Menurut Fishbein dan Ajzen (1975), terdapat dua dimensi purchase intention
yaitu:
a. Sikap terhadap produk (Attitude toward behavior)
Dimensi ini menunjukkan keterkaitan antara keinginan konsumen untuk
berperilaku dengan hasil yang diharapkan dari perilaku tersebut. Ketika
konsumen yakin bahwa suatu perilaku akan menghasilkan hasil yang positif,
maka konsumen tersebut akan memiliki sikap positif terhadap perilaku
tersebut. Begitupula sebaliknya, jika konsumen yakin bahwa suatu perilaku
akan menghasilkan hasil yang negatif, maka konsumen tersebut akan
memiliki sikap negatif terhadap perilaku tersebut.
b. Norma subjektif (Subjek norm)
Dimensi ini dipengaruhi oleh persetujuan dari orang-orang dekatnya atau
sekelompok orang yang memiliki pengaruh bagi konsumen seperti teman
dekat, keluarga, kolega, dan sebagainya. Dimensi ini mengacu pada
keyakinan seseorang tentang persepsi bagaimana orang lain akan
memandangnya jika melakukan suatu perilaku. Seseorang akan cenderung
melakukan suatu perilaku jika termotivasi oleh orang lain yang
menyetujuinya untuk melakukan perilaku tersebut.
- Faktor-faktor Yang Memengaruhi Purchase Intention
a. Pengalaman konsumen (Customer experience)
Customer experience didefinisikan berasal dari satu set interaksi antara
pelanggan dan produk, perusahaan, atau bagian dari organisasi, yang
menimbulkan reaksi. Pengalaman ini benar-benar pribadi dan menyiratkan
keterlibatan pelanggan pada tingkat yang berbeda (baik secara rasional,
emosional, sensorik, fisik, dan spiritual) (Gentile, 2007).
b. Interaktivitas merek (Brand interactivity)
Interaksi pengguna secara signifikan akan memiliki tingkat keterlibatan
tinggi pula, oleh karena itu akan meningkatkan pula niat konsumen untuk
membeli produk pada merek tersebut (Dabbous & Barakat, 2020).
c. Loyalitas merek (Brand loyalty)
Dengan adanya perasaan positif konsumen akan menimbulkan loyalitas
terhadap suatu merek, hal ini akan mempengaruhi dedikasi yang kuat
terhadap niat membeli (Devi Selvarajah, 2018).
d. Kesadaran merek (Brand awareness)
Brand awareness adalah sejauh mana merek tersebut dikenal oleh konsumen,
hal ini akan mempengaruhi konsumen untuk menentukan merek produk yang
akan dipilih dan pada akhirnya melakukan pembelian (Lu et al., 2014).
e. Persepsi kualitas (Perceived quality)
Perceived quality ialah persepsi konsumen mengenai kualitas produk atau
keunggulan satu merek bila dibandingkan dengan merek lainnya (Zeeshan,
2013).
