Dalam kegiatan sehari-hari, kita tidak diharuskan menceritakan
permasalahan yang kita hadapi kepada orang lain. Meski demikian, perasaan dan
pikiran yang tidak mampu kita ungkapkan harus disalurkan. Salah satu cara
penyaluran emosi dengan menggunakan tulisan. Menerjemahkan perasaan dan
pikiran kedalam kata-kata yang ditulis pada sebuah kertas ataupun media lain
dapat menguntungkan secara fisik maupun psikologis.
Seseorang yang menyimpan traumanya sendiri akan merugikan kesehatan
baik fisik maupun psikologisnya. Menurut Pannebaker, seseorang yang memiliki
trauma dalam hidupnya sebaiknya mempunyai seseorang yang dapat
membantunya melepaskan trauma-trauma yang dialaminya, namun apabila
seseorang tidak mampu mengutarakan perasaan yang dialaminya maka dapat
melakukan pelepasan perasaan melalui menulis sehingga dapat terhindar dari
stress (Pennebaker, 2017).
Menurut Pennebaker, expressive writing adalah kegiatan menuliskan
perasaan dan pikiran terdalam terhadap suatu peristiwa traumatis atau pengalaman
emosi yang pernah dimiliki. Salah satu keunggulan dari terapi expressive writing
ialah membebaskan para konseli menuangkan segala bentuk rasa kecemasaannya
dalam tulisan mereka tanpa harus memperhatikan susunan kata baku atau
penulisan bahasa yang baik dan benar (Purnamawini, Setiawan, & Hidayat, 2016).
Menulis ekspresif adalah suatu proses yang melibatkan pikiran, afeksi dan
motorik. Ketika seseorang menulis ekspresif, maka ia akan kembali merasakan
peristiwa yang terjadi, membuat suatu penilaian pada kejadian tersebut sehingga
memunculkan persepsi baru terhadap peristiwa tersebut (Ida, et al., 2016).
Expressive writing melibatkan perasaan dan pikiran terdalam dalam diri
seseorang tentang suatu peristiwa tertentu, intervensi ini termasuk sederhana,
tetapi dapat mengungkapkan emosi-emosi yang terpendam dalam diri seseorang
seperti dapat menurunkan stress, menurunkan migraine, menurunkan kecemasan,
dll (Schroder, Moran, & Moser, 2017).
Menulis ekspresif adalah sebuah proses terapi yang menggunakan metode
menulis ekspresif tentang bagaimana pengalaman perasaan yang pernah dialami
klien. Klien diberi waktu tertentu untuk menuangkan segala ekspresi tersebut ke
dalam sebuah tulisan. Terapi ini berfokus pada proses yang terapi tersebut
dilaksanakan, bukan pada hasil yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan menulis
merupakan aktivitas yang personal, artinya menulis tersebut membebaskan
seseorang dalam menuangkan gagasan, saran maupun kritiknya dengan bentuk
tulisan.
Expressive Writing bertujuan untuk pencerahan jiwa melalui pelepasan
atau kegiatan menulis. Siapa saja berhak melakukannya tanpa pandang bulu.
Menulis ekspresif merupakan bentuk tulisan untuk melepaskan dan
mengeksplorasi emosi dan pikiran yang terdalam paling traumatis yang membuat
penderitanya merasa luka batin (Pranoto, 2015).
Konsep dasar dalam expressive writing adalah ketika orang mengubah
perasaan dan pikiran mereka mengenai hal yang bersifat pribadi dan pengalaman
menjengkelkan yang dituangmelalui tulisan. Expressive writing bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman diri sendiri, oranglain mapupun lingkungan,
meningkatkan kreatifitas, mengekspresikan emosi, dll. Expressive writing juga
membantu individu untuk memahami dirinya dengan lebih baik, dan menghadapi
depresi, distress, kecemasan, adiksi, ketakutan terhadap penyakit, kehilangan dan
perubahan dalam kehidupannya (Susanti & Supriyantini, 2013).
Beberapa keuntungan menulis, seperti mengklarifikasi pikiran-pikiran dan
perasaan-perasaan mengetahui diri sendiri dengan lebih baik, menurunkan
tekanan karena menulis mengenai kemarahan, kesedihan dan emosi lain yang
menyakitkan, serta membantu melepaskan intensitas perasaan-perasaan tersebut,
memecahkan masalah dengan lebih efektif karena umumnya masalah dapat
dipecahkan melalui otak kiri, tetapi kadang-kadang hanya dapat ditemukan
dengan menggunakan otak kanan yang bersifat kreatif dan intuitif (Saifudin &
Kholidin, 2015).
