Optimisme adalah bagaimana seseorang bersikap positif terhadap suatu
keadaan. Optimisme lebih ditujukan pada bagaimana seseorang menjelaskan
mengenai sebab terjadinya suatu keadaan baik atau keadaan buruk (Seligman,
1995). Seligman (1990) mengatakan bahwa optimisme berpengaruh terhadap
kesuksesan di dalam pekerjaan, sekolah, kesehatan, dan relasi sosial. Dalam
studinya, Seligman membuktikan bahwa sikap optimis bermanfaat untuk
memotivasi seseorang di segala bidang kehidupan.
Menurut Csoulter (1999) optimisme merupakan suatu sikap positif saat ini
dan harapan yang mengarah pada orientasi masa depan yang positif. Suatu sikap
positif yang ditunjukan oleh individu semata-mata berharap mendapatkan hasil
yang positif pada waktu yang akan datang. Beberapa ahli lain juga memberian
makna terhadap individu yang optimis. Menurut Chang (dalam Elfida, 2002)
menyatakan bahwa individu yang optimis memiliki kemampuan penyesuaian diri
yang lebih baik, karena individu tersebut sering mengubah kondisi-kondisi yang
berhubungan dengan situasi yang menekan.
Orang yang optimis adalah individu dengan ekspektasi relatif realistis
tentang kemampua mereka, jika mereka memiliki keterampilan yang dibutuhkan
untuk menangani tantangan, maka pada umumnya mereka akan menyatakan
demikian kepada orang lain dan kepada diri mereka sendiri dan tidak terlalu
merasakan kecemasan (Norem, 2001)
(Scheier & Carver, 2002) menjelaskan bahwa individu yang optimis
adalah individu yang mengharapkan hal-hal yang baik terjadi pada mereka,
sedangkan individu yang pesimis cenderung mengharapkan hal-hal buruk terjadi
kepada mereka.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang optimis
merupakan individu yang mampu mengendalikan dirinya untuk tetap berfikir
positif akan pencapaian terhadap tujuan dan mampu menyelesaikan tugas-tugas
yang diberikan. Dengan selalu berfikir positif dapat mengendalikan dan
mengarahkan tingkah laku untuk menyelesaikan permasalahan dan hambatan
yang dihadapi dalam mencapai tujuan dan harapan
