Perkawinan merupakan satu-satunya sarana yang sah untuk membangun
sebuah rumah tangga dan melahirkan keturunan, sejalan dengan fitrah manusia
(Al-Ghazali,1997). Perkawinan dapat dikatakan sebagai suatu perjanjian pertalian
antara pria dan wanita yang berisi persetujuan hubungan dengan maksud bersama- sama sesuai dengan hukum dan agama dan juga merupakan pintu gerbang
kehidupan yang wajar atau biasa dilalui oleh setiap individu (Latif, 2001).
Kebermaknaan dan ketidakbermaknaan hidup dapat pula dirasakan oleh
pasangan suami istri dalam kehidupan pernikahan mereka. Patmonodewo (2001)
menyatakan pernikahan adalah peristiwa penting dalam kehidupan seorang
individu, dimana pernikahan ini memiliki beberapa tujuan yaitu mendapatkan
kebahagiaan, kepuasan, cinta kasih, dan keturunan. Ketika pasangan telah
menikah, pastilah mereka menginginkan untuk segera memiliki anak. Dalam
realisasinya tidak semua pasangan mudah memperoleh keturunan seperti yang
diharapkan.
Oleh karena itu kehadiran seorang anak dalam sebuah pernikahan
merupakan salah satu motivator seseorang untuk menikah. Bagi wanita khususnya
ada beberapa alasan untuk mempunyai anak antara lain: (a) ingin merasakan
kepolosan dan keluguan anak, (b) ingin ikut merasakan pengalaman melahirkan
yang menakjubkan, dan (c) ingin menjadi ibu yang baik (Gerson, dalam Laswell
& Laswell, 1987). Kehadiran anak dalam keluarga dapat memberi manfaat positif
bagi pasangan suami istri dari segi psikologis, ekonomis, dan sosial.
Hasil penelitian Dorotea (2011) menyatakan bahwa keinginan mempunyai
keturunan sangat besar pengaruhnya pada pasangan suami isteri yang sangat
mendambakan seorang anak. Dapat berpengaruh baik dalam lingkungan maupun
dalam jiwa (psikis) pasangan suami isteri tersebut, terutama pada isteri. Jika hal
ini terjadi maka akan menimbulkan dampak psikologis yang dapat mempengaruhi
kehidupan rumah tangganya.
Dhianisa (dalam Dorotea, 2011) mengemukakan bahwa keluarga yang tidak
mempunyai anak akan memunculkan berbagai dampak psikologis baik pada
suami maupun isteri. Dampak-dampak psikologis yang muncul misalnya antara
lain rasa rendah diri karena merasa tidak berguna dimata suami/isteri dan
keluarga, karena tidak bisa memberikan keturunan, rasa bersalah, malu dan
sedih, terlebih pada anggota keluarga dari pihak suami/isteri karena
keinginan untuk mempunyai anak tidak terwujud. Kemudian stres dan depresi
yang ditimbulkan karena kesedihan yang terlalu mendalam dan adanya tekanantekanan dan tuntutan untuk segera mempunyai anak.
Hasil penelitian Dorotea (2011) dampak-dampak psikologis yang muncul
pada pasangan suami isteri yang tidak mempunyai keturunan akan sangat
berpengaruh besar dan dapat menjadi masalah yang sangat rumit pada kehidupan
rumah tangga apabila mereka tidak dapat mengontrol dan lebih bersabar dalam
menghadapi masalah karena tidak mempunyai keturunan.
Besarnya dampak psikologis yang dialami, dapat juga mempengaruhi usaha- usaha yang dapat dilakukan untuk memperoleh keturunan. Misalnya, karena
merasa rendah diri, mereka merasa putus asa dan tidak mau mencoba untuk
berusaha memperoleh keturunan dengan cara lain, mereka hanya berpasrah tanpa
adanya usaha. Selain itu dampak-dampak psikologis juga dapat mempengaruhi
pasangan suami isteri untuk tidak bisa memperoleh keturunan, misalnya saja stres,
stres yang dialami oleh isteri karena keinginannya untuk mempunyai keturunan
dapat mengganggu perkembangan hormon dalam tubuhnya sehingga dapat
mempengaruhi tingkat kesuburan sehingga mengakibatkan tidak dapat
mempunyai keturunan.
Ketidakhadiran anak ditengah keluarga menyebabkan pasangan seringkali
merasa belum lengkap, karena dimasyarakat indonesia itu sendiri kelengkapan
keluarga yaitu adanya ayah, ibu dan anak menjadi gambaran keluarga yang ideal.
(Andayani & Koentjoro, 2004). Seringkali pasangan yang belum memiliki
keturunan merasa kesepian karena bagi mereka mendengar celotehan anak
merupakan kebahagiaan yang sangat didambakan oleh pasangan.
Pasangan yang tidak mempunyai anak seringkali dihadapkan pada situasi
yang tidak menyenangkan, individu merasa tertekan dan menderita pada saat
bertemu dengan teman maupun keluarga dekat dengan berbagai pertanyaan
seperti, anaknya sudah berapa?, sudah kedokter mana saja?, dan apakah sudah
ditanyakan ke orang pintar dan lain sebagainya. Saat itu individu merasa
menderita lebih-lebih bila teman atau keluarga dekat tersebut bertanya saat
mereka menggendong anak nya yang lucu, dan ketika itu individu merasa kurang
sempurna apabila dibandingkan dengan pasangan yang telah dulu memiliki
keturunan.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana
pasangan memaknai kehidupannya ketika belum memiliki keturunan.
