Menurut Julie Krueger (2014), terdapat lima tahapan proses yang
membuat seseorang menjadi Ateis, yaitu :
a. Detachment
Terdapat dua hal yang dapat terjadi pada proses ini, yaitu individu tidak
menanam atau melemahnya identitas agama secara emosi dalam dirinya
karena menganggap bahwa ajaran agama tidak masuk akal meskipun
mereka telah diajari hal keagamaan sedari kecil oleh lingkungannya. Yang
kedua ialah tidak ada atau melemahnya ikatan sosial dengan komunitas
agama, seperti keluarga, teman kelompok agamanya yang membuat a
sehingga hanya dapat memisahkan diri dari agama secara emosional saja.
Kurang tertanamnya agama secara emosional dan tidak adanya ikatan
sosial dengan komunitas agama menyebabkan individu mempertanyakan
kebenaran praktik dan belief terhadap agama.
b. Doubt
Pada tahap ini, individu sudah mengetahui apa yang membuat mereka
tidak nyaman, tidak puas terhadap identitas agama yang dimiliki. Mereka
sudah mengetahui mengapa mereka skeptis, menitikberatkan pada
kejadian atau informasi tertentu yang mereka dapatkan untuk memvalidasi
dan membenarkan skeptisme tersebut. Hal ini dikarenakan individu telah
melakukan riset independen atau berinteraksi dengan orang-orang yang
memiliki pemikiran yang sama. Sumber keraguan biasanya adalah
kurangnya bukti ilmiah, pandangan institusi agama yang konservatif serta
kitab suci yang dianggap sudah kuno dan tidak sempurna, mereka
menganggap bahwa umat beragama menjadikan agama sebagai alat
pembenaran untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya juga dilarang oleh
agama, misalnya melakukan kekerasan kepada umat agama lain atas nama
membela agama mereka sendiri. Tahap ini berakar pada logika dan alasan,
menganggap bahwa isi kitab suci bertentangan dengan kenyataan yang ada
dan tidak memiliki bukti. Ketidakpuasan pada tahap detachment berganti
dengan kepercayaan diri bahwa mereka bukan lagi bagian dari identitas
agamanya terdahulu.
c. Dissociation
Pada tahap ini, individu mulai menjauhkan diri dari identitas agama
terdahulu, baik melalui belief maupun praktek agama yang familiar dengan
mereka dengan tidak lagi melakukan aktifitas-aktifitas keagamaan.
Individu tidak lagi memikirkan diri mereka berdasarkan identitas agama
sebelumnya. Namun, tidak semua orang langsung dapat mengadopsi
identitas Ateis tersebut. Sebelum mereka dapat mempertimbangkan untuk
mengadopsi identitas Ateis-nya, mereka harus melewati tahap Transition
terlebih dahulu.
d. Transition
Pada tahap ini, individu mencoba alternatif identitas yang menjembatani
pemisah antara identitas Teistik dan Ateis. Seringnya, individu ragu untuk
mengakui identitas Ateis-nya, untuk meninggalkan imannya karena masih
ingin terhindar dari label negatif ketika mereka mengadopsi identitas Ateis
tersebut. Individu mencoba mencari keyakinan atau filosofi baru yang
tidak memiliki kesalahan-kesalahan yang menurut mereka dimiliki oleh
agama. Tahap ini akan berakhir ketika individu sadar bahwa mereka lebih
cocok untuk mengadopsi identitas yang lain.
e. Declaration
Individu pada tahap ini sudah tidak lagi menganut agama dan menyangkal
imannya karena telah mengakui sudut pandang berbeda, misalnya
sekularisme yang dimilikinya. Mereka sadar, mereka tidak lagi percaya
pada kuasa yang lebih tinggi dalam bentuk apapun. Mereka menemukan
identitas yang cocok dengan belief mereka. Pada tahap ini, individu akan
terbuka mengenai identitas mereka, meskipun nantinya timbul beragam
konsekuensi, baik reaksi positif maupun negatif dari lingkungan. Tahap ini
memerlukan waktu tercapai karena seseorang tidak memutuskan begitu
saja bahwa Tuhan itu tidak ada, butuh waktu untuk mendapat kesimpulan
demikian.
