Faktor yang Dapat Menyebabkan Individu Menjadi Ateis (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang beralih dari Teis
menjadi Ateis. Thompson (2004) dalam bukunya yang berjudul The Many Faces,
Causes of Unbelief mengungkapkan beberapa penyebab tersebut, diantaranya:
a. Orangtua dan Cara Asuh
Sedari dini, individu tentu banyak berinteraksi secara sosial dengan orang
lain, namun yang paling mempengaruhinya adalah melalui orangtua. Di
masa kanak-kanak, pikiran dan otak anak merupakan spons yang dapat
menyerap apa saja yang diberikan oleh orangtuanya. Bila sedari dini anak
diberikan disiplin, contoh panutan yang baik serta instruksi dalam hal
keagamaan yang dapat menumbuhkan iman anak, tentu hal tersebut akan
melekat pada diri anak dan ia akan melakukan dan mengimani agamanya
dengan baik, sesuai ajaran orangtuanya. Namun, bila yang didapatkan
anak adalah kurang diterapkannya kedisiplinan, kurangnya instruksi dan
lemahnya contoh panutan dalam beragama, hingga rasa kecewa terhadap
orangtua, hal tersebut dapat melemahkan iman anak sehingga anak
menjadi tidak percaya, skeptis maupun menolak Tuhan.
b. Perkembangan Sains
Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini manusia hidup di era perkembangan
sains dan ilmu pengetahuan yang semakin maju, mulai dari perkembangan
alat komunikasi hingga transportasi. Penelitian-penelitian dalam bidang
kesehatan, pendidikan juga meningkat dengan pesat. Namun sayangnya,
karena kemajuan yang begitu hebat, sains sangat dipuja dan dianggap
sakral bagi sebagian orang sehingga menganggap bahwa hal baik yang
mereka nikmati, seperti obat penyakit, transportasi merupakan hasil
pemikiran manusia, bukan dari Tuhan. Hal tersebut dikarenakan mereka
mendapatkan sensasi kekuasaan, merasa bangga pada diri sendiri karena
telah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang semakin canggih yang
berasal dari pikiran dan kerja keras mereka sehingga menolak pengajaran
agama yang menekankan bahwa kebenaran mutlak adalah milik Tuhan.
c. Intimidasi secara Intelektual
Pada masa sekarang ini, sangat banyak individu yang dulunya mengetahui
apa yang mereka percaya dan memahami alasan mereka mempercayai hal
tersebut, mulai bingung dan melemah imannya karena terintimidasi secara
intelektual. Hal tersebut dikarenakan mereka mengalami disonansi kognitif
ketika dihadapkan pada informasi baru yang berlawanan dengan
keyakinan yang mereka anggap benar, misalnya karena bertemu dengan
orang yang tidak percaya pada Tuhan disertai dengan berbagai alasan,
seperti argumen bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas, yang
berarti meskipun lebih banyak orang yang percaya pada agama daripada
yang tidak, bukan berarti, mayoritas tersebutlah yang benar, serta alasanalasan lainnya. Hal ini dapat membuat seseorang yang yakin pada
agamanya, menganggap bahwa informasi baru tersebut lebih masuk akal
sehingga mempengaruhi kegoyahan iman bahkan keputusan untuk tidak
percaya lagi.
d. Kejahatan, Rasa Sakit dan Penderitaan
Seseorang dapat meninggalkan imannya ketika mengalami kejahatan, rasa
sakit dan penderitaan dalam hidupnya sendiri maupun orang-orang
terdekatnya. Hal ini dikarenakan mereka menganggap jika Tuhan adalah
pencipta segala hal, berarti hal-hal buruk yang mereka alami dalam hidup
juga berasal dari Tuhan serta jika semua rencana indah telah dirancang
oleh Tuhan kepada umatnya, berarti yang merancang penderitaan hebat
dalam hidup juga adalah Tuhan. Mereka meragukan kekuasaan Tuhan
yang selalu dikatakan baik dan berkuasa, namun tidak menunjukkan
kebaikan-Nya ketika umatnya mendapat penderitaan. Meskipun mereka
pada awalnya, mencoba mempertahankan iman, namun rasa sakit hati dan
kecewa dapat membuat seseorang kehilangan imannya.
e. Kemunafikan, Ketidakadilan dan Tindakan Buruk oleh Orang Beragama.
Walaupun sulit dipercaya, namun, kesalahan tindakan yang dilakukan oleh
umat beragama dapat mendorong orang lain untuk beralih menjadi tidak
percaya akan agama. Banyak hal-hal buruk seperti korupsi, pemerkosaan,
pembunuhan yang dilakukan oleh orangberagama bahkan orang yang
duduk di sebuah instansi agama. Banyak juga orang yang demi melakukan
hal yang menurutnya dapat menyenangkan hati Tuhan, malah
menimbulkan ketidakdilan, misalnya saja perang antar agama serta bom
bunuh diri. Padahal seharusnya, orang-orang beragama hidup dalam
kebaikan sesuai Golden Rule yang terdapat pada setiap agama. Hal
tersebut dapat membuat seseorang menjadi ragu akan sistem sebuah
agama bahkan Tuhan yang berada di balik sistem tersebut serta
menganggap bahwa umat beragama adalah munafik sehingga
ketidakpercayaan akan agama dan Tuhan pun muncul