Quality function deployment adalah suatu metode pendukung keputusan proaktif yang diterapkan dalam konteks hubungan yang bijaksana. Menurut Ariani (1999). Quality Function Deployment adalah suatu metode perencanaan dan pengembangan produk secara terstruktur yang memungkinkan tim pengembangan mendefinisikan secara jelas kebutuhan dan harapan pelanggan, dan mengevaluasi kemampuan produk atau jasa secara sistematik dalam memenuhi kebutuhan dan harapan tersebut. Metode ini telah dikembangkan pertama kali oleh Yoji Akao dijepang dan muncul sekitar akhir tahun enampuluhan. Menurut Cristiano (2001), ada dua alasan utama untuk mengembangkan metode ini : (1) bagaimana memproyeksikan produk yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. (2) kebutuhan untuk menyusun diagram kontrol kualitas (QC Proses chart) dari proses, sebelum produksi aktual. Yang artinya metode yang diterapkan untuk mengontrol kualitas sebelum dipasarkan. Quality function deployment adalah terjemahan bahasa Inggris dari enam ideogram Jepang yang secara bertahap diperkenalkan selama tahun 70-an oleh Yoji Akao dan Shigeru Mizuno. Penyebutan quality function deployment bagi orang jepang yaitu : a. Hinshitsu (atribut produk, atau kualitas), b. Kino (fungsi, mekanisme, kesempatan), c. Tenkay (penyebaran, pengembangan) Terlepas dari itu, menurut Ginn (2010) menyatakan bahwa metode ini perlu dikaitkan dengan total quality managemen (TQM), dimana kepuasan pelanggan ditempatkan sebagai prinsip nomor satu. Selain itu menurut Govers (2001), menyatakan bahwa quality function deployment adalah metode perbaikan produk yang berkelanjutan, yang menekankan pada dampak organisasi belajar dari pada inovasi dan menjadi alat managemen untuk model dinamika dalam proses desain. Hal ini yang dimaksudkan adalah metode perbaikan yang menekankan pada organisasi disuatu perusahaan untuk mempelajari apa yang diharapkan konsumen sebelum memulai proses desain. Sedangkan menurut Akao (1990), menyatakan bahwa quality function deployment memberikan metode khusus untuk memastikan seluruh kualitas setiap tahap pengembangan produk dengan penekanan pada desain yang bertahap. Ini adalah metode yang berorientasi pada pelanggan dan yang menerjemahkan permintaan dari pelanggan ke desain dan kualitas target. Sementara konsep quality function deployment merupakan alat untuk mengidentifikasikan kebutuhan pelanggan. Tujuannya adalah untuk menjamin bahwa produk atau jasa yang dihasilkan dapat memenuhi tingkat kualitas yang memuaskan pelanggan. Produk yang dimaksud adalah bukti fisik, contohnya bentuk gedung, luas gedung, lokasi gedung, kebersihan gedung, fasilitas yang disediakan, kenyamanan dan keamanan yang dijamin serta kualitas obat-obatan yang disediakan dan alat-alat yang membantu dalam pengobatan. Salah satu bentuk penilaian kinerja industri adalah penilaian terhadap quality function deployment (QFD). Menurut Sulistyawati (2005), mengungkapkan bahwa penelitian menggunakan quality function deployment mampu mengungkapkan kesenjangan kualitas produk dan layanan 30 dengan fakta yang diterima pelanggan sehingga perlu dilakukan tindakan teknis peningkatan sumber daya manusia dan manajemen. Selain itu menurut Tjiptono (2003), menambahkan bahwa fokus utama dari quality function deployment adalah melibatkan pelanggan pada proses pengembangan produk sedini mungkin quality function deployment memungkinkan organisasi untuk lebih memprioritaskan pelanggan, menemukan tanggapan inovatif terhadap kebutuhan tersebut, dan memperbaiki proses hingga tercapai efektivitas maksimum. Kelebihan dari (QFD), adalah dapat mengurangi waktu desain sebesar 40% dan biaya desain sebesar 60% secara bersamaan dengan dipertahankan dan ditingkatkannya kualitas desain. Selain itu ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari quality function deployment yaitu fokus pada pelanggan, efisiensi waktu, orientasi pada kerjasama tim, dan orientasi pada dokumentasi. Berdasarkan pengertian dan uraian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa quality function deployment adalah suatu proses mekanisme yang terstruktur atau suatu metode perencanaan dan pengembangan secara terstruktur untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan konsumen ke dalam kebutuhan teknis yang relevan untuk meningkatkan kualitas produk atau jasa dengan memahami harapan konsumen.
