Proses Pembentukan Budaya Organisasi
Budaya organisasi yang kokoh dan sejalan dengan nilai-nilai positif
membawa banyak keuntungan, seperti meningkatkan motivasi, keterlibatan,
dan identifikasi karyawan terhadap tujuan dan visi organisasi (Sudarsono,
2020). Jika manfaatnya telah terlihat dengan jelas, maka pimpinan akan
dengan mudah merumuskan budaya organisasi sebagai prinsip yang harus
dipegang dalam menjalankan pekerjaan. Muis et al., (2018), menyatakan
bahwa pemahaman akan kepentingan membantu para pimpinan dalam
merumuskan konsep dasar budaya yang diperlukan Penguraian proses pembentukan budaya organisasi menurut
perspektif yang disajikan oleh (Muis et al., 2018) adalah:
a. Filosofi pendiri
Budaya organisasi dimulai dari aspirasi pendiri sebuah organisasi
atau perusahaan, yang sering kali mencakup informasi tentang
tujuan atau manfaat yang ingin dicapai dengan mempertimbangkan
faktor-faktor yang memengaruhinya.
b. Kriteria pendiri
Terdapat pembatasan yang perlu dipertimbangkan terkait
kecenderungan pendiri dalam membentuk budaya organisasi, seperti
skala nilai-nilai, model kerja, dan faktor-faktor lainnya.
c. Manajemen puncak
Budaya juga terpengaruh oleh sifat-sifat khas dari pimpinan
perusahaan. Sebagai penggagas budaya, pimpinan cenderung untuk
mencerminkan pemikiran dan emosinya dalam budaya organisasi.
d. Sosialisasi
Pembentukan budaya dimulai dengan penjelasan yang lengkap, agar
dipahami sebagai kepentingan bersama dalam mencapai tujuan.
e. Pelaksanaan budaya organisasi
Budaya yang telah ditetapkan harus menjadi bagian tak terpisahkan
dari rutinitas kerja, dan untuk memastikan konsistensi dalam
penerapannya, diperlukan pengawasan dan evaluasi. Langkah ini
membantu pimpinan dalam melakukan perbaikan, peningkatan,
pengembangan, atau penyesuaian yang diperlukan
