(Ivancevich, et al, dalam penelitian Dhera Alfiana, 2020:6) menjelasakan
psychological empowerment menjadi 3 pandangan:
- Psychological empowerment secara struktural
Psychological empowerment struktural merupakan pendekatan secara
tradisional yang dipahami sebagai pemberian kewenangan kekuasaan dan
pengambilan keputusan. Kekuasan yang dimaksud yaitu kekuasan dalam
organisasi yang berasal dari sumber seperti otoritas hirarki, pengendalian
sumber daya manusia, dan sentralitas jaringan. Dengan memberdayakan
pegawai maka akan melibatkan pemindahan wewenang pengambilan
keputusan hirarki organisasi kepada pegawai, dalam hal ini memberi
kemampuan kepada pegawai untuk melakukan pengambilan keputusan yang
akan mempengaruhi hasil organisasi. - Psychological empowerment secara motivasional
Psychological empowerment dengan pendekatan secara motivasional pertama
kali dipopulerkan oleh Conger dan Kanungo pada tahun 1988. Psychological
empowerment didefinisikan sebagai proses untuk meningkatkan perasaan self-
efficacy pada anggota organisasi melalui identifikasi kondisi yang dapat
memberdayakan suatu ketidakberdayaan dan melalui pemindahan pegawai
oleh organisasi dan teknik informal untuk memberikan informasi yang akurat. - Psychological empowerment secara kepemimpinan
Psychological empowerment dalam pendekatan kepemimpinan ditekankan
pada aspek pemberian energi dari pimpinan kepada bawahan. Pemimpin
memberdayakan bawahannya dengan cara memberikan inspirasi agar pegawai
ikut berpartisipasi dalam proses transformasi organisasi
