertentu. iii. Hasil pengujian hipotesis dengan statistik non-parametrik tidak selengkap statistik parametrik. iv. Hasil statistik non-parametrik tidak dapat diekstrapolasikan ke populasi studi yang berbeda dengan statistik parametrik. Hal ini dikarenakan statistik non-parametrik mendekati eksperimen dengan sampel kecil dan umumnya membandingkan dua kelompok tertentu

Ciri-Ciri Statistik Non-Parametrik (skripsi dan tesis)

Dalam menganalisis data tentunya harus mengetahui ciri-ciri dari statistik yang akan digunakan agar dapat lebih mudah dalam menentukan uji yang cocok untuk digunakan pada kasus tersebut. Berikut ciri-ciri dari statistik non-parametrik: a. Data tidak berdistribusi normal b. Umumnya data berskala nominal dan ordinal c. Umumnya dilakukan pada penelitian sosial d. Umumnya jumlah sampel kecil

Pengelompokan Kategori Statistik Non-Parametrik (skripsi dan tesis)

Dalam statistik non-parametrik terdapat pengelompokan yang didasarkan dari kriteria sampel yang diambil pada saat penelitian yaitu sampel tunggal, sampel independen, dan sampel dependen. Adapun penjelasan dari masing-masing kriteria sampel adalah sebagai berikut: a. Sampel Tunggal Sampel tunggal digunakan untuk menduga dan menguji hipotesis dari parameter yang ada, contohnya pengukuran nilai sentral. Pada statistik nonparametrik uji yang digunakan untuk menduga nilai sentral, seperti uji tanda (sampel tunggal) dan uji Wilcoxon. Selain itu, terdapat juga prosedur nonparametrik lainnya, antara lain uji binomial yang digunakan untuk pengukuran proporsi populasi, uji Trend untuk mengetahui kencenderungan dari populasi yang ada, dan uji Cox-Stuart untuk menguji data berdasarkan waktu. b. Sampel Independen Sampel independen memiliki kegunaan untuk membandingkan antara dua variabel yang terukur dari sampel yang bebas. Pengambilan sampel ini berasal dari dua populasi. Pada statistik parametrik dapat menggunakan uji t untuk membandingkan nilai mean dari dua kelompok independen, sedangkan alternatif pengujian dalam statistik non-parametrik dapat menggunakan uji,   antara lain Wald-Wolfowitz Runs test, Mann-Whitney U-test, dan KolmogorovSmirnov Two-Sample test. Namun, apabila ingin membandingkan lebih dari dua populasi maka digunakanlah analisis satu arah bertingkat dengan Median test dan Kruskal-Wallis test. c. Sampel Dependen Sampel dependen pada dasarnya digunakan untuk membandingkan dua variabel yang terukur dari sampel yang berhubungan. Dalam statistik nonparametrik, misalnya untuk mengetahui perbedaan produktivitas kerja, dengan melakukan pengukuran pada sampel pekerja sebelum mendapatkan pelatihan dengan sampel pekerja sesudah mendapatkan pelatihan. Hal seperti ini dapat dilakukan dengan menggunakan pengujian Sign Test dan Wilcoxon’s Matched Pairs Test. Namun jika variabel memiliki sifat yang dikotomi, maka dapat digunakan pengujian McNemar’s Chi-square Test. Selain itu, apabila ternyata terdapat lebih dari dua variabel yang diteliti maka pengujian yang tepat digunakan yaitu Friedman’s two-way analysis of variance dan Cochran Q test.

Dasar Statistika (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya statistika terbagi menjadi dua yakni stastika deskriptif dan statistika inferensial. Statistika inferensial terbagi menjadi dua yaitu statistik parametrik dan statistik non-parametrik. Statistik non-parametrik merupakan analisis yang tidak menggunakan parameter seperti yang terdapat pada statistik non-parametrik, misalnya: mean, standar deviasi, dan variansi. Statistik nonparametrik juga sering disebut dengan metode distribusi bebas. Statistik nonparametrik menjadi alternatif dari statistik parametrik ketika asumsi-asumsi yang mendasari dalam statistik parametrik tidak dapat terpenuhi, sebab metode ini tidak memerlukan asumsi atau mengabaikan asumsi-asumsi yang menjadi landasan metode statistika parametrik terutama yang berkaitan dengan distribusi normal. Selain itu, statistik non-parametrik digunakan pada data yang berskala nominal dan ordinal serta populasi yang bebas distribusi. Semua permasalahan statistik sebenarnya dapat diselesaikan dengan statistik non-parametrik. Namun harus dipahami bahwa tidak semua permasalahan statistik dapat diselesaikan dengan menggunakan statistik parametrik sehingga harus menggunakan statistik non-parametrik.

Software IBM SPSS (skripsi dan tesis)

Santoso (2010) berpendapat bahwa software SPSS dapat dijadikan sebagai alternatif pengguna untuk mengolah data dan menginterpretasi output dengan mudah dalam menyelesaikan permasalahan pada metode non-parametrik. SPSS (Statistical Product and Service Solution) merupakan program aplikasi bisnis yang berguna untuk melakukan perhitungan atau menganalisa data statistik dengan menggunakan komputer. Dalam SPSS yang perlu dilakukan untuk memulai menganalis data yaitu mendesain variabel yang akan dianalisis, memasukkan data, dan melakukan perhitungan sesuai dengan tahapan yang ada pada menu yang tersedia. SPSS memiliki berbagai macam fitur yang ditawarkan untuk mengolah data dalam berbagai kasus, seperti: a. IBM SPSS Data Collection : untuk pengumpulan data b. IBM SPSS Statistics : untuk menganalisis data c. IBM SPSS Modeler : untuk memprediksi trend d. IBM Analytical Decision Management : untuk pengambilan keputusan SPSS banyak diaplikasikan serta digunakan oleh pengguna di segala bidang bisnis, perkantoran, pendidikan, dan penelitian. Secara spesifik, pemanfaatan program ini digunakan untuk riset pemasaran, penilaian kredit, peramalan bisnis, penilaian kepuasan konsumen, pengendalian, serta pengawasan dan perbaikan mutu suatu produk.
Keunggulan dari SPSS dibandingkan dengan program yang lainnya adalah kemudahan dalam memasukkan data, kemudahan dalam mengolah data dengan hanya memilih uji statistik yang sudah tersedia, cepat dalam menampilkan output, dan output mudah untuk dipahami, dibaca, dan dicetak. Selain itu, SPSS mampu mengakses data dari berbagai macam format data yang tersedia seperti base, lotus, access, text file, spreadsheet, bahkan mengakses database melalui ODBD (Open Data Base Connectivity) sehingga 18 data yang berbagai macam format dapat langsung terbaca SPSS yang selanjutnya untuk dianalisis. SPSS dapat menguji data yang berjenis data kualitatif maupun data kuantitatif. Informasi yang diberikan oleh SPSS sangatlah akurat, hal ini dapat dilihat dengan memperlakukan missing data secara tepat yaitu dengan memberi alasannya misalnya pernyataan atau pertanyaan yang tidak relevan dengan kondisi responden, pernyataan atau pertanyaan tidak dijawab oleh responden, maupun ada pernyataan atau pertanyaan yang memang harus dilompati. Statistik yang termasuk software dasar SPSS, yakni: a. Statistik Deskriptif (Frekuensi, Deskripsi, Tabulasi Silang, Penelusuran, dan Statistik Deskripsi Rasio) b. Statistik Bivariat (Rata-Rata, ANOVA, t-test, Korelasi (Bivariat, Persial, Jarak), dan NonParametrik Test) c. Prediksi Hasil Numerik (Regresi Linear) d. Prediksi untuk mengidentifikasi kelompok (Diskriminan, Analisis Cluster (Two-Step, K-means, Hierarkis), dan Analisis Faktor)

Kuesioner (skripsi dan tesis)

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi suatu pernyataan atau pertanyaan tertulis kepada responden (Sugiyono, 2013). Kuesioner berdasarkan bentuknya terbagi menjadi dua jenis, yaitu: a. Kuesioner Tertutup Kuesioner yang menyajikan pertanyaan dan alternatif pilihan jawaban sehingga responden hanya dapat memberikan tanggapan yang terbatas pada pilihan yang telah diberikan. Contoh dari kuesioner tertutup ini yaitu penilaian pelayanan pada sebuah cafe dan diberikan beberapan alternatif pilihan jawaban seperti sangat baik, baik, cukup, dan buruk. b. Kuesioner Terbuka Kuesioner yang memberikan kebebasan bagi responden untuk memberikan jawaban atau tanggapan atas pertanyaan yang telah diberikan, biasanya responden dapat menulis sendiri jawabannya berupa uraian. Contoh dari kuesioner terbuka yaitu “menurut anda seberapa pentingkah penggunaan smartphone?”. Penggunaan kuesioner banyak digunakan oleh peneliti karena dianggap lebih efektif dan efisien untuk mengumpulkan data dari responden yang jumlahnya besar dan dalam ruang lingkup wilayah penelitian yang luas. Pertanyaan pada kuesioner dapat digunakan untuk mengukur pendapat, sikap, dan pengetahuan.

Penentuan Ukuran Sampel (skripsi dan tesis)

Ukuran sampel merupakan banyaknya individu, subjek, atau elemen dari populasi yang diambil sebagai sampel. Menurut Sugiyono (2013) mendefinisikan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Sedangkan sampel adalah bagian dari beberapa anggota yang dipilih dari populasi (Sekaran dan Bougie, 2010). Apabila ukuran sampel yang diambil terlalu besar atau terlalu kecil maka akan menjadi masalah dalam penelitian. Sampel yang baik yaitu sampel yang memberikan pencerminan optimal atau dapat mewakili terhadap populasinya (representative). Berikut pendapat para ahli tentang ukuran sampel: a. Gay dan Diehl (1992) mengasumsikan bahwa semakin banyak sampel yang diambil maka akan semakin representative dan hasilnya dapat di genelisir atau dapat diterima, namun akan sangat bergantung pada jenis penelitiannya. i. Penelitian bersifat deskriptif maka sampel minimumnya sebesar 10% dari populasi. ii. Penelitan yang bersifat korelasional maka sampel minimumnya 30 subyek. iii. Penelitian kausal-perbandingan maka sampelnya sebanyak 30 subyek per grup. iv. Sedangkan penelitian ekperimental maka sampel minimumnya sebanyak 15 subyek per grup. b. Roscoe (1975) menentukan ukuran sampel yang tepat yaitu sebesar ≥30 dan ≤500 sampel dan jika sampel dipecah ke dalam sub-sampel maka ukuran sampel minimum 30 untuk setiap kategori yang ada. Sugiyono (2013) menambahkan bahwa untuk penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan dari Isaac dan Michael untuk tingkat kesalahan sebesar 1%, 5%, dan 10%.

Metode Pengambilan Sampel (skripsi dan tesis)

Sampling adalah cara pengumpulan data dengan hanya elemen sampel yang diteliti, hasilnya merupakan data perkiraan atau estimate, bukan data sebenarnya. Sedangkan teknik sampling adalah suatu teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2013). Alasan teknik sampling lebih sering digunakan karena lebih menghemat waktu, biaya, serta tenaga, terkadang tidak diketahui objek secara keseluruhan, dan sering terjadi kesalahan dalam pengumpulan data dikarenakan banyak objek atau elemen yang harus diteliti. Suatu keputusan yang didasarkan atas data perkiraan hasil penelitian sampel akan selalu menimbulkan resiko. Resiko ini tidak dapat dihindari namun hanya dapat diperkecil dengan jalan memperkecil kesalahan sampling yaitu dengan memilih sampling yang tepat yang dapat mewakili populasi dari sampel yang diambil. Pada dasarnya teknik sampling dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu probability sampling dan non-probability sampling. a. Metode dalam probability sampling i. Simple Random Sampling ii. Proportionate Stratified Sampling iii. Disproportionate Stratified Random Sampling iv. Cluster Sampling 13 b. Metode dalam non-probability sampling i. Sampling Sistematis ii. Sampling Kuota iii. Sampling Insidental iv. Sampling Jenuh v. Purposive Sampling vi. Snowball Sampling

Sumber Data (skripsi dan tesis)

Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu: a. Data Primer Merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber data utama. Data primer biasa disebut juga data asli yang memiliki sifat up to date. Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data primer dengan cara seperti wawancara, observasi, dan penyebaran kuesioner. b. Data Sekunder Merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dari berbagai sumber yang telah ada. Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti pusat statistik, buku, laporan, makalah, jurnal, dan lain sebagainya

Metode Penelitian (skripsi dan tesis)

Metode penelitian merupakan suatu proses dari pencarian solusi permasalahan setelah melalui pembelajaran dan analisis faktor-faktor situasional (Sekaran dan Bougie, 2010). Sedangkan Sugiyono (2013) mendefinisikan metode penelitian adalah cara ilmiah untuk memperoleh data dalam suatu permasalahan dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dari pernyataan tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu: cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan. Cara ilmiah artinya kegiatan penelitian didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu: a. Rasional Cara yang dilakukan dalam kegiatan penelitian haruslah masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. b. Empiris Cara yang dilakukan dalam kegiatan penelitian dapat diamati oleh indera manusia sehingga orang lain dapat memahami cara-cara yang digunakan. c. Sistematis Proses dalam kegiatan penelitian harus menggunakan tahap-tahapan yang bersifat logis. Menurut jenis data dan analisisnya, metode penilitian dibedakan menjadi: a. Penelitian Kualitatif Penelitian yang datanya adalah data kualitatif sehingga analisisnya juga kualitatif (deskriptif). Data kualitatif merupakan data yang berbentuk kata, kalimat, dan gambar (Sukmadinata, 2009).
Namun, data kualitatif dapat dirubah menjadi data kuantitatif dengan cara diskoring. Contoh data kualitatif yaitu sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan lain-lain. Metode ini mendasarkan kesimpulan penelitian pada asumsi-asumsi interpretasi yang tetap mengacu pada fakta dan teori pendukung. b. Penelitian Kuantitatif Penelitian yang datanya adalah data kuantitatif sehingga analisisnya juga kuantitatif (inferensi). Data kuantitatif merupakan data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan seperti: 1, 2, 3, 4, …, dst, atau skor 5 = sangat setuju, skor 4 = setuju, skor 3 = ragu-ragu, skor 2 = kurang setuju, skor 1 = tidak setuju. Contoh dari aplikasi metode ini adalah survey. Metode ini 12 berdasar pada prinsip pembuktian hipotesis. Penelitian dilakukan untuk membuktikan apakah hipotesis tersebut benar atau salah.

Pembelajaran IPA (skripsi dan tesis)

 Ilmu pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau sains yang semula dari bahasa Inggris Science. Kata Science sendiri berasal dari bahasa Latin Scientia yang berarti saya tahu. IPA mempelajari alam semesta, benda-benda yang ada dipermukaan bumi, perut bumi, dan di luar angkasa, baik yang dapat diamati indra maupun yang tidak dapat diamati indra (Trianto, 2010: 136). Nilai-nilai IPA yang dapat ditanamkan dalam pembelajaran IPA antara lain sebagai berikut: 1) Kecakapan bekerja dan berfikir secara teratur dan sistematis menurut langkah-langkah metode ilimiah. 2) Keterampilan dan kecakapan dalam mengadakan pengamatan, mempergunakan alat-alat eksperimen untuk memecahkan masalah. 3) Memiliki sikap ilmiah yang diperlukan dalam memecahkan masalah baik dalam kaitannya dengan sains maupun dalam kehidupan sehari-hari. IPA sebagai mata pelajaran di SD/MI merupakan materi yang wajib diajarkan. IPA diberikan pada siswa SD/MI sebagai landasan bagi pemahaman mata pelajaran tersebut di tingkat yang lebih tinggi. Metode penyampaian yang kurang apriori terhadap mata pelajaran ini, apalagi IPA dikenal sebagai mata pelajaran eksak yang penuh dengan rumus dan hafalan teori yang menjadikan IPA sebagai salah satu pelajaran yang tidak menarik.
Berikut adalah prinsip yang baik dan perlu dilakukan dalam pembelajaran IPA: 1. Learning to know merupakan prinsip bahwa belajar adalah untuk mengetahui atau memahami. Dengan prinsip ini pembelajaran harus dikondisikan agar murid aktif dan menciptakan suasana untuk selalu ingin mengetahui dan memahami sesuatu yang baru. Dengan demikian pembelajaran hendaknya menciptakan sikap penasaran pada murid, sehingga murid selalu ingin belajar lebih jauh. 2. Learning to do adalah prinsip belajar untuk mengerjakan sesuatu. Prinsip ini mewujudkan bahawa murid dalam belajar bukan hanya untuk sekedar mengetahui, tetapi juga mampu mempraktekkan. Dengan prinsip ini keserasian dan keseimbangan antara teori dan praktek. 3. Learning to be adalah prinsip belajar untuk mencapai sesuatu. Prinsip ini mengarahkan murid untuk selalu bekerja keras dalam mencapai sesuatu yang tidak putus asa. Dengan demikian murid memiliki pandangan dan bekerja keras, karena dalam dirinya akan muncul perjuanagn dalam mencapai sesuatu. 4. Lerning to live together adalah prinsip belajar untuk hidup bersama. Murid merupakan bagian dari sebuah sistem, komunitas dan masyarakat (Wahidin, 2006: 18). Dengan demikian proses belajar mengajar IPA lebih ditekankan pada pendekatan keterampilan proses, sehingga siswa dapat menemukan faktafakta, membangun konsep-konsep, teori-teori dan sikap ilmiah siswa itu sendiri yang akhirnya dapat berpengaruh positif terhadap kualitas proses pendidikan maupun produk pendidikan. Untuk itu perlu menggunakan metode pembelajaran IPA yang melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-idenya. Guru hanya memberi tangga yang membantu siswa untuk mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa dapat menaiki tangga tersebut

Pengertian Belajar (skripsi dan tesis)

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Hamdani, 2011: 20). Perubahan ini bersifat konstan dan berbekas. Proses belajar dan perubahan merupakan bukti hasil yang diproses, belajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran, tetapi juga penyususnan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan lain dan cita-cita. Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada dirinya akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang berisikan segala aktivitas manusia baik fisik maupun psikis yang mengakibatkan perubahan tingkah laku yang berlangsung secara terus- menerus berupa pengetahuan, kemampuan, pemahaman, kebiasaan, pengalaman, ketrampilan dan hal-hal yang baru dan bersifat konsta. Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku. Seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan motorik, atau penguasaan nilai-nilai (sikap). Pada dasarnya pembelajaran yang digunakan haruslah mempunyai kreativitas tersendiri seingga peserta didik yang menjadi subjek dalam belajar menjadi lebih terpacu dan termotivasi untuk selalu ingin belajar, dalam pembelajaran harus ada kreativitas yang dimunculkan baik yang terletak pada guru dan yang dimunculkan dari peserta didik. Kreativitas siswa guru dalam akan memunculkan loyalitas guru dalam mengajar dibandingkan hanya ada keinginan untuk menyampaikan materi. Upaya peningkatan mutu pendidikan haruslah dilakukan dengan menggerakkan seluruh komponen yang menjadi subsistem dalam suatu sistem mutu pendidikan. Subsistem yang pertama dan utama dalam peningkatkan mutu pendidikan adalah faktor guru. Di tangan gurulah hasil pembelajaran yang merupakan salah satu indikator mutu pendidikan lebih banyak ditentukan, yakni pembelajaran yang baik sekaligus bernilai sebagai pemberdayaan kemampuan (ability) dan kesanggupan (capability) peserta didik. Tanpa guru yang dapat dijadikan andalannya, mustahil suatu sistem pendidikan dapat mencapai hasil sebagaimana diharapakan. Maka prasyarat utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses belajar mengajar yang menjamin optimalisasi hasil pembelajaran ialah tersedianya guru dengan kualifikasi dan kompetensi yang mampu memenuhi tuntutan tugasnya. Mutu pendidikan pada hakekatnya adalah bagaimana proses belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas berlangsung dengan baik dan bermutu.
Jadi, mutu pendidikan ditentukan di dalam kelas melalui PBM (Kunandar, 2011: 48). Beberapa ciri belajar menurut Hamdani (2011: 22) adalah sebagai berikut: 1) Belajar dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan . Tujuan ini digunakan sebagai arah kegiatan, sekaligus tolak ukur keberhasilan belajar. 2) Belajar merupakan pengalaman sendiri, tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. 3) Belajar merupakan proses interaksi antara individu dan lingkungan. Hal ini berarti individu harus aktif apabila dihadapkan pada lingkungan tertentu. Keaktifan ini dapat terwujud karena individu memiliki berbagai potensi untuk belajar. 4) Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar. Perubahan tersebut bersifat integral, artinya perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor yang tak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Zaenal Arifin (2009: 10), mengungkapkan yakni dalam mengelola pembelajaran, pendidik lebih dituntut untuk dalam melaksanakan 4 tugas: 1) Merencanakan, keberhasilan mengajar sangat bergantung pada kemampuan pendidik dalam merencanakan yang mencakup antara lain tujuan belajar siswa, cara siswa mencapai tujuan tersebut dan sarana yang diperlukan. 2) Mengatur, tugas ini adalah mengenai apa yang mencakup rencana dan pengetahuan tentang bentuk dan macam kegiatan yang harus dilaksanakan dan bagaimana semua komponen dapat bekerja sama untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. 3) Mengarahkan, karena salah satu tugas pendidik adalah memberikan motivasi, mengarahkan dan memberikan inspirasi kepada siswa untuk belajar dengan adanya pengarahan yang baik. 4) Mengevaluasi, seorang guru bertugas mementau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Dari penjelasan di atas mengenai tugas guru dalam proses belajar mengajar yakni mulai dari merencanakan, mengorganisasikan, mengawasi dan mengevaluasi. Cara belajar yang dipergunakan turut menentukan hasil belajar yang di hasilkan. Cara yang tepat akan membawa hasil yang memuaskan, sedangkan cara yang tidak disesuaikan menyebabkan belajar kurang berhasil. Pentingnya menjaga motivasi belajar dan kebutuhan minat dan keinginannya pada proses belajar tak dapat dipungkiri, karena dengan menggerakkan motivasi yang terpendam dan menjaganya dalam kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan siswa akan menjadikan siswa itu lebih giat belajar. Barang siapa yang bekerja berdasarkan motivasi yang kuat, ia tidak akan merasa lelah dan tidak cepat bosan. Oleh karena itu, guru perlu memelihara motivasi siswa dengn metode dan cara pembelajaran yang tepat sehingga proses belajar mengajar menarik, aktif, bermakna dan menyenangkan bagi siswa

Empat Aspek Pokok dalam Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Kemmis dan Mc Taggart (1998), penelitian tindakan kelas dilakukan melalui proses yang dinamis dan komplementari yang terdiri dari empat momentum esensial yaitu sebagai berikut: a. Penyusunan Rencana Perencanaan adalah mengembangkan rencana tinadakan yang secara kritis untuk meningkatkan apa yang telah terjadi. Rencana PTK hendaknya disusun berdasarkan kepada hasil pengamatan awal yang refleksif. Hasil pengamatan awal terhadap proses yang terjadi dalam situasi yang ingin diperbaiki dituangkan dalam bentuk catatan-catatan lapangan yang lengkap yang menggambarkan dengan jelas cuplikan atau episode proses pembelajaran dalam situasi yang akan ditingkatkan atau diperbaiki. b. Tindakan Tindakan yang dimaksud disini adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali, yang merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana. c. Observasi Pengamatan atau observasi dilakukan pada semua kegiatan yangbditunjukan untuk mengenali, merekam dan mendokumentasikan setiap indikator dari proses dan hasil yang dicapai baik yang ditimbulkan oleh tindakan terencana maupun akibat sampingan. Pelaksanaan pengamatan atau observasi yang terpenting adalah mencari data tentang pelaksanaan tindakan, karena itu peneliti harus cermat menentukan metode, teknik dan mempersiapkan alat yang tepat agar data yang diperoleh benar (valid) (Achmad Fuad, 2009: 140). d. Refleksi Refleksi adalah meningat dan merenungkan suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, persoalan dan kendala yang nyata dalam tindakan strategis (Kunandar, 2011: 75). Kegiatan refleksi mencakup kegiatan analisis, interpretasi dan evaluasi yang diperoleh saat melakukan kegiatan observasi. Data yang terkumpul saat observasi secepatnya dianalisis dan diinterpretasi sehingga akan segera diketahui apakah tindakan yang dilakukan telah mencapai tujuan. Interpretasi atau pemaknaan hasil observasi ini menjadi dasar untuk melakukan evaluasi sehingga dapat disusun langkah berikutnya dalam pelaksanaan tindakan (Achmad Fuad, 2009: 141).

Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Prinsip dalam pelaksanaan PTK adalah sebagai berikut: a. Tidak boleh menggangu PBM dan tugas menagajar. b. Tidak boleh terlalu menyita waktu. c. Metodologi yang digunakan harus tepat dan terpercaya. d. Masalah yang dikaji benar-benar ada dan dihadapi guru. e. Memegang etika kerja (minta izin, membuat laporan). f. PTK bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu proses belajar mengajar. g. PTK menjadi media guru untuk berpikir kritis dan sistematis. h. PTK menjadikan guru terbiasa melakukan aktivitas yang bernilai akademik dan ilmiah. i. PTK hendaknya dimulai dari permasalahan pembelajaran yang sederhana, konkret, jelas dan tajam. j. Pengumpulan data atau informasi dalam PTK tidak boleh terlalu banyak menyita aktu dan terlalu rumit karena dikhawatirkan adapat mengganggu tugas utama guru sebagai pengajar dan pendidik.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

PTK berbeda dengan penelitian formal (konvensional) pada umumnya. PTK memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut: a. On-the job problem oriented (masalah yang diteliti adalah masalah rill atau nyata yang muncul dari dunia kerja peneliti atau yang ada dalam kewenangan atau tanggung jawab peneliti). Dengan demikian, PTK didasarkan pada masalah yang benar-benar dihadapi guru dalam proses belajar mengajar di kelas. b. Problem-solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah). PTK yang dilakukan guru sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh guru dalam PBM di kelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu sebagai upaya menyempurnakan proses pembelajaran dikelasnya. c. Improvement-oriented (berorientasi pada peningkatan mutu). PTK dilaksanakan dalam rangka memperbaiki atau meningkatkan mutu PBM yang dilakukan guru di kelasnya. Engan peningkatan mutu pBM, pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan secara makro. d. Ciclc (siklus). Konsep tindakan (action) dalam PTK diterapkan melalui urutan yang terdiri dari beberapa tahap berdaur ulang (cyclical). Siklus pTK terdiri dari 4 tahapan, yakni perencanaan tindakan, melakukan tindakan, pengamatan atau observasi dan analisis atau refleksi. e. Action oriented. Dalm PTK selalu didasarkan pada adanya tindakan (treatment) tertentu untuk memperbaiki PBM di kelas. f. Pengkajian terhadap dampak tindakan. g. Spesifics contextual. Permasalahan dalam PTK adalah permasalahan yang sifatnya spesifik kontekstual dan situasional sesuai dengan karakteristik siswa dalam kelas tersebut h. Partisipatory (collaborative).PTK dilaksanakan secara kolaboratif dan bermitra dengan pihak lain, seperti teman sejawat. i. Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi. j. Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus (Kunandar, 2011: 58-63)

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari classroom action research, yaitu satu action research yang dilakukan dikelas. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebgai guru, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan hasil belajar siswa meningkat. Action research digunakan untuk menemukan pemecahan masalah yang dihadapi seseorang dalam tugasnya sehari-hari dimanapun tempatnya di kelas, di kantor, di rumah sakit dan seterusnya. Dilihat dari runag lingkup, tujuan metode dan prakteknya, action research dapat dianggap sebagai penelitian micro. Action research adalah penelitian yang bersifat partisipatif dan kolaboratif. Maksudnya, penelitiannya dilakukan sendiri oleh peneliti, dan diamati oleh rekan-rekannya. Action research mendorong para guru agar memikirkan apa yang mereka lakukan sehari-hari dalam menjalankan tugasnya, membuat para guru kritis terhadap apa yang mereka lakukan tanpa bergantung pada teori yang muluk-muluk yang bersifat universal yang ditemukan oleh para pakar penelitian yang seringkali tidak cocok dengan situasi dan kondisi kelas. Keterlibatan peneliti action research dalam penelitiannya sendiri itulah yang membuat dirinya menjadi pakar peneliti untuk kelasnya dan keperluan sehari-harinya dan tidak membuat ia tergantung pada para pakar peneliti yang tidak tahu mengenai masalah-masalah kelasnya sehari-hari (Hamzah B.Uno dkk, 2011: 51)

Ciri Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Berikut beberapa hal yang perlu dipahami tentang penelitian tindakan kelas: 1. PTK adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan melakukan perubahan ke arah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran. 2. PTK adalah partisipatori,melibatkan orang yang melakukan kegiatan untuk meningkatkan praktiknya sendiri. 3. PTK dikembangkan melalui suatu self-reflective spiral;a spiral of cycles of planning,acting,observing,reflecting,the re-planning. 4. PTK adalah kolaboratif, melibatkan partisipan bersama-sama bergabung untuk mengkaji praktik pembelajaran dan mengembangkan pemahaman tentang makna tindakakan. 5. PTK menumbuhkan kesadaran diri mereka yang berpartisipasi dan berkolaborasi dalam seluruh tahapan PTK.   6. PTK adalah proses belajar yang sistematis, dalam proses tersebut menggunakan kecerdasan kritis membangun komitmen melakukan tindakan. 7. PTK memerlukan orang untuk membangun teori tentang praktik mereka (Guru). 8. PTK memerlukan gagasan dan asumsi kedalam praktik untuk mengkaji secara sistematis bukti yang menantangnya (memberikan hipotesis tindakan). 9. PTK memungkinkan kita untuk memberikan rasional justifikasi tentang pekerjaan kita terhadap orang lain dan membuat orang menjadi kritis dalam analisis.(Menurut Hopkins,1993)

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Adapun tujuan penelitian tindakan kelas menurut Zainal Arifin (2012, hlm. 100) adalah untuk: 1. Memperbaiki dan meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah dan LPTK. 2. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pendidikan dan pembelajaran di dalam kelas. 3. Meningkatkan kemampuan dan layanan profesional guru dan tenaga kependidikan.   4. Mengembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK, sehingga tercipta sikap proaktif untuk melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (substainable). 5. Meningkatkan dan mengembangkan keterampilan guru dan tenaga kependidikan khususnya di sekolah dalam melakukan PTK. 6. Meningkatkan kerjasama profesional diantara guru dan tenaga kependidikan di sekolah dan LPTK. Merajuk pada tujuan tersebut dapat kita ketahui bahwa hasil PTK dapat dijadikan sumber masukan dalam rangka melakukan pengembangan kurikulum dan pembelajaran. PTK dapat membantu guru untuk lebih memahami hakikat pendidikan dan pembelajaran secara empirik.

Prinsip Penelitian TIndakan Kelas (Skripsi dan tesis)

PTK dapat berjalan dengan baik apabila dalam perencanaan dan pelaksanaannya menggunakan 6 prinsip sebagai berikut:

1. Tugas pertama dan utama guru di sekolah adalah mengajar siswa sehingga apapun metode PTK yang akan diterapkan tidak akan mengganggu komitmen sebagai pengajar. 2. Metode pengumpulan data yang di gunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganngu proses pembelajaran. 3. Prinsif yang ketiga,bahwa metodologi yang digunakan harus cukup reabele sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara cukup meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya dan memperoleh data yang dapat digunakan untuk “Menjawab”hipotesis yang di kemukakannya. 4. Masalah penelitian yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang merisaukannya. Bertolak dari tanggung jawab profesionalnya,guru sendiri memiliki komitmen ini juga diperlukan sebagai motivator intrinsik bagi guru untuk”bertahan”dalam pelaksanaan kegiatan yang jelas-jelas menuntut lebih dari yang sebelumnya diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas pengajarnya. 26 5. Dalam menyelenggarakan PTK, Guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Hal ini penting ditekankan karena selain melibatkan anak-anak manusia,PTK juga hadir dalam suatu konteks organisasional sehingga penyelenggaraannya harus mengindahkan tatakrama kehidupan berorganisasi. 6. Kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang guru, namun dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin digunakan classroom excedding perspektive,dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks dalam kelas atau mata pelajaran tertentu,melainkan dalam perspektif yang lebih luas ini akan berlebih-lebih lagi terasa urgensinya apabila dalam suatu PTK terlibat dari seorang pelaku

Model Penelitian TIndakan Kelas Menurut Hopkins (skripsi dan tesis)

Model Hopkins dalam Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan subtansif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inquiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan

Model Kemmis & Taggart (skripsi dan tesis)

 

 Model Kemmis & Teggart dalam Sofyan (2014:110) kegiatan pokok fokus penelitian tindakan terdiri dari (1) Planning, (2) Acting, (3) Observing, (4) Reflecting,
 Planning :
1. Mempelajari aspek-aspek perkembangan yang akan dikembangkan di TK
 2. Mempelajari kurikulum TK
3. Mengembangkan tematik yang sesuai dengan perkembangan anak
 4. Mempersiapkan permainan sesuai dengan tema
5. Membuat RKM
6. Membuat RKH
7. Menyiapkan media pembelajaran yang diperlukan sesuai tema
 8. Menyiapkan sumber belajar
9. Mengembangkan format observasi
10. Mengembangkan format evaluasi
Acting :
1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan perencanaan
 2. Melaksanakan pengamatan mengenai isi tindakan 3. Mengumpulkan data perlengkapan lain yang mendukung
 1. Melakukan observasi dengan format observasi
2. Mengamati kegiatan pembelajaran, pengamatan, berperan serta, peneliti terlibat langsung selama kegiatan berlangsung
 Reflecting I :
 1. Mengamati perubahan yang terjadi pada siswa setelah terjadi tindakan
2. Mengadakan pertemuan untuk membahas hasil tindakan
3. Evaluasi Planning :
 1. Merevisi dan memodifikasi pembelajaran sesuai dengan hasil tindakan siklus I Acting :
 1. Mengaplikasian pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang ke II Observing II 1. Mengamati kegiatan pembelajaran sesuai dengan siklus perencanaan yang kedua
 2. Mengumpulkan data tindakan yang kedua Reflecting II
1. Mengamati perubahan yang terjadi pada siswa setelah dilakukan tindakan kedua
 2. Evaluasi tindakan yang kedua

Model Penelitian TIndakan Kelas Menurut Kurt Lewin (skripsi dan tesis)

Model Kurt Lewin dalam Ekawarna (2009) yang sering dijadikan acuan pokok atau dasar dari berbagai model penelitian tindakan (action research), terutama PTK. Dialah orang pertama yang memperkenalkan action research. Konsep pokok action research menurut Krut Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu :

1. Perencanaan (Planning) Pada tahap ini penulis melakukan :
a. Menyusun rencana kegiatan harian (RKH)
b. Menyiapkan instrument penelitian
c. Menyiapkan sumber belajar
d. Mengembangkan scenario pembelajaran
 2. Tindakan (acting) Melakukan tindakan sebagai langkah yang kedua merupakan realisasi dari rencana yang kita buat.Tanpa tindakan rencana hanya merupakan agan-agan yang tidak pernah menjadi kenyataan.
 3. Pengamatan (observing) Berdasarkan pengamatan kita akan dapat menemukan apakah ada hal-hal yang harus segera diperbaiki agar tindakan dapat mencapai tujuan yang kita inginkan.
4. Refleksi (reflecting) Refeksi sebagai langkah keempat, kita lakukan setelah tindakan terakhir. Kita akan mencoba melihat atau merenungkan kembali apa yang telah kita lakukan dan apa dampaknya bagi proses belajar  siswa. Yang lebih penting pula kita renungkan alasan kita melakukan satu tindakan dikaitkan dengan dampaknya. Dengan cara ini kita akan dapat mengenal kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang kita lakukan.

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 Penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai manfaat yang cukup besar, bagi guru, pembelajaran, maupun bagi sekolah.:
1. Manfaat PTK bagi Guru Bagi guru, PTK mempunyai beberapa manfaat sebagai berikut :
a).PTK dapat dimanfaatkan oleh guru untuk memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya karena memang sasaran akhir PTK adalah perbaikan pembelajaran.
 b).Dengan melakukan PTK guru dapat berkembang secara propesional karena dapat menunjukkan bahwa ia mampu menilai dan memperbaiki pelajaran yang dikelolanya. c).PTK membantu guru lebih percaya guru.
2. Manfaat PTK bagi Pembelajaran/Siswa
 mempunyai manfaat yang sangat besar bagi pembelajaran karena tujuan PTK adalah memperbaiki praktik pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki belajar siswa. Dengan adanya PTK kesalahan dalam proses pembelajaran akan cepat dianalisis dan diperbaiki, hingga kesalahan tersebut tidak akan berlanjut.
3. Manfaat PTK bagi Sekolah Sekolah mempunyai kesempatan yang besar untuk berubah secara menyeluruh. Dalam konteks ini, PTK memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah, yang tercermin dari peningkatan kemampuan professional para guru, perbaikan proses dan hasil belajar siswa, serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah tersbut.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas pada dasarnya memiliki sejumlah karakteristik atau ciri-ciri sebagai berikut :
 a. Bersifat siklis atau berulang, artinya dalam PTK terdapat siklus-siklus atau perulangan mulai dari perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi sebagai prosedur baku PTK.
b. Bersifat jangka panjang atau longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu lama yang tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan “sekali tembak” selesai pelaksanaannya.
 c. Bersifat particular – spesipik, jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka menguji atau menemukan teori-teori. Hasinya pun tidak untuk di generalisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain, di tempat lain yang konteksnya mirip.
 d. Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekaligus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu di ubah.
e. Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak yang di teliti, bukan menurut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang di teliti.
f. Bersifat kalobaratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja sama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.
g. Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesipik atau khusus dalam pembelajarang yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru, menggarap masalah-masalah yang memiliki urgensi tinggi.
h. Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.
 i. Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasikan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif.
 j. Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Menurut Ekawarna (2009) penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Penelitian tindakan pada hakikatnya merupakan rangkaian “ riset – tindakan – riset – tindakan -… “ yang dilakukan secara siklik dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Sedangkan menurut Wardhani & Wihardit (2012 :1.4) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat

Desain Intact-Group Comparison (skripsi dan tesis)

Pada desain ini, populasi dibagi atas dua kelompok, tidak secara random. Kelompok
pertama merupakan unit percobaan untuk perlakuan dan kelompok kedua merupakan
kelompok untuk suatu kontrol. Kemudian dicari perbedaan antara rerata pengukuran dari
keduanya, dan perbedaan ini dianggap disebabkan oleh perlakuan
Prosedur dalam melaksanakan percobaan dengan desain ini, adalah sebagai berikut:
1. pilihlah unit percobaan secara dengan membagi dua kelompok dari suatu populasi.
2. gunakan perlakuan terhadap kelompok percobaan dan tanpa perlakuan pada
kelompok kontrol (kelompok kedua)
3. ukurlah hasil perlakuan, misalnya dengan melakukan posttest
4. hitunglah rerata dari masing-masing ukuran kelompok, dan bandingkan dengan
menggunakan statistik yang cocok.
Desan ini mempunyai validitas internal yang lemah, karena tidak dilakukan randomisasi.
Pengaruh counfonding antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua tidak ada,
karena pengukuran pertama (pretest) tidak dilakukan.
Beberapa pengaruh luar belum tentu dihilangkan, antara lain error history, instrumentasi,
dan error testing.

Desain satu kelompok pretest- posttest (skripsi dan tesis)

Desain penelitian ini terdapat dua kali pengukuran dengan satu kali perlakuan.
Pengukuran pertama dilakukan sebelum perlakuan diberikan, dan pengukuran data kedua dilakukan sesudah perlakuan dilaksanakan. Desain ini merupakan perbaikan terhadap desain sebelumnya. Misalnya, percobaan
dilakukan pada kelompok-kelompok ibu hamil untuk melihat kebaikan sistem
pengelolaan ibu hamil melalui pendampingan. Pemberian tablet Fe merupakan suatu perlakuan X. Pertama-tama diukur rerata kadar Hb Ibu hamil melalui pemeriksaan darah sebelum diberi perlakuan. Sesudah perlakuan (pemberian tablet Fe) dilaksanakan, kemudian diukur lagi kadar Hbnya. Kemudian dibuat perbandingan antara rerata Hb sebelum dan sesudah perlakuan untuk melihat pengaruh pemberian kadar Fe.
Kelemahan:
Validitas internal masih dirasakan relatif kurang. Tidak ada jaminan yang menyatakan bahwa perbedaan rerata kadar Hb ibu hamil sebelum dan sesudah perlakuan selalu disebabkan oleh pemberian tablet Fe.
Desain ini menghasilkan banyak error, antara lain error yang disebabkan oleh: efek testing, pengaruh instrumen (alat tes Hb), error history, bias pemilihan, dan error regresi.
Efek testing adalah error yang disebabkan karena berubahnya motivasi ibu hamil setelah dites pertama kali sebelum perlakuan sehingga pola makan dapat berubah sebelum atau selama perlakuan. Pengaruh instrumen, artinya error yang disebabkan karena jenis keakuratan dan presisi dari alat tes Hb. Error history dapat terjadi karena subjek berubah misalnya menjadi lebih mampu secara ekonomi atau akses gizi. Bias pemilihan terjadi karena ada subjek penelitian yang drop out sehingga tidak dapat mengikuti tes.
Keuntungan:
Karena adanya pretest sebelum dikenakan perlakuan, dan adanya post-test sesudah perlakuan diberikan, maka dapat dibuat perbandingan terhadap kadar Hb Ibu hamil dari kelompok percobaan yang sama. Bias variabel pemilihan subjek penelitian, dapat dihilangkan dengan menjamin bahwa kedua tes tersebut adalah semua anggota unit percobaan.

Desain one shot case study (skripsi dan tesis)

Pada one shot case study, perlakuan dikenakan pada kelompok unit percobaan tertentu, dan kemudian diadakan pengukuran terhadap variabel terikatDesain percobaan ini, digunakan hanya satu kelompok percobaan tanpa kontrol. Misalnya
menyajikan suatu pelajaran dengan sistem ceramah. Kemudian diukur pengaruh pemberian
ceramah tersebut dengan mengadakan ujian setelah ceramah diberikan. Prestasi belajar
kelompok tersebut diukur berdasarkan hasil posttest di atas dengan mencari meannya.
Keuntungan:
Desain ini berguna untuk mengembangkan suatu prakarsa atau sebagai suatu desain untuk penelitian eksplorasi atau penelitian pendahuluan.
Kelemahan:
1. Desain ini tidak mempunyai kontrol, oleh karena itu validitas internal tidak ada sama sekali. Validitas eksternal juga tidak ada, karena kesimpulan yang diperoleh tidak mempunyai jaminan ketepatan.
2. Desain ini tidak mempunyai dasar untuk membuat perbandingan, kecuali secara subjektif dan intuitif

Kelebihan dan kelemahan Desain Percobaan (skripsi dan tesis)

Kelebihan:
1. Dengan adanya desain percobaan, maka telah terjalin kerjasama antara ahli statistik dengan peneliti dalam menganalisis dan memberikan interpretasi terhadap data.
2. Pada percobaan, peneliti dapat membuat preplanning yang sistematik terlebih dahulu.
3. Perhatian dapat ditujukan terhadap hubungan-hubungan tertentu dalam mengukur dan mengenal sumber-sumber variasi.
4. Jumlah uji yang digunakan dapat ditentukan lebih dahulu dengan tingkat
kepercayaan yang tinggi.
5. Dengan adanya pengelompokan, maka pengaruh yang dapat diukur secara lebih tepat.
6. Kesimpulan yang diperoleh dapat diketahui secara pasti dengan kepastian
matematika.
Kelemahan:
1. Desain dan analisa percobaan selalu dinyatakan dalam “bahasa” ahli-ahli statistik.
2. Desain percobaan relatif membutuhkan biaya yang besar dan juga memakan waktu yang lama

Perlakuan dan Faktorial (skripsi dan tesis)

Perlakuan atau treatment adalah suatu set khusus yang dikenakan atau yang dilakukan terhadap sebuah unit percobaan dalam batas-batas desain yang digunakan. Contoh perlakuan; jenis obat dengan dosis tertentu, motivasi, jenis media pendidikan, dan lainlain. Jika di dalam suatu percobaan dijumpai lebih dari satu perlakuan, maka perlakuan itu disebut perlakuan kombinasi. Contohnya jika kita akan meningkatkan pengetahuan siswa sekolah tentang penyakit HIV&AIDS maka kita teliti 3 media sebagai perlakuannya, yaitu leaflet, kaset, dan film dokumenter. Dalam percobaan tersebut terdapat 3 buah perlakuan, yaitu 3 jenis media. Kemudian ada penelitian lagi tentang
efektifitas metode penyampaian informasi, misalnya dicoba 2 metode yaitu ceramah, dan diskusi. Jika kedua percobaan di atas digabung menjadi suatu percobaan, yang meneliti pengaruh media dan metode penyampaian informasi terhadap pengetahuan siswa tentang HIV&AIDS, maka yang dilakukan adalah suatu perlakuan kombinasi.
Banyak penelitian percobaan yang meneliti dengan lebih dari satu perlakuan atau lebih dari satu variabel bebas. Pada bahasa desain percobaan, variabel bebas demikian sering juga disebut faktor. Faktor ini sering dijabarkan dalam huruf kecil. Harga atau nilai dari faktor dinamakan level dari faktor. Jika ada suatu percobaan dengan 3 faktor, maka percobaan tersebut dinamakan percobaan 3 faktorial. Penelitian faktorial mempunyai jumlah perlakuan kombinasi sebanyak perkalian antar jumlah level dari masing-masing
faktor. Contoh ada percobaan dengan 3 faktor:
Faktor 1 dengan 2 level; a dan b
Faktor 2 dengan 2 level; c dan d
Faktor 3 dengan 3 level; e, f, dan g
Maka jumlah perlakuan kombinas sebanyak 2 x 2 x 3 = 12 kombinasi

Kontrol internal (skripsi dan tesis)

Kontrol internal adalah banyaknya perimbangan, bloking, dan pengelompokan
dari unit-unit percobaan yang digunakan dalam percobaan. Kontrol internal ini
berguna untuk membuat prosedur uji lebih kuat, lebih efisien, dan efektif. Desain percobaan harus menentukan kontrol internal yang cocok.
Pengelompokan atau grouping adalah membagi unit-unit percobaan dalam
kelompok yang homogen. Tiap unit percobaan dalam suatu kelompok harus
memperoleh perlakuan yang sama. Misalnya, jika seorang peneliti mengadakan penelitian tentang pengaruh sejenis obat dengan 3 macam dosis, terhadap manusia, maka ia akan mengelompokkan unit percobaan atas 3 kelompok. Tiap kelompok disuntikkan obat di atas, yaitu kelompok 1 dengan dosis A, kelompok 2 dengan dosis B, dan kelompok 3 dengan dosis C. Kita lihat bahwa, unit percobaan tiap kelompok harus homogen, dan tiap kelompok hanya memperoleh satu perlakuan saja.
Bloking adalah membagi unit-unit percobaan dalam kelompok yang homogen,
tetapi tipa kelompok dibagi lagi dalam beberapa kelompok lain. Pengelompokan pertama dinamakan bloking, dan dari masing-masing blok dibuat perlakuan yang berbeda. Bloking dilakukan jika unit-unit percobaan yang digunakan tidak homogen Jumlah perlakuan pada tiap blok sama dengan jumlah jenis perlakuan yang ingin dicoba, tetapi jumlah unit percobaan dalam tiap blok tidak perlu sama. Balancing adalah cara seorang peneliti membagi unit percobaan dalam kelompok, dalam blok dan dalam menentukan jumlah unit percobaan pada satu perlakuan, sehingga terdapat suatu keseimbangan yang akan membawa kepada kelebihbaikan hasil percobaan. Dengan adanya kontrol internal ini, maka penelitian percobaan yang dilakukan terkurangi pengaruh dari confounding.

Tiga prinsip dasar desain percobaan (skripsi dan tesis)

a. Replikasi
Replikasi adalah pengulangan dari percobaan dasar. Replikasi berguna untuk:
(1) Memberkan suatu error estimasi. Error estimasi diperlukan sebagai unit dasar untuk mengukur signifikan tidaknya beda yang diperoleh dan juga untuk
mengukur jarak interval kepercayaan (confidence interval).
(2) Memberikan estimasi yang lebih tepat terhadap error percobaan.
Dengasumsi tertentu, error percobaan dapat juga dicari tanpa replikasi, tetapi
estimasi error percobaan yang diperoleh dengan cara ini kurang tepat.
(3) Memperoleh estimasi yang lebih baik terhadap pengaruh mean (mean effect) dari tiap faktor karena:
Sx = ∂2 / n
∂ = error percobaan dan n = banyaknya replikasi.
Unit percobaan adalah sebuah unit dimana percobaan dikaksanakan. Misalnya
20 plot jagung atau 30 murid adalah unit percobaan. Dalam melakukan
percobaan, maka akan terlihat adanya kegagalan untuk memberikan hasil yang
serupa walaupun kedua percobaan tersebut memperoleh perlakuan yang sama.
Kegagalan ini disebut error percobaan. Error percobaan disebabkan antara lain:
(1) Kesalahan dari percobaan yang sedang dilaksanakan.
(2) Kesalahan pengamatan.
(3) Kesalahan pengukuran.
(4) Variasi dari bahan yang digunakan dalam percobaan.
(5) Pengaruh kombinasi dan faktor-faktor luar biasa.
Error percobaan dapat dikurangi dengan cara:
(1) Menggunakan bahan atau material percobaan yang lebih homogen
(2) Mengadakan stratifikasi yang lebih hati-hati terhadap material percobaan
(3) Melakukan percobaan dengan lebih hati-hati
(4) Menggunakan desain percobaan yang lebih cocok
Jumlah replikasai yang perlu diadakan bergantung pada banyak hal. Faktor-faktor yang terpenting yang mempengaruhi banyaknya replikasi suatu percobaan adalah:
(1) Luas serta jenis unit percobaan
(2) Bentuk unit percobaan
(3) Variabilitas material percobaan
(4) Derajat ketelitian yang diinginkan
(5) Tersedianya material percobaan
Secara praktis, jumlah replikasi yang digunakan adalah sedemikian rupa
sehingga degree of freedom dalam analisa varians nantinya tidak lebih dari 10-
15.
Contoh lain:
Untuk menghindari kesalahan sekecil mungkin maka banyaknya ulangan
(replikasi) dalam eksperimen di hitung dengan rumus sebagai berikut:
( t – 1 ) ( r – 1 ) > 15
t = Jumlah perlakuan 9 macam konsentrasi
r = Jumlah pengulangan
(t-1)(r-1) ≥15
(9-1)(r-1) ≥15
8(r-1) ≥15
8r-8 ≥15
8r ≥15+8
8r ≥ 23
r ≥ 23:8
r ≥ 2,87 = 3

Ciri-ciri desain percobaan (skripsi dan tesis)

a. variabel-variabel serta kondisi yang diperlukan diatur secara ketat dan dikontrol.
Manipulasi terhadap variabel baik secara langsung atau tidak langsung
dilakukan.
b. Variabel-variabel yang ingin diteliti selalu dibandingkan dengan variabel kontrol.
c. Analisa varian selalu digunakan, dimana analisa ini berusaha untuk:
(1) Meminimumkan varian dari error
(2) Meminimumkan varian variabel yang tidak termasuk dalam variabel-variabel
yang diteliti.
(3) Memaksimumkan varian dari variabel-variabel yang diteliti dan yang berkaitan
dengan hipotesis yang dibangun.

Definisi, Manfaat, dan Klasifikasi Penelitian eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen atau percobaan adalah rancangan penelitian dimana peneliti dengan sengaja memberikan suatu perlakuan atau intervensi (variabel bebas) kepada subjek penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan tersebut terhadap variabel terikat (variabel yang diteliti). Faktor penelitian dalam eksperimen lazim disebut perlakuan (treatment), atau intervensi. Unit eksperimen, unit pengamatan, dan unit analisis dalam
eksperimen dapat merupakan individu atau agregat individu (kelompok).
Pada kasus tertentu, misalnya bidang eksakta, penelitian-penelitian yang paling mampu mengetahui pengaruh faktor penelitian dapat diakomodir melalui penelitian eksperimen. Hal ini disebabkan variabel-variabel dalam proses eksperimen itu dapat dikontrol secara ketat

Kelemahan dan Kekuatan Kuasi Eksperimental (skripsi dan tesis)

Kuasi eksperimental mempunyai kekuatan lebih mungkin diterapkan dan lebih murah dibandingkan eksperimen randomisasi, terutama pada penelitian yang ukuran sampel sangat besar atau sangat kecil. Sedangkan kelemahan dari kuasi eksperimental antara lain; karena pada desain ini tidak dilakukan randomisasi maka peneliti kurang mampu mengendalikan factor-faktor penganggu. Alokasi non random ini bahkan dapat mengakibatkan bias yang sulit dikontrol pada analisis data.

Jenis Desain Eksperimen Kuasi (skripsi dan tesis)

Kuasi eksperimental dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu:
1. One group pre and post test design
Merupakan kuasi eksperimental dimana masing-masing subjek menjadi kontrol bagi dirinya sendiri dan pengamatan variabel hasil dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Kelompok kontrol untuk dirinya sendiri disebut dengan kontrol internal

2. After only with control design
Mengamati variable hasil pada saat yang sama terhadap kelompok perlakuan dan kelompok control, setelah perlakuan diberikan kepada kelompok perlakuan (subjek). Dengan cara non random peneliti memilih kelompok control yang memiliki karakteristik atau variable variable perancu potensial yang sebanding dengan kelompok perlakuan.

3. After and Before with control design
Desain ini mirip dengan RCT kecuali penunjukan kelompok subjek tidak dilakukan dengan random. Pengaruh perlakuan ditentukan dengan membandingkan perubahan nilai-nilai variable hasil pada kelompok perlakukan dengan perubahan nilai-nilai pada kelompok control. Desain ini lebih baik dari dua desain eksperimen kuasi yang terdahulu, karena mengatasi kemungkinan variasi eksternal yang diakibatkan perubahan waktu serta menggunakan kelompok pembanding eksternal

4 Desain campuran
Desain campuran mengkombinasikan elemen-elemen pembanding internal dan eksternal. Kombinasi tersebut meningkatkan kemampuan mengatasi ancaman validitas selanjutnya meningkatkan kemampuan untuk manrik inferensi kausal

Penelitian Kuasi Eksperimental (skripsi dan tesis)

Kuasi eksperimental adalah sebuah studi eksperimental yang dalam mengontrol situasi penelitian menggunakan cara non random. Desain ini berasal dari riset ilmu sosial yang kemudian diadopsi oleh epidemiologi untuk mengevaluasi dampak intervensi kesehatan masyarakat. Untuk memperoleh taksiran dampak perlakuan yang sebenarnya maka peneliti harus memilih kelompok kontrol yang memiliki karakteristik variable perancu yang sebanding dengan kelompok perlakuan.
Kuasi eksperimental ini dilakukan sebagai alternatif eksperimen randomisasi, tatkala pengalokasian faktor penelitian pada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis atau tidak praktis dilaksanakan dengan randomisasi, misalnya ketika ukuran sampel terlalu kecil

Etika Pada Penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Etika uji klinik mencakup:
a) Protokol uji klinik yang telah mendapat persetujuan dari komisi etik (ethical clearance)
b) Menjamin kebebasan pasien untuk ikut serta secara sukarela atau menolak atau berhenti sewaktu-waktu dari penelitian
c) Menjamin kesehatan dan keselamatan pasien sejak awal, selama dan sesudah penelitian
d) Keikutsertaan pasien harus dinyatakan dalam written informed-consent.
e) Menjamin kerahasiaan identitas dan segala informasi yang diperoleh dari pasien

Penilaian respons (skripsi dan tesis)

Penilaian respons pasien terhadap proses terapetik yang diberikan harus bersifat objektif, akurat, dan konsisten. Empat kategori utama yang sering digunakan adalah:
a) Penilaian awal sebelum perlakuan: sesaat sebelum uji dilakukan, keadaan klinis hendaknya dicatat secara seksama berdasarkan parameter yang telah disepakatidimulai.
b) Kriteria utama respons pasien: indikasi utama pengobatan merupakan kriteria utama yang harus dinilai. Jika yang diuji obat analgetik-antipiretika, maka kriteria utama penilaian adalah penurunan panas, ada tidaknya kejang atau gejala lain sebagai manifestasi demam dan yang lainnya.
c) Kriteria tambahan: dari segi keamanan pemakaiannya. Misalnya efek samping baik yang berbahaya maupun yang tidak.
d) Pemantauan pasien: faktor-faktor yang mempengaruhi ketaatan pasien untuk berpartisipasi dalam penelitian hendaknya dapat dikontrol sebaik mungkin

Pembutaan (blinding) (skripsi dan tesis)

Yang dimaksud dengan pembutaan adalah merahasiakan bentuk terapi yang diberikan. Dengan pembutaan, maka pasien dan/atau pemeriksa tidak mengetahui yang mana obat yang diuji dan yang mana pembandingnya. Biasanya bentuk obat yang diuji dan pembandingnya dibuat sama. Tujuan utama pembutaan ini adalah untuk menghindari bias pada penilaian respons terhadap obat yang diujikan. Pembutaan dapat dilakukan secara:
single blind (jika identitas obat tidak diberitahukan kepada pasien), double-blind (jika baik pasien maupun dokter pemeriksa tidak diberitahu obat yang diuji maupun pembandingnya), atau triple blind (jika pasien, dokter pemeriksa ataupun individu yang melakukan analisis tidak mengetahui identitas obat yang diuji dan pembandingnya)

Besar sampel Dalam PEnelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang mempengaruhi penetapan besar sampel adalah:
a) Derajat kepekaan uji klinik: jika diketahui bahwa perbedaan kemaknaan klinis antara 2 obat yang diuji tidak begitu besar, berarti diperlukan jumlah sampel yang besar
b) Keragaman hasil: makin kecil keragaman hasil uji antar individu dalam kelompok yang sama, semakin sedikit jumlah subyek yang diperlukan.
c) Derajat kebermaknaan statistik: semakin besar kebermaknaan statistik yang diharapkan dari uji klinik, semakin besar pula jumlah subyek yang diperlukan

Pengacakan atau randomisasi intervensi Dalam penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Randomisasi atau pengacakan intervensi mutlak diperlukan dalam uji klinik terkendali (RCT), dengan tujuan utama menghindari bias. Dengan pengacakan maka:
a) setiap subjek akan memperoleh peluang yang sama dalam mendapatkan obat uji atau pembandingnya (sebagai kelompok intervensi atau kontrol)
b) subjek yang memenuhi kriteria inklusi akan terbagi sama rata dalam setiap kelompok intervensi, dimana ciri-ciri subjek dalam satu kelompok praktis seimbang.

Rancangan uji klinik (skripsi dan tesis)

Untuk memperoleh hasil yang optimal perlu disusun rancangan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan etis, dengan tetap mengutamakan segi keselamatan dan kepentingan pasien. Dua rancangan yang sering digunakan, yaitu Randomized Clinical Trial (RCT) parallel design dan RCT cross-over design.
(a) Rancangan RCT parallel design
Prinsip dasar rancangan ini adalah secara acak subjek dibagi ke dalam 2 atau lebih kelompok pengobatan. Jumlah subjek pada setiap kelompok harus seimbang atau sama. Masing-masing kelompok akan memperoleh pengobatan/perlakuan yang berbeda, sesuai dengan jenis perlakuannya. Secara skematis adalah sebagai berikut: (R adalah simbol pengacakan atau random)

(b) Rancangan RCT cross-over design
Pada rancangan ini setiap subjek akan memperoleh semua bentuk pengobatan/perlakuan secara selang-seling, yang ditentukan secara acak. Untuk menghindari kemungkinan pengaruh obat/perlakuan yang satu dengan yang lainnya, setiap subjek akan memperoleh periode bebas pengobatan (washed-out period atau WOP). Rnacangan ini hanya dapat dilakukan untuk penyakit yang bersifat kronik dan stabil, seperti misalnya rematoid artritis dan hipertensi

Seleksi atau pemilihan subjek Dalam Penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Dalam uji klinik, harus ditentukan secara jelas kriteria-kriteria pemilihan pasien, yaitu:
a)Kriteria inklusi, yakni syarat-syarat yang secara mutlak harus dipenuhi subjek untuk dapat berpartisipasi dalam penelitian. Kriterianya antara lain kriteria diagnosis baik klinik maupun laboratoris, tingkat keparahan penyakit, asal pasien (rumah sakit atau populasi), umur, dan jenis kelamin.
b) Kriteria eksklusi (pengecualian), yaitu kriteria yang membatasi partisipasi subjek dalam penelitian. Sebagai contoh hampir sebagian besar uji klinik obat tidak memasukkan wanita hamil sebagai subjek mengingat pertimbangan risiko yang mungkin lebih besar dibanding manfaat yang didapat. Subjek yang mempunyai risiko tinggi terhadap pengobatan/perlakuan uji juga secara ketat tidak dilibatkan dalam penelitian

 

Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimental adalah penelitian dengan kontrol (perlakukan) terhadap eksposure. Dengan kata lain, pada penelitian eksperimental, status eksposur ditetapkan oleh peneliti sendiri. Kelebihan utama rancangan penelitian ini adalah apabila intervensi (eksposur) dialokasikan secara acak terhadap sampel yang cukup besar, penelitian ini mempunyai derajat validitas yang tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh penelitian observasional lainnya (yaitu deskriptif, kasus kontrol, ataupun kohort).
Dari aspek alokasi intervensi pada subjek penelitian, penelitian eksperimental dibagi menjadi 2 yakni penelitian eksperimental murni dan kuasi eksperimental. Pada penelitian eksperimental murni, intervensi dibagi secara acak pada subjek penelitian. Sebaliknya, pembagian subjek dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara random.
Penelitian eksperimental murni dalam konteks klinik dibedakan menjadi penelitian eksperimental dengan intervensi pencegahan dan intervensi terapetik. Penelitian eksperimental dengan intervensi terapetik disebut juga uji klinik.

Rancangan kelompok kontrol yang tidak sama (non-equivalent control group design)

Rancangan peneitian ini sering dipakai dalam penelitian. Dalam
rancangan ini, subjek penelitian atau partisipasi penelitian tidak dipilih secara
acak untuk dilibatkan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Pada dasarnya, langkah-langkah dalam rancangan ini sama seperti pada
rancangan pretest-posstest experimental control group design.
Dalam rancangan ini, ada dua kelompok subjek dimana satu mendapat
perlakuan dan satu kelompok sebagai kelompok control. Keduanya
memperoleh prates dan pascates. Perbedaan dengan kelompok non ekuivalen, bahwa kelompok tidak dipilih secara acak atau random.
Rancangan kelompok nonekuivalen ini disebut juga sebagai untreated
control group design with pretest and posttest. Rancangan penelitian ini
dikategorikan sebagai rancangan eksperimen kuasi (quasi experiment design).
Rancangan ini sangat sering dipakai dalam penelitian.Rancangan di atas (rancangan kuasi eksperimen) tidak menggunakan
random assignment sehingga ada kelemahan-kelemahan jika dibandingkan
rancangan eksperimen yang sebenarnya. Namun demikian, rancangan ini
dilakukan dengan jadwal perlakuan dan pengamatan yang sangat cermat.
Rancangan ini memberikan landasan yang kuat untuk memberikan alasan
untuk mengendalikan ancaman yang berkaitan dengan validitas internal

Non-Equivalent Grup Desain adalah desain yang paling sering
digunakan dalam penelitian sosial. Hal ini terstruktur seperti sebuah
eksperimen pretest posttest-acak. Dalam NEGD, kita paling sering
menggunakan grup utuh yang kita anggap sama seperti perlakuan dan
kelompok kontrol. Dalam pendidikan, kita bisa memilih dua kelas yang
sebanding. Dalam penelitian berbasis masyarakat, kita bisa menggunakan dua
komunitas yang sama. Kita mencoba untuk memilih grup yang semirip
mungkin, tapi kita tidak pernah bisa yakin kelompok-kelompok yang
sebanding. Atau, dengan kata lain, tidak mungkin bahwa kedua kelompok akan
mirip jika mereka kita tugaskan melalui undian acak. Karena sering
kemungkinan bahwa kelompok-kelompok yang tidak setara. Berarti bahwa
tugas yang kita berikan untuk kelompok seharusnya tidak acak. Dengan kata
lain, peneliti tidak menguasai tugas untuk kelompok melalui mekanisme
penugasan acak., ini yang dinamakan desain kelompok non equivalent

Kelompok berhubungan (intact group comparison) (skripsi dan tesis)

Rancangan penelitian intact group comparison atau desebut juga
rancangan static group comparison. Rancangan penelitian intac group desain
ini sebenarnya berasal dari kelompok subjek yang sama dan berhubungan.
Dalam rancangan ini sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu
dikelompokan secara rambang menjadi dua, yaitu kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakukan tertentu dalam
waktu tertentu, sedangkan kelompok control tidak. Kedua kelompok subjek itu kemudian dikenakan pengukuran atau observasi (tes) yang sama.Faktor validitas seperti sejarah dan maturasi dikendalikan dengan
kelompok control (yang tidak diberi perlakuan). Artinya, dalam situasi yang
secara kebetulan berpengaruh terhadap hasil, yang mungkin juga berpengaruh pada hasil observasi[

Rancangan “separate sample pretest-postest” (skripsi dan tesis)

Rancangan ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian kesehatan
dan keluarga berencana, pengukuran pertama (pretest) dilakukan terhadap
sample yang dipilih secara acak dari populasi tertentu. Kemudian dilakukan
intervensi atau program pada seluruh populasi tersebut. Selanjutnya dilakukan
pengukuran kedua (posttest) pada kelompok sampel lain, yang dipilih secara
acak (random) dari populasi yang sama. Rancangan ini sangat baik untuk
menghindari pengaruh atau efek dari “test”, meskipun tidak dapat mengontrol
“sejarah”, “maturitas”[

Single Subject Design (skripsi dan tesis)

Pada umumnya penelitian pendidikan menggunakan subjek penelitian
dalam bentuk kelompok (kelas). Penelitian seperti ini akan memberikan hasil
yang menggambarkan keadaan satu atau beberapa kelompok, tidak
menggambarkan keadaan individual dalam kelompok tersebut. Pada situasi
eksperimen tertentu, perlakuan perlu diberikan hanya pada satu individu saja.
Penelitian seperti ini disebut sebagai penelitian single subject. Penelitian ini
sangat berguna bagi guru yang sedang melaksanakan penelitian terhadap
individual siswa, misalnya dalam melakukan penelitian bimbingan dan
konseling atau dalam melakukan rehabilitasi dan terapi fisik yang
perlakuannya hanya diberikan pada satu individu saja. Desain single subject
umumnya menggunakan pengukuran yang berulang dan hanya
mengimpleentasikan variabel bebas tunggal yang diharapkan dapat merubah
hanya satu variabel terikat. Pengukuran variabel dilakukan pada kondisi
normal yang disebut baseline[

Times Series Design (skripsi dan tesis)

O1 O2 O3 O4     X       O5 O6 O7 O8
Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak
dapat dipilih secara random. Sebelumnya diberi perlakuan, kelompok diberi
pretest sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan
kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest
selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berate kelompok tersebut
keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan
keadaan kelompok daoat diketahui dengan jelas maka baru diberi treatment.
Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja., sehingga tidak
memerlukan kelompok kontrol.
Hasil pretest yang baik adalah O1=O2=O3=O4 dan hasil perlakuan
yang baik adalah O5=O6=O7=O8. Besarnya pengaruh perlakuan adalah =
(O5+O6+O7+O8) – (O1+O2+O3+O4).
Desain time series sebagai kuasi eksperimen memiliki ciri adanya
pengukuran yang berulang-ulang, baik sebelum maupun sesudah perlakuan
terhadap satu atau beberapa intact group

Tujuan, Kelemahan, dan Keunggulan Eksperimen Semu (skripsi dan tesis)

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat
dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimen,
namun pemilahan kedua kelompok tersebut tidak dengan teknik random[4].
Adapun beberapa kelemahan/ keterbatasan yang dimiliki oleh desain
quasi eksperimen adalah terlalu fokus terhadap kejadian yang tidak dapat
diperkirakan dan tidak berkelanjutan sehingga dapat mengaburkan tujuan jika
terjadi perubahan yang tidak terduga akibat faktor fenomena ekonomi atau
perkembangan politik. Dan juga kurang kuatnya pengukuran dalam hal
asosiasi yang menjadikan beberapa efek yang terjadi pengukurannya terbatas.
Hal tersebut mengakibatkan beberapa efek seringkali “tidak terlihat” pada saat pengukuran terjadi (Caporaso, 1973:31-38).
Adapun secara terperinci kelemahan dari penelitian Quasi Eksperiment
adalah sebagai berikut:
a. Tidak adanya randomisasi (randoimization), yang berarti pengelompokan
anggota sampel pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak
dilakukan dengan random atau acak.
b. Kontrol terhadap variabel-variabel yang berpengaruh terhadap eksperimen
tidak dilakukan, karena eksperimenini biasanya dilakukan di masyarakat[5].
Di dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, penggunaan quasi
eksperimen sangat disarankan mengingat kondisi objek penelitian yang
seringkali tidak memungkinkan adanya penugasan secara acak. Hal tersebut
diakibatkan telah terbentuknya satu kelompok utuh (naturally formed
intactgroup), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Kelompok-kelompok
ini juga sering kali jumlahnya sangat terbatas. Dalam keadaan seperti ini
kaidah-kaidah dalam true eksperimen tidak dapat dipenuhi secara utuh, karena pengendalian variabel yang terkait subjek penelitian tidak dapat dilakukan sepenuhnya. Sehingga untuk penelitian yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pembelajaran, direkomendasikan penggunaan teknik quasi experiment di dalam implementasinya (Azam, Sumarno &Rahmat, 2006) [6].
Selain memiliki kelemahan quasi eksperimen juga memiliki
keuntungan. Adapun keuntungannya yaitu pada penelitian ekperimen semu ini
tidak mempunyai batasan yang ketat terhadap randomisasi dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancama-ancaman validitas

Pengertian Eksperimen Semu (kuasi eksperimen) (skripsi dan tesis)

Quasi eksperiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki
perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan
penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka menyimpulkan
perubahan yang disebabkan perlakuan (Cook & Campbell, 1979). Pada
penelitian lapangan biasanya menggunakan rancangan eksperiment semu
(kuasi eksperimen). Desain tidak mempunyai pembatasan yang ketat terhadap
randomisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman-ancaman
validitas.
Penelitian eksperimen semu atau eksperimen kuasi pada dasarnya samadalam menentukan validitas internal sesuai dengan batasan-batasan yang ada dengan penelitian eksperimen murni. Penelitian eksperimen murni maka  subjek, atau partisipan penelitian dipilih secara random
dimana setiap subjek memperoleh peluang sama untuk dijadikan subjek
penelitian. Peneliti memanipulasi subjek sesuai dengan rancangannya. Berbeda dengan penelitian kuasi, peneliti tidak mempunyai keleluasaan untuk
memanipulasi subjek, artinya random kelompok biasanya diapakai sebagai
dasar untuk menetapkan sebagai kelompok perlakuan dan control. Misalnya,
kita ingin menguji apakah pebelajar yang dibelajarkan melalui buku teks yang
disertai video memperoleh hasil atau prestasi belajar yang lebih unggul, jika
dibandingkan dengan pebelajar yang hanya dibelajarakan dengan buku teks
saja? Untuk maksud tersebut, kita menentukan kelompok subjek mana yang
diberi perlakuan (buku teks dan video) dan control atau kendali (buku teks
saja). Setelah diberi perlakuan dalam kurun waktu tertentu, kedua kelompok
subjek diberi pascates. Hasil pascates ini kita uji dengan teknik statistic
tertentu[1].
Adapula yang menyatakan bahwa eksperimen semu adalah penelitian
yang mendekati percobaan sungguhan di mana tidak mungkin mengadakan
control/ memanipulasikan semua variabel yang relevan. Harus ada kompromi dalam menentukan validitas internal sesuai dengan batasan-batasan yang
ada

 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas Instrumen (Skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008:51-52) koefisien reliabilitas dapat dipengaruhi oleh waktu penyelenggaraan tes-retes. Interval penyelenggaraan yang terlalu dekat atau terlalu jauh, akan mempengaruhi koefisien reliabilitas. Faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi reliabilitas instrument evaluasi di antaranya sebagai berikut::
1)      Panjang tes, semakin panjang suatu tes evaluasi, semakin banyak jumlah item materi pembelajaran diukur.
2)      Penyebaran skor, koefisien reliabelitas secara langsung dipengaruhi oleh bentuk sebaran skor dalam kelompok siswa yang di ukur. Semakin tinggi sebaran, semakin tinggi estimasi koefisien reliable.
3)      Kesulitan tes, tes normative yang terlalu mudah atau terlalu sulit untuk siswa, cenderung menghasilkan skor reliabilitas rendah.

 

4)      Objektifitas, yang dimaksud dengan objektif yaitu derajat dimana siswa dengan kompetensi sama, mencapai hasil yang sama

Tipe-tipe Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008) Ada beberapa tipe reliabelitas yang digunakan dalam kegiatan evaluasi dan masing-masing reliebelitas mempunyai konsistensi yang berbeda-beda. Beberap tipe reliebelitas di antaranya: tes-retes, ekivalen, dan belah dua yang ditentukan melalui korelasi.
Berbagai tipe tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1)      Relibalelitas Dengan Tes-Retes
Reliabelitas tes-retes tidak lain adalah derajat yang menunjukkan konsistensi hasil sebuah tes dari waktu ke waktu. Tes-Retes menunjukkan variasi skor yang diperoleh dari penyelenggaraan satu tes evaluasi yang dilaksanakan dua kali atau lebih, sebagai akibat kesalahan pengukuran. Dengan kata lain, kita tertarik dalam mencari kejelasan bahwa skor siswa mencapai suatu tes pada waktu tertentu adalah sama hasilnya, ketika siswa itu dites lagi dengan tes yang sama. Dengan melakukan tes-retes tersebut. Seorang guru akan mengetahui seberapa jauh konsistensi suatu tes mengukur apa yang ingin diukur (Sukardi, 2008).
Sedangkan Arikunto (1997: 88) Metode tes ulang (tes-retes) dilakukan untuk menghindari dua penyusunan dua seri tes. Dalam menggunakan teknik atau metode ini pengetes hanya memiliki satu seri tes tapi dicobakan dua kali. Oleh karena tesnya satu dan dicobakan dua kali, maka metode ini dapat disebut juga dengan single-test-double-trial-method.
Reliebelitas tes retes dapat dilakukan dengan cara seperti berikut:
  1. Selenggarakan tes pada suatu kelompok yang tepat sesuai dengan rencana.
  2. Setelah selang waktu tertentu, misalnya satu minggu atau dua minggu, lakukan kembali tes yang sama dengan kelompok yang sama tersebut.
  3. Korelasikan kedua hasil tes tersebut.
Jika hasil koefisien menunjukkan tinggi, berarti reliabilias tes adalah bagus. Sebaliknya, jika korelasi rendah, berarti tes tersebut mempunyai konsistensi rendah (Sukardi, 2008).
2)      Reliabelitas Dengan Bentuk Ekivalensi
Sesuai dengan namanya yaitu ekivalen, maka tes evaluasi yang hendak diukur reliabelitasnya dibuat identik dengan tes acuan. Setiap tampilannya, kecuali substansi item yang ada, dapat berbeda. Kedua tes tersebut sebaliknya mempunyai karate yang sama. Karakteristik yang dimaksud misalnya mengukur variabel yang sama, mempunyai jumlah item sama, struktur sama, mempunyai tingkat kesulitan dan mempunyai petunjuk, cara penskoran, dan interpretasi yang sama (Sukardi 2008).
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Arikunto (1997: 87) tes paralel atau equivalent adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesukaran dan susunan, tetapi butir-butirnya berbeda. Dalam istilah bahasa Inggris disebut Alternate-forms method (parallel forms).
Tes reliabelitas secara ekivalen dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Tentukan sasaran yang hendak dites
  2. Lakukan tes yang dimaksud kepada subjek sasaran tersebut.
  3. Administrasinya hasilnya secara baik.
  4. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, lakukan pengetesan yang kedua kalinya pada kelompok tersebut
  5. Korelasikan kedua hasil skor tersebut (Sukardi, 2008).
Perlu diketahui juga bahwa tes ekivalensi mempunyai kelemahan yaitu bahwa membuat dua buah tes yang secara esensial ekivalen adalah sulit. Akibatnya akan selalu terjadi kesalahan pengukuran (Sukardi, 2008). Pernyataan lain juga disampaikan oleh Arikunto (1997: 88) kelemahan dari metode ini adalah pengetes pekerjaannya berat karena harus menyusun dua seri tes. Lagi pula harus tersedia waktu yang lama untuk mencobakan dua kali tes.
3)      Reliebilitas Dengan Bentuk Belah Dua
Menurut Sukardi (2008: 47) Reliabilitas belah dua ini termasuk reliabilitas yang mengukur konsistensi internal. Yang dimaksud konsistensi internal adalah salah satu tipe reliabilitas yang didasarkan pada keajegan dalam setiap item tes evaluasi. Relibilitas belah dua ini pelaksanaanya hanya satu kali.
Cara melakukan reliabilitas belah dua pada dasarnya dapat dilakukan dengan urutan sebagai  berikut:
  1. Lakukan pengetesan item-item yang telah dibuat kepada subjek sasaran.
  2. Bagi tes yang ada menjadi dua atas dasar dua item, yang paling umum dengan membagi item dengan nomor ganjil dengan item dengan nomor genap pada kelompok tersebut.
  3. Hitung skor subjek pada kedua belah kelompok penerima item genap dan item ganjil.
  4. Korelasikan kedua skor tersebut, menggunakan formula korelasi yang relevan dengan teknik pengukuran (Sukardi, 2008).
Untuk mengetahui seluruh tes harus digunakan rumus Spearman-Brown (Arikunto, 1997):

Pengertian Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008: 43) relaibelitas adalah karakter lain dari evaluasi. Reliabelitas juga dapat diartikan sama dengan konsistensi atau keajegan. Suatu instrument evaluasi dikatakan mempunyai nilai reliabelitas tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil konsisten dalam mengukur yang hendak diukur.
Sehubungan dengan reliabelitas ini Scarvia B. Anderson dan kawan-kawan (dalam Arikunto, 1997) menyatakan bahwa persyaratan bagi tes, yaitu validitas dan reliabelitas ini penting. Dalam hal ini validitas lebih penting, dan reliabelitas ini perlu, karena menyokong terbentuknya validitas. Sebuah tes mungkin reliable tapi tidak valid. Sebaliknya tes yang valid biasanya reliable.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Validitas (skripsi dan tesis)

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil tes evaluasi tidak valid. Beberapa faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menurut sumbernya, yaitu faktor internal dari tes, faktor eksternal tes, dan faktor yang berasal dari siswa yang bersangkutan.
1)      Faktor yang berasal dari dalam tes
  1. Arahan tes yang disusun dengan makna tidak jelas sehingga dapat mengurangi validitas tes
  2. Kata-kata yang digunakan dalam struktur instrument evaluasi, tidak terlalu sulit
  3. Item tes dikonstruksi dengan jelas.
  4. Tingkat kesulitan item tes tidak tepat dengan materi pembelajaran yang diterima siswa.
  5. Waktu yang dialokasikan tidak tepat, hal ini termasuk kemungkinan terlalu kurang atau terlalu longgar.
  6. Jumlah item terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel
  7. Jawaban masing-masing item evaluasi bisa diprediksi siswa
2)      Faktor yang berasal dari administrasi dan skor tes.
  1. Waktu pengerjaan tidak cukup sehingga siswa dalam memberikan jawaban dalam situasi tergesa-gesa.
  2. Adanya kecrangan dalam tes sehingga tidak membedakan antara siswa yang belajar dengan melakukan kecurangan.
  3. Pemberian petunjuk dari dari pengawas yang tidak dapat dilakukan pada semua siswa.
  4. Teknik pemberian skor yang tidak konsisten.
  5. Siswa tidak dapat memngikuti arahan yang diberikan dalam tes baku.
  6. Adanya joki (orang lain bukan siswa) yang masuk dalam menjawab item tes yang diberikan.
3)      Faktor yang berasal dari jawaban siswa
Seringkali terjadi bahwa interpretasi terhadap item-item tes evaluasi tidak valid, karena dipengaruhi oleh jawaban siswa dari pada interpretasi item-item pada tes evaluasi (Sukardi, 2008).

Macam-macam Validitas (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi (2008) secara metodologis validitas suatu tes dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu validitas isi, validitas konstruk, validitas konkruen dan validitas prediksi. Macam-macam validitas tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1)      Validitas isi
Yang dimaksud validitas isi ialah derajat dimana sebuah tes evaluasi mengukur cakupan substansi yang ingin diukur. Untuk mendapatkan validitas isi memerlukan dua spek penting, yaitu valid isi dan valid teknik sampling.Valid isi mencakup khususnya, hal-hal yang berkaitan dengan apakah item-item evaluasi menggambarkan pengukuran dalam cakupan yang ingin diukur. Sedangkan validitas teknik sampling pada umunya berkaitan dengan bagaimanakah baiknya suatu sampel tes mempresentasikan total cakupan isi (Sukardi, 2008).
Sedangkan Arikunto (1997: 64) sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diberikan tertera dalam kurikulum maka validitas isi juga disebut validitas kurikuler.
2)      Validitas Konstruk
Validitas konstruk merupakan derajat yang menunjukkan suatu tes mengukur sebuah konstruk sementara atau Hyptotetical construct. Secara definitife, konstruk merupakan suatu sifat yang tidak dapat diobservasi, tetapi kita dapat merasakan pengaruhnya melalui salah satu atau dua indera kita (Sukardi, 2008).
Sedangkan Arikunto(1997: 64) sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir seperti disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Dengan kata lain jika butir-butir soal mengukur aspek berfikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berfikir yang menjadi tujuan instruksional.
3)      Validitas Konkruen
Validitas konkruen adalah derajat dimana skor dalam suatu tes dihubungkan dengan skor lain yang telah dibuat. Tes dengan validitas konkruen biasanya diadministrasi dalam waktu yang sama atau dengan criteria valid yang sudah ada. Sering kali juga terjadi bahwa tes dibuat atau dikembangkan untuk pekerjaan yang sama seperti beberapa tes lainnya, tetapi dengan cara yang lebih mudah dan lebih cepat. Validitas konkruen ditentukan dengan membangun analisis hubungan dan perbedaan (Sukardi, 2008).
4)      Validitas Prediksi
Validitas prediksi adalah derajat yang menunjukkan suatu tes dapat memprediksi tentang bagaimana baik seseorang akan melakukan suatu prospek  atau tugas atau pekerjaan yang direncanakan. Validitas prediksi suatu tes pada umumnya ditentukan dengan membangun hubungan antara skor tes dan beberapa ukuran keberhasilan dalam situasi tertentu yang digunakan untuk memprediksi keberhasilan, yang selanjutnya disebut sebagai predictor. Sedangkan tingkah laku yang diprediksi disebut criterion (Sukardi, 2008).
Sedangkan menurut Arikunto(1997: 66) memprediksi artinya meramal, dan meramal selalun mengenai hal yang akan datang jika sekarang belum terjadi. Sebuah tes memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

Pengertian Validitas Instrumen (skripsi dan tesis)

Karakter pertama dan memiliki peranan sangat penting  dalam instrument evaluasi adalah valid. Suatu instrument dikatakan valid, seperti yang duterangkan oleh Gay (1983) dan Johnson & Johnson (2002), apabila instrument yang digunakan dapat mengukur apa yang seharusnya diukur (Sukardi, 2008).
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Scarvia B. Anderson (dalam Arikunto, 1997) bahwa “A test is valid if it measures what is purpose to measure”. Atau jika diartikan krang lebih, sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Dalam bahasa Indonesia “Valid” disebut dengan istilah “Sahih”.
Menurut Sukardi (2008: 31) validitas instrument suatu evaluasi, tidak lain adalah derajat yang menunjukkan dimana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur. Validitas suatu instrument evaluasi mempunyai beberapa makna penting diantaranya seperti berikut:
1)      Validitas berhubungan dengan ketepatan interpretasi hasil tes atau instrument evaluasi untuk group individual dan bukan instrument itu sendiri.
2)      Validitas diartikan sebagai derajat yang menunjukkan kategori yang bisa mencakup kategori rendah, menengah dan tinggi.
3)      Prinsip suatu tes valid, tidak universal. Validitas suatu tes yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah bahwa Ia hanya valid untuk suatu tujuan tertentu saja.

Manfaat Kegiatan Menganalisis Butir Soal (skripsi dan tesis)

Berdasarkan pendapat yang diungkapkan oleh Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal memiliki banyak manfaat, diantaranya yakni:

  1. Membantu pengguna tes dalam mengevaluasi kualitas tes yang digunakan,
  2. relevan bagi penyusunan tes informal seperti tes yang disiapkan guru untuk siswa dikelas,
  3. mendukung penulisan butir soal yang efektif,
  4. secara materi dapat memperbaiki tes di kelas,
  5. meningkatkan validitas soal dan reliabilitas.

     Linn dan Gronlund (1995) dalam Suprananto (2012: 163), menambahkan bahwa pelaksanaan kegiatan analisis butir soal, biasanya didesain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Apakah fungsi soal sudah tepat?
  2. Apakah soal telah memiliki tingkat kesukaran yang tepat?
  3. Apakah soal bebas dari hal-hal yang tidak relevan?
  4. Apakah pilihan jawabannya efektif?

Selain itu, data hasil analisis butir soal juga sangat bermanfaat sebagai dasar untuk:

  1. Diskusi tentang efisien hasil tes,
  2. kerja remedial
  3. peningkatan secara umum pembelajaran di kelas,
  4. peningkatan keterampilan pada kontruksi tes.

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa analisis butir soal memberikan manfaat:

  1. Menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi dengan baik,
  2. meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu, tingkat kesukaran, daya pembeda dan pengecoh soal,
  3. merevisi soal yang tidak relevan degan materi yang diajarkan, ditandai dengan banyaknya anak yang tidak dapat menjawab butir soal tertentu.

Parameter Item Tes yang Baik (skripsi dan tesis)

Sebagaimana telah disebut sebelumnya, bahwa item tes yang baik adalah item yang memenuhi syarat sebagaimana kriteria atau karakteristik item tes yang baik. Karakteristik item yang dimaksud adalah tingkat kesulitan atau kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh.

  1. Tingkat Kesulitan atau Kesukaran

Tingkat kesukaran soal adalah peluang menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Tingkat kesukaran dinyatakan dalam indeks kesukaran (dificulty index), yaitu angka yang menunjukkan proporsi siswa yang menjawab benar soal tersebut. Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dan hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu.

Dalam hal ini, item yang baik adalah item yang tingkat kesukarannya dapat diketahui,  tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Sebab, tingkat kesukaran item itu memiliki korelasi dengan daya pembeda. Bilamana item memiliki tingkat kesukaran yang maksimal, maka daya pembedanya akan rendah, demikian pula bila item itu terlalu mudah maka tidak akan memiliki daya pembeda.

Oleh karena itu, sebaiknya tingkat kesukaran soal itu dipertahankan dalam batas yang mampu memberikan daya pembeda. Namun, jika terdapat tujuan khusus dalam penyusunan tes, maka tingkat kesukaran itu bisa dipertimbangkan.  Misalnya, tingkat kesukaran item untuk tes sumatif berbeda dengan tingkat kesukaran pada tes diagnostik.

Untuk menghitung taraf kesukaran soal dari suatu tes dipergunakan rumus sebagai berikut:

TK = U + L

             T

Keterangan:

U  = jumlah siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) yang menjawab benar untuk tiap soal.

   =  jumlah siswa yang termasuk kurang (lower group) yang menjawab benar untuk tiap soal.

T    =  jumlah siswa dari kelompok pandai dan kelompok kurang (jumlah upper group dan lower group)

Misalkan suatu tes yang terdiri atas N soal yang diberikan kepada 40 siswa. Dari hasil tes tersebut, tiap-tiap soal dianalisis taraf kesukarannya. mula-mula hasil tes itu kita susun kedalam peringkat, kemudian kita ambil 25% (10 lembar jawaban siswa kelompok pandai), dan 10 lembar jawaban siswa dari kelompok yang kurang pandai. Kemudian kita tabulasikan. Misalkan dari tabulasi soal kita peroleh hasil sebagai berikut: yang menjawab benar dari kelompok pandai ada 9 siswa, dan yang menjawab benar dari kelompok kurang pandai ada 4 siswa.

Dengan menggunakan rumus diatas, maka taraf kesukaran atau TK dari soal adalah:

TK =  U + L  =  9 + 4  =  0,65 atau 65%

             T             20 

Jadi dapat disimpilkan bahwa nilai dari TK atau tingkat kesukarannya adalah 65%.

Sedangkan dalam bukunya Drs. H. Daryanto, rumus untuk mencari taraf kesukaran atau indeks kesukaran adalah:

P =    B

         JS

Keterangan:

     =  indeks kesukaran.

    =  banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar.

JS    =  jumlah seluruh siswa peserta tes.

Contoh:

Jumlah siswa peserta tes dalam suatu kelas ada 40 siswa. Dari 40 siswa tersebut terdapat 12 siswa yang mampu mengerjakan soal no. 1 dengan benar. Maka berapa indeks kesukarannya?

Jawab:

P  =    B

          JS

    =    12

           40

    =   0,30

Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar.
  2. Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang.
  3. Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah.
  1. Daya Pembeda

Perhitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu membedakan peserta didik yang sudah menguasai kompetensi dengan peserta didik yang belum atau kurang menguasai kompetensi berdasarkan kriteria tertentu. Semakin tinggi koofisien daya pembeda suatu butir soal, semakin mampu butir soal tersebut membedakan antara peerta didik yang menguasai kompetensi dengan pesertan didik yang kurang menguasai kompetensi.

Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi. Daya pembeda suatu soal tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

DP  =   U – L

              ½ T

Keterangan:

DP =   indeks DP atau daya pembeda yang dicari.

U = jumlah siswa yang termasuk dalam kelompok pandai yang mampu      menjawab benar untuk tiap soal.

L    =   jumlah siswa yang termasuk kurang yang menjawab benar untuk tiap soal.

T    =   jumlah siswa keseluruhan.

Contoh:

Dari hasil tes lomba olimpiade IPS, jumlah siswa yang dites adalah 40 siswa, sedangkan tes tersebut terdiri dari 20 soal. Setelah hasil tes tersebut diperiksa, kemudian disusun kedalam peringkat untuk menentukan 25% siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) dan 25% siswa yang termasuk kelompok kurang (lower group).

Kemudian hasil tes tersebut ditabulasikan dengan menggunakan format tabulasi jawaban tes, kemudian hasil tabulasi dari kedua kelompok tersebut dimasukkan kedalam format analisis soal tes, sehingga kita dapat menghitung tingkat kesukaran dan daya pembeda tiap soal yang kita analisis.

Misalkan dari tabulasi soal no. 1 kita peroleh hasil sebagai berikut: yang menjawab benar dari kelompok pandai ada 10 siswa, dan yang menjawab benar dari kelompok kurang ada 9 siswa. Maka daya pembedanya adalah:

 DP  =   U – L

              ½ T

       =    10 – 9

            ½ x (20)

       =      1

              10

      =     0,10

Jadi dapat disimpulkan bahwa indeks pembedanya adalah 0,10.

Dalam bukunya Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, dijelaskan mengenai klasifikasi daya pembeda, yaitu:

D =  0,00 – 0,20  =  jelek (poor).

D =  0,20 – 0,40  =  cukup (satisfactory).

D =  0,40 – 0,70  =  baik (good).

D =  0,70 – 1,00  =  baik sekali (excellent).

  1. Analisis pengecoh (Efektifitas Distraktor )

Instrumen evaluasi yang berbentuk tes dan objektif, selain harus memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan terdahulu, harus mempunyai distraktor yang efektif. Yang disebut dengan distraktor atau pengecoh adalah opsi-opsi yang bukan merupakan kunci jawaban (jawaban benar).

Butir soal yang baik pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik, pengecohnya akan dipilih secara tidak merata. Pengecoh dianggap baik bila jumlah peserta didik yang memilih pengecoh itu sama atau mendekati jumlah ideal. Indeks pengecoh dihitung dengan rumus:

IP =   P  x   100%

       (N – B) (n – 1)

 Keterangan:

IP =  indeks pengecoh

P  =  jumlah peserta didik yang memilih pengecoh

N =  jumlah peserta didik yang ikut tes

B =  jumlah peserta didik yang menjawab benar pada setiap soal

n  =  jumlah alternatif jawaban

      1=  bilangan tetap

Catatan:

Jika semua peserta didik menjawab benar pada butir soal tertentu (sesuai kunci jawaban), maka IP = 0 yang berarti soal tersebut jelek. Dengan demikian pengecoh tidak berfungsi.

Contoh:

50 orang peserta didik dites dengan 10 soal bentuk pilihan ganda. Tiap soal memiliki alternatif jawaban (a, b, c, d, e). Kunci jawaban (jawaban yang benar) no. 8 adalah c. Setelah soal no.8 diperiksa untuk semua peserta didik, ternyata dari 50 orang peserta didik, 20 peserta didik menjawab benar dan 30 peserta didik menjawab salah. Idealnya, pengecoh dipilih secara merata.

Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Penelaahan soal secara kuantitatif adalah penelaahan butir soal didasarkan pada bukti empirik. Salah satu tujuan utama pengujian butir-butir soal secara emperik adalah untuk mengetahui sejauh mana masing-masing butir soal membedakan antara mereka yang tinggi kemampuannya dalam hal yang didefinisikan oleh kriteria dari mereka yang rendah kemampuannya.

Data empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan. Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif yaitu pendekatan secara klasik dan modern.

Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta tes guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Pada teori tes klasik, analisis item tes dilakukan dengan memperhitungkan kedudukan item dalam suatu kelas atau kelompok. Karakteristik atau kualitas item sangat tergantung pada kelompok dimana diujicobakan sehingga kualitas item terikat pada sampel responden atau peserta tes yang memberikan respons (sample bounded).

Ada beberapa kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah, sederhana, familiar, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer dan dapat menggunakan beberapa data dari peserta tes.

Analisis butir soal secara modern adalah penelaahan butir soal dengan menggunakan teori respon butir atau item response theory. Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu butir dengan kemampuan siswa.

Teori ini muncul karena adanya beberapa keterbatasan pada analisis secara klasik, yaitu:

  1. Tingkat kemampuan dalam teori klasik adalah true score. Artinya, jika suatu tes sulit maka tingkat kemampuan peserta tes akan rendah.sebaiknya, jika suatu tes mudah maka tingkat kemampuan peserta tes tinggi.
  2. Tingkat kesukaran butir soal didefinisikan sebagai proporsi peserta tes yang menjawab benar. Mudah atau sulitnya butir soal tergantung pada kemampuan peserta tes.
  3. Daya pembeda, reliabilitas, dan validitas tes tergantung pada kondisi peserta tes.

Analisis Butir Soal Secara Kualitatif (skripsi dan tesis)

Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan atau diujikan. Aspek yang diperhatikan dalam penelaahan secara kualitatif mencakup aspek materi, konstruksi, bahasa atau budaya, dan kunci jawaban.

Ada beberapa teknik yang digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif, yaitu teknik moderator dan teknik panel. Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang didalamnya terdapat satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli.

Sedangkan teknik panel adalah teknik menelaah butir soal berdasarkan kaidah penulisan butir soal. Kaidah itu diantaranya adalah materi, kontruksi, bahasa atau budaya, kebenaran kunci jawaban. Caranya beberapa penelaah diberikan beberapa butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penelaahan.

Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif penggunaan format penelaahan soal akan membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir soal

Pengertian Analisi Butir Soal (skripsi dan tesis)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.

Analisis butir soal yang dalam bahasa inggris disebut item analiysis dilakukan terhadap empirik. Maksudnya, analisis itu baru dapat dilakukan apabila suatu tes telah dilaksanakan dan hasil jawaban terhadap butir-butir soal telah kita peroleh. Analisis butir soal adalah suatu kegiatan analisis untuk menentukan tingkat kebaikan butir-butir soal yang terdapat dalam suatu tes sehingga informasi yang dihasilkan dapat kita pergunakan untuk memperbaiki butir soal dan tes tersebut.

 

Identifikasi terhadap setiap butir item soal dilakukan dengan harapan akan menghasilkan berbagai informasi berharga, yang pada dasarnya akan merupakan umpan balik (feed back) guna melakukan perbaikan, pembenahan, dan penyempurnaan kembali terhadap butir-butir soal, sehingga pada masa-masa yang akan yang akan dating tes hasil belajar yang disusun atau dirancang oleh guru itu betul-betul dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pengukur hasil belajar yang memiliki kualitas yang tinggi.

Aiken dalam Suprananto (2012) berpendapat bahwa kegiatan analisis butir soal merupakan kegiatan penting dalam penyusunan soal agar diperoleh butir soal yang bermutu. Tujuan kegiatan ini adalah:

  1. Mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum digunakan,
  2. meningkatkan kualitas butir tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif,
  3. mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka telah memahami materi yang telah diajarkan.

Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya tentang siswa mana yang telah menguasai materi dan siswa mana yang belum menguasai materi. Selanjutnya menurut Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal dapat dilakukan secara kualitatif (berkaitan dengan isi dan bentuknya) dan kuantitatif (berkaitan dengan ciri-ciri statistiknya). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruksi, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran validitas dan reliabilitas butir soal, kesulitan butir soal serta diskriminasi soal. Kedua teknik ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan, oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan atau memadukan keduanya.

Analisis item (skripsi dan tesis)

Analisis item adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menganalisis apakah item-item pada suatu alat tes telah memenuhi fungsinya, yaitu:

  • Mewakili domain tingkah laku
  • Memiliki derajat kesulitan yang tepat
  • Memiliki daya diskriminasi yang maksimal

Menurut Kaplan & Saccuzzo (2005), analisis item adalah kegiatan mengevaluasi item-item alat tes. Dari kegiatan ini diharapkan didesain sebuah alat tes dengan jumlah item minimum, namun reliabilitas dan validitas yang maksimum.

Analisis item dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.

  • Kualitatif; menyangkut keterwakilan tingkah laku domain menjadi item dalam alat tes (konten dan form)à content validity (menyangkut expert judgement)
  • Kuantitatif; dibagi menjadi item difficulty & item discriminant.
    • item difficulty merupakan presentase (proporsi) orang yang menjawab item dengan benar (P), sedangkan
    • item discriminant adalah perbandingan antara proporsi orang yang menjawab benar dalam kelompok upper dengan proporsi orang yang menjawab benar dalam kelompok lower. Perbedaan proporsi ini disebut sebagai index of discrimination (D).

Teknik Analisis Fungsi Distraktor (skripsi dan tesis)

Pada saat membicarakan tentang tes obyektif bentuk multiple choice item telah dikemukakan bahwa pada tes obyektif bentuk multiple choice item tersebut untuk setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawaban, atau yang sering dikenal dengan istilah option atau alternatif. Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara tiga sampai dengan lima buah, dan dari kemungkinan-kemungkinan jawaban yang terpasang pada setiap butir item itu, salah satu diantaranya adalah merupakan jawaban betul (= kunci jawaban); sedangkan sisanya adalah merupakan jawaban salah. Jawaban-jawaban salah itulah yang biasa dikenal dengan istilah distractor (distraktor = pengecoh). Tujuan utama dari pemasangan distraktor pada setiap butir item itu adalah, agar dari sekian banyak testee yang mengikuti tes hasil belajar ada yang tertarik atau terangsang untuk memilihnya, sebab mereka menyangka bahwa distraktor yang mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka terkecoh. Tentu saja, makin banyak testee yang terkecoh, maka kita dapat menyatakan bahwa distraktoritu makin dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Distraktor dinyatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distraktor tersebut sekurang-kurangnya sudah dipilih oleh 5% dari seluruh peserta tes. Misalnya, tes hasil belajar diikuti oleh 100 orang testee. Distraktor yang dipasang pada item tersebut dapat dinyatakan berfungsi apabila minimal 5% orang dari 100 orang testee itu sudah “terkecoh” untuk memilih distraktor tersebut.

Teknik Analisis Daya Pembeda Item (skripsi dan tesis)

Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan ( mendiskriminasi) antara testee yang berkemampuan tinggi ( pandai), dengan testee yang berkemampuan rendah (= bodoh). Mengetahui daya pembeda item itu penting sekali, sebab salah satu dasar yang dipegangi untuk menyusun butir-butir item tes hasil belajar adalah adanya anggapan, bahwa kemampuan antara testee yang satu dengan testee yang lain itu berbeda-beda, dan bahwa butir-butir item tes hasil belajar itu haruslah mampu memberikan hasil tes yang mencerminkan adanya perbedaan-perbedaan kemampuan yang terdapat di kalangan testee tersebut. Daya pembeda item dapat diketahui dengan cara melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi item, yaitu angka yang nenunjukkan besar kecilnya daya pembeda (diskrimnasi power) butir item

Teknik Analisis Derajat Kesukaran Item (skripsi dan tesis)

 

Derajat kesukaran item atau taraf kesulitan butir-butir item tes hasil belajar heruslah seimbang atau sedang, dalam artian tidak terlalu sukar dan tidak terlalu sulit. Hal inilah yang membuat bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil belajar. Untuk mengetahui tingkat kesulitan butir item tes hasil belajar dikenal dengan istilah difficulty index (angka index kesukaran item) dalam dunia evaluasi belajar umumnya dilambangkan dengan huruf P (proporstion).Dalam kaitan dengan hasil analisis item dari segi derajat kesukaran, maka tindak lanjut yang perlu dilakukan oleh tester adalah sbegai berikut: 1. Untuk butir-butir item yang berdasarkan hasil analisis dalam kategori baik, seyogyanya butir item tersebut segera dicatat dalam buku bank soal. 2. Untuk butir-butir item yang masuk dalam kategori terlalu sukar ada tiga kemungkinan yaitu: (1) butir item tersebut dibuang atau tidak dikelaurkan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang; (2) diteliti ulang, dilacak dan ditelusuri untuk mengetahui factor kesulitan dari butir item tersebutsetelah ada perbaikan maka buitr item terdebut dapat dikeluarkan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang; (3) butir item yang terlalu sukar tidak digunakan dalam tes hasil belajar tetapi dimanfaatkan untuk tes-tes yang lain seperti tes seleksi yang sifatnya ketat, dengan tujuan testee yang berkemampuan rendah akan mudah tersisihkan dari seleksi. 3. untuk butir item yang masuk dalam kategori mudah juga terdapat tiga kemungkinan yaitu: (1) buti item tersebut tidak dipakai dalam tes hasil belajar slanjutnya, (2) diteliti ulang, dilacak dan di telusuri faktornya, setelah ada perbaikan dapat dikeluarkan lagi pada tes hasil belajar berikunya untuk mengetahui derajat kesukarannya lebih baik ataukah tidak,(3) sama seperti halnya butir item yang sukar, butir item ini dapat digunakan dalam tes seleksi yang sifatnya longgar atau tes formalitas saja, tetapi tidak digunakan dalam tes hasil belajar. Kelemahan utama yang terdapat pada angka indeks kesukaran rata-rata P ialah, adanya hubungan yang terbalik antara derajat kesukaran item dengan angka indek itu sendiri. Karena makin rendah angka indeks kesukaran item yang dimiliki oleh sebutir item akan semkain tinggi derajat kesukaran item tersebut, sebaliknya semakin tinggi angka indeks kesukaran yang dimiliki oleh sebutir item, maka derajat kesukaran item tersebut semakin rendah. Jadi hubunga diantara keduanya hubungan yang berlawanan arah. Cara kedua yang dapat ditempuh dalam mencari atau menghitung angka indeks kesukaran item adalah dengan menggunakan skala kesukaran linear. Skala kesukaran linear ini disusun dengan cara mentransformasikan nilai P menjadi nilai z, dimana perubahan dari P ke z itu dilakukan dengan berkonsultasi pada tebal nilai z yang pada umumnya dilampirkan pada buku-buku statistik.

Pengukuran Dalam Analisa Item (skripsi dan tesis)

Menurut Crocker & Algina (1986) pengukuran yang umum digunakan dalam analisa item, adalah: Item difficulty, Item discrimination, dan Item-total correlation.

a. Item Difficulty

Jika skoring pada sebuah item itu dikotomi, maka rata-rata skor item berhubungan dengan banyaknya subyek yang menjawab item tersebut dengan benar. Proporsi orang yang menjawab benar untuk item inilah yang disebut dengan item difficulty, atau yang biasa diberi simbol p (Anastasi & Urbina, 1997).

b. Item Discrimination

Tujuan dari kebanyakan pengukuran psikologis adalah memberikan informasi mengenai perbedaan individu (individual differences) dalam hal konstruk yang diukur tes atau dari kriteria eksternal yang ingin diprediksi oleh alat tes tersebut

(Crocker&Algina, 1986). Oleh karena itu sebuah tes perlu memiliki daya diskriminasi. Pengertian dari daya diskriminasi adalah derajat dimana item dapat membedakan responden dengan skor tinggi dan skor rendah (Cohen&Swerdlik,2005).

erdapat beberapa metode untuk melihat daya diskriminasi sebuah item. Salah satu metodenya melakukan perbandingan dengan cara membedakan kelompok responden dengan menentukan titik potong pada distribusi skor (Crocker&Algina, 1986; Kaplan&Saccuzzo, 2005). Sedangkan metode lainnya merupakan metode koefisien korelasi. Berikut adalah penjelasan mengenai setiap metode.

c.  Item Total Corellation

Metode item-total correlation merupakan suatu teknik analisis item yang mengkorelasikan skor item dengan skor total keseluruhan(Crocker & Algina, 1986; Guilford, 1954; Kaplan & Saccuzzo, 2005; Nunnally & Bernstein, 1994). Dengan kata lain, daya diskriminasi item melihat apakah subyek yang mampu menjawab sebuah item dengan benar juga bisa menjawab dengan benar pada item- item lainnya (Kaplan, 2005). Beberapa jenis korelasi yang digunakan dalam pengujian ini adalah Pearson’s Product Moment Correlation, Point Biserial Correlation, Biserial Correlation, Phi Coefficient, atau Tetrachoric Correlation Coefficient (Crocker & Algina, 1986). Grimm (1993) menjelaskan bahwa jika skor item dan skor total berupa variabel kontinu maka metode korelasi yang digunakan adalah Pearson’s Product Moment Correlation. Kemudian jika variabel skor total adalah kontinu dan skor item dikotomi, maka metode korelasi yang digunakan adalah Point Biserial atau Biserial Correlation.

Analisis Item (skripsi dan tesis)

Dalam penyusunan sebuah alat ukur, tahapan yang harus dilakukan adalah analisis item (Guilford & Fruchter, 1985). Istilah analisis item digunakan untuk mendefinisikan perhitungan dan pengujian statistikal terhadap skor-skor item alat ukurindividual (Crocker & Algina, 1986). Sebuah item dapat dianalisa, baik itu analisa kualitatif (berdasarkan isi maupun bentuk dari item tersebut) dan analisa kuantitatif (berdasarkan muatan-muatan statistik seperti daya prediktif, daya beda dari item tersebut). Analisa kualitatif mencakup pertimbangan isi validitas, sedangkan analisa kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi item (Anastasi & Urbina, 1997). Tujuan utama dalam melakukan analisa item adalah untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas suatu alat ukur(Guilford & Frutcher, 1985).

Data Persepsi (Skripsi dan tesis)

Persepsi pada dasarnya menyangkut proses informasi pada diri seseorang dalam hubungannya dengan obyek stimulus. Dengan demikian persepsi merupakan gambaran arti atau interpretasi yang bersifat subyektif, artinya persepsi sangat tergantung kemampuan dan keadaan diri yang bersangkutan. Dalam kamus psikologi persepsi diartikan sebagai proses pengamatan seseorang terhadapsegala sesuatu di lingkungannya dengan menggunakan indera yang dimilikinya, sehingga menjadi sadar terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan tersebut. Data persepsi dapat diperoleh secara pendekatan langsung (direct) atau diturunkan (derived) (Supranto,2004). Untuk mendapakan data persepsi secara langsung, responden diminta membuat pertimbangan mengenai kemiripan atau ketidakmiripan (similarity or dissimilarity) berbagai jenis merek atau stimulus. Pendekatan turunan ialah mengumpulkan data persepsi dengan pendekatan berbasis pada atribut, menghendaki responden memberikan nilai merek atau stimulus pada atribut yang teridentifikasi.

Model (skripsi dan tesis)

Definisi model adalah suatu penggambaran abstrak dari sistem dunia
nyata, yang akan bertindak seperti dunia nyata untuk aspek-aspek tertentu.
Model dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu model kuantitatif, kualitatif, dan
ikonik. Model yang baik akan memberikan gambaran perliaku dunia nyata
sesuai dengan permasalahan dan akan meminimalkan perilaku yang tidak
signifikan dari sistem yang dimodelkan.
Salah satu cara untuk menyelesaikan permsalahan yang kompleks
adalah dengan menggunakan konsep model simulasi. Dengan menggunakan
simulasi, maka model akan mengkomputasikan jalur waktu dari variabel
model untuk tujuan tertentu dari input sistem dan parameter model. Karena itu
model simulasi akan dapat memprediksi dunia riil yang kompleks. Model juga
dapat digunakan untuk keperluan optimasi, dimana suatu kriteria model
dioptimalkan terhadap input atau struktur sistem alternatif. Karena itu, model
dapat dibangun dengan basis data (data base) atau basis pengetahuan
(knowledge base)
Tahapan-tahapan untuk melakukan simulasi model adalah sebagai berikut.
a. Penyusunan konsep
Pada tahap ini dilakukan identifikasi variabel-variabel yang berperan
dalam menimbulkan gejala atau proses. Variabel-variabel tersebut saling
berinteraksi, saling berhubungan, dan saling berketergantungan. Kondisi ini
28
dijadikan sebagai dasar untuk menyusun gagasan atau konsep mengenai gejala
atau proses yang akan disimulasikan.
b. Pembuatan model
Gagasan atau konsep yang dihasilkan pada tahap pertama selanjutnya
dirumuskan sebagai model yang berbentuk uraian, gambar, atau rumus.
c. Simulasi
Simulasi dilakukan dengan menggunakan model yang telah dibuat. Pada
model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan memasukkan data ke dalam
model, sedangkan pada model kualitatif, simulasi dilakukan dengan
menelusuri dan melakukan data atau informasi yang dikumpulkan untuk
memahami perilaku gejala atau proses model.
d. Validasi hasil simulasi
Validasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi
dengan gejala atau proses yang ditirukan. Model dapat dinyatakan baik jika
kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala atau proses yang
terjadi di dunia nyata relatif kecil. Hasil simulasi yang sudah divalidasi
tersebut digunakan untuk memahami perilaku gejala atau proses serta
kecenderungan di masa depan, yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi
pengambil keputusan untuk merumuskan suatu kebijakan di masa mendatang
(Eriyatno, 2003 dalam Yuniarti 2010)

Analisis Prospektif (skripsi dan tesis)

Analisis prospektif adalah suatu cara atau pendekatan untuk
menganalisis beragam kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa
depan, berdasarkan situasi saat ini. Analisis prospektif tidak sama dengan
peramalan karena situasi saat ini tidak dapat digunakan untuk meramal masa
depan.
La prospective berasal dari Bahasa Perancis yang apabila
diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi a preactive and proactive
approach atau apabila diterjemahkan dalam satu kata yang sepadan adalah
foresight karena kata proactivity jarang digunakan. Bila diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia menjadi tinjauan ke masa depan. Pendekatan
prospektif menekankan pada proses-proses evolusi jangka panjang, sehingga
dimensi waktu menjadi salah satu unsurnya. Analisis prospektif ini adalah
salah satu dari metoda dengan pendekatan sistem.
Tujuan analisis prospektif adalah:
1) untuk mendefinisikan tujuan pembangunan jangka panjang dari sistem
yang dipelajari,
2) untuk menentukan strategi yang akan diikuti agar sistem mencapai tujuan.
Strategi berupa rangkaian keputusan yang penting untuk mencapai tujuan
dan dugaan untuk memperkirakan interaksi yang mungkin sebagai akibat
dari setiap keputusan
3) untuk menterjemahkan strategi kedalam perencanaan, tujuan umum dan
strategi yang muncul dari analisis prospektif yang berguna untuk
menentukan prioritas dalam proses perencanaan.
Analisis prospektif tepat digunakan untuk perancangan strategi karena
analisis prospektif dapat digunakan untuk mempersiapkan tindakan strategis
dan melihat apakah perubahan dibutuhkan di masa depan. Terdapat tiga
langkah yang harus dilakukan dalam analisis prospektif, yaitu:
1) mengidentifikasi faktor penentu di masa depan,
2) menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku utama (stakeholder)
3) mendefinisikan dan mendeskripsikan evolusi kemungkinan masa depan.
(Godet et al., 1999 dalam Yuniarti, 2010)

Multi dimensional scaling (skripsi dan tesis)

Multi dimensional scaling (kerap dlsingkat MOS, dan untuk selanjutnya singkatan lni akan digunakan dalam tulisan lni) merupakan suatu metode yang mempresentasikan kesamaan atau ketldaksamaan jarak perbedaan antar objek (Suryabrata, 2000). Makin mirip objek tertentu dengan objek lainnya, maka makin dekat jarak antara objek yang bersangkutan, sedangkan makin Jauh jarak antar objek menunjukkan makin tidak menyerupal (berbeda). MOS terkait dengan situasi di mana stimuli secara simuftan sangat bervariasi dengan beberapa dimensi (Torgerson, 1956). Sementara Messick (1956a) menyatakan bahwa yang dimaksud MOS adalah satu teknik untuk melakukan estimasi jarak antara titik dari serangkaian stimuli. Pada tulisan lainnya Messick (1955) mengungkap bahwa model pengukuran MOS berdasar pada analisis Euclidean jarak  psikologis, dan jarak tersebut secara umum dapat diperoleh dari keputusan kesamaan di antara stimuli dibanding dimensi yang telah didefinisikan. Gullford (1954) menyatakan esensi dari teori MOS adalah sekumpulan stimuli yang sama dapat direpresentasikan sebagai serangkaian titik dalam ruang dimensi n. Dalam mengkaji tema yang sama Messick (1955) mengungkap bahwa konsep dasar dari MOS adalah jarak psikologis, yang merupakan konstruk dan secara luas telah digunakan oleh para ahli psikologi, sedangkan keputusan jarak psikologis ini dapat diperoleh melalui konsep kesamaan dan ketldaksamaan di antara stimuli, atau konsep lain dibanding dengan kesamaan (dalam atribut sikap misalnya setuju dan ketidaksetujuan). Leblh lanjut Suryabrata (2000} menambahkan bahwa MOS digunakan untuk menellti kesamaan (similarity) dan ketidaksamaan (dissimilarity) satu objek yang direpresentasikan dengan jarak (distance) melalui pengamatan letak titik  dalam bidang berdlmensi 2 (dua) atau 3 (tiga). Semakin dekat jarak antar titik semakin sama (similarity) atau dapat juga dapat dimaknai semakin tlnggi tingkat korefasinya, dan begitu sebaliknya semakin jauh letak titik dari titik lainnya, semakin tidak sama (dissimilarity) atau semakin rendah tingkatkorelasinya. 

Data Rasio (skripsi dan tesis)

Skala pengukuran rasio pada dasarnya adalah skala pengukuran interval yang
memiliki nilai 0 mutlak dan bilangan-bilangannya dapat diperbandingkan secara mutlak. Contoh data rasio adalah data hasil pengukuran berat, panjang, banyaknya benda dan lain sebagainya. Jika kita nyatakan panjang benda adalah 0 cm, artinya benda itu tidak memiliki panjang sama sekali. Nilai 0 pada skala ini memang menunjukkan bahwa atribut yang diukur sama sekali tidak ada pada obyek yang bersangkutan. Demikian pula, dapat dikatakan bahwa obyek dengan panjang 15 cm adalah lima kali lebih panjang dari pada obyek dengan panjang 3 cm. Data berlevel rasio dapat dikenai keempat operasi hitung yaitu perkalian, pembagian, penambahan dan pengurangan. Data rasio bersifat invarian ketika dikenai transformasi dengan rumusan Y=cX dengan c adalah bilangan konstan. Operasi statistik yang diperbolehkan untuk data rasio adalah koefisien variasi, mean geometris dan mean harmonis

Data Interval (skripsi dan tesis)

Suatu hasil pengukuran disebut berada pada level interval jika hasil pengukuran tersebut adalah hasil pengukuran ordinal yang memiliki jarak antarjenjang yang tetap atau selalu sama. Bila terdapat jenjang kualitatif 1, 2 dan 3, maka secara kualitatif dan kuantitatif jarak antara 1 dan 2 adalah sama dengan jarak antara 2 dan 3. Seperti hasil pengukuran ordinal, data interval tidak memiliki harga 0 mutlak. Salah satu contoh hasil pengukuran interval adalah hasil pengukuran suhu pada thermometer. Bilangan-bilangan pada thermometer memperlihatkan jenjang dan kadar suhu yang berinterval sama. Dapat dikatakan bahwa 360 C adalah 60 C lebih panas daripada 300 C. Sedangkan 120 C adalah 60 C lebih dingin daripada 180 C. Akan tetapi, tidak dapat dikatakan bahwa 360 C adalah tiga kali lebih panas daripada 120 C. Bilangan 0 pada pengukuran suhu tidak bersifat mutlak. Artinya suhu 00 C tidak berarti tidak memiliki panas sama sekali. Perbedaan bilangan pada
level interval memiliki arti perbedaan kualitatif dan kuantitatif. Data pada level interval dapat diolah dengan operasi hitung penambahan dan pengurangan. Data hasil pengukuran interval akan bersifat invariant jika dikenai transformasi linier yaitu transformasi bilangan dengan persamaan garis lurus yang dirumuskan sebagai y=a+bx. Operasi statistik yang dapat digunakan untuk data interval adalah mean aritmatik, standar deviasi, deviasi rata-rata, korelasi product-moment, t-test dan F-test

Data Ordinal (skripsi dan tesis)

Suatu hasil pengukuran disebut berada pada level ordinal jika nilai berfungsi
untuk menunjukkan perbedaan jenjang kualitatif. Perbedaan nilai antar obyek
tidak menunjukkan perbedaan kuantitatif tetapi hanya menunjukkan perbedaan kualitatif. Bila terdapat jenjang kualitatif 1, 2 dan 3, dapat dikatakan 3>2 dan 2>1 serta 3>1. Akan tetapi, jarak antara 3 dan 2 dengan jarak antara 2 dan 1 tidak dapat dikatakan sama. Jarak jenjang antara dua nilai yang berurutan tidak selalu sama. Nilai 0 dalam skala ordinal tidak memiliki nilai mutlak. Contoh penerapan data ordinal adalah pemberian rangking misalnya untuk siswa-siswi dalam suatu kelas. Jenjang kualitatif antara rangking pertama dengan rangking kedua belum tentu sama dengan jenjang kualitatif antara rangking kedua dengan rangking ketiga. Karena jarak antara dua nilai yang berurutan tidak selalu sama secara kualitatif maka setiap nilai jenjang dapat diganti dengan nilai lain selama urutan jenjang yang satu dengan jenjang yang lain tidak berubah. Penggantian ini disebut transformasi monotonik. Transformasi monotonik mengubah nilai tetapi tidak merubah urutan bilangan. Operasi statistik yang diijinkan untuk data ordinal adalah median, persentil, korelasi rangking, Sign Test dan Run Tes

Data Nominal (skripsi dan tesis)

Suatu nilai hasil pengukuran disebut berskala nominal jika bilangan tersebut
berfungsi sebagai pengidentifikasi yaitu pembeda antara satu obyek dengan obyek
lain. Perbedaan bilangan menunjukkan adanya obyek yang terpisah dan tidak
sama. Selain untuk identifikasi, bilangan dapat dikatakan berada pada skala
nominal apabila digunakan untuk klasifikasi atau kategorisasi. Contoh
penggunaan data nominal adalah kategorisasi jenis kelamin. Jika obyek berjenis
kelamin laki-laki, obyek diberi nilai 0. Jika obyek berjenis kelamin wanita, obyek
diberi nilai 1. Bilangan 0 untuk obyek laki-laki tidak menunjukkan nilai yang
lebih rendah dari bilangan 1 yang diberikan pada nilai subyek wanita. Karena
fungsi pengukuran dalam hal ini adalah sebagai alat identifikasi, perubahan atau
penggantian nilai nominal dapat dilakukan dengan bebas selama tidak
mengaburkan identifikasi atau kategorisasi semula. Contohnya seperti pada
contoh sebelumnya, obyek laki-laki bisa diberi nilai 9 dan atau obyek wanita
diberi nilai 2 atau 7. Perubahan nilai tanpa diikuti perubahan fungsi identifikasi
dan kategorisasi obyek semacam ini disebut transformasi isomorfik. Proses
statistik yang diperbolehkan untuk diterapkan pada data nominal adalah
menghitung banyaknya kasus, mencari modus dan korelasi kontingensi seperti
Chi-Square dan Fisher’s exact test.

Analisis Data Mutivariat (skripsi dan tesis)

Multidimensional Scaling (MDS) adalah salah satu metode dari analisis
data multivariat. Analisis data multivariat secara sederhana dapat didefinisikan
sebagai aplikasi metode-metode yang berhubungan dengan sejumlah besar
pengukuran yang dibuat untuk setiap obyek dalam satu atau lebih sempel secara
simultan. Dengan kata lain, analisis data multivariat mengukur relasi simultan
antar variabel. Secara umum metode-metode dalam analisis data multivariat
digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah metode-metode
dependen. Metode-metode dependen terpusat pada mencari asosiasi dari dua
himpunan variabel di mana salah satu himpunan adalah realisasi dari suatu ukuran
dependen. Dengan kata lain metode-metode dependen berusaha mencari atau
memprediksi ukuran satu atau lebih kriteria berdasar himpunan variabel predictor.
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Multiple Regression, Analisis
Diskriminan, Analisis Logit, Multivariate Analysis-of-Variance (MANOVA) dan
Canonical Correlation Analysis. Kelompok kedua adalah metode-metode
interdependen. Metode-metode interdependen terpusat pada asosiasi mutual antar semua variabel tanpa membedakan tipe-tipe variabel. Secara umum, metode-metode
ini tidak memberikan prediksi melainkan mencoba memberikan gambaran
mengenai struktur yang mendasari data dengan cara menyederhanakan
kompleksitas atau dengan mereduksi data. Yang termasuk dalam kelompok ini
adalah Principal Components Analysis, Analisis Faktor, MDS, Analisis Kluster,
Pemodelan Loglinear