Pengertian Konflik Peran


Robbins (2008), mendefinisikan konflik sebagai sebuah proses yang
dimulai ketika satu pihak memiliki persepsi bahwa pihak lain telah
memengaruhi secara negatif, atau akan memengaruhi secara negatif,
sesuatu yang menjadi perhatian dan kepentingan pihak pertama.
Menurut Mangkunegara (2011) konflik adalah suatu pertentangan yang
terjadi antara apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap dirinya,
orang lain, organisasi dengan kenyataan apa yang diharapkannya.
Dipandang sebagai perilaku, konflikmerupakan bentuk interaktif
yang terjadipada tingkatan individual, interpersonal,kelompok atau pada
tingkatan organisasi.Konflik ini terutama pada tingkatanindividual yang
sangat dekathubungannya dengan stres (Winardi,2003).
Winardi (2003) membagi konflik menjadi empat macam, dilihat
dari posisi seseorang dalam struktur organisasi. Keempat jenis konflik
tersebut adalah sebagai berikut:
1) Konflik vertikal, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan yang
memiliki kedudukan yang tidak sama dalam organisasi. Misalnya,
antara atasan dan bawahan.
2) Konflik horizontal, yaitu konflik yang terjadi antara mereka yang
memiliki kedudukan yang sama atau setingkat dalam organisasi.
Misalnya, konflik antar karyawan, atau antar departemen yang
setingkat.
3) Konflik garis-staf, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan lini
yang biasanya memegang posisi komando, dengan pejabat staf
yang biasanya berfungsi sebagai penasehat dalam organisasi.
4) Konflik peran, yaitu konflik yang terjadi karena seseorang
mengemban lebih dari satu peran yang saling bertentangan.
Menurut Luthans (2006), seseorang akan mengalami konflik peran
jika ia memiliki dua peran atau lebih yang harus dijalankan pada waktu
yang bersamaan. Menurut Winardi (2003), konflik peran adalah konflik
yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang
saling bertentangan.
Konflik peran merupakan suatu gejala psikologis yang dialami
oleh seseorang yang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan secara
potensial bisa menurunkan motivasi kerja sehingga bisa menurunkan
kinerja secara keseluruhan. Konflik peran muncul karena adanya
ketidaksesuaian pengharapan yang disampaikan pada individual di
dalam organisasi dengan orang lain di dalam organisasi dan di luar
organisasi (Tsai dan Shis, 2005Fanani et al, 2008).
Konflik peran didefinisikan sebagai kondisi yang simultan dari
dua atau lebih bentuk tekanan pada tempat kerja, dimana pemenuhan
dari satu peran membuat pemenuhan terhadap peran lainnya lebih sulit
(Carnicer, 2005). Artinya terjadina konflik peran ketika seseorang yang
melaksanakan satu peran tertentu membuatnya merasa kesulitan untuk
memenuhi harapan peran yang lain. Konflik ini cenderung makin
berkembang ketika tuntutan pekerjaan dan tuntutan peran sosial sebagai
tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Konflik mampu
menghancurkan organisasi melalui penciptaan dinding pemisah antara
rekan sekerja, menghasilkan kinerja yang buruk, dan bahkan
pengunduran diri